Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 7, No. 1, Mei 2016
Hal: 1-11
EFISIENSI, PRODUKTIVITAS DAN INDEKS KETIDAKSTABILAN PERIKANAN TUNA LONGLINE DAN PANCING TONDA Efficieny, Productivity and Instability Index of Tuna Longline and Troll Line
Oleh:
Budi Wardono1*
1 Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Balitbang, Kementerian Kelautan dan Perikana
* Korespondensi: [email protected]
Diterima: 29 Oktober 2015; Disetujui: 22 Juli 2016
ABSTRACT
Tuna longline and troll line are two dominant tuna fishing fleets in Palabuhanratu port. Tuna longline and troll line yielded around 7.06 thousand tons or 89.12 % of total fish production. The main problem of tuna industry was thing related to resource and capturing capacity. This study aimed to understand the capacity, efficiency, and total factor productivity of fisheries business of tuna in PPN Palabuhanratu, using Data Envelope Analysis (DEA) approach. The study was done in harbour area of Palabuhanratu, from January to March 2014. The time series data from 2010 to 2013 were obtained, covering the production of tuna longline and marine hook boats, input usage (boat, fuel, feed, fishermen, ice box, trip number, oil, water, capturing device). Under variable return to scale assumption, the result showed that business capacity of tuna in Palabuhanratu has been efficient. According to Malmquist approach, we found an important indicator of business productivity, ie. Index of total factor productivity change. Malmquist index of troll line was 0.851, while the Malmquist index of tuna longline was 1.139. Both indices showed the magnitude of productive change of the fleets. The annual change of total factor productivity could be described by the change of TFPCH from 2010 to 2013, the respective value of each year were 0.480; 1.945 and 1.023. Those showed the magnitude of productive change of fisheries business of tuna in PPN in Palabuhanratu.
Keywords: DEA, efficiency, Malmquist index, productivity, troll line, tuna longline, VRS
ABSTRAK
Armada perikanan tuna longline dan pancing tonda merupakan armada yang dominan menangkap ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu.Total produksi dari keduanya sebanyak 7.066,64 ton (89,12%) dari total produksi ikan di Palabuhanratu.
Permasalahan utama industri tuna adalah terkait sumber daya dan kapasitas penangkapan tuna.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efisiensi, perubahan total faktor produktivitas dan indeks ketidakstabilan usaha perikanan tuna dengan menggunakan tuna longline dan pancing tonda di Palabuhanratu dengan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Indeks Ketidakstabilan (Coppoct Instability Index). Penelitian dilakukan dikawasan PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada bulan Januari – Maret 2014. Data yang digunakan adalah data time series yang dikeluarkan oleh PPN Palabuhanratu dari tahun 2010-2013. Data yang digunakan dalam analisis ini meliputi produksi dari armada tuna long line dan pancing tonda. Adapun input yang digunakan adalah kapal (longline dan pancing tonda), BBM, umpan, nelayan, es, trip, oli, air, alat tangkap. Hasil analisis dengan asumsi variable return to scale (VRS), kapasitas usaha perikanan tuna di Palabuhanratu, pada armada tuna longline dan pancing tonda sudah efisien.
2 Marine Fisheries 7(1): 1-11, Mei 2016
Artinya bahwa sumber daya sudah dialokasikan secara efisien, penggunaan input dalam upaya penangkapan tuna sudah efisien. Hasil analisis menggunakan pendekatan indeks Malmquist diperoleh indeks total factor productivity change yang menunjukkan indikator penting produktifitas usaha. Nilai indeks Malmquist untuk amada pancing tonda sebesar 0,851 dan tuna longline sebesar 1,139, menunjukkan besarnya perbandingan perubahan produktivitas antara kedua armada tersebut. Perubahan total faktor produktivitas antar tahun digambarkan dari besarnya perubahan TFPCH dari tahun 2010 sampai dengan 2013 masing-masing besarnya 0,480; 1,945 dan 1,023, yang menunjukan perubahan besarnya produktivitas usaha perikanan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 sampai 2013.
Kata kunci: DEA, efisiensi, Malmquist index, produktifitas, pancing tonda, tuna longline, VRS
PENDAHULUAN
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan berbagai terobosan da- lam mendorong program industrialisasi kelautan dan perikanan, khususnya industrialisasi per- ikanan tangkap yang tersebar di lima lokasi pro- yek percontohan yaitu: Pelabuhan Perikanan Samodera (PPS) Bungus Padang, PPS Nizam Zaman, PPN Palabuhanratu, PPS Bitung dan PPN Ambon (KKP, 2012). Penetapan PPN Palabuhanratu, sebagai percontohan industriali- sasi perikanan didasarkan beberapa pertim- bangan diantaranya kemampuan pelabuhan tersebut dalam meningkatkan produksi tuna, tongkol dan cakalang (TTC) dan kemampuan untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil tangkapan dan kemampuan untuk meningkatan volume ekspor (KKP 2012). Program industriali- sasi perikanan di PPN Palabuhanratu telah di- laksanakan sejak dioperasikan PPN Palabuhan- ratu pada 18 Februari 1993 (PPN Palabuhan- ratu 2014). Keberadaan PPN Palabuhanratu saat itu untuk mendukung pengembangan in- dustri pindang yang berkembang pada kawasan tersebut. Khusus untuk industrialisasi perikanan tangkap berbasis pada tiga komoditas yakni tuna, tongkol dan cakalang (TTC) yang menjadi percontohan ditingkat nasional (Zulham et al.
2010). Industrialisasi yang berbasis komoditas TTC mempunyai nilai sangat strategis, meng- ingat TTC telah menjadi komoditas utama per- ikanan dan menyerap banyak tenaga kerja (Zulham et al. 2010).
Data produksi ikan tuna, tongkol dan ca- kalang terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Hal ini diakibatkan semakin bertam- bahnya armada penangkapan ikan tuna seperti tuna longline dan pancing tonda yang target utamanya adalah jenis ikan tuna (PPN Pala- buhanratu 2014). Terbukti dalam se-11 tahun terakhir ini produksi ikan tuna, tongkol dan cakalang terus meningkat (PPN Palabuhanratu 2014). Peningkatan produksi secara terus me- nerus diduga meningkatkan kerentanan sumber daya dan kemungkinan terjadinya over capacity sumber daya. (Fauzi dan Anna 2010).
Data Envelopment Analysis (DEA) meru- pakan analisis untuk pengukuran efisiensi yang bersifat bebas nilai (value free) karena didasar- kan pada data yang tersedia tanpa harus mem- pertimbangkan penilaian (judgement) dari pengambil keputusan (Korhument et al. 1998), dalam Fauzi dan Anna (2005). Pendekatan model DEA, yang merupakan pendekatan pemrograman matematika untuk memperkira- kan efisiensi teknis (TE) dan output kapasitas (Fare et al. 2007). Analisis DEA bertujuan mengukur keragaan relatif (relative per- formance) dari unit analisis pada kondisi kebe- radaan multiple inputs dan output. Dalam apli- kasi perikanan DEA memiliki kelebihan dalam kemampuannya mengestimasi kapasitas di bawah kendala penerapan kebijakan tertentu.
Keistimewaan lain dari model DEA adalah ke- mampuannya dalam mengakomodasi multiple output maupun multiple inputs, serta tingkat input dan output yang nil maupun non diskrit (Fauzi dan Anna 2005). Selama 30 tahun terakhir metode DEA telah digunakan dalam lebih dari 20 jurnal dan 1.621 artikel ilmiah (Emrouznejad et al. 2008).
Keuntungan menggunakan metode non- parametrik, seperti DEA dan indeks TFP, ada- lah tidak memerlukan spesifikasi fungsi untuk pembatasan produksi. Selain itu, relatif mudah untuk menangani beberapa input dan output dalam metode ini. Indeks Malmquist TFP dite- rapkan untuk memperkirakan TFP perubahan di sektor perikanan tangkap di lokasi penelitian.
Teknik DEA dalam perikanan, telah di- terapkan di laut Atlantik Utara (Kirkley et al.
2004), perikanan artisanal di Portugal (Oliviera et al. 2007), Perikanan di Teluk Arab (Elhendy dan Alkahtani 2012), perikanan Salmon di Norwegia (Asche et al. 2013), perikanan tuna purse seine di Korea Selatan (Squires et al.
2006). Untuk mengetahui status ketidakstabilan dari kegiatan penangkapan dapat dilakukan dengan menggunakan analisis indeks ketidak- stabilan (Coppokc instability index). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efisiensi, perubahan total faktor produktivitas dan indeks ketidakstabilan usaha perikanan tuna dengan
Wardono B – Efisiensi, Produktivitas dan Indeks Ketidakstabilan Perikanan Tuna Longline 3
menggunakan tuna longline dan pancing tonda di Palabuhanratu.
METODE
Penelitian dilakukan di kawasan PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Peneliti- an dilakukan pada bulan Januari-Maret 2014.
Data yang digunakan merupakan data time series statistik perikanan tangkap laut PPN Palabuhanratu, dari tahun 2010-2013. Data yang digunakan terkait data output (produksi) dan data input yaitu jumlah kapal, alat tangkap, jumlah trip, jumlah BBM, jumlah es, jumlah umpan. Dalam penelitian ini Decision Making Unit (DMU) dibedakan menjadi DMU tuna longline dan pancing tonda pada tahun 2010- 2013.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model analisis DEA dan analisis Indeks Ketidakstabilan (Coppock Instability index). Mo- del analisis DEA digunakan untuk mengetahui efisiensi usaha penangkapan ikan merupakan solusi dari persamaan (Charnes et al. 1978;
Fauzi dan Anna 2005).
..
(1) dengan kendala :untuk setiap unit ke j ... (2)
wi dan vk ≥ € Dimana:
em = Efisiensi maksimum λk = Skor efisiensi j = lokasi
ur = pembobotan untuk output usaha penangkapan ke –r
yrj = jumlah ouput usaha penangkapan ke –r di lokasi ke-j
vi = pembobotan untuk input penangkapan ke-i
xij = jumlah input usaha penangkapan ke-i di lokasi ke-j
Output penangkapan (yri) adalah jumlah hasil tangkapan per jenis alat tangkap selama satu tahun. Input yang digunakan (xij) adalah sarana produksi yang digunakan untuk penangkapan dari masing-masing DMU yaitu jumlah kapal, jumlah nelayan, BBM, alat tangkap, trip, es dan umpan. Solusi dari persamaan tersebut akan menghasilkan nilai Em yang maksimum, sekaligus nilai bobot (w dan v) yang mengarah
ke efisiensi (Fauzi dan Anna, 2005). Masalah yang diakibatkan dari fungsi yang fraksional dari persamaan tersebut dipecahkan dengan cara linierisasi, sehingga menjadi persamaan linier.
Persamaan linier dapat dihasilkan dengan cara primal dan dual dengan solusi yang sama. Pemecahan masalah dengan cara dual lebih sederhana karena dimensi kendala berkurang (Fauzi dan Anna, 2005).
Model Primal Variable Dual
Zm ... (3)
Dengan kendala
λ0 ... (4)
≤ 1; j
= 1,2 ...n
... (5) - vk ≤ € k = 1, 2 ...m ... (6) - wi ≤ € i=1,2...t
Dual dari persamaan tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
... (7) Dengan kendala
... (8)
+ ... (9)
≥ 0 ... (10) Indeks Malmquist dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan faktor total produktivitas (TFP) untuk suatu perusahaan atau industri dari waktu ke waktu. Indeks TFP adalah didefinisikan (Coelli et al., 2005) sebagai indeks dari rasio seluruh output yang diproduksi terhadap semua input yang digunakan dalam produksi. Indeks Malmquist sering digunakan ketika harga dan data biaya tidak tersedia.
Indeks ini didasarkan pada fungsi non-
4 Marine Fisheries 7(1): 1-11, Mei 2016
parametrik, yang memungkinkan untuk menje- laskan multi-input dan multi-hasil produksi tan- pa perlu menentukan fungsi tujuan perilaku (Coelli et al. 2005). Selain itu, indeks Malmquist memiliki keuntungan yaitu Perubahan TFP dapat dipisahkan menjadi perubahan efisiensi/
Eficiensychange (EFFCH) dan perubahan tek- nologi/ Technolgies Change (TECHCH). Ana- lisis data envelopment (DEA) dapat diterapkan untuk memperkirakan fungsi jarak yang di- gunakan untuk mendapatkan hasil indeks Mal- mquist TFP (Fare et al. 1994).
Untuk mengetahui indeks ketidakstabilan pada usaha tuna longline dan pancing tonda digunakan pendekatan dengan metode Coppock Instability Index (CII) yang dapat dituliskan sebagai berikut (Fauzi 2010; Fauzi dan Anna 2010):
CII=|ant log ... (11)
dimana v log didefisnisikan sebagai
Log V = ...(12)
Keterangan :
CII = Coppock Instability Indexs
n = jumlah tahun; x : nilai variabel yang diobservasi dan t : tahun
Hasil indeks yang tinggi menunjukkan tingginya ketidakstabilan variabel ekonomi per- ikanan yang diukur dan dapat disimpulkan, merupakan interaksi dari berbagai faktor (Fauzi 2010; Fauzi dan Anna 2010). Perubahan total faktor produktifitas perikanan yang fluktuatif, salah satu caranya dilakukan dengan mengukur tingkat indeks ketidakstabilan. Tingkat perubah- an faktor produktifitas yang cukup besar dan berfluktuasi ternyata berkaitan erat dengan indeks ketidakstabilan. Trade off antara per- tumbuhan dan ketidakstabilan dapat dikategori- kan menjadi empat jenis Reddy (2006), yaitu pertumbuhan yang tinggi dengan risiko rendah (CII rendah), pertumbuhan tinggi dengan risiko tinggi, pertumbuhan rendah dan berisiko ren- dah dan pertumbuhan rendah tetapi berisiko tinggi.
Output penangkapan (yri) adalah jumlah hasil tangkapan per jenis alat tangkap selama satu tahun. Input yang digunakan (xij) adalah sarana produksi yang digunakan untuk penang- kapan dari masing-masing DMU yaitu jumlah kapal, jumlah nelayan, BBM, alat tangkap, trip, es dan umpan. Solusi dari persamaan tersebut
akan menghasilkan nilai Em yang maksimum, sekaligus nilai bobot (w dan v) yang mengarah ke efisiensi (Fauzi dan Anna, 2005). Masalah yang diakibatkan dari fungsi yang fraksional dari persamaan tersebut dipecahkan dengan cara linierisasi, sehingga menjadi persamaan linier.
Persamaan linier dapat dihasilkan dengan cara primal dan dual dengan solusi yang sama. Pemecahan masalah dengan cara dual lebih sederhana karena dimensi kendala berkurang (Fauzi dan Anna, 2005).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik dan Kinerja Perikanan Tangkap Palabuhanratu
Palabuhanratu yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 753 merupakan salah salah satu sentra perikanan di pantai selatan Pulau Jawa. Perkembangan produksi ikan di Pelabuhanratu berdasarkan jenis alat tangkap tahun 2002-2013 seperti pada Gambar 2. Sejak tahun 2007 produksi ikan yang dihasilkan dari armada tuna longline dan pancing tonda sangat dominan. Jenis ikan yang ditangkap dengan alat tangkap pancing tonda dan tuna longline adalah komoditas ikan tuna tongkol dan cakalang (TTC). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa telah terjadi perubahan orientasi dalam usaha penangkapan ikan di Palabuhanratu, dimana peranan ikan selain TTC semakin kecil.
Produksi perikanan tangkap di PPN Palabuhanratu didominasi ikan pelagis besar (tuna, tonglol dan cakalang/TTC) yang dihasilkan dari armada tuna longline dan pancing tonda. Pada tahun 2002-2007 produksi perikanan masih berimbang antara produksi yang dihasilkan oleh kapal tuna longline dan pancing tonda dengan produksi ikan dengan alat tangkap lainnya. Namun sejak tahun 2007 produksi dari tuna longline dan pancing tonda meningkat tajam, sedangkan produksi dari alat tangkap lainnya jauh menurun (Gambar 1).
Trend tersebut menunjukkan bahwa peranan PPN Palabuhanratu dalam industri TTC sangat penting. Produksi ikan TTC sebagian besar digunakan untuk ekspor dan bahan baku industri.
Pada tahun 2013 komposisi ikan TTC terdiri dari ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) (32 %); tuna madidihang (Thunnus albacares) (28%) dan tuna albakor (Thunnus alalunga) (7%). Dari total produksi ikan tahun 2013 sebagian besar adalah berasal dari alat tangkap tuna longline (92%), hal ini semakin
Wardono B – Efisiensi, Produktivitas dan Indeks Ketidakstabilan Perikanan Tuna Longline 5
Sumber: Statistik Perikanan PPN Palabuhanratu tahun 2002-2013 (diolah)
Gambar 1 Produksi Perikanan Tuna longline dan Pancing Tonda di Palabuhanratu tahun 2008- 2013
Gambar 2 Produksi tuna tongkol dan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2002–2013
Gambar 3 Hubungan antara Konsumsi Jumlah BBM pada Kapal Motor (KM) dan Perahu Motor Tempel (PMT) tahun di PPN Palabuhanratu tahun 2002-2013
6 Marine Fisheries 7(1): 1-11, Mei 2016
menunjukkan dominasi alat tangkap tuna longline. Produksi ikan non tuna kurang dari 5%
menyebabkan industri lokal menjadi terancam karena tidak mendapat pasokan bahan baku.
Selama ini kekurangan bahan baku untuk industri lokal sebagian besar berasal dari luar daerah. Adapun ikan TTC yang berasal dari tuna longline dan pancing tonda sebagian be- sar langsung dipasarkan ke Jakarta. Dominasi produksi TTC ternyata tidak sebanding dengan peranan terhadap perekonomian daerah, pe- ranan perikanan ternyata sangat kecil hanya sebesar 1,76 % dari total PDRB Kabupaten Su- kabumi (BPS Kab. Sukabumi 2014).
Komposisi produksi ikan tuna, tongkol dan cakalang (Gambar 2). Produksi tuna paling besar, sedangkan tongkol dan cakalang relatif kecil.
Hasil analisis data skunder dari statistik perikanan tangkap PPN Palabuhanratu tahun 2002-2013, dapat diketahui hubungan konsum- si jumlah BBM antara Kapal Motor (KM) dan Perahu Motor Tempel (PMT) (Gambar 3).
Jumlah konsumsi BBM untuk kapal motor selalu meningkat dari tahun ke tahun, hal ini dikarenakan kebijakan industrialisasi ikan TTC sehingga jumlah kapal dan jumlah hari opera- sional kapal meningkat tajam. Konsumsi BBM perahu motor tempel relatif stabil. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa pada periode tersebut terjadi upaya eksploitasi sumberdaya ikan yang sangat besar yang diindikasikan dengan peningkatan konsumsi BBM.
Volume BBM yang digunakan kapal motor yang sebagian besar adalah kapal tuna longline. Peningkatan voleme BBM diikuti dengan peningkatan produksi yang dihasilkan dari kapal tuna longline.
Efisiensi dan Produktifitas Faktor Produksi Total
Tingkat efisiensi usaha pada perikanan tangkap di Palabuhanratu dapat dilihat dari be- sarnya efisiensi berdasarkan hasil analisis DEA dengan pendekatan Variabel Return to Scale (VRS) (Tabel 1). Hasil analisis DEA dengan pendekatan VRS diperoleh nilai efisiensi yang nilainya 1. Hasil tersebut menggambarkan bah- wa kegiatan penangkapan dengan mengguna- kan kapal tonda dan kapal tuna longline telah menghasilkan tingkat efisiensi tertinggi yaitu sama dengan 1 (Tabel 1). Hasil analisis efi- siensi dengan pendekatan VRS menunjukkan bahwa tingkat efisiensi penggunaan input sudah paling tinggi (efisien=1), dimana input dialokasikan secara efisien untuk melakukan
proses produksi penangkapan dengan alat tangkap tuna longline dan pancing tonda.
Analisis DEA menggunakan asumsi VRS juga memungkinkan untuk melihat efisiensi teknis (TE) dan efisisensi skala tertentu (SE) dari masing-masing unit analisis yaitu berbagai jenis alat tangkap. Waldo (2006) menunjukkan bahwa tingkat efisiensi usaha penangkapan ikan pelagis di Swedia lebih besar pada usaha dengan kapal yang menggunakan ukuran lebih besar dan lebih baru dari pada menggunakan kapal berukuran kecil dan berumur lebih tua.
Tabel 1 menunjukkan bahwa dengan menggunakan pendekatan VRS, efisiensi alo- kasi sumberdaya untuk usaha penangkapan dengan tuna longline dan pancing tonda sudah efisien. Beberapa hasil penelitian dengan me- tode DEA yang mengukur efisiensi antara lain penelitian Cehyan dan Gene (2014), usaha perikanan trawl di Laut Hitam Turki telah terjadi inefisiensi terutama inefisiensi alokatif. Adapun hasil penelitian di Islandia dan Norwegia (Ag- narson 2003) menunjukkan bahwa hasil total efisiensi sebesar 0,51 di Islandia dan 0,7 di Norwegia, dimana perbedaan utama terletak pada pemanfaatan skala peluang, perusahaan di Islandia tertinggal jauh dibanding dengan perusahaan di Norwegia. Nugraha dan Hufiadi (2013) menyatakan bahwa nilai efisiensi pe- nangkapan tuna longline berdasarkan perhi- tungan single output (tangkapan tuna) dan multi output (tuna dan tangkapan sampingan) masing-masing sekitar 0,54 dan 0,64. Nilai ini menunjukkan bahwa armada tuna longline PT.
Perikanan Nusantara adalah tidak efisien. Ada- pun hasil penelitian Zibaei (2012) menunjukkan tingkat efisiensi teknis bervariasi antara 0,408 dan 0,542. Hasil penelitian tersebut menunjuk- kan bahwa efisiensi teknis tertinggi disebabkan karena memiliki kapal yang lebih cocok, ter- utama karena mempunyai akses ke lokasi (fishing ground) lebih dalam di Laut Oman dan Samudra Hindia untuk ikan spesies pelagis besar. Kenaikan volume pengalengan tuna yang tertangkap di Samodera Pasific telah menyebabkan kekhawatiran tentang peningkat- an kapasitas penangkapan (Reid et al. 2003).
Hasil penelitian Reid et al. (2003) dengan ar- mada purse seine di WCPO menyatakan bah- wa telah terjadi kelebihan kapasitas penang- kapan dan kapasitas alat tangkap. Hasil kajian tersebut digunakan sebagai instrumen dalam membatasi jumlah hari operasional penang- kapan. Ramos et al. (2014) dengan menggu- nakan alat tangkap trawl menunjukkan adanya variabilitas yang tinggi ditingkat efisiensi, meng- garisbawahi adanya faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja kapal.
Wardono B – Efisiensi, Produktivitas dan Indeks Ketidakstabilan Perikanan Tuna Longline 7
Pada analisis indeks Malmquist (Tabel 2) diperoleh hasil analisis yang menunjukkan be- sarnya perubahan indek Malmquist dari tahun ketahun yang disebabkan karena adanya per- ubahan efisiensi dan perubahan teknologi. Per- ubahan tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2010-2013 terjadi perubahan teknologi (technical change/TECHCH) yang berfluktuatif.
Berdasarkan hasil analisis perubahan total faktor produktifitas yang merupakan gabungan dari seluruh produktivitas sumberdaya/input perikanan tuna pada tahun 2010-2013 menga- lami fluktuasi yang cukup tajam, perubahan ini disebabkan karena perubahan besarnya efisi- ensi teknologi (Tabel 2). Perubahan efisiensi teknologi tersebut menggambarkan bahwa penggunaan alokasi sumberdaya terjadi fluktu- asi, seperti penggunaan BBM dan input umpan.
Tabel 2 menunjukkan bahwa peningkat- an atau penurunan perubahan teknologi (TECHCH) menyebabkan fluktuasi total faktor produktivitas (TFPCH). Sebagai contoh tahun 2010-2011 terjadi penurunan perubahan tek- nologi yang menyebabkan total faktor produk- tivitasnya turun drastis, demikian sebaliknya pada tahun 2011-2012 terjadi kenaikan per- ubahan teknologi yang menyebabkan kenaikan total faktor produktivitas. Hal tersebut disebab- kan perubahan faktor teknologi (TECHCH) yang mengalami perubahan yang besar. Kon- disi ini diduga karena penggunan input berupa BBM dan umpan yang meningkat. Oleh karena itu perlu dicari penyebab mengenai terjadinya perubahan fluktuasi yang tinggi. Salah satu alat deteksi atau untuk membuktikan hal tersebut dengan menghitung indeks ketidakstabilan (Coppock Index Instability/CII) (Fauzi dan Anna 2010), dimana ketidakstabilan disebabkan ka- rena terjadi fluktuasi produksi dari tahun ke ta- hun.
Besarnya perubahan total faktor produk- tivitas perikanan tuna berdasarkan alat tangkap (Tabel 3) menunjukkan bahwa perubahan fak- tor produktivitas penangkapan ikan tuna dengan kapal tonda lebih besar dari pada kapal tuna longline. Secara ekonomi usaha penang- kapan ikan dengan kapal longline dan kapal tonda sudah effisien.
Perubahan efisiensi dan perubahan skala efisiensi, adalah alat untuk mengarahkan prog- ram peningkatan efisiensi nelayan (Elhendy dan Alkahtani 2012), yang dapat mengarahkan para pembuat kebijakan dalam menentukan prioritas mengenai teknologi penangkapan ikan dan keterampilan nelayan. Perubahan total faktor produktivitas menggambarkan perubahan tingkat teknologi dibandingkan dengan per- ubahan tingkat efisiensinya. Penelitian Asche et al. (2013) menunjukkan telah terjadi penurunan
pertumbuhan produktivitas selama bertahun- tahun, dimana pertumbuhan permintaan seba- gai pendorong utama pertumbuhan produksi.
Hasil penelitian menunjukkan faktor total per- ubahan produktivitas 1 – 2 % per tahun, dimana kontribusi dari perubahan efisiensi teknis ada- lah antara 0,2 dan 1,2 % dan perubahan tek- nologi adalah antara 0,6 - 0,8%. Pada industri tuna dengan purse seine di Korea, pertumbuh- an produktivitas merupakan salah satu bagian yang penting (Squires et al. 2006), dimana usaha tuna dengan purse seine telah berada pada tingkat biaya yang tinggi, yang mengindi- kasikan persaingan yang tinggi. Adrianto et al.
(2014), menyatakan bahwa dengan menggu- nakan domain pengukuran perikanan berkelan- jutan. Hasil simulasi skenario pengelolaan per- ikanan tuna terhadap stok menunjukkan hasil yang simetrik terhadap stok ikan tuna, demikian juga terhadap upaya tangkap dan cumulative present value of profit (CPVP), dengan demi- kian selektivitas alat tangkap menjadi aspek penting bagi pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan.
Indeks Ketidakstabilan (Instability Index) Pola-pola pertumbuhan output dan input diilustrasikan dengan indeks ketidakstabilan berada di kuadran kanan atas yang menun- jukkan pertumbuhan yang tinggi namun diikuti oleh ketidakstabilan yang tinggi. Apabila dilihat dari tingkat pertumbuhan dan besarnya nilai indeks ketidakstabilan produksi (Gambar 7), dapat dilihat bahwa ada tiga pola yang muncul.
Pola yang pertama adalah sekelompok pro- duksi dengan pertumbuhan tinggi/berisiko tinggi seperti yang ditunjukkan oleh sudut kanan atas.
Pola ini menunjukkan bahwa usaha perikanan dari sudut pandang ekonomi sangat baik (per- tumbuhan positif), namun mungkin dari sudut pandang ekologi kurang baik karena terjadi tingkat ekstraksi yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan kepada para pembuat kebijakan bahwa keadaan perikanan memang membu- tuhkan manajemen yang ketat dan kontrol hasil tangkapan (Fauzi dan Anna 2010). Kelompok kedua adalah dikaitkan dengan pertumbuhan rendah dengan risiko rendah (yang berada pa- da posisi kiri bawah), dan kelompok ke tiga yaitu kelompok pertumbuhan tinggi dan risiko rendah (posisi kiri atas). Fluktuasi produksi yang menyebabkan ketidakstabilan bukan me- rupakan fenomena mandiri, kondisi tersebut berkaitan dengan indikator lain, seperti input yang diberikan dalam perikanan (Fauzi dan Anna 2010). Hasil analisis (Gambar 4) menun- jukkan alat tangkap pancing tonda dan tuna longline, mempunyai indeks ketidakstabilan cu- kup tinggi. Kedua alat tangkap tersebut mem-
8 Marine Fisheries 7(1): 1-11, Mei 2016
punyai indeks ketidakstabilan dan indeks per- tumbuhan yang tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat eksploitasi sangat tinggi yang mengancam keberlanjutan usaha. Kondisi ter- sebut dari segi ekonomi dianggap pertumbuhan yang tinggi bagus namun kurang baik apabila ditinjau dari segi keberlanjutan.
Hasil kajian Fauzi dan Anna (2010) tentang perikanan pelagis kecil di Pantai Utara Pulau Jawa, menunjukkan bahwa ketidaksta- bilan dalam perikanan terkait dengan kebijakan berorientasi pertumbuhan yang dilakukan oleh otoritas perikanan pada periode 1974-2007.
Lebih lanjut disimpulkan bahwa ketidakstabilan itu juga berkorelasi dengan persaingan sengit antara kapal yang beroperasi di perikanan.
Studi ini menunjukkan bahwa transisi perikanan dari rejim open access ke rezim yang lebih diatur untuk mencapai perikanan yang lebih bertanggung jawab telah gagal.
Gambar 4 menunjukkan ketidakstabilan produksi yang tinggi pada kedua armada yang menggunakan alat tangkap pancing tonda dan tuna longline. Ketidakstabilan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor terkait peng- gunaan input yang mencerminkan perubahan
teknologi. Indikasi tersebut tergambarkan dari indeks ketidakstabilan terkait input BBM yang tinggi.
Hasil analisis indeks ketidakstabilan penggunaan sumberdaya/input BBM seperti pada Gambar 5. BBM merupakan komponen input utama dalam upaya penangkapan dengan menggunakan pancing tonda dan tuna longline.
Kondisi indeks ketidakstabilan input BBM untuk kedua armada yang menggunakan alat tangkap tuna longline dan pancing tonda cukup tinggi.
Hasil analisis terkait tingkat pertumbuhan dan ketidakstabilan penggunaan BBM (Gambar 5) menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan dengan alat tangkap pancing tonda dan tuna longline berada pada posisi kanan atas (per- tumbuhan tinggi yang disertai dengan ketidak- stabilan yang tinggi). Kondisi tersebut dapat menjelaskan bahwa tingkat perubahan produk- tivitas yang tinggi dapat dibuktikan dengan ana- lisis indeks ketidakstabilan (Fauzi dan Anna 2010). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perubahan total faktor produktivitas pada pan- cing tonda dan tuna longline disebabkan karena tingginya tingkat ketidakstabilan penggunaan input BBM dan umpan.
Tabel 1 Hasil analisis DEA dengan pendekatan VRS pada armada pancing tonda dan tuna longline
firm crste vrste scale Keterangan
1 1,000 1,000 1,000 - 2 1,000 1,000 1,000 -
mean 1,000 1,000 1,000 Keterangan: crste = technical efficiency from CRS DEA
vrste = technical efficiency from VRS DEA scale = scale efficiency = crste/vrste
Tabel 2 Perubahan Total Faktor Produktifitas Perikanan Tuna tahun 2010-2013 di Palabuhanratu
YEAR EFFCH TECHCH PECH SECH TFPCH
2010-11 1,000 0,480 1,000 1,000 0,480 2011-12 1,000 1,945 1,000 1,000 1,945 2012-13 1,000 1,023 1,000 1,000 1,023
Rata-rata 1,000 0,985 1,000 1,000 0,985
Sumber: Analisis Data Skunder PPN Palabuhanratu tahun 2010-2013
Tabel 3 Perubahan total faktor produktitas kapal tuna long line dan kapal tonda di Palabuhanratu
Jenis kapal EFFCH TECHCH PECH SECH TFPCH
Tuna LL 1,000 0,851 1,000 1,000 0,851 Pancing Tonda 1,000 1,139 1,000 1,000 1,139
Rata-rata 1,000 0,985 1,000 1,000 0,985
Sumber: Analisis Data Sekunder
Wardono B – Efisiensi, Produktivitas dan Indeks Ketidakstabilan Perikanan Tuna Longline 9
Longline Pancing Tonda
-0.500 -0.400 -0.300 -0.200 -0.100 0.000 0.100
50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 300.00
CII Produksi
Pertumbuhan (%/tahun)
Gambar 4 Hubungan antara tingkat pertumbuhan output dengan indek ketidakstabilan perikanan longline dan pancing tonda di PPN Pelabuhanratu
Gambar 5 Tingkat pertumbuhan dan tingkat ketidakstabilan pengguna BBM pada alat tangkap pancing tonda dan tuna longline di PPN Palabuhanratu
KESIMPULAN
Perikanan tuna mempunyai peranan yang strategis dalam pembangunan kelautan dan perikanan di Palabuhanratu, yang ditunjuk- kan dengan tingginya share produksi perikanan tuna. Hasil tangkapan dari kapal longline dan kapal tonda mempunyai share lebih 90 % dari total produksi. Pertumbuhan produksi yang tinggi ini diikuti dengan pertumbuhan konsumsi bahan bakar pada perikanan tuna. Aspek efisiensi upaya penangkapan dengan pancing tonda dan tuna longline telah efisien. Perubah- an faktor produktivitas total disebabkan karena
perubahan efisiensi teknis. Fluktuasi perubahan total faktor produktivitas dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam sistem perikanan tuna yang disebabkan karena penggunaan input terutama konsumsi BBM dan umpan.
SARAN
Kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengendalikan tingkat ekploitasi dan melin- dungi sumber daya tuna. Kebijakan pengen- dalian jumlah armada tuna longline dan pancing tonda, dapat mempertahankan produktivitas
10 Marine Fisheries 7(1): 1-11, Mei 2016
nelayan tuna dimana saat ini tingkat keti- dakstabilannya sudah tinggi. Tingkat eksploitasi sangat tinggi akan mengancam keberlanjutan usaha, dari segi ekonomi pertumbuhan yang tinggi dianggap bagus namun kurang baik apabila ditinjau dari segi keberlanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adrianto L, Kusumo S, Habibi A. 2015.
Pemodelan Skenario Pengelolaan Per- ikanan Tuna Berkelanjutan di Indonesia.
Dalam Prosiding Simpusium Nasional.
Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelan- jutan, Bali, 10-11 Desember 2014. Kerja- sama Kementerian Kelautan dan Per- ikanan dengan WWF-Indonesia.
Agnarson S. 2003. Economic Performance of The Nort Atlantic Fisheries (Final Report).
Institut of Economic Studies. University of Island.
Asche F, Guttormsen AG, Nielsen R. 2013.
Future Challenge for the Maturing Norwegian Salmon Aquaqulture Industry:
An Analysis of Total Productivity Change From 1996 to 2008. Aquaculture. 396- 399:43-50.
BPS Kabupaten Sukabumi. 2014. Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2013. BPS Kabpaten Sukabumi.
Cehyan V, Gene H. 2014. Productivity Efficiensy of Commercial Fishing L Evidence from the Samsun Province of Black Sea, Turkey. Turkey Journal Fisheries and Aquatic Science. 14: 309- 320.
Coelli TJ, Rao DSP, Donnell CJ, Battese GE.
2005. An Introduction to Efficiency and Productivity Analysis. 2rd Edition. Springer New York. 350pp.
Elhendy AM and SH Alkahtani. 2012. Efficiency and Productivity Change Estimation of Traditional Fishery Sector at the Arabia Gulf: The Malmquist Productivity Index Approach. The Journal of Animal and Plant Sciences. 22(2): 300 – 308.
Emroznejad A, BR Parker, G Tavares. 2008.
Evaluation of Research in efficiency and productivity: A Survey and Analysisi of the first 30 Years of Scholarly Literature in DEA. Journal of Socio-Economic Planning Science. 42(3):151-157.
Fare R, S Grosskopf, M Norris, Z Zhang. 1994.
Productivity Growth, Technical Progress, and Efficiency Change in Industrialized
Countries. 1994. The American Economic Review. 84(1):66-83.
Fare R, JE Kirkley, JB Walden. 2007. Estimating Capacity and Efficiency in Fisheries with Undesirable Outputs. VIMS Marine Resource Report No. 2007-6. August 2007.
Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan: Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A dan Z Anna. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Jakarta: PT.
Gramedia.
Fauzi A and Z Anna. 2010. The Java Sea Small-Scale Fisheries in Changing Environment: Experiences from Indone- sia. 10 pages. In: Proceedings of the Fifteenth Biennial Conference of the International Institute of Fisheries Economics & Trade, July 13-16, 2010, Montpellier, France
Fauzi A and S Anna. 2012. Growth and Instability of small Pelagic Fisheries of North Coast of Java, Indonesia: Lesson Learned for Fisheries Policy. 2012.
China-USA Business Review. 11(6): 739- 748.
Kirkley J, CJM Paul, D Squires. 2004.
Deterministic and Stochastic Capacity Estimation for Fishery Capasity Re- duction. Marine Resources Economics.
19: 271-294.
KKP. 2012. Lima Kawasan Industrialisasi Perikanan Tangkap Dikembangkan KKP.
http://kkp.go.id/index.php/arsip/c/8022 lima-kawasan-industrialisasi-perikanan- tangkap-dikembangkan-kkp/(diakses 20 Januari 2016)
Nugraha B dan Hufiadi. 2013. Efisiensi Teknis Perikanan Rawai Tuna Di Benoa (Studi Kasus: PT. Perikanan Nusantara). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 19(1):25- 30.
Oliveira MM, M Gaspar, JP Paixiao, A Camanho. 2007. Productivity Change of the Artisanal Fishing Fleet in Portugal: a Malmquist Index Analysis. Centro de Investigacao Operacional. CIO Working Paper 4/2007.
PPN Palabuhanratu. 2014. Laporan Kinerja Tahunan PPN Pelabuhanratu tahun 2013.
PPN Pelabuhanratu
Wardono B – Efisiensi, Produktivitas dan Indeks Ketidakstabilan Perikanan Tuna Longline 11
PPN Palabuhanratu, 2014. Statistik PPN Pelabuhanratu tahun 2013. PPN Pelabuhanratu.
Ramos S, I Vázquez-Rowe, I Artetxe, MT Moreira, G Feijoo, J Zufia. 2014. Opera- tional Efficiency and Environmental Im- pact Fluctuations of the Basque Trawling Fleet Using LCA+DEA Methodology.
Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. 14: 77-90.
Reddy AA. 2006. Growth and instability in chickpea production in India: A state level analysis. Agricultural Situation in India:
230-145.
Reid C, D Squires, Y Jeon, L Rodwwell, R Clarke. 2003. An analysis of fishing capa- city in the western and central Pacific Ocean tuna fishery and management implications. Marine Policy. 27(6):449- 469.
Squires D, Reid C, Jeon Y. 2006. Productivity growth in natural resource industries and the environment: an application to the Korean tuna purse-seine fleet in the Pacific Ocean. International Economic Journal. 22:81-93.
Waldo S. 2006. Capacity Efficiency in Swedish Pelagic Fisheries. SLI Working Paper.
Zibaei M. 2012.Technical Efficiency Analysis of Fisheries: Toward an Optimal Fleet Ca- pacity. Sustainable Agriculture Research.
1(1):96-102.
Zulham, A. Y. Dewitasari, B. Wardono dan HM.
Huda. 2010. Persfektif Model Minapolitan Perikanan Tangkap Laut (Studi Kasus PPN Pelabuhan Ratu). Jakarta: Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.
Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 7, No. 1, Mei 2016
Hal: 13-24
KO-EKSISTENSI KEGIATAN PERIKANAN TANGKAP DAN KEBERADAAN ANJUNGAN MIGAS DI LAUT SERTA PENDEKATAN PENGELOLAANNYA
DI PANTAI UTARA JAWA BARAT
Coexistence between Capture Fisheries and Oil & Gas Platform – A Management Approach in Northern Coast of West Java
Oleh:
Novel Desra Suhery1*, Ni Kadek S. Pusparini1, Arif Nurcahyanto1, Muh. Syahrir1, A. Mukhlisin Rony1
1 PT. EOS Consultants
* Korespondensi: [email protected]
Diterima: 12 November 2015; Disetujui: 24 Mei 2016
ABSTRACT
Intersection of capture fisheries activities and offshore oil and gas exploitation occurs because they use same areas. Restricted zone at 500 meters radius from oil and gas platform has both positive and negative impacts to ecological, social as well as economic. This condition triggers negative perception and social conflict from fishers community. This paper aims to describe coexistence impact and benefit of both capture fisheries and oil & gas platform, identify stakeholders involved and determine management recommendation. Northern coast of West Java- Indonesia is selected as case study location. The qualitative descriptive, stakeholders identification and gap analysis from Focus Group Discussion (FGD) are undertaken as the method of this study.
The qualitative descriptive method is used to describe the positive and negative impact of coexistence between capture fisheries and oil and gas platform. Method for identifying stakeholders is used a continuum of stakeholders from the macro to the micro level. Determination of management recommendation is arranged with gap analysis. Restricted zone at 500 meters radius from oil and gas platform plays as a conservation zone for fishes, and increases productivity of fishers, but it is still triggered negative perception from fishers. Thirteen stakeholders are identified. They have the role and function to manage coexistence of both activities. Management approach should focus on regulation, ecology, social and economic aspects. Role and function played by 13 stakeholders will make both activities go with harmony.
Keywords: coexistence, oil & gas platform, capture fisheries, stakeholders
ABSTRAK
Kegiatan pertambangan migas di lepas pantai (offshore) seringkali bersinggungan dengan kegiatan penangkapan ikan, karena menggunakan perairan yang sama. Larangan bagi nelayan memasuki zona terlarang hingga radius 500 meter dari bagian terluar anjungan migas menimbulkan dampak positif dan negatif baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi. Kondisi ini seringkali memunculkan persepsi negatif dan dapat meningkat menjadi konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi manfaat keberadaan masing-masing kegiatan (ko-eksistensi), menentukan stakeholders terkait dalam pengelolaan dan menentukan rekomendasi pengelolaan ko-eksistensi kedua kegiatan. Makalah ini mengangkat studi kasus di perairan pantura (pantai utara) Jawa Barat. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, stakeholder analysis dan gap analysis yang bersumber dari Focus Group Discussion (FGD). Deskriptif kualitatif untuk memaparkan manfaat positif-negatif kedua kegiatan serta persepsi nelayan terhadap keberadaan
14 Marine Fisheries 7 (1): 13-24, Mei 2016
anjungan migas di laut. Stakeholders diidentifikasi berdasarkan tingkatan kesatuannya dari level makro hingga mikro, serta gap analysis untuk merumuskan rekomendasi pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan anjungan dan zona terlarang dapat menjadi kawasan konservasi sumber daya ikan, namun memunculkan persepsi negatif dari nelayan dan berpengaruh positif terhadap produktivitas penangkapan. Kajian terhadap stakeholders menunjukkan bahwa terdapat 13 stakeholders yang memiliki peran dan fungsi dalam mengelola kondisi ko-eksistensi antara kegiatan penangkapan ikan dengan keberadaan anjungan migas ini.
Pendekatan pengelolaan dengan fokus pengelolaan pada aspek regulasi, ekologi, sosial dan ekonomi dengan pelaksanaan peran dan fungsi masing-masing stakeholders dapat menjadikan kegiatan perikanan tangkap dan keberadaan anjungan dapat berjalan secara selaras dan bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi.
Kata kunci: ko-eksistensi, anjungan migas, penangkapan ikan, stakeholders
PENDAHULUAN
Kegiatan pertambangan migas di lepas pantai (offshore) seringkali bersinggungan dengan kegiatan penangkapan ikan, karena menggunakan perairan yang sama. Larangan bagi nelayan memasuki zona terlarang hingga radius 500 meter dari bagian terluar anjungan migas menimbulkan dampak positif dan negatif baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi.
Kondisi ini seringkali memunculkan persepsi negatif dan dapat meningkat menjadi konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengela- borasi manfaat keberadaan masing-masing kegiatan (ko-eksistensi), menentukan stakehol- ders terkait dalam pengelolaan dan menen- tukan rekomendasi pengelolaan ko-eksistensi kedua kegiatan. Penelitian ini mengangkat studi kasus di perairan pantura (pantai utara) Jawa Barat.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan me- ngangkat kasus di pantura Jawa Barat, yang meliputi area Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon. Data dikumpulkan melalui studi literatur merujuk pada penelitian yang relevan dengan kasus yang diangkat, dan studi-studi lingkungan yang pernah dilakukan di lokasi penelitian. Selain itu juga berasal dari penga- laman di lapangan, dan Focus Group Discus- sion (FGD). Sumber literatur yang digunakan yaitu: Pusparini, 2012, dan data analogis dari penelitian sebelumnya 1999 – 2015 (Fabi et al.
2004; Fujii 2015; Jablonski 2008; Love et al.
2003; Love et al. 2005 Schroeder et al. 1999;
Stachowitsch et al. 2002; Whomersley et al.
2003; dan Wilhelmsson et al. 2006). Penga- matan lapangan di anjungan migas offshore pantura Jawa Barat dilakukan tiap semester dari tahun 2012 – 2015. Metode analisis yang digunakan meliputi deskriptif kualitatif, stakehol- der analysis, dan gap analysis.
Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan dan menelaah bentuk eksternalitas yang terjadi akibat keberadaan anjungan migas di laut terhadap kegiatan peri- kanan tangkap. Stakeholder analysis digunakan untuk menentukan para pihak yang memiliki kepentingan dan kekuatan dalam mengelola kondisi ko-eksistensi anjungan migas dan perikanan tangkap. Gap analysis digunakan untuk merumuskan rekomendasi pengelolaan berdasarkan peninjauan dari pengelolaan yang sudah ada (existing) dan kemudian dikombina- sikan dengan hasil FGD. Stakeholder yang teridentifikasi dan belum memiliki peran dalam pengelolaan yang sudah ada (existing) ditam- bahkan dalam rumusan pengelolaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab stake- holder tersebut. Penyusunan pendekatan pengelolaan dilakukan dengan metode identi- fikasi tugas pokok dan fungsi masing-masing stakeholders yang berkaitan dengan permasa- lahan dalam penelitian. Secara ringkas metode penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram pada Gambar 1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan Perikanan Tangkap di Pantai Utara Jawa Barat
Wilayah perairan di pantura Jawa Barat merupakan bagian dari WPP (Wilayah Penge- lolaan Perikanan) 712 (Laut Jawa). Kegiatan perikanan tangkap di wilayah tersebut berada dalam intensitas tinggi, baik dari sisi jumlah nelayan, armada dan jenis alat tangkap, serta frekuensi penangkapan ikan. Eksistensi kegi- atan perikanan tangkap di wilayah ini sangat perlu dijaga terkait dengan peran penting keberadaan kegiatan untuk masyarakat lokal, serta konstribusi manfaat untuk daerah dan nasional. Manfaat tersebut meliputi:
a. Manfaat ekonomi: sebagai sumber pen- dapatan utama rumah tangga nelayan
Suhery et al. – Ko-Eksistensi Perikanan Tangkap dan Anjungan Migas di Pantai Utara Jawa Barat 15
Gambar 1 Diagram metode penelitian sebagai salah satu sumber pendapatan
daerah
b. Manfaat sosial: sebagai arena sosial nelayan terkait dengan mata penca- harian, serta sebagai salah satu sumber pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Namun demikian jika tidak dikelola dengan baik, kegiatan perikanan tangkap juga dapat memberikan efek negatif terkait dengan kerusakan sumber daya ikan dan ekosistem laut. Kondisi ini dapat terjadi apabila kegiatan perikanan tangkap bersifat eksploitatif dan tidak ramah lingkungan. Dampak lebih lanjut yang akan dapat terjadi adalah penurunan sumber daya ikan dan kerusakan ekosistem laut.
Selain itu, area WPP 712 tidak hanya menjadi fishing ground nelayan dari Jawa Barat melain- kan juga dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Ten- gah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan bahkan juga Provinsi Lampung dan Bangka Belitung.
Kondisi ini semakin meningkatkan ting- ginya persaingan penangkapan ikan yang terjadi di area ini. Persaingan yang tinggi diser- tai dengan pola pemanfaatan yang tidak selektif dan ramah lingkungan akan berdampak terha- dap keberlanjutan kegiatan perikanan tangkap itu sendiri pada masa mendatang. Menurut Susilo (2009), diketahui bahwa kondisi peman- faatan sumber daya ikan laut di wilayah pantura Jawa Barat telah berada pada kondisi lebih tangkap (overfished) dan kelebihan upaya penangkapan (over-effort), dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) sebesar 114.159 ton dan effort optimum yaitu 5.342.250 trip.
Hal yang sama juga disampaikan Wiadnyana et al. (2010); Anas et al. (2011), bahwa tingkat pemanfaatan ikan demersal di wilayah pengelo- laan perikanan Laut Jawa telah melebihi batas optimum upaya penangkapan (over effort).
Berdasarkan pengamatan di wilayah studi, jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan tradisional cukup bervariasi. Jangka- uan daerah penangkapan ikan oleh nelayan lokal (Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon) pada umumnya berada di area perairan <20 mil, pada kisaran kedalaman 4-30 meter yang disesuaikan dengan jenis alat tang- kap yang digunakan serta kemampuan jelajah kapal/armada penangkapan.
Kegiatan penangkapan ikan di wilayah ini berlangsung dari pagi sampai dengan malam hari, dengan intensitas penangkapan sepan- jang tahun. Kondisi ini menggambarkan tinggi tingkat kepentingan pemanfaatan sumber daya ikan di wilayah ini, sehingga eksistensi kegiatan ini perlu tetap dilestarikan agar manfaat optimal dapat dinikmati secara berlanjut.
Keberadaan Anjungan Migas di Laut dan Bentuk Eksternalitasnya
Anjungan migas beserta zona keamanan dan keselamatan
Di sepanjang pesisir utara Jawa Barat, anjungan produksi migas telah berdiri sejak tahun 1970-an. Anjungan migas itu sendiri ter- dapat berbagai fungsi, baik sebagai anjungan sumur, flow station, anjungan akomodasi peker- ja dan sebagainya. Keberadaan anjungan pro- duksi migas di laut dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2010 tentang Kenavi- gasian, dimana ditetapkan zona terlarang seja- uh radius 500 meter dari titik anjungan bagian terluar dan zona terbatas sejauh 1250 meter dari titik terluar zona terlarang (1750 meter dari titik anjungan). Pemberlakuan aturan khusus- nya zona terlarang menjadikan area sejauh radius 500 meter dari anjungan terbebas dari adanya kegiatan lain, termasuk penangkapan ikan.
Perikanan Tangkap Deskriptif kualitatif,
studi pustaka, pengalaman dari
lapangan
Anjungan Migas
Focus Group Discussion (FGD)
Izin Lingkungan Usaha/Kegiatan Migas
Metode Tujuan
Rekomendasi Pengelolaan Gap Analysis Status ko-eksistensi
Identifikasi stakeholder
16 Marine Fisheries 7 (1): 13-24, Mei 2016
Eksternalitas ekologi: pembentukan habitat dan zona pemulihan stok ikan di sekitar anjungan migas
Di samping peran anjungan (platform) sebagai fasilitas operasi/produksi migas, bebe- rapa penelitian telah membuktikan bahwa kebe- radaan struktur dan instalasi bawah air mampu membentuk habitat baru bagi jenis biota laut, khususnya ikan (Stachowitsch et al. (2002);
Whomersley and Picken (2003); Wilhelmsson et al (2006), dan kemungkinan untuk mening- katkan populasi ikan ekonomis penting di sekitar anjungan (Fabi et al. (2004); Love et al.
(2005); Jablonski (2008)). Anjungan memiliki kemampuan untuk menarik ikan melalui struktur desain anjungan, limbah organik yang dibuang ke laut, serta cahaya lampu dan flare yang terdapat di anjungan. Sementara itu, adanya pemberlakuan zona terlarang menyebabkan area ini semakin mendukung keberadaan ikan dan biota di sekitar kaki anjungan terlindung dari tekanan penangkapan. Kondisi ini memiliki analogi yang sama dengan zona inti (no take zone) pada kawasan konservasi.
Schroeder et al. (1999) telah melakukan penelitian tentang nilai relatif habitat di perairan dangkal lokasi anjungan produksi migas bumi di Santa Maria Basin dan Santa Barbara Channel, California. Nilai relatif habitat tersebut dikompa- rasikan dengan nilai relatif habitat ekosistem karang alami yang berada tidak jauh dari lokasi
anjungan. Hasil penelitian tersebut menunjuk- kan bahwa terdapat perbedaan nilai relatif habitat di kedua lokasi studi, yaitu nilai relatif habitat yang lebih rendah mencapai 42% di area anjungan dibandingkan dengan area terumbu karang alami. Area anjungan terbukti mampu mendukung keberadaan juvenil ikan rock fish (Sebastes spp.).
Love et al. (2003), menyatakan bahwa anjungan produksi migas di laut memiliki 2 fungsi utama terkait dengan fungsi ekologi habitat ikan. Fungsi tersebut yaitu fungsi kolom perairan sebagai nursery ground untuk jenis rock fishes (Sebastes spp.) dan jenis spesies lainnya, dimana kolom perairan memiliki kuat arus yang mendukung pertahanan keberadaan juvenil ikan; serta fungsi dasar perairan (perte- muan pipa dan dasar laut) yang dapat menjaga dan meningkatkan kelimpahan ikan remaja dan ikan dewasa. Konstruksi tiang-tiang anjungan mampu mengundang alga dan dapat menjadi tempat menempel biota laut (Gambar 2). Demi- kian seterusnya kondisi tersebut dalam jangka waktu yang lama mampu membentuk habitat baru bagi ikan. Jenis ikan yang banyak ditemu- kan di area ini adalah ikan rockfishes, lingcod (Ophiodon elongatus), painted greenling (Oxylebius pictus), dan jenis ikan karang. Fujii (2015) juga menyatakan bahwa terdapat hubu- ngan yang kuat dan konsisten antara asosiasi anjungan lepas pantai dengan sumberdaya ikan di Laut Utara (North Sea).
Gambar 2 Kondisi ekosistem di area anjungan produksi migas di laut a). kondisi kaki-kaki anjungan yang telah ditumbuhi oleh alga dan softcoral; b) Sebastes spp. yang hidup berasosiasi dengan kaki anjungan; c) schooling Caranx sp. di kaki anjungan (sumber: Love et al., 2003).
a
b c
Suhery et al. – Ko-Eksistensi Perikanan Tangkap dan Anjungan Migas di Pantai Utara Jawa Barat 17
Hasil pengamatan langsung di sekitar anjungan yang terdapat di pantura Jawa Barat juga menunjukkan melimpahnya jumlah ikan di sekitar anjungan migas. Kondisi melimpahnya sumberdaya ikan di sekitar anjungan ini juga diindikasikan dengan banyaknya nelayan yang melakukan penangkapan ikan di bawah anju- ngan. Dokumentasi hasil pengamatan yang dilakukan pada periode 2014 dan 2015 disampaikan pada Gambar 3.
Eksternalitas sosial-ekonomi: peningkat- an produktivitas penangkapan dan per- sepsi negatif nelayan terhadap anjungan migas
Kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi dan anggaran belanja pemerintah. Selain untuk pemenuhan kebutuhan energi, output dari kegi- atan migas juga diharapkan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitarnya. Meskipun sejauh ini out- put untuk kesejahteraan masyarakat dirasa belum optimal, beberapa manfaat dari kebera- daan kegiatan migas menurut Purwatiningsih dan Masykur (2012) diantaranya: membuka keterisolasian daerah, menyediakan lapangan pekerjaan, peningkatan kehidupan sosial de- ngan adanya program pemberdayaan masyara- kat (community development), partisipasi masyarakat untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan yaitu sebagai pemasok kebutuhan pokok di sekitar kegiatan migas, dan terba- ngunnya infrastruktur sebagai bagian penting untuk memicu roda perekonomian berbasis kerakyatan. Pusparini (2012) melakukan pene-
litian eksternalitas sosial-ekonomi keberadaan anjungan migas, yang melakukan pengambilan contoh di 3 lokasi, yaitu di area anjungan (dalam radius 500 m), di area sekitar anjungan (luar radius 500 m), dan di lokasi kontrol yaitu area tanpa anjungan migas. Alat tangkap yang digunakan adalah payang lampu. Pemilihan unit ini didasari oleh pertimbangan persepsi negatif nelayan dari jenis alat tersebut terkait dengan keberadaan anjungan migas di laut.
Penelitian tersebut memberi hasil bahwa terdapat perbedaan produktivitas per trip dari masing-masing lokasi sampling (Tabel 1 dan Tabel 2). Perbedaan produktivitas tersebut dipengaruhi oleh efektivitas penangkapan per jam di masing-masing lokasi, serta jenis dan jumlah ikan yang diperoleh. Secara umum, jenis ikan yang diperoleh tidak jauh berbeda di masing-masing lokasi sampling. Perbedaan terjadi pada jumlah komposisi jenis hasil tangkapan. Dari hasil analisis produktivitas per trip, diketahui bahwa produktivitas alat payang di area sekitar anjungan migas berbeda sebanyak 34% lebih rendah (tanda negatif) dibandingkan dengan produktivitas di area tanpa anjungan migas. Produktivitas di area tanpa anjungan migas menunjukkan nilai paling tinggi baik untuk jumlah tangkapan maupun pendapatan per armada per trip. Jika dikon- versi dalam bentuk pendapatan, maka hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara area dengan anjungan migas dengan area tanpa anjungan migas.
Produktivitas di area tanpa anjungan migas menunjukkan nilai paling tinggi baik untuk jumlah tangkapan maupun pendapatan per armada per trip.
Tabel 1 Perbandingan produktivitas alat payang di 3 area pengambilan contoh dari 12 trip penangkapan.
No Parameter
Pengukuran
Lokasi Pengambilan Contoh Area tanpa
Anjungan Migas
Area dengan Anjungan
Migas
Area Anjungan (dalam radius 500 m)
1 Jumlah hasil tangkapan
(kg/trip) 269,1083 178,2500 223,1500
2 Produktivitas per jam
durasi mayang (kg) 33,6385 19,8056 27,8938
3 Nilai pendapatan
(Rp./trip) 3.162.223 1.294.225 2.939.305
4 Nilai biaya operasional
(Rp./trip) 612.000,00 648.700,00 341.000,00
Sumber: Pusparini (2012)
18 Marine Fisheries 7 (1): 13-24, Mei 2016
Gambar 3 Dokumentasi kondisi ikan di sekitar anjungan migas a) schooling juvenil ikan di kaki salah satu anjungan di lepas pantai pantura Jawa Barat; b) penyu mencari makan di salah satu kaki anjungan di lepas pantai pantura Jawa Barat; c) kondisi kaki anjungan yang ditumbuhi alga dan beberapa juvenil ikan di sekitarnya; d) kapal nelayan yang menangkap ikan di sekitar anjungan (sumber: pengamatan lapangan, 2014 - 2015) Tabel 2 Tingkat perbedaan produktivitas di area pengambilan contoh
No Area Contoh yang Dibandingkan Jumlah Tangkapan (%kg)
Pendapatan (%Rp) 1 Area dengan anjungan migas dengan area
tanpa anjungan migas -33,7627* -59,0723*
2 Area anjungan dengan area tanpa
anjungan migas -17,0780* -7,0494
3 Area anjungan dengan area dengan
anjungan migas 25,1893* 127,1093*
Sumber: Pusparini (2012)
Keterangan: *berbeda nyata (taraf uji 95%)
Hasil analisis bioekonomi menunjukkan bahwa kondisi penangkapan ikan alat payang lampu di area dengan anjungan migas berada dalam kondisi lebih baik dibandingkan dengan area tanpa anjungan migas. Namun kedua area menunjukkan kondisi over fishing, yang dapat dilihat dari jumlah tangkapan dan trip aktual yang jauh di atas titik optimum. Kondisi over- fishing yang terjadi cukup kontradiktif untuk menjelaskan status penangkapan ikan dengan alat payang secara bioekonomi di area dengan anjungan migas. Kondisi ini menguatkan hasil analisis parameter biologi yang menunjukkan
bahwa tingkat pertumbuhan ikan yang menjadi target tangkapan alat payang lampu di area dengan anjungan migas lebih tinggi mencapai 0,6% dibandingkan dengan tingkat pertumbuh- an sumber daya ikan di area tanpa anjungan migas. Sementara itu, koefisien penangkapan ikan menunjukkan kondisi yang relatif sama di kedua tempat; dan nilai daya dukung, menun- jukkan bahwa daya dukung di area tanpa an- jungan migas memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan daya dukung di area dengan anjungan migas. Dari hasil analisis tersebut terdapat indikasi bahwa tingkat over-
a b
c d
Suhery et al. – Ko-Eksistensi Perikanan Tangkap dan Anjungan Migas di Pantai Utara Jawa Barat 19
fishing yang terjadi di area dengan anjungan migas dikompensasi oleh tingkat pertumbuhan ikan yang mencapai 1,9% di area tersebut.
Kondisi ini diilustrasikan dalam Gambar 4.
Hasil penghitungan produktivitas per trip dan hasil analisis bioekonomi tersebut mampu menjelaskan kondisi yang terjadi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jika kedua hasil analisis tersebut dipadukan, maka diperoleh hasil bahwa terdapat bentuk eksternalitas positif dari keberadaan anjungan migas di laut yang disertai dengan zona terlarang radius 500 m terhadap produksi tangkapan ikan dalam jangka panjang. Hasil ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya terkait dengan manfaat analogi keberadaan anjungan migas di laut terhadap sumber daya ikan.
Adanya pemberlakuan zona larangan radius 500 meter secara langsung akan melin- dungi area tersebut dari tekanan penangkapan ikan yang sudah dalam kondisi overfishing.
Kondisi ini menyebabkan area anjungan de- ngan zona larangan akan berfungsi menye- rupai kawasan konservasi, walaupun tidak luas yaitu sekitar 19,6 ha untuk satu anjungan, yang dapat memberikan limpahan (spill over) ikan bagi area di sekitarnya.
Namun demikian, pada sisi lain kebe- radaan anjungan migas yang disertai zona terlarang ternyata memberikan efek negatif ter- hadap persepsi nelayan. Pusparini (2012) menemukan bahwa persepsi negatif yang mun- cul disebabkan oleh adanya larangan nelayan memasuki area yang berada di dalam radius terlarang, adanya kerusakan alat tangkap jenis jaring (khususnya jaring hanyut) akibat ter- sangkut pipa di sekitar anjungan, serta adanya keresahan nelayan terkait dengan informasi bahaya kegiatan di anjungan. Nelayan berang-
gapan bahwa keberadaan anjungan yang disertai zona terlarang menyebabkan berku- rangnya keleluasaan nelayan dalam upaya penangkapan ikan. Selain itu, untuk jenis alat tertentu (payang lampu), keberadaan anjungan dianggap menjadi pesaing daya pikat alat tangkap ikan (khususnya untuk ikan yang bersi- fat phototaxis positif) yang digunakan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan terjadinya konflik sosial terkait dengan pemanfaatan area pera- iran. Status kawasan pesisir dan laut sebagai barang publik (common property) menyebab- kan tidak adanya kepemilikan yang tegas terhadap kawasan tersebut. Jika ditinjau dari segi kepemilikan, sebagian besar konflik terjadi pada pemanfaatan sumber daya alam yang bersifat open access. Kerap kali konflik lingku- ngan terjadi tidak semata karena permasalahan lingkungan itu sendiri (objek), melainkan juga melibatkan dimensi kepentingan subjek pelaku- nya. Berdasarkan definisi teori konflik, maka teori yang relevan dengan kondisi ini yaitu teori kelangkaan sumber daya ikan akibat adanya overlapping kegiatan ekonomi di kawasan yang sama. Penurunan hasil tangkapan ikan perla- han akan mengubah persepsi positif nelayan terhadap kegiatan migas di laut, dan kondisi ini terjadi secara terus-menerus hingga mencapai titik klimaks dimana kelangkaan ikan mulai dirasakan oleh nelayan. Kondisi ini tidak menu- tup kemungkinan akan menyebabkan perseli- sihan ringan sampai dengan konflik antar sektor. Adanya subyek dengan kepentingan tertentu akan menjadi trigger dari suatu konflik.
Keterkaitan hubungan ini, menyebabkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan harus dilakukan secara berhati-hati dan mem- pertimbangkan segala aspek terkait. Penge- lolaan konflik yang tidak tepat dapat berdampak pada inefisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan.
Gambar 4 Kurva bioekonomi alat payang lampu di area dengan anjungan migas dan area tanpa anjungan migas
20 Marine Fisheries 7 (1): 13-24, Mei 2016
Pengelolaan Ko-Eksistensi antara Kegi- atan Penangkapan Ikan dan Keberadaan Anjungan Migas
Bentuk ko-eksistensi antara kegiatan penang- kapan ikan dan keberadaan anjungan migas
Berdasarkan hasil penjabaran dan anali- sis kondisi ko-eksistensi antara kegiatan penangkapan ikan dan keberadaan anjungan migas di laut dalam contoh kasus di perairan pantura Jawa Barat, dapat diketahui bahwa terdapat 4 aspek (Tabel 3) yang saling berko- eksistensi yaitu aspek regulasi, aspek ekologi, aspek ekonomi dan aspek sosial.
Stakeholders pengelolaan ko-eksistensi kegi- atan perikanan tangkap dan keberadaan anjungan migas
Identifikasi terhadap stakeholder yang berperan dan berkepentingan dalam pengelo- laan ko-eksistensi kegiatan perikanan tangkap dan keberadaan anjungan migas dilakukan ber- dasarkan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan bersama para pemangku kepenti- ngan dan informasi dari peraturan perundangan terkait dengan keberadaan anjungan migas dan kegiatan perikanan tangkap, dokumen dan laporan terkait dengan dua kegiatan tersebut.
Identifikasi dilakukan mulai dari level nasional, regional, dan lokal terkait dengan studi kasus di
pantura Jawa Barat (Tabel 4).
Rekomendasi Pengelolaan
Adanya sisi positif dan negatif dari ko- eksistensi antara keberadaan anjungan migas dan kegiatan penangkapan ikan ini perlu dikelola supaya manfaat positif dapat terus dimaksimalkan dan sisi negatif dapat dimini- malkan sehingga antara kegiatan penangkapan ikan dan keberadaan anjungan dapat berjalan secara selaras dan bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi.
Empat aspek yang berko-eksistensi tidak dapat hanya dikelola oleh satu pihak saja.
Pendekatan pengelolaan secara terpadu yang dilakukan oleh berbagai stakeholders merupa- kan hal yang perlu dilakukan (Tabel 5). Penyu- sunan rekomendasi dan pendekatan pengelo- laan ini merujuk pada Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL) yang dituangkan dalam salah satu Izin Ling-kungan perusahaan migas (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 207 Tahun 2012 tanggal 16 Agustus 2012 dan Keputusan Men- teri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02.3.02 Tahun 2014 tanggal 27 Februari 2014) serta hasil identifikasi tugas pokok dan fungsi masing-masing stakeholders yang terkait de- ngan aspek ko-eksistensi.
Tabel 3 Aspek yang berinteraksi pada ko-eksistensi kegiatan penangkapan ikan dan keberadaan anjungan migas di laut
No Aspek ko-
eksistensi Bentuk ko-eksistensi
1 Aspek regulasi Keberadaan anjungan migas dilindungi oleh peraturan pemerintah PP No 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian dan kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Perhubungan No 25 Tahun 2010 tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran menjelaskan bahwa anjungan migas lepas pantai (platform) memiliki zona terlarang (radius 500 meter dari bagian terluar anjungan) yang terlarang bagi kegiatan lain termasuk penangkapan ikan.
2 Aspek ekologi Konstruksi anjungan beserta buangan limbah organik dan pencahayaan di sekitarnya membentuk habitat baru bagi ikan. Pemberlakuan zona terlarang radius 500 meter membuat sumberdaya ikan di sekitar anjungan terlindung dari tekanan penangkapan, sehingga keberadaan anjungan serta zona terlarangnya memiliki analogi seperti zona inti (no take zone) seperti halnya kawasan konservasi. Hal ini membuat sumberdaya ikan berlimpah di sekitar anjungan.
3 Aspek sosial Adanya anjungan serta aturan zona terlarang radius 500 meter (sekitar 19,6 Ha) menimbulkan persepsi negatif dari kalangan nelayan bahwa keberadaan anjungan mengurangi daerah penangkapan ikan dan keleluasaan mereka dalam menangkap ikan.
4 Aspek ekonomi Persepsi implikasi dari pengurangan daerah penangkapan ikan akibat keberadaan anjungan pada penurunan pendapatan nelayan. Namun, berdasarkan hasil penelitian Pusparini, 2012 produktivitas nelayan payang lampu yang beroperasi di sekitar anjungan migas lebih tinggi dibandingkan produktivitas di luar area migas.
Suhery et al. – Ko-Eksistensi Perikanan Tangkap dan Anjungan Migas di Pantai Utara Jawa Barat 21
Tabel 4 Stakeholder yang terkait dengan pengelolaan ko-eksistensi kegiatan perikanan tangkap dan keberadaan anjungan migas beserta kepentingannya
Tingkatan Kesatuan Kelompok Stakeholder
Peran dan kepentingan terhadap keberadaan anjungan migas dan penangkapan ikan di pantura Jawa
Barat