FATWA MUI TENTANG HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA DALAM PERSPEKTIF
PERBANDINGAN MAZHAB
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana Hukum (S.H)
OLEH : ABDUL MUHYIDIN NIM: 11170430000105
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2022/1442
i
“FATWA MUI TENTANG HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA DALAMPERSPEKTIF
PERBANDINGAN MAZHAB"
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh :
ABDUL MUHYIDIN NIM: 11170430000105
Dosen Pembimbing:
Ahmad Bisyri Abdul Shomad M.A NIP. 19680320200003 1001.
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H / 2022 M
ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul “FATWA MUI TENTANG HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA DALAM PERSPEKTIF PERBANDINGAN MAZHAB” telah diajukan kedalam sidang munaqasyah Fakulta Syariah dan Hukum, program studi perbandingan mazhab Universitas Islam Negesi Syarif Hidayatullah Jakarta pada 17 Maret 2022. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program strata satu (S-1) pada Program Studi Perbandingan Mazhab
Jakarta, 17 Maret 2022 Mengesahkan
Dekan,
Dr. Ahmad Tholabi Karlie, M.A.
NIP. 1976608072003121001
PANITIA UJIAN MUNAQASYAH
1. Ketua : Siti Hanna, M.A,. (……….……….)
NIP. 197402162008012013
2. Sekertaris : Fitria, S.H., MR., Ph.D,. ( ...) NIP. 197908222011012007
3. Pembimbing : Ahmad Bisyri Abdul Shomad, M.A,. (……….……….) NIP. 196803202000031001
4. Penguji 1 : Dr. Abdurrahman Dahlan, M.A, (……….……….) NIP. 195811101988031001
5. Penguji 2 : Dr. Umar al Haddad, M.A, (……….……….) NIP. 196809041994011001
iii
iv
ABSTRAK
ABDUL MUHYIDIN, NIM 11170430000105, “HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA DALAM PERSPEKTIF PERBANDINGAN MAZHAB”. Program Studi Perbandingan Mazhab, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1443 H/ 2022 M.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hukum tes swab untuk deteksi covid-19 saat berpuasa salam perspektif hukum islam. Adapun objek hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fatwa MUI No.
23 Tahun 2021 tentang Hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat Berpuasa. sehingga penelitian ini menganalisis fatwa tersebut agar dapat mengetahui ketentuan hukum dan metode istinbat hukum dalam penetapan fatwa tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan (library research), dengan pendekatan kualitatif deskriptif, sehingga dalam penyelesaiannya harus dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan kaidah, teori, dalil dan sebagainya supaya hasil kesimpulan penelitian sejalan dengan persoalan-persoalan yang penulis sampaikan. Studi kepustakaan dilakukan dengan menelusuri berbagai literatur, baik berupa buku-buku, Al-Qur’an dan Hadits, Jurnal serta website yang berhubungan dengan tema penelitian.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa, tes swab yang dilakukan saat berpuasa hukumnya boleh, dikarnakan batasan masuknya
v
suatu benda (ain’) hanya sampai bagian luar ujung pangkal hidung dan tenggorokan saja sehingga tidak sampai membatalkan puasa dan alat yang digunakan dalam tes swab adalah benda yang kering dan tidak lenyap dan menetap didalam dan diperjelas dalam fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 sebagai langkah proaktif dan antisipatif MUI dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 yang telah merenggut banyak nyawa di indonesia.
Adapun landasan yang digunakan Majelis Ulama Indonesia dalam menetapkan fatwa merujuk kepada Al-Qur’an dan As-sunnah serta kaidah fiqhiyyah dan pendapat ulama dalam kitab-kitab yang mu’tabar dan relevan.
Kata kunci: Tes Swab, Fatwa MUI, Covid-19 Pembimbing : Ahmad Bisyri Abdul Shomad, M.A.
Daftar Pustaka : 1978-2021
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’allaikum Wr.Wb
Segala Puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan segala nikmat dan keberkahan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaiakan skripsi yang berjudul “HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA DALAM PERSPEKTIF PERBANDINGAN MAZHAB” dengan baik . Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada baginda nabi besar Muhammad SAW, yang telah membimbing umat nya dari zaman jahiliah menuju zaman kebaikan, zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan, semoga kelak kita semua bisa berkumpul di Yaumul Qiyamah kelak dan mendapatkan Syafa’at dari beliau.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selesainya Skripsi ini tentu dengan dukungan, bimbingan, dan bantuan serta doa dari orang-orang di sekeliling penulis selama proses pengerjaan skripsi ini. Oleh karena itu, izinkanlah penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Karlie, S.H., M.A., M.H., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Ibu Siti Hanna, M.A., Ketua Program Studi Perbandingan Mazhab 3. Bapak Hidayatulloh, SH.I., M.H., Sekretaris Program Studi
Perbandingan Mazhab
4. Bapak Ahmad Bisyri Abdul Shomad, M.A., Dosen Pembimbing Skripsi penulis
5. Ibu Siti Hanna, M.A., Dosen Pembimbing Akademik penulis
6. Pimpinan perpustakaan yang telah memberi fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan
7. Bapak Ibu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum 8. Ayah, Ibu, Kakak dan Keluarga
9. Kawan-kawan seperjuangan
vii
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki penulis. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan segala bentuk kritik dan saran yang membangun untuk pencapaian dan hasil yang lebih baik.
Wassalamuallaikum Wr.Wb
Jakarta, 03 Desember 2021
Abdul Muhyidin
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... i
LEMBAR KEASLIAN KARYA ILMIAH ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 2
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Pembatasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan & Manfaat Penelitian ... 10
1. Teoritis ... 10
2. Praktis ... 10
F. Tinjauan Pustaka ... 10
G. Kerangka Teori Dan Konseptual ... 11
H. Metode Penelitian... 15
1. Jenis Penelitian ... 15
2. Sumber Data ... 15
a. Data Primer ... 15
b. Data Skunder ... 15
c. Analisis Data ... 16
d. Teknik Penulisan ... 16
I. Sistematika Penulisan. ... 16
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PUASA DAN TES SWAB ... 17
A. Pengertian Puasa ... 17
B. Dasar Hukum Puasa ... 20
C. Syarat Dan Rukun Puasa ... 23
1. Syarat Wajib Puasa ... 24
2. Syarat Sah Puasa ... 26
3. Rukun Puasa ... 26
D. Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Puasa ... 28
E. Hikmah Berpuasa ... 32
F. Tes Swab ... 32
BAB III METODE ISTINBATH MAJELIS ULAMA INDONESIA DALAM MENETAPKAN FATWA NO 23 TAHUN 2021 ... 36
A. Profil Majelis Ulama Indonesia ... 36
B. Fungsi, Orientasi dan Peran Majelis Ulama Indonesia ... 37
C. Komisi Fatwa MUI dan Tugasnya ... 43
D. Fatwa Dalam Islam ... 44
E. Metode Istinbat Hukum MUI ... 47 F. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 23 tahun 2021 Hukum
ix
Tes Swab Untuk Deteksi Covid 19 saat Berpuasa ... 49
BAB IV ANALISIS KETENTUAN HUKUM DAN METODE PENETAPAN HUKUM DALAM FATWA MUI NO. 23 TAHUN 2021 ... 61
A. Analisis ketentuan hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat Berpuasa dalam Fatwa MUI No.23 Tahun 2021 ... 61
B. Fatwa MUI tentang Tes Swab dalam Perspektif Kedoketran ... 64
C. Hukum Swab Test (Antigen dan PCR) saat Berpuasa Menurut Pendapat Para Ulama ... 65
D. Analisis Metode Penetapan Hukum Fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 ... 67
E. Analisis Dalil Masing-Masing Pendapat Para Ulama Mengenai Hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat Berpuasa...69
BAB V PENUTUP ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 73
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di awal tahun 2020 dunia digemparkan dengan penyebaran virus baru yang mematikan, yaitu Coronavirus atau Covid-19. Coronavirus adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales.1 Infeksi virus Covid-19 pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019 yang menular dengan cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.2 Virus yang menimbulkan gejala utama berupa gangguan pernapasan3 ini, sejak bulan Januari 2020 telah dinyatakan oleh WHO (World Health Organization) masuk ke dalam darurat global dan bagian dari fenomena luar biasa yang terjadi pada abad ke-21 yang skalanya mungkin dapat disamakan dengan Perang Dunia II karena event-event skala besar seperti pertandingan-pertandingan olahraga internasional hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan.4
Virus Corona atau Covid-19 awalnya diduga dari hewan yang tak lazim dimakan oleh manusia. Corona virus sebetulnya tidak asing dalam dunia kesehatan hewan, namun hanya beberapa jenisnya yang mampu menginfeksi manusia hingga menjadi penyakit radang paru. Di kota Wuhan terdapat sebuah pasar hewan Huanan di Wuhan yang menjual berbagai jenis daging binatang, termasuk yang tidak biasa dikonsumsi oleh manusia misalnya ular, kelelawar,
1 Nur Rohim Yunus dan Annissa Rezki. 2020. Kebijakan Pemberlakuan Lockdown Sebagai Antisipasi Penyebaran Corona Virus Covid-19. Jurnal Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. Vol. 7. No. 3.
Halaman 228.
2 Merry Dame Cristy Pane. 2020. Virus Corona. Diakses Pada 18 Juli 2021.
https://www.alodokter.com/virus-corona/.
3 Sepriani Timurtini Limbong. 2020. Virus Corona (Covid- 19). Diakses Pada 18 Juli 2021.
https://www.klikdokter.com/penyakit/coronavirus/
4 Dana Riksa Buana. 2020. Analisis Perilaku Mayarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa. Jurnal Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. Vol. 7. No. 3. Halaman 218.
2
dan berbagai jenis tikus. Penyakit ini awalnya terjadi di Kota Wuhan dimana penduduknya terjangkit karena penduduknya banyak mengonsumsi jenis daging binatang yang sebenarnya tidak bisa di konsumsi oleh manusia.5
Di Indonesia kasus ini pertama kali ditemukan pada dua warga Depok, Jawa Barat pada awal Maret 2020. Berdasarkan data gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 hingga Kamis (22/4/2021), sebanyak 1.620.569 orang positif terinfeksi, 1.475.456 orang yang berhasil sembuh, sementara 44.007 lainnya meninggal dunia akibat serangan virus ini.6 Penyebaran virus ini di Indonesia menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 sangatlah cepat, hal tersebut di karenakan masyarakat tidak mengindahkan perintah pemerintah agar tetap berdiam diri di rumah dan masih banyak dari masyarakat yang melakukan aktivitas diluar rumah yang mengakibatkan adanya kerumunan masyarakat. Virus corona adalah wabah yang berbahaya.Meskipun gejala ini hanya akan dikira flu biasa, tetapi bagi analisis kedokteran virus ini cukup mematikan.7
Penyebaran kasus positif Corona Virus Disease 2019 yang selanjutnya disebut covid- 19 di Indonesia sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang besar dan belum mampu ditangani secara baik oleh pemerintah Indonesia.
berbagai macam kebijakan yang telah di ambil oleh pemerintah Indonesia untuk menaggulangi efek secara masif baik berupa pencegahan penyebaran covid-19 melaui pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai dengan berbagai macam kebijakan-kebijakan pemulihan perokonomian seperti, listrik gratis, bantuan sosial tunai dan pencairan kartu prakerja telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.8
5 Galuh Pravita Nunsil dan Karin Agustin Gusa. 2020. Kebijakan Rapid Test Drive Thru Oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. jurnal kebijakan pemerintah. Vol 3 No.1 Halaman 37.
6 Lihat: gugus tugas percepatan penangan covid-19, "Data sebaran", situs resmi gugus tugas percepatan penanganan Covid 19, https://covid19.go.id/ (Diakses 22 April 2021).
7 Galuh Pravita Nunsil dan Karin Agustin Gusa. 2020. Kebijakan Rapid Test Drive Thru Oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. jurnal kebijakan pemerintah. Vol 3 No.1 Halaman 38.
8 Faisal Herisetiawan Jafar. Tinjauan Hukum Pemberlakuan Harga Rapid Test antigen dan Swab Test PCR. Halaman 124.
3
Penanganan atas virus Covid-19 diberbagai negara dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melakukan kebijakan lockdown untuk membatasi penyebaran virus ini secara total,9 ada yang menerapkan sistem lockdown secara total ataupun sebagian dan ada juga yang hanya melakukan pembatasan sosial seperti Indonesia yang aturan pelaksaannya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Tindakan pencegahan penyebaran covid-19 sangat diperlukan dengan langkah-langkah pencegahan yang dianjurkan oleh pemerintah guna untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19, yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan 5M yaitu dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker, menjaga jarak minimal 1 meter, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
Virus corona ini memiliki banyak dampak negatif bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat harus waspada untuk keluar rumah mencari nafkah bahkan pemerintah juga menyarankan untuk tetap didalam rumah jika tidak untuk melaksanakan sesuatu yang benar-benar darurat. jika memang mendesak harus keluar rumah maka harus menaati peraturan perjalanan dalam negri dengan transportasi udara pada masa pandemi corona virus disease 2019 dalam Surat Edaran Nomor SE 96 tahun 2021 yang salah satunya dengan menyertakan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen atau surat keterangan hasil negatif test RT-PCR dan kartu Vaksinasi minimal dosis pertama.10
Rapid test antigen adalah tes imun yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu yang menunjukkan adanya infeksi virus saat ini. Rapid test antigen biasanya digunakan untuk mendiagnosis patogen
9 Muhyidin. 2020. Covid-19. New Normal dan Perencanaan Pembangunan di Indonesia. The Indonesian Journal of Development Planning. Vol. 4. No. 2. Halaman 241
10 SE 96 Tahun 2021 Kemenhub PPDN dengan transportasi udara. Diakses 18 November 2021.
https://covid19.go.id/p/regulasi/se-96-tahun-2021-kemenhub-ppdn-dengan -transportasi-udara
4
pernapasan, seperti virus influenza dan respiratory syncytial virus (RSV).11 Sedangkan, swab test PCR (Polymerase Cain Reaction) adalah salah satu pemeriksaan molekuler untuk seluruh pasien yang terduga terinfeksi Covid-19.
Tes ini merupakan rekomendasi yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tes ini digunakan untuk mendeteksi penyakit dengan cara mencari jejak materi genetik virus pada sampel yang dikumpulkan. Sampelnya yang dikumpulkan ini diambil melalui teknik usap hidung atau tenggorokan (swab).12
Diantara penyelenggaraan ibadah yang terkena dampak aturan pemenuhan protokol kesehatan dan banyak dipertanyakan dimasyarakat adalah hukum tes swab untuk deteksi covid-19 saat berpuasa. Pelaksanaan tes swab tetap harus dilakukan untuk memastikan karyawan, tenaga medis, pengguna transportasi dan lainnya untuk mengetahui seorang terdampak virus covid-19 atau tidak saat akan berpergian keluar.
Puasa adalah ibadah pokok yang telah ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. Ibadah yang dimaksud dalam hal ini adalah ibadah puasa ramadhan. puasa menurut bahasa berasal dari kata shaum. Bentuk jamaknya shiyam. Darti kata shaum adalah al-imsak (menahan). Dalam syari’at puasa artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai dengan niat, dimulai sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari13
Puasa dalam syariat islam ada dua macam, yaitu puasa wajib dan puasa sunah. Puasa wajib ada tiga macam, puasa yang terikat dengan waktu (puasa ramadhan selama sebulan), puasa yang wajib karna ada illat, seperti puasa sebagai kafarat, dan puasa seseorang yang mewajibkan pada dirinya sendiri, yaitu puasa nazar. Puasa sunnah (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun
11 Dr. Fadhli Rizal Makarim, 2020, PCR Test Dan Swab Antigen Tidak Sama, Ini Penjelasannya, Https://www.Halodoc.Com/Artikel/Pcr-Test-DanSwab-Antigen-Tidak-Sama-Ini-Penjelasannya ,Diakses 11 Mei 2021
12 Dr. Fadhli Rizal Makarim, 2020, PCR Test Dan Swab Antigen Tidak Sama, Ini Penjelasannya, Https://www.Halodoc.Com/Artikel/Pcr-Test-DanSwab-Antigen-Tidak-Sama-Ini-Penjelasannya ,Diakses 11 Mei 2021
13 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Predana Media,2003), halaman, 52
5
puasa sunnah itu antara lain, puasa enam hari di bulan syawal, puasa tengah bulan (11,12,13) dari tia-tiap bulan qomariyah, puasa hari senin dan kamis, puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah atau Haji), puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, puasa nabi Dawud AS, puasa bulan Rajab, Sya’ban dan bulan- bulan suci.14
Puasa dibulan ramadhan merupakan salah satu kewajiban yang ditetapkan Allah dan diketahui secara umum oleh umat islam. Tentang kewajiban puasa ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman dalam AlQur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 183:
َت ْمُكَّلَعَل ْمُكِلْبَق ْنِم َنْيِذَّلا ىَلَع َبِتُك اَمَك ُماَي ِ صلا ُمُكْيَلَع َبِتُك ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ََۙن ْوُقَّت
- ١٨٣
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,15
Maksud puasa di dalam ayat tersebut adalah kewajiban bagi setiap orang yang beriman untuk melaksanakan puasa agar menjadi golongan orang- orang yang ber takwa. Adapun puasa menurut istilah adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, yaitu mulai dari fajar hingga matahari terbenam, dan disertai dengan niat.16
Syarat wajib puasa yaitu beragama Islam, baligh (sampai umurnya), berakal (tidak gila atau mabuk), lelaki atau perempuan, suci dari haid dan nifas bagi perempuan, berada di kampung, tidak wajib atas orang musafir, sanggup berpuasa ,tidak wajib atas orang yang lemah dan orang sakit.17
Rukun puasa ada empat, yaitu: niat, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari bersanggama, menahan diri dari muntah dengan sengaja.18 Berkaitan dengan puasa, ada sesuatu yang harus kita perhatikan sebagai orang yang melaksanakannya, yaitu mengenai hal-hal yang dapat
14 Aulia Rahmi. 2015. Puasa dan hikmahnya terhadap kesehatan fisik dan mental spiritual. Vol.3, No.1. halaman 90.
15 quran.kemenag.go.id/sura/2/173
16 Sayyid sabiq. Fiqih Sunnah Jilid 2, (Jakarta: PT. Tinta Abadi Gemilang, 2013), halaman. 189
17 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Puasa, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra,
1998), halaman. 86
18 Abu Syuja, Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i. (Jakarta: PT. Mizan Publika, 2017), halaman. 219.
6
membatalkan puasa itu sendiri, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya puasa itu berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya, maka kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat membatalkan puasa tersebut. Berikut ini beberapa hal yang dapat membatalkan puasa:
1. Masuknya benda kedalam tubuh dengan sengaja memalui lubang yang terbuka (mulut,hidung,dan lain-lain), atau
2. Melalui jalaln yang tertutup, seperti masuk kedalam kepala dari luka yang tumbuh ke otak.
3. Huqnah (menyuntik) obat dibagian salah satu dari qubul dan dubur.
4. Muntah dengan sengaja.
5. Wathi’ dengan sengaja dibagian farji.
6. Inzal, yaitu keluar sperma sebab bersentuhan kulit dengan tanpa melakukan jima’.
7. Haid.
8. Nifas.
9. Gila.
10. Murtad.19
Para ulama dari berbagai mazhab bersepakat bahwa tindakan memasukan makanan, minuman dan benda lain kedalam perut dapat membatalkan puasa. Namun memasukan benda yang masih berada di atas rongga mulut masih diperselisihkan batasannya oleh para ulama. Demikian pula dengan memasukan benda kedalam hidung.
Mengenai cara pengambilan sempel lendir melalui tes swab memiliki kemiripan dengan tindakan “ As-sa’uth “ dalam istilah ulama fiqih sebagaimana keterangan
َو َسلا ُع َص ُطو ِف هب َلا ي ِفن
Artinya, “As-Sa’uth” adalah menuangkan obat kedalam hidung20
19 Syeikh Syamsuddin Abu abdillah, Terjemah Kitab Fathul Qarib. (Malang: Ponpes Al-Khoirot), halaman. 126-127.
20 Syekh Wahbah Az-Zuhaily, Al-fiqhul islami wa adilatuh, Beirut, Darul fikr: 1985 M/ 1405 H, cetakan kedua, Juz II, halaman 652.
7
Dan pendapat Mazhab Syafi’i yang menyebutkan bahwa syarat sah puasa adalah menahan diri dari tindakan memasukan sesuatu kedalam rongga hidung meski sedikit atau bukan makanan
َو َخلا ُس ِما ِلا َسم ُكا َع(
ُد ن ِلو ُخ َع ِني ِم ) ن َأ ِن ُيع ُّدلا َو ا َين ِإ َق ن َو ت َل َل ُت م َم ل َكؤ ُي ا َم َس َج( ى فو َك )ا َب ِن ِطا ُأ ِن ُذ
َو َو ُه َم َو ا َءا َر ُملا َب َطن ِق َو ِفن َلا َم َو ا َءا َر َقلا َص َب َج ِة ِم َه ا ِعي
Artinya: “Kelima adalah menahan (dari kemasukan suatu benda ) dari sekian benda dunia meski sedikit dan tidak dapat dimasukan kedalam apa yang disebut sebagai (rongga) seperti bagian dalam hidung, yaitu sesuatu dibalik lapisan. Sementara hidung adalah sesuatu disepanjang pipa/rongga hidung,”21
Dari hal-hal diatas yang dapat diketahui bahwa salah satu hal yang dapat membatalkan puasa yaitu adanya sesuatu yang masuk kedalam lubang tubuh dan kepala dengan sengaja. maksudnya, puasa yang djalankan seseorang akan batal ketika adanya benda ('ain) yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam yang dalam yang terbuka seperti mulut, telinga, hidung. Benda tersebut masuk kedalam jauf dengan kesengajaan dari diri seseorang.
Puasa batal ketika terdapat benda, baik itu makanan, minuman, atau benda lainnya yang sampai pada tenggorokan, misalnya. Namun, tidak batal bila benda masih berada dalam mulut dan tidak ada sedikitpun bagian dari benda itu yang sampai pada tenggorokan. 22
Perbedaan pendapat dikalangan ulama mazhab mengenai memasukan benda yang masih berada di atas rongga mulut masih diperselisihkan batasannya oleh para ulama, demikian pula memasukan benda kedalam rongga hidung. Hal tersebut menjadi dasar yang sangat perlu untuk dikaji. Karena puasa barulah sah jika kita meninggalkan pembatalnya. Sebagaimana wabah COVID-19 yang terjadi sekarang ini, melihat perkembangan kematian akibat virus ini yang kunjung belum turun, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI)
21 Syekh Muhammad bin Salim bin Said babasil As-Syafi’i , Is’aduur Rafiq, (Surabaya, Maktabah Al-
Hidayah) Juz I, halaman.115-116,.
22 Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari, fath al-mu'in, (surabaya, daarul ulm) juz 1, halaman.259.
8
telah mengeluarkan fatwa tentang Hukum Tes Swab Untuk Deteksi COVID- 1923 saat berpuasa dalam rangka memutus mata rantai penyebaran COVID-19 .
Penyelenggaraan tes swab untuk deteksi Covid-19 saat berpuasa menciptakan pertanyaan-pertanyaan mengenai hukum, keabsahan dan hal lainnya dari masyarakat Indonesia. Menanggapi hal tersebut Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga swadaya masyarakat yang membimbing umat dan memiliki kewenangan untuk mengeluarkan fatwa menetapkan Fatwa MUI No.
23 Tahun 2021 Hukum Tes Swab untuk Deteksi COVID-19 saat berpuasa.
Fatwa tersebut menjadi jawaban dari persoalan pelaksanaan tes swab yang dilakukan saat berpuasa sebagai upaya pencegahan penularan wabah Covid 19 di Indonesia.
fatwa tentang Hukum Tes Swab Untuk Deteksi COVID-19 saat berpuasa. Fatwa bernomor 23 tahun 2021 yang diterbitkan pada Kamis, 08 April 2021 ini ditandatangani oleh ketua komisi fatwa MUI Prof Dr Hasanuddin AF, MA dan sekertaris Dr Asrorun Ni'am Sholeh,MA. Ada dua ketentuan hukum yang menjadi kesimpulan dalam fatwa MUI ini. Pertama Pelaksaan tes Swab sebagaimana dalam ketentuan umum tidak membatalkan puasa. Kedua Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes Swab untuk deteksi COVID-19. Disebutkan, bahwa latar belakang dikeluarkannya fatwa ini adalah munculnya pertanyaan dari masyarakat mengenai hukum tes swab saat berpuasa. sebagai salah satu cara yang efektif untuk mendeteksi apakah seseorang positif atau negatif COVID-19 adalah dengan tes swab. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih teliti dan menganalisa serta mendalami lagi sehingga penulis membuat judul
"Hukum Tes Swab Untuk Deteksi COVID-19 Saat Berpuasa Dalam Perspektif Perbandingan Mazhab"
23 Lihat: majelis ulama indonesia, " fatwa No 23 tahun 2021 Hukum tes swab untuk deteksi covid-
19 saat berpuasa", Situs resmi majelis ulama indonesia.
https://mui.or.id/produk/fatwa/27752/fatwa-no-23-tahun-2021-hukum-tes-swab-untuk-deteksi- covid-19-saat-berpuasa/ (Diakses 21 April 2021).
9 C. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diidentifikasikan permasalahan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan tes swab ?
2. Bagaimana pendapat MUI mengenai hukum tes swab saat berpuasa ? 3. Bagaimana pendapat ulama mazhab tentang test Swab saat berpuasa ? 4. Apakah memasukan benda yang masih berada di atas rongga mulut dan
hidung sebagaimana tes swab dapat membatalkan puasa ?
5. Apakah putusan MUI mengenai hukum tes swab saat berpuasa sesuai dengan pendapat para ulama mazhab ?
6. Apa faktor yang melatar belakangi munculnya fatwa mengenai hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa ?
7. Bagaimana landasan hukum yang digunakan MUI dalam memutuskan sebuah fatwa?
D. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini tidak menyimpang dari topik yang akan dibahas, maka penyusun membatasi masalah penulisan ini pada Fatwa MUI No.23 Tahun 2021 tentang Hukum tes swab untuk deteksi covid-19 saat berpuasa. Hal ini dimaksud agar pembahasan dalam penyusunan skripsi ini tidak terlalu melebar serta mempunyai spesifikasi dalam ketajaman pembahasan.
E. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis akan merumuskan masalah yang akan dilakukan dalam penelitian ini, adapun rumusan masalahnya adalah:
10
1. Apakah fatwa MUI tentang hukum tes swab saat berpuasa sudah sesuai dengan pandangan para ulama mazhab ?
2. Apa metode istinbat hukum yang digunakan MUI dalam menetapkan fatwa No. 23 tahun 2021 ?
3. Bagaimana pendapat para ulama mengenai hukum tes swab saat berpuasa?
4. Apa alasan masing-masing pendapat para ulama mengenai hukum tes swab ?
5. Mana pendapat yang paling kuat diantara pendapat para ulama mengenai hukum tes swab saat berpuasa ?
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan suatu penulisan adalah mengungkapkan secara jelas apa yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan.maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa 2. Untuk mengetahui matode istimbat apa yang diterapkan MUI dalam
menyusun fatwa hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa Dari uraian penelitian diatas diharapkan memberi manfaat sebagaimana berikut:
a. Manfaat teoritis
1) Penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dibidang hukum islam.
2) Penelitian ini dapat menambah pengalaman dan pemahaman terhadap masalah yang diteliti.
b. Manfaat praktis
1) Untuk memberikan kebijakan dan keputusan mengenai tes swab saat berpuasa.
2) Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan sebagai bahan kajian dan perbandingan bagi para mahasiswa syari’ah khususnya yang tertarik mengkaji tentang hukum tes swab untuk deteksi Covid-19 saat berpuasa.
11 G. Tinjauan Pustaka
1. Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 23 Tahun 2021 tentang hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa
2. Skripsi karya Andi Marlia Umar, Mahasiswa sarjana, UIN Alauddin Makassar, "Hukum menggunakan inhaler bagi penderita asma saat berpuasa dalam perspektif hukum islam", dalam skripsi ini membahas tentang penggunaan inhaler pada saat berpuasa dan hukumnya.
Penggunaan inhaler saat berpuasa tidak membatalkan puasa jika dipakai saat keadaan sakit asma karna sebagai rukhsah pada suatu kondisi untuk maksud memberikan keringanan khusus yang menghendaki keringanan ini. tetapi jika dipakai dengan sengaja untuk memberikan efek segar dalam tenggorokan saat digunakan, maka hukum puasanya menjadi batal.
3. Skripsi karya Rahmi Rahmawanti. “Analisa Terhadap Pendapat Ibnu Hazm Tentang Batalnya Puasa Karena Sengaja Melakukan Kemaksiatan”.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. 2013. Skripsi ini mencoba mengungkapkan masalah batalnya puasa disebabkan karena melakukan kemaksiatan dengan sengaja menurut Ibnu Hazm dengan menggunakan pendekatan analisis. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Ulama sepakat bahwa melakukan maksiat ketika berpuasa itu tidak dapat membatalkan puasa, akan tetapi hanya dapat mengurangi pahala puasanya. Namun beda hal nya dengan Ibnu Hazm, yang berpendapat bahwa orang yang melakukan maksiat ketika ia dalam keadaan sadar bahwa ia berpuasa, maka puasanya batal dan tidak dapat diqadha, dengan alasan bahwasanya ada dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW telah melarang kata-kata kotor dan bertindak bodoh saat sedang berpuasa, menurutnya kedua hal tersebut merupakan nama yang umum melingkupi semua maksiat.
4. Skripsi karya Willy Giantomi. “Pendapat Syekh Usaimin dan Yusuf Qardhawi tentang Hukum Suntik ketika Puasa”. Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung. 2019. Skripsi ini membahas tentang perbedaan pendapat syekh Utsaimin dan Yusuf Qhardawi mengenai batal atau tidaknya puasa ketika melakukan suntik. Menurut syeikh Utsaimin bahwa suntikan obat tidak membatalkan puasa sedangkan suntik yang mengandung zat makanan dapat membatalkan puasa dengan dalil QS Al-Baqarah ayat 187 karna mengqiyaskan suntik sebagai pengganti dari makanan , sedangkan Yusuf Qhardawi berpendapat bahwa kedua cairan suntik tersebut tidak membatalkan puasa dengan dalil Hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud karna mengqiyaskan suntik sama halnya seperti mandi.
12 H. Kerangka Teori dan Konseptual
1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah identifikasi teori-teori yang dijadikan sebagai landasan berfikir untuk melaksanakan suatu penelitian atau dengan kata lain untuk mendiskripsikan kerangka referensi atau teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan. Tentang hal ini jujun S.Soerya Sumantri mengatakan: Pada hakekatnya memecahkan masalah adalah dengan menggunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar argumen dalam mengkaji persoalan agar kita mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan. Dalam hal ini kita mempergunakan teori-teori ilmiah sebagai alat bantu kita dalam memecahkan permasalahan.24
Kerangka teori yang digunakan pada penelitian ini adalah a. Teori Puasa
Puasa adalah ibadah pokok yang telah ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. Ibadah yang dimaksud dalam hal ini adalah ibadah puasa ramadhan. puasa menurut bahasa berasal dari kata shaum. Bentuk jamaknya shiyam. Darti kata shaum adalah al-imsak (menahan). Dalam syari’at puasa artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai dengan niat, dimulai sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.25
Puasa dalam syariat islam ada dua macam, yaitu puasa wajib dan puasa sunah. Puasa wajib ada tiga macam, puasa yang terikat dengan waktu (puasa ramadhan selama sebulan), puasa yang wajib karna ada illat, seperti puasa sebagai kafarat, dan puasa seseorang yang mewajibkan pada dirinya sendiri, yaitu puasa nazar. Puasa sunnah (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnah itu antara lain, puasa enam hari di bulan syawal, puasa tengah bulan (11,12,13) dari tia- tiap bulan qomariyah, puasa hari senin dan kamis, puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah atau Haji), puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, puasa nabi Dawud AS, puasa bulan Rajab, Sya’ban dan bulan-bulan suci.26
b. Teori metode penetapan fatwa MUI
24 Jujun S.Soeryasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1978,
h. 316
25 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Predana Media,2003), halaman, 52
26 Aulia Rahmi. 2015. Puasa dan hikmahnya terhadap kesehatan fisik dan mental spiritual. Vol.3, No.1. halaman 90
13
Penetapan fatwa yang dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI dilakukan secara kolektif, penetapan fatwa didasarkan pada Alquran, Hadis, Ijma’, Qiyas dan dalil lain yang mu’tabar. Proses penetapan fatwa oleh MUI bersifat responsif, proaktif dan antisipatif, fatwa yang ditetapkan MUI bersifat argumentatif (memiliki kekuatan hujjah), legitimatif (menjamin penilaian keabsahan hukum), kontekstual (waqi’iy), aplikatif (siap diterapkan) dan moderat.27 Terdapat tiga pendekatan dalam penetapan fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI);28
1) Pendekatan pertama adalah nash qath’I yang bersumber dari Alquran dan Hadis, jika fatwa telah jelas hukumnya di dalam Alquran maupun Hadis maka akan disampaikan sebagaimana mestinya.
2) Pendekatan kedua adalah pendekatan Qauly, yakni dengan mengambil jawaban dari kitab-kitab yang mu’tabar, jika terjadi perubahan sosial maka akan dikaji ulang
3) Pendekatan ketiga adalah pendekatan manhajy, yakni melalui ijtihad kolektif (jama’i)
c. Teori Fatwa (Fatwa MUI No. 23 Tahun 2021)
. Secara etimologis, kata “fatwa” berasal dari bahasa Arab berbentuk mashdar (kata benda) yang berarti jawaban atas pertanyaan atau hasil ijtihad atau ketetapan hukum mengenai suatu kejadian sebagai jawaban atas pertanyaan yang belum jelas hukumnya.29 Zamakhsary dalam “al-Kasyaf” mengartikannya sebagai suatu penjelasan hukum syariat tentang suatu masalah sebagai jawaban dari pertanyaan orang tertentu maupun tidak tertentu, yakni kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat banyak.30
Fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 Tentang Hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat Berpuasa ditetapkan oleh MUI pada Kamis, 08 April 2021. Ditetapkannya fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 bertujuan untu menjadi pedoman dalam pelaksanaan Tes Swab saat berpuasa ditengah aturan protokol kesehatan. Fatwa ini memiliki nilai argumentasi yang hukum kuat, karna mengunakan dalil-dalil yang kuat.
2. Kerangka Konseptual
27 Majelis Ulama Indonesia, Pedoman Penetapan Fatwa MUI, halaman. 75
28 Ahmad Insya' Ansori dan Moh. Ulumuddin, Kedudukan Fatwa MUI Dan Lembaga Fatwa Di Indonesia, Jurnal Mahkamah, Vol. 5, No. 1, Juni 2020, halaman. 43
29 Hasbi Ash-Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam Cet.I, (Semarang: Pustaka Rizki, 1997), halaman. 86.
30 Nispul Khoiri, “Metodologi Istinbath Fikih Zakat Indonesia” (Disertasi—UIN Sumatera Utara, 2014), halaman. 51-52
14
Kerangka konseptual adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin diteliti. Kerangka konsep ini digunakan untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas.31
a. Tes Swab
Swab test antigen dan PCR adalah istilah yang berkaitan dengan diagnosis Covid-19 dalam tubuh seseorang. Swab dilakukan dengan cara mengusap rongga nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan) dan atau orofarings (bagian antara mulut dan tenggorokan) dengan menggunakan alat seperti kapas lidi khusus.
b. Tes Swab saat berpuasa
Salah satu aspek yang banyak dipertanyakan oleh masyarakat mengenai hukum tes swab saat berpuasa dibulan ramadhan yaitu apakah melakukan tes swab dapat membatalkan puasa, karna tes swab menjadi aturan yang ditekankan khususnya kepada karyawan, tenaga kesehatan dan orang yang akan berpergian, oleh karnanya Mui mengeluarkan fatwa No.23 Tahun 2021 tentang hukum tes swab untuk deteksi Covid-19 saat berpuasa.
c. Fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 (Ketentuan Hukum dan Metode Penetapan Fatwa)
Fatwa MUI No. 23 Tahun 2021 adalah fatwa tentang hukum tes swab untuk deteksi Covid-19 saat berpuasa untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19 yang makin hari makin banyak memakan korban jiwa. Fatwa ini ditetapkan dengan menggunakan saalah satu metode penetapan fatwa MUI.
31 Yogi. KERANGKA KONSEPTUAL.Diakses dari https://yogipoltek.wordpress.com/. Pada tanggal 8
okotober 2021.
TES SWAB
TES SWAB SAAT BERPUASA
FATWA MUI No. 23 TAHUN 2021
KETENTUAN HUKUM
METODE PENETAPAN FATWA
15 I. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif.
Metode tersebut merupakan upaya memahami berbagai konsep yang ditemukan dalam proses penelitian, dengan menggunakan teknik content analysis (analisisisi) dan riset kepustakaan (library research). Teknik content analysis merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui simpulan dari sebuah teks. Dengan kata lain, analisis isi merupakan metode penelitian yang ingin mengungkap gagasan penulis yang termanifestasi maupun yang laten. Sedangkan riset kepustakaan (library research) pada penelitian ini menggunakan jenis dan sumber data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian, artikel dan buku-buku referensi yang membahas topik yang berkaitan dengan masalah (tema( penelitian.
2. Sumber Data
a. Sumber Data Primer
Dalam sumber ini yang menjadi data primernya adalah fatwa MUI No 23 tahun 2021 tentang hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa.
b. Sumber Data Sekunder
Sedangkan data skundernya adalah yang diperoleh dari buku buku yang relevan dengan kajian ini seperti buku fiqih, artikel dan sebagainya.
c. Metode Pengumpulan Data
Karena penelitian ini bersifat kepustakaan, maka metode pokok yang penulis gunakan dalam mengumpulkan data adalah metode dokumentasi, yaitu mengumpulkan dan menelusuri buku buku dan tulisan yang relevan dengan kajian ini.
d. Analisis Data
16
Analisis data dalam skripsi ini penulisannya menggunakan analisis kualitatif dengan metode eskriptif analisis.32 Setelah data terkumpul dan penulis kaji kemudian penulis menganalisisnya dengan pendekatan normatif yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits serta pendapat para fuqoha.
e. Teknik Penulisan
Penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta terbitan tahun 2017
J. Sistemaika Penulisan
Seacara garis besarnya penulis memberikan gambaran secara umum dari pokok pembahasan ini. Isi penelitian ini terdiri dari lima bab, yang masing- masing bab saling erat kaitannya, pembagian tersebut adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN : Dalam bab ini akan membahas antara lain latar belakang masalah,pembatasan dan perumusan masalah,tujuan dan manfaat penelitian,kerangka teoritis,metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : dalam bab ini berisi tinjauan umum mengenai definisi puasa, dasar hukum puasa, rukun, syarat, tujuan berpuasa, hal-hal yang dapat membatalkan puasa, serta hikmah puasa dan tes swab.
BAB III : Dalam bab ini berisi profil MUI, fungsi, orientasi dan peran Majelis Ulama Indonesia. Komisi fatwa MUI dan tugasnya. Fatwa dalam islam.
metode istimbat hukum MUI. Fatwa Nomor 23 Tahun 2021 tentang hukum tes swab untuk deteksi covid 19 saat berpuasa.
BAB IV : Dalam bab ini berisi analisis ketentuan hukum dan metode penetapan hukum dalam fatwa MUI No. 23 Tahun 2021
BAB V : Dalam bab ini berisi penutup yaitu kesimpulan dan saran-saran.
32 Suharsimi Arikunto, Suatu Pendekatan Praktek Penelitian, (Yogyakarta: Cipta,tth,) hlm.206.
17
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PUASA DAN TES SWAB
A. PENGERTIAN PUASA
Kata puasa secara etimologi merupakan terjemahan dari kata
“shaum” yang berarti menahan “imsak”.33 Termasuk kedalam pengertian ini menahan berbicara dengan orang lain seperti disebut dalam Al-Qur’an QS.
Maryam ayat 26
ْيِلُكَف َف ا م ْوَص ِن ٰمْح َّرلِل ُت ْرَذَن ْيِ نِا ْٰٓيِل ْوُقَف َۙا دَحَا ِرَشَبْلا َنِم َّنِي َرَت اَّمِاَفۚ ا نْيَع ْي ِ رَق َو ْيِب َرْشا َو َم ْوَيْلا َمِ لَكُا ْنَل
ۚ اًّيِسْنِا - ٢٦ Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam [19]: 26).34
Sabda Rasulullah SAW :
ُالله ى لَص ىِب نلا ُتْعِمَس َلاَق َرَمُع ِنْبا ِنَع ُراَه نل ا َرَبْدَا َو ُلْي للا َلَبْقَااَذِا : ُل ْوُقَي َم لَس َو ِهْيَلَع
ُسْم شلا ِتَباَغ َو
ملسم و ىراخبلا هاور ( ُمِئا صلا َرَطْفَا ْدَقَف (
Dari Ibnu Umar. Ia Berkata, “Saya telah mendengar Nabi SAW bersabda, “Apabila malam datang, siang lenyap, dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang berpuasa’.” (HR.Bhukori dan Muslim)35
33 Ahmad Narson Munawair, Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1977), Cet. Ke- IV. halaman. 84.
34 quran.kemenag.go.id/sura/19/26
35 Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: DaarAl-Fikri, tt), juz 3, halaman. 37.
18
Sedangkan arti shaum menurut terminologi syariat adalah menahan diri pada siang hari dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat oleh pelakunya, sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari36.
dalam kitab Subul Al Salam, para ulama fikih mengartikan puasa sebagai berikut:
ِع ْر شلا ِهِب َد َر َوا مِم َاه ِرْيَغ َو ِع اَم ِجْلا َو ب ْر شلا َو ِلكلا ِنَع ُك َاسْمِلا : ُم َاي صلَا اَه نلا ْيِف
ِدح َولا يَلَع ِر
َغ َو ِثَف رلاو ِوْغ للا ِنَع ُك اَسْمِلا َكلِلَذ ُعَبْتَي َو ِعوُرْشَمْلا رْحَمْلا ِملآكْلا َنِم اَه ِرْي
ِم ُُ
ٍتْق َو يف ِه ْوُرْكَمْلا َو
ٍةَص ْوُصْخَم ٍطر ْو ُرُشِب ص وُصْخَم
“puasa adalah menahan diri dari makan, minum bersetubuh, dan lain-sebagainya, yang telah disebutkan oleh syariat, pada siang hari sesuai tata cara yang telah disyariatkan, selain itu puasa juga bermakna menahan diri dari perkataan yang keji, sia-sia (membual), dan perkataan-perkataan yang diharamkanatau makruh, berdasarkan hadis hadis yang melarang hal tersebut selama berpuasa.”37
Dalam Islam, puasa adalah rukun Islam yang ketiga yang wajib dilaksanakan seorang muslim yang mukallaf, bentuknya dengan menahan diri dari segala yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dan wajib dilakukan sesuai dengan syarat, rukun, dan larangan yang telah ditentukan.38
dalam kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa:
َو عر َش ِا ا َسم َع ُكا ُم ن ِر ِطف ِب ِن َي َم ٍة َصو ُصخ َج ٍة َعي ِم َه َن ِرا
36 Su’ad Ibrahim Shalih, Fiqih Ibadah Wanita, (Jakarta:Bumi Arkasa, 2011), halaman. 393.
37 Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus Salam (Jakarta :Darrus Sunnah Press, 2008), halaman.104.
38 Muhaimin, B.A., dkk., (Fiqh, Semarang: Penerbit Aneka Ilmu), Cet. 1995, halaman. 51
19
Artinya, secara syara’, puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, dengan niat tertentu, mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.39
Makna al-siam dalam syariat islam memliki dua pengertian. Pertama, menahan diri dari segala perbuatan yang muftirat (membatalkan). Kedua, menahan diri dari segala perbuatan muhlikat (merusak).40
Muftirat ialah segala tuntutan jasmaniah seperti makan,minum, dan hubngan seksual. Menahan diri dari muftirat berarti menghentikan segala kegiatan jasmaniah tadi sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari selama bulan ramadhan, dilandasi dengan keimanan dan ketaatan terhadapAllah SWT, serta mengharap keridhaan-Nya semata-mata. Pada hari-hari biasa (diluar ramadhan), semua perbuatan itu dihalalkan.
Muhlikat ialah segala tuntutan nafsu dan syahwat yang menjurus kepada perbuatan dosa (munkar dan maksiat) seperti berdusta, menista, memfitnah, menghasut, mengunjing mengadu domba, menipu, dan perbuatan keji yang tidak terpuju lainnya. Semua perbuatan muhlikat tadi diharamkan bagi manusia mukmin bukan hanya pada bulan ramadhan saja, melainkan juga pada setiap saat.41
Dari beberapa definisi tersebut dapat diambil pengertian puasa secara umum yaitu: suatu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambanya yang beriman dengan cara mengendalikan syahwat, makan, minum, dan hubungan seksual serta perbuatan-perbuatan yang merusak nilai puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Artinya, puasa adalah penahanan diri dari syahwat perut dan syahwat kemaluan, serta dari segala benda konkret yang merasuki rongga dalam tubuh (seperti obat dan
39 Syekh Muhammad bin qosim Al-Gozy , Fathul Qorib, (Indonesia, Maktabah Daaru Ihya’i alKutub al-Arobiyah), halaman. 25
40 Mas Izza, fiqih ramadhan (jombang:darul hikmah,2009),halaman.3.
41 Habibi arif, risalah puasa (jombang: darul hikmah, 2009),halaman.3.
20
sejenisnya), dalam rentan waktu tertentu yaitu sejak terbitnya fajar kedua (yakni fajar shadiq) sampai terbenamnya matahari yang dilakukan oleh orang tertentu yang memenuhi syarat yaitu beragama islam, berakal, dan tidak sedang haid dan nifas, disertai niat yaitu kehendak hati untuk melakukan perbuatan secara pasti tanpa ada kebimbangan, agar ibadah berbeda dari kebiasaan.42
B. DASAR HUKUM PUASA
Berdasarkan dalil Al-Qur’an, sunnah, dan ijma’, puasa bulan ramadhan merupakan salah satu rukun dan fardhu (kewajiban) dalam islam.
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183 – 185 ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ََۙن ْوُقَّتَت ْمُكَّلَعَل ْمُكِلْبَق ْنِم َنْيِذَّلا ىَلَع َبِتُك اَمَك ُماَي ِ صلا ُمُكْيَلَع َبِتُك ا
– ٍٍۗتٰد ْوُدْعَّم ا ماَّيَا١٨٣
َنْيِذَّلا ىَلَع َو ٍۗ َرَخُا ٍماَّيَا ْن ِم ٌةَّدِعَف ٍرَفَس ىٰلَع ْوَا ا ضْي ِرَّم ْمُكْنِم َناَك ْنَمَف ْنَمَف ٍٍۗنْيِكْسِم ُماَعَط ٌةَيْدِف ٗهَن ْوُقْيِطُي
َن ْوُمَلْعَت ْمُتْنُك ْنِا ْمُكَّل ٌرْيَخ ا ْوُم ْوُصَت ْنَا َو ٍۗ ٗهَّل ٌرْيَخ َوُهَف ا رْيَخ َع َّوَطَت -
َل ِزْنُا ْٰٓيِذَّلا َناَضَم َر ُرْهَش١٨٤
ىٰدُهْلا َن ِم ٍتٰنِ يَب َو ِساَّنل ِل ى دُه ُنٰا ْرُقْلا ِهْيِف ا ضْي ِرَم َناَك ْنَم َو ٍۗ ُهْمُصَيْلَف َرْهَّشلا ُمُكْنِم َدِهَش ْنَمَف ِۚناَق ْرُفْلا َو
ُتِل َو ۖ َرْسُعْلا ُمُكِب ُدْي ِرُي َلَ َو َرْسُيْلا ُمُكِب ُ هاللّٰ ُدْي ِرُي ٍۗ َرَخُا ٍماَّيَا ْن ِم ٌةَّدِعَف ٍرَفَس ىٰلَع ْوَا َهاللّٰ او ُرِ بَكُتِل َو َةَّدِعْلا اوُلِمْك
َن ْو ُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل َو ْمُكىٰدَه اَم ىٰلَع –
١٨٥
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (183) (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(184) Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan
42 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Trjmh, Abdul Hayyie Al-Kattani (Jakarta: Gema Insani, 2011), halaman. 19
21
itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk- Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.(185). (QS. al-Baqarah [2]: 183-185).43
Ayat yang diawali dengan “ya ayyuhannas” pada umumnya turun di Mekkah sebelum nabi Hijrah, sedang ayat yang diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu” turun di Madinah. Jika dilihat ayat diatas, ayat tersebut diawali dengan “ya ayyuhalladziina amanu”. Ayat ini mewajibkan puasa kepada orang orang yang beriman dengan memakai kata kutiba.
Secara harfiah kata kutiba berarti dituliskan. Tetapi dalam ini berarti diwajibkan.
Alasan menggunakan lafadz kutiba, menurut ulama’ tafsir, kewajiban puasa telah ada sejak sejarah manusia. Karena itu Allah swt. tidak menggunakan redaksi kata furidha (diwajibkan/difardhukan) melainkan kata kutiba alasannya antara lain; pertama, kata kutiba mempunyai arti seolah-olah dia sudah tertulis begitu lama sehingga tetap menjadi kewajiban, masalahnya ada hukum tertulis dan hukum tidak tertulis. Kalau hukum sudah berlangsung lama dan begitu penting, biasanya disebut hukum tertulis. Kata kutiba juga menunjukkan bahwa kewajiban puasa sudah ada sejak Nabi Adam a.s. kedua, dipakai kutiba karena pentingnya kewajiban ini. Puasa adalah suatu kewajiban yang sangat penting, bukan sekadar perintah biasa, dikatakan penting karena Allah swt. sendiri yang akan memberikan imbalan pahala kepada orang yang berpuasa. Ketiga, kewajiban puasa ini tertulis di semua kitab suci yang azali, seperti terdapat dalam kitab Injil, Zabur, dan Shuhuf-shuhuf Ibrahim, perbedaannya
43 quran.kemenag.go.id/sura/2/183-185
22
hanyalah pada tata caranya sedangkan kewajiban puasanya itu sendiri sudah tertulis.44
Dalil dari sunnah adalah sabda nabi saw
لع الله ىلص الله لوسر لاق : لاق رمع نبا نع ي
ه : ملسو َهلِإ َلَ ْنَأ ِةَداَهَش : ٍسْمَخ ىَلَع ُم َلَْسِ ْلا َيِنُب
َو ، ِةاَك َّزلا ِءاَتْيِإ َو ، ِة َلََّصلا ِماَقِإ َو ، ِالله ُل ْوُس َر ا دَّمَحُم َّنَأ َو ُالله َّلَِإ ِم ْوَص َو ، ِتْيَبْلا ِ جَح
ناضمر
دمحاو ملسمو ىراخبلا هاور) (
"Dari Ibn Umar Berkata, Rasullah SAW bersabda. Islam di bangun atas lima pondasi, yaitu pertama Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan menngakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kedua mendirikan shalat fardhu lima waktu. ketiga menunaikan zakat. keempat melaksanakan ibadah haji. Kelima puasa pada bulan ramadhan.
(HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad)45
Al-Qur’an dan hadist merupakan dalil utama yang menetapkan kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan. Seluruh ulama sepakat dan tidak ada ikhtilaf mengenai kewajiban melaksanakan ibadah puasa pada bulan ramadhan.
Rasulullah SAW wafat sesudah berpuasa pada bulan Ramadhan Sembilan kali. Beliau membolehkan bagi orang sakit dan bagi yang sedang bepergian untuk tidak berpuasa, tetapi wajib mengqadhanya pada hari yang lain. Demikian pula, beliau membolehkan wanita yang sedang mengandung dan yang sedang menyusui anak untuk tidak berpuasa, tetapi ia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin dengan makanan yang sama sebagaimana pelaku fidyah makan.46
44 Said agil Husain Al-Munawar et. al., Meramadhankan Semua Bulan Puasa Sebagai Tangga Ruhani (Jakarta,: Iman Dan Hikmah), halaman.64-65.
45 Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: Dar Al-Fikr. Th), halaman. 225.
46 Abdul Wahid, Beni Ahmad Saebani, Fiqih Ibadah, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), Cet-ke 1, halaman. 237.
23
Puasa yang disyariatkan Allah swt. Terbagi menjadi: Pertama, puasa wajib. Kedua, puasa yang dianjurkan.
Puasa wajib ada dua:
a. Puasa yang dari awal sudah diwajibkan Allah swt. Terhadap hamba- Nya; puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam.
b. Puasa yang diwajibkan seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti puasa nadzar, puasa kafarat dan lainnya.
Puasa yang dianjurkan adalah setiap puasa yang dianjurkan Rasulullah saw. untuk dikerjakan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa hari Asyura’, puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa Arafah dan lainnya.47
C. SYARAT DAN RUKUN PUASA
Dalam persoalan syarat puasa ada dua hal yang harus dibicarakan yaitu:
syarat wajib puasa dan syarat sah puasa.48 1. Syarat Wajib Puasa
Syarat wajib puasa adalah syarat yang menyebabkan seseorang diwajibkan (mau tidak mau harus) melakukan puasa.49 Para ulama telah menetapkan syarat wajib puasa, yaitu:
a) Beragama Islam
Dapat dipahami dari ayat al-Qur’an yang memerintahkan berpuasa kepada orang-orang yang beriman kepada Allah swt.
sebagaimana disebut dalam alQur’an surat Al-Baqarah ayat 183.
Berdasarkan ayat itu orang-orang kafir tidak dituntut untuk melakukan puasa Ramadhan seperti yang dituntut kepada orang Islam.
47 Abdullah Salim, Panduan Fiqih Ibadah Bergambar (Solo: Zamzam, 2015), halaman. 296. 12
48 Rahman Ritonga, dkk, Fiqh Ibadah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), halaman. 157.
49 Abdul Manan Bin Hajji Muhammad Sobari, Kesempurnaan Ibadah Ramadhan (Jakarta: Penerbit Republika, 2005), halaman. 21.
24 b) Baligh dan Berakal
Dalam hal ini baligh mengandung arti bahwa anak kecil tidak diwajibkan puasa. Sedangkan berakal mengandung arti bahwa orang gila tidak diwajibkan berpuasa.50
يضر يلع نع يلع الله يلص يب نلا نع هنع الله
: لاق ملسو ه ر
ِف ُُ
َع َقلا ُم َل َع َث ن َلَ
ٍث َع ِن
ِئاَنلا ِم َح َت َي ى ي ِق َتس َو َظ ِن َع َصلا ِى ِب َح َت َمِلَتحَيى َو ِن َع َملا ِنو ُنج َح َت َلِقعَي ى
Diriwayatkan dari Ali r.a, dari Nabi SAW Bersabda :
“Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: orang yang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga dia baligh, dan dari orang gila hingga dia waras,.” ”. (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i)51
c) Mampu
(sehat, tidak sakit) dan bermukim. Puasa tidak wajib atas orang sakit dan musyafir, dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala.
ْيِذَّلا ىَلَع َو ٍۗ َرَخُا ٍماَّيَا ْن ِم ٌةَّدِعَف ٍرَفَس ىٰلَع ْوَا ا ضْي ِرَّم ْمُكْنِم َناَك ْنَمَف ٍٍۗتٰد ْوُدْعَّم ا ماَّيَا َن
ٍٍۗنْيِكْسِم ُماَعَط ٌةَيْدِف ٗهَن ْوُقْيِطُي ١٨٤ -
(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. (QS. al-Baqarah [2]: 184).52
50 Rahman Ritonga, dkk, Fiqh Ibadah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), halaman. 158
51 Abu Dawud sulaiman bin Al-ays’as bin amar Al- Azdi As-sijistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut:
Maktabah Al-Asriyah, tt), Juz. II, halaman. 223.
52 quran.kemenag.go.id/sura/2/184
25
Puasa yang diwajibkan oleh Allah atas hamba-hamba-Nya ini ialah selama beberapa hari yang bilangannya dapat ditentukan, yaitu pada hari-hari bulan ramadhan, Allah tidak mewajibkan atas kalian untuk berpuasa seumur hidup ialah sebagai suatu keringanan dan rahmat dari-Nya kepada hambahamba-Nya sekalipun telah diberi rahmat dalam masalah puasa itu, Allah masih mensyari’atkan kelonggaran bagi orang sakit yang puasa akan dapat mandatangkan mudharat baginya, begitu juga orang dalam perjalanan yang merasa berat untuk berpuasa.53
Hal ini dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah: 185 yang berbunyi :
ْن ِم ٌةَّدِعَف ٍرَفَس ىٰلَع ْوَا ا ضْي ِرَم َناَك ْنَم َو ٍۗ ُهْمُصَيْلَف َرْهَّشلا ُمُكْنِم َدِهَش ْنَمَف ُدْي ِرُي ٍۗ َرَخُا ٍماَّيَا
ۖ َرْسُعْلا ُمُكِب ُدْي ِرُي َلَ َو َرْسُيْلا ُمُكِب ُ هاللّٰ
Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. al-Baqarah [2]: 184).54
2. Syarat Sah Puasa
Syarat sah puasa ialah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar puasanya sah menurut syara’. Dalam lain keterangan, syarat sah puasa ini disebut fardlu puasa.
1) Islam. Orang yang kafir tidak sah puasanya.
2) Mummayiz, artinya bisa membedakan yang baik dengan yang tidak baik.Orang yang tidak mummayiz tidak sah puasanya.
3) Suci dari haidh (menstruasi bulanan), wiladah (darah melahirkan) dan nifas (darah setelah melahirkan). Perempuan
53 M. Ali Ash-Syabuni, Tafsir Ayat-ayat Hukum Dalam Al-qur’an, (Bandung: PT. AlMa’arif, 1994), Cet. Ke-1, halaman. 345.
54 quran.kemenag.go.id/2/185
26
yang sedang dalam keadaan haidh dan nifas tidak sah puasanya.
4) Dilaksanakan pada hari-hari yang dibenarkan berpuasa.
Berpuasa pada hari-hari terlarang hukumnya tidak sah.
3. Rukun Puasa
Rukun puasa adalah menahan diri dari dua macam syahwat; yaitu syahwat perut dan syahwat kemaluan. Maksudnya, menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Adapun rukun puasa adalah sebagai berikut:55
1) Niat
Mengikhlaskan ibadah kepada Allah, menghendaki niat.
ِالله َل ْوُس َر ُتْعِمَس :َلاَق ُهْنَع ُالله َي ِض َر ِباَّطَخْلا ِنْب َرَمُع ٍصْفَح ْيِبَأ َنْيِنِمْؤُمْلا ِرْيِمَأ ْنَع ُلاَمْعَلْا اَمَّنِإ :ُل ْوُقَي ملسو هيلع الله ىلص ْتَناَك ْنَمَف .ى َوَن اَم ٍئ ِرْما ِ لُكِل اَمَّنِإ َو ِتاَّيِ نلاِب
َأ اَهُبْي ِصُي اَيْنُدِل ُهُت َرْجِه ْتَناَك ْنَم َو ،ِهِل ْوُس َر َو ِالله ىَلِإ ُهُت َرْجِهَف ِهِل ْوُس َر َو ِالله ىَلِإ ُهُت َرْجِه ْو
ِهْيَلِإ َرَجاَه اَم ىَلِإ ُهُت َرْجِهَف اَهُحِكْنَي ٍةَأ َرْما .
Dari amirul mu’minin abi hafsin Umar bin Khatab RA berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.56
Hadis ini menjelaskan, bahwa Syara’ tidak menghargai sesuatu amal, melainkan dengan adanya niat, baik niat itu dipandang syarat sah amal, ataupun dipandang syarat
55 Abdul Manan Bin Hajji Muhammad Sobari, Kesempurnaan Ibadah Ramadhan (Jakarta: Penerbit Republika, 2005), halaman. 22-23
56 Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: DaarAl-Fikri, tt), juz 1, halaman. 3