Sedangkan 83% siswa menjawab selalu aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah, 14% kadang-kadang, 3% kurang, dan dari 36 responden tidak ada yang pernah. Sedangkan 75% siswa menjawab aktif dalam kegiatan keagamaan (pendidikan agama), 19% kadang-kadang, 6% kurang, dan dari 36 responden tidak ada yang pernah.
Rumusan Masalah
Dengan dasar pemikiran di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul: “Perkembangan Perilaku Siswa dalam Meningkatkan Prestasi Akademik PAI di SMA Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima.”. Bagaimana mengenalkan metode pengembangan perilaku siswa dalam meningkatkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Untuk menambah pengetahuan bagi peneliti dan sebagai kontribusi bagi SMA Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima.
Prilaku Siswa
Perilaku merupakan reaksi atau tanggapan seseorang terhadap rangsangan dari luar karena perilaku tersebut terjadi melalui proses interaksi antara individu dengan lingkungannya sebagai keadaan mental berpendapat, berpikir, dan berperilaku yang merupakan cerminan dari berbagai aspek, baik fisik maupun non fisik. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus dan pernyataannya (Yusuf), perilaku dibedakan menjadi dua, yaitu.
Prestasi Belajar
Para ahli yang menganut aliran kognitif berpendapat bahwa belajar merupakan peristiwa internal, artinya belajar hanya dapat terjadi apabila ada kemampuan dalam diri orang yang belajar. Hasil belajar atau prestasi belajar merupakan pola perubahan, nilai, sikap, penghayatan dan keterampilan. Menurut Mulyono Abdurahman, prestasi belajar adalah kemampuan yang dicapai anak setelah menjalani kegiatan belajar (Nara Sudjana, 1990).
Sedangkan menurut Keller yang dikutip oleh Muyono Abdurahman, prestasi belajar adalah kinerja nyata yang ditunjukkan anak melalui upaya menyelesaikan tugas belajar. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan belajar adalah proses perubahan pada diri seseorang berupa tingkah laku baru, sebagai hasil pengalaman dan latihan secara sadar. Macam-macam prestasi belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam belajar, yang ditunjukkan dengan tingkat prestasinya.
Menurut Muhibbin Syah dalam bukunya Psychology of Learning beliau menyatakan: “pada prinsipnya perkembangan hasil belajar yang ideal mencakup seluruh ranah psikologis yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa” (Muhib bin Syah, 2002: 150) . Menurut Gegne, dengan tujuan pembelajaran yang berbeda, diperlukan kondisi pembelajaran khusus tertentu untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan. Dari uraian teori belajar dapat dipahami bahwa banyak hal yang dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang, antara lain :.
Kecerdasan dasar dan sifat-sifat yang dimiliki siswa sejak lahir mempunyai pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar siswa dalam bidang tertentu. Minat dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Jika seseorang bersenang-senang dan tertarik pada matematika, ia akan berusaha sukses dalam keseluruhan proses pembelajaran. Sebaliknya jika ia tidak menikmatinya maka ia akan belajar dengan rasa terpaksa, menurutnya proses belajar hanya sekedar formalitas dan belajar menjadi tidak bermakna.
Pendidkan Agama Islam (PAI) 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Ahmad Marimba (1962:23) Pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam dan mengarah pada pembentukan kepribadian utama menurut standar Islam. PAI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP dan SMA GBPP Kurikulum 1994 menyatakan bahwa: Yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik agar beriman, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam dengan cara mengajar dan/atau kegiatan pembinaan dengan memperhatikan keharusan menghormati agama lain dan. Berdasarkan uraian di atas secara garis besar dapat dikatakan bahwa kinerja akademik pendidikan agama Islam berhasil ditinjau dari indikator setiap mata pelajaran yang disajikan dalam satu semester.
Nasroem Haroem (2001:38) menyatakan bahwa landasan ajaran agama Islam yang kedua adalah As-sunnah, yang berarti segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan mengenai hukum. Sedangkan dari uraian penulis kedua dapat disimpulkan bahwa landasan pendidikan agama Islam yang kedua adalah As-Sunnah yaitu perkataan, perbuatan dan ketetapan yang harus dicontoh sebagai pedoman hidup umat Islam. Buku metodologi khusus pendidikan agama Islam, Zairini (1993:3) menjelaskan bahwa: “Tujuan pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan formal Indonesia dapat dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.”
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah membimbing anak menjadi muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh, berakhlak mulia, dan berguna bagi umat beragama dan negara. Penyelesaian Pendidikan Agama Islam yang diberikan pada jenjang sebelumnya memberikan pendidikan dan ilmu agama Islam. Dari uraian penulis dapat disimpulkan bahwa yang sangat diperlukan adalah tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membimbing dan membentuk peserta didik agar dapat menjadi hamba yang bertakwa, teguh iman, serta taat dan berakhlak mulia. adalah. .
Jenis Penelitian
Lokasi dan Objek Penelitian
Definisi Operasional Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat masing-masing untuk menggambarkan variabel-variabel tersebut. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah melihat promosi perilaku siswa dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam. Dan data variabel dikumpulkan berdasarkan kenyataan siswa di lapangan, tanpa diberikan perlakuan khusus, sehingga dilihat dari sifat penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat komparatif.
Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Soromandi Kab.Bima 2. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling atau pengambilan sampel secara purposive. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model kontingensi Fidler efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika.
Oleh karena itu penulis akan memilih atau menentukan sampel untuk mempermudah tugas peneliti.Sampel dalam penelitian ini adalah 2 orang guru pendidikan agama Islam (PAI) dan 36 siswa kelas X, XI dan XII dengan jumlah seluruhnya 6 ruang kelas. . Oleh karena itu sampel penelitiannya adalah siswa SMA N 1 Soromandi Kabupaten Bima yang berjumlah 36 orang dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam penelitian ini data diperoleh dari dokumen berupa daftar nama dan kelas siswa di SMA Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima.
Teknik Analisis Data
Gambaran Umum SMA Negeri 1 Soromandi Kecematan Soromandi Kabupaten Bima
Berada di kawasan yang mudah dikenali karena berseberangan dengan SLTP Negeri 1 Soromandi dan dekat dengan Kantor Desa Bajo. Fasilitas cukup karena SMA Negeri 1 Soromandi merupakan salah satu SMA yang baru menerima DAK. Peranan guru dalam proses belajar mengajar sangatlah penting karena agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar diperlukan tenaga pengajar/guru yang bertanggung jawab terhadap mata pelajaran yang diajarkannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. seperti adanya penjaga sekolah dalam hal ini pegawai yang sangat membantu dalam menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan dan keindahan sekolah.
Sarana dan Prasarana merupakan salah satu hal yang sangat penting dan merupakan sarana pendidikan yang sangat menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan. Sarana penunjang pendidikan yang dimiliki SMA Negeri 1 Soromandi Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima cukup memadai.
Pembinaan Perilaku Siswa Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMAN 1 Soromandi Kabupaten Bima
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa dari 36 responden, terdapat 28 orang (77,8%) menyatakan selalu, 6 orang (16,7%), kadang-kadang mengatakan 2 orang (5,5%), mengatakan kurang, dan tidak pernah ada, yang menyatakan tidak pernah. . Disebutkan juga bahwa dengan mengikuti kegiatan OSIS dan pramuka, mahasiswa akan mengembangkan jiwa kepemimpinan, keterampilan, kreativitas dan kemandirian. Berdasarkan data tersebut dapat dipahami bahwa dari 36 orang yang menjawab, terdapat 30 orang (83%) yang menjawab selalu, 5 orang (14%) yang menjawab kadang-kadang, 1 orang (3%) yang menjawab kurang, dan tidak ada yang menjawab tidak pernah.
Dapat kita simpulkan bahwa masih banyak yang masih aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan Perilaku Siswa di SMA Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima memberikan pendampingan kepada anak hingga mampu memahami dirinya baik dari segi kemampuan, bakat dan minatnya serta pada akhirnya mampu beradaptasi baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. lingkungan (wawancara, 19 Maret 2016). Berdasarkan data tersebut, kita dapat memahami bahwa dari 36 responden, 27 orang (75%) mengatakan selalu, 7 orang (19%) kadang-kadang, 2 orang (6%) lebih jarang, dan tidak ada yang pernah.
Upacara yang digelar untuk menumbuhkan perilaku terpuji ini juga merupakan bagian dari strategi sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMA Negeri 1 Soromandi Kabuenpat Bima. Perkembangan perilaku yang dicontohkan guru terbukti melalui berbagai tindakan, salah satunya adalah bentuk kedisiplinan yang diterapkan oleh Gutu, misalnya tepat waktu saat masuk kelas dan menyelesaikan kelas, selalu berpakaian rapi dan selalu patuh. kode etik guru di sekolah menengah negeri 1 Soromandi Kabuenpat. Ada beberapa prinsip dalam proses kerjasama pengembangan guru terpuji oleh guru BK (Bimbingan Konseling) dan PAI (Pendidikan Agama Islam) yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Soromandi Kabuenpat.
Metode Pembinaan Perilaku Siswa Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 1 Soromandi Kabuenpat Bima
Hal ini juga dapat dilakukan misalnya dengan memberi contoh kepada siswa guru yang disiplin, selain itu guru selalu berusaha menghilangkan citra guru sebagai polisi sekolah, yang mencari-cari kesalahan anak hanya dengan berteman dengan siswanya di sekolah. seperti sekolah Contohnya seperti ketika guru PAI bertemu dengan anak-anak, mereka selalu berpegangan tangan sehingga guru PAI memberikan penilaian moral kepada siswanya, jika baik maka mereka akan dipuji dan diberi motivasi untuk memperbaiki, namun jika ada yang salah seperti berpenampilan rapi, maka mereka akan diberikan teguran dan pengertian serta kasih sayang yang tulus kepada sang anak. Dapat disimpulkan bahwa Gu selalu memberikan contoh keteladanan kepada siswa dalam mengembangkan perilaku di sekolah. Artinya dalam proses pengembangan akhlak mulia peserta didik, hendaknya peserta didik terus dibiasakan.
Salah satu cara yang sangat berhasil dalam proses pengembangan perilaku siswa adalah dengan memberikan nasehat yang mengandung nilai-nilai moral yang luhur. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa dari 36 responden, sebanyak 32 orang (88%) menyatakan selalu, 2 orang (6%) kadang-kadang, dan kurang dari 2 orang (6%), dan tidak ada yang menyatakan tidak pernah. Dengan demikian terlihat bahwa metode pengembangan akhlak mulia dengan perhatian ini lebih menekankan pada pemahaman guru terhadap aspek perkembangan dan kejiwaan peserta didik dalam pelaksanaan pengembangan akhlak.
Dapat kita simpulkan bahwa guru selalu menghukum siswa yang melanggar atau tidak menaati peraturan sekolah. Ranah kognitif (berkaitan dengan berpikir, pengetahuan dan penalaran) difokuskan pada kemampuan siswa dalam berpikir dan bernalar, yang meliputi kemampuan siswa dalam mengingat dan memecahkan masalah, yang menuntut siswa untuk menghubungkan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Ranah afektif (berkaitan dengan perasaan/kesadaran, seperti perasaan senang atau tidak senang yang memotivasi seseorang untuk memilih apa yang disukainya) diarahkan pada kemampuan siswa untuk belajar mengapresiasi nilai dari benda-benda yang ditemuinya melalui perasaan, tanpa memandang pada apakah benda tersebut. adalah orang atau benda, serta peristiwa.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran