Etika Administrasi Dalam Praktik
Dr. Abdul Kadir, M.Si.
Konsep tentang nilai moral dan etika dalam administrasi pemerintahan dirumuskan untuk diterapkan dalam kehidupan kenegaraan dan lingkup administrasi yang sesungguhnya. Kemanfaatan konsepsi etika tersebut hanya akan terasa apabila ia benar- benar dapat menjadi bagian dari dinamika administrasi modern.
Konsep dan teori filosofis mengenai moralitas dalam bidang administrasi negara itu juga berasal dari praktik administrasi sehari-hari. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai etika administrasi negara tidak berada dalam ruang hampa, ia harus selalu menyertakan pembahasan tentang aplikasinya, bagaimana para birokrat dan administrator bertindak atau harus bertindak menurut kaidah-kaidah etis yang ada.
Dasar lain yang mendukung argumentasi ini, seperti telah disinggung sebelumnya, ialah bahwa pada prinsipnya etika administrasi negara merupakan salah satu cabang etika terapan.
Begitu banyak teori maupun konsep yang membahas tentang kaidah normatif yang terdapat di antara penguasa negara, wakil- wakil rakyat, pelaksana administrasi, dan warga negara. Demikian pula konsep-konsep seperti keadilan, kedaulatan rakyat, kepentingan umum, norma-norma kebijaksanaan atau kearifan (wisdom) dan sebagainya.
Pembahasan mengenai kepentingan umum dan kearifan tindakan yang sangat dibutuhkan dalam tingkat kebijakan (policy) diharapkan merupakan sebagian dari penerjemahan prinsip-prinsip etika administrasi yang utama. Etos kerja juga merupakan masalah penting karena selama ini agaknya masih menjadi titik kelemahan dalam upaya mencapai produktivitas pejabat publik yang tinggi.
Persoalan kode etik menjadi pelengkap yang penting dalam kajian etika administrasi.
Perlu di ingat bahwa unsur-unsur administrasi negara bukan hanya pejabat yang memiliki otoritas tinggi untuk membuat keputusan strategis, tetapi juga aparat-aparat teknis yang langsung berhadapan dengan tugas-tugas yang sangat teknis. Etika atau kode-kode etik administrasi juga berlaku bagi pejabat-pejabat yang membidangi pekerjaan- pekerjaan operasional, ketatausahaan, atau administrasi dalam arti sempit.
Merumuskan asas umum pemerintahan yang baik ke dalam satu kata adalah upaya yang sangat sulit, dan upaya tersebut hampir mustahil apabila asas yang dimaksud ini adalah asas universal di setiap negara di bumi ini.
Setiap negara memiliki konteks budaya yang berbeda-beda, kebutuhan rakyat pada suatu waktu yang selalu berubah, dan masalah yang dihadapi oleh setiap negara pun berlain-lainan.
Orang Inggris tidak bisa mengerti kenapa di Amerika Serikat, yang konon merupakan negara paling demokratis itu, masih banyak kaum gelandangan yang terombang-ambing oleh kerakusan para kapitalis, masih banyak ketidakadilan sosial yang terjadi sebagai akibat kebijakan-kebijakan yang mengatasnamakan demokrasi itu sendiri.
Rakyat kemudian mendambakan kemakmuran ekonomis melalui program- program pragmatis yang untuk sebagian telah berhasil dilaksanakan oleh Orde Baru.
Kini, setelah Orde Baru cukup berhasil melaksanakan pembangunan ekonomis dan memelihara stabilitas nasional, orang mulai berpikir bahwa kemakmuran materi bukan satu-satunya tujuan yang harus dicapai.
Banyak fakta yang menunjukkan bahwa hasil-hasil pembangunan itu belum dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat. Di samping itu hak-hak asasi, partisipasi rakyat, dan keterbukaan sekarang juga menjadi isu yang dipersoalkan banyak pihak.
Perkembangan situasi politik, sosial dan budaya serta dinamika masyarakat turut mempengaruhi opini masyarakat tentang sistem administrasi pemerintahan yang ideal.
Tujuan rakyat dalam membentuk negara ialah untuk dipergunakan sebagai sarana guna mencapai cita-cita yang lebih tinggi yang semua itu terkandung dalam tujuan negara. Pilar utama prinsip demokrasi adalah asas kedaulatan rakyat.
Sistem pemerintahan dan ketatanegaraan satu negara dengan negara yang lain jarang sekali yang sepenuhnya sama walaupun asasnya sama yaitu penyelenggaraan sistem demokrasi dengan jalan perwakilan.
Di dalam sistem demokrasi Indonesia, asas kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui asas permusyawaratan perwakilan yang satu sama lain sangat erat hubungannya. Asas permusyawaratan mensyaratkan bahwa setiap bentuk keputusan yang menyangkut persoalan-persoalan besar dalam pemerintahan diambil melalui musyawarah untuk mufakat.
Sekalipun struktur birokrasi acapkali mengandung ciri-ciri kontradiktif seperti adanya :
1) Perilaku politis kelompok kepentingan 2) Fragmentasi
3) Konflik serta persaingan
Namun tujuan dari bentuknya birokrasi pemerintahan itu sebenarnya untuk melaksanakan layanan umum secara demokratis.
Segenap aparat birokrasi pemerintahan tetap memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi dan melaksanakan prinsip-prinsip partisipasi, persamaan layanan, kepekaan dan tanggung jawab, yang kesemuanya merupakan perwujudan demokrasi dalam jajaran birokrasi.
Terwujudnya sistem pemerintahan yang demokratis bukan hanya menjadi kewajiban bagi aparat-aparat legislatif, tetapi juga bagi aparat eksekutif, para birokrat, kalangan militer, dan segenap unsur masyarakat.
Indikator-indikator ekonomi dalam pembangunan di Indonesia memang menunjukkan perkembangan yang membesarkan hati. Akan tetapi, seiring itu muncul pula persoalan keadilan sosial sebagai akibat distribusi hasil-hasil pembangunan yang kurang merata.
Adanya ketimpangan sosial dan ketimpangan distribusi pendapatan di negara- negara berkembang merupakan persoalan kebijakan pembangunan yang serius bagi para pengambil keputusan.
Pemecahan terhadap persoalan ini bukan saja sangat penting bagi kesinambungan pembangunan yang mandiri dalam suatu negara, tetapi juga merupakan tuntutan kewajiban bagi para perencanaan pembangunan yang memiliki dimensi etis yang kuat.
Cita-cita keadilan distributif hanya akan tercapai apabila melalui program-program pembangunannya pemerintah mampu mewujudkan keadilan dan menghindari ketimpangan-ketimpangan sosial, politik, maupun ekonomis.
Dua dimensi ketimpangan yang harus diperhatikan. Pertama, ketimpangan di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam suatu negara. Ketimpangan ini terjadi karena kesenjangan pendapatan antara kelompok kaya dan kelompok miskin.
Kedua, ketimpangan antara wilayah- wilayah geografis dalam suatu negara atau disebut juga ketimpangan regional. Wujud ketimpangan yang paling nyata terlihat antara wilayah-wilayah pedesaan dan perkotaan.
Akar masalah dari fenomena ketimpangan antarkelompok sosial maupun antarwilayah geografis adalah kesenjangan di dalam distribusi sumber daya politik dan ekonomi.
Bahwa program-program layanan pemerintah yang selama ini dilakukan ternyata lebih banyak menjangkau mereka yang siap berbuat, yang sudah memiliki tanah lebih dan mampunyai akses yang lebih besar terhadap saluran pengairan atau kredit bank desa yang resmi.
Diperlukan sekarang adalah kebijakan- kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh kelas masyarakat yang kurang beruntung atau kelompok yang tidak memiliki sumber daya untuk mengembangkan dirinya.
Kebijakan-kebijakan seperti ini disamping sangat dibutuhkan untuk kontinuitas pembangunan di masa mendatang ternyata juga mengandung landasan etis dan moral yang kuat bagi para pembuat keputusan itu sendiri.
Peningkatan kesejahteraan umum bukan hanya dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kebutuhan-kebutuhan dasar tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas individual supaya rakyat dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pembangunan.
Ada dua elemen kebutuhan pokok, yaitu :
1. Persyaratan-persyaratan minimum keluarga untuk konsumsi sendiri, antara lain kebutuhan pangan, pakaian, dan perlindungan.
2. Layanan-layanan esensial yang mendasar yang sebagian besar disediakan oleh dan untuk masyarakat seperti air minum yang bersih, sanitasi, kendaraan umum, fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan.
Apabila orang mengamati suasana kerja di dalam organisasi –organisasi swasta dan kemudian membandingkannya dengan suasana kerja dalam birokrasi pemerintahan, maka kesan umum yang segera terasa ialah kurangnya dinamika dalam lingkungan kerja birokrasi pemerintah.
Oleh karena itu, untuk menciptakan sosok birokrasi pemerintah yang responsif tehadap kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi masyarakat, dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat yang tak boleh dilupakan.
Sebagai bahan referensi bahwa Asas-asas umum yang berasal dari pemikiran dan praktik administrasi di negara Belanda antara lain :
Asas kepastian hukum (principle of legal security)
Asas keseimbangan (principle of proportionality)
Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (principle of equality)
Asas bertindak cermat (principle of carefulness)
Asas motivasi untuk setiap keputusan (principle of motivation)
Asas tidak mencampuradukkan kewenangan (principle of non misuse of competence)
Asas permainan yang layak (principle of fair play)
Asas keadilan dan kewajaran (principle of reasonable or prihibition of arbitratiness)
Asas menanggapi penghargaan yang wajar (principle of meeting raised expectation)
Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal (principle of undoing the consequencies of annuled decision)
Asas perlindungan atas pandangan / cara hidup pribadi (principle of protecting the personal way of life)
Asas kebijaksanaan (sapientia)
Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of public service)