PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas mempunyai tingkat risiko yang tinggi bagi pekerja yang bekerja pada fasilitas tersebut, terutama pada pekerjaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas di anjungan lepas pantai. Selain itu, peraturan, standar, pedoman dan pedoman keselamatan untuk anjungan lepas pantai juga ditetapkan dan diperbarui oleh pemerintah nasional, praktisi keselamatan dan perusahaan penghasil minyak dan gas untuk meminimalkan risiko terjadinya insiden serupa. Pada tahun 1999, John R Spouge dari Det Norske Veritas (DNV) Technica melalui Center for Marine and Petroleum Technology (CMPT) didukung oleh beberapa perusahaan dari berbagai negara antara lain: Amoco (UK) Exploration Company, Chevron UK Ltd, Exxon Production Research Company , The Health and Safety Executive, Minerals Management Service (USA), Mobil Technology Company, National Energy Board (Canada) dan Swedish Petroleum Directorate, menghasilkan pedoman penilaian risiko kuantitatif khusus untuk instalasi lepas pantai akibat kecelakaan besar, yaitu “Quantitative Risk Assessment for Instalasi Lepas Pantai".
Dalam rangka mengembangkan produksinya dan meningkatkan pasokan produksi migas nasional, PT Kajian konseptual WHP dikenal dengan istilah lain Front End Engineering Design (FEED), kemudian Detailed Engineering Design atau Detailed Engineering Design (DED) sebagai tahap rekayasa akhir.
Dengan latar belakang tersebut, perlu adanya kajian analitis mengenai penyelamatan diri, evakuasi dan penyelamatan pekerja/Escape, Evacuation and Rescue Analysis (EERA) sebagai upaya mencegah kecelakaan fatal pada saat kebakaran besar dan ledakan di WHP X-100.
Rumusan Masalah
Kejadian ini mengakibatkan terganggunya akses jalur keluar di dek utama menuju titik berkumpul (Muster Point). Resiko kebakaran berasal dari kebocoran dan terbakarnya Tangki Harian Diesel yang menyebabkan terjadinya kebakaran kolam. Kejadian ini mengakibatkan area Mezzanine Deck terbakar akibat cairan yang terbakar menyebar dan jatuh ke dek di bawahnya.
Akibat eskalasi kejadian ini, akses jalan keluar menuju titik berkumpul (Muster Point) pada peluncuran kapal (7) ditutup.
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
Penelitian ini merupakan sarana bagi peneliti untuk melatih pola berpikir secara sistematis dalam menghadapi masalah keselamatan dan kesehatan kerja, sejalan dengan perkembangan bahaya di lingkungan kerja dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga sebagai sarana penerapan ilmu Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang diperoleh selama proses kuliah dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana.
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Desain Engineering
Front End Engineering Design (FEED) adalah tahapan untuk mengevaluasi total biaya atau estimasi investasi dan menyusun rencana pelaksanaan proyek secara keseluruhan, serta menyiapkan dokumentasi tender untuk pemilihan kontraktor EPC (Engineering, Procurement, Construction), serta untuk melakukan investasi akhir. keputusan. Tahap FEED merupakan rekayasa dasar yang dikembangkan dari hasil Desain Konseptual yang kemudian digunakan sebagai dasar teknis pada tahap Detailed Engineering Design (DED). Detail Engineering Design (DED) merupakan tahap pengembangan seluruh dokumen dan gambar konstruksi yang diperlukan hingga tahap persetujuan konstruksi (AFC) dan rincian pengadaan material yang diperlukan berdasarkan Front End Engineering Design (FEED).
Nilai sebenarnya yang dapat ditemukan dalam bidang teknik adalah kemampuan untuk menggabungkan semua pekerjaan untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar. Rekayasa proses merupakan salah satu cabang disiplin ilmu teknik yang berfokus pada pemilihan teknologi proses, konfigurasi, integrasi dan optimalisasi proses dan fasilitas layanan, serta pemilihan jenis peralatan dengan mempertimbangkan kinerja produksi dan ekonomi dengan dukungan disiplin ilmu lain. . Rekayasa Proses bertanggung jawab atas pengembangan model proses dan dokumen rekayasa, termasuk PFD, P&ID, data proses, dan dokumen rekayasa proses lainnya.
Rekayasa keselamatan proses berfokus pada pencegahan kebakaran, ledakan, dan pelepasan bahan kimia yang terjadi secara tidak terduga di fasilitas proses kimia atau fasilitas lain yang menangani bahan berbahaya, seperti kilang dan instalasi produksi minyak dan gas (darat dan lepas pantai). 3) Teknik Sipil/Struktur. Teknik sipil adalah disiplin ilmu teknik yang berfokus pada desain, rekayasa, konstruksi dan pemeliharaan bangunan, jalan, jembatan, infrastruktur terkait, dan pekerjaan bawah tanah (11). Rekayasa struktur merupakan bagian dari teknik sipil yang berfokus pada perancangan dan rekayasa semua jenis peralatan atau platform struktural di sektor minyak dan gas.
Teknik elektro merupakan disiplin ilmu teknik yang fokus pada sistem tenaga listrik termasuk sistem pembangkitan dan distribusi tenaga listrik serta pengendalian sistem tenaga listrik. Teknik instrumentasi adalah cabang khusus teknik kelistrikan dan elektronik dan berhubungan dengan pengukuran, kontrol, dan otomatisasi proses. Teknik mesin adalah disiplin ilmu teknik yang menerapkan prinsip-prinsip teknologi ilmiah dan praktik teknik industri untuk merancang dan teknik mesin yang berfokus pada mesin, struktur, perangkat, sistem mekanik, dan sistem konversi energi.
Teknik perpipaan merupakan disiplin ilmu teknik yang fokus pada mekanika fluida, seperti: menganalisis perilaku zat cair dan gas dalam perancangan dan pengembangan mekanika fluida dan sistem perpipaan. Rekayasa perpipaan adalah disiplin ilmu teknik yang berfokus pada desain dan rekayasa sistem perpipaan jarak jauh (Pipelines) yang efisien.
Centre for Marine and Petroleum Technology
- Fire and Explosion Risk Analysis (FERA)
- Escape, Evacuation, and Rescue Analysis
14 Petroleum Technology (CMPT), berinisiatif membuat panduan penilaian risiko khususnya untuk industri lepas pantai. Manual ini disiapkan berdasarkan kontrak oleh J R Spouge dari DNV Technica (sekarang bagian dari Det Norske Veritas) sebagai kontraktor teknik utama, dengan bantuan AEA Technology, Dovre Safetec, Electrowatt Engineering Services UK Ltd dan Four Elements Ltd. Penilaian Risiko Instalasi Lepas Pantai Kuantitatif merupakan pedoman penilaian risiko yang diidentifikasi oleh peraturan yang mewajibkan penilaian risiko instalasi baru dan lama sebagai bagian dari aspek keselamatan.
Panduan ini dimaksudkan sebagai sarana untuk melakukan analisis sistematis terhadap risiko dari aktivitas berbahaya dan membentuk penilaian rasional mengenai signifikansinya untuk memberikan informasi dalam proses pengambilan keputusan. Panduan ini mengutamakan proses analitis, memperkirakan tingkat risiko dan menilai apakah langkah yang diambil telah efektif dalam mengurangi tingkat risiko. Kajian-kajian yang diuraikan dalam panduan ini mencakup Kajian Analisis Resiko Kebakaran dan Ledakan/Kebakaran dan Ledakan (FERA) dan Kajian Escape, Evacuation and Rescue Analysis (EERA).
Analisis bahaya kebakaran dan ledakan adalah jenis analisis bahaya yang hanya berlaku pada kebakaran dan ledakan. Menurut Konsultan Risknology, analisis bahaya kebakaran dan ledakan adalah metode sistematis untuk mengidentifikasi semua insiden kebocoran hidrokarbon atau cairan yang mudah terbakar dari suatu proses dan menilai konsekuensi fisik dari setiap insiden. Analisis penyelamatan diri, evakuasi dan penyelamatan (Escape, Evacuation and Rescue Analysis) merupakan jenis analisis risiko yang hanya berlaku pada EERA dari terjadinya keadaan darurat pada instalasi lepas pantai.
17 1) Identifikasi kejadian yang memerlukan evakuasi instalasi lepas pantai untuk menghindari atau mengurangi jumlah kecelakaan. Saat melakukan analisis EERA, elemen penting harus dipertimbangkan: alarm dan komunikasi, penyelamatan, evakuasi, penyelamatan, dan waktu EERA. 18 4) Penyelamatan korban (rescue) adalah suatu proses dimana korban yang berada dalam keadaan darurat, terluka dan/atau terjebak pada jalur evakuasi dievakuasi dari alat ke tempat yang tersedia pertolongan medis tanpa menggunakan sarana penyelamatan yang tersedia ( 3 ).
Berdasarkan publikasi ASME, Escape, Evacuation and Rescue Analysis (EERA) didefinisikan sebagai analisis untuk melindungi dan menyelamatkan pekerja jika terjadi kecelakaan besar di anjungan minyak dan gas lepas pantai. Keuntungan dari Escape, Evacuation and Rescue Analysis (EERA) adalah dapat menyimulasikan keadaan darurat yang berisiko tinggi dan menggunakan pendekatan berbasis risiko untuk memberikan manajemen yang efektif.
Kerangka Teori
METODOLOGI PENILITIAN
- Kerangka Konsep
- Jenis dan Rencana Penelitian
- Objek Penelitian
- Sumber Data Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Pengumpulan Data
- Pengolahan Data
- Analisa Data
Oleh karena itu, penggunaan metode deskriptif komparatif dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan engineering design anjungan migas lepas pantai WHP X-100 dengan standar CMPT EERA. Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah rancang bangun teknik WHP X-100 yang meliputi Rekayasa Proses, Rekayasa Keselamatan Proses, Rekayasa Sipil/Struktur, Rekayasa Elektro, Rekayasa Instrumentasi, Rekayasa Mesin, Rekayasa Perpipaan dan Rekayasa Perpipaan. Pada penelitian ini dilakukan observasi dengan menggunakan lembar checklist sebagai pedoman untuk mengetahui kesesuaian engineering design WHP X-100 dengan standar EERA CMPT.
Data dari studi FERA, laporan HAZID, dokumen spesifikasi, dokumen filosofi dan lembar data diperlukan untuk menganalisis kelayakan desain teknik WHP X-100. Dengan asumsi “Fair” dan “Failure” sama-sama mendapat skor 100%, maka hal ini nantinya mewakili persentase kepatuhan “Fair” dan “Failure” pada Daftar Periksa Kepatuhan Desain Rekayasa WHP X-100 dengan standar EERA CMPT. Analisis data dilakukan dengan menganalisis data yang diperoleh dari observasi engineering design WHP X-100 dengan standar CMPT terkait EERA.
Manual Call Point (MAC) yang berfungsi sebagai tombol ESD memulai klakson kabut pneumatik yang dapat memberikan peringatan kepada pekerja di kapal WHP X-100 dan awak kapal. Dengan sistem ini, ketidaktersediaan PAGA bisa diabaikan, mengingat jumlah maksimal orang yang diperbolehkan mengunjungi WHP X-100 hanya tiga orang. Analisis pelarian di semua dek di WHP
Kelayakan desain tidak tercapai di semua dek (kecuali tempat pendaratan kapal) karena desain teknik WHP X-100 hanya memiliki satu sisi jalur pelarian. Berdasarkan simulasi kebakaran dan ledakan, studi FERA menunjukkan bahwa sumber api yang mempunyai resiko tinggi berada di dek utama WHP adalah studi FERA sehingga diperlukan perbaikan desain yaitu penambahan jalur evakuasi. di sisi timur WHP.
4 menit berdasarkan CMPT, namun diasumsikan 2 menit pekerja selalu memakai jaket pelampung pada Waktu WHP X-100. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa waktu EERA pada perancangan teknis WHP X-100 lebih cepat dibandingkan EERA CMPT.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Kesesuaian Desain Engineering WHP X-
Hasil Kelayakan EERA Desain Engineering
Hasil Kesesuaian Waktu EERA Antara Desain
Kesimpulan
Saran
Perhitungan detail waktu menuju titik kumpul dan stasiun rakit penolong Waktu mencapai titik kumpul diperkirakan dari tempat kerja terjauh di WHP X-10. Pekerja berbelok ke sisi utara (belok kiri) untuk jalan keluar menuju tangga di sebelah stasiun sekoci. Berdasarkan tabel diatas, waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai ke titik kumpul adalah 75 detik atau dibulatkan menjadi 2 menit.
Berdasarkan tabel diatas, waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke stasiun liferaft adalah 52 detik atau dibulatkan menjadi 1 menit.