LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH ACARA II
EKSTRAKSI DAN PENGERINGAN BENIH
Disusun Oleh:
WIGAR ZADA SYANDANA 2204020042
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2024
Kamis, 25 April 2024 ACARA II
EKSTRAKSI DAN PENGERINGAN BENIH
A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui cara pengeringan
2. Untuk mengetahui cara ektraksi dengan kimia 3. Untuk mengetahui cara ekstraksi dengan fermentasi 4. Untuk mengetahui cara ekstraksi kering
B. LANDASAN TEORI
Benih merupakan awal dari suatu kehidupan tanaman. Dalam suatu sistem budidaya benih memegang peranan yang sangat penting. Benih bermutu merupakan faktor utama suksesnya produksi dibidang pertanian. Sarana produksi lain seperti pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, dan cara budidaya yang baik tidak akan meberikan hasil yang baik apabila benih yang digunakan tidak bermutu karena pada akhirnya benih tersebut tidak dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan budidayanya (Suharti, 2004).
Ekstraksi benih merupakan proses memisahkan benih dari anggota reproduksi yang lain. Metoda ekstraksi benih dari buah ditentukan oleh karakteristik dari masing-masing buah. Proses ekstraksi dapat berupa kegiatankegiatan pelunakan daging buah dan pelepasan daging buah, pengeringan, pemisahan, penggoncangan, perontokan, pembuangan sayap, dan pembersihan. Tujuan dari ekstraksi benih adalah menghasilkan benih yang mempunyai viabilitas maksimum (Willan, 1985).
Ekstraksi benih merupakan suatu tindakan untuk memisahkan biji calon benih dari buah sehingga diperoleh benih dalam keadaan yang bersih. Teknik ekstraksi pada benih tomat dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan air, larutan asam (HCl), dan larutan basa (larutan kapur) (Saisawat dalam Gunarta, et.al., 2014). Penggunaan HCl pada ekstraksi benih jeruk dilaporkan memberikan hasil terbaik, karena asam yang digunakan
selain membersihkan lendir yang menempel pada benih juga meningkatkan permeabilitas kulit benih (Sadjad, 1980).
Mutu benih terdiri dari mutu fisik, mutu genetik, dan mutu fisiologi. Benih bermutu fisik tinggi menunjukkan keseragaman dalam bentuk, ukuran, warna, dan berat per jumlah atau volume. Salah satu indikator benih bermutu adalah memiliki viabilitas dan vigor yang baik. Benih yang memiliki viabilitas baik akan tumbuh menjadi tanaman normal Benih yang memiliki vigor baik akan mampu bertahan dan berkecambah serta menghasilkan tanaman yang tumbuh baik dilapangan yang beragam dan luas (Sadjad, 2009)
Kurang tersedianya benih bermutu di negara berkembang, antara lain disebabkan oleh kekurangan atau kelemahan dalam: (1) penyediaan varietas unggul, (2) teknologi produksi benih, (3) penanganan benih pasca panen, dan (4) pemasaran benih. Estraksi benih memegang peranan penting dalam proses penanganan pasca panen benih (Ilyas, 2009).
proses ekstraksi benih dan kondisi penyimapanan berpengaruh langsung terhadap viabilitas benih dan pertumbuhan tanamannya. Cara ekstraksi benih merupakan salah satu faktor induced yang mempengaruhi status vigor benih.
Ekstraksi benih merupakan suatu tindakan untuk memisahkan biji calon benih dari buah sehingga diperoleh benih dalam keadaan yang bersih. Teknik ekstraksi pada benih tomat dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan air, larutan asam (HCl), dan larutan basa (larutan kapur). Pada umumnya benih setelah diproses, tidak selalu langsung digunakan, ada yang disimpan selama jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, penanganan benih harus dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu agar diperoleh benih yang berkualitas baik dan tahan lama. Dengan demikian, pada saat digunakan, kondisi benih masih memadai sebagai alat perkembangbiakkan, yakni memiliki prosentase viabilitas, kevigoran, kemurnian dan kesehatan yang baik (Saisawat, 1998).
Salah satu kegiatan dalam proses ekstraksi benih adalah fermentasi.
Dimana benih yang telah dipisahkan dari daging buahnya, dimasukkan ke dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit air, wadah ditutup dan disimpan selama beberapa hari. Selama fermentasi pulp perlu diaduk
guna memisahkan benih dari massa pulp dan mencegah timbulnya cendawan.
Setelah benih difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat hilang, yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin. Namun terkadang masih saja ada pulp yang masih melekat pada benih sehingga perlu pembersihan lebih lanjut,( Karavina et al. 2009).
Fermentasi saja dirasa tidak cukup untuk membersihkan benih dari sisa- sisa pulp yang masih menempel pada benih. Oleh karena itu perlu perlakuan tambahan agar benih benar-benar bersih. Natrium Hipoklorit (NaOCl) merupakan zat yang biasa digunakan untuk membersihkan noda atau kotoran yang membandel pada pakaian dan dapat membunuh bakteri. Natrium Hipoklorit sangat mudah dijumpai dipasaran dan merupakan bahan aktif dari Bayclin. Sebagaimana diketahui bayclin merupakan cairan pemutih yang bersifat desinfectan. Pada kegiatan ini bayclin akan digunakan untuk mencuci benih tomat setelah proses fermentasi selesai guna memperbaiki penampilan benih agar terlihat bersih dan sekaligus menghilangkan cendawan dan bakteri yang mungkin masih menempel pada benih. Hilangnya kotoran pada benih akan mengurangi kemungkinan kerusakan akibat bakteri dan cendawan selama masa penyimpanan benih. Apabila Bayclin efektif dalam meningkatkan kualitas fisik benih maka perlu dilihat juga apakah ada pengaruhnya terhadap viabilitas benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pengaturan lama fermentasi dan penggunaan NaOCl saat mencuci benih tomat terhadap peningkatan mutu fisik benih tanpa mempengaruhi viabilitas benihnya (Gungun, 2011).
C. ALAT DAN BAHAN 1. Ekstraksi Kering
a. Alat
- Timbangan digital - Cutter
- Saringan - Cawan petri - Alat tulis
- Kamera Handphone b. Bahan
- Biji Melon - Biji Cabai 2. Fermentasi
a. Alat
- Timbangan digital - Cutter
- Plastik - Saringan - Alat tulis
- Kamera handphone
b. Bahan
- Air 100 ml - Biji Melon - Biji Cabai
3. Ektraksi Basah Kimia a. Alat
- Alat tulis - Cutter - Saringan - Petridish
- Timbangan digital - Kamera handphone
b. Bahan
- Biji Melon - Biji Cabai - Aquades - HCL 5%
D. CARA KERJA a. Ekstraksi Kering
1. Ekstraksi kering pada biji melon :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2) Membelah buah melon menggunakan pisau, kemudian mengambil biji melon sebanyak 10 biji.
3) Mencuci biji melon diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4) Meletakkan biji melon tersebut pada cawan petri, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
5) Mengeringkan biji melon setelah 7 hari.
6) Setelah 7 hari kemudian, biji melon tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji melon tersebut.
7) Menghitung persen kadar air yang berada pada biji melon tersebut.
2. Ekstraksi Kering pada biji cabai :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2) Membelah buah cabai menggunakan pisau, kemudian mengambil biji cabai sebanyak 10 biji.
3) Mencuci biji cabai diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4) Meletakkan biji cabai tersebut pada cawan petri, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
5) Mengeringkan biji cabai setelah 7 hari.
6) Setelah 7 hari kemudian, biji cabai tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji cabai tersebut.
7) Menghitung persen kadar air yang berada pada biji cabai tersebut.
b. Ektraksi Basah Kimia
1. Ekstraksi Basah Kimia pada biji melon :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2) Membelah buah melon menggunakan pisau, kemudian mengambil biji melon sebanyak 10 biji.
3) Mencuci biji melon diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4) Meletakkan biji melon tersebut pada cawan petri, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
5) Merendam biji melon yang berada di cawan petri dengan menggunakan larutan HCl 5% selama 30 menit.
6) Mengeringkan biji melon tersebut, selama 3 hari.
7) Setelah 3 hari kemudian, biji melon tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji melon tersebut.
8) Menghitung persen kadar air yang berada pada biji melon tersebut 2. Ektraksi Basah Kimia pada biji cabai :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2) Membelah buah cabai menggunakan pisau, kemudian mengambil biji cabai sebanyak 10 biji.
3) Mencuci biji cabai diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4) Meletakkan biji cabai tersebut pada cawan petri, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
5) Merendam biji cabai yang berada di cawan petri dengan menggunakan larutan HCl 5% selama 30 menit.
6) Mengeringkan biji cabai setelah 3 hari.
7) Setelah 3 hari kemudian, biji cabai tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji cabai tersebut.
8) Menghitung persen kadar air yang berada pada biji cabai tersebut.
c. Fermentasi
1. Fermentasi pada biji melon :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2) Membelah buah melon menggunakan pisau, kemudian mengambil biji melon sebanyak 10 biji.
3) Mencuci biji melon diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4) Memasukan biji kedalam kantong plastik
5) Memasukan aquades sebanyak 100 ml kedalam kantong plastik..
6) Memfermentasikan biji melon setelah 7 hari.
7) Mengeringkan biji melon selama 3 hari.
8) Setelah 3hari kemudian, biji melon tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji melon tersebut.
9) Menghitung persen kadar air yang berada pada biji cabai tersebut.
2. Fermentasi pada biji cabai :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2. Membelah buah cabai menggunakan pisau, kemudian mengambil biji cabai sebanyak 10 biji.
3. Mencuci biji cabai diatas saringan, kemudian ditiriskan.
4. Meletakkan biji cabai tersebut pada cawan petri, kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.
5. Menfermentasikan biji cabai selama 7 hari.
6. Mengeringkan biji cabai setelah 3 hari.
7. Setelah 7 hari kemudian, biji cabai tersebut ditimbang kembali dengan menggunakan timbangan analitik, untuk mengetahui berat kering pada biji cabai tersebut.
8. Menghitung persen kadar air yang berada pada biji cabai tersebut.
E. HASIL PENGAMATAN
Ulanga n
Pengamatan Ekstraksi basah Ekstraks i kering
KA%
Kimia Fermentas i
cabai Bibit basah 0,1 0,1 0,1 Kimia = 66%
Fermentasi=
11%
EK= 50%
Bobot kering 0,06 0,09 0,02
melon Bobot basah 0,4 0,4 0,3 Kimia= 33%
Fermentasi=
50%
EK = 50%
Bobot kering 0,3 0,3 0,2
F. PEMBAHASAN
Ekstraksi benih merupakan suatu tindakan untuk memisahkan biji calon benih dari buah sehingga diperoleh benih dalam keadaan yang bersih (Stubsgoard dan Moestrup dalam Gunarta, et. al., 2014). Pada praktikum yang dilakukan, ekstraksi biji melon dan cabai dilakukan dengan dengan membelah melon dan cabai terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar mudah dalam memisahkan biji dengan bagian buah yang lainya seperti daging buah dan kulit buah.
Ada dua metode yang dapat dilakukan dalam melakukan ekstraksi, yaitu metode kering dan metode basah. Metode kering berarti mengeringkan biji agar cairan yang menempel hilang. Pengeringan dilakukan setelah biji yang dipisahkan dari bagian buah lainya dan dicuci bersih. Biji diletakan pada cawan petri dan ditimbang menggunakan timbangan analitik yang kemudian
dii diamkan pada suhu ruang hingga 7 hari. Setelah 7 hari, biji ditimbang kembali dan dihitung persentasinya. Menggunakan timbangan analitik karena alat ini memiliki ketelitian yang tinggi sehingga hasil yang didapatkan lebiih akurat.
Metode lain yang dapat digunakan untuk ekstraksi yaitu metode basah.
Metode basah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara kimua dan fermentasi. Ekstraksi kimiia berarti menggunakan bantuan bahan kimia.
Bahan kimia yang digunakan yaitu HCL 5%. Ekstraksi dengan HCl dapat menghasilkan biji yang lebih bersih dan bebas dari kontaminan. Perendaman biji dalam HCl (khususnya 5% HCl) dapat menginaktivasi penyakit yang mungkin ada pada biji. Sebelum direndam,, benih dibersihkan dengan dicuci dan kemudian ditimbang dengan timbangan analitik. Biji direndam pada cairan HCL 5% selama 30 menit, hal ini bertujuan agar cairan HCL berkontraksi dengan benih. Setelah direndam biji ditiriskan dan kemudian dikeringkan selama 3 hari pada suhu ruang.
Metode selanjutnya yaitu dengan fermentasi. Ferentasi biji pada ekstraksi bertujuan untuk menghilangkan zat penghambat perkecambahan, dan menghilangkan organisme penyakit. Sebelum biji difermentasi, dipastikan biji telah bersih dari bagian buah yang lain. Fermentasi dilakukan pada kantong plastik atau tempat yang kedap udara dengan menambahkan 100 ml aquades dan didiamkan selama 7 hari. Setelah 7 hari difermentasi, biji dikerigkan pada suhu ruang agar biji dapat disimpan dalam waktu yang panjang dan tidak mudah busuk.
Setelah ssemua tahap estraksi selesai, ada taham yang penting yaitu pengeringan. Tujuan pengeringan pada benih adalah mengurangi kadar air benih sehingga benih aman untuk diproses lebih lanjut, terhindar dari kerusakan, dan tidak berkecambah. Kadar air benih mempengaruhi viabilitas benih1. Dengan pengeringan, bahan menjadi lebih tahan lama disimpan, volume bahan lebih kecil, mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan, serta mengurangi biaya produksi.
Pada biji cabai, ekstraksi menggunakan kimia dapat menghilangakan 60%
kadar air, demham fermentasi 11% dan pada ekstraksi kering 50%. Pada biji
melon, ekstraksi dengan fermentasi dan ekstraksi kering dapat menghilangkan 50% kadar air dan kimia 33%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada cabai ekstraksi yang paling baik dengan metode kimia, dan pada melon ekstraksi yang paling baik adalah fermentasi dan ekstraksi kering. Keefektifan ekstraksi dalam mengurangi kadar air tergantung dengan jenis biji
G. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkam:
1. Ekstraksi adalah perlakuan yang diberikan kepada biji untuk memisahkan biji dengan bagian buah yabf kain
2. Ekstraksi terbagi menjadi ekstraksi kering, kimia dan fermentasi
3. Tujuan pengeringan pada benih adalah mengurangi kadar air benih sehingga benih aman untuk diproses lebih lanjut, terhindar dari kerusakan, dan tidak berkecambah.
4. Pada cabai ekstraksi yang paling baik dengan metode kimia, dan pada melon ekstraksi yang paling baik adalah fermentasi dan ekstraksi kering 5. Keefektifan ekstraksi dalam mengurangi kadar air tergantung dengan jenis
biji
DAFTAR PUSTAKA
Gungun Wiguna. 2011. Perbaikan Viabilitas Dan Kualitas Fisik Benih Tomat Melalui Pengaturan Lama Fermentasi Dan Penggunaan Naocl Pada Saat Pencucian Benih. Jurnal Ilmu-ilmu pertanian. VOL.2. NO.2. 2013. 68-76 Ilyas. S. 2009. Teknologi Produksi Benih Sayuran. Materi mata kuliah tanaman
sayuran, mayor agronomi dan hortikultura. IPB. Semester genap 2008/2009
Karavina, C., Chihiya, J., Tigere, T. A. and Musango, R. 2009. Assessing the Effects of Fermentation Time on Tomato (Lycopersicon lycopersicum Mill) Seed Viability. Journal of Sustainable Development in Africa. Vol.
10, No.4, p: 106-112.
Suharti, T., Bramasto, Y. Dan Yuniarti, N. 2014. Pengaruh Teknik Pengendalian Penyakit Benih Terhadap Viabilitas Benih Tembesu (Fagraea Fagrans Roxb). Jurnal Hutan Tropis Volume 2, No. 1, Hal: 60-64.
Sadjad, S. 1980. Teknologi Benih dalam Masalah Vigor. Bogor : Departemen Agronomi Faperta, IPB. 125 hal.
Sadjad, S. 2009. Dari Benih Kepada Benih. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jakarta.144 hal.
Saisawat dalam Gunarta, et.al., 2014. Uji Efektivitas Beberapa Teknik Ekstraksi dan Dry Heat Treatment terhadap Viabilitas Benih Tomat (Lycopersicum esculentum Mill). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika : Vol. 3, No. 3, Juli 2014.
Willan, R.L. 1985. A Guide to Forest Seed Handling. FAO. ForestryPaper20/2.
Rome.