Efektivitas Penggunaan Google Classroom pada Pembelajaran Kearsipan dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Intan Nikhlatul Umroh
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, [email protected] Siti Sri Wulandari
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, [email protected]
Abstrak:
Di awal tahun 2020, virus corona atau yang dikenal dengan (Covid-19) telah ditemukan. Sehingga sekolah-sekolah melakukan pembelajaran daring. Dari sini lah timbul beberapa kendala-kendala dalam pembelajaran. Salah satu cara mengatasinya dengan menggunakan aplikasi google classroom. Adapun tujuan untuk mengetahui motivasi siswa, efektivitas dan faktor-faktor pendukung motivasi siswa pada saat pembelajaran kearsipan di masa pandemi dengan menggunakan google classroom. Adapun metode penelitian yang digunakan yakni kualitatif penentuan narasumber menggunakan purposive sampling yaitu pada waka kurikulum, guru mata pelajaran dan siswa kelas X OTKP SMKN 1 Sooko. Hasil penelitian didapatkan bahwa dalam pembelajaran menggunakan google classroom guru dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran kearsipan selama pandemi hal ini dapat ditunjukkan dengan respon positif siswa. Selain itu dengan menggunakan google classroom pembelajaran menjadi efektif. Dalam hal ini faktor-faktor pendukung motivasi siswa pada pembelajaran kearsipan masing- masing siswa memiliki cara sendiri-sendiri misalnya dengan belajar kelompok dengan memanfaatkan teknologi yang ada, adanya dukungan dari orang tua sebagai penyemangat dan mencari gaya belajar yang sesuai.
Keywords: Efektivitas, Google Classroom, Motivasi
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/joa
PENDAHULUAN
Belajar ialah tahapan kegiatan mental yang dilaksanakan seseorang guna mendapat suatu perubahan perilaku yang memiliki sifat positif dan menetap relatif lama dengan pelatihan maupun keahlian yang meliputi bagian individu dalam bentuk fisik maupun psikis. (Setiawan, 2017). Belajar pada dasarnya ialah suatu upaya, suatu tahap perubahan yang terlaksana di pribadi dari output pengalaman atau output interaksi ke lingkungan sekitar. Lain halnya arti pembelajaran sendiri ialah sesuatu gabungan yang tertata mencakup bagian- bagian manusiawi (murid dan pendidik), material (buku, papan, fasilitas belajar), fasilitas, dan tahap yang saling memberi pengaruh sampai tujuan pembelajaran (Suhendra et al., 2020).
Namun diawal tahun 2020, seluruh negara digegerkan oleh adanya temuan corona virus atau biasa disebut sebagai (Covid-19) termasuk Negara Indonesia. World Health Organization (WHO) memberikan penetapan jika Covid-19 sebagai bentuk darurat kesehatan bagi manusia yang dampaknya membuat usaha protecting dilakukan di beberapa negara dengan bentuk peraturan dan undang-undang yang beda dari sebelumnya (Dzulfaroh, 2020). Di Indonesia, pemerintah Indonesia memberikan penetapan adanya pembatasan sosial yang disebut social distancing ssehingga melakukan pekerjaan dari rumah (Hasibuan & Ashari, 2020). Semua bidang pekerjaan terkena dampak dari adanya pandemi ini tidak terkecuali dalam bidang pendidikan sehingga dalam melakukan pembelajaran beralih menggunakan metode belajar daring (Handarini & Wulandari, 2018).
Istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang tertera di Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 yang mengatakan jika Pendidikan Jarak Jauh ialah pendidikan yang pesertanya terpecah dari guru, dan metodenya memakai macam-macam media belajar bisa dengan teknologi komunikasi, informasi dan media lain. Permasalahan bagi murid yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh, yakni kesusahan ketika menyelesaikan problem ketika materi pembelajaran, kesusahan menggali informasi perihal pelajaran yang di kaji dengan pribadi serta kesusahan dengan tanggung jawab yang ada (Yuangga & Sunarsi, 2020).
Motivasi merupakan usaha sadar penuh daya yang dilakukan dan ditimbulkan oleh terdapatnya suntikan-suntikan terarah dari dalam ataupun luar hingga memberikan motivasi tambahan, arah dan kegigihan siswa (Hotiana & Febriansyah, 2018). Menurut (Bahri &
Chairatun Nisa, 2017) motivasi ialah suatu kesukarelaan guna giat semaksimalnya dalam capaian organisasi yang diberikan pengaruh dari keahlian usaha guna memberikan kepuasan dari kebutuhan invidu.
Untuk mempermudah proses pembelajaran dalam pembelajaran daring yakni menggunakan google classroom. Google classroom ialah sebuah software yang dapat membuat ruang kelas di dunia maya. Yang memberi penawaran aktivitas belajar mengajar sama di kelas yang bisa di gunakan untuk mendistribusikan materi, tes soal untuk peserta didik, pengumpulan tugas dari guru dan dapat melihat nilai hasil (Rozak & Albantani, 2018). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Google classroom merupakan sebuah perangkat aplikasi online keluaran google for education yang dipakai sebagai pengganti ruang kelas secara virtual yang bisa diakses menggunakan smartphone maupun komputer dengan penggunaan yang mudah dan berbagai macam fitur-fitur yang menarik.
Berdasarkan fakta di lapangan tepatnya di SMKN 1 SOOKO Mojokerto yang mana pembelajaran dilaksanakan dengan tatap muka diganti menjadi sistem online dikarenakan adanya peraturan kemendikbud yang menetapkan pembelajaran dilakukan di rumah untuk mengantisipasi adanya dampak dari Pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil dari pemberian angket kepada siswa kelas X OTKP yang menunjukkan bahwa pendidik memakai media pengajaran yang bermacam-macam tidak tergantung menggunakan buku saja melainkan dengan aplikasi yang bervariasi selain itu siswa juga merasakan manfaat adanya penggunaan google classroom meskipun mereka lebih suka pembelajaran langsung. Selain itu berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kearsipan diketahui bahwa aplikasi yang digunakan selama pembelajaran ini yakni menggunakan google classroom dikatakan sudah efektif meskipun memiliki beberapa kendala saat melakukan pembelajaran daring ini yakni guru tidak bisa dengan leluasa dapat mengawasi siswanya seperti pada saat pembelajaran di sekolah. Adapun solusi yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut yakni dengan menggunakan google classroom karena menurut hasil penelitian dari (Ali & Zaini, 2020) menjelaskan bahwa pemanfataan pogram google classroom dapat menambah semangat belajar dan menambah prestasi belajar mahasiswa, san bernilai positif.
Dari permasalahan diatas diketahui bahwa dalam pembelajaran kearsipan di SMKN 1 Sooko dikarenakan beberapa faktor yang menghambat dalam proses pembelajaran sehingga dari penjelasan diatas Sehingga dalam hal ini penelti memiliki tujuan guna mencari tahu motivasi murid di kegiatan belajar kearsipan di saat pandemi dengan menggunakan google classroom, mencari tahu efektivitas pembelajaran secara online saat upaya menambah motivasi lewat google classroom di pelajaran kearsipan dan mencari tahu faktor-faktor penambah motivasi murid pada pembelajaran kearsipan di masa pandemi menggunakan google classroom.
METODE PENELITIAN
Pendekatan riset yang akan dipakai di riset ini ialah pendekatan kualitatif memakai tipe penelitian deskriptif. Riset akan mengeksplor terhadap keterlaksanaan pembelajaran online menggunakan google classroom di masa pandemi kelas X OTKP di SMKN 1 Sooko Mojokerto. Peneliti akan mendalami ke keterlaksanaan pembelajaran online menggunakan google classroom di masa pandemi kelas X OTKP 1 di SMKN 1 Sooko Mojokerto. Informan dalam penelitian ini, yaitu diantara lain: Wakil kepala kurikulum SMKN 1 Sooko: Tenaga Pendidik Pelajaran OTKP kelas X OTKP SMKN 1 Sooko: Murid kelas X OTKP SMKN 1 Sooko. Riset ini memakai purposive sampling. Purposive Sampling ialah metode pengambilan sampel data memakai syarat tertentu (Sugiyono, 2019).
Dalam riset ini menggunakan 3 instrumen: 1) Pedoman Wawancara di riset ini peneliti mewawancara terpimpin dimana peneliti sudah mempersiapkan pertanyaan dengan lengkap dan rinci dan juga menganut aturan yang memimpin jalannya sesi wawancara hingga pelaksanaan wawancara berjalan sesuai dengan perencanaan; 2) Observasi yaitu observasi yang dilaksanakan peneliti untuk mendapatkan data proses pembelajaran menggunakan google classroom. Peneliti melakukan penelitian secara online; 3) Kuesioner yakni peneliti mengumpulkan data secara membagikan pertanyaan atau angket kepada murid kelas X OTKP SMKN 1 SOOKO Mojokerto guna mengetahui jawaban murid selama kegiatan pembelajaran yang menggunakan google classroom.
Analisis data yang dipakai ialah model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2019) yakni:
Pengumpulan data, Pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi atau gabungan ketiganya (triangulasi). Pengumpulan data dilakukan secara berhari-hari hingga data yang akan didapat semakin terkumpul. Hal ini meliputi: 1) Reduksi data Reduksi data sama halnya dengan merangkum dan menitikberatkan pada perihal, maka dengan adanya reduksi data akan menjadikan gambaran yang lebih sistemik dan memudahkan peneliti guna menghimpun data selanjutnya. (Sugiyono, 2010); 2) Penyajian data. Sesudah data direduksi, maka proses lanjutannya ialah melihatkan data. Penyajian data ini dilaksanakan dengan paparan singkat, bagan, hubungan antar kategori (Sugiyono, 2019). Hal ini untuk mempermudah peneliti guna melakukan pemahaman atas apa yang di lapangan, merencanakan kinerja lanjutannya sesuai apa yang sudah dipahami. 3) Penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dinyatakan masih bersifat sementara, dan dapat diubah hingga simpulan yang kredibel. Kesimpulan di riset kualitatif ialah temuan baru yang sebelumnya belum dilakukan. Teknik keabsahan data dilakukan triangulasi yaitu dengan melakukan wawancara
kepada 3 siswa siswa kelas X OTKP SMKN 1 Sooko Mojokerto.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Motivasi Siswa Pada Pembelajaran Kearsipan di Masa Pandemi Dengan Menggunakan Google Classroom.
Untuk mengetahui motivasi siswa pada pembelajaran kearsipan di masa pandemi dengan menggunakan google classroom peneliti melakukan beberapa tahapan, yang pertama peneliti melaksanakan observasi dan wawancara ke wakil kepala kurikulum, tenaga pendidik dan murid kelas X OTKP. Dari hasil wawancara kepada tenaga pendidik dan wakil kepala kurikulum diperoleh data mengenai hambatan pembelajaran daring, kelebihan, dan kendala yang ada.
Sedangkan wawancara kepada siswa didapatkan hasil mengenai pembelajaran daring dengan menggunakan aplikasi google classroom dari persepsi siswa
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan respon siswa terkait motivasi selama pandemi dengan menggunakan google classroom ini jika dilihat dari indikator Hasrat dan keinginan belajar siswa terkait pembelajaran didapatkan hasil bahwa siswa merasa biasa saja dengan ditunjukkannya respon netral sebesar 45,5% selain itu juga siswa memberikan respon tidak setuju terhadap rasa kurang percaya diri dalam pembelajaran yang dilakukan di rumah daripada di sekolah.
Gambar 1. Hasrat dan Keinginan Belajar Sumber: data diolah peneliti (2020)
Selain itu selama materi pendidik juga melakukan motivasi ke muridnya supaya lebih semangat lagi selama materi. Perihal ini disimpulkan dengan respon murid yang sangat setuju dan setuju dengan nominal masing-masing sebesar 40,9%.
Gambar 2. Dorongan Sumber: data diolah peneliti (2020)
Selama pembelajaran dengan menggunakan google classroom ini siswa dalam pengerjaan tugas selau mengerjakan tugas tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa selama pembelajaran menggunakan google classroom ini mayoritas siswa tidak mengalami kendala dan sudah memiliki kesiapan. Hal ini ditunjukkan dengan respon siswa yang setuju jika mereka mengerjakan tugas tepat waktu dengan presentase 38,6%.
Gambar 3. Kebutuhan Sumber: data diolah peneliti (2020)
Terkait dengan harapan siswa pada pembelajaran kearsipan selama menggunakan media google classroom siswa mengharapkan adanya motivasi atau dukungan dari guru untuk lebih semangat dalam belajar di masa pandemi ini hal ini ditunjukkan dengan presentasi siswa yang setuju sebesar 29,5% meskipun kebanyakan siswa memilih netral.
Gambar 4. Harapan dan Cita-cita Sumber: data diolah peneliti (2020)
Hasil yang didapat siswa terkait pembelajaran kearsipan dengan menggunakan goole classroom ini siswa mendapatkan nilai yang bagus kemudian mendapatkan semangat untuk tetap belajar meskipun di situasi pandemi seperti ini selain itu dalam mengerjakan tugas mandiri siswa merasa lebih mudah mengerjakannya daripada pembelajaran dengan menggunakan media lain.
Gambar 5. Penghargaan Dalam Pembelajaran.
Sumber: data diolah peneliti (2020)
Pembelajaran dengan menggunakan media google classroom ini dinilai menarik dan tidak monoton hal ini bisa dilihat dari angket yang ada mendapat respon sangat tidak setuju lebih besar sebesar 15,9% daripada yang setuju jika pembelajaran ini dikatakan sangat tidak menarik dan monoton yang hanya 11,4%.
Gambar 6.. Kemenarikan Kegiatan Pembelajaran Sumber: data diolah peneliti (2020)
Pembelajaran dengan menggunakan media google classroom dinilai siswa kurang kondusif karena ada materi yang kurang bisa dipahami sehingga siswa sulit menerima pembelajaran meskipun disisi lain pembelajaran menggunakan media google classroom ini sebenarnya menyenangkan. Respon siswa terkait ini memiliki presentase 38,6%.
Gambar 7. Kondusifnya Kegiatan Pembelajaran Sumber: data diolah peneliti (2020)
Output yang didapat diatas menyimpulkan jika murid mempunyai semangat dalam pembelajaran kearsipan di masa pandemi dengan menggunakan google classroom. Hal tersebut bisa dilihat dengan adanya indikator motivasi yang mana menurut Umairah (2020) menyaatakan bahwa indikator motivasi itu antara lain hasrat dan rasa ingin sukses, motivasi dan kebutuhan ketika belajar, terdapat keinginan dan cita-cita masa depan, terdapat reward di pembelajaran, kegiatan menarik, dan lingkungan belajar yang mendukung. Dari hasil diatas menunjukkan bahwa respon siswa terkait adanya motivasi selama pembelajaran dimasa pandemi ada dan terbentuk hal ini diketahui dengan terpenuhinya respon siswa terkait dengan indikator motivasi.
Hal ini juga dipertegas dengan asumsi Budiarti (2019) jika pemanfaatan google classroom bisa menambah semangat belajar murid ditinjau malalui output perhatian dan peminatan murid ke tugas rumah mendapati penambahaan sejumlah 12,4%, bagian kedua
perihal upaya murid guna melaksanakan pekerjaan-pekerjaan belajarnya bertambah sejumlah 24,48%, bagian ketiga perihal tanggung jawab murid ketika melaksanakan tanggung jawab belajarnya bertambah sejumlah 8,8%, bagian keempat perihal rasa senang menuntaskan tugas dari pendidik memakai Googe Classroom bertambah sejumlah 1,11% dan bagian yang kelima perihal respon yang disimpulkan murid ke rangsangan dari pendidik memakai Google Classroom bertambah sejumlah 8,9%. Tinggi rendahnya motivasi belajar siswa sangat menentukan kualitas perilaku dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Adanya motivasi belajar akan mendorong siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, agar supaya menghasilkan hasil yang positif dan sesuai dengan yang diinginkan (Cahyani et al., 2020).
Efektivitas Pembelajaran Online dalam Meningkatkan Motivasi Melalui Google Classroom pada Materi Kearsipan
Untuk mengetahui efektifitas pembelajran online dalam meningkatkan motivasi melalui google classroom pada materi kearsipan peneliti melakukan beberapa tahapan, yang pertama peneliti melaksanakan observasi dan wawancara ke wakil kepala kurikulum, tenaga pendidik dan murid kelas X OTKP. Dari hasil wawancara kepada tenaga pendidik dan wakil kepala kurikulum diperoleh data mengenai hambatan pembelajaran daring, kelebihan, dan kendala yang ada. Sedangkan wawancara kepada siswa didapatkan hasil mengenai pembelajaran daring dengan menggunakan aplikasi google classroom dari persepsi siswa. Kemudian peneliti juga melakukan penyebaran angket kepada siswa sehingga didapatkan respon penggunaan google classroom selama pembelajaran. Setelah data terkumpul, peneliti memilah data yang tepat disampaikan pada pembahasan. Data yang telah dipilah penulis sajikan secara naratif. Lalu data yang telah disajikan baik dari persepsi guru maupun persepsi siswa, peneliti simpulkan dan analisis dengan teori yang penulis gunakan.
Berdasarkan angket yang didapat, para siswa menilai bahwa pembelajaran dengan menggunakan google classroom ini efektif meskipun ada materi yang belum bisa dipahami siswa meskipun disisi lain selama pembelajaran materi yang disampaikan mudah dimengerti oleh siswanya. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya siswa yang setuju jika pembelajaran ini efektif dengan presentase sebesar 38,6%.
Gambar 8. Keefektifan Sumber: data diolah peneliti (2020)
Selain itu juga untuk menilai kefektifitasan pembelajaran peneliti juga melakukan wawancara. Berdasarkan indikator untuk mengukur kefektifitasan pembelajaran yang terdiri dari 4 yaitu mutu pengajaran, tingkat pengajaran yang tepat, insentif dan waktu berdasarkan Slavin dalam (Amelia Putri, 2018) terdapat empat indikator untuk mengukur efektivitas pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Mutu Pengajaran
Mutu pengajaran yakni tolok ukur pemberian informasi atau keterampilan membantu murid dengan mudah mendalami bahan ajar yang bisa ditinjau melalui tahapan dan output pembelajaran. Tahap pembelajaran ditinjau melalui langkah-langkah pembelajaran yang dipakai. Sedangkan output pembelajaran ditinjau melalui ketuntasan belajar murid. Pendapat Suryosubroto (2009) belajar dikatakan selesai ketika ada minimum 85% murid yang mendapat daya serap yaitu KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).
Berdasarkan hasil wawancara dan angket yang telah dilakukan pada aspek mutu pengajaran di SMKN 1 Sooko ini guru dan siswa sudah melakukan interaksi dengan baik. Guru memberikan penjelasan tentang terkait materi yang akan dijelaskan menggunakan google classroom adapun hasil (Output) pembelajaran dari siswa selama pembelajaran ini mencapai ketuntasan sebesar 89% sesuai batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal
Tingkat Pengajaran yang Tepat
Tingkat pengajaran yang sesuai yakni tolok ukur pendidik memastikan jika murid telah mampu mendalami suatu materi baru, yang sesuai ditinjau melalui kesiapan belajar murid.
Pendapat (Slameto, 2010) kesiapan murid bisa ditinjau melalui 3 hal, yaitu: 1) Kondisi fisik, mental, dan emosional. 2) Kebutuhan-kebutuhan, motif, dan tujuan. 3) Keterampilan, pengetahuan, dan artian lainnya yang sudah di tinjau lebih dalam. Tingkat pengajaran yang sesuai dinyatakan efektif jika murid telah siap untuk mengikuti pembelajaran, ditinjau melalui persyaratan kesiapan belajar murid minimum baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan jika dilihat dari indikator Tingkat pengajaran yang tepat didapatkan bahwa sebagain besar siswa memiliki kesiapan belajar dalam mendalami suatu materi baru, kesiapan belajar ini dapat dilihat dari kondisi mental siswa selama pembelajaran, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan selama pembelajaran online yang mana meliputi hp, dan paket internet sudah tersedia. Kemudian mempersiapkan kondisi mental siswa sebelum belajar dengan selalu memberi sapaan hangat kepada siswa selain itu dalam pembelajaran atau diskusi diiringi dengan candaan ringan agar siswa tidak merasa bosan selama pembelajaran dan diharapkan selalu mengikuti pembelajaran karena seperti yang diketahui selama pembelajaran daring ini guru tidak bisa memantau keadaan siswa secara langsung.
Insentif
Insentif yakni tolok ukur pendidik dalam memastikan jika murid termotivasi guna menyelesaikan tugas-tugas pengajaran dan guna mendalami bahan yang sedang disuguhkan.
Insentif ditinjau melalui kegiatan pendidik saat memberikan semangat ke murid. Slameto, (2010) menyatakan jika terdapat empat perihal yang bisa dilakukan pendidik ketika memberi motivasi ke murid, yakni: 1) Membentuk semangat ke murid guna belajar. 2) Memberi penjelasan secara lengkap ke murid apa yang bisa dilaksanakan di akhir pengajaran. 3) Memberikan penghargaan ke prestasi yang didapat hingga bisa menstimulus guna mendapat prestasi yang lebih maksimal di kemudian hari. 4) Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Insentif dinyatakan efektif jika upaya pendidik ketika memberikan semangat telah maksimal, ditinjau melalui syarat gaji pendidik minimal baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan jika dilihat dari aspek insentif guru sudah memberikan motivasi setiap mau melakukan pembelajaran kepada para siswanya selain itu siswa diberikan kebebasan berdiskusi dengan siapapun dan belajar dari sumber manapun.
Selama berdiskusi ini siswa yang aktif bertanya maupun menjawab maka guru akan memberikan nilai tambahan. Pemberian nilai tambahan sudah dijelaskan pada awal pembelajaran sehingga diharapkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan tidak pasif.
Kemudian di akhir pembelajaran guru akan menjelaskan materi secara keseluruhan diakhir pembelajaran
Waktu
Waktu yakni tolok ukur murid disajikan cukup banyak waktu guna mendalami bahan yang sedang diberikan. Pembelajaran bisa dinyatakan efisien ketika murid bisa menuntaskan
materi sesuai dari alokasi waktu yang diberikan. Perihal ini melingkupi bagian-bagian berikut:
1) Persiapan belajar. 2) Mendapat bahan ajar. 3) Melatih keterampilan diri. 4) Menambah bahan ajar yang telah diberi. 5) Penutup. Waktu dinyatakan efektif jika murid ketika memakai waktu telah maksimal, ditinjau melalui syarat pemakaian waktu murid minim baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan jika dilihat dari aspek waktu siswa juga dilatih tentang kedisplinan dengan mengumpulkan tugas tepat waktu dan siswa juga memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kemudian guru juga memberikan target setiap pertemuannya siswa harus menuntaskan materi-materi apa saja yang harus dituntaskan yang mana sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Hal ini sama seperti riset yang dilaksanakan oleh (Ramadhan & Tarsono, 2020) yang menyatakan penggunaanmedia google classroom dapat menunjang proses pembelajaran dengan cukup efektif ke output belajar murid. Hal ini dibuktikan sesuai output belajar setelah memakai google classroom lebih maksimal dibanding dari sebelumnya dengan penambahan rata-rata sejumlah 22.6%. Pendapat lainnya di riset yang sudah dilaksanakan (Swaminathan et al., 2020) yang menyimpulkan jika penyampaian kursus singkat di Google Kelas efektif dalam meningkatkan kebutuhan kompetensi pendidik keperawatan untuk menyampaikan pengajaran online.
Penggunaan pembelajaran daring akan menjadi sangat efektif jika memenuhi komponen esensial dalam pembelajaran yaitu diskursif, adaptif, interaktif dan reflektif dengan elemen- elemen yang akan sangat baik jika diintegrasikan dengan lingkungan pembelajar karena dapat mengakomodasi gaya belajar, fleksibilitas dan pengalaman belajar peserta didik sehingga dapat memunculkan perasaan positif (Oktavian & Aldya, 2020).
Faktor-Faktor Pendukung Motivasi Siswa Pada Pembelajaran Kearsipan di Masa Pandemi Menggunakan Google Classroom
Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung motivasi siswa pada pembelajaran kearsipan di masa pandemi menggunakan google classroom peneliti melakukan beberapa tahapan, yang pertama peneliti melaksanakan observasi dan wawancara ke wakil kepala kurikulum, tenaga pendidik dan murid kelas X OTKP. Dari hasil wawancara kepada tenaga pendidik dan wakil kepala kurikulum diperoleh data mengenai hambatan pembelajaran daring, kelebihan, dan kendala yang ada. Sedangkan wawancara kepada siswa didapatkan hasil mengenai pembelajaran daring dengan menggunakan aplikasi google classroom dari persepsi siswa.
Dari hasil yang diperoleh dari wawancara dari guru yaitu dengan cara menanamkan semangat belajar yang tak pernah padam walaupun itu secara daring, kemudian menggunakan media dan metode yang menarik yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.
Kemudian dalam pembelajaran guru harus tegas dan disiplin sehingga siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan baik dan tepat waktu dan tercipta suasana nyaman dan tenang,
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan siswa Selalu ingat bahwa selau ada yang tebaik diantara yang baik serta terdapat support melalui orang sekitar, yakni teman, orang tua, dan lingkungan. Kemudian faktor dari fasilitas belajar yang digunakan siswa sudah lengkap dan nyaman maka siswa juga akan membuat motivasi yang lebih baik dalam belajar. Selain itu kondisi siswa sendiri dalam melakukan pembelajaran juga harus dalam kondisi prima, tidak sakit, lapar, maupun gangguan emosional serta kondisi lingkungan siswa juga harus mendukung dalam pembelajaran yang mana harus menyenangkan dan nyaman. Perihal ini sama dengan riset yang dilaksanakan dari (Emda, 2018) yang menyimpulkan manfaat motivasi menjadi pendorong upaya ketika menggapai prestasi, sebab seorang melaksanakan upaya mesti mendorong rasa inginnya, dan memberikan arah perilakunya kearah visi yang akan digapai.
Sedangkan menurut pendapat (Tasrim & Eliihami, 2019) yang menyatakan motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong upaya sebab terdapat dorongan.
Perihal ini sesuai dari penelitian Dimyati di (Alfansyur & Mariyani, 2019) yang menyimpulkan cara-cara menambah semangat belajar yakni: 1) Memberikan peluang ke murid guna menceritakan halangan belajar yang di deritanya. 2) Minta peluang ke orang tua murid supaya memberikan peluang ke murid guna menambah aktualisasi diri dalam belajar. 3) memaksimalkan faktor lingkungan yang mendorong belajar. 4) Memakai waktu dengan disiplin, penguat dan suasana baik dan fokus saat perilaku belajar. 5) Menstimulus murid melalui penguat memberi suntikan percaya diri jika murid bisa menyelesaikan semua masalah dan akan sukses. 6) Pendidik memaksimalkan pengalaman dan keterampilan murid.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang talah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan google classroom guru bisa menambah motivasi murid ketika pembelajaran kearsipan selama pandemi hal ini dapat ditunjukkan dengan respon positif siswa terhadap indikator motivasi mengenai hasrat dan keinginan sukses, motivasi dan kebutuhan ketika belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya reward di pembelajaran, kegiatan
menarik, dan lingkungan belajar yang kondusif. Selain itu dengan menggunakan google classroom pembelajaran ini masih dinilai efektif karena memenuhi indikator kefektifitasan.
Adapun faktor-faktor pendukung motivasi siswa pada pembelajaran kearsipan, siswa memiliki cara sendiri-sendiri dalam mempengaruhi motivasinya. Beberapa batasan masalah dalam penelitian ini adalah penggunaan aplikasi google classroom saat pembelajaran, ruang lingkup pembelajaran kearsipan, sesuatu yang mendorong siswa dalam pembelajaran.
Kemudian saran yang dapat penulis sampaikan dalam artikel ini yaitu perlu dilakukan kajian analisis penggunaan media google classroom lanjutan untuk memperdalam data.
DAFTAR PUSTAKA
Alfansyur, A., & Mariyani, M. (2019). Pemanfaatan Media Berbasis Ict “Kahoot” Dalam Pembelajaran Ppkn Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan PKn, 6(2), 208–216.
Ali, L. U., & Zaini, M. (2020). Pemanfaatan Program Aplikasi Google Classroom Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Mahasiswa Pada Perkuliahan Dasar-Dasar Kependidikan. Society, 11, 27–34.
Bahri, S., & Chairatun Nisa, Y. (2017). Pengaruh Pengembangan Karir Dan Motivasi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis, 18(1), 9–
15.
Budiarti, W. N. (2019). Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia SD Menggunakan Google Classroom. Dwija Cendekia: Jurnal Riset Pedagogik, 3(2), 257–263.
Cahyani, A., Listiana, I. D., & Larasati, S. P. D. (2020). Motivasi Belajar Siswa SMA pada Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. IQ (Ilmu Al-Qur’an): Jurnal Pendidikan Islam, 3(01), 123–140.
Dzulfaroh, A. N. (2020). Termasuk Italia, Berikut Negara-negara yang Lakukan
“Lockdown.” Kompas.Com.
Emda, A. (2018). Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran. Lantanida Journal, 5(2), 172–182.
Handarini, O. I., & Wulandari, S. S. (2018). Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study from Home (SFH) Selama Pandemi Covid 19. Family Practice, 35(5), 639–643.
Hasibuan, R. P. P. M., & Ashari, A. (2020). Optimasi Peran Negara Menghadapi Pandemi Corona Virus Disease 2019 dalam Perspektif Hukum Tata Negara Darurat. SALAM:
Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 7(7).
Hotiana, N., & Febriansyah. (2018). Pengaruh motivasi dan stres kerja terhadap kinerja Pegawai (studi pada bagian kepegawaian dan organisasi, biro umum, kepegawaian dan organisasi kementerian pariwisata RI). Riset Manajemen Dan Bisnis Fakultas UNIAT, 3(1), 27–36.
Oktavian, R., & Aldya, R. F. (2020). Efektivitas Pembelajaran Daring Terintegrasi di Era Pendidikan 4.0. Didaktis: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan, 20(2), 129–135.
Putri, A. (2018). Kompetensi Pedagogik Guru Terhadap Efektivitas Pembelajaran Dalam Kelas XI IPS di SMA PGRI 1 Bandung Tahun Ajaran 2017/2018.
Ramadhan, O. M., & Tarsono. (2020). Efektifitas Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Melalui Google Classroom Ditinjau Dari Hasil Belajar Siswa. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran), 6(2), 204–214.
Rozak, A., & Albantani, A. M. (2018). Desain Perkuliahan Bahasa Arab Melalui Google Classroom. Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Dan Kebahasaaraban, 5(1), 83–
102.
Setiawan, M. A. (2017). Belajar Dan Pembelajaran. In Uwais Inspirasi Indonesia (Vol. 3, Issue 2).
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suhendra, A. D., Asworowati, R. D., & Ismawati, T. (2020). Lembar Kegiatan Siswa untuk Pembelajaran Jarak Jauh Berdasarkan Literasi Saintifik pada Topik Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19). Akrab Juara, 5(1), 43–54.
Swaminathan, N., Govindharaj, P., Jagadeesh, N. S., & Ravichandran, L. (2020). Evaluating the effectiveness of an online faculty development programme for nurse educators about remote teaching during COVID-19. Journal of Taibah University Medical Sciences.
Tasrim, T., & Eliihami, E. (2019). Motivasi Kerja Pendidik Dalam Meningkatkan Manajemen Lembaga Pendidikan Dasar. MAHAGURU : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1, 42–47.
Umairah, P. (2020). Peningkatan Motivasi Belajar Menggunakan “Google Classroom”
Ditengah Pandemi Covid-19 Pada Peserta Didik Kelas XI IPS 4 SMAN 1 Bangkinang Kota. Journal on Education, 02(03), 275–285.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Yuangga, K. D., & Sunarsi, D. (2020). Pengembangan Media Dan Strategi Pembelajaran Untuk Mengatasi PermasalahanPembelajaran Jarak Jauh Di Pandemi Covid-19. JGK (Jurnal Guru Kita), 4(3), 51–58.