934
PERSPEKTIF
Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/perspektif
Faktor-faktor Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif pada Remaja di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra 'Insyaf'
Sumatera Utara 2023
Factors Influencing Substance Abuse among Adolescents in Parmadi Putra 'Insyaf' Rehabilitation Center, North
Sumatra, 2023
Ni Made Dewi Kumalasari*, Humaizi, & Tengku Irmayani
Program Studi Magister Studi Pembangunan, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Indonesia
Diterima: 9 Mei 2023; Direview: 19 Juni 2023; Disetujui: 30 Juni 2023 Abstrak
Penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan bahan adiktif (napza) semakin meluas di kalangan remaja.
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2021 mencatat 12.890 kasus penyalahgunaan napza, dengan kasus terbanyak terjadi di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 2.049 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan napza dengan fokus pada aspek konstruksi sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab penyalahgunaan napza di kalangan remaja. Faktor utama adalah konstruksi sosial pada lingkungan keluarga, di mana pola asuh yang lemah terkait pencegahan penggunaan napza dalam keluarga menjadi faktor yang signifikan. Selain itu, faktor- faktor pendukung lainnya meliputi lingkungan pemukiman dan teman sebaya serta lingkungan institusi atau organisasi. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran keluarga dalam pencegahan penyalahgunaan napza.
Pola asuh yang baik dan pendekatan pencegahan yang efektif dalam lingkungan keluarga dapat mengurangi risiko remaja terlibat dalam penyalahgunaan napza. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan lingkungan pemukiman dan teman sebaya sebagai faktor pendukung yang dapat mempengaruhi remaja dalam penggunaan napza.
Kata kunci: Napza; Remaja; Konstruksi Sosial; Penyalahgunaan; Pencegahan Abstract
The abuse of narcotics, alcohol, psychotropic substances, and addictive substances (NAPZA) is increasingly prevalent among adolescents. According to data from the National Narcotics Agency (BNN) in 2021, there were 12,890 cases of NAPZA abuse, with the highest number of cases occurring in North Sumatra Province, amounting to 2,049 cases. This research aims to identify the factors contributing to adolescent involvement in NAPZA abuse, with a focus on the aspect of social construction. The research method used is qualitative, employing in-depth interviews and qualitative data analysis. The findings of the study indicate several factors that contribute to NAPZA abuse among adolescents. The main factor is the social construction within the family environment, where weak parenting related to preventing NAPZA use within the family becomes a significant factor. Additionally, other supporting factors include the residential environment, peer influence, as well as institutional or organizational environments. This research emphasizes the importance of the family's role in preventing NAPZA abuse. Good parenting and effective prevention approaches within the family environment can reduce the risk of adolescents engaging in NAPZA abuse. Furthermore, it is important to pay attention to the residential environment and peer influence as supporting factors that can influence adolescents' NAPZA use.
Keywords: NAPZA; Adolescents; Social Construction; Abuse; Prevention.
How to Cite: Kumalasari, N.M.D. Humaizi & Irmayani, T. (2023), Faktor-faktor Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif pada Remaja di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra 'Insyaf' Sumatera Utara 2023, PERSPEKTIF, 12 (3): 934- 941
*Corresponding author:
E-mail: [email protected] ISSN 2085-0328 (Print)
ISSN 2684-9305(Online)
PENDAHULUAN
Permasalahan yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) merupakan isu yang serius dan menjadi prioritas bagi pemerintah dalam upaya penanggulangannya. Meningkatnya perdagangan dan penyebaran narkoba dengan kecepatan yang sangat tinggi telah menyebabkan peningkatan jumlah pengguna narkoba setiap harinya (Panuju, 2019;
Sulastiana & SIP, 2021).
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia menjadi perhatian yang mendalam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah letak geografis Indonesia yang terletak di persimpangan tiga benua serta kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
(Ditjenbud, 2000; Subandri & Widyarsono, 2021). Dalam konteks ini, pengaruh globalisasi, kemajuan transportasi, dan perubahan nilai- nilai materialistik yang berdampak pada peredaran gelap narkoba semakin meningkat.
Keadaan ini semakin diperparah oleh maraknya peredaran gelap narkotika di berbagai kalangan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda. Dampaknya akan
sangat signifikan terhadap masa depan bangsa dan negara.
Perilaku sebagian remaja yang secara nyata telah mengabaikan nilai-nilai moral, norma, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat merupakan salah satu penyebab meningkatnya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda. Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak remaja yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.
Data dari Badan Narkotika Nasional mencatat bahwa hingga triwulan I tahun 2021 terdapat 12.890 kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi dengan jumlah kasus narkoba terbanyak, dengan 2.049 kasus yang tercatat. Selain itu, Sumatera Utara juga menjadi provinsi dengan jumlah tersangka narkoba terbanyak, yaitu sebanyak 2.661 orang. Jawa Timur menempati posisi kedua dengan 1.910 kasus, sementara DKI Jakarta berada di posisi ketiga dengan 964 kasus. Jawa Barat berada di posisi keempat dengan 672 kasus, dan Jawa Tengah berada di posisi kelima dengan 661 kasus (Ditjenbud, 2000; HARAHAP, 2022).
Sumber: Badan Narkotika Nasional (2021) Perkembangan mengenai kasus
penyalahgunaan napza (narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif) semakin meningkat baik dalam skala internasional maupun nasional. Napza telah ada sejak lama dan saat ini keberadaannya semakin beragam baik dalam bentuk maupun jenisnya.
Dalam era digital yang canggih seperti sekarang, banyak remaja terjerumus ke dalam perilaku penyalahgunaan napza, bahkan beberapa di antara mereka menganggap
penggunaan napza sebagai gaya hidup.
Tingginya angka pengguna napza mengakibatkan penyimpangan perilaku remaja yang dapat membahayakan keberlanjutan kehidupan bangsa ini di masa depan. Karena remaja merupakan generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, mereka semakin rentan terhadap zat adiktif yang merusak sistem saraf. Hasil penelitian Hawari (1999) menunjukkan bahwa dampak penyalahgunaan narkoba antara lain menurunnya prestasi
sekolah, memburuknya hubungan keluarga, peningkatan tindak perkelahian dan kekerasan, serta menjadi salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas (Hawari, 1991).
Masa remaja sebagai masa peralihan seringkali sulit dikontrol, sehingga mudah terjerumus dalam perilaku yang berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Usia remaja merupakan sasaran utama dan periode yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba, karena pada masa remaja mereka sedang mencari identitas diri, merasa penasaran, ingin tahu, dan ingin mencoba berbagai hal baru yang bahkan berisiko tinggi.
Oleh karena itu, sangat mungkin jumlah pengedar dan pengguna narkoba di kalangan anak-anak dan remaja terus bertambah dari waktu ke waktu (Rahayuningrum et al., 2019).
Fenomena penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja dapat mengganggu hubungan keluarga dan menyebabkan gangguan dalam interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan aspek penting yang melibatkan kontak dan komunikasi antarindividu. Penyalahgunaan narkoba dapat mengancam produktivitas sumber daya manusia (SDM). Selain itu, dalam dimensi stabilitas negara, penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan keruntuhan, karena menghancurkan sumber daya manusianya (Adam, 2012; Supratman, 2018;
Tarigan, 2017).
Menurut Infografis Survei Penyalahgunaan Narkoba yang dirilis oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2020, persentase pengguna narkoba pada kelompok usia kurang dari 25 tahun (termasuk remaja) mencapai 18,30%. Survei BNN tersebut juga mencatat bahwa Provinsi Sumatera Utara menempati posisi tertinggi dalam prevalensi pengguna narkoba di seluruh provinsi di Indonesia, yaitu sebesar 7,0%, sedangkan rata-rata prevalensi nasional hanya sebesar 2,4%. Berdasarkan jenis kelamin, laki- laki memiliki persentase pengguna narkoba sebesar 91,40% atau sekitar 4.143.380 jiwa, sedangkan perempuan memiliki persentase sebesar 8,60% atau sekitar 391.364 jiwa.
Mengingat besarnya permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, diterbitkanlah Peraturan Kepala Badan Narkotika nomor 5 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika tahun 2020-2024. Dalam petunjuk teknis tersebut
disebutkan bahwa, mengingat bahaya penyalahgunaan narkotika yang sangat besar, perlu dilakukan upaya dan program strategis untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan narkotika. Untuk merancang dan mengimplementasikan program strategis tersebut secara efisien dan efektif, diperlukan data yang diperoleh melalui kegiatan survei dengan melibatkan masyarakat sebagai responden untuk mendapatkan informasi terkait penyalahgunaan narkotika di lingkungan masyarakat. Data ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh Bappenas dalam menyusun sasaran utama pembangunan Bidang Pertahanan dan Keamanan, terutama terkait dengan tingkat prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia (HARAHAP, 2022;
Satriah, 2020).
Penggunaan narkoba di kalangan remaja juga berdampak pada kehidupan sosial mereka.
Terdapat kecenderungan bahwa remaja yang menggunakan narkoba cenderung memiliki pola dalam membangun hubungan sosial dengan remaja lain. Pola ini meliputi tahap- tahap seperti zero contact (hubungan belum terjalin antara individu), awareness (respons individu terhadap individu lain), surface contact (kesadaran individu terhadap kesamaan dengan individu lain), dan mutuality (interaksi antara dua individu atau lebih yang pada awalnya tidak saling kenal). Remaja pengguna narkoba membutuhkan relasi yang memberikan akses atau sumber untuk memenuhi kebutuhan mereka terkait narkoba.
Oleh karena itu, relasi sosial memiliki peran yang penting bagi remaja pengguna narkoba dalam memenuhi kebutuhan mereka terhadap narkoba (Johari et al., 2023; Lubis et al., 2022).
Penanggulangan masalah
penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja membutuhkan peran semua pihak, termasuk lingkungan keluarga, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan penting dalam perkembangan kepribadian anak, dan proses sosialisasi anak dimulai dari keluarga. Oleh karena itu, tanggung jawab keluarga dalam mendidik anak harus lebih bertanggung jawab, karena pola-pola sosial dan kebiasaan tertentu terbentuk dalam diri anak di lingkungan keluarga (Satriah, 2020; Setyowati, 2005).
Selain itu, penting juga untuk mengelola lingkungan sehingga terhindar dari peredaran narkoba secara gelap. Dukungan dari lembaga pemerintah yang berperan dalam
penanggulangan masalah narkoba juga perlu ditingkatkan, dan peran lembaga swadaya masyarakat lainnya juga dibutuhkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba pada remaja dipengaruhi oleh lingkungan sosial, interaksi sosial, dan modus pengedaran narkoba. Teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Berger dan Luckmann (Asmanidar, 2021) dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor tersebut. Teori ini melibatkan tiga proses yaitu eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosial kultural sebagai produk manusia), objektivasi (interaksi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan), dan internalisasi (proses individu mengidentifikasi dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya).
Penelitian tentang konstruksi sosial penyalahgunaan narkoba pada remaja di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra "Insyaf" Sumatera Utara dilakukan untuk mengetahui fenomena lingkungan sosial dan interaksi sosial terhadap penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Penelitian ini juga bertujuan untuk memahami konstruksi sosial (eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi) dari lingkungan sosial dan interaksi sosial dalam konteks penyalahgunaan narkoba pada remaja di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra "Insyaf" Sumatera Utara.
Dengan pemahaman mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba pada remaja, diharapkan penanganan dan upaya pencegahan masalah ini dapat lebih efektif dan efisien. Dalam konteks penanggulangan penyalahgunaan narkoba, kolaborasi dan sinergi antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan positif remaja.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata dan perbuatan manusia, tanpa menggunakan angka-angka (Sugiyono, 2017). Pendekatan kualitatif dipilih karena fenomena penyalahgunaan narkoba pada remaja dan faktor-faktor yang menyebabkannya belum memiliki konsep yang jelas sebelumnya dan dapat berubah seiring dengan proses penelitian.
Tipe penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif, yang memberikan gambaran tentang gejala yang ada dan menginterpretasikan objek sesuai dengan kondisi yang ada pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif ini fokus pada status kelompok manusia, kondisi, objek, sistem pemikiran, atau fenomena yang terjadi pada masa sekarang (Sugiyono, 2017).
Dalam penelitian ini, informan menjadi sumber data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive sampling, di mana informan ditetapkan sebelum penelitian dilakukan dengan kriteria-kriteria tertentu.
Informan pelaku yang akan memberikan keterangan tentang diri mereka, perbuatan, pikiran, interpretasi, atau pengetahuan mereka dipilih sebagai informan dalam penelitian ini (Sugiyono, 2017). Informan pelaku yang diambil adalah remaja-remaja pengguna narkoba di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra
"Insyaf".
Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan wawancara mendalam (Moleong, 2016). Wawancara mendalam dilakukan di lokasi penelitian, yaitu Balai Rehabilitasi Parmadi Putra "Insyaf", untuk memperoleh latar belakang dan faktor- faktor yang menyebabkan remaja menyalahgunakan narkoba. Instrumen peneliti yang digunakan meliputi buku catatan lapangan, alat rekam, dan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan sebelumnya berdasarkan arahan dari dosen pembimbing.
Proses analisis data kualitatif dilakukan secara sistematis, dengan menentukan data penting, menginterpretasikan data, mengelompokkan data ke dalam kategori tertentu, dan mencari hubungan antara kategori-kategori tersebut. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada metode Miles dan Huberman, yang meliputi tahap kodifikasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Moleong, 2016).
Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan teknik pengumpulan data yang tepat, diharapkan penelitian ini dapat menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang fenomena penyalahgunaan narkoba pada remaja di Balai Rehabilitasi Parmadi Putra
"Insyaf" dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konstruksi Sosial pada Lingkungan Keluarga
Konstruksi sosial dalam lingkungan keluarga memainkan peran penting dalam penyalahgunaan narkoba pada remaja yang menjalani proses rehabilitasi di Panti Sosial Permadi Putra Medan. Faktor utama yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba pada remaja tersebut meliputi aspek eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam konstruksi sosial remaja.
Dalam konteks ini, rendahnya kontrol perilaku oleh keluarga akan meningkatkan risiko perilaku penyalahgunaan narkoba pada remaja. Oleh karena itu, kontrol sosial keluarga sangat berpengaruh untuk mengurangi risiko penyalahgunaan narkoba pada remaja, terutama dalam upaya pencegahan.
Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba pada remaja ini dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pengalaman, pengamatan, dan persepsi remaja dalam melihat dunia.
Persepsi remaja mempengaruhi cara pandang mereka dalam menilai suatu fenomena, dan tindakan yang akan menjadi pengalaman bagi mereka. Seluruh hal ini kelak menjadi faktor sebab, akibat, dan tujuan dari remaja-remaja yang menggunakan narkoba.
Kajian konstruksi sosial pada remaja pengguna narkoba terkait dengan dimensi eksternal dalam konsep diri remaja. Dimensi eksternal ini melibatkan penilaian diri remaja melalui hubungan dan aktivitas sosial, nilai- nilai yang dianutnya, serta hal-hal di luar dirinya seperti sekolah, organisasi, dan agama.
Penggunaan narkoba menyebabkan keseluruhan aspek dimensi diri tersebut menjadi kabur dan tidak lagi menjadi perhatian dalam kehidupan remaja pengguna narkoba.
Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilaku remaja. Kondisi keluarga, baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki pengaruh pada remaja dalam hal penyalahgunaan narkoba. Keadaan keluarga yang tidak baik atau disfungsi dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba pada remaja. Sosialisasi dan nilai-nilai positif yang diajarkan oleh orangtua juga memainkan peran penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Pentingnya pembinaan remaja dalam keluarga juga harus didukung dengan pendidikan karakter. Langkah-langkah seperti menambahkan nilai kebaikan kepada anak,
menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan untuk berbuat baik, mengembangkan sikap mencintai untuk berbuat baik, dan pemantauan kontinu oleh orangtua dapat membantu dalam proses pembentukan karakter pada remaja.
Dalam keseluruhan penelitian ini, faktor keluarga dan konstruksi sosial remaja memegang peran kunci dalam mengurangi risiko penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Diperlukan upaya yang lebih serius dari keluarga dan lingkungan sekitar untuk membina dan mendukung remaja agar terhindar dari penyalahgunaan narkoba.
Konstruksi Sosial pada Lingkungan Pemukiman dan Sekolah
Dalam lingkungan pemukiman, konstruksi sosial yang ada dapat mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan narkoba pada remaja. Penelitian menunjukkan bahwa remaja cenderung mengadopsi norma dan nilai yang bertentangan dengan nilai pada umumnya. Mereka menganggap nilai-nilai yang berbeda tersebut sebagai solusi untuk masalah yang dihadapi oleh pengguna narkoba.
Lingkungan pergaulan atau teman sebaya juga memiliki pengaruh signifikan terhadap penyalahgunaan narkoba pada remaja. Teman sebaya yang memperkenalkan dan menyalahgunakan narkoba meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Lingkungan sekolah juga dapat menjadi faktor pendorong penyalahgunaan narkoba pada remaja. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan sekunder bagi remaja, memiliki peran dalam membentuk perilaku dan nilai- nilai mereka. Meskipun faktor lingkungan sekolah hanya disimpulkan sebagai faktor pendorong, bukan berarti sekolah tidak bertanggung jawab terhadap kasus penyalahgunaan narkoba. Lingkungan sekolah juga perlu ikut berperan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Penyalahgunaan narkoba pada remaja dapat dianggap sebagai bentuk penyimpangan nilai yang berkaitan dengan konsep budaya menyimpang atau deviant subculture. Budaya menyimpang merupakan bagian dari budaya yang dihasilkan oleh kelompok tertentu sebagai reaksi terhadap norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Sub-budaya independen adalah salah satu bentuk sub- budaya yang mengadopsi norma dan nilai secara "mandiri" yang bertentangan dengan norma dan nilai umum.
Banyak faktor dari lingkungan luar rumah yang mempengaruhi terjerumusnya remaja dalam penyalahgunaan narkoba.
Misalnya, kondisi rumah yang tidak harmonis, kurangnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, contoh yang salah dari anggota keluarga, serta jaringan pertemanan yang melibatkan pengguna narkoba. Remaja tergoda untuk mencoba narkoba karena mereka mencari kesenangan di luar lingkungan rumah yang dianggap tidak menyenangkan. Awalnya mereka mungkin tidak merasakan dampak negatif secara langsung, tetapi seiring waktu, mereka mulai merasakan efeknya. Meskipun sadar akan dampak buruknya, mereka tetap menggunakan narkoba karena menganggapnya sebagai pelarian dari masalah dan beban yang mereka hadapi.
Konstruksi sosial dalam masyarakat tempat tinggal informan juga dapat mempengaruhi sikap masyarakat terhadap penyalahgunaan narkoba. Masyarakat mungkin menyaksikan aktivitas penyalahgunaan narkoba secara biasa, acuh tak acuh, atau bahkan pura-pura tidak tahu. Hal ini membentuk suatu tatanan sosial yang tidak diinginkan dan menyebabkan peningkatan penyalahgunaan narkoba. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang narkoba juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan generasi sebelumnya. Meskipun masyarakat mengetahui bahwa penyalahgunaan narkoba adalah aktivitas ilegal, mereka memilih untuk menghindari masalah dan menjaga jarak.
Kesimpulannya, konstruksi sosial pada lingkungan pemukiman dan sekolah, serta pengaruh lingkungan luar rumah, seperti lingkungan pergaulan dan teman sebaya, dapat menjadi faktor pendorong penyalahgunaan narkoba pada remaja. Lingkungan sosial dan norma yang diadopsi oleh sub-budaya independen berkontribusi terhadap penyalahgunaan narkoba pada remaja. Penting bagi lingkungan pemukiman, sekolah, dan masyarakat secara keseluruhan untuk terlibat dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan membentuk norma yang mendukung gaya hidup yang sehat dan bebas dari narkoba.
Konstruksi Sosial pada Lingkungan Organisasi
Dalam konteks konstruksi sosial pada lingkungan organisasi, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Beberapa aspek yang dapat memainkan peran penting adalah interaksi sosial antara individu dan kelompok dalam organisasi, kesadaran umum dan khusus, serta pengalaman bersama dalam kelompok remaja yang menyalahgunakan narkoba.
Dalam organisasi remaja yang menggunakan narkoba, terdapat kesalingan pemahaman dan interaksi di antara individu dan kelompok. Hal ini memungkinkan adanya pergaulan sosial yang terjadi ketika mereka saling memahami tindakan dan pengalaman yang mereka alami. Intersubjektivitas menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan organisasi yang memfasilitasi interaksi sosial tersebut.
Remaja yang tergabung dalam kelompok penyalahgunaan narkoba sering kali memiliki pengalaman yang serupa, seperti kurangnya perhatian dari orangtua, dukungan lingkungan yang merugikan, dan pengalaman kurang menyenangkan. Kesamaan pengalaman ini membentuk pemahaman bersama tentang realitas sosial yang mereka alami, dan hal ini memperkuat ikatan di antara mereka.
Lingkungan organisasi tersebut menjadi wadah di mana mereka dapat saling memahami dan merasakan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masalah mereka.
Salah satu alasan mengapa remaja tertarik untuk menggunakan narkoba adalah karena mereka menghadapi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Masalah-masalah ini bisa berupa konflik dalam rumah tangga, tekanan sosial, masalah keuangan, atau dendam yang dipegang dalam diri mereka. Ketika penyelesaian masalah tidak ada, remaja cenderung merasa stres, jenuh, dan bingung, dan dalam lingkungan organisasi penyalahgunaan narkoba, teman-teman mereka yang juga menggunakan narkoba mungkin kurang memperhatikan masalah- masalah tersebut. Dalam situasi ini, penggunaan narkoba dianggap sebagai solusi utama untuk melarikan diri dari beban masalah yang mereka hadapi.
Faktor lain yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba adalah kebutuhan akan uang. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi, termasuk membeli narkoba, remaja seringkali melakukan berbagai cara, termasuk memberikan alasan palsu kepada orang terdekat mereka untuk mendapatkan uang.
Lingkungan organisasi yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dapat menjadi ancaman yang mempengaruhi remaja untuk
terlibat dalam penggunaan narkoba. Teman- teman dalam lingkungan organisasi tersebut dapat melakukan berbagai upaya untuk mempengaruhi remaja agar ikut menggunakan narkoba, ditambah dengan ketersediaan yang mudah untuk memperoleh narkoba, hal ini dapat membuat remaja terjerumus lebih dalam.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua remaja dalam lingkungan organisasi akan terpengaruh dan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Faktor lain seperti pendidikan, dukungan keluarga, pemahaman tentang risiko narkoba, dan kekuatan individu juga dapat memainkan peran dalam melindungi remaja dari penyalahgunaan narkoba.
Dalam upaya pencegahan
penyalahgunaan narkoba, penting bagi organisasi, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memahami remaja, serta memberikan alternatif yang lebih sehat dan positif untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. Hal ini melibatkan memperkuat ikatan sosial yang sehat, menyediakan sumber daya dan dukungan yang tepat, serta meningkatkan kesadaran akan risiko dan konsekuensi penyalahgunaan narkoba.
Interaksi Sosial Remaja Pengguna Narkoba Penyalahgunaan narkoba pada remaja memiliki dampak yang signifikan terhadap interaksi sosial mereka. Dalam lingkungan keluarga, remaja pengguna narkoba cenderung mengalami perubahan interaksi dengan anggota keluarga mereka. Mereka mungkin menarik diri, tidak lagi berkomunikasi dengan keluarga secara terbuka, atau bahkan menciptakan konflik dan ketegangan di rumah.
Interaksi sosial yang sehat dan harmonis antara anggota keluarga sering terganggu akibat penyalahgunaan narkoba.
Di lingkungan pemukiman dan sekolah, remaja pengguna narkoba juga dapat mengalami perubahan dalam interaksi sosial mereka. Mereka cenderung berkumpul dengan teman-teman sebaya yang juga menggunakan narkoba, membentuk kelompok yang saling mempengaruhi dalam penggunaan narkoba.
Interaksi sosial dengan teman sebaya yang tidak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba biasanya berkurang, sehingga remaja pengguna narkoba lebih banyak terlibat dalam lingkaran sosial yang tidak sehat.
Selain itu, lingkungan organisasi juga mempengaruhi interaksi sosial remaja pengguna narkoba. Jika mereka terlibat dalam
organisasi yang memiliki anggota yang juga menggunakan narkoba, interaksi sosial mereka cenderung terfokus pada penggunaan dan perolehan narkoba. Lingkungan organisasi tersebut dapat memperkuat pola perilaku negatif dan memperluas jaringan sosial yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.
Interaksi sosial yang dominan dengan sesama pengguna narkoba dalam berbagai lingkungan ini dapat menghasilkan efek negatif yang lebih luas. Remaja cenderung meniru perilaku dan sikap teman sebaya mereka, termasuk penggunaan narkoba. Mereka mungkin kehilangan pemahaman tentang norma sosial yang sehat, kehilangan kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang positif, dan terjebak dalam pola pergaulan yang merugikan.
Untuk mengatasi perubahan negatif dalam interaksi sosial akibat penyalahgunaan narkoba, diperlukan upaya rehabilitasi yang komprehensif. Proses rehabilitasi harus melibatkan pengembangan keterampilan sosial yang sehat, pemulihan hubungan keluarga, pembentukan jaringan sosial yang positif, dan pembelajaran alternatif untuk mengatasi masalah dan stres. Selain itu, dukungan keluarga, pendidikan yang efektif tentang bahaya narkoba, dan peran masyarakat dalam memerangi penyalahgunaan narkoba juga penting dalam mengubah pola interaksi sosial remaja pengguna narkoba menjadi lebih positif.
SIMPULAN
Konstruksi sosial pada lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam penyalahgunaan narkoba pada remaja. Faktor- faktor seperti pola asuh yang lemah dalam memberikan pengasuhan terkait pencegahan penggunaan narkoba dalam keluarga dapat menyebabkan remaja rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Lingkungan pemukiman/tempat tinggal dan sekolah juga memiliki peran dalam mendukung penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Lingkungan pemukiman yang memungkinkan adanya akses terhadap narkoba dan pengaruh teman sebaya yang juga menggunakan narkoba dapat meningkatkan potensi remaja untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.
Lingkungan organisasi juga menjadi faktor pendukung penyalahgunaan narkoba pada remaja. Organisasi kepemudaan yang terlibat dalam penggunaan narkoba dapat mempengaruhi remaja untuk terlibat dalam perilaku yang merugikan. Dalam rangka
mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba pada remaja, penting untuk memperkuat konstruksi sosial yang sehat dalam berbagai lingkungan. Upaya pencegahan dan rehabilitasi harus melibatkan peran keluarga dalam memberikan pengasuhan yang baik, peran sekolah dalam memberikan pendidikan tentang bahaya narkoba, dan peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang risiko dan dampak negatif penyalahgunaan narkoba melalui kampanye informasi yang efektif.
Dukungan sosial dan pembentukan jaringan sosial yang positif juga perlu ditingkatkan, sehingga remaja memiliki alternatif yang sehat dan positif dalam menjalin interaksi sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, S. (2012). Dampak narkotika pada psikologi dan kesehatan masyarakat. Jurnal Health and Sport, 5(2).
Asmanidar, A. (2021). Suluk dan Perubahan Perilaku Sosial Salik (Telaah Teori Konstruksi Sosial Peter L Berger dan Thomas Luckman).
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama- Agama, 1(1), 99–107.
Ditjenbud, T. (2000). Strategi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Indonesia.
Direktorat Jenderal Kebudayaan.
HARAHAP, T. G. (2022). PERANAN KEPOLISIAN MELAKUKAN UNDER COVER (PENYAMARAN) DALAM PENGUNGKAPAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA (Studi Penelitian Satuan Reserse Narkoba Polisi Daerah Sumut). Fakultas Hukum, Universitas Islam Sumatera Utara.
Hawari, D. (1991). Penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Johari, J., Husni, H., Subaidi, J., & Khairunisa, C.
(2023). Penyuluhan Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Pelajar di Sawang, Aceh Utara. Jurnal Pengabdian Sumber Daya Manusia, 3(1), 12–23.
Lubis, H. A. S., Silitonga, T. B., & Ali, Y. (2022).
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENCEGAHAN
DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA UNTUK MENDUKUNG PERTAHANAN NEGARA (STUDI PADA BIDANG REHABILITASI). Manajemen Pertahanan: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Manajemen Pertahanan, 7(1).
Moleong, L. J. (2016). Metode Penelitian Kualitatif.
Remaja Rosdakarya Offset.
Panuju, R. (2019). Komunikasi pemasaran:
pemasaran sebagai gejala komunikasi komunikasi sebagai strategi pemasaran.
Prenada Media.
Rahayuningrum, L. M., Nurhani, N., & Syaiful, Y.
(2019). HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEJADIAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA DI KLINIK PRATAMA BNN GRESIK. Journals of Ners Community, 10(1), 39–52.
Satriah, L. (2020). Bimbingan Konseling Pendidikan.
Mimbar Pustaka.
Setyowati, Y. (2005). Pola komunikasi keluarga dan perkembangan emosi anak (studi kasus penerapan pola komunikasi keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosi anak pada keluarga Jawa). Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1).
Subandri, A., & Widyarsono, T. (2021). Menumpas Bandar Menyongsong Fajar: Sejarah Penanganan Narkotika di Indonesia. Prenada Media.
Sugiyono. (2017). Metode Peneitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. CV Alfabeta.
Sulastiana, K. P. D., & SIP, S. H. (2021). Mengungkap Ekologi Kejahatan Narkotika. PT. Rayyana Komunikasindo.
Supratman, D. (2018). Prevalensi Usia Pemuda Dan Ketahanan Nasional (Narkotika Dan Ancaman Lost Generation). Jurnal Litbang Sukowati: Media Penelitian Dan Pengembangan, 1(2), 118–127.
Tarigan, I. J. (2017). Peran Badan Narkotika Nasional dengan Organisasi Sosial Kemasyarakatan dalam Penanganan Pelaku Penyalahgunaan Narkotika. Deepublish.