• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dari penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Design Engineering

WHP X-100

Process Engineering

Process Safety Engineering

Civil / Structure Engineering

Electrical Engineering

Instrument Engineering

Mechanical Engineering

Piping Engineering

Pipeline Engineering INPUT

Standar CMPT, 1999 Analisis Pencapaian EERA dengan MAE:

Alarm & Komunikasi

Escape

Evacuation

Rescue

 Kecukupan waktu EERA

PROSES

Kesesuaian Desain Engineering WHP X- 100 dengan standar EERA CMPT Kelayakan Desain Engineering Kesesuaian waktu EERA Desain

Engineering WHP X- 100 dengan standar EER CMPT

OUTPUT

REVISI

21 3.2 Jenis dan Rencana Penelitian

Desain penelitian yang penulis menggunakan penelitian deskriptif komparatif. Deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Dalam metode deskriptif Peneliti dapat membandingkan fenomena- fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (18).

Metode komparatif adalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda (18). Oleh karena itu penggunaan metode deskriptif komparatif dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan antara desain engineering anjungan migas lepas pantai WHP X-100 dengan EERA standar CMPT.

3.3 Objek Penelitian

Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah desain engineering WHP X-100 yang meliputi process engineering, Process Safety Engineering, Civil / Structure engineering, Electrical engineering, Instrumentation engineering, Mechanical engineering, Piping engineering dan Pipeline engineering. Dari objek ini, Peneliti mengetahui apakah sarana dan kinerja EERA sudah sesuai dengan ketentuan di EERA standar CMPT.

3.4 Sumber Data Penelitian

Pengumpulan data penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder yang antara lain:

22 1. Data Primer

Data primer didapatkan dengan melakukan observasi gambar-gambar desain engineering, yaitu layout main deck, intermediate dan mezzanine deck, boat landing, tampak utara dan tampak timur.

2. Data Sekunder

Data sekunder berupa data yang didapatkan dari multi- disiplin desain engineering WHP X-100, seperti denah WHP X-100, hasil studi FERA, laporan HAZID, dokumen spesifikasi, dokumen filosofi dan dokumen datasheet. Selain itu, data diperoleh dari panduan CPMT, 1999.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1. Checklist observasi untuk panduan menentukan kesesuaian objek dengan ketentuan standar CMPT.

2. Komputer untuk mempermudah pengolahan data

3. Software CAD viewer sebagai sarana pendukung tampilan desain engineering.

3.6 Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini observasi dilakukan dengan lembar checklist sebagai panduan menentukan kesesuaian desain engineering WHP X-100 dengan EERA standar CMPT. Untuk menganalisis kelayakan desain engineering WHP X-100 diperlukannya data hasil studi FERA, laporan HAZID, dokumen spesifikasi, dokumen filosofi dan dokumen datasheet.

23 3.7 Pengolahan Data

Metode pengolahan data pada penelitian ini menggunakan teknik pengodean. Pengodean adalah aktifitas memberi kode terhadap segmen – segmen data. Kode dapat berupa pernyataan, perilaku, peristiwa, perasaan, tindakan dari informan dan lain – lain. Tergantung apa yang terkandung dalam segmen data yang dihadapi. Kode dalam penelitian kualitatif merupakan kata atau frasa pendek yang secaras simbolis bersifat meringkas, menonjolkan pesan, menangkap esensi dari suatu porsi data, baik itu data berbasiskan bahasa atau data visual. Dengan bahasa yang lebih sederhana, kode adalah kata atau frasa pendek yang memuat esensi dari suatu segmen data (19).

Dalam penelitian ini nantinya untuk mendapatkan nilai presentase dari hasil checklist kesesuaian akan dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖𝑎𝑛

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑙𝑒𝑚𝑒𝑛 × 100%

Dengan anggapan “Sesuai” dan “Tidak Sesuai” sama – sama mendapat skor 100%, yang nantinya akan mewakili presentase kesesuaian dari “Sesuai” dan “Tidak Sesuai” pada checklist kesesuaian desain engineering WHP X-100 dengan EERA standar CMPT.

Pada bagian analisis kelayakan EERA desain engineering saat peristiwa kebakaran besar dan ledakan, analisis kelayakan menggunakan kata “Tercapai”, “Tidak Tercapai” dan “Tidak dianalisis”

akan mewakili tingkat kelayakan antara desain engineering WHP X- 100 dengan EERA standar CMPT.

24 3.8 Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menganalisis data temuan hasil observasi desain engineering WHP X-100 dengan standar CMPT terkait dengan EERA. Apakah desain engineering WHP X-100 telah memiliki kinerja EERA yang terpenuhi sesuai standar CMPT.

25 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Kesesuaian Desain Engineering WHP X-100 dengan EERA standar CMPT

Hasil kesesuaian desain engineering WHP X-100 dengan EERA standar CMPT adalah seperti pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Hasil Kesesuaian Desain engineering WHP X-100 dengan EERA standar CMPT

No EERA CMPT Desan Engineering WHP X-100

Tingkat Pemenuhan Sesuai Tidak

Sesuai A. Alarm dan Komunikasi (Alarm and Communication)

1 Tersedianya pendeteksi api dan gas, dan sistem alarm

Tersedia personal

gas detector (20) 100% 0%

2 Tersedianya Muster Alarm Tersedia Manual Call Point (MAC) yang menginisiasi

pneumatic fog horn

(21)

100% 0%

3 Apakah sarana alarm

bersifat fireproof Tidak, namun fog horn terletak di dalam WHCP (21)

100% 0%

4 Tersedianya Public Address and General Alarm (PAGA)

Tersedia Manual Call Point (MAC) yang menginisiasi ESD, fog horn dan

mengirimkan alarm ke CPP X-100 (20)

100% 0%

26 No EERA CMPT Desan Engineering

WHP X-100

Tingkat Pemenuhan Sesuai Tidak

Sesuai 5 Tersedianya alarm untuk

memberitahukan Control Room

Tersedia Manual Call Point (MAC) yang menginisiasi ESD, fog horn dan

mengirimkan alarm ke CPP X-100 (20)

100% 0%

6 Tersedianya alat komunikasi untuk

memberitahukan ke pihak internal

Tersedia personal UHF handheld radio

(20) 100% 0%

7 Tersedianya alat komunikasi untuk

memberitahukan ke pihak eksternal

Tersedia Manual Call Point (MAC) untuk mengirim komunikasi data ke CPP X-100, EPIRB, dan SART (20)

100% 0%

B. Penyelamatan Diri (Escape) 8 Tersedia escape route

dengan lebar yang memadai

Escape route tersedia di semua deck.

Escape route utama memiliki lebar

minimal 1 meter dan headroom clearence 2,1 meter. (22)

Escape route sekunder memiliki lebar minimal 0.8 meter dan headroom clearence 2,1 meter.

(22)

100% 0%

9 Tersedia escape route pada dua sisi berlawanan

Escape route tersedia pada sisi Barat Platform (22)

0% 100%

27 No EERA CMPT Desan Engineering

WHP X-100

Tingkat Pemenuhan Sesuai Tidak

Sesuai 10 Escape route tidak

memiliki penghalang atau gangguan

Piping arrangement melalui bagian bawah deck (23)

100% 0%

11 Escape route memiliki tanda arah menuju Muster Point

Tersedia tanda panah yang

memandu ke Muster Point (20)

100% 0%

12 Escape route dapat terlihat Untuk plated deck, ditandai dengan cat warna kuning. (20) Untuk grated deck, ditandai dengan tanda panah(20)

100% 0%

C. Evakuasi / Pengungsian (Evacuation) 13 Muster Point memiliki

luasan yang mencukupi untuk semua pekerja

Muster Point memiliki

luas 61 m2 (24) 100% 0%

14 Muster Point terbebas dari risiko kebakaran dan penyebaran gas

Muster Point terletak di Boat Landing dan tidak ada fasilitas proses hidrokarbon.

(24) (7)

100% 0%

15 Muster Point terlihat dengan jelas

Muster point dilengkapi dengan tanda “muster point”.

(20)

100% 0%

16 Muster Point difasilitasi dengan peralatan komunikasi

Tersedia personal UHF handheld radio

(20)

100% 0%

17 Tersedia alternatif Muster Point

Alternatif Muster Point di Mezzanine deck (25)

100% 0%

28 No EERA CMPT Desan Engineering

WHP X-100

Tingkat Pemenuhan Sesuai Tidak

Sesuai 18 Alternatif Muster Point

memiliki luasan yang mencukupi untuk semua pekerja

Alternatif Muster Point memiliki luas 2

m2 (25) 100% 0%

19 Alternatif Muster Point terbebas dari risiko

kebakaran, radiasi panas, dan penyebaran gas

Terdapat SDV di sisi timur Mezzanine

deck (25) 0% 100%

20 Alternatif Muster Point terlihat dengan jelas

Alternatif Muster point dilengkapi dengan tanda “Life Raft Station”. (25)

100% 0%

21 Alternatif Muster Point difasilitasi dengan peralatan komunikasi

Tersedia personal UHF handheld radio(20)

100% 0%

22 Memiliki setidaknya dua metode evakuasi beserta sarananya

Evakuasi utama menggunakan kapal kru (20)

Evakuasi sekunder menggunakan liferaft

(20)

100% 0%

23 Sarana evakuasi sesuai dengan standar IMO atau SOLAS

Liferaft sesuai

dengan SOLAS LSA Chapter III by

resolution MSC (20)

100% 0%

24 Jumlah dan kapasitas sarana evakuasi mencukupi untuk mengevakuasi seluruh pekerja

Kapal kru memiliki kapasitas 15 orang

(20)

Liferaft memiliki kapasitas 10 orang

(20)

100% 0%

29 No EERA CMPT Desan Engineering

WHP X-100

Tingkat Pemenuhan Sesuai Tidak

Sesuai 25 Lokasi sarana evakuasi

sekunder terbebas dari kebakaran, radiasi panas, dan penyebaran gas

Terdapat SDV di sisi timur Mezzanine

deck (25) 0% 100%

26 Sarana evakuasi sekunder dilengkapi dengan sarana pendukung untuk turun ke laut

Sarana pendukung sekunder utama menggunakan personal descent device (20)

100% 0%

27 Sarana evakuasi sekunder mudah terlihat

Sarana sekunder pada area terbuka dan tidak terhalang peralatan proses (25)

100% 0%

28 Sarana evakuasi sekunder memiliki metode / cara penggunaan

Cara penggunaan

tersedia (20) 100% 0%

D. Penyelamatan Korban (Rescue)

29 Tersedia sarana rescue Sarana rescue menggunakan kapal kru yang dilengkapi rescue boat (20)

100% 0%

30 Tersedia peralatan komunikasi

Tersedia VHF marine radio dan radar beacon(20)

100% 0%

Tingkat Kesesuaian 90% 10%

Berdasarkan hasil observasi kesesuaian desain engineering WHP X-100 dengan standar CMPT pada tabel diatas, maka didapatkan ringkasan kesesuaian pada tabel berikut:

30 Tabel 4.2 Ringkasan Persentase Kesesuaian Desain

engineering WHP X-100 Desain

Engineering EERA CMPT Persentase

Sesuai 27 90%

Tidak Sesuai 3 10%

Tabel diatas menggambarkan bahwa desain engineering WHP X-100 telah memenuhi kesesuaian dengan standar CMPT sebesar 90%, namun masih terdapat ketidaksesuaian sebesar 10%. Sebagai upaya mencegah terjadinya korban akibat peristiwa kebakaran besar dan ledakan, adanya ketidaksesuaian dapat menjadi faktor pendorong terjadinya korban jiwa.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, desain engineering WHP X-100 masih perlu dilakukan perbaikan-perbaikan. Perbaikan desain harus dilakukan pada setiap deck sesuai dengan ketentuan CMPT mengenai escape route. Selain itu, perbaikan juga dilakukan pada Mezzanine deck sesuai dengan ketentuan CMPT mengenai Alternatif Muster Point dan sarananya.

4.2 Kelayakan EERA Desain Engineering dengan peristiwa kebakaran besar dari hasil studi FERA

Hasil analisis kelayakan EERA desain engineering WHP X-100 adalah seperti pada tabel berikut:

31 Tabel 4.3 Hasil Analisis Kelayakan EERA WHP X-100

Berdasarkan Studi FERA

Elemen

Kelayakan EERA WHP X-100 Lokasi Kebakaran Besar (Studi FERA) Main Deck Intermediate

Deck

Mezzanine Deck

Boat Landing Alarm dan

Komunikasi (Alarm &

Communication)

TERCAPAI TERCAPAI TERCAPAI TERCAPAI

Penyelamatan Diri (Escape)

TIDAK TERCAPAI

TIDAK TERCAPAI

TIDAK TERCAPAI

TIDAK DIANALISIS Evakuasi /

Pengungsian (Evacuation)

TIDAK DIANALISIS

TIDAK DIANALISIS

TIDAK

TERCAPAI TERCAPAI Penyelamatan

Korban (Rescue)

TIDAK DIANALISIS

TIDAK DIANALISIS

TIDAK

DIANALISIS TERCAPAI

Hasil analisis kelayakan EERA desain engineering WHP X-100 berdasarkan studi FERA pada tabel 4.3 menyatakan bahwa:

1. Analisis sistem alarm dan komunikasi (Alarm &

Communication) pada semua deck adalah “Tercapai”, hal ini dikarenakan:

a. Setiap pekerja membawa alat pendeteksi gas, sehingga kebocoran gas dapat terdeteksi secara dini. Selain itu, pekerja dilengkapi UHF handheld radio sebagai alat komunikasi antar pekerja.

b. Manual Call Point (MAC) yang berfungsi sebagai tombol ESD menginisiasi pneumatic fog horn yang dapat memberikan peringatan kepada pekerja diatas WHP X- 100 dan kapal kru. Selain itu, aktifnya tombol ESD akan

32 secara pararel mengirimkan komunikasi dalam bentuk data ke CPP X-100 serta mangaktifkan alarm di Control Room CPP X-100. Dengan kesisteman tersebut, maka ketidaktersediaan PAGA dapat diabaikan, serta mengingat bahwa jumlah maksimal orang yang diperbolehkan mengunjungi WHP X-100 hanya tiga orang.

Gambar 4.2 Schematic Diagram Alarm System c. Pada saat peristiwa kebakaran besar, khususnya di area

main deck, kinerja fog horn tidak akan terganggu oleh api maupun radiasi panas dikarenakan posisi fog horn berada di WHCP.

2. Analisis penyelamatan diri (escape) pada semua deck di WHP X-100 adalah “Tidak Tercapai”, terkecuali di boat landing, “Tidak Dianalisis”, dikarenakan tidak tersedianya proses hidrokarbon di boat landing.

Tidak tercapainya kelayakan design di semua deck (kecuali di boat landing) dikarenakan desain engineering WHP X-100 hanya memiliki satu sisi escape route saja. Pada saat terjadi peristiwa kebakaran besar, maka personil akan terjebak oleh api di salah satu deck. Zona dampak dari masing-masing skenario kebakaran besar seperti terlihat pada gambar 4.3, dan 4.4.

33 Gambar 4.3 Zona dampak termal Jet Fire dari Production

Line di main deck

Berdasarkan simulasi kebakaran dan ledakan studi FERA secara konsequensi dihasilkan bahwa titik sumber kebakaran yang memiliki risiko tinggi di Main Deck WHP X-100 adalah berasal dari kebocoran sebesar 5 mm di Production Line dengan karakteristik api jet (Jet Fire) sepanjang 7,15 meter.

Radius radiasi panas yang dihasilkan sebesar <4,7 kW/m2 adalah 8,45 meter, sedangkan radius radiasi panas yang dihasilkan sebesar 4,7 kW/m2 – 12,5 kW/m2 adalah 5,35 meter. Kejadian ini mengakibatkan terganggunya escape route di Main Deck menuju Muster Point.

34 Gambar 4.4 Zona dampak termal Pool Fire dari Diesel Daily Tank di

intermediate deck

Simulasi studi FERA di Intermediate Deck, risiko kebakaran bersumber dari kebocoran dan terbakarnya Diesel Daily Tank yang menimbulkan terjadinya kolam api (Pool Fire). Kolam api (Pool Fire) yang terbentuk kemungkinan berdiameter 1,35 meter dengan panjang api 3,78 meter. Radius radiasi panas yang dihasilkan sebesar <4,7 kW/m2 adalah 7,36 meter, sedangkan radius radiasi panas yang dihasilkan sebesar 4,7 kW/m2 – 12,5 kW/m2 adalah 5,18 meter dan radius radiasi panas yang dihasilkan sebesar 12,5 kW/m2 – 35 kW/m2 adalah 4,16 meter. Kejadian ini mengakibatkan ikut terbakarnya area Mezzanine Deck dikarenakan cairan berapi yang menyebar dan jatuh ke deck dibawahnya. Eskalasi dari kejadian ini menutup akses rute pelarian (escape route) menuju tempat berkumpul (Muster Point) yang letaknya boat landing

35 3. Analisis Evakuasi / Pengungsian (Evacuation) di main deck dan intermediate deck adalah “Tidak Dianalisis” dikarenakan sarana evakuasi sekunder hanya terdapat di mezzanine deck. Evakuasi di mezzanine deck adalah “Tidak Tercapai”

dikarenakan skenario kejadian kebakaran besar di mezzanine deck tidak dilakukan pada studi FERA. SDV 201 yang merupakan titik sumber kebakaran tidak teridentifikasi oleh Penulis studi FERA. Evakuasi di boat landing adalah

“Tercapai” dikarenakan tidak tersedianya proses hidrokarbon di boat landing.

4. Analisis penyelamatan korban (rescue) tidak dilakukan di main deck, intermediate deck, dan mezzanine deck dikarenakan tidak tersedia sarana penyelamatan. Analisis penyelamatan korban (rescue) adalah “Tercapai”

dikarenakan dikarenakan tidak tersedianya proses hidrokarbon di boat landing dan kapal kru selalu standby.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, desain engineering WHP X-100 masih perlu dilakukan perbaikan-perbaikan. Perbaikan desain harus dilakukan pada studi FERA, yaitu untuk melakukan penambahan escape route di sisi Timur WHP X-100 dan melakukan studi FERA (consequence analysis, consequence fire modeling dan frequence analysis) dengan skenario kegagalan SDV 201 di mezzanine deck.

4.3 Kesesuaian Waktu EERA Antara Desain Engineering WHP X-100 Dengan CMPT

Hasil analisis kesesuaian waktu EERA desain engineering WHP X-100 adalah seperti pada tabel berikut:

36 Tabel 4.4 Hasil Analisis Kesesuaian Waktu EERA Desain Engineering

WHP X-100

Elemen Waktu (menit)

Waktu Akumulasi

(menit)

Standar CMPT

Alarm 2 2 Berdasarkan CMPT

Waktu respon 2 4

Waktu yang diperlukan pekerja untuk meninggalkan tempat bekerja dengan aman dan menuju ke muster point Metode Evakuasi Utama – Menggunakan Kapal Kru di Boat Landing

Waktu menuju

Muster Point 2 6

Perhitungan waktu diwakili dari titik bekerja terjauh di WHP X-100.

Laju melintas berdasarkan CMPT adalah:

- 1 m/detik permukaan datar

- 0,8m/det di tangga miring (stairway) - 0,3m/det di tangga vertikal (ladder) Kalkulasi secara detail ada di lampiran

Roll Call 2 8

4 menit berdasarkan CMPT, namun diasumsikan menjadi 2 menit bahwa pekerja selalu memakai life jacket selama bnerada di WHP X-100 Waktu

pemulihan korban

3 11 1.5 X waktu menuju Muster Point, berdasarkan CMPT

Waktu keputusan evakuasi

- 11

Bersamaan dengan waktu untuk pemulihan korban dikarenakan jumlah pekerja sebanyak tiga orang

Waktu menaiki

kapal kru 1 12

Waktu yang dibutuhkan untuk naik ke kapal kru menggunakan swing rope diasumsikan 20 detik per orang berdasarkan pengalaman PT X di WHP lainnya.

37 Elemen Waktu

(menit)

Waktu Akumulasi

(menit)

Standar CMPT

Evakuasi Sekunder – Menggunakan Liferaft di Mezzanine Deck

Perhitungan dilanjutkan dari waktu respon

Waktu menuju

life raft station 1 5

Perhitungan waktu diwakili dari titik bekerja terjauh di WHP X-100.

Laju melintas berdasarkan CMPT adalah:

- 1 m/detik permukaan datar

- 0,8m/det di tangga miring (stairway) - 0,3m/det di tangga vertikal (ladder) Kalkulasi secara detai ada di lampiran.

Roll Call 2 7

4 menit berdasarkan CMPT, namun diasumsikan menjadi 2 menit bahwa pekerja selalu memakai life jacket selama bnerada di WHP X-100 Waktu

pemulihan korban

2 9 1.5 X waktu menuju Muster Point, berdasarkan CMPT

Waktu keputusan evakuasi

- 9

Bersamaan dengan waktu untuk pemulihan korban dikarenakan jumlah pekerja sebanyak tiga orang

Waktu

peluncuran life raft

2 11

Waktu yang dibutuhkan life raft untuk jatuh dan mengembang sendiri (self- inflate) berdasarkan SOLAS Chapter III

Persiapan dan turun ke laut menggunakan personal

descent device

2 13

Persiapan menggunakan personal descent device adalah 30 detik

berdasarkan pengalaman dari training PT X.

Ketinggian Mezzanine deck adalah 9.5 meter dari permukaan laut. Kecepatan descent device adalah 1.6m/det. Maka waktu yang dibutuhkan adalah 6 detik.

38 Elemen Waktu

(menit)

Waktu Akumulasi

(menit)

Standar CMPT Sehingga waktu yang dibutuhkan adalah 102 detik, dibulatkan menjadi 2 menit.

Waktu menaiki

liferaft 1 14 Waktu yang dibutuhkan untuk menaiki liferaft.

Waktu EERA WHP X-100 = 14 menit Waktu EERA CMPT = 30 Menit Hasil analisis kesesuaian waktu EERA desain engineering WHP X-100 pada tabel 4.4 maka didapatkan ringkasan kesesuaian pada tabel berikut:

Tabel 4.5 Ringkasan Kesesuaian Waktu EERA Desain engineering WHP X-100 dengan CMPT

Desain Engineering WHP X-100

CMPT Metode Evakuasi Waktu EERA

Evakuasi Utama (Kapal Kru) 12 Menit

30 Menit Evakuasi Sekunder (Liferaft) 14 Menit

Tabel diatas menyatakan bahwa waktu EERA di desain engineering WHP X-100 dengan waktu terlama adalah metode evakuasi sekunder (menggunakan liferaft), yaitu 14 menit.

Sedangkan rekomendasi waktu EERA di CMPT adalah 30 menit.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa waktu EERA di desain engineering WHP X-100 lebih cepat dari EERA CMPT.

39 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Analisis Kesesuaian Antara Desain Engineering Anjungan Migas Lepas Pantai WHP X-100 Di PT X Dengan EERA Standar CMPT, Tahun 2018 adalah sebagai berikut:

1) Tingkat pemenuhan kesesuaian desain Engineering WHP X- 100 dengan EERA standar CMPT, yaitu sebanyak 90%

memenuhi kesesuaian dan 10% tidak memenuhi kesesuaian.

2) Pencapaian kelayakan EERA desain engineering WHP X- 100 dengan peristiwa kebakaran besar dari hasil studi FERA masih tidak layak untuk disetujui dikarenakan beberapa elemen yang masih tidak tercapai, antara lain:

(1) Penyelamatan diri (escape) di main deck, intermediate deck dan mezzanine deck tidak tercapai.

(2) Evakuasi / Pengungsian (Evacuation) di mezzanine deck tidak tercapai.

3) Waktu EERA terlama dari desain engineering WHP X-100 adalah 14 menit. Waktu EERA ini masih dibawah batas waktu yang direkomendasi kan EERA CMPT, yaitu 30 menit.

40 5.2 Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan diatas, maka saran dari penelitian ini antara lain:

1) Meningkatkan hasil kesesuaian desain engineering WHP X- 100 dengan EERA standar CMPT hingga memperoleh kesesuaian yang MUTLAK, yaitu dengan melakukan penambahan escape route di sisi Timur WHP X-100 dan memastikan lokasi alternatif muster point dan sarananya di area yang terbebas dari kebakaran, radiasi panas dan penyebaran gas.

2) Meningkatkan hasil pencapaian kelayakan EERA desain engineering WHP X-100 dengan melakukan penambahan escape route di sisi Timur WHP X-100 dan melakukan studi FERA (consequence analysis, consequence fire modeling dan frequence analysis) dengan skenario kegagalan SDV 201 di mezzanine deck.

3) Melakukan perhitungan kesesuaian waktu EERA desain engineering WHP X-100 dengan CMPT berdasarkan hasil perbaikan-perbaikan pada desain engineering WHP X-100.

41

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 22 Tahun 2001; tentang Minyak dan Gas Bumi.

2. BBC News UK – Scotland, 6 Juli 2018; Minute's silence for Piper Alpha's 167 victims (Online). https://www.bbc.com/news/uk-scotland- north-east-orkney-shetland-44725320. (diakses 18 Juli 2018).

3. John R Spouge (1999); Quantitative Risk Assessment for Offshore Installation; Center for Marine and Petroleum Technology (CMPT).

4. Abdul L, et al (2018); Basis of Design for WHP X-100. Jakarta, Indonesia

5. Sutari (2018); Equipment Location Plan Elevation Looking North for WHP X-100, Jakarta, Indonesia

6. Sutari (2018); Equipment Location Plan Elevation Looking Earth for WHP X-100, Jakarta, Indonesia

7. Budi S, et al (2018); Fire and Explosion Risk Analysis for WHP X-100.

Jakarta, Indonesia.

8. ABET (2018); Definisi design engineering (Online). Accreditation Board for Engineering and Technology. www.me.unlv.edu. (diakses 18 Juli 2018).

9. BTBRD – BPPT (2017); Rekayasa Desain, dari Feasibility Study Hingga Pengoperasian (Online). Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, Indonesia http://btbrd.bppt.go.id/index.php/28-articles/193- rekayasa-disain-dari-feasibility-study-hingga-pengoperasian, (diakses 20 Juli 2018).

42 10. The Project Definition (2016); Engineering, (Online).

http://www.theprojectdefinition.com/p-engineering/ (diakses 20 Juli 2018)

11. Fatmasari (2012); Perkembangan Ilmu Teknik Sipil. Surabaya, Indonesia

12. Risknology Consultant (2017); Safety Assessment: FERA (Fire &

Explosion Risk Analysis). Quiet Lake Drive, Katy, Texas – US.

(diakses 18 Juli 2018).

13. Soehatman Ramli (2010), Petunjuk Praktis Manajemen Kebakaran (Fire Management) Seri Manajemen K3 04, Jakarta – Indonesia, Dian Rakyat.

14. Edwards Fire and Security Company (2010); A guide to the language of modern building system design, 985 Town Center Parkway, Bradenton, Florida. https://www.comsysgroup.com/wp- content/uploads/85001-0542-Glossary-of-Fire-Alarm-and-MNEC- Terminology. (diakses 29 Juli 2018)

15. UK HSE (1992); A Guide to the Offshore Installations (Safety Case) Regulations, 1992a, Health & Safety Executive, HMSO, London

16. NPD (1990); Regulations Concerning Implementation and Use of Risk Analyses in the Petroleum Activities, Norwegian Petroleum Directorate.

17. ASME 33rd (2014); Offshore and Arctic Engineering. American Sociaty of Mechanical Engineers. USA.

18. Suharsimi Arikunto (2013); Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta – Indonesia, Rineka Cipta.

19. Johnny Saldafia, 2009; The Coding Manual For Qualitative Researchers.

20. Charlie M (2018); Safety Design Philosophy for WHP X-100, Jakarta, Indonesia

Dokumen terkait