• Tidak ada hasil yang ditemukan

Erlia Hana Susanti 12103244024

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "Erlia Hana Susanti 12103244024"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Subjek mempunyai kendala dalam interaksi sosial dengan teman-temannya di sekolah, hal ini ditunjukkan dengan perilaku subjek yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Upaya guru kelas dalam mengatasi permasalahan tersebut belum maksimal, sehingga guru belum mampu mengatasi hambatan-hambatan dalam interaksi sosial anak.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Anak ADHD

Gejala gangguan perilaku pada anak ADHD dapat diamati melalui ciri-ciri perilaku yang ditunjukkannya. Smith & Tyler mengemukakan tiga ciri gejala gangguan tingkah laku pada anak ADHD sebagai berikut. 1) Kurangnya perhatian. Rendahnya prestasi akademik anak ADHD disebabkan oleh gangguan perilakunya.

Berikut gangguan perilaku pada anak ADHD, salah satu jenis inattention yang dikemukakan oleh Deborah Deutch Smith dan Naomi Chowdhuri Tyler.

Kajian Mengenai Interaksi Sosial

  • Definisi Interaksi Sosial
  • Aspek Interkasi Sosial Anak ADHD
  • Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Perilaku kelompok merupakan fungsi dari kepribadian individu dan situasi sosial (Lewin dalam Sarlito W. Sarwono. Norma sosial adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu kelompok dan membatasi perilaku individu dalam kelompok tersebut. Peran peniruan dalam interaksi sosial, misalnya Contohnya pada anak belajar bahasa, cara mengucapkan terima kasih, cara berpakaian dan meniru perilaku.

Sedangkan Gerungan mengartikan “proposal sebagai suatu proses dimana seseorang menerima suatu cara pandang atau pedoman perilaku dari orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu”.

Kajian Mengenai Social Story

Persamaan dalam penelitian ini adalah pemberian metode Social Story untuk mendorong perubahan sikap yaitu interaksi sosial pada anak ADHD. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Terdapat peningkatan interaksi sosial anak ADHD di kelas inklusi melalui metode Social Story di SD Negeri Karanganyar Yogyakarta”. Implementasi tindakannya adalah penerapan metode Social Story dalam meningkatkan interaksi sosial pada anak ADHD inklusif di SD Negeri Karanganyar Yogyakarta.

Observasi penelitian ini meliputi: (1) Kondisi siswa ADHD selama pembelajaran di kelas (2) Interaksi sosial siswa ADHD (3) Keterampilan interaksi sosial siswa ADHD.

Penelitian Revelan

Kerangka Pikir

Hipotesis Penelitian

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Suharsimi Arikunto (2007:16) menyatakan bahwa secara umum model penelitian tindakan kelas di kelas mempunyai empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Membuat instrumen observasi untuk mengamati aktivitas anak di kelas dalam proses pembelajaran materi Cerita Sosial. P. Membuat instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur kemampuan interaksi sosial anak dengan menggunakan metode Social Story.

Kegiatan observasi yang dilakukan antara lain mengamati proses belajar siswa dalam pembelajaran pada saat memberikan tindakan dan. Kegiatan refleksi merupakan kegiatan melihat proses dan hasil pelaksanaan langkah-langkah yang telah dilaksanakan, sehingga melalui kegiatan tersebut peneliti dapat mengetahui apakah interaksi sosial anak ADHD di SD Negeri Karangayar Yogyakarta mengalami peningkatan.

Variabel Penelitian

Variabel Operasional

Waktu Penelitian

Subjek Penelitian

Tempat Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

  • Instrumen Penelitian

Tujuan dari post-test ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan keterampilan interaksi sosial siswa setelah diberikan tindakan berupa penggunaan metode Social Story. Observasi akan lebih fokus pada perilaku subjek, yang menunjukkan keterampilan interaksi sosial sehari-hari dan perilaku selama kegiatan penelitian. Kegiatan observasi dilakukan pada saat penelitian terhadap siswa kelas V ADHD di Sekolah Dasar Negeri Karanganyar Yogyakarta.

Sedangkan observasi kinerja guru apabila belum mempengaruhi hasil perbaikan pada siklus I maka akan tercermin pada siklus II. Menurut Nurul Zuriah, wawancara terstruktur adalah wawancara yang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan telah ditentukan terlebih dahulu. Wawancara ini dilakukan terhadap guru GPK dan wali kelas untuk mengungkap interaksi sosial anak.

Data yang akan didokumentasikan dalam penelitian ini adalah hasil tes yang membuktikan bahwa subjek adalah anak ADHD dan tes IQ yang menunjukkan bahwa anak tersebut tidak mengalami gangguan kecerdasan. Jaringan instrumen dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan aspek interaksi sosial yang dijelaskan oleh Sarlito W. Menurut metode wawancara dalam penelitian ini, isi wawancara disusun dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.

Panduan wawancara guru kelas berisi pertanyaan-pertanyaan terkait interaksi sosial pada saat diskusi Cerita Sosial.

Tabel 2. Kisi-kisi panduan kuesioner
Tabel 2. Kisi-kisi panduan kuesioner

Analisis Data

Jadi dengan demikian siswa mengalami peningkatan dalam interaksi sosial yaitu mendapat skor 11 setelah mendapat tindakan pada siklus I. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I menggunakan metode Cerita Sosial untuk meningkatkan interaksi sosial diadakan post-test. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis hasil peningkatan interaksi sosial yang diperoleh melalui observasi siklus I dan siklus II.

Berdasarkan hasil interaksi sosial setelah diberikan tindakan Cerita Sosial pada siklus I, siklus II kemampuan siswa meningkat dibandingkan dengan hasil pra tindakan. Oleh karena itu siswa mengalami peningkatan dalam interaksi sosial yaitu mendapat skor 25 setelah mendapat tindakan pada siklus II. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan skor observasi interaksi sosial dari 63 pada saat pra tindakan menjadi 88 setelah dilakukan tindakan pada siklus II.

Dengan demikian subjek mengalami peningkatan interaksi sosial yaitu skor 25 setelah mendapat intervensi pada siklus II. Perbaikan pada tindakan siklus kedua mengenai hambatan yang muncul pada siklus pertama berdampak pada interaksi sosial menjadi lebih baik. Berdasarkan tabel 9 di atas diketahui terdapat peningkatan hasil observasi interaksi sosial siswa kelas V penderita ADHD dari masa pra tindakan, siklus I dan siklus II.

Berdasarkan hasil siklus II yang diperoleh siswa terdapat peningkatan interaksi sosial sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, interaksi sosial siswa ADHD kelas V SD Negeri Karanganyar Yogyakarta dapat ditingkatkan dengan Metode Cerita. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan (peningkatan) interaksi sosial anak ADHD inattentive setelah siklus II penggunaan cerita sosial yang diamati oleh peneliti dan GPK.

Keterbatasan penelitian peningkatan interaksi sosial melalui cerita sosial pada siswa V SD Negeri Karanganyar Yogyakarta adalah. Interaksi sosial pada siswa ADHD Kelas V SD Negeri Karanganyar mengalami peningkatan setelah dilakukan penelitian menggunakan Social Story.

Gambar 2. Bagan Pencatatan Silsilah Kelaurga Keterangan:
Gambar 2. Bagan Pencatatan Silsilah Kelaurga Keterangan:

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA

Deskripsi Lokasi Penelitian

Deskripsi Subjek Penelitian

Riwayat Kebutuhan Khusus

Berdasarkan keterangan orang tua, anak tidak mengalami kelainan apapun sejak lahir, kelainan tersebut muncul pada saat anak masuk TK. Subjek MYM merupakan orang yang kurang bersosialisasi dengan baik, di sekolah anak cenderung bermain sendiri dan subjek sering mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya. Subjek mengatakan bahwa subjek lebih nyaman berada di kelas kecil yang terdapat teman-teman ABK lainnya dibandingkan di kelas besar yang selalu diganggu oleh teman-temannya.

Emosi subjek terkadang tidak stabil, karena jika subjek diganggu oleh temannya, subjek sering marah, menangis dan sering berteriak di dalam kelas. Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologi subjek pada tahun 2010, subjek dinyatakan menderita ADD (Attention Deficit Disorder). Namun kenyataannya yang peneliti lihat adalah anak bersifat hiperaktif, yaitu ketika belajar sering menggerakkan tangan dan kaki, tidak bisa duduk diam, sering keluar kelas, sering berlarian di halaman sekolah, dan sering berbicara berlebihan, kadang-kadang. subjeknya memiliki imajinasi yang terlalu besar.

Deskripsi Data Tindakan Penelitian

Untuk mengetahui keadaan awal siswa, kami tidak menggunakan Social Story melainkan melalui observasi langsung terhadap interaksi sosial anak. Membuat instrumen observasi untuk mengamati aktivitas anak di kelas dalam proses interaksi sosial dengan menggunakan metode Social Storytelling. Membuat instrumen angket pre-test dan post-test untuk mengukur kemampuan interaksi sosial anak dalam memahami cerita dengan menggunakan metode Social Storytelling.

Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis hasil peningkatan interaksi sosial yang diperoleh melalui skor angket pratindakan dan siklus I. Berdasarkan hasil interaksi sosial pra tindakan dan setelah mendapatkan tindakan siklus I interaksi sosial siswa mengalami peningkatan dibandingkan hasil negosiasi. Mengamati interaksi sosial dengan Cerita Sosial selama pembelajaran memberikan dampak yang baik bagi siswa, salah satunya adalah afeksi siswa menjadi antusias terhadap bahan ajar Cerita Sosial.

Aspek interaksi sosial sebenarnya mulai berkembang, seperti anak yang mengajak temannya membeli makanan, padahal ajakan tersebut tidak sopan. Diskusikan kembali dengan guru materi Narasi Sosial yang akan diajarkan pada proses tindakan siklus II. Observasi yang dilakukan guru mengisi lembar instrumental yang diberikan peneliti dan diamati oleh guru selama 7 hari setelah pemberian Cerita Sosial pada siklus II, diketahui bahwa anak mengalami peningkatan yaitu anak antusias mendengarkan cerita. . dan dari aspek sikap dalam pergaulan sosial, anak menemukan pensil lalu bercerita di depan kelas, dan sikap santun terhadap guru sedikit diterapkan oleh anak.

Hasil interaksi sosial siswa pada Siklus I siswa memperoleh nilai 74 dan setelah melakukan refleksi dan tindakan kembali pada Siklus II siswa memperoleh nilai 88.

Tabel 6. Interaksi Sosial Siswa Pra Tindakan
Tabel 6. Interaksi Sosial Siswa Pra Tindakan

Uji Hipotesis

Pembahasan

Metode pembelajaran melalui cerita sosial diharapkan dapat mengatasi interaksi dan perilaku sosial yang dialami anak ADHD dengan memberikan informasi dan isyarat sosial yang relevan. Informasi tentang isyarat sosial diberikan melalui kalimat deskriptif (deskripsi situasi sosial), kalimat perspektif (deskripsi keadaan internal yang dialami tokoh cerita), dan arahan (penjelasan jenis tanggapan yang sesuai). Cerita sosial memberi anak ADHD gambaran tentang isyarat sosial yang tepat. respons yang relevan dan diharapkan dalam situasi tertentu. Peneliti menerapkan cerita sosial pada anak ADHD dengan memperhatikan kondisi tertentu pada subjek berdasarkan unsur kognitif dan afektif.

Unsur kognitif anak ADHD pada penelitian ini memiliki tingkat kecerdasan yang tidak berbeda dengan kondisi anak pada umumnya, sehingga tingkat kedalaman cerita sosial bisa sama dengan anak seusianya. Unsur afektif berkaitan dengan perilaku menyimpang pada anak ADHD khususnya lalai, sehingga konsep cerita sosial yang menarik dengan nilai moral yang positif dapat dijadikan stimulus untuk mengubah perilaku di akhir siklus menjadi positif. Peneliti mencoba melakukan tindakan berupa mendampingi anak ketika guru menceritakan kisah sosial dan terkadang subjek tidak memperhatikan peneliti, mengingatkannya untuk memperhatikan guru ketika cerita diceritakan.

Hasil perilaku terkait fokus belajar yang disajikan pada siklus II antara lain: 1) Anak sudah mulai memperhatikan dengan durasi yang lebih lama dibandingkan siklus I; Memastikan penilaian yang akan diterapkan pada siklus II untuk interaksi sosial melalui perilaku anak yang lebih sopan terhadap guru dan teman. Berdasarkan observasi guru kelas, perbedaan interaksi sosial MYM adalah “Berbicara sopan kepada sesama siswa dan sopan kepada guru”.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa cerita sosial dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kebutuhan anak ADHD. Oleh karena itu, pertanyaan penelitian “Ada peningkatan interaksi sosial anak ADHD di kelas inklusi melalui metode Social Story di SD Negeri Karanganyar Yogyakarta”, diterima.

Keterbatasan Penelitian

Bagi guru diharapkan setelah menerapkan metode Social Story, guru hendaknya selalu memantau dan menjaga interaksi sosial siswa. 22 Siswa mau menganggukkan kepala, memberi salam dan tersenyum sebagai tanda hormat kepada guru. 23 Siswa ingin membuang.

SIMPULAN DAN SARAN

Implikasi

Saran

Gambar

Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas (Suharsimi Arikunto, 2007:16)
Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Tabel 2. Kisi-kisi panduan kuesioner
Tabel 3. Kisi-kisi Panduan Observasi
+7

Referensi

Dokumen terkait