• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Risiko Penularan Covid 19 pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Faktor Risiko Penularan Covid 19 pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Sains dan Aplikasi April 2022 eISSN 2656 – 8446

21

Faktor Risiko Penularan Covid 19 pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh

Aris Winandar, Riski Muhammad

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Serambi Mekkah Alamat Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Penyebab penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan tidak hanya terjadi saat kontak dengan pasien yang positif COVID-19 tetapi bisa terjadi karena kontak antar kolega dan kontak di luar peraturan rumah sakit, misalnya saat mereka tidak merawat pasien, saat istirahat makan siang dan saat rapat, selain itu tenaga kesehatan bekerja di ruang terbatas yang tidak memungkinkan menjaga jarak fisik atau physical distancing dan tenaga kesehatan yang berkumpul tanpa menggunakan masker dan pelepasan APD yang salah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Faktor Risiko penularan Covid 19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021. Desain penelitian ini adalah analitik survey yang menjelaskan suatu keadaan atau situasi fenomena bisa terjadi kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas Kuta Alam sebanyak 44 orang.

Berdasarkan hasil uji statistik disimpulkan bahwa Ada hubungan hubungan kepatuhan memakai masker dengan dengan Risiko penularan Covid 19 (P.Value 0.003< α (0,05). Ada hubungan pengetahuan petugas kesehatan dengan risiko penularan Covid 19 pada (P.Value 0.002< α (0,05). Ada hubungan sikap petugas kesehatan dengan risiko penularan Covid 19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P.Value 0.001< α (0,05). Bagi petugas kesehatan agar lebih teliti dan mematuhi prosedur dalam menjalankan protokol kesehatan saat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat agar tidak tertular virus Covid-19.

Kata Kunci : masker, Pengetahuan, sikap, Covid-19 ABSTRACT

The cause of COVID-19 transmission to health workers does not only occur when in contact with patients who are positive for COVID-19 but can occur due to contact between colleagues and contacts outside of hospital regulations, for example when they do not treat patients, during lunch breaks and during meetings, In addition, health workers work in confined spaces where it is not possible to maintain physical distance or physical distancing and health workers who gather without wearing masks and removing the wrong PPE. Aceh in 2021. The design of this research is an analytic survey that explains a situation or situation where a phenomenon can occur, then an analysis is carried out using a cross-sectional approach. The population in this study were all health workers who worked at the Kuta Alam Public Health Center as many as 44 people. Based on the results of statistical tests, it was concluded that there was a relationship between adherence to wearing masks and the risk of transmission of Covid 19 (P.Value 0.003 < (0.05). There was a relationship between the knowledge of health workers and the risk of transmission of Covid 19 at (P.Value 0.002 < (P.Value 0.002< ( There is a relationship between the attitude of

(2)

22

health workers and the risk of transmission of Covid 19 transmission to health workers at the Kuta Alam Health Center, Banda Aceh City in 2021 (P. Value 0.001 <

(0.05). For health workers to be more thorough and comply with procedures in carrying out health protocols when providing health services to the public so as not to contract the Covid-19 virus.

Keywords : masks, Knowledge, attitudes, Covid-19 PENDAHULUAN

Coronavirus Disease 19 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau yang kini dinamakan SARS-CoV-2 yang merupakan virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas hingga pada kasus yang berat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal dan bahkan kematian. Manifestasi klinisnya muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah terjadi pajanan. Hingga saat ini masih diyakini bahwa transmisi penularan COVID-19 adalah melalui droplet dan kontak langsung, kecuali bila ada tindakan medis yang memicu terjadinya aerosol (misalnya resusitasi jantung paru, pemeriksaan gigi seperti penggunaan scaler ultrasonik dan high speed air driven, pemeriksaan hidung dan tenggorokan, pemakaian nebulizer dan pengambilan swab) dimana dapat memicu terjadinya resiko penularan melalui airborne (WHO., 2020)

Tenaga kesehatan merupakan profesi yang secara langsung melakukan interaksi dengan pasien terkonfirmasi Coronavirus desease 2019 (COVID-19) sehingga sangat rentan terpapar bahkan tertular penyakit infeksi (Qiu et al., 2020). Penyebaran COVID-19 sangat cepat karena penyebarannya dari manusia ke manusia, transmisi terjadi melalui droplet yang keluar dari batuk dan bersin (Han & Yang., 2020), selain itu penularan juga bisa melalui aerosol. Penularan yang begitu cepat dan radikal oleh virus ini dipengaruhi dari faktor lingkungan, kondisi imunitas dan sifat dari virus itu sendiri (Syafrida, 2020)

Kontak erat merupakan salah satu faktor risiko penularan COVID-19 pada tenaga kesahatan penyebab lain penularan COVID-19 adalah kurangnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) atau salah dalam menggunakan dan melepas APD selain itu faktor bekerja shif malam (kualitas tidur yang rendah) dan stress kerja berisiko terinfeksi penyakit. Dari berbagai faktor penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan maka perlu adanya sebuah studi literature untuk menjelaskan faktor risiko penularan COVID-19 serta cara untuk mencegah penularannya (Rara, 2020).

Seribu tujuh ratus dua puluh lima tenaga kesehatan yang berada di garis depan di Wuhan Cina terinfeksi Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus 2 (Sars Cov-2) (Ran et al. 2020), penularan ini diasumsikan telah tertular infeksi di rumah sakit (Dawei et al., 2020). Penularan pada tenaga kesehatan di Amerika mencapai 370 orang per 10.000 kasus dengan angka kematian pada tenaga kesehatan mencapai 5% (Nurul, 2021).

Pelaporan pada tanggal 22 September 2020 jumlah kasus positif COVID-19 di dunia mencapai 30.949.804 kasus dengan CFR 3,1% dan di Indonesia total kasus terkonfirmasi COVID-19 adalah 248.852 kasus dengan CFR 3,9%. Kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan di dunia mencapai 25 ribu yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, analis, farmasi dan yang lain .Satgas COVID-19 Indonesia melaporkan bahwa setiap 100 orang yang meninggal terdapat 6-8 orang yang merupakan tenaga kesehatan. Data yang masuk pada tanggal 1 Agustus jumlah kematian tenaga kesehatan di Indonesia akibat COVID-19 adalah 153 kasus (Parwanto, 2020).

(3)

Jurnal Sains dan Aplikasi April 2022 eISSN 2656 – 8446

23 Penyebab penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan tidak hanya terjadi saat kontak dengan pasien yang positif COVID-19 tetapi bisa terjadi karena kontak antar kolega dan kontak di luar peraturan rumah sakit, misalnya saat mereka tidak merawat pasien, saat istirahat makan siang dan saat rapat, selain itu tenaga kesehatan bekerja di ruang terbatas yang tidak memungkinkan menjaga jarak fisik atau physical distancing dan tenaga kesehatan yang berkumpul tanpa menggunakan masker dan pelepasan APD yang salah.

Penularan juga bisa terjadi karena menyentuh area yang terindikasi ada virusnya seperti di tempat umum dan fasilitas rumah sakit lainnya. Virus akan masuk ke saluran pernafasan jika seseoang menyentuh wajah dan hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu (Salma, 2020)

Dampak dari penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan seperti meningkatnya kecemasan, takut akan stigmatisasi negatif masyarakat, meningkatnya beban kerja dengan sumber daya yang tidak memadai dan pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di bawah standar, serta ketidakcukupan fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan yang menampung dan memberikan perawatan, selain itu petugas kesehatan khawatir tidak hanya dirinya yang terinfeksi tetapi juga menginfeksi rekan kerja dan anggota keluarganya (Rizka, 2021).

Peningkatan penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan terus bertambah dari waktu ke waktu meskipun usaha pencegahan telah dilakukan, menurut hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di Afrika Selatan faktor risiko penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan adalah usia, imunitas tenaga kesehatan dan komorbid seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit cardiovaskuler dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan merupakan hal yang bisa dicegah atau diminimalisir (Nany, 2020).

Di Provinsi Aceh sendiri, masih belum cukup data untuk dapat mengidentifikasi secara spesifik alasan atau penyebab keterpaparan Covid-19 pada Nakes. Akan tetapi, berdasarkan data SISDMK Dinkes Provinsi diketahui bahwa 349 dari 2.237 Nakes (16%) yang terpapar Covid-19 memiliki penyakit penyerta (komorbid). Ini menunjukkan bahwa Nakes dengan komorbid lebih rentan terpapar Covid-19. Jumlah Nakes perempuan yang komorbid dan terapar Covid-19 (215 kasus) lebih tinggi dibandingkan dengan Nakes laki- laki (134 kasus). Namun demikian, tingkat keterpaparan Nakes laki-laki yang komorbid terhadap Covid-19 (9,3%) lebih tinggi dibandingkan dengan Nakes perempuan yang komorbid (8,3%). Dari 2,237 Nakes yang pernah positif Covid-19 diketahui jenis komorbid (penyakit penyerta) yang dominan adalah sebagai berikut: Hipertensi (156 orang atau 7%); Diabetes Melitus (74 orang atau 3%); dan Penyakit Jantung (49 orang atau 2%).

Adapun jenis penyakit kronis yang umumnya ditemukan pada data Nakes yang positif Covid-19 (Profil kesehatan Aceh, 2020)

Berdasarkan hasil analisis data dari Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kota Banda Aceh per tanggal 8 Februari 2021, terdapat sebanyak 2.237 dari 32.618 Tenaga Kesehatan (Nakes) atau sekitar 7% yang terkofirmasi Covid-19. Pada umumnya, jumlah kasus keterpaparan Covid-19 pada Nakes ini paling tinggi terjadi pada kelompok usia 26-35 tahun (44%), sedangkan tingkat keterpaparannya (attack rate) paling tinggi terjadi pada kelompok usia adalah 46- 55 tahun (8,4%). Dari 2.237 Nakes, diketahui 771 orang (34%) berjenis kelamin laki-laki dan 466 orang (66%) berjenis kelamin perempuan (Dinkes Kota Banda Aceh, 2020)

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Puskesmas merupakan garda terdepan dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 karena berada di setiap kecamatan dan memiliki konsep wilayah. Dalam kondisi pandemi

(4)

24

COVID-19 ini, Puskesmas perlu melakukan berbagai upaya dalam penanganan pencegahan dan pembatasan penularan infeksi. Meskipun saat ini hal tersebut menjadi prioritas, bukan berarti Puskesmas dapat meninggalkan pelayanan lain yang menjadi fungsi Puskesmas yaitu melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama seperti yang ditetapkan dalam Permenkes Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Budi., 2020)

Transmisi Covid-19 dari pasien ke Nakes (viral load) juga dapat menjadi salah satu penyebab terpaparnya Covid-19 pada Nakes. Ditemukan bahwa viral load dari pasien asimptomatis adalah sama banyak dengan yang bergejala. Transmisi ini dapat terjadi melalui droplet (35%), inhalasi (57%), dan kontak langsung (8.2%). Perlu juga diperhatikan bahwa transmisi Covid-19 melalui aerosol tidak hanya berupa batuk atau bersin, tapi juga nafas normal. Saat menghembuskan nafas, sebanyak 1.03 x 105 hingga 2.25 x 107 RNA SARS-CoV-2 virus per jam (n=14) ke ruangan (26.9%, n=52). Kemudian, pada permukaan bekas sentuhan di rumah sakit ditemukan sebanyak 7.10 x 103 hingga 1.72 x 105 virus/cm2 . Sistem ventilasi yang kurang baik pada gedung rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya juga diduga dapat memicu risiko keterpaparan Covid-19 pada Nakes (Purwanto., 2020)

Satuan Tugas Pengendalian COVID-19 menerangkan hingga tingkat jumlah masalah aktif sebanyak 13,9%, meskipun total persoalan pasien sehat sebesar 82,9%, total penderita wafat sebesar 3,11%. Hasil survei menunjukkan 17% masyarakat menyangkal tidak memakai masker karena tidak mungkin tertular. Terdapat 33% menyebutkan bahwa tidak patuh memakai masker karena mengganggu pekerjaan, sejumlah 19% masyarakat tidak patuh karena pemerintah tidak memberi contoh. Tingkat ketidakpatuhan menggunakan topeng teratas terdapat di tempat makan sebanyak 30,8%, di wisma sebesar 21%, kawasan latihan publik sebanyak 18,8%, di jalur umum sebanyak 14%, kawasan piknik sebanyak 13,9%.

Tingkat ketaatan kelompok memakai topeng ketika cara pencegahan corona virus hanya 59,32% (Satgas Covid Kota Banda Aceh, 2020)

Penggunaan masker di masyarakat yang tidak tepat dikarenakan pengetahuan masyarakat yang minim terhadap resiko penularan COVID-19. Kesalaha pahaman dan hambatan dalam penggunaan masker,ketidaknyamanan fisik dan sosial terhadap presepsi sebagai hambatan utama dalam menggunakan masker. Terbukti maka argumen bukan memakai topeng merupakan merasa mengganggu serta topeng tidak memiliki pengaruh tentang penularan corona virus, justru mereka tidak mengetahui makna new normal atau pembiasaan. Diketahui bahwa masyarakat usai menerapkan topeng tetapi gaya penerapan kurang tepat (Fadli, 2021)

Berdasarkan data yang didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistis (BPS) nasional tanggal 7 sampai 14 September 2020 dengan responden berjumlah 90.967 orang yang didominasi masyarakat berusia kurang dari 45 tahun, menunjukkan bahwa dari segi tingkat pendidikan sebanyak 17 dari 100 orang responden atau sekitar 45 juta penduduk Indonesia dengan tingkat pendidikan rendah yaitu SD dan SMP 9 menganggap dirinya tidak akan tertular Covid-19, sedangkan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka persepsi akan kepercayaan tidak akan tertular Covid-19 semakin rendah (Heru, 2020)

Dari segi jenis kelamin menunjukkan perbedaan tingkat kepatuhan pada protokol kesehatan, pada jenis kelamin perempuan jauh lebih patuh dalam menjalankan protokol kesehatan daripada laki-laki, dengan dibuktikan sebanyak 94,8% perempuan patuh menggunakan masker daripada laki-laki yang hanya 88,5% dan untuk kepatuhan mencuci

(5)

Jurnal Sains dan Aplikasi April 2022 eISSN 2656 – 8446

25 tangan jenis kelamin laki-laki lebih rendah dengan presentase 69,5% sedangkan perempuan 80,1% (Joko, 2021)

Berdasarkan data mengenai trend kasus Covid-19 dari Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh. Angka kejadian kasus tahun 2019 sebanyak 173 kasus, pada tahun 2020 sebanyak 177 kasus sedangkan pada akhir September tahun 2021 sebanyak 226 kasus.

Kasus tersebut mayoritas dialami oleh petugas kesehatan di puskesmas dikarenakan kurang nya kelalaian saat melaksanakan tugas di lapangan (Laporan Kasie Surveilans Puskesmas Kuta Alam, 2020).

Akibat penggunaan masker yang masih salah timbul dampak dari penggunaan tersebut diantaranya prosedur dan pengetahuan terhadap pemakaian masker yang tidak tepat. Penggunaan masker yang kurang diperhatikan dari kebersihan tangan, sentuhan masker yang berlebihan serta menggunakan kembali masker sekali pakai, dan tingkat penularan semakin meningkat (Moch., 2020)

Berdasar wawancara yang peneliti lakukan pada seorang perawat ini, dirinya bekerja sebagai perawat yang pernah menangani pasien COVID-19.. Pengalaman yang dirinya gambarkan adalah ‘menegangkan’, hal itu karena dia sudah harus menangani kasus penyakit baru dimana dia sendiri belum memiliki banyak pengalaman. Perasaaan-perasaan yang muncul selama bertugas adalah takut dan khawatir, karena dia merasa dirinya sangat mudah terinfeksi oleh virus ini. Selain itu adanya perasaaan lelah secara psikologis dengan ritme kerja yang dapat begitu padat, sehingga terjadinya kelalaian maupun kelengahan dari pihak petugas kesehatan dalam melaksanakan protokol kesehatan secara komprehensif (Nany., 2020)

Disamping itu berdasarkan informasi dari kepala pusmeskas menerangkan bahwa transmisi penularan covid yang terjadi pada petugas kesehatan di Puskesmas Kuta Alam diakibatkan masih adanya petugas kesehatan yang lalai dan kurang patuh terhadap pelaksanaan protokol kesehatan pada saat menangani pasien yang berkunjung ke Puskesmas, disamping itu juga masih banyak ditemukan petugas kesehatan yang masih kurang melaksanakan tindakan preventive saat bertugas sehari-hari baik di puskesmas maupun saat di lapangan

Berdasarkan kondisi tersebut ditemukan adanya kasus covid-19 yang terjadi pada petugas kesehatan Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh yang di awali pada bulan Maret sampai Desember tahun 2020 sebanyak 10 orang petugas kesehatan. 3 diantaranya meninggal dunia. Selanjutnya di awal tahun 2021 hingga bulan Agustus ditemukan 7 kasus dan 1 orang meninggal dunia.

METODE

Desain penelitian ini adalah analitik survey yang menjelaskan suatu keadaan atau situasi fenomena bisa terjadi kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini menjelaskan hubungan tentang faktor-faktor yang menyebabkan suatu penyakit bisa menyerang di suatu kelompok masyarakat.

Pendekatan cross- sectional adalah penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan yang bekerja di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh sebanyak 44 responden, data dari bulan Januari-Desember tahun 2021. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling, dimana seluruh populasi menjadi sampel penelitian sebanyak 44 responden menjadi sampel dalam penelitian.

(6)

26

HASIL PENELITIAN Kepatuhan memakai masker

Hasil penelitian terhadap kepatuhan responden terhadap penggunaan masker ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Memakai Masker Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

No Kepatuhan memakai masker Frekuensi % 1

2

Melakukan Tidak melakukan

25 19

56.8 43.2

Total 44 100

Dari data pada Tabel 1 diketahui bahwa dari 44 responden, yang patuh memakai masker sebanyak 25 responden (56.8%).

Data penelitian tentang Hubungan Kepatuhan Memakai Masker Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 ditunjukkan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Hubungan Kepatuhan Memakai Masker Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

Data pada table 2 menunjukkan bahwa dari 25 responden yang patuh melakukan protokol kesehatan ternyata sebanyak 24 responden (96,0%) terjadi penularan Covid 19, dan dari 19 orang yang tidak patuh melakukan protokol kesehatan sebanyak 52,6% terjadi penularan Covid 19.

Pengetahuan

Hasil penelitian terhadap pengetahuan responden terhadap resiko penularan Covid 19 ditunjukkan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

No Pengetahuan Frekuensi %

1 2

Baik

Kurang Baik

32 12

72.7 27.3

Total 44 100

Data Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 44 responden, mayoritas responden yang memiliki pengetahuan baik terhadap penularan Covid 19 yaitu sebanyak 32 responden (72.7%).

Data penelitian tentang Hubungan Pengetahuan Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh ditunjukkan dalam Tabel 4.

No. Kepatuhan memakai masker

Penularan Covid-19

Total P.

Value

Nilai Alpha

(α) Ada Tidak ada

f % f % n %

1 2

Melakukan Tidak melakukan

24 10

96.0 52.6

1 9

4.0 47.4

25 19

100

100 0,003 0,05

Jumlah 34 10 44 100

(7)

Jurnal Sains dan Aplikasi April 2022 eISSN 2656 – 8446

27 Tabel 4. Hubungan Pengetahuan Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga

Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

Data Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 32 responden yang memiliki pengetahuan baik ternyata sebanyak 29 responden (90.6%) terjadi penularan Covid 19, dan dari 12 orang dengan pengetahuan kurang baik ternyata sebanyak 41,7% juga terjadi penularan Covid 19.

Sikap

Hasil penelitian terhadap Sikap Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh ditunjukkan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Sikap Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

No Sikap Frekuensi %

1 2

Baik

Kurang Baik

26 18

59.1 40.9

Total 44 100

Data Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 44 responden yang memiliki sikap baik Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh sebanyak 23 responden (59.1%).

Data penelitian tentang Hubungan Sikap Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 ditunjukkan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Hubungan Sikap Dengan Risiko Penularan Covid 19 Pada Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021

Data dari Tabel 6 diketahui bahwa dari 26 responden yang memiliki sikap baik ternyata sebanyak 25 responden (96,2%) terjadi penularan Covid 19, dan dari 18 orang dengan sikap kurang baik ternyata 50,0% terjadi penularan Covid 19.

No. Pengetahuan

Penularan Covid-19

Total P.

Value

Nilai Alpha

(α) Ada Tidak Ada

F % f % n %

1 2

Baik

Kurang Baik

29 5

90.6 41.7

3 7

9.4 58.3

32 12

100

100 0,002 0,05

Jumlah 34 10 44 100

No. Sikap

Penularan Covid-19

Total P.

Value

Nilai Alpha

(α) Ada Tidak Ada

F % F % n %

1 2

Baik

Kurang Baik

25 9

96.2 50.0

1 9

3.8 50.0

26 18

100

100 0,001 0,05

Jumlah 34 10 44 100

(8)

28

PEMBAHASAN

Kepatuhan memakai masker

Dari hasil uji chi square yang dilakukan maka hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan kepatuhan memakai masker dengan risiko penularan Covid 19 pada pekerja di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P.Value 0.003< α (0,05).

Kepatuhan merupakan perilaku pemeliharaan kesehatan yaitu usaha seseorang untuk memenuhi kesehatan atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha penyembuhan apabila sakit. Pengertian kepatuhan menurut konformitas (conformity) merupakan perubahan perilaku atau keyakinan sebagai akibat dari adanya tekanan kelompok. Shaw menyatakan bahwa kepatuhan (compliance) berhubungan dengan prestise seseorang dimata orang lain.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizka (2021) Disamarinda menunjukkan Hasil uji korelasi chi square pada kepatuhan memakai masker dengan penularan covid-19 menunjukan p value 0,021 dengan tingkat signifikan 0,05.

Karena p value lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Penularan covid-19 yang terjadi pada petugas kesehatan tidak terlepas dari pemahaman maupun pengetahuan serta kepatuhannya dalam menjaankan aturan protokol kesehatan yang sudah diberlakukan dalam upaya pencegahan penularan saat menjalankan tugas serta memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pengetahuan

Dari hasil uji chi square yang dilakukan maka hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan dengan risiko penularan Covid 19 pada pekerja di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021. (P.Value 0.002< α (0,05).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Orang yang tahu disebut mempunyai pengetahuan karena pengetahuan merupakan salah satu aspek perilaku yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang dilakukan

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurul (2021) di Padangsimpuan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan dukungan keluarga menjalankan protokol kesehatan berdasarkan hasil uji statistic didapatkan nilai P.value sebesar 0,002< 0,05

Sikap

Dari hasil uji chi square yang dilakukan maka hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan sikap dengan risiko penularan Covid 19 pada pekerja di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P.Value 0.000< α (0,05).

Sikap petugas kesehatan dalam menjalankan protokol kesehatan memiliki hubungan yang erat dengan penularan covid, sikap dipengaruhi oleh pemahaman petugas kesehatan akan dampak buruk yang diterima bila melanggar prtokol kesehatan maupun dikarenakan kelalaian dalam menjalankan tugas. Kepatuhan dan kedisiplinan menjadi bagian dari kredibilitas dalam melaksanakan protokol kesehatan secara komprehensif

(9)

Jurnal Sains dan Aplikasi April 2022 eISSN 2656 – 8446

29 Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Salma (2020) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan risiko penularan covid-19 dimana ditemukan berdasarkan hasil uji statistic bahwa nilai p.value (0,001<) α (0,05).

KESIMPULAN

Ada hubungan kepatuhan memakai masker dengan dengan Risiko Transmisi penularan Covid 19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P.Value 0.003< α (0,05).

Ada hubungan pengetahuan petugas kesehatan dengan Risiko Transmisi penularan Covid 19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021(P.Value 0.002< α (0,05).

Ada hubungan sikap petugas kesehatan dengan Risiko Transmisi penularan Covid 19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh Tahun 2021 (P.Value 0.001< α (0,05).

DAFTAR PUSTAKA

Budi., 2020. Potensi Herbal Dalam Pencegahan dan Penanganan Pasien CoVID-19 Diah.,2019 Corona virus Disease

Fadli., 2021. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan pada Tenaga Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Covid-19

Heru., 2020 Coronavirus : Penyakit Lama, Virus Lama, Kemasan baru.

Idah., 2020. Pandemik Covid-19: Analisis Perencanaan Pemerintah dan Masyarakat dalam Berbagai Upaya Pencegahan

I gusti., 2021. Model Edukasi Pencegahan Dini Penyebaran Covid-19 di Bali

Joko., 2021. Survei Mitigasi Risiko Covid-19 Pada Tenaga Kesehatan Di Daerah Istimewa Yogyakarta

M.Fatkul., 2021. Pengalaman Masyarakat Dalam Mencegah Penularan Covid-19

Moch., 2020. Penanganan Pelayanan Kesehatan Di Masa Pandemi Covid-19 Dalam Perspektif Hukum Kesehatan

Muhyidin., 2020. Covid-19, New Normal dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia Nany., 2020. Penyakit virus corona baru (Covid-19)

Nimas., 2020. Dampak Psikologis Pandemi Covid-19

Pada Petugas Rekam Medis

Nurul., 2021. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Pencegahan Covid-19 Di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua

Parwanto., 2020. Virus corona (2019-nCoV) Penyebab COVID-19

Rizka., 2021. Kecemasan Tenaga Kesehatan Dalam Menghadapi Covid-19 Rara.,2020. Karakteristik Klinis Penyakit Coronavirus 2019

Salma., 2020. Analisis Pengaruh Tingkat Kematian Akibat Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Masyarakat Di Indonesia

Syafrida., 2020. Bersama Melawan Virus Covid 19 di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Dari Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa permasalahan guru biologi di SMAN Unggul Kota Banda Aceh pada pelaksanaan pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 pada

Hasil penelitian menjelaskan bahwa dalam pengurangan limbah medis kedua puskesmas melakukan pemilahan limbah medis, pengangkutan internal limbah medis dilakukan oleh petugas cleaning