ENTERPRENEURSHIP PEREMPUAN BUGIS PEDAGANG PAKAIAN DI PASAR BUTUNG MAKASSAR (Kajian Sosiologi Gender)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
ISNA WINDARYANI 10538 02206 11
JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016
KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI
Nama : Isna Windaryani
Stambuk : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi Pembimbing : Ir. H. M. Saiful Saleh. M.Si
Dengan Judul : Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
Konsultasi Pembimbing I
No Hari/Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan
Catatan:
Mahasiswa hanya dapat mengikuti ujian skripsi jika sudah konsultasi ke dosen pembimbing minimal 3 kali
Mengetahui,
Ketua Jurusan pendidikan Sosiologi
Dr. H. Nursalam, M.Si.
NBM. 951 829
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Alamat : Jalan Sultan Alauddin No. 259 Fax (0411) 860 132 Makassar 90221www.fkip-unismuh-info
KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI
Nama : Isna windaryani
Stambuk : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi Pembimbing : Dr. Hj. Ruliaty. M.M
Dengan Judul : Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
Konsultasi Pembimbing II
No Hari/Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan
Catatan:
Mahasiswa hanya dapat mengikuti ujian skripri jika sudah konsultasi ke dosen pembimbing minimal 3 kali
Mengetahui,
Ketua Jurusan pendidikan Sosiologi
Dr. H. Nursalam, M.Si.
NBM. 951 829
ii
LEMBAR PENGESAHAN Nama : Isna Widaryani
NIM : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
Makassar, Maret 2016 Disetujui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Ir. H. M. Saiful Saleh. M.Si Dr. Hj. Ruliaty. M.M
Mengetahui,
Dekan FKIP Unismuh Makassar Ketua Jurusan
Pendidikan Sosiologi
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Dr. H. Nursalam, M.Si
NBM. 858 625 NBM. 951 829
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING Nama : Isna Windaryani
NIM : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi :Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.
Makassar, Maret 2016 Disetujui oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Ir. H. M. Saiful Saleh. M.Si Dr. Hj. Ruliyati. M.M
Mengetahui,
Dekan FKIP Unismuh Makassar Ketua Jurusan
Pendidikan Sosiologi
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Dr.H. Nursalam, M.Si
NBM. 858 625 NBM. 951 829
iv
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Isna Windaryani
NIM : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai skripsi ini, saya yang menyusun sendiri skripsi ini (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Maret 2016 Yang membuat perjanjian
Isna Windaryani NIM 10538 02206 11
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221
v
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :Isna Windaryani
NIM : 10538 02206 11
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Judul Skripsi : Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri, bukan hasil jiplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya, dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Maret 2016 Yang membuat pernyataan
Isna Windaryani NIM 10538 02206 11
vi Jangan Mengeluh,
Tidak ada orang yang suka mendengar Keluhan orang lain.
Diamlah,
Lebih banyaklah bertindak.
Bertindak memang tidak menjamin sukses.
Tapi tiada sukses yang bisa dicapai tanpa tindakan
Kupersembahkan karya sederhana ini spesial Sebagai tanda cinta kasihku kepada ibunda, keluarga, sahabat, agama, almamaterku, bangsa dan Negara.
Terima kasih bunda. . . . Peluk dan cium anakmu. . . .
HALAMAN PNNGESAHAN
Skripsi atas nama Isua Windaryani, NIM 10538022}6fi diterima dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muharnrnadiyah Makassar Nomor: 303 Tahun 1437 H12015 M, Sebagai salah satu syarat gune mempcroleh Gclar Sarjsns Pendidiknn pada
Jurusan Pendidikan Soaiologi Fakultas Keguruar dan ilmu Pendidikan Universitas Muhanmadiyah Makassm, Yudisium pada hari selasa tanggd 23 Februari ?016.
30 Rabiul Awal, 1438 H
fu.lakassar.
30 Desember 2*16 }ul
Fenga'*l'as {imum
ii:ila
t:i,r-etaris l:ii cqr ii
PANI'TIA UJI,TH
: Dr. H. Irwan Akib" h,'I.Pd.
: Dr. H. Andi Sulirj Syamsuri, : Khaenutlin- S.Pd., M.Fd.
!
.
tlr. Ft. lJiu'salarn, \{.Si.2.
Suardi, 5i.Pd., h4.Pd.3. llr
Hj Ruiiary. M.M.4.
Frof. Dr. Danuan lvIanda. h{.Hrun.Mengetahui
ictrikat S*si*l*gi
t
Ketua.lurxsaa
\81'I:358 !iB1{; q5182!}
1.1.
Lleha:r
l:rra \\itdaryani 105380?206t I . Pendidikan Sosialogi
i
. Keguruan dan llmu Pendidikanitelin
dan diperiksa ulattg. sklipsi ini telah memenuhi syarat *rltrlk :-JSUng.lauabkatt di depan ttm penguji sktrpsi Faliultas Kegltnian ilan ilirtu kan I- n-n ersitas Muhatnmadiyah i\'lakassar.fulakassar, 30 Desemher 2fil{:
Disahkan oleh:
Pe.inlririrbrng I
a.\
i
- --"J-i{- '-a
I 4u-
Ir. H. *I. Syaiful S-.a_Ieh"
R!5i
Fe.rnbirnbing 11
#
Dr. Hi.RuHaH.M
Hetm Jurusatr idikan So-tiak:gi Mengetahui
i
Dr, II..{ndi I
-'ffi-. -r*'
-eeffi
\B\!:
85S 615vii ABSTRAK
Isna Windaryani, 2016. Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakaian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender). Skripsi. Jurusan Pendidikan Sosiologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Universitas Muhammadiyah Makassar (dibimbing oleh H. Saiful Saleh dan Hj. Ruliati).
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana entrepreneurship perempuan Bugis pedagang pakian dan bagaimana bias gender terhadap peranan perempuan Bugis dalam berdagang di Pasar Butung Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih terperinci entrepreneurship perempuan Bugis serta bias gender yang di rasakan Perempuan Bugis dalam berdagang.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, penggunaan motode ini digunakan untuk mengetahui suatu permasalahan sosial yang ada di masyarakat yakni salah satu diantaranya bias gender pada perempuan Bugis yang berjualan di Pasar Butung Kota Makassar. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.
Dari hasil penelitian dengan menggunakan metode wawancara dapat disimpulkan bahwa entrepreneuship Perempuan Bugis Pedagang Pakaian Di Pasar Butung Makassar memungkinkan dalam membantu kestabilan ekonomi keluarga, terlebih lagi pekerjaan sebagai pedagang merupakan pekerjaan yang mudah dan cocok bagi prempuan. Bias Gender Terhadap Peranan Perempuan Bugis dalam Berdagang di Pasar Butung Makassar dapat dikatakan tidak terlalu nampak, seiring perkembangan zaman perempuan diperbolehkan dalam membantu perekonomian keluarga, meskipun tidak berlaku umum disebabkan pada beberapa informan masih mengeluhkan stigma yang beredar di sebagian masyarakat; bahwa perempuan yang berkerja sebagai pedagang akan sulit mengurusi urusan rumah tangga. Tindakan atas rasionalitas ini dapat dikaji berdasarkan tindakan rasionalitas menurut Max Weber yang dalam hal ini mengansumsikan tiap manusia melakukan sebuah tindakan berdasarkan balasan atau keuntungaan yang diberikan orang lain atas tindakan tersebut.
Kata Kunci: Entrepreneurship, Perempuan Bugis, Gender
viii
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur Alhamdulillah Penulis Panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan hidayah-nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh ummatnya yang tetap istiqamah pada ajaran islam.
Segala usaha dan upaya telah dilakukan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin, namun penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan sebagai akibat keterbatasan kemampuan.
Olehnya itu, saran, kritik dan koreksi dari berbagai pihak demi perbaikan dan penyempurnaan akan penulis terima dengan lapang dada.
Penulis telah berusaha untuk menjadikan skripsi ini sebagai sebuah karya yang bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Namun dibalik semua itu saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perbaikan menuju kesempurnaan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa melangkah untuk mencapai suatu tujuan, hambatan dan rintangan menemani silih berganti. Namun berkat rahmat dan hidayah-Nya di sertai usaha dan do’a serta ikhtiar sehingga semua itu dapat dijalani dengan ikhlas dan tawadhu.
ix
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun penulis mengharapkan semoga Skripsi ini dapat bermanfaat khusunya bagi jurusan sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar dan bagi dunia pendidikan umumnya.
Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ir. H. M. Saiful Saleh. M.Si Selaku Pembimbing 1 yang telah menyisihkan sebagian waktu dalam membimbing penulis, dan juga kepada Dr. Hj. Ruliaty. M.M selaku pembimbing 2 yang bersedia menyedikan cukup waktu dan bimibingan yang bermafaat dalam merampungkan penulisan skripsi ini.
Terimakasih pula kepada Bapak Dr. A. Syukri Syamsuri, M.Hum selaku Dekan Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, beserta jajarannya. Serta Bapak Dr. H. Nursalam, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar yang selalu membuat kebijakan-kebijakan dalam meringankan mahasiswa yang mengemban studi khususnya di Prodi Pendidikan Sosiologi.
Terimakasih pula kepada Bapak Dr. Muhammad Nawir S.Ag, M.Pd sebagai Dosen Penasehat Akademik selama penulis menjalani perkuliahan di Jurusan Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar. Serta taklupa pula kepada Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah makassar.
x
penulis dalam keadaan sekarang ini. Ibunda tercinta Syamsiah yang atas cinta, saying dan ketulusannya menjadi semangat tersendiri dalam menjalani tugas ilmiah ini.
saudara-saudaraku, terima kasih atas dukungan, doa dan perhatian yang tetap setia mendukungku dalam suka duka hinga detik ini. khusunya Sosiologi kelas E angkatan 2011 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas segalanya.
Terakhir, kepada semua pihak yang telah berpartisipasi atas penulisan Proposal ini, senior-senior yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu terimakasih tentu saya ucapkan atas sumbangan ide-ide pemikirannya, referensi- referensi dan kritikannya pada saat penulisan skripsi ini.
Demikianlah yang penulis dapat sampaikan, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi bahan masukan bagi dunia pendidikan.
Atas segala kesalahan dan kekurangannya penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya.
Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.
Peneliti
ISNA WINDARYANI
x DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERJANJIAN ... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ...…. viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Konsep Entrepreneurship... 6
B. Konsep Perempuan Bugis ... 10
C. Konsep Tentang Perdagangan ... 15
D. Teori Gender ... 27
E. Kerangka Pikir ... 37
xi
C. Defenisi Operasional... 39
D. Instrumen Penelitian ... 40
E. Teknik Pengumpulan Data... 41
F. Teknik Analisis Data ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43
A. Gambaran Umum Kota Makassar ... 43
B. Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakian di Pasar Butung ... 51
C. Bias Gender Peranan Perempuan Bugis Dalam Berdagang di Pasar Butung ... 57
D. Pembahasan Masalah Entrepreneur dan Bias Gender... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA………... 72 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jumlah Bangunan dan Jenisnya di Pasar Butung ... 47
2. Data Informan Berdasarkan tingkat pendidikan ... 48
3. Data Informan Berdasarkan Pekerjaan ... 49
4. Data Informan Berdasarkan Umur... 49
5. Data Informan Berdasarkan Suku Bangsa ... 50
xiii
Gambar Halaman
1.1 Skema Kerangka Berpikir ... 26
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Surat Permohonan Izin Penelitian dari LP3M.
2. Surat Izin Penelitian dari Kantor Walikota Makassar.
3. Surat Izin Penelitian dari PD Pasar Butung.
4. Surat Pernyataan Telah Melakukan Penelitian 5. Pedoman Wawancara
6. Daftar Informan 7. Riwayat Hidup
1 A. Latar Belakang
Pemenuhan kebutuhan manusia telah ada semenjak ia dalam kandungan, baik berupa pemenuhan kebutuhan fisik maupun non-fisik yang akan terus bertambah seiring dengan lahir dan berkembanya seorang anak.
Kebutuhan-kebutuhan diperlukan manusia agar dapat bertahan hidup atau dengan kata lain kebutuhan hidup ialah unsur utama manusia yang jika unsur tersebut tidak terpenuhi maka manusia itu akan merasakan mati.
Sejarah membuktikan, dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia selalu mengalami perkembangan dan inovasi. Pemenuhan itu dapat berubah pada setiap zaman yang dapat diukur pada kompleksitas kebutuhan manusia serta perkembangan pengolahan sumber daya alam sebagai bahan sandang pangan utama. Manusia sederhana hanya mengetahui alam menyediakan makanan pada suatu tempat dan akan berpindah tempat jika makanan yang tersedia telah habis (nomaden) yang telah hilang semenjak manusia mengenal pemanfaatan alam atau sistem bercocok tanam. Hanya saja perkembangan manusia tidak berhenti pada titik tersebut, setelah ditemukan mesin-mesin industri. Manusia melakukan pemanfatan alam yang berbasis teknologi canggih dan melakukan kompetisi-kompetesi dalam pemenuhan kebutuhan hidup.
2
Terlebih pada masyarakat yang telah modern dan terspesialisasi pada bidang-bidang tertentu. Kompetesi sangatlah terasa, dan pemanfaat peluang membutuhkan keberanian dan kreatifitas dalam upaya pemenuhan kebutuan hidup. Aktivitas-aktivitas yang secara konsisten dilakukan manusia guna mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan atau sering menjadi penting dalam strategi bertahan hidup atau yang sering diistilahkan dengan jiwa enterpreneurship.
Lebih jauh Peggy A. lambing dan Charles R. Kuehl (1990:100) dalam bukunya menyatakan entrepreneurship adalah tindakan kreatif yang membangun sesuatu value dari suatu yang tidak ada. Entrepreneurship merupakan proses untuk menangkap dan mewujudkan peluang terlepas dari sumber daya yang ada, serta membutuhkan keberanian untuk mengambil resiko yang telah diperhitungkan. Tentu pernyataan ini sejalan dengan usaha manusia dengan melihat peluang yang ada pada lingkungan sekitarnya.
Suku bangsa Bugis sebagai salah satu kelompok masyarakat yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami hal serupa dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Bangsa yang terkenal dalam perantauan ini melakukan usaha-usaha sistematis di berbagai tanah rantauwannya untuk pemenuhan kubutuhan hidupnya. Dalam hal ini Christian Pelras, seorang Perancis yang meneliti orang Bugis, dalam bukunya The Bugis (1996: 52) menyatakan orang Bugis sebenarnya bukan pelaut, tetapi pedagang. Yang lebih pantas disebut pelaut adalah orang Mandar (suku di Sulawesi Barat). Namun, yang kemudian membuat orang Bugis terkenal sebagai pelaut karena dalam berdagang, mereka
banyak menggunakan jalur laut. Mau tidak mau agar sukses sebagai pedagang, mereka juga harus menguasai jalur laut.
Posisi perempuan bugis telah bertransformsi dari perempuan yang identik dengan pekerjaan domestik/dapur menjadi perempuan penopang ekonomi tidak terjadi begitu saja. Dalam penuturan Mattulada (2007:101), nilai budaya berkenaan dengan peran yang seyogyanya diemban oleh perempuan (isteri) Bugis di Sulawesi Selatan ialah: (1) Perempuan sebagai Indo Ana’, yaitu ibu yang mengemban tugas memelihara anak; (2) Perempuan sebagai Pattaro Pappole Asalewangeng, yaitu peran perempuan sebagai penyimpan dan pemelihara rezeki yang diperoleh dari suami. c) Perempuan sebagai Repo’
Riatutui Siri’na, yaitu perempuan yang berperan sebagai penjaga rasa malu dan kehormatan keluarga.
Sejalan dengan pandangan Mattulada tersebut, dikemukakan oleh Chabot (1996:203), bahwa peran perempuan Bugis secara tradisional adalah di rumah dan di sekitar pekarangan (domestik). Mereka umumnya melaksanakan pekerjaan seperti memasak, mencuci, mengasuh anak, serta pekerjaan rumah tangga lainnya. Sementara laki-laki umumnya berperan di sektor publik dan melaksanakan pekerjaan seperti bertani atau berkebun, berlayar, berdagang, dan nelayan.
Fakta mengenai keberadaan sejumlah perempuan Bugis yang merantau didaerah Makassar dan menjadi pelaku utama bisnis pakaian di pasar-pasar dan tempat perputaran uang yang salah satunya pada Pasar Butung menunjukkan
4
bahwa telah terjadi perubahan yang amat berarti bagi kedudukan dan peran perempuan Bugis. Aktivitas bisnis pakaian di pasar butung yang sebelumnya dikendalikan oleh laki-laki (suami) dan kini diperankan oleh perempuan (isteri) memberi arah pada penulis bahwa secara historis terjadi perubahan yang memberikan kesempatan kepada perempuan untuk ikut berperan aktif, hal mana tidak lagi mengkondisikan perempuan Bugis berperan hanya pada ranah domestik saja. Perubahan sosial dalam perspektif teori sosiologi ialah mencakup berbagai aspek dengan pengertian yang sangat luas terkhususnya pada pengkajian sosiologi gender.
Hal tersebut diatas menjadi ketertarikan tersendiri bagi penulis untuk melakukan suatu penelitian mendalam tentang “Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakaian di Pasar Butung Makassar (Kajian Sosiologi Gender).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat membuat rumusan masalah yaitu :
1. Bagaimanakah Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakaian di Pasar Butung Makassar ?
2. Bagaimanakah Bias Gender Terhadap Peranan Perempuan Bugis dalam Berdagang di pasar Butung Makassar ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk Mengetahui Entrepreneurship Perempuan Bugis Pedagang Pakaian di Pasar Butung Makassar.
2. Untuk Mengetahui Bias Gender Terhadap Peranan Perempuan Bugis Dalam Berdagang di pasar Butung Makassar ?
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai Enterpreneurship perempuan bugis pedagang pakaian di pasar butung.
2. Manfaat praktis
a. Bagi masyarakat Dapat menjadi motivasi bagi perempuan bugis untuk mengembangkan potensi enterpreneurship dalam berdagan
b. Sebagai sumber data dan bahan rujukan bagi pemerintah dalam
menangani permasalahan tenaga kerja khususnya dalam bidang kewirausahaan bagi perempuan.
c. Bagi peneliti
Sebegai latihan untuk menyusun buah pikiran secara tertulis dan sistematik dalam bentuk karya ilmiah dan sebagai bahan pembanding bagi peneliti lain yang ingin meneliti masalah yang relevan.
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Tentang Enterpreneurship 1. Pengertian entrpreneurship
Wiraswasta/wirausaha berasal dari kata: Wira: utama, gagah berani, luhur;
swa: sendiri; sta: berdiri; usaha: kegiatan produktif. Wirausaha juga dikenal dengan Entrepreneur. Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yaitu entreprendre yang artinya memulai atau melaksanakan Secara sederhana arti wirausahawan (Enterpreneurship ) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak past
Kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803)
2. Ciri seorang Enterpreneurship
Ciri seorang Enterpreneurship yang kemudian membedakannya dengan orang lain, diantaranya :
a. Mempunyai Mimpi Besar
Seorang Enterpreneurship selalu memiliki mimpi besar, mereka mulai menjalankan bisnisnya karena adanya motivasi untuk mencapai mimpi besar mereka. Mimpi yang mereka miliki, menjadi tujuan dari semua usaha yang dilakukannya. Sehingga dalam mengambil keputusan, seorang Enterpreneurship akan menyesuaikannya dengan mimpi yang dimilikinya. Jadi segala peluang usaha yang dijalankannya akan lebih terarah, dan berhasil mencapai kesuksesan.
Mimpi seorang Enterpreneurship bukan sekedar menjadi seorang pegawai, namun ia memiliki cita – cita besar untuk menciptakan lapangan kerja baru yang dapat memberdayakan masyarakat.
b. Pandai Mengatasi Ketakutannya
Banyak orang yang masih takut untuk mengambil resiko, namun hal ini tidak berlaku bagi seorang Enterpreneurship . Mereka pandai dalam mengelola ketakutannya dan menumbuhkan keberanian untuk meninggalkan segala kenyamanan yang ada, serta memilih menghadapi sebuah resiko. Namun keberanian untuk menghadapi resiko tetap disertai dengan perhitungan yang matang. Sehingga seorang Enterpreneurship bukan hanya berani nekat saja, tetapi juga berani bertanggungjawab atas keputusan yang telah diperhitungkannya.
8
c. Mempunyai Cara Pandang Yang Berbeda
Seorang Enterpreneurship selalu memandang masalah, kesulitan, keadaan lingkungan sekitar, perubahan trend dan kejadian yang sedang dihadapinya saat ini, untuk memunculkan kreativitas guna menciptakan ide-ide bisnis dan konsep bisnis yang memiliki prospek cukup cerah. Selain itu segala kejadian yang ada di sekitarnya menjadi ide bagi mereka, yang selanjutnya dijadikan sebagai peluang usaha baru yang menjadi impiannya.
d. Pemasar Sejati
Seorang Enterpreneurship juga memiliki kemampuan dalam menyusun strateg pemasaran bisnis, sehingga dalam membangun sebuah bisnis pertumbuhanny bisa semakin cepat. Tanpa adanya skill ini, orang yang memulai usaha akan memperoeh beban lebih berat dan membutuhkan waktu cukup lamntuk mencapai impiannya.
e. Menyukai Tantangan
Banyak orang yang memilih untuk bertahan di zona aman, namun seorang Enterpreneurship tidak suka berlama–lama dengan kegiatan yang monoton. Dia lebih suka menggunakan kreativitasnya untuk menjadikan tantangan yang dihadapinya menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Bahkan banyak Enterpreneurship yang menganggap tantangan adalah peluang bagi mereka.
f. Mempunyai Keyakinan
Ciri yang keenam ini yang sering dilupakan oleh orang lain. Enterpreneurship memiliki keyakinan bahwa sebenarnya kegagalan itu tidak ada. Bagi mereka yang ada hanya rintangan besar, sangat besar dan rintangan kecil. Kegagalan hanya
muncul pada orang yang tidak berusaha mencari jalan keluar dari masalahnya.
Namun dengan menganggap bahwa semuanya hanya rintangan, Enterpreneurship selalu optimis bahwa semua rintangan bukan akhir dari segalanya dan pasti ada jalan keluar untuk menghancurkan rintangan tersebut.
g. Selalu Mencari Yang Terbaik
Selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik guna memberikan hasil yang terbaik pula bagi para konsumennya. Itu yang selalu ada dalam diri seorang Enterpreneurship, mereka cenderung perfectionist. Karena mereka memiliki tujuan untuk mencari cara yang terbaik agar konsumennya tidak merasa kecewa dengan pelayanan yang telah diberikannya.
h. Disiplin Waktu Untuk Memperoleh Target
Kedisiplinan menjadi hal penting bagi seorang Enterpreneurship , bagi mereka waktu yang terbuang sama halnya melewatkan sebuah peluang besar untuk mendapatkan keuntungan. Maka benar adanya jika ada pepatah yang mengatakan
“time is money ” karena dengan membuang waktu sama halnya dengan melewatkan begitu saja peluang untuk mendapatkan penghasilan. Oleh sebab itu seorang Enterpreneurship selalu disiplin dalam segala hal, untuk mencapai target yang mereka tentukan.
i. Memiliki Kemampuan Untuk Memimpin
Seorang Enterpreneurship merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri dan pemimpin bagi para karyawannya. Dengan memiliki jiwa kepemimpinan, Anda dapat memotivasi diri sendiri dalam hal pengambilan keputusan. Selain itu ketika menjadi seorang Enterpreneurship , maka secara tidak langsung Anda juga harus
10
siap menjadi pemimpin yang baik bagi para karyawan Anda, karena mereka berkaca pada diri Anda. Jadilah teladan yang baik bagi karyawan Anda, dan dorong mereka agar dapat memberikan yang terbaik bagi para para konsumen.
j. Pantang Menyerah
Yang kesepuluh yaitu pantang menyerah, seorang Enterpreneurship memiliki visi dan semangat juang yang besar. Mereka pantang menyerah pada hambatan, tidak pernah putus ada untuk selalu mencoba memberikan yang terbaik bagi para konsumennya. Jika menemui jalan buntu, seorang Enterpreneurship tidak akan diam begitu saja menerima kegagalan. Mereka akan mencari jalan alternatif, agar bisa meraih impiannya.
B. Konsep tentang Perempuan Bugis
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero masuk ke nusantara setelah gelombang migrasi pertama daridaratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.
Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton. Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah”
yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006). Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya.
Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhi.
Perempuan dalam perspektif Bugis Makassar Dalam masyarakat bugis Makassar, perempuan di sebut makkunrai (bugis) atau baine (Makassar). Yang mengandung makna tersendiri, yakni
12
1. Makkunrai
Makkunrai adalah penyebutan orang Bugis terhadap Gender perempuan.
Penyebutan “Makkunrai”berasal dari kata”Unre”, yakni sejenis busana rok bawahan yang jika ditambah awalan “ma” dan akhiran “i” sebagai kata kerja, berarti pemakai Rok. Maka bahasa bugis mencitrakan gender tersebut dari sejenis busana yang lazim dipakainya.
2. Baine’
Orang Makassar lebih membahasakannya dengan lebih “agung” lagi, yakni : Baine yang mendekati kata bine (benih atau cikal bakal), sehingga dapat dimaknai sebagai “asal atau permulaan”.
Namun bagaimanapun perbedaan harfiah dan makna terhadap perempuan bagi kedua suku bangsa terbesar di Sulawesi ini, tetap saja menempatkan perempuan sebagai puncak martabat kemanusiaannya. Bukan sekedar symbol, melainkan merupakan esensi luhur yang menandai derajat dan martabat dalam suatu rumpun keluarga. Sebagai contoh : suatu keluarga dapat dinilai tingkat strata sosialnya ketika anak gadisnya dilamar dengan jumlah mahar (mas kawin) tertentu.
Kedudukan perempuan dalam masyarakat bugis Makassar sangat dipengaruhi oleh hukum adat yang tak tertulis namun di ajarkan secara turun temurun.
Perempuan secara umum di kualifikasikan sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masayarakat. Begitu juga dalam konteks masyarakat bugis Makassar, Perempuan sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Dalam tradisi Bugis, peran perempuan tidak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Namun jauh sejak masa epos La Galigo mula
dikisahkan, Perempuan Bugis sudah ikut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan Bugis. Nenek moyang Bugis yang disebut Tomanurung dikisahkan tidak hanya seorang lelaki bernama Batara Guru, tapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis awal. Dalam buku History Of Java (1817) Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya“The women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” (Perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran privacy atau dipekerjakan paksa, sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain). Status sosial perempuan Bugis tampaknya cukup tinggi.Hal itu dapat kita lihat baik dalam realitas sosial maupun dalam naskah kuno. Secara sosial kita bisa menyebut sosok Colliq Pujié, seorang perempuan Bugis yang hidup pada abad ke-19 yang berprofesi sebagai penulis, sastrawan dan juga negarawan. Dalam naskah kuno perempuan Bugis disebut berani (materru') dan bijaksana (malampé' nawa nawa). Walau begitu, tugas utama dari seorang perempuan Bugis adalah menjadi seorang ibu yang salehah, baik dan tulus (mancaji Indo ana tettong ridécéngngé, tudang ripacingngé), menjadi penuntun suami yang jujur, hemat dan bijaksana sekaligus mitra pendukung dan penopang
14
dalam mengatasi segala kesulitan maupun perjuangan dalam mengatasi segala hal (Mancaji pattaro tettong rïlempu'é punnai cirinna enrengngé lampu 'Nawa-Nawa mméwai sibaliperri' waroanéna Sappa 'laleng atuong), menjadi kebanggaan ayahnya, saudaranya dan suaminya untuk menjaga kehormatan hidupnya (mancaji 'siatutuiang siri na enrengngé banapatinna ritomatoanna, risiléssureng macoana letih' ga riworoanéna)
Posisi, gelar, dan profesi seorang Ibu sangat dijunjung tinggi dalam tradisi dan budaya Bugis-Makassar. Oleh karena itu seorang ibu harus kemudian menjaga kesucian, kesalehan dan kecerdasannya. Seorang ibu harus selalu meng-update pengetahuannya. Seorang ibu sangat penting untuk membaca dari waktu ke waktu membantu meningkatkan kesadaran dan visi.
Ibu adalah jendela pertama bagi seorang bayi dan menjadi pengontrol bagi suaminya. Ketika bayi lahir, Ibu memainkan peranan penting dalam memperkenalkan bayi kepada dunia. Masa depan anak sangat tergantung pada ibu. Sikap, pandangan dan seluruhnya semua diperoleh sang bayi dari seorang ibu.
Seorang ibu yang sempurna akan lebih baik dari seribu guru.
Di sisi suami, seorang perempuan adalah manajer (Pattaro). Semua hal yang datang dan masuk ke sebuah rumah harus sepengetahuan dan seizin istri.
Dalam rumah tangga ia adalah "ratu", menggantikan posisi suami jika sedang tak ada di rumah untuk menjaga diri dan harta benda. Oleh karena itu perempuan Bugis harus juga pandai berhemat, cermat dan mengetahui kebutuhan dan kepentingan rumah tangga. Oleh karena itu perempuan bugis-makassar ketika memutuskan untuk menikah maka seluruh pilihan hidupnya harus dicurahkan
sepenuhnya kepada rumah tangga. Setelah itu kemudian baru bisa memilih ruang publik sebagai aktivitas berikutnya, manakala urusan rumah tangganya telah selesai dengan sempurna.
C. Konsep tentang Perdagangan
Perdagangan atau pertukaran dalam ilmu ekonomi diartikan sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak. Masing-masing pihak mempunyai kebebasan untuk menentukan untung – rugi dari kegiatan pertukaran tersebut dari sudut kepentingan masing-masing sebelum memutuskan apakah mau melakukan pertukaran atau tidak. Kehendak sukarela merupakan aspek penting dalam proses perdagangan karena aspek ini mempunyai implikasi yang fundamental, yaitu bahwa perdagangan hanya terjadi apabila paling tidak ada satu pihak yang memperoleh keuntungan atau manfaat dan tidak ada pihak lain yang dirugikan. Dengan kata lain, kegiatan perdagangan atau pertukaran adalah sesuatu yang selalu baik dan bermanfaat. Manfaat atau keuntungan itulah yang menjadi alasan (motif) mengapa orang mau melakukan pertukaran atau perdagangan. Manfat tersebut dalam ilmu ekonomi disebut manfaat dari perdagangan atau”gains from trade”
1. Konsep Perdagangan Menurut Para Ahli
Pemikiran tentang ekonomi dan sub sistem ekonomi didalamya merupakan diskursus yang sangat panjang dan lama. Sejak manusia mengenal dan melakukan kerjasama untuk mencapai tujuannya, pemikitan tentang ekonomi dan pasar sudah
16
mulai berkembang. Varian-varian pemikirannya sangat banyak dari model yang sangat tradisional hingga yang paling canggih. Meski demikian, paling tidak untuk menelusuri penjelasan menyangkut dua tema besar itu, pasar dan hubungannya dengan negara, tidak terlepas dari empat mainstream besar pemikiran, yaitu teori ekonomi Klasik(liberal), Marksian, Keynesian dan Neoliberal.
Perdagangan sudah menjadi isu penting sejak zaman para filsuf yang mempermasalahkan apakah perdagangan itu secara moral diterima atau tidak.
Kaum merkantilis mengangkat citra perdagangan walaupun masih sebatas memperbanyak logam mulia masuk kedalam suatu negara (berorientasi ekspor).
Thomas Mun dan Jaen Baptist Colbert (tokoh merkantilisme) menyatakan bahwa kemajuan dan kemakmuran negara kebangsaan (nation state) bersangkut paut dengan adanya surpuls ekspor barang diatas impor dalam perdagangan luar negeri. Surplus itu bisa menambah cadangan logam mulia yang merupakan unsur pokok bagi kekuatan negara, kemajuan bangsa dan kemakmuran masyarakat saudagar oriented. Perluasan dominasi ekonomi melalui penjajahan kemajuan dan kemakmuran hanya untuk kekuasaan negara dan kekuatan saudagar petani dipinggirkan. Saudagar memiliki peran politik. Merkantilism kekuatan ekspor monopoli, proteksi dan subsidi pembatasan impor. Relasi uang dan modal menyatu diperoleh dari niaga luar negeri. Tingkat bunga rendah untuk membantu usaha peningkatan perdagangan, sehingga akan tercipta akumulasi kekayaan berupa uang dan modal. Akumulasi uang dan modal akan meningkatkan harga
barang mengganggu ekspor. Jadi merkantilisme meletakkan tekanan pada perdagangan luar negeri.
Mashab Phyiokrasi yaitu Francois Quesney (Perancis) dan A. S. J. Turgot mengemukakan bahwa kegiatan ekonomi berjalan menurut suatu pola arus lingkaran (circular flow) yang menyangkut peredaran barang dan peredaran uang dimana mashab ini mengutanakan sektor pertanian. Kegiatan pertanian adalah satu-satunya sektor produktif yang menghasilkan suatu surplus produksi secara netto untuk masyarakat. Kaum Phyiokrat memandang pertanian sebagai sumber segala kemakmuran.
Kaum klasik mencoba menjelaskan keuntungan dari kerjasama perdagangan internasional. Adam Smith memulai mangajukan teori keuntungan absolut (absolute advantage), sedangkan David Ricardo memperbaikinya dengan mengajukan teori keuntungan komperatif (comperative Advantage). Berbeda dengan pendapat Smith yang mengajukan perdagangan akan menguntungkan apabila suatu negara memperdagangkan barang secara mutlak menguntungkannya. Ricardo berpendapat bahwa suatu negara akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan karena masing- masing pihak mengambil relative efficient tenaga kerjanya masing-masing.
Teori perdagangan internasional diketengahkan oleh David Ricardo (1772- 1823) yang mulai dengan anggapan bahwa lalu lintas pertukatan internasional hanya berlaku antara dua negara yang diantara mereka tidak ada tembok pabean, serta kedua negara tersebut hanya beredar uang emas. Ricardo(1772-1823) memanfaatkan hukum pemasaran bersama-sama dengan teori kuantitas uang unuk
18
mengembangkan teori perdagangan internasional. Walaupun suatu negara memiliki keunggulan absolut, akan tetapi apabila dilakukan perdagangan tetap akan menguntungkanbagi kedua negara yang melakukan perdagangan.
Teori perdagangan telah merambah dunia menuju globalisasi dengan lebih cepat. Kalau dahulu negara yang memiliki keunggulan absolut enggan untuk melakukan perdagangan, berkat ”Law Of Comparative Costs” danRicardo (1772- 1823), Inggris mulai kembali membuka perdagangan dengan negara lain.
Pemikiran kaum klasik telah mendorong diadakannya perjanjian perdagangan bebas antara beberapa negara. Teori comperative advantage telah berkembang menjadi dynamic advantage yang menyatakan bahwa keunggulan komperatif dapat diciptakan. Oleh karena itu, penguasaan teknologi dan teknologi akan semakin diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas ini, sedangkan negara hanya mengandalkan kepada kekayaan alam akan kalah dalam persaingan internasional.
2. Peran Sektor Perdagangan Dalam Perekonomian
Perdagangan merupakan faktor penting guna merangsang pertumbuhan ekonomi. Perdagangan memperbesar kapasitas konsumsi suatu negara, meningkatkan output dunia, serta menyajikan akses ke sumber-sumberdaya yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk berbagai produk yang hasilnya merupakan bekal utama yang jika tidak tersedia negara-negara miskin tidak akan mampu mengembangkan kegiatan dan kehidupan perekonomian nasionalnya. Perdagangan membantu semua warga negara dalam menjalankan
usaha-usaha pembangunan mereka melalui promosi serta pegutamaan sektor- sektor ekonomi yang mengandung keuntungan komperatif (Todaro, 2000:122).
Peran perdagangan dalam suatu daerah sangat penting. Baik perdagangan domestik maupun perdagangn antar negara (perdagangan internasional) yang peranannya terlihat dalam pembangunan ekonomi sangat menonjol. Para ahli ekonomi Klasik dan Neo-klasik mengungkapkan bahwa betapa pentingnya perdagangan internasional dalam pembangunan suatu negara. Sampai-sampai dianggap sebagai mesin pertumbuhan (Engine of Growth). Namun sebaliknya ada yang beranggapan bahwa perdagangan antar wilayah atau perdagangan antar negara dapat mengakibatkan terjadinya kesenjangan daerah yang kaya menjadi vemakin kaya dengan merugikan masyarakat daerah miskin. Karena itu dapat dikatakan bahwa kendati daerah itu daerah terbelakang terpaksa mengorbankan manfaat yang timbul dari spesialisasi antar daerah, namun dengan menerapkan kebijaksanaan subtitusi impor dan industrialisasi terencana, serta memperluas output untuk konsumsi dalam daerah, akan dapat dicapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi.
Pelaku dan aktivitas perdagangan dikenal dengan istilah pedagang dimana pedagang merupakan ujung tombak dari pelaku ekonomi yang langsung berhadapan dengan konsumen. Semakin maju suatu negara berarti semakin banyak dan beraneka ragam pelaku ekonomi khususnya pedagang. Pedagang dalam ilmu ekonomi adalah seseorang atau lembaga uvaha yang melakukan jual beli barang dan jasa secara mandiri. Keuntungan yang diperoleh pedagang ialah
20
selisih antara harga jual harg ditetapkan sendiri jika terjadi kerugian yang diakibatkannya. Secara garis besar pedagang dibagi kedalam dua macam yaitu :
a. Pedagang besar adalah pedagang yang membeli barang secara grosir kepada pedagang yang lebih kecil (retail) untuk diecerkan kepada konsumen. Pedagang besar dapat pula membeli dengan cara mengumpulkan dari pedagang kecil untuk dijual dalam partai besar.
b. Pedagang kecil (eceran) adalah pedagang yang membeli barang secara grosir kepada pedagang besar untuk diecerkan kepada konsumen.
Pedagang kecil membeli barang dari para penghasil kemudian dijual kepada konsumen.
3. Manfaat Perdagangan
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan perdagangan (gains from trade) seperti yang dijelaskan oleh Sukirno (2002 : 133) adalah sebagai berikut :
a. Memperoleh barang yang tidak diproduksi di daerahyang bersangkutan.
Pengalaman empirik membuktikan bahwa tidak ada daerah yang mampu menghasilkan sendiri semua barang yang dibutuhkan oleh penduduknya, sehingga konsumen lokal harus berupaya memperoleh atau mebeli barang kebututhan tersebut dari daerah lain. Dengan demikian, kegiatan perdagangan memberi manfat berupa peluang atau kesempatan bagi
konsumen untuk memenuhi kebutuhannya terhadap barang yang tidak diproduksi di daerah setempat.
b. Memperluas pasar bagi produk yang dihasilkan oleh suatu derah. Ada beberapa daerah yang dapat menghasilkan suatu barang tertentu dalam jumlah yang banyak, lebih banyak dari jumlah yang dibutuhkan oleh penduduknya. Apabila kelebihan produksi tersebut dijual atau dipasarkan ke daerah lain kemungkinan harganya bisa menjadi lebih tinggi dibanding harga lokal, sehingga produsen bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar. Disamping, perluasan pasar ini juga dapat meningkatkan volume produksi dan menambah atau memperluas kesempatan kerja.
c. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Walaupun suatu daerah dapat menghasilkan jenis barang yang sama dengan yang dihasilkan oleh daerah lain, tetapi mungkin daerah yang bersangkutan lebih memilih untuk membeli barang tersebut dari daerah lain. Hal ini dilakukan untuk lebih mendorong produksi barang lain yang dapat memberikan keuntungan atau manfaat lainnya yang lebih besar.
Penyebab Timbulnya Kegiatan Perdagangan
Pada dasarnya kegiatan perdagangan timbul karena adanya keinginan oleh pihak-pihak yang terlibat didalamya untuk memperoleh manfaat/keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari kegiatan perdagangan tersebut. Oleh karena itu motif manusia melakukan perdagangan adalah untuk memperoleh manfaat/keuntungan dari pelaksanaan kegiatan tersebut (Boediono,1992:78).
22
Selanjutnya Sukirno(2002 :112) menyatakan bahwa pada dasarnya ada beberapa fakor yang menyebabkan timbulnya kegiatan perdagangan antar negara atau derah, yakni :
1. Adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, baik kunatitas maupun kualitas dan jenisnya, sehingga produsen di suatu perekonomian( baik dalam lingkup daerah maupun negara) tidak mampu menghasilkan semua barang dan jasa yang dibutuhkan penduduk di suatu daerah atau negaranya. Oleh karena itu kegiatan perdagangan mutlak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa oleh konsumen yang tidak mampu dihasilkan oleh produsen di daerah atau negaranya.
2. Biasanya pasar yang ada di suatu derah atau negara tidak mampu untuk menyerap seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen di daerah atau negara bersangkutan, sehingga harus dipasarkan di daerah atau negara lain guna memperluas pasar bagi produk tersebut. Berarti kegiatan perdagangan berperan pula sebagai sarana untuk memperluas pasar bagi produk yang dihasilkan oleh produsen di suatu derah atau negara.
3. Melalui kegiatan perdagangan, maka pelaku ekonomi di suatu daerha atau negara dapat mengimpor teknologi dari daerah atau negara lain, sehingg penyebaran teknologi dapat pula dilakukan melalui kegiatan perdagangan.
4. Kegiatan perdagangan dapat pula menciptakan keuntungan, utamanya keuntungan yang diperoleh dari adanya spesialisasi produksi barang dan jasa
tertentu yang paling menguntungkan bagi suatu daerah atau negara (konsep keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif)
5. Faktor perbedaan harga suatu produk di derah atau negara tertentu dengan tingkat harga produk yang sama di derah atau negara lain merupakan faktor yang menimbulak terjadinya perdagangan. Dimnaa kegiatan perdagangan tersebut didorong oleh keinginan pelaku ekonomi, baik produsen maupun pedagang, untuk memperoleh keuntungan yang bersumber dari adanya perbedaan harga tersebut.
1. Mekanisme Kegiatan Perdagangan
Pada awalnya, kegiatan perdagangan dilakukan manusia dengan menggunakan cara barter, yakni menukarkan barang dan jasa yang dimiliki oleh seseorang dengan barang dan jasa yang dimiliki oleh orang lain. Tertapi cara perdagangan seperti ini hanya dapat diterpkna dalam perekonomian sederhana yang umumnya dewasa ini sulit diterpkan. Hal ini disebabkab karena jumlah dan jenis barang dan jasa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh setiap individu manusia senantiasa meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan ekonomi dan kebudayaan manusia itu sendiri, serta bertambahnya jumlah penduduk. Kegiatan perdagangan semakin pesat setelah digunakannya uang sebagai alat perdagangan, yang dilakukan oleh pelaku ekonomi yang ada di suatu daerah atau negara dengan pelaku ekonomi lainnya. Hal ini jelas tidak terlepas dari adanya dukungn lembaga keuangan yang dapat mempermudah dan mempercepat proses transaksi antar pelaku ekonomi myang melakukan kegiatan perdagangan tersebut dengan mneciptkan alat-alat pembayaran yang semakin
24
cepat. Selain itu, kegiatan perdagangan semakin berkurang seiring dengan perkembangan sarana dan prasarana pemukiman, transportasi dan telekomunikasi yang merupakan faktor pendukung bagi percepatan perkembangan kegiatan perdagangan tersebut.
Dalam perekonomian terlihat bahwa para pelaku ekonomi melakukan dua bentuk kegiatan perdagangan, yaitu perdagangan besar dan perdagangan eceran.
Perdagangan besar meliputi unit usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan dan penjualan kembali barang-barang baru dan bekas oleh pedagang dari tangan produsen atau importir (loco gudang atau importir) kepada pedagang eceran, peruahaan, lemnbaga dan profesional atau pedaganng besar lainnya, tanpa merubah bentuk barang tersebut. Sedangkan perdagangan eceran adalah kegiatan perdagangan yang ada pada umumnya melayani konsumen perseorangan atau rumahtangga tanpa merubah bentuk barang yang dijual, baik barang baru maupun barang bekas. Selain itu, dalam kegiatan perdagangan eceran tercakup pula kegiatan menyewakan barang-barang konsumsi, terutama untuk melayani keperluan rumahtangga atau perseorangan. Tetapi kegiatan menyewakan alat-alat hiburan serta barang seperti motor, mobil dan sebagainya tidak termasuk kegiatan perdagangan eceran.
4. Pengaruh Perdagangan Terhadap Perekonomian
Kegiatan perdagangan menimbulkan konsekunsi atau pengaruh terhadap perekonomian, baik konsekuensi ekonomis maupun nonekonomis dan pengaruh tersebut bisa bersifat positif maupun negatif terhadap daerah yang bersangkutan.
Pengaruh ekonomis dari perdagangan adalah berupa manfaat perdagangan yang telah dijelaskan diatas. Pengaruh ekonomis lainnya yang dijelaskan oleh Boediono(1992 : 74) adalah sebagai berikut.
Dampaknya terhadap konsumsi masyarakat.
Adanya kegiatan perdagangan akan menyebabkan jumlah konsumsi masyarakat akan lebih besar. Hal ini disebabkan karena melalui kegiatan perdagangan, maka jumlah barang yang tersedia di dalam pasar dan varisi keragamannya adalah lebih banyak, sehingga memudahkan konsumen untuk mengkonsumsinya dalam rangka memnuhi kebutuhan mereka sesuai dengan selera dan daya beli masing-masing konsumen bersangkutan.
Dampaknya terhadap produksi (Production Effect). bahwa secara umum dampak perdagangan terhadap produksi dapat diklasifikasikan kedalam 4 kelompok, yaitu :
1. Spesialisasi produksi
Kegiatan perdagangan cenderung mendorong setiap negara atau daerah untuk berspesialisasi dalam memproduksi barang atau jasa tertentu yang akan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.
2. Kenaikan surplus investasi.
Selama ini terlihat bahwa kegiatan perdagangan dapat meningkatkan pendapatan rill masyarakat negara atau daerah yang melaksanakannya. Dengan pendapatan rill yang lebih tinggi, maka negara atau daerah tersebut akan mampu
26
untuk menyisihkan dana yang dapat digunakan untuk investasi. Selanjutnya peningkatan investasi tersebut secara langsung akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi negara atau daerah yang bersangkutan.
3. Vent for surplus
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith yang menyatakan bahwa perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi output di dalam negeri. Oleh karena itu produksi di dalam negeri yang semua terbatas karena adanya keterbetasan daya serap pasar di dalam negeri ayang akan dapat meningkat karena pasar dapat diperluas, sehingga sumberdaya-sumberdaya yang semul mengaggur (surplus), sekarang akan memperoleh aluran (vent) untuk bisa dimanfaatkan karena adanya daerah pasar yang baru. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah dapat pula terangsang oleh terbukanya pasar baru bagi produk-produk yang dihasilkan di dalam negeri atau daerah tersebut.
4. Kenaikan produktivitas.
Secara langsung kegiatan perdagangan mendorong pula terjadinya peningkatan produktivitas produsen di suatu negara atau daerah. Hal ini disebabkan karena kegiatan perdagangan antar negara atau daerah tersebut merangsang para produsen untuk lebih efisien dalam pasar. Selain itu, kegiatan perdagangan menimbulkan pula mengalirnya teknologi baru dari suatu negara atau daerah ke negara atau daerah lainnya(terjadi laih teknologi) yang dapat
digunakan dalam kegiatan produksi sehingga secara langsung akan mendorong peningkatan produktivitas produsen.
Dampaknya terhadap distribusi pendapatan (Distribution Effect). Kegiatan perdagangan anatar negara atau daerah dapat pula menimbulkan efek pemerataan pendapatan antar negara atau daerah. Hal ini disebabkan karena kegiatan perdagangan menimbulkan tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya, sehingga secara langsung akan menimbulkan peningkatan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha serta kesempatan untuk memperoleh pendapatan seluruh pemilik faktor produksi karena adanya peningkatan pemanfaatan penggunaan faktor produksi di dalam negeri atau daerah tersebut. Oleh karena itu, kegiatan perdagangan akan menimbulkan efek berupa peningkatan penggunaan faktor produksi, sehingga faktor produksi yang semula menganggur akan terpakai untuk menambah produksi dalam rangka memenuhi permintaan pasar yang semakin luas dan bertambah.
Adapun konsekuensi atau pengaruh non-ekonomis perdagangan adalah berupa pengaruh politik, pengaruh budaya termasuk pengaruh terhadap perilaku masyarakat lokal yang cenderung meniru perilaku masyarakat daerah lain.
Pengaruh-pengarih tersebut juga sama halnya dengan pengaruh ekonomis, bisa bersifat positif maupun bersifat negatif.
D. Teori Gender
Gender pada awalnya dikembangkan sebagai suatu analisis ilmu sosial oleh Ann Oakley 1997 dan sejak saat itu menurutnya gender lantas dianggap
28
sebagai analisis yang baik untuk memahami persoalan diskrimisani terhadap kaum perempuan secara umum. Gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan anatara laki-laki dan perempuan secara sosial. Gender adalah kelompok atribut dan perilaku yang dibentuk secara cultural yang ada pada laki-laki dan perempuan.
Margert Mead menyatakan bahwa jenis kelamin adalah biologis dan perilku gender adalah konstruksi sosial. Sebagai misalnya, perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan dan lain sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan lain sebagainya. Sifat-sifat tersebut bukan kodrat, karena tidak selamanya dan dapat pula dipertukarkan. Artinya, laki-laki ada yang emosional,lemah lembut, keibuan dan sebagainya, sebaliknya perempuan ada juga yang kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. (Narwoko, 2004:333-334).
Gender berkaitan dengan sosialisasi yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki. Perempuan dan laki-laki dibedakan atas dasar kepantasannya kemudian dibuatkan label yang ditempelkan kepada masing- masing jenis untuk membedakan (Murniati, 2004: xix). Konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi baik secara sosial maupun kultural (Murniati, 2004:197). Oleh karena itu gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin hanya melihat perempuan dan laki-laki berdasarkan fungsi biologis.
Perbedaan perempuan dan laki-laki tersebut tidak dapat dipertukarkan karena berhubungan dengan keadaan alamiah manusia. Berbeda dengan jenis
kelamin, peran gender dapat dipertukarkan karena peran tersebut berhubungan dengan budaya dan konvensi dalam masyarakat. Konsep gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir beberapa anggapan tentang peran sosial dan budaya laki-laki dan perempuan, bentukan tersebut antara lain perempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut dan keibuan sedangkan laki-laki dianggap kuat dan rasional (Handayani, 2001:4).
Oleh karena itu, gender dapat diartikan sebagai konsep sosial yang membedakan peran antara laki- laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena antara keduanya terdapat perbedaan biologis dan kodrat, tetapi dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing- masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan (Handayani, 2001: 4).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Pusat Bahasa, 2003:353), gender adalah jenis kelamin. Dari definisi tersebut, terlihat bahwa gender tidak dibedakan dengan jenis kelamin. Akan tetapi, jika dilihat dari akar katanya gender memiliki akar kata genos, berasal dari bahasa Yunani yang artinya ras, persediaan, dan keturunan anak (Bagus, 2002:276). Sesuai dengan akar katanya genos menyiratkan sifat dasar individual khas dan berlainan satu sama lain. Gender lebih berkaitan dengan isu dan konflik psikologis dan budaya daripada biologis (Mantik, 2006:35).
Gender melihat perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan kesepakatan atau konvensi masyarakat yang berhubungan dengan perilaku,
30
dan tanggung jawab sosial yang dibentuk oleh masyarakat (Mantik, 2006:36). Gender merujuk pada definisi sosial budaya dari laki-laki dan perempuan, cara masyarakat membedakan laki-laki dan perempuan serta memberikan peran sosial kepada mereka (Bhasin, 2001:1).
Pengertian gender terus menerus dirumuskan dan karenanya menarik melihat temuan hasil kajian teks terhadap teks-teks Indonesia pada suatu masa tertentu. Menurut Butler (1990:3), istilah gender takkan pernah selesai karena gender selalu tersusun dengan koheren atau konsisten dalam konteks sejarah yang berbeda-beda.
Engels mejelaskan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, melalui proses sosialisasi, peguatan, dan konstruksi sosial, cultural dan keagamaan, bahkan melalui kekuasaan Negara.
Oleh karena melalui proses yang begitu panjang itulah, maka lama-kelamaan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan menjadi seolah-olah ketentuanTuhan atau kodrat yang tidak dapat diubah lagi. Demkian pula sebaliknya, sosialisasi konstruksi sosial tentang gender secara evolusi pada akhirnya mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis masing-masing jenis kelamin. Seperti misalnya, gender laki-laki harus kuat dan agresif, sehingga dengan konstruksi sosial semacam itu menjadikan laki-laki dan terlatih dan termotivasi mempertahankan sifat tersebut, dan akhirnya laki-laki lebih kuat dan lebih besar. (Narwoko, 2004:335)
Dari semua pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa gender adalah perbedaan laki- laki dan perempuan berdasarkan budaya, adat, dan konvensi
yang terbentuk dalam masyarakat. Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial dan kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara. Sosialisasi gender akhirnya dianggap sebagai ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat alamiah dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan perempuan sehingga tidak perlu dipertanyakan atau digugat. Proses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama menyebabkan sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender—seperti laki-laki perkasa atau perempuan lemah lembut merupakan konstruksi masyarakat atau kodrat yang telah ditetapkan Tuhan secara alamiah.
Perbedaan gender tidak akan menimbulkan konflik apabila setiap individu laki-laki dan perempuan menghargai perbedaan dalam diri mereka dan memperlakukan peran gender secara fleksibel. Konflik gender terjadi akibat pemikiran yang bias gender. Bias gender adalah prasangka atau konstruksi sosial yang berupaya mendudukan perempuan dalam sosok tradisional, lebih lemah dibanding pria, serta cenderung dieksploitasi atas potensi fisiknya saja (Fakih, 1997:15-17). Dalam kehidupan bermasyarakat, ada seperangkat hubungan sosial yang mengandung aspek kekuasaan, yaitu hubungan sosial sosial antarjenis kelamin dan hubungan sosial antarkelas (Ihromi, 1995:17). Hubungan sosial antar perempuan dan laki-laki masih ada hubungan yang timpang. Dalam interaksi sosialnya perempuan juga mengalami batasan dan kesempatan yang tidak persis sama dengan laki-laki
32
karena nilai dan norma sosial budaya yang berlaku bagi perempuan dan laki-laki tidak selalu sama (Ihromi, 1995: 21).
Pemikiran yang bias gender dapat menyebabkan terjadinya ketidakadilan gender. Bentuk-bentuk ketidakadilan dapat terjadi pada laki- laki dan perempuan dalam berbagai hubungan, salah salah satunya adalah hubungan perkawinan. Perkawinan membentuk adanya pembagian kerja, yaitu pembagian peran yang jelas antara suami dan istri (Duval dan Miller, 1985:6).
Pembagian yang ketat antara peran, posisi, tugas, dan kedudukan antara suami dan istri menyebabkan ketidakadilan gender. Misalnya seorang suami yang tidak bekerja akan dilecehkan dalam masyarakat, namun hal ini tidak akan terjadi apabila istri yang tidak bekerja.
Gender dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. World Health Organization (WHO) memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu masyarakat.
Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis, walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan
femininitas. Ilustrasinya, sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisadianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.
Remiswal dalam bukunya “the psychological, social, and cultural differences between males and females.” (2013: 12). Menuturkan gender diartikan sebagai pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak sadar, bahwa seseorang dalam suatu jenis kelamin tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain. Lebih lanjut Remiswal (2013: 12) pada garis besarnya teori gender dikelompokkan kedalam dua aliran, yaitu nature dan nurture. Bersumber dari dua aliran besar inilah teori-teori gender dibangun.
Aliran nature mengatakan bahwa perbedaan peran laki-laki dan perempuan bersifat kodrati, sedangkan aliran nurture menyatakan bahwa perbedaan relasi gender antara laki-laki dan perempuan tidak ditentukan oleh factor biologis, melainkan oleh konstruksi masyarakat. Selain itu menurut Millet aliran nature melihat perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh perbedaan biologis. Sisi biologis laki-laki memiliki tubuh lebih kuat dan kekar. Perempuan mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Peran tersebut masing-masing tidak dapat dipertukarkan laki-laki.
Berbeda dengan aliran nurture, bahwa peran yang dikonstruksi oleh budaya masyarakat masih dapat dipertukarkan, seperti mencari nafkah, menjadi pimpinan, menyelesaikan urusan domestik serta urusan publik dan sebagainya, yang mana dapat dimainkan secara bergantian antara laki-laki dan perempuan.