Erotisme menurut Filsafat
seorang filsuf bernama A.G. Baumgarten (1714-1762). Istilah berasal dari bahasa Yunani kuno, aistheton, yang berarti kemampuan melihat lewat penginderaan. Baumgarten menamakan seni itu sebagai
pengetahuan sensoris, yang dibedakan dengan logika sebagai pengetahuan intelektual. Tujuan estetika adalah keindahan, sedangkan tujuan logika adalah kebenaran (Sumardjo, 2000). Sejak itu istilah estetika dipakai dalam bahasan filsafat mengenai benda-benda seni.
Erotisme menurut sains
Erotisme menurut berbagai literatur dapat diartikan sebagai obyek yang memiliki kualitas untuk membangkitkan hasrat seksual seseorang. Bentuknya bisa bermacam mulai dari karya seni patung, lukisan, fotografi, atau film.
Datangnya hasrat itu bermula dari panca indra kita, terutama mata dan telinga, yang kemudian mengirimkan sinyal ke dalam susunan sarap yang ada diotak yang untuk urusan ini dikomandani oleh Libido.
Erotisme merupakan bagian dari aktivitas seksual manusia. Secara realitas, manusia tak akan dapat lepas dari kata seksual.
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/batarirupa/article/view/2141/1532
https://www.kompasiana.com/fery87654/5dc65d8ed541df4e0464bed3/erotisme-dari-rasa-menjadi- industri