• Tidak ada hasil yang ditemukan

LK 1.1. Eksplorasi Konsep Analisis Reflektif Kritis Perjalanan Pendidikan Indonesia

N/A
N/A
Peserta PPG 01484

Academic year: 2025

Membagikan "LK 1.1. Eksplorasi Konsep Analisis Reflektif Kritis Perjalanan Pendidikan Indonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Lembar Kerja 1.1. Analisis Refleksi Kritis Perjalanan Pendidikan Nasional Indonesia

Nama : Rustam NIM : 241225019

Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Sejarah Pendidikan Nasional

Perjalanan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjuangan para tokoh nasional.

Salah satunya yang paling terkenal dengan pemikirannya adalah Ki Hajar Dewantara (KHD). Berangkat dari pengalaman pribadi dan kepekaan beliau terhadap sistem pendidikan di tanah air yang masih mengadopsi sistem pendidikan Hindia Belanda pada saat itu, beliau hadir dengan mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa pada 03 Juli 1922 di Yogyakarta untuk menciptakan pendidikan yang humanis dan berdasarkan kepribadian bangsa. Perguruan ini mengutamakan peran guru sebagai pamong untuk menjalankan semboyan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani”.

Sampai saat ini semboyan tersebut masih digaungkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Dari pidato KHD pada penganugerahan Honoris Causa oleh Universitas Gajah Mada pada 7 November 1956, ada tiga hal yang mendasari filosofi atau pemikiran KHD, yaitu (1) Pendidikan, (2) Kebudayaan dan (3) Perubahan. Tiga hal ini merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan untuk menciptakan peradaban bangsa yang dicita-citakan. Pendidikan bagi KHD merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ini merefleksikan bahwa kita harus menyadari terlebih dahulu bahwa menjadi guru itu bukan hanya tentang datang ke sekolah, mengajar materi dan memberikan anak nilai sebagai standar kelulusan materi ujian, tetapi harus memandang pendidikan itu sebuah wadah, ruang berlatih atau tempat bertumbuh kembangnya nilai-nilai-nilai kemanusiaan yang menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, guru harus mampu “menuntun” segala kodrat atau bakat unik yang dimiliki siswanya agar dapat memperbaiki perilakunya dan mengembangkan bakatnya. Dasar filosofi KHD yang kedua adalah tentang kebudayaan yang menurut beliau merupakan buah budi manusia yang sudah hidup dan berkembang dalam suatu bangsa serta menjadi identitasnya (kepribadian bangsa). Untuk itu, identitas ini harus tetap dijaga dan dilestarikan agar suatu bangsa tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur masyarakatnya walaupun berada di tengah kebudayaan global yang terus berkembang. Di sinilah penting hadirnya seorang guru bukan hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu guru adalah sumber teladan nilai-nilai positif bagi siswanya. Jika nilai-nilai yang ditransfer guru adalah nilai positif maka yang diterima siswanya pun positif. Bahkan dengan bakatnya, mereka dapat mengubah nilai-nilai positif yang diterima menjadi lebih luas dan bermanfaat. Dasar filosofi KHD yang ketiga yaitu tentang perubahan. Beliau memandang bahwa perubahan merupakan hal yang kekal atau sudah pasti akan terjadi pada kehidupan manusia.

Untuk menghadapi perubahan itu, maka pendidikan harus relevan dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang mengiringi kehidupan anak-anak. Di sinilah pentingnya seorang guru untuk melakukan refleksi kritis terhadap latar belakang kehidupan siswanya (dimana dia tinggal dan bagaimana lingkungan membentuk hidupnya). Guru pun bertanggungjawab membentuk siswanya menjadi pribadi yang siap dan tangguh menjawab tantangan zamannya. Untuk menghadapai perubahan, KHD mengemukakan tiga asas trikon, yaitu kontinuitas (keberlanjutan), konvergensi (kesatuan), dan konsentris (keesensian).

Refleksi ini menyimpulkan bahwa KHD telah membangun koneksi antara pendidikan, kebudayaan dan perubahan. Pendidikan sebagai sarana untuk menguatkan nilai-nilai budaya, kebudayaan dijadikan sebagai landasan utama (sumber nilai) untuk menjalankan pendidikan,

(2)

sedangkan perubahan merupakan tempat dan objek refleksi nilai-nilai budaya untuk menjawab tuntutan zaman yang sedang dihadapi, cara yang paling efektif yaitu melalui pendidikan.

Bagaimana Relevansi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan Perkembangan Kurikulum di Indonesia?

Yang menjadi dasar utama bangkitnya jiwa merdeka KHD adalah menginginkan perubahan, salah satunya adalah perubahan pada sistem pendidikan tanah air yang dapat memerdekakan bangsanya. Menurut saya, kurikulum Indonesia yang terus mengalami perubahan sejak tahun 1947 merupakan bentuk perjuangan bangsa untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman. Saat ini, tantangan yang dihadapi guru dan dunia pendidikan adalah bagaimana menjawab revolusi industri 4.0 sebagai akibat dari percepatan era globalisasi. Gerakan perubahan yang digaungkan KHD juga diadopsi sebagai dasar pemikiran kurikulum yang saat ini kita kenal sebagai “Kurikulum Merdeka”. Konsep

"Merdeka Belajar" bertujuan untuk memperbaharui sistem pendidikan Indonesia agar lebih responsif terhadap perubahan zaman dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global.

Kurikulum merdeka telah mengutamakan pendidikan holistik agar anak mencapai kesempurnaan belajarnya. Bagi KHD pendidikan holistik merupakan pendidikan tentang budi pekerti. Budi menurut bahasa KHD ada tiga komponen yaitu “Cipta, Rasa, dan Karsa”. Cipta itu artinya pikiran rasa itu adalah perasaan dan karsa adalah kemauan. Sedangkan pekerti itu adalah tenaga. Sehingga dalam filosofi KHD komponen-komponen tersebut harus seimbang dalam terjadinya perubahan. Ada olah cipta yaitu untuk menajamkan pikiran, olah rasa yaitu untuk menghaluskan perasaan, olah karsa yaitu memperkuat kemauan dan olah raga yaitu untuk menyehatkan jasmani. Sehingga pendidikan itu harus holistik atau harus seimbang (tidak bisa timpang). Jika pendidikan ini bisa kita lakukan dengan seimbang menurut KHD ini akan terjadi kesempurnaan budi pekerti yang membawa kita pada kebijaksanaan. Dengan kata lain jika kita melakukan pendidikan yang seimbang sesuai dengan tumbuh kembang anak, maka akan menghadirkan banyak insan yang penuh kebijaksanaan. Sebaliknya jika kita melakukan pendidikan dengan timpang maka kita akan menciptakan masyarakat yang langka bahkan mungkin hampa dengan kebijaksanaan. Dan pada akhirnya semua disiplin ilmu harus menuju kepada sumbu yang sama yaitu menciptakan kebijaksanaan.

Referensi

Dokumen terkait