FENOMENA CHILDFREE DALAM BUDAYA INDONESIA
Disusun oleh :
A. PENDAHULUAN
1. Fenomena Childfree di Indonesia
Semakin majunya peradaban umat manusia, semakin banyak permasalahan yang kompleks dan terkadang menimbulkan sebuah perdebatan di kalangan manusia, salah satunya ialah keputusan untuk tidak memiliki keturunan/anak bagi pasangan muda yang baru kawin, fenomena tersebut terkenal dikalangan feminisme, dikenal dengan childfree. Sebagai hal yang relatif baru di Indonesia, fenomena childfree merupakan isu yang belakangan ini mulai ramai diperbincangkan dalam media sosial, childfree merupakan istilah yang digunakan untuk pasangan yang tidak ingin mempunyai anak ataupun keturunan setelah menikah. Berbagai alasan yang melatarbelakangi beberapa pasangan memutuskan untuk melakukan childfree, salah satunya karena pengaruh beberapa paham dan pola pikir, salah satunya gerakan feminisme, yang menganggap perempuan bukan objek untuk menghasilkan banyak anak dan memiliki posisi yang sama dengan laki-laki (Rahmah, N. F. 2022).
Kajian dan fenomena childfree masih belum terlalu masif pada masyarakat Indonesia, akan tetapi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, istilah tersebut sudah umum dikenal luas oleh masyarakat. Berdasarkan laporan dari National Survey of Family Growth yang dikutip dari www.gooddoctor.com tidak kurang 15% wanita dan 24% laki-laki memutuskan untuk tidak memiliki anak. Sementara itu di Kanada, berdasarkan survei dari General Social Survey (GSS) pada tahun 2001 mengungkap bahwa 7% orang di Kanada berusia 20 34 tahun, mewakili 434.000 orang menyatakan berniat tidak memiliki anak.
Sementara itu, 4% dari orang-orang di Kanada menyatakan bahwa pernikahan merupakan hal yang penting, juga tidak memiliki ketertarikan atau keinginan untuk memiliki anak. Beberapa alasan yang melatarbelakangi childfree di Kanada ini diantaranya yaitu, kondisi medis yang tidak memungkinkan, situasi tidak kondusif dalam membesarkan anak, karir yang memuaskan serta alasan alasan lingkungan atas keputusan mereka untuk tidak memiliki anak.
Fenomena childfree juga marak dilakukan oleh penduduk Jepang, dimana fenomena ini sangat berpengaruh besar terhadap penurunan populasi jumlah penduduk Jepang. Sehingga menjadi kekhawatiran adalah jika fenomena childfree ini terus berlangsung, dalam kurun waktu tertentu populasi masyarakat Jepang akan mengalami penurunan drastis yang akan berpengaruh pada kestabilan SDM dan produktivitas perekonomian nasional (Dhimas Adi Nugroho, 2. A. 2022).
Mudahnya, childfree merupakan pilihan yang dilakukan oleh seseorang atau pasangan, sedangkan childless dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti keguguran, maupun kondisi fisik dan biologis lainnya. Dalam konstruksi masyarakat di Indonesia, childless nampaknya lebih ditoleransi dibandingkan dengan rekan-rekan yang memilih dan mengambil keputusan untuk childfree. Nampaknya, budaya ketimuran, kontruksi sosial, stigma, belum bisa untuk menerima secara gamblang konsep dari childfree ini. Childfree marriage memang merupakan pilihan dan kebebasan setiap orang termasuk perempuan dalam memilih. Bukan karena “my body my choice” tapi lebih kompleks dari pada itu.
Kesiapan, trauma masa kecil, dan tanggung jawab yang harus diterima. Seperti misalnya Influencer kita, Gita Savitri, Catwomanizer, atau Cinta Laura yang memutuskan untuk tidak
memiliki anak atau childfree. Keputusan yang mereka ambil tentu menimbulkan polemik dan juga perdebatan dari netizen. Tidak sedikit juga masyarakat yang mencemooh pilihan childfree tersebut.
2. Bagaimana studi terdahulu terkait materi (referensi)
3. Tujuan
Childfree mengacu pada individu dewasa atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui proses adopsi. Menjalani hidup secara childfree tidak ada kaitannya dengan kesehatan fertilitas seseorang, tetapi murni karena pilihan hidup. Banyak masyarakat childfree yang beranggapan bahwa ada harga mahal yang harus dibayar serta banyak aspek sosial, ekonomi, bahkan psikologi yang harus dikorbankan dalam parenting. Istilah childfree sering dikaitkan dengan isu feminisme, dimana perempuan yang tidak mengurus anak, memiliki kesempatan besar untuk mengeksplorasi peran sosial di luar keluarga seperti karir dan pendidikan. Menurut Doyle et al., berkembangnya jumlah perempuan yang memilih childfree dipicu oleh penemuan alat kontrasepsi yang aman, meningkatnya
kesempatan pendidikan, serta merebaknya advokasi kesetaraan gender. Selain itu, Crawford dan Solliday berpendapat bahwa orientasi homoseksual juga memengaruhi keputusan untuk hidup childfree. Terlepas dari isu feminisme, childfree di Indonesia memang lebih mudah digambarkan melalui statistik fertilitas perempuan, yaitu jumlah anak yang dilahirkan oleh perempuan semasa hidupnya. Sejauh ini, belum ada statistik fertilitas laki-laki yang mampu menangkap fenomena tersebut secara reguler.
Oleh karena itu, kajian ini akan menganalisis fenomena childfree di Indonesia dari sisi maternal menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).
Fokusnya adalah perempuan berusia 15- 49 tahun yang pernah kawin namun belum pernah melahirkan anak dalam keadaan hidup serta tidak menggunakan alat KB.
Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Istilah childfree dibuat dalam bahasa Inggris di akhir abad ke 20. St. Augustine sebagai penganut kepercayaan Maniisme, percaya bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral, dan dengan demikian (sesuai sistem kepercayaannya) menjebak jiwa-jiwa dalam tubuh yang tidak kekal. Untuk mencegahnya, mereka mempraktikkan penggunaan kontrasepsi dengan sistem kalender.
Dalam masyarakat konvensional, seseorang dianggap memiliki identitas sebagai perempuan jika memiliki anak, terutama anak biologis. Menurut Ruegemer dan Dziengel , kemampuan untuk melahirkan anak menempatkan perempuan pada status sosial yang lebih tinggi karena memiliki generasi penerus. Oleh karena itu, mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai orang yang bermasalah dalam masyarakat. Di Indonesia sendiri, konsep childfree belum sepenuhnya disambut baik oleh masyarakat. Melalui media sosial YouTube, sebagian besar masyarakat memberikan tanggapan negatif tentang pandangan hidup childfree. Opini bernada netral juga tidak kalah signifikan karena masyarakat berpikir bahwa apapun pilihan hidup seeorang harus dihormati, tidak boleh diganggu, apalagi diintervensi.
Hanya 8% masyarakat yang memberikan apresiasi positif terhadap paradigma baru ini.