FENOMENA CHILDFREE DALAM BUDAYA INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah BK Lintas Budaya
Dosen Pengampu : Dr. Mustaqim Pabbajah, S.Fil.I., M. A.
Disusun oleh :
1. Veronica Alleta Bela Putri K. (5201211005) 2. Lenny Anca Pramesty (5201211017)
3. Vera Agustiningrum (5201211026) 4. Adek Febi Anggraeni (5201211030)
5. Restia Pramesti (5201211034)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS BISNIS & HUMANIORA
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
2023
A. PENDAHULUAN
1. Fenomena Childfree di Indonesia
Semakin majunya peradaban umat manusia, semakin banyak permasalahan yang kompleks dan terkadang menimbulkan sebuah perdebatan di kalangan manusia, salah satunya ialah keputusan untuk tidak memiliki keturunan/anak bagi pasangan muda yang baru kawin, fenomena tersebut terkenal dikalangan feminisme, dikenal dengan childfree. Sebagai hal yang relatif baru di Indonesia, fenomena childfree merupakan isu yang belakangan ini mulai ramai diperbincangkan dalam media sosial, childfree merupakan istilah yang digunakan untuk pasangan yang tidak ingin mempunyai anak ataupun keturunan setelah menikah. Berbagai alasan yang melatarbelakangi beberapa pasangan memutuskan untuk melakukan childfree, salah satunya karena pengaruh beberapa paham dan pola pikir, salah satunya gerakan feminisme, yang menganggap perempuan bukan objek untuk menghasilkan banyak anak dan memiliki posisi yang sama dengan laki-laki (Rahmah, N. F. 2022).
Kajian dan fenomena childfree masih belum terlalu masif pada masyarakat Indonesia, akan tetapi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, istilah tersebut sudah umum dikenal luas oleh masyarakat. Berdasarkan laporan dari National Survey of Family Growth yang dikutip dari www.gooddoctor.com tidak kurang 15% wanita dan 24% laki-laki memutuskan untuk tidak memiliki anak. Sementara itu di Kanada, berdasarkan survei dari General Social Survey (GSS) pada tahun 2001 mengungkap bahwa 7% orang di Kanada berusia 20 34 tahun, mewakili 434.000 orang menyatakan berniat tidak memiliki anak. Sementara itu, 4% dari orang-orang di Kanada menyatakan bahwa pernikahan merupakan hal yang penting, juga tidak memiliki ketertarikan atau keinginan untuk memiliki anak. Beberapa alasan yang melatarbelakangi childfree di Kanada ini diantaranya yaitu, kondisi medis yang tidak memungkinkan, situasi tidak kondusif dalam membesarkan anak, karir yang memuaskan serta alasan alasan lingkungan atas keputusan mereka untuk tidak memiliki anak. Fenomena childfree juga marak dilakukan oleh penduduk Jepang, dimana fenomena ini sangat berpengaruh besar terhadap penurunan populasi jumlah penduduk Jepang. Sehingga menjadi kekhawatiran adalah jika fenomena childfree ini terus berlangsung, dalam kurun waktu tertentu populasi masyarakat Jepang akan mengalami penurunan drastis yang akan berpengaruh pada kestabilan SDM dan produktivitas perekonomian nasional (Dhimas Adi Nugroho, 2. A. 2022).
Mudahnya, childfree merupakan pilihan yang dilakukan oleh seseorang atau pasangan, sedangkan childless dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti keguguran, maupun kondisi fisik dan biologis lainnya. Dalam konstruksi masyarakat di Indonesia, childless nampaknya lebih ditoleransi dibandingkan dengan rekan-rekan yang memilih dan mengambil keputusan untuk childfree. Nampaknya, budaya ketimuran, kontruksi sosial, stigma, belum bisa untuk menerima secara gamblang konsep dari childfree ini. Childfree marriage memang merupakan pilihan dan kebebasan setiap orang termasuk perempuan dalam memilih. Bukan karena “my body my choice” tapi lebih kompleks dari pada itu.
Kesiapan, trauma masa kecil, dan tanggung jawab yang harus diterima. Seperti misalnya Influencer kita, Gita Savitri, Catwomanizer, atau Cinta Laura yang memutuskan untuk tidak memiliki anak atau childfree. Keputusan yang mereka ambil tentu menimbulkan polemik dan
juga perdebatan dari netizen. Tidak sedikit juga masyarakat yang mencemooh pilihan childfree tersebut.
2. Bagaimana studi terdahulu terkait materi (referensi)
Keputusan pasangan yang memilih childfree terhadap kehadiran sosok anak di tengah- tengah mereka bersebrangan paham dengan pasangan yang telah menikah dan memiliki anak dalam memberikan pandangan dan penilaian peran maupun posisi anak dalam keharmonisan keluarga. Hal tersebut dapat dilihat pada penelitian terdahulu sebagai berikut : Pertama, artikel jurnal yang berjudul “Fenomena Childfree Pada Generasi Milenial Ditinjau Dari Perspektif Islam” tahun 2022 yang disusun oleh Siti Nuroh dan M. Sulhan.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa secara tekstual tidak ada ayat nash melarang pilihan untuk tidak mempunyai anak. Memiliki keturunan adalah anjuran dalam Islam, bukan kewajiban. Jadi childfree tidak termasuk dalam perbuatan yang dilarang, karena setiap pasangan suami istri memiliki hak untuk merencanakan dan mengatur kehidupan rumah tangga termasuk mempunyai anak. ( et al., 2022). Selanjutnya pada studi terdahulu lainya yang berjudul “Fenomena Childfree Sebagai Budaya Masyarakat Kontemporer Indonesia Dari Perspektif Teori Feminis (Analisis Pengikut Media Sosial Childfree)” yang disusun oleh Ana Rita Dahnia dan Yohanna Meilani Putri. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah childfree atau bebas anak merupakan suatu hak reproduktif dan seksual bagi perempuan, karena perempuan mempunyai hak mutlak untuk memutuskan memiliki anak atau tidak tanpa paksaan dan perundungan dari orang lain.
Perempuan yang sudah menikah dan memutuskan untuk tidak mempunyai anak tidak seharusnya mendapatkan stigma negatif dari masyarakat hanya karena tidak mengikuti konstruksi idealisme masyarakat terkait hal tersebut. (Ana Rita Dahnia et al., 2023).
Penelitian terdahulu berikutnya yaitu berjudul “Fenomena Childfree Pada Pasangan Muda Ditinjau Berdasarkan Hukum Islam (Study kasus di Kota Cirebon)” yang disusun oleh Asep Saepullah, Ahmad Rofi’I dan Putri Berlian Sari. Hasil dari penelitian ini yaitu childfree yang diterapkan oleh pasangan muda di kota Cirebon tidaklah bertentangan dalam hukum keluarga islam, karna childfree yang di terapkan yaitu bukan voluntarily childfree (untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan secara sukarela/pilihan) sedangkan childfree yang di terapkan oleh pasangan muda di kota Cirebon adalah temporarily childfree (menunda keturunan) atau dalam hukum Islam disebut tandzim al-nasl dan di Indonesia sendiri di kenal dengan keluarga berencana (KB).(Saepullah et al., 2023).
3. Tujuan
Childfree mengacu pada individu dewasa atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui proses adopsi. Menjalani hidup secara childfree tidak ada kaitannya dengan kesehatan fertilitas seseorang, tetapi murni karena pilihan hidup. Banyak masyarakat childfree yang beranggapan bahwa ada harga mahal yang harus dibayar serta banyak aspek sosial, ekonomi, bahkan psikologi yang harus dikorbankan dalam parenting. Istilah childfree sering dikaitkan dengan isu feminisme, dimana perempuan yang tidak mengurus anak, memiliki kesempatan besar untuk mengeksplorasi peran sosial di luar keluarga seperti karir dan pendidikan.
Menurut Doyle et al., berkembangnya jumlah perempuan yang memilih childfree dipicu oleh penemuan alat kontrasepsi yang aman, meningkatnya kesempatan pendidikan, serta merebaknya advokasi kesetaraan gender. Selain itu, Crawford dan Solliday berpendapat bahwa orientasi homoseksual juga memengaruhi keputusan untuk hidup childfree. Terlepas dari isu feminisme, childfree di Indonesia memang lebih mudah digambarkan melalui statistik fertilitas perempuan, yaitu jumlah anak yang dilahirkan oleh perempuan semasa hidupnya. Sejauh ini, belum ada statistik fertilitas laki-laki yang mampu menangkap fenomena tersebut secara reguler. Oleh karena itu, kajian ini akan menganalisis fenomena childfree di Indonesia dari sisi maternal menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Fokusnya adalah perempuan berusia 15- 49 tahun yang pernah kawin namun belum pernah melahirkan anak dalam keadaan hidup serta tidak menggunakan alat KB.
Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Istilah childfree dibuat dalam bahasa Inggris di akhir abad ke 20. St. Augustine sebagai penganut kepercayaan Maniisme, percaya bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral, dan dengan demikian (sesuai sistem kepercayaannya) menjebak jiwa-jiwa dalam tubuh yang tidak kekal. Untuk mencegahnya, mereka mempraktikkan penggunaan kontrasepsi dengan sistem kalender.
Dalam masyarakat konvensional, seseorang dianggap memiliki identitas sebagai perempuan jika memiliki anak, terutama anak biologis. Menurut Ruegemer dan Dziengel , kemampuan untuk melahirkan anak menempatkan perempuan pada status sosial yang lebih tinggi karena memiliki generasi penerus. Oleh karena itu, mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai orang yang bermasalah dalam masyarakat. Di Indonesia sendiri, konsep childfree belum sepenuhnya disambut baik oleh masyarakat. Melalui media sosial YouTube, sebagian besar masyarakat memberikan tanggapan negatif tentang pandangan hidup childfree. Opini bernada netral juga tidak kalah signifikan karena masyarakat berpikir bahwa apapun pilihan hidup seeorang harus dihormati, tidak boleh diganggu, apalagi diintervensi. Hanya 8%
masyarakat yang memberikan apresiasi positif terhadap paradigma baru ini.
4. asumsi/argument yang mendasari materi ini penting dikaji
Beberapa waktu belakangan ini, Childfree menjadi sebuah isu yang hangat diperbincangkan khususnya di media sosial masyarakat Indonesia. (Fadhilah, 2022) Dengan tingginya tingkat perkembangan media sosial pada saat ini, dunia seperti tanpa sekat sehingga kebudayaan dari luar pun mudah masuk dan berkembang di Indonesia dan terkadang, budaya tersebut tidak terfiltrasi dengan baik sehingga dapat ditafsirkan dengan kurang tepat, atau sekadar ikut- ikutan karena memang sedang trending. Salah satunya adalah budaya childfree.(Rindu Fajar Islamy et al., 2022)
Asumsi yang mendasari penelitian ini dilakukan Di Indonesia mulai maraknya bentuk dukungan seperti komunitas – komunitas yang dibuat oleh orang – orang yang menganut paham Childfree ini. Salah satunya yaitu komunitas di Instagram yang diberi nama Childfree Life Indonesia yang menjadikan wadah atau tempat berkumpulnya orang – orang yang sepaham tentang Childfree yang ada di Indonesia. Fenomena ini sangatlah bertolak belakang dengan keluhuran budaya Indonesia yang meyakini bahwa memiliki anak adalah membawa rezeki, seperti pepatah masyarakat yang sudah sangat melekat yaitu “banyak anak, banyak rezeki”. Hal ini dipandang menarik karena masih kurangnya sumber bacaan yang menjelaskan tentang fenomena childfree. (Siswanto &
Neneng Nurhasanah, 2022) adanya pengembangan penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada pembaca terkait fenomena childfree yang muncul dimasyarakat. Penelitian ini juga sebagai pengembangan ilmu dan teori yang sudah ada sebelumnya sehingga memperoleh pengetahuan baru yang nantinya bisa bermanfaat dan mampu membatu dalam penyelesaian masalah yang terjadi dimasyarakat.
Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui berbagai hal tentang fenomena childfree yang terjadi dalam budaya indonesia seperti yang ditulis dalam (kamus besar bahasa indonesia, 2005) bahwa budaya budaya (culture) diartikan sebagai: pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi. Dalam hal ini tradisi diartikan sebagai kebiasaan masyarakat yang tampak. Sedangkan diindonesia sendiri kita paham akan budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini, seperti istilah yang pernah populer jika banyak anak banyak rezeki. Istilah tersebut sudah mendarah daging dan menjadi tren bagi sebagian pasangan suami istri di Indonesia. Akibatnya, sebagian besar masyarakat masih memiliki pikiran kolektif atau pandangan bahwa anak adalah pembawa rezeki, dan sebagian besar masyarakatnya percaya dengan mitos banyak anak banyak rezeki. Maka prinsip childfree sebenarnya adalah pilihan yang yang tidak salah.
Namun, semua kembali lagi kepada prinsip masing-masing personal atau prinsip masing-masing keluarga dalam menentukan jumlah anak, jenis kelamin anak, ingin memiliki anak atau tidak dan sebagainya, Semua merupakan hak individu dan tidak diatur dalam pasal perundang-undangan di Indonesia, walaupun sebaiknya setiap keluarga tetap memikirkan dampak psikologis dan psikis seorang anak ketika dia dilahirkan kedunia dengan keadaan orang tua yang seperti saat ini (Febri et al., 2022)
B. METODE PENULISAN
1. Bagaimana Penulisan Dilakukan
Metode penulisan yang digunakan adalah studi literatur dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola bahan penelitian.
Metode studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelolah bahan penelitian (Zed, 2008:3). Studi literatur atau studi kepustakaan dilakukan oleh setiap peneliti dengan tujuan utama yaitu mencari dasar untuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka berpikir, dan menentukan dugaan sementara atau disebut juga dengan hipotesis penelitian. Sehingga para peneliti dapat lebih mudah menggelompokkan, mengalokasikan mengorganisasikan, dan menggunakan variasi pustaka dalam bidangnya.
Dengan melakukan studi kepustakaan, para peneliti mempunyai pendalaman yang lebih luas dan mendalam terhadap masalah yang hendak diteliti.
Melakukan studi literatur ini dilakukan oleh peneliti antara setelah mereka menentukan topik penelitian dan ditetapkannya rumusan permasalahan, sebelum mereka terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan (Darmadi, 2011).
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses penelitian ini tahap pengumpulan data sangat penting dilakukan, karena dengan pengumpulan data yang didapat dalam proses penelitian dapat berpengaruh pada berhasil atau sebaliknya penelitian tersebut. Dalam penelitian ini metode pengumpuan data yang digunakan dengan melakukan observasi dan wawancara terhadap narasumber yang mengikuti childfree. Dengan Teknik pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara terhadap narasumber yang memilih childfree untuk mendapatkan informasi yang valid.
Adapun data yang digunakan sebagai penguat hasil observasi dan wawancara dengan mengumpulkan buku-buku, jurnal dan mengkaji terkait dengan praktik childfree. Baik berupa buku-buku, jurnal, artiket dan hasil penilitian studi literature yang berhubungan dengan penelitian. (Andrie, n.d. 2022)
3. Metode Analisis Data
Dengan mengumpulkan data dari hasil observasi dan wawancara yang didapat untuk meningkatkan pemahaman tentang kasus yang diteliti. Data yang terdapat dalam penelitian ini berupa metode deduktif yang dihasilkan melalui wawancara dengan para pelaku childfree. Selanjutnya data-data tersebut dinyatakan dalam bentuk narasi deskriptif untuk
menggambarkan peristiwa peristiwa yang dialami oleh subyek. (Siswanto & Neneng Nurhasanah, 2022). Kemudian peneliti menganalisis data melalui tiga tahapan. Pertama, menyeleksi dan tranformasi data, lalu data disajikan dalam bentuk uraian yang telah dikategorisasikan. Kemudian langkah terakhir dari analisis data ini adalah menarik kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi waktu, yakni melakukan wawancara kembali di waktu yang berbeda. (Keluarga et al., 2023)
C. KAJIAN PUSTAKA/LITERATUR 1. Apa pengertian/definisi menurut ahli,
Childfree adalah sebuah kesepakatan yang dilakukan oleh pasangan suami isteri untuk tidak memiliki anak selama masa pernikahannya. (Muhammad Khatibul Umam & Nano Romadlon Auliya Akbar, 2021) Istilah childfree itu mengacu pada keputusan seseorang untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Sepasang suami istri memang berhak memutuskan apakah mereka ingin memiliki anak atau tidak (childfree).
Keputusan itu dibuat atas pertimbangan bersama dengan memerhatikan aspek kesehatan reproduksi, usia, atau pertimbangan yang bersifat personal lainnya. Pakar psikologi anak Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Rohimi Zam Zam, S.Psi., S.H., M.Pd., mengatakan bahwa keputusan setiap pasangan tidak mau memiliki anak merupakan suatu hal yang sudah mereka pertimbangkan, bahkan ada sisi psikologisnya.Sementara menurut Agrillo dan Nelini, childfree adalah istilah yang digunakan untuk individu-individu yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak atau yang lebih dikenal dengan sukarela tanpa anak. Dalam studinya Houseknecht menjelaskan bahwa childfree merupakan orang yang tidak memiliki anak dan tidak berkeinginan untuk memiliki anak di masa depan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa childfree merupakan suatu fenomena yang baru terjadi dimasyarakat yaitu keputusan dari suami dan istri secara sadar untuk tidak memiliki anak setelah menikah dengan mempertimbangkan beberapa aspek baik secara fisik secara psikologi.
2. Faktor yang mempengaruhi Childfree
Terdapat beberapa istilah untuk penyebutan childfree yaitu seperti Involuntary childlessness diartikan sebagai seseorang yang tidak dapat memiliki anak karena faktor yang mendasarinya berkaitan dengan masalah kesehatan seperti infertilitas, sedangkan Voluntary childlessness adalah keputusan individu yang secara sadar atau sukarela memilih untuk tidak memiliki anak meskipun mereka dianggap mampu karena kondisi kesuburan mereka. (Ryan et al., 2013).
Selain itu faktor yang melatarbelakangi seseorang untuk memilih childfree atau tidak memiliki anak adalah: 1) Kurangnya keinginan untuk menjadi orang tua. 2) Adanya rasa tidak suka terhadap anak-anak. 3) Adanya rasa traumatis masa kecil. 4) Tidak ingin mengorbankan privasi/ruang dan waktu untuk anak. 5) Adanya rasa takut untuk mengandung dan melahirkan.
6) Pertimbangan untuk membesarkan anak dengan kapasitas intelektual yang buruk. 7) Kekhawatiran bahwa anak akan mewarisi penyakit keturunan. 8) Anak dilihat sebagai additional burden (beban tambahan) yang mengakibatkan terjadinya overpopulation (kepadatan populasi). 9) Adanya kekurangan pada finansial. 10) Adanya rasa khawatir pada keharmonisan perkawinan. (Ryan et al., 2013). Pendapat lain (Siswanto & Neneng
Nurhasanah, 2022) mengatakan terdapat empat alasan yang sudah berkembang di masyarakat menjadikan seseorang memilih untuk childfree yaitu:
1. Pribadi
Dalam memilih keputusan yang diambil berdasarkan alsan pribadi biasanya timbul karena adanya emosi didalam batin sesorang. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh beberapa kondisi yang ada dan dirasakan didalam diri seseorang baik kondisi keluarga, lingkungan pertemanan, pendidikan, pekerjaan dan kondisilainnya.
Orang-orang yg memilih childfreedengan alasan pribadi biasanya memiliki kondisi tertentu dan secara pribadi menolak akan kehadiran seorang anak yang berdasarkan pengalaman yang mereka rasakan sendiri maupun melihat pengalaman dari orang lain.
2. Medis atau Psikis,
Psikologis berkaitan dengan sesuatu yang mempengaruhi baik pikiran, perasaan, maupun motivasi seseorang. Terdapat beberapa kondisi psikologis yang menjadikan seseorang memilih untuk childfreeseperti adanya trauma, kecemasan, ketakutan, hingga gangguan kesehatan mental lain yang dapat mempengaruhi kegiatan sehari- hari dan kehidupan seseorang yang menderitanya. Ada juga alasan seseorang yang memilih childfreedikarenakan oleh kondisi medisnya. Kondisi psikologis lebih mengarah kepada alam bawah sadar sesorang (psikis) sedangkan kondisi medis adalah bentuk gangguan dalam fisik seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut menjadi childfree.
3. Ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu faktor yang menjadikan orang-orang memilih untuk tidak memiliki anak. Alasan ini memang lebih realistis daripada alasan yang lainnya. Karena dalam mengurus anak, merawat anak dan memberikan kelayakan hidup bagi sang anak merupakan tanggung jawab dan merupakan kewajiban yang sangat besar bagi orang tua. Kondisi ekonomi dapat menentukan apakah seorang anak tercukupi dalam berbagai hal seperti gizi yang terpenuhi, pendidikan yang cukup, kesehatan yang terjamin dan masih banyak hal lain.
4. Filosofis
Orang-orang yang memilih untuk childfreememiliki alasan filosofis bahwa dunia yang ditinggali oleh manusia sekarang sudah tidak layak huni dan sudah tidak cocok untuk anak-anak. Orang-orang childfreeyang menyukai anak-anak lebih memilih untuk menjadi bagian dari komunitas atau menjadi volunter untuk membantu anak-anak yang kekurangan, tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau kondisi yang kurang beruntung lainnya.Dengan mereka membantu anak- anak tanpa harus melahirkan dari keturunan mereka sendiri sudah lebih dari cukup untuk memperoleh kebahagiaan dan kesenagan terhadap anak-anak.
5. Lingkungan Hidup
Dalam pertimbangan untuk memilih childfreebeberapa orang menganggap lingkungan hidup sebagai salah satu alasan yang kerap dipakai dalam meyakinkan keputusannya.
Dalam sebagian orang yang memilih untuk tidak punya anak beranggapan bahwa dunia sekarang sudah tidak baik untuk pertumbuhan sang anak dan populasi manusia didunia sudah semakin meningkat dan juga sudah bukan tempat yang ideal untuk kehidupan manusia. Kondisi lingkungan menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi beberapa orang yang memilih childfreesebab bagi mereka melahirkan manusia di
tengah kondisi bumi yang sangat tidak baik sama saja membiarkan generasi selanjutnya hidup dalam kesusahan.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Childfree adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Pilihan ini dapat didasarkan pada berbagai alasan pribadi, termasuk keinginan untuk fokus pada karier, kebebasan pribadi, kekhawatiran akan dampak lingkungan, atau ketidakmampuan fisik atau finansial untuk merawat anak.
Keputusan untuk childfree juga di pilih oleh beberapa public figure salah satunya Gita Savitri. Gita Savitri merupakan konten creator, Youtuber, sekaligus penulis buku yang Namanya semakin dikenal publik Indonesia setelah merilis buku pertamanya yang berjudul Rentang Kisah.
Pada 2018 dia diketahui menikah dengan paul andre partohap. Baru-baru ini, Gita Savitri Devi membahas soal pandangannya terkait childfree atau tidak memiliki anak sama sekali. Dalam instagramnya dia menulis
“Di kamus hidup gue, ‘tiba-tiba dikasih’ sangat tidak mungkin. Menurut pendapat gue, lebih gampang gak punya anak daripada punya anak. Karena banyak banget hal preventif yang bisa dilakukan untuk tidak punya anak. Skenario ini sangat tidak mungkin terjadi,”
Dalam analisis yang dilakukan melalui video dichanel youtube gita Savitri ” Childfree: Serba Salah Di Mata Warganet “ yang dirilis 15 februari 2023, gita Savitri dan juga paul mendiskusikan bahwa banyaknya pro dan kontra di budaya indonesia dari statment yang dikatakan dia dengan keputusannya melakukan childfree
- Mereka memilih childfree bukan karena masalah Kesehatan (mandul) tetapi memang bedasarkan keputusan jangka Panjang yang sudah dipikirkan
- Mereka tidak mau menggantungkan kebahagiaan hanya pada mempunyai anak
- Menurut gita hidup dengan malah akan menjadi kontradiktif baginya dan akan menghilangkan core value yang dia pengen ataupun yang dia punya
- Menurut mereka akan lebih baik tidak mempunyai anak untuk menghindari tidak terurusnnya anak dan akan menelantarkan anak walaupun sudah melakukan yang terbaik malah outputnya mendzolimi diri sendiri
- Melihat dari role expired dan dari kondisi anaknya - Pola parentingnya
- Peran Perempuan yang selalu disalahkan atas hal hal yang seharusnya tidak penting bagi orang lain
Selain itu penulis juga melakukan wawancara terhadap seseorang yang memilih childfree, hasil dari wawancara dengan infroman tersebut yaitu alasan informan memilih childfree karena dia dan suaminya sudah bersepakat sejak sebelum menikah. Menurut pandangan pribadi infroman mempunyai anak itu harus dengan kesiapan secara mental maupun fisik. Karena infroman dan suaminya mau membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. Oleh karena itu jika mereka belum
selesai dengan diri sendiri takutnya malah ketika dikaruniai anak, kurang maksimal dalam merawat. Faktor informan membuat keputusan untuk childfree yaitu karena informan merupakan seorang anak broken home, lalu informan masih mempunyai banyak keinginan atau goals yang ingin dicapai terlebih dahulu serta informan merasa finansial dan mentalnya belum siap dan juga melihat dari banyak kasus yang marak terjadi mengenai ibu hamil yang mengalami baby blues, perubahan secara fisik, tidak siap secara mental untuk mendidik anak maka hal tersebut membuat informan membuat keputusan untuk saat ini childfree adalah pilihan yang tepat.
Menurut informan fungsi keluarga itu selalu ada dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun, karena informan merasa jika dia dan suaminya saja tanpa seorang anak sudah termasuk keluarga dan hal itu sudah memenuhi semua. Jadi informan merasa bahwa dia dan suaminya saja itu sudah termasuk keluarga jadi lebih baik saling merawat, menyayangi satu sama lain terlebih dahulu hingga merasa sudah cukup dengan kebahagaian yang mereka pilih. Selain itu kedua pihak keluarga informan juga mendukung keputusan childfree informan karena keluarga sudah memiliki cucu dari kakak-kakak informan dan juga keluarga ingin informan dan suaminya untuk lebih bahagia terlebih dahulu. Dalam menanggapi pro dan kontra terkait keputusan childfree, informan lebih bersikap bodoamat dengan tanggapan orang sekitar karena informan merasa bahwa yang menjalani hidup ini adalah dia sendiri jadi mereka tidak terlalu mengikuti dari omongan orang lain.
Untuk keputusan childfree ini informan murni memilih keputusan ini untuk kebahagiaan hidupnya karena kebahagian bukan selalu tercipta dari seorang anak dan pemikiran mengenai anak adalah investasi di masa tua adalah pemikiran yang kurang tepat. Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa suatu hari nanti informan akan meninggalkan konsep childfree, jika nanti informan dan suaminya sudah saling merasa bahagia dengan diri sendrinya, aman, nyaman, dan sanggup yang setidaknya dalam finansial dan psikologis untuk memberikan yang terbaik.
Informan juga tidak mengikuti komunitas childfree karena merasa takut jika nanti terdistrak dengan pandangan lain.
Analisis tentang childfree dapat membantu dalam memahami tren dan perubahan dalam masyarakat terkait pilihan ini. Selain itu, analisis ini juga dapat memberikan wawasan tentang kebutuhan dan keinginan individu atau pasangan childfree, serta dampak sosial dan ekonomi yang mungkin terjadi. Pendapat childfree di budaya Indonesia masih menjadi topik yang kontroversial.
Meskipun ada sebagian orang yang mendukung pilihan untuk tidak memiliki anak, namun mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap memiliki anak sebagai bagian penting dari kehidupan dan keluarga. Budaya Indonesia cenderung mendorong pernikahan dan memiliki keturunan sebagai tujuan hidup yang dianggap normal. Keluarga dianggap sebagai landasan sosial dan ekonomi yang kuat, serta memainkan peran penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya. Namun, dengan semakin berkembangnya pemikiran individualistik dan perubahan sosial di Indonesia, terdapat juga sekelompok orang yang memilih hidup childfree.
Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah kebebasan untuk mengejar karir, fokus pada diri sendiri, kekhawatiran akan tanggung jawab dan beban finansial, serta kekhawatiran akan dampak lingkungan. Meskipun demikian, pandangan masyarakat Indonesia terhadap childfree masih cenderung negatif. Orang-orang yang memilih hidup childfree seringkali dianggap egois atau tidak menghargai nilai-nilai tradisional. Mereka juga sering menghadapi tekanan sosial dari keluarga, teman, atau masyarakat sekitar untuk memiliki anak. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap
individu memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Menerima pilihan hidup childfree sebagai pilihan yang sah merupakan langkah menuju masyarakat yang lebih inklusif dan menghormati pilihan individu.
Analisis tentang childfree dapat melibatkan beberapa aspek, seperti
1. Demografi: Memahami profil demografis individu atau pasangan childfree dapat membantu dalam memahami tren dan pola dalam pilihan ini. Misalnya, apakah lebih umum di kalangan wanita atau pria, apakah ada perbedaan antara generasi, atau apakah ada faktor sosioekonomi yang mempengaruhi keputusan ini.
2. Alasan dan motivasi: Mengidentifikasi alasan dan motivasi di balik pilihan childfree dapat memberikan wawasan tentang perubahan sosial dan budaya yang mungkin terjadi dalam masyarakat. Misalnya, apakah perubahan peran gender atau perubahan nilai-nilai keluarga berkontribusi pada peningkatan pilihan ini.
3. Dampak sosial dan ekonomi: Menganalisis dampak sosial dan ekonomi dari adanya individu atau pasangan childfree dapat membantu dalam memahami implikasi jangka panjang dari tren ini.
Misalnya, apakah akan ada konsekuensi demografis seperti penurunan tingkat kelahiran atau perubahan dalam struktur keluarga tradisional.
4. Stigma dan persepsi masyarakat: Meneliti stigma dan persepsi masyarakat terhadap individu atau pasangan childfree dapat memberikan wawasan tentang bagaimana pilihan ini diterima dalam masyarakat. Misalnya, apakah ada tekanan sosial atau diskriminasi terhadap mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak.
5. Alternatif dan solusi: Menganalisis alternatif dan solusi yang mungkin bagi individu atau pasangan childfree dapat membantu dalam memahami berbagai opsi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Misalnya, apakah ada tren peningkatan adopsi hewan peliharaan, meningkatnya minat dalam relasi romantis tanpa anak, atau peningkatan dukungan sosial untuk individu atau pasangan childfree.
E. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Ana Rita Dahnia, Anis Wahda Fadilla Adsana, & Yohanna Meilani Putri. (2023). Fenomena Childfree Sebagai Budaya Masyarakat Kontemporer Indonesia Dari Perspektif Teori Feminis (Analisis Pengikut Media Sosial Childfree). Al Yazidiy : Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 5(1), 66–85. https://doi.org/10.55606/ay.v5i1.276
Andrie, M. (n.d.). CHILDFREE DALAM PERKAWINAN PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH MURSALAH ASY-SYATIBI.
Fadhilah, E. (2022). Childfree Dalam Pandangan Islam. Al-Mawarid Jurnal Syariah Dan Hukum (JSYH), 3(2), 71–80. https://doi.org/10.20885/mawarid.vol3.iss2.art1
Febri, N., Rahayu, S., & Aulia, F. (2022). Keputusan Pasangan Subur Untuk Tidak Memiliki Anak. Journal Hermeneutika, 8(1), 20–33.
Keluarga, J., Vol, B., Timur, J., Malang, K., Surabaya, K., & Timur, J. (2023). PERSEPSI CHILDFREE DI KALANGAN GENERASI ZILENIAL JAWA TIMUR Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Timur , Universitas Airlangga Jalan Airlangga nomor 31-33 Surabaya , 2 Jalan Dharmawangsa Dalam Surabaya. 8(1), 1–11.
Muhammad Khatibul Umam, & Nano Romadlon Auliya Akbar. (2021). Childfree Pasca Pernikahan: Keadilan Hak-Hak Reproduksi Perempuan Perspektif Masdar Farid Mas’udi dan Al-Ghazali. Al-Manhaj: Journal of Indonesian Islamic Family Law, 3(2), 157–172.
https://doi.org/10.19105/al-manhaj.v3i2.5325
Nuroh, S., & Sulhan, M. (2022). Fenomena Childfree Pada Generasi Milenial Ditinjau Dari Perspektif Islam. An-Nawa : Jurnal Studi Islam, 4(2), 136–146.
https://doi.org/10.37758/annawa.v4i2.528
Rindu Fajar Islamy, M., Siti Komariah, K., Mayadiana Suwarma, D., & Hafidzani Nur Fitria, A.
(2022). Fenomena Childfree di Era Modern: Studi Fenomenologis Generasi Z serta Pandangan Islam terhadap Childfree di Indonesia. Sosial Budaya, 19(2), 81–89.
Ryan, Cooper, & Tauer. (2013). konsep Childfree. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 12–26.
Saepullah, A., Rofi’i, A., & Mahkamah, P. B. S. (2023). FENOMENA CHILDFREE PADA PASANGAN MUDA DITINJAU BERDASARKAN HUKUM KELUARGA ISLAM (Study kasus di Kota Cirebon). Jurnal Kajian Hukum Islam, 1(1).
https://www.nu.or.id/risalah-redaksi/childfree-tren-populasi-dunia-dan-beragam- tantangannya-8tSrk
Siswanto, A. W., & Neneng Nurhasanah. (2022). Analisis Fenomena Childfree di Indonesia.
Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 2(2), 64–70.
https://doi.org/10.29313/bcsifl.v2i2.2684
https://umj.ac.id/opini-1/childfree-dalam-pandangan-psikologi-anak/
Houseknecht SK. Voluntary childlessness in the 1980’s: A significant increase? Marriage &
Family Review. 1982, 51-69
Software Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.
Balai Pustaka, 2005.
Ana Rita Dahnia, Anis Wahda Fadilla Adsana, & Yohanna Meilani Putri. (2023). Fenomena Childfree Sebagai Budaya Masyarakat Kontemporer Indonesia Dari Perspektif Teori Feminis (Analisis Pengikut Media Sosial Childfree). Al Yazidiy : Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 5(1), 66–85. https://doi.org/10.55606/ay.v5i1.276
Andrie, M. (n.d.). CHILDFREE DALAM PERKAWINAN PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH MURSALAH ASY-SYATIBI.
Fadhilah, E. (2022). Childfree Dalam Pandangan Islam. Al-Mawarid Jurnal Syariah Dan Hukum (JSYH), 3(2), 71–80. https://doi.org/10.20885/mawarid.vol3.iss2.art1
Febri, N., Rahayu, S., & Aulia, F. (2022). Keputusan Pasangan Subur Untuk Tidak Memiliki Anak. Journal Hermeneutika, 8(1), 20–33.
Keluarga, J., Vol, B., Timur, J., Malang, K., Surabaya, K., & Timur, J. (2023). PERSEPSI CHILDFREE DI KALANGAN GENERASI ZILENIAL JAWA TIMUR Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Timur , Universitas Airlangga Jalan Airlangga nomor 31-33 Surabaya , 2 Jalan Dharmawangsa Dalam Surabaya. 8(1), 1–11.
Muhammad Khatibul Umam, & Nano Romadlon Auliya Akbar. (2021). Childfree Pasca Pernikahan: Keadilan Hak-Hak Reproduksi Perempuan Perspektif Masdar Farid Mas’udi dan Al-Ghazali. Al-Manhaj: Journal of Indonesian Islamic Family Law, 3(2), 157–172.
https://doi.org/10.19105/al-manhaj.v3i2.5325
Nuroh, S., & Sulhan, M. (2022). Fenomena Childfree Pada Generasi Milenial Ditinjau Dari Perspektif Islam. An-Nawa : Jurnal Studi Islam, 4(2), 136–146.
https://doi.org/10.37758/annawa.v4i2.528
Rindu Fajar Islamy, M., Siti Komariah, K., Mayadiana Suwarma, D., & Hafidzani Nur Fitria, A.
(2022). Fenomena Childfree di Era Modern: Studi Fenomenologis Generasi Z serta Pandangan Islam terhadap Childfree di Indonesia. Sosial Budaya, 19(2), 81–89.
Ryan, Cooper, & Tauer. (2013). konsep Childfree. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 12–26.
Saepullah, A., Rofi’i, A., & Mahkamah, P. B. S. (2023). FENOMENA CHILDFREE PADA PASANGAN MUDA DITINJAU BERDASARKAN HUKUM KELUARGA ISLAM (Study kasus di Kota Cirebon). Jurnal Kajian Hukum Islam, 1(1).
https://www.nu.or.id/risalah-redaksi/childfree-tren-populasi-dunia-dan-beragam- tantangannya-8tSrk
Siswanto, A. W., & Neneng Nurhasanah. (2022). Analisis Fenomena Childfree di Indonesia.
Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 2(2), 64–70.
https://doi.org/10.29313/bcsifl.v2i2.2684