FEMINISME DAKWAH
Qurrotu A’yun, Ray Anan Hafidzurroyan
Email : [email protected], [email protected]
Abstrak : Feminisme adalah sebuah kata yang sebenarnya tidak mempunyai arti pasti yang dapat diformulasikan sebagai definisi karena setiap gerakan feminisme memiliki kepentingan masing- masing yang ingin diperjuangkan,3 namun jika dilihat secara umum, feminisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh informan (da’i) untuk menyampaikan informasi kepada pendengar (mad’u) mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasif lainnya. Dalam sejarah islam posisi ulama perempuan telah menjadi bagian penting dalam setiap dinamika peradaban islam, bukan hanya dalam tinjauan teologis tetapi juga fungsi sosial masyarakat.
Kata kunci ; feminisme, dakwah
PENDAHLUAN
Istilah “feminisme” dikenal di dunia Islam kira-kira sudah sejak awal abad ke-20, misalnya lewat pemikiran-pemikiran Aisyah Taymuniah (penulis dan penyair Mesir), Zainab Fawwaz (eseis Libanon), Rokeya Sakhawat Hosein, Nazzar Sajjad Haydar dan Ruete (Zanzibar), Taj Sultanah (Iran), Huda Sya’rawi, Malak Hifni Nasir dan Nabawiyah Musa (Mesir), Fatma Aliye (Turki). Semua mereka ini dikenal sebagai perintis-perintis besar dalam menumbuhkan kesadaran atas persoalan-persoalan sensitif gender, termasuk dalam melawan kebudayaan dan ideologi masyarakat yang memarginalkan perempuan.
Gerakan feminisme Islam (harakah tahrir al-mar’ah) dalam sejarah Islam sendiri, khususnya di Indonesia, berlangsung dalam beberapa cara; Pertama, melalui pemberdayaan terhadap kaum perempuan, yang dilakukan melalui pembentukan pusat studi wanita di perguruanperguruan tinggi, pelatihan-pelatihan dan training-training gender, melalui seminar-seminar maupun konsultasi- konsultasi. Kedua, melalui buku-buku yang ditulis dalam beragam tema, ada yang melalui fiqh pemberdayaan sebagaimana dilakukan Masdar Farid Mas’udi dalam bukunya, Hak-Hak Reproduksi Perempuan yang ditulis dengan gaya dialog, melalui sastra, baik novel cerpen. Ketiga, melakukan kajian historis tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam sejarah masyarakat Islam, yang berhasil menempatkan perempuan yang benar-benar sejajar dengan laki-laki dan
membuat mereka mencapai tingkat prestasi yang istimewa dalam berbagai bidang, baik politik, pendidikan, keagamaan, dan lain-lain. Keempat, melakukan kajian- kajian kritis terhadap teks-teks keagamaan, baik al-Qur’an maupun hadis, yang secara literal menampakkan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Dalam hal ini dilakukan penafsiran ulang dengan pendekatan hermeneutic dan melibatkan pisau analisis yang ada dalam ilmu-ilmu sosial untuk menunjukkan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara.1
Perkembangan Islam di Indonesia tidak lepas dari kontribusi ulama perempuan yang telah ikut menyebarkan Islam lewat jalur perdagangan, politik perkawinan tasawuf dan pendidikan. Islamisasi yang terjadi di nusantara merupakan proses yang sangat penting, karena Islam yang berkembang di Nusantara tidak hanya menjadi sebuah sistem kepercayaan saja, tetapi juga telah berkembang sedemikian rupa yang menjadi sebuah rata pemerintahan yang menjelma menjadi kerajaan atau kesultanan yang menggunakan Islam sebagai landasan ideologi. Islamisasi di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran orang-orang yang telah berjasa dalam menyebarkan Islam. Muncul para tokoh perempuan dengan berbagai latar belakang keilmuan dan aktivitasnya telah menunjukkan kiprah dan peran kaum perempuan Indonesia dalam memacu dan mendorong perkembangan Islam di nusantara.2
A. Ulama Wanita
Kata ‘ulama’ biasa di definisikan dengan orang yang mempunyai keluasan ilmunya dan hanya takut pada Allah Yang Maha Kuasa atau dengan kata lain siapa pun yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang fenomena sosial dan alam serta ia memahami kandungan kitab suci, asalkan
1 Ariana Suryorini and Ariana Suryorini, “Abstrak Menarik Dan Menjadi Fenomena Tersendiri Di Kalangan Umat Islam . Ge- Feminism Di Kalangan Umat Islam . Gagasan ‘ Demokrasi ’ Dan ‘ Eman- Sipasi ’ Barat Yang Masuk Ke Dunia Islam ‘ Memaksa ’ Umat Islam Untuk Menelaah Kembali Tentang Posisi Perempua” 7, no. April (2012): 21–36.
2 Ida Zahara Adibah, “Kontribusi Ulama Perempuan Dalam Perkembangan Islam Di Nusantara,”
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam Dan Sosial 6, no. 2 (2020): 99, https://doi.org/10.21580/wa.v6i2.5695.
ia memiliki khasyyah (rasa takut dan kagum kepada Allah), dia pantas digolongkan dalam kelompok yang dinamai Al-Qur’an sebagai ulama.
Kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aliim yang diambil dari akar kata ‘alima yang bermakna mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang terbentuk dari huruf-huruf ‘ain, lam dan mim, selalu menunjukkan makna kejelasan, seperti ‘alam (bendera), ‘alam (alam raya, makhluk yang memiliki rasa dan atau kecerdasan), ‘alamah (tanda/alamat).
Secara istilah ulama berarti orang Islam yang berilmu secara mendalam, bukan bodoh atau berilmu dangkal; beriman dan bertaqwa, bukan musyrik atau penyandang kerja maksiat; beramal shaleh, bukan beramal thalih (jahat);
berakhlak mulia, bukan tak bermoral-tak beretika atau tak beradab; mendidik, membina, dan menarik umat dari ragu kepada yakin, bukan dari yakin kepada keragu-raguan dengan mengetengahkan yang haram kepada syubhat dan yang shubhat kepada yang halal, melepaskan ummat dari takabbur kepada tawadhu’, bukan mendorong orang kepada sok, angkuh dan sombong;
melepaskan umat dari permusuhan untuk terjalin ke dalam ikatan persaudaraan, bukan memotong-motong tali persaudaraan agar mereka bercerai-berai dan hancur berantakan sehingga dapat disamak oleh musuh Islam; dan menariknya dari ria kepada ikhlas dan dari cinta dunia/ materi, bukan sebaliknya.
M. Qurais Shihab menyebutkan bahwa kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aliim yang diambil dari akar kata ‘alima yang bermakna mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang terbentuk dari huruf-huruf ‘ain, lam dan mim, selalu menunjukkan makna kejelasan, seperti
‘alam (bendera), ‘alam (alam raya, makhluk yang memiliki rasa dan atau kecerdasan), ‘alamah (tanda/alamat). Gibb & J. H. Kramers dalam bukunya juga menyatakan bahwa istilah ulama berasal dari bahasa Arab (ulama), bentuk jamak dari alim, artinya orang yang memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam atau dengan kata lain, orang yang memiliki ilmu yang berkualitas dalam berbagai bidang. 4 Sementara Muhammad Ali al-Shabuni memberikan
pengertian ulama dengan orang yang merasa takut kepada Allah dengan sangat dikarenakan ma’rifatnya.3
Sebutan ulama dalam banyak komunitas muslim selama ini hanya ditunjuk kepada kaum laki-laki dan tidak untuk perempuan. untuk menyebut perempuan sebagai ulama harus ditambah ulama perempuan atau perempuan ulama. Kenyataan ini jelas memperlihatkan bahwa kaum perempuan dianggap tidak ada yang layak disebut ulama. Dengan kata lain mereka dianggap tidak memiliki kapasitas intelektual keilmuan moral dan keahlian yang lain. Ini fakta peradaban patriarkis yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.
Perempuan dalam peradaban ini sangat jarang kalau tidak dikatakan terlarang untuk berada pada posisi pengambilan keputusan mengelaborasi dan mengimplementasi hukum-hukum agama. Di samping hak-hak yang telah diberikan kepada perempuan tadi seorang perempuan mempunyai peran penting dalam mempengaruhi keputusan-keputusan atau kebijakan publik masyarakat Islam. Di antara mereka adalah Khadijah Fatimah Aisyah dan lain-lain. Mereka dipandang sebagai perempuan yang mempunyai kapasitas tertentu dan ideal. Pendapat dan pemikirannya sejajar dengan pendapat dan pemikiran kaum laki-laki. Mereka mempunyai kedudukan penting dalam masa awal perkembangan.
Secara eksistensial setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai harkat dan martabat yang sama sehingga secara asasi berhak untuk dihormati dan diperlukan sesuai dengan harkat dan martabatnya.
Sepanjang sejarah Islam sejak masa Rasulullah SAW ulama perempuan telah ada dan berperan nyata dalam pembentukan peradaban dan perkembangan Islam. Namun keberadaan dan perannya tinggalkan oleh sejarah yang dibangun sejak sepihak selama berabad-abad. Kehadiran ulama perempuan dengan peran dan tanggung jawab keutamaannya di sepanjang masa pada hakekatnya adalah keterpanggilan iman dan keniscayaan sejarah. Sebagai
3 Muslim Zainuddin, “PERAN ULAMA PEREMPUAN DI ACEH(Studi Terhadap Kiprah Perempuan Sebagai Di Kabupaten Bireuen Dan Aceh Besar),” TAKAMUL: Jurnal Studi Gender Dan Islam Serta Perlindungan Anak 06, no. 02 (2017): 165–77, https://jurnal.ar-
raniry.ac.id/index.php/takamul/article/view/1365.
pewaris nabi tugas ulama perempuan bersama ulama laki-laki adalah melanjutkan misi-misi profektif, menyebarkan ilmu pengetahuan, membebaskan manusia dari sistem penghambaan kepada selain Allah, melakukan Amar ma'ruf dan nahi mungkar, memanusiakan semua manusia dan menyempurnakan akhlak mulia demi mewujudkan visi rahmatan lil alamin.
Dalam sejarah Islam posisi ulama perempuan telah menjadi bagian penting dalam setiap dinamika peradaban Islam, bukan hanya dalam tinjauan teologis tetapi juga fungsi sosial kemasyarakatan. Secara teologis hal ini berawal dari sikap nabi Muhammad SAW yang menghormati perempuan dan memberi jalan kebebasan bagi mereka. Akan tetapi tradisi keulamaan perempuan di dunia Islam termasuk Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh sikap penghormatan nabi kepada perempuan, melainkan juga dipengaruhi oleh konteks geopolitik, budaya dan proses asimilasi Islam dengan budaya lokal yang melahirkan tokoh-tokoh perempuan sesuai kontribusinya dalam perkembangan Islam.4
B. Da’i Wanita
Da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga. Menurut Awaludin Pimay, da’i adalah orang yang menyampaikan pesan atau menyebarluaskan ajaran agama kepada masyarakat umum (Pimay, 2006: 21). Moh Ali Aziz mendefinisikan bahwa da’i adalah muslim dan muslimat yang menjadikan dakwah sebagai suatu amaliah pokok bagi tugas ulama. Ahli dakwah ialah wa’ad, mubaligh mustamsikin atau juru penerang yang menyeru mengajak dan memberi pengajaran dan pelajaran agama Islam (Azis 2004: 79).
Jadi da’i adalah setiap muslim atau muslimat yang melakukan aktifitas dakwah baik lisan maupun tulisan sebagai kewajiban untuk disampaikan pada masyarakat umum (publik)
4 Zahara Adibah, “Kontribusi Ulama Perempuan Dalam Perkembangan Islam Di Nusantara.”
Da’i sering disebut oleh kebanyakan orang dengan sebutan muballigh atau seorang yang menyampaikan ajaran Islam. Dan untuk menjadikan pesan dakwah sampai kepada masyarakat luas seorang da’i harus memiliki pengetahuan yang luas baik tentang ilmu agama, ilmu pengetahuan umum dan pengetahuan yang bersifat empirik atau keahlian yang harus dimiliki, misalnya menguasai retorika agar pidato yang disampaikan tidak membosankan.
Sedangkan kata perempuan berasal dari bahasa Sansekerta, dengan akar kata empu yang berarti dihargai, sehingga menjadi perempuan yang berarti yang dihargai (Rachman, 1995: 1113). Menurut istilah perempuan merupakan makhluk yang berjenis kelamin wanita atau lawan jenis dari laki- laki (Depdikbud, 1985: 670). Adapun perempuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah muslimah yang mempunyai kemampuan dalam bertabliigh.
Berdasarkan pengertian kedua kata tersebut, maka yang dimaksud dengan peran perempuan adalah memposisikan (kedudukan) kaum perempuan (muslimah) sebagai makhluk Allah SWT dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan agama, sebagai Muballigghah. Sebagai seorang subyek dakwah (da’i) atau da’i perempuan mempunyai kaitan yang sangat erat sekali, dengan demikian diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai da’i yaitu:
1. Persyaratan jasmani a. Sehat jasmani
Dakwah memerlukan akal yang sehat, sedangkan akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat. Oleh karena itu seorang da’i memerlukan persyaratan memiliki jasmani yang sehat.
b. Segi gaya dan berpenampilan menarik
Yang dimaksud dengan berpenampilan menarik yaitu seorang juru dakwah harus berpakaian yang sopan, serasi dengan tempat dimana dia berdakwah, suasana dan keadaan tubuhnya, bukan berarti harus berpakaian serba baru dan serba mahal (Effendi, 2006: 10).
2. Kemampuan ilmu pengetahuan
a. Pengetahuan Islam, yaitu pengetahuan yang bersumber, berkaitan dan berkembang nenuju keIslaman itu antara lain Al-Qur’an, Sunnah, Fiqh dan ilmu-ilmu Islam lainnya (Qardhawi, 1983: 8).
b. Pengetahuan bahasa dan kesusasteraan, yaitu seorang da’i dapat mengungkapkan pesan-pesan dakwahnya dalam kata-kata yang dimengerti oleh pendengar, yang tentu saja tahu mana bahasa yang baik dan benar dan bagaimana pula bahasa yang sumbang dan salah.
Sedangkan pengetahuan kesusateraan merupakan perlengkapan yang akan membantu da’i-da’i dalam tugasnya. Dengan itu sewaktu-waktu dapat membuat ungkapan-ungkapan yang mengesankan dan menggugah hati, serta ungkapan-ungkapan sastera yang berisi nasehat dan hikmah.
c. Tentang obyek dakwah, yaitu pemahaman bahwa orang yang dihadapi beranekaragam dalam segala seginya baik dalam segi jumlah, sosial, ekonomi, tingkat umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, sikap watak, sikap yang dimiliki dan lain sebagainya.
d. Tentang dasar dakwah, yaitu pemahaman terhadap latar belakang secara yudiris dalam melakukan dakwah baik landasan yang bersifat agamis maupun landasan yang berbentuk UU, peraturan-peraturan atau norma-norma lainnya.
e. Tentang tujuan dakwah, yaitu pemahaman terhadap apa yang akan dicapai didalam usaha dakwah.
f. Tentang materi dakwah, yaitu pemahaman terhadap pesan atau informasi ajaran agama yang akan disampaikan kepada orang lain secara benar dan baik.
g. Metode dakwah yaitu pemahaman terhadap cara-cara yang ingin dipakai dalam melaksanakan dakwah. Manakah yang lebih sesuai dengan kemampuan dirinya dengan materi yang diberikan serta dengan situasi dan kondisinya yang lebih relevan dengan obyek yang dihadapi (Anshari, 1993: 105- 107).
3. Persyaratan kepribadian
Menyangkut keseluruhan batin atau rohaniyah manusia yang tercermin dalam sikap, sifat dan tingkah laku yang kesemuanya itu dihiasi oleh akhlakaul karimah atau budi pekerti yang luhur. Karena da’i perempuan juga merupakan pembimbing yaitu proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.
4. Kemampuan mengendalikan audien
Seorang da’i hendaknya mampu menguasai mad’unya supaya apa yang disampaikan oleh da’i dapat diterima dan dipahami oleh mad’u dengan baik. Kemampuan da’i dalam mengendalikan audien antara lain:
a. Dalam menyampaikan materi diselingi dengan humor tidak terlalu serius, sehingga banyak audien yang terhibur, tidak mengantuk dan tetap mendengarkan ceramahnya.
b. Seorang da’i yang mempunyai karismatik artinya benarbenar mempunyai pesona yang sangat luar biasa yang memberi kenyamanan dan ketenangan oleh mad’unya. Misalnya: penyampaiannya halus, sopan dan sangat menyentuh.
c. Dalam menyampaikan ceramah diselipi dengan nyanyian dan pantun.
d. Dalam menyampaikan ceramah dengan mementaskan sholawat marawis atau rebana. 5
C. Feminisme dan Isu Gender
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:3324) feminisme diartikan sebagai gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria yang merupakan penggabungan dari berbagai doktrin atas hak kesetaraan. Feminisme muncul dilatari oleh ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam tatanan
5 Nur Khofifah, “HUBUNGAN KEMAMPUAN DA’I PEREMPUAN DALAM BERTABLIGH DENGAN TANGGAPAN JAMA’AH PENGAJIAN SELAPANAN DI DESA SOJOMERTO KECAMATAN GEMUH KABUPATEN KENDAL,” Sekripsi, 2016, 1–23.
masyarakat sehingga pada akhirnya timbul kesadaran dan upaya untuk menghilangkan ketidakberimbangan relasi tersebut.6
Secara umum feminisme dan gender pada dasarnya adalah konsep yang sederhana dimana perempuan hanya ingin memperoleh keadilan dalam segala hal terutama pendidikan, bukan untuk melibihi pria dan kodratnya. Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya.7
Islam tidak mengenal istilah feminism dan gender dengan berbagai bentuk konsep dan implementasinya dalam melakukan gugatan atas nilai- nilai subordinasi kaum perempuan, karena dalam islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan jenis kelamin dan tidak ada bias gender dalam islam. Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama dan kemuliaan yang sama. Hal tersebut sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13.
Dalam islam, sesungguhnya wanita dimuliakan. Banyak sekali ayat Al-Qur’an ataupun hadis Nabi yang memuliakan dan mengangkat derajat wanita. Baik sebagai ibu, anak, istri, ataupun sebagai anggota masyarakat sendiri. Tak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam islam,
6 Nuril Hidayati, “TEORI FEMINISME: SEJARAH, PERKEMBANGAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KAJIAN KEISLAMAN KONTEMPORER”, jurnal harkat : media komunikasi gender 14 (1), 2018, hal 23 7 Heri Junaidi, Abdul Hadi, “GENDER DAN FEMINISME DALAM ISLAM”, jurnal muwazah, Vol 2, No.
2, Desember 2010, hal 246
akan tetapi yang membedakan keduannya adalah fungsionalnya, karena kodrat dari masing-masing.8
8 Ibid, hal 247-249
Kesimpulan
Secara istilah ulama berarti orang Islam yang berilmu secara mendalam, bukan bodoh atau berilmu dangkal; beriman dan bertaqwa, bukan musyrik atau penyandang kerja maksiat; beramal shaleh, bukan beramal thalih (jahat);
berakhlak mulia, bukan tak bermoral-tak beretika atau tak beradab.
Moh Ali Aziz mendefinisikan bahwa da’i adalah muslim dan muslimat yang menjadikan dakwah sebagai suatu amaliah pokok bagi tugas ulama. Da’i sering disebut oleh kebanyakan orang dengan sebutan muballigh atau seorang yang menyampaikan ajaran Islam. Dan untuk menjadikan pesan dakwah sampai kepada masyarakat luas seorang da’i harus memiliki pengetahuan yang luas baik tentang ilmu agama, ilmu pengetahuan umum dan pengetahuan yang bersifat empirik atau keahlian yang harus dimiliki, misalnya menguasai retorika agar pidato yang disampaikan tidak membosankan.
Secara umum feminisme dan gender pada dasarnya adalah konsep yang sederhana dimana perempuan hanya ingin memperoleh keadilan dalam segala hal terutama pendidikan, bukan untuk melibihi pria dan kodratnya. Islam tidak mengenal istilah feminism dan gender dengan berbagai bentuk konsep dan implementasinya dalam melakukan gugatan atas nilai-nilai subordinasi kaum perempuan, karena dalam islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan jenis kelamin dan tidak ada bias gender dalam islam. Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama dan kemuliaan yang sama.
Daftar Pustaka
Ariana Suryorini and Ariana Suryorini, “Abstrak Menarik Dan Menjadi Fenomena Tersendiri Di Kalangan Umat Islam . Ge- Feminism Di Kalangan Umat Islam . Gagasan ‘ Demokrasi ’ Dan ‘ Eman- Sipasi ’ Barat Yang Masuk Ke Dunia Islam ‘ Memaksa ’ Umat Islam Untuk Menelaah Kembali Tentang Posisi Perempuan” 7, no. April (2012): 21–36.
Ida Zahara Adibah, “Kontribusi Ulama Perempuan Dalam Perkembangan Islam Di Nusantara,” Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam Dan Sosial 6, no. 2 (2020):
99, https://doi.org/10.21580/wa.v6i2.5695.
Muslim Zainuddin, “PERAN ULAMA PEREMPUAN DI ACEH(Studi Terhadap Kiprah Perempuan Sebagai Di Kabupaten Bireuen Dan Aceh Besar),” TAKAMUL: Jurnal Studi Gender Dan Islam Serta Perlindungan Anak 06, no. 02 (2017): 165–77, https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/takamul/article/view/1365.
Zahara Adibah, “Kontribusi Ulama Perempuan Dalam Perkembangan Islam Di Nusantara.”
Nur Khofifah, “HUBUNGAN KEMAMPUAN DA’I PEREMPUAN DALAM BERTABLIGH DENGAN TANGGAPAN JAMA’AH PENGAJIAN SELAPANAN DI DESA SOJOMERTO KECAMATAN GEMUH KABUPATEN KENDAL,” Sekripsi, 2016, 1–23.
Nuril Hidayati, “TEORI FEMINISME: SEJARAH, PERKEMBANGAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KAJIAN KEISLAMAN KONTEMPORER”, jurnal harkat : media komunikasi gender 14 (1), 2018, hal 23
Heri Junaidi, Abdul Hadi, “GENDER DAN FEMINISME DALAM ISLAM”, jurnal muwazah, Vol 2, No. 2, Desember 2010, hal 246