• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penentu Bentuk Arsitektur

N/A
N/A
Citra Amelia Putri

Academic year: 2024

Membagikan "Faktor Penentu Bentuk Arsitektur"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

EKOLOGI, PERMUKIMAN, ARSITEKTUR, DAN BUDAYA

MATERI PAN M.2

(2)

AND IT’S CONTINUE TO...

FAKTOR PENENTU BENTUK

ARSITEKTUR

(3)

I. FAKTOR-FAKTOR PENENTU BENTUK

ARSITEKTUR

(4)

1. IKLIM DAN KEBUTUHAN AKAN TEMPAT BERTEDUH (?)

Catatan:

• Etnis di Asia Tenggara memiliki kecenderungan untuk menghuni rumah tidak dalam jangka waktu yang panjang. Mudah bermigrasi walaupun sudah bukan nomaden seperti di masa pra sejarah. 🡪 bencana alam banjir, gempa, kekeringan, wabah

penyakit, kebakaran hutan, gunung meletus.

Iklim regional dan cuaca menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan bentuk tempat berhuni. 🡪 bukan yang utama

• Etnis yang berada dalam satu rumpun bahasa Austronesia mengutamakan

hubungan dengan leluhur” dan “cadangan makanan” sebagai penjamin keselamatan dan keberlanjutan kehidupan 🡪 memunculkan “rumah leluhur”,

“ruang leluhur”, dan “lumbung”.

• Masyarakat Cham atau lebih dikenal Champa/Chempo (oleh orang Jawa dan Sumatera) dari Vietnam memandang tempat berbayang adalah tempat yang dihuni roh tak baik.

https://www.vietnamcoracle.com/the-cham-towers-ancient-citadel-of-vijaya/

• Rumah-rumah tradisional di Nusantara kebanyakan memiliki struktur atap gable finial sebagai respon terhadap kondisi alam sekaligus ekspresi religius

kehadiran leluhur. Penutup atap yang semula rumbia dan ijuk telah beralih menjadi seng (meskipun berdampak memanaskan ruang di bawahnya) dengan alasan

kemudahan akses memperoleh material dan kontsruksinya.

• Orang Jawa senang membuat bangunan tembok (gedong) bukan karena faktor iklim namun karena status sosial (perubahan sosial).

• Di beberapa tempat, ketaatan terhadap rumus- rumus seperti Feng-Shui dan

Vaastu demi kesejahteraan menjadi lebih penting daripada kenyamanan klimatik.

(5)

Catatan

:

Dalam ilmu arsitektur, material dan konstruksi selalu menjadi solusi perancangan agar sebuah karya arsitektur dapat berdiri.

Arsitektur Nusantara tidak menganggap penyelesaian teknikal dan fungsional sebagai satu-satunya

pertimbangan dalam membangun hunian dan permukiman.

Tradisi membangun lokal melihat material dan konstruksi sebagai bagian sistem keberlanjutan ketersediaan bahan, tukang/pengrajin, dan

praktikalitas pelaksanaan dalam metoda membangun komunal.

Inovasi teknologi baru diserap, tektonikanya sudah diterapkan berulang dengan proses tipikal 🡪

memunculkan ritual-ritual kerja.

Ritual-ritual yang muncul untuk metoda kerja baru menunjukkan inovasi teknologi dan tektonika baru tersebut sudah melembaga bersama “adat”.

2. MATERIAL DAN SISTEM-METODA-

TEKNOLOGI KONSTRUKSI

(6)

Tongkonan~Alang berhadapan

Alang bersaudara dan punya hierarki

Penutup atapnya mengalami perubahan material. Apa

sebabnya?

Konstruksi Tongkonan

(7)

ATAS KIRI: Kampung Naga dari tangga masuk kampung

BAWAH KIRI : Deretan Leuit Abah di Kasepuhan Ciptagelar

Konfigurasi kampung, tipologi rumah dan denahnya (kasus studi: Kampung Naga). Tipologi didasarkan pada tipe bentuk atapnya.

KIRI: rumah tipe Sunda Besar dengan wuwung cagak gunting KANAN: rumah tipe Sula Nyanda.

(8)

3. LAHAN/ SITUS/LOKASI

Catatan:

• Setiap etnis atau komunitas adat, memiliki norma tersendiri dalam memilih lokasi hunian dan tempat bermukim.

• Pemilihan lokasi tersebut bisa bersifat FUNGSIONAL (ekonomi, aksesibilitas, ketersediaan sumber daya

penghidupan, etc.), tetapi juga

“HIERARKI SOSIAL” yang mendasarkan penataan hunian berdasarkan strata sosial dalam adat, posisi dalam tata keluarga, peran-peran sosial, atau pengaruh pertimbangan tokoh yang paling dihormati.

• Contoh: penentuan lokasi

disampaikan pada bagian awal naskah Mayamatam (India

Selatan), Asta Kosala-kosali (Mpu Kuturan, Bali), Primbon Jawa.

(9)

PERTAHANAN bagi masyarakat tradisional 🡪 kehidupan komunal komunitas yang guyub

LINGKUP PERTAHANAN 🡪 untuk tubuh manusia dan segala sesuatu yang menopang kehidupan manusia, seperti

1. tempat penyimpanan bahan makanan 🡪 lumbung (Leuit, Goah, Pandaringan, Pabéasan, Alang, Rangkiang)

2. pertahanan terhadap binatang buas atau musuh 🡪 panggung, benteng, Menara intai 3. pertahan spiritual yang bersifat mencegah adanya gangguan roh jahat atau

mencegah peruntungna buruk (berbagai jenis tulak bala 🡪 pintu orang mati, relik tertentu, sawén, tiang ibu/nenek, tiang bapak.

Catatan:

• Demi keamanan persediaan makanan, masyarakat Sunda meletakan leuit secara berkelompok di tempat yang lebih tinggi dari permukiman untuk menghindari bahaya kebakaran dan banjir.

• Di Bali lumbung diletakan di ruang terbuka bersama sehingga akan selalu terjaga.

• Orang-orang Marappu di wilayah Wai Kabubak, Wai Ngapu, Wai Rebo memiliki lumbung yang sangat tinggi atau menyimpannya di ujung atap tertinggi rumah agar tidak

mudah dirampas suku-suku rivalnya dan dijaga oleh para leluhur.

• Sebagian besar rumah tradisional di Nusantara berpanggung 🡪 menghindari binatang buas, resiko banjir.

• Menggunakan relik dan ornament tolak bala secara spiritual. 🡪 Orang Sanaga menggunakan sawén berupa seikat daun salam- sereh-panglayyang dipasang di pintu masuk sebagai dekorasi. Candi dan keraton di P. Jawa memasang dwarapala dan kala kirtimuka di pintu masuk utama. Pripih & pedagingan (persembahan 5 unsur logam mulia) masih dilakukan sejak zaman percandian hingga sekarang untuk bangunan-bangunan sakral.

4. PERTAHANAN

(10)

LUMBUNG: tempat menyimpan padi yang telah dipanen dalam bentuk ikatan.

LUMBUNG 🡪 tempat menyimpan bibit, mengeringkan dan mengawetkan bahan makanan, di beberapa komunitas adat, menjadi tempat untuk bersosisalisasi dan persiapan ritual serta penyimpanan relik dan pusaka warisan leluhur.

LUMBUNG berperan penting untuk:

1. menjaga sumber ekonomi permukiman, dan seringkali karenanya keberadaanya tak dapat dipisahkan dari aspek lain seperti

2. konservasi air, dan sarana pelindung lumbung,

3. sistem managemen ketahanan pangan yang dikelola oleh para penghulu dan aparatnya.

4. Aspek ekonomi yang tak melulu hanya bersifat transaksional.

Catatan:

Masyarakat Jawa mengenal budaya hari Pasar, yaitu hari-hari tertentu pasar akan dibuka secara rotasi dari satu ke desa lainya dalam kelompok 5 desa (Sedulur Papat Limo Pancer). Pada saat itu yang terjadi bukan sekedar persitiwa ekonomi, namun juga peristiwa social bersama.

Masyarakat Minangkabau mengenal Pasar yang selalu bersebelahan dengan balai pemerintahan tempat wali nagari duduk.

Pada arsitketur Majapahit terdapat rumusan peletakan pasar dalam pengaturan stratifikasi sosialnya, termasuk keberadaan kasta pedagang.

Rumah menjadi figure kemakmuran, misalnya pada masyarakat Annam, Vietnam.

5. EKONOMI

(11)

TIPOLOGI LUMBUNG

Leuit (Sunda): 1. Leuit Sukabumi dan Banten Kidul, 2. Leuit si Jimat Kasepuhan Ciptagelar, Halimun, 3.

Leuit Kanenes Luar

1

2

3

2 3

(12)

AGAMA : latar keyakinan untuk menurunkan panduan tata atur dan tata kelola manusia dan masyarakat dalam

berkehidupan.

BELIEF SYSTEM 🡪 oleh Kontjaranningrat diterjemahkan sebagai SISTEM RELIGI

BELIEF SYSTEM 🡪 seperangkat gagasan penciptaan semesta berdasarkan keyakinan atas pembelajaran kolektif selama beberapa generasi dan diwariskan turun temurun.

Catatan:

Masyarakat Asia Tenggara memandang RUMAH LELUHUR atau KAMPUNG HALAMAN lebih menyerupai KUIL

ketimbang RUMAH TINGGAL DOMESTIK. 🡪 tempat tersakral ~ RAHIM IBU,, di mana kehidupan bermula.

Penataan PERMUKIMAN KOTA dan DESA menggunakan simbolisasi yang merujuk kepada buku-buku kitab

keagamaan, secara fungsional dirancang untuk mewadahi ritual keagamaan kolektifnya.

GERBANG seringkali tidak dirancang untuk menunjukan

adanya sebuah batas fungsional kegiatan fisik, namun batas spiritual yang memebedakan sifat spiritual sebuah daerah.

RUMAH LELUHUR dipertahankan untuk tidak dihancurkan sekalipun seringkali juga tak terawat karena NILAI SPIRITUAL yang terkandung 🡪 TITIK PENG HUBUNG (UMBILICAL CORD) dengan para leluhur.

6. AGAMA / SISTEM KEPERCAYAAN

(13)

II. FAKTOR SOSIAL- BUDAYA PENENTU

BENTUK RUMAH

(14)

• Dalam setiap masyarakat, manusia saling berbagi nilai-nilai tentang apa yang

dianggap sebagai tujuan hidup dan aturan/ tata cara mencapai tujuan tersebut. Oleh sebab itu, permukiman atau tempat bermukim merupakan media membangun MAKNA KEHADIRAN yang sesuai dengan konteks tersebut.

• Karena nilai- nilai tersebut setiap tempat berhuni memiliki MAKNA yang beragam.

• Tiga tipe makna simbolik dari bentuk tempat bermukim, yaitu:

1. High level meanings 🡪 tema kosmologi, skemata budaya, cara pandang terhadap dunia (world views), refleksi filsafati.

2. Middle level meanings 🡪 citra identitas, kekuasaan, status kekayaan, dan komunikasi.

3. Low level 🡪 Makna keseharian, bersifat teknis, pragmatis, dan fungsional.

Contoh :

Sebuah rumah akan dikenali dari adanya beberapa fungsi seperti ruang tamu, kamar tidur , ruang keluarga yang masing-masing akan dirancang dengan cara yang berebeda.

1. DORONGAN SOSIAL KULTURAL DARI

BENTUK RUMAH

(15)

Premis dasar:

Semakin banyak pilihan dan kemungkinan sumber daya yang tersedia, maka semakin besar pilihan desain.

Semakin sedikit pilihan sumber daya, semakin terbatas pilihan variasi bentuk dari desain

tempat berhuni.

Sistem nilai yang dianut, menentukan desain bentuk.

Contoh:

Bentuk rumah Wae Rebo dan Ngadha. Beratap tinggi untuk dekat dengan leluhur.

Orang Kanekes memilih bambu dengan pondasi umpak, karena bumi adalah IBU yang pantang dilukai.

2. FAKTOR KRITIKALITAS DAN PILIHAN

(16)

https://www.dezeen.com/2013/05/08/pre servation-of-the-mbaru-niang-by-rumah- asuh/

https://www.youtube.com/watch?v=en4 L0xhIPcw

https://www.youtube.com/watch?v=0eG dX4tWyps

https://id.wikipedia.org/wiki/Mbaru_Nian g

(17)

Kebutuhan dasar manusia tidak sama dari satu lokasi ke lokasi lainya.

Bagi sebagian masyarakat Asia Tenggara lama, rumah bukanlah kebutuhan dasar.

Masyarakat Bali, Sunda, dan Jawa terlebih dahulu membuat dapur sebelum rumah tinggal inti.

Aspek yang mendasari kebutuhan dasar juga bervariasi, seperti:

1. kebutuhan dasar individual maupun kolektif (keluarga, kelompok keluarga) 2. privasi,

3. posisi dan peran wanita, 4. aktivitas sosial kolektif

3. FAKTOR KEBUTUHAN DASAR

(18)

4. FAKTOR RELASI ANTARA RUMAH DAN PERMUKIMAN

• Rumah, permukiman dan lansekap 🡪 produk dari budaya

karenanya tak dapat dipisahkan dari satu sistem keutuhan budaya dan pandangan hidup.

Rumah ~ permukiman tak dapat dilihat secara terpisah, merupakan totalitas sistem sosial~spasial. 🡪 socio-spatial organization (Egenter)

(19)

Sejarah membuktikan adanya hubungan yang tak dapat diabaikan antara manusia dan lokasi (tempat).

Konsep hubungan manusia dengan lokasi bisa jadi berupa:

1) Religious and cosmological- masyarakat dan manusia menganggap tempatnya berhuni merupakan orientasi kosmologis dari hidupnya. Konsep kampung halaman

2) Symbiotic –masyarakat dan manusia menganggap kedudukannya dalam rumah atau bangunan sebagai representasi dari kedudukan dirinya dalam alam dan bumi. Keberhasilannya menjaga rumahnya dianggap sebagai representasi simbolik keberhasilannya menjaga bumi. Konsep

3) Exploitative – masyarakat dan manusia hanya memanfaatkan alam untuk kepentingan fungsional pengadaan rumah.

5. FAKTOR LOKASI DAN PILIHAN

(20)

• Seringkali modifikasi rumah, pembuatan rumah bukan dipicu karena kebutuhan namun karena keniscayaan manusia untuk selalu ingin berubah dan memimpikan hal baru.

Masyarakat tradisional cenderung menganggap rumah leluhur

sebagai rumah permanen dan rumah milik sebagai obyek temporer.

• Contoh, rumah bari, rumah limas berasal dari rumah besemah/pasemah

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6749627/rumah-baghi-warisan-budaya-suku-basemah-yang-tahan-gempa https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/rumah-ulu-rumah-bernilai-estetis-pembentuk-keluarga-harmonis/

6. FAKTOR KONSTAN DAN PERUBAHAN

(21)

• Uraikan karakter perkembangan budaya berhuni dari masyarakat Prasejarah Paleolitik, dan Neolitik.

• Sebutkan pengertian Wanua.

• Jelaskan bagaiamana pengaruh kebudayaan India mempengaruhi konsep permukiman Wanua.

• Beri contoh jejak arsitektur Prasejarah di Nusantara yang masih bisa diapresiasi.

PERTANYAAN

(22)

TO BE CONTINUED TO...

ARSITEKTUR DAN BUDAYA:

KOSMOLOGI, ORGANISASI RUANG DAN WAKTU

(23)

TIM

PENGAMPU

KOOORDINATOR: Dr. Yunita Dwi Adisaputri, S.T., M.T.

ANGGOTA:

1. Ratu Arum Kusumawardhani, S.T., M.Ars.

2. Nurjannah Hamdani, S.T., M.Si.

3. Indah Yuliasari, S.T., M.M.

4. Rifandi

5. Risky Handayani, S.T., M.P.W.K

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor dan variabel penentu kepuasan konsumen dalam pemasaran hewan qurban adalah faktor kualitas layanan dan faktor

Untuk membahas tentang Analisis Faktor-faktor Penentu disiplin Keija Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Nunukan, peneliti akan melihat dari fenomena faktor penentu disiplin yang

IDENTIFIKASI FAKTOR PENENTU KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MEMILIH JASA PERBANKAN:.. BANK SYARIAH VS BANK

Tabel 4.3 Faktor Penentu Kualitas Hubungan dalam Pemberian Layanan Kredit Perbankan Kepada Pelaku Usaha Kecil

Maksud dari penerapan tema arsitektur berwawasan lingkungan terhadap bentuk bangunan komplek pengolahan petis dan wisata kuliner menjadi bentuk bangunan yang sesuai dengan

• Faktor-faktor penentu kompensasi eksekutif yang mempunyai hubungan positif dan pengaruh signifikan terhadap kompensasi eksekutif adalah mekanisme keputusan

Faktor Penentu Perancangan Pendekatan perencanaan dan perancangan Bandara Semarang Airport bertitik tolak pada faktor penentu kebutuhan ruang serta fasilitas yang disesuaikan dengan

RUANG DAN BENTUK DALAM ARSITEKTUR • ‘RUANG’ SEBAGAI POKOK BAHASAN BRUNO ZEVI: ‘RUANG’ MERUPAKAN UNSUR POKOK DLM ARSITEKTUR ‘BENTUK’ MERUPAKAN IMPLIKASI DARI PERWUJUDAN ‘RUANG’ •