BALIPOST.com > Artikel > Empat Danau di Bali Harus Diselamatkan
Wisatawan memadati salah satu kawasan danau di Bali, Danau Beratan. Keempat danau di Bali memerlukan langkah penyelamatan. (BP/dok.)
Empat Danau di Bali Harus Diselamatkan
Tanggal: 28 September 2016 Jam:10:24 am • Artikel, Bali, Lingkungan, Opini, Pertanian
Oleh Dr. Ni Luh Ketut Kartini
Danau salah satu sumber daya alam (SDA) sangat penting keberadaannya sebagai pensuple air bagi wilayah dimana danau itu berada. Pulau Bali mungil memiliki empat danau yaitu Batur (Bangli), Beratan (Tabanan), Bulian –sering disebut Buyan (Buleleng) dan Tamblingan (Buleleng).
Nama danau Bulian sesuai dengan keempat danau ini ada di dataran tinggi, dengan ketinggian hampir sama karena itu bisa mengairi keseluruh Bali seperti tandon air mengalir ke segala arah dengan pipa-pipanya. Uniknya keempat danau ini merupakan cekungan kaldera hasil dari letusan gunung purba.
Kedudukan cekungan danau Batur, Beratan, Bulian, Tamblingan sangat khas karena bentang alamnya tertutup (terkungkung) dalam ilmu hidrologi disebut cekungan terkungkung. Cekaman terkungkung artinya tidak ada aliran sungai yang keluar dan masuk danau. Air keluar dari danau melalui penguapan dan rembesan air tanah ke wilayah sekelilingnya.
Rembesan itu dapat dilihat adanya mata air di hulu sungai, rembesan itu ke segala arah. Yang perlu mendapat pemahaman adalah perhitungan volume air yang ada di danau tidak bisa dengan hitungan mate-matis karena rembesan dan penguapan serta gerakan air sangat dinamis. Dari keempat danau ini Danau Batur yang paling luas tetapi kalau dilihat dari
kedalamannya Danau Bulian yang paling dalam (62,8 m) yang paling dangkal adalah Beratan (20,8 m).
Begitu lekatnya air dalam praktek sosial pemeluk religi Hindu Bali, sehingga Hindu Bali sering dituturkan sebagai Agama Tirtha. Sumber dan badan air disucikan, dan ini ditandai dengan didirikannya pura atau pelinggih, termasuk untuk setiap mata air maupun titik masuknya air dalam satu system subak. Bila air merupakan denyut kehidupan, maka keempat danau kaldera di Bali adalah jantung kehidupan alam Bali dan manusianya, yang masing-masing dijaga kesuciannya.
Sikap manusia terhadap sumber daya alam, khususnya air mengalami transformasi sejalan dengan sikap dan falsafah manusia dan dimana mereka hidup. Filsafatwan Plato, 2.500 tahun lalu telah membangun pikiran “Kosmosentrisme” yang menganggap bahwa manusia dengan akal pikirannya adalah pusat dari segala-galanya, abad selanjutnya ditegaskan oleh muridnya Aristoteles dengan Antroposentris dimana berpandangan manusia adalah bagian dari alam semesta tatanan kehidupan.
Sepuluh abad kemudian berkembang “teosentris” menempatkan Tuhan sebagai titik sentral. Hal ini diboncengi oleh paham kerajaan, raja diposisikan sebagai jelmaan Tuhan. Muncul paham
“humanisme-sekularisme mengasimilasikan posisi manusia dan alam dalam satu kesatuan yang utuh dan seimbang. Hal ini yang menyebabkan terjadi sintesa sinergi dengan kearifan lokal yang memandang manusia bagian integral dari alam bukan sebagai penguasa alam.
Pengelolaan air memerlukan landasan pikir tidak saja dengan pendekatan teknokratis saja tetapi juga menyangkut pengendalian prilaku manusia terhadap alam tempatnya hidup. Pertanyaannya apakah kita menganggap alam itu mesti dselaluan harus melayani seluruh kebutuhan manusia, ataukah manusia lebih arif mendudukan alam dengan posisi yang setara dengan manusia (saling membutuhkan).
Baca juga:
Danau Batur Tercemar Limbah Domestik
Organisasi Subak yang mengatur kebijakan dan tata kelola air dari hulu sampai hilir (danau sampai air mengairi sawah sawah). Perjalanan air ibarat badan seekor naga ekornya ada di gunung (danau), badannya adalah badan sungai besar, kakinya adalah anak- anak sungai yang berliku-liku, bulunya adalah bulakan/ mata air dan kepalanya adalah muaranya sungai sampai di laut.
Perjalanan air dari gunung ke laut (nyegara gunung). “Leluhur” Bali membagi daerah Bali menjadi 3 bagian yaitu hulu, tengah dan hilir (hulu-tengah=teben ) , untuk penyelamatan hulu sampai hilir, secara niskala ada “Sad Kerthi artinya enam (6) sumber kesejahteraan yang harus dilestarikan. Hulu itu suci identik dengan Pura (Atma Kerthi yaitu pelestarian kesucian pura dan
sekitarnya). Hulu identik dengn gunung daerah resapan air, hutan (Wana Kerthi) yaitu menyucikan hutan (hutan =pura) dan melestarikan hutan.
Hulu identik dengan Danau (danu Kerthi yaitu menyucikan Danau (danu= pura) dan melestarikan danau. Tengah identik dengan kehidupan manusia (Jana Kerthi adalah rangkaian upacara dan upakara dalam kehidupan ini dan swadarmanya sebagai manusia) dimana di bagian tengah dikelola dengan baik untuk menunjang kehidupan. Hilir adalah laut (segara Kerthi adalah menjaga kesucian laut dan melestarikan agar tetap bisa sebagai sumber pangan). Menjaga kesucian Bali keseluruhan dan melestarikan alam dan budayanya (Jagat Kerthi).
Secara logika paling dekat dengan kehidupan pertanian adalah tanah dan air. Tanpa tanah dan air tidak bisa bertani dan tidak bisa hidup. Bagaimana Leluhur Bali mengelola air? Hutan disucikan dan dijaga kelestariannya, danau sebagai sumber air disucikan identik dengan pura, siapapun tidak boleh mengganggu, sawah disucikan padi identik denga dewi sri, dibuatlah sawah yang berterasering dari atas sampai bawah (tepi sungai) yang terlihat sangat indah, ternyata di balik keindahan itu ada tujuan untuk meningkatkan daya simpan air di dalam tanah.
Dengan sistem pengairan tujuannya adalah untuk menciptakan reservoar air (menahan air agar meresap ke dalam tanah dan tidak langsung hilang ke sungai). Tepi sungai dianggap angker karena dikatakan sebagai rumah tonye, memedi, gamang dll, yang tidak boleh dibangun
ditanami secara tumpang sari seperti pohon enau (jaka), beringin, kepuh, bambu dll. Hal ini yang menyebabkan sepanjang sungai ada mata air .
Begitu ada mata air disucikan dibuatkan pelinggih ditanami pohon beringin, dipasangi kain poleng. Kesenian diciptakan juga dikaitkan dengan pertanian Pengelingsir kita telah memberikan titipan yang luar biasa kepada generasi penerusnya berupa” Deresta, sastra, dan Bhisama serta pemastu bagi sipelanggarnya.
Kita sangat bersyukur jadi penerima titipan dan yang menikmati buah dari karya Pengelingsir berupa budaya dan alam yang sangat indah sehingga Pulau Bali menjadi sangat terkenal di dunia, sebagai tujuan Pariwisata.
Baca juga:
Balai Kelompok Rusak, Nelayan Tamblingan Meradang
Hal ini menyebabkan satu demi satu kesuksesan diraih dalam bidang pariwisata sehingga mendorong peningkatan sarana-prasarana agar mendapat keuntungan berlipat-lipat. Apa yang terjadi di balik itu? Tanpa disadari Pulau Bali kecil ini ibarat kelapa terus diperas santannya sehingga yang tersisa adalah ampasnya. Krama Bali harus menyadari bahwa Pulau Bali adalah
pulau kecil yang harus dikelola dalam satu kesatuan ekosistem yang selalu berpegang pada aturan-aturan yang kita warisi.
Saat ini, beberapa lembaga swadaya masyarakat di Bali sangat prihatin dengan keberadaan sumber daya alam yaitu tanah dan air. Penyelamatan sumber daya alam dilakukan dengan melaksanakan Deklarasi Desa Kerta menjadi Desa Organik tahun 1999 oleh kepala Desa Kerta, Deklarasi gerakan moral pertanian Bali menuju pertanian organik pada tahun 2003 di Pura Jati Desa Batur, Bangli dilakukan oleh Departemen Pertanian RI dan Pemda Bali, yayasan Bali Organic Associatin (BOA), komponen masyarakat Bali, dan Kelompok Media Bali Post.
Pada Tahun 2005 telah melakukan pertemuan semua stakeholder Bali dengan tema
”Penyelamatan Alam Bali” mengundang 1001 orang di Kuta oleh Yayasan Bali Organic dan Kelompok Media Bali Post telah melakukan sosialisasi dan pendampingan pertanian organik, pada petani dari hulu sampai hilir (SDM, SDAP, teknologi, pascapanen dan Pemasaran). Pada 21 November 2009 dilakukan deklarasi dan serasehan.
Saat ini dari keempat danau di Bali, tiga danau (Batur, Beratan dan Bulian) yang sudah bermasalah akibat intensifikasi ekonomi khususnya di sektor pariwisata, serta perubahan pola pertanian masyarakat. Hal ini semakin mendesak kualitas air danau serta distribusi ketersediaan air tawar sebagai sumber kehidupan.
Di sepanjang masa-kembang ekonomi dalam satu generasi belakangan, nilai-nilai religi dan protokol pengurusan adat dari keempat danau beserta syarat penghormatan pada air hampir selalu diabaikan dalam pengambilan keputusan pembangunan di sekitarnya.
Penulis Dosen PS Agro Ekoteknologi FP Unud
Komentar :
BALIPOST.com > Artikel > Empat Danau di Bali Harus Diselamatkan
Wisatawan memadati salah satu kawasan danau di Bali, Danau Beratan. Keempat danau di Bali memerlukan langkah penyelamatan. (BP/dok.)
Empat Danau di Bali Harus Diselamatkan
Tanggal: 28 September 2016 Jam:10:24 am • Artikel, Bali, Lingkungan, Opini, Pertanian
Oleh Dr. Ni Luh Ketut Kartini
Danau salah satu sumber daya alam (SDA) sangat penting keberadaannya sebagai pensuple air bagi wilayah dimana danau itu berada. Pulau Bali mungil memiliki empat danau yaitu Batur (Bangli), Beratan (Tabanan), Bulian –sering disebut Buyan (Buleleng) dan Tamblingan (Buleleng).
Nama danau Bulian sesuai dengan keempat danau ini ada di dataran tinggi, dengan ketinggian hampir sama karena itu bisa mengairi keseluruh Bali seperti tandon air mengalir ke segala arah dengan pipa-pipanya. Uniknya keempat danau ini merupakan cekungan kaldera hasil dari letusan gunung purba.
Kedudukan cekungan danau Batur, Beratan, Bulian, Tamblingan sangat khas karena bentang alamnya tertutup (terkungkung) dalam ilmu hidrologi disebut cekungan terkungkung. Cekaman terkungkung artinya tidak ada aliran sungai yang keluar dan masuk danau. Air keluar dari danau melalui penguapan dan rembesan air tanah ke wilayah sekelilingnya.
Rembesan itu dapat dilihat adanya mata air di hulu sungai, rembesan itu ke segala arah. Yang perlu mendapat pemahaman adalah perhitungan volume air yang ada di danau tidak bisa dengan hitungan mate-matis karena rembesan dan penguapan serta gerakan air sangat dinamis. Dari keempat danau ini Danau Batur yang paling luas tetapi kalau dilihat dari
kedalamannya Danau Bulian yang paling dalam (62,8 m) yang paling dangkal adalah Beratan (20,8 m).
Begitu lekatnya air dalam praktek sosial pemeluk religi Hindu Bali, sehingga Hindu Bali sering dituturkan sebagai Agama Tirtha. Sumber dan badan air disucikan, dan ini ditandai dengan didirikannya pura atau pelinggih, termasuk untuk setiap mata air maupun titik masuknya air dalam satu system subak. Bila air merupakan denyut kehidupan, maka keempat danau kaldera di Bali adalah jantung kehidupan alam Bali dan manusianya, yang masing-masing dijaga kesuciannya.
Sikap manusia terhadap sumber daya alam, khususnya air mengalami transformasi sejalan dengan sikap dan falsafah manusia dan dimana mereka hidup. Filsafatwan Plato, 2.500 tahun lalu telah membangun pikiran “Kosmosentrisme” yang menganggap bahwa manusia dengan akal pikirannya adalah pusat dari segala-galanya, abad selanjutnya ditegaskan oleh muridnya Aristoteles dengan Antroposentris dimana berpandangan manusia adalah bagian dari alam semesta tatanan kehidupan.
Sepuluh abad kemudian berkembang “teosentris” menempatkan Tuhan sebagai titik sentral. Hal ini diboncengi oleh paham kerajaan, raja diposisikan sebagai jelmaan Tuhan. Muncul paham
“humanisme-sekularisme mengasimilasikan posisi manusia dan alam dalam satu kesatuan yang utuh dan seimbang. Hal ini yang menyebabkan terjadi sintesa sinergi dengan kearifan lokal yang memandang manusia bagian integral dari alam bukan sebagai penguasa alam.
Pengelolaan air memerlukan landasan pikir tidak saja dengan pendekatan teknokratis saja tetapi juga menyangkut pengendalian prilaku manusia terhadap alam tempatnya hidup. Pertanyaannya apakah kita menganggap alam itu mesti dselaluan harus melayani seluruh kebutuhan manusia, ataukah manusia lebih arif mendudukan alam dengan posisi yang setara dengan manusia (saling membutuhkan).
Baca juga:
Danau Batur Tercemar Limbah Domestik
Organisasi Subak yang mengatur kebijakan dan tata kelola air dari hulu sampai hilir (danau sampai air mengairi sawah sawah). Perjalanan air ibarat badan seekor naga ekornya ada di gunung (danau), badannya adalah badan sungai besar, kakinya adalah anak- anak sungai yang berliku-liku, bulunya adalah bulakan/ mata air dan kepalanya adalah muaranya sungai sampai di laut.
Perjalanan air dari gunung ke laut (nyegara gunung). “Leluhur” Bali membagi daerah Bali menjadi 3 bagian yaitu hulu, tengah dan hilir (hulu-tengah=teben ) , untuk penyelamatan hulu sampai hilir, secara niskala ada “Sad Kerthi artinya enam (6) sumber kesejahteraan yang harus dilestarikan. Hulu itu suci identik dengan Pura (Atma Kerthi yaitu pelestarian kesucian pura dan sekitarnya). Hulu identik dengn gunung daerah resapan air, hutan (Wana Kerthi) yaitu
menyucikan hutan (hutan =pura) dan melestarikan hutan.
Hulu identik dengan Danau (danu Kerthi yaitu menyucikan Danau (danu= pura) dan melestarikan danau. Tengah identik dengan kehidupan manusia (Jana Kerthi adalah rangkaian upacara dan upakara dalam kehidupan ini dan swadarmanya sebagai manusia) dimana di bagian tengah dikelola dengan baik untuk menunjang kehidupan. Hilir adalah laut (segara Kerthi adalah menjaga kesucian laut dan melestarikan agar tetap bisa sebagai sumber pangan). Menjaga kesucian Bali keseluruhan dan melestarikan alam dan budayanya (Jagat Kerthi).
Secara logika paling dekat dengan kehidupan pertanian adalah tanah dan air. Tanpa tanah dan air tidak bisa bertani dan tidak bisa hidup. Bagaimana Leluhur Bali mengelola air? Hutan disucikan dan dijaga kelestariannya, danau sebagai sumber air disucikan identik dengan pura, siapapun tidak boleh mengganggu, sawah disucikan padi identik denga dewi sri, dibuatlah
sawah yang berterasering dari atas sampai bawah (tepi sungai) yang terlihat sangat indah, ternyata di balik keindahan itu ada tujuan untuk meningkatkan daya simpan air di dalam tanah.
Dengan sistem pengairan tujuannya adalah untuk menciptakan reservoar air (menahan air agar meresap ke dalam tanah dan tidak langsung hilang ke sungai). Tepi sungai dianggap angker karena dikatakan sebagai rumah tonye, memedi, gamang dll, yang tidak boleh dibangun
ditanami secara tumpang sari seperti pohon enau (jaka), beringin, kepuh, bambu dll. Hal ini yang menyebabkan sepanjang sungai ada mata air .
Begitu ada mata air disucikan dibuatkan pelinggih ditanami pohon beringin, dipasangi kain poleng. Kesenian diciptakan juga dikaitkan dengan pertanian Pengelingsir kita telah memberikan titipan yang luar biasa kepada generasi penerusnya berupa” Deresta, sastra, dan Bhisama serta pemastu bagi sipelanggarnya.
Kita sangat bersyukur jadi penerima titipan dan yang menikmati buah dari karya Pengelingsir berupa budaya dan alam yang sangat indah sehingga Pulau Bali menjadi sangat terkenal di dunia, sebagai tujuan Pariwisata.
Baca juga:
Balai Kelompok Rusak, Nelayan Tamblingan Meradang
Hal ini menyebabkan satu demi satu kesuksesan diraih dalam bidang pariwisata sehingga mendorong peningkatan sarana-prasarana agar mendapat keuntungan berlipat-lipat. Apa yang terjadi di balik itu? Tanpa disadari Pulau Bali kecil ini ibarat kelapa terus diperas santannya sehingga yang tersisa adalah ampasnya. Krama Bali harus menyadari bahwa Pulau Bali adalah pulau kecil yang harus dikelola dalam satu kesatuan ekosistem yang selalu berpegang pada aturan-aturan yang kita warisi.
Saat ini, beberapa lembaga swadaya masyarakat di Bali sangat prihatin dengan keberadaan sumber daya alam yaitu tanah dan air. Penyelamatan sumber daya alam dilakukan dengan melaksanakan Deklarasi Desa Kerta menjadi Desa Organik tahun 1999 oleh kepala Desa Kerta, Deklarasi gerakan moral pertanian Bali menuju pertanian organik pada tahun 2003 di Pura Jati Desa Batur, Bangli dilakukan oleh Departemen Pertanian RI dan Pemda Bali, yayasan Bali Organic Associatin (BOA), komponen masyarakat Bali, dan Kelompok Media Bali Post.
Pada Tahun 2005 telah melakukan pertemuan semua stakeholder Bali dengan tema
”Penyelamatan Alam Bali” mengundang 1001 orang di Kuta oleh Yayasan Bali Organic dan Kelompok Media Bali Post telah melakukan sosialisasi dan pendampingan pertanian organik,
pada petani dari hulu sampai hilir (SDM, SDAP, teknologi, pascapanen dan Pemasaran). Pada 21 November 2009 dilakukan deklarasi dan serasehan.
Saat ini dari keempat danau di Bali, tiga danau (Batur, Beratan dan Bulian) yang sudah bermasalah akibat intensifikasi ekonomi khususnya di sektor pariwisata, serta perubahan pola pertanian masyarakat. Hal ini semakin mendesak kualitas air danau serta distribusi ketersediaan air tawar sebagai sumber kehidupan.
Di sepanjang masa-kembang ekonomi dalam satu generasi belakangan, nilai-nilai religi dan protokol pengurusan adat dari keempat danau beserta syarat penghormatan pada air hampir selalu diabaikan dalam pengambilan keputusan pembangunan di sekitarnya.
Penulis Dosen PS Agro Ekoteknologi FP Unud