FENOMENA INDUSTRI HALAL DAN PERKEMBANGAN EKONOMI
Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Industri Halal
Dosen Pengampu
Prof. Dr. H.Muhammad Djakfar, S.H., M.Ag Dr. H.Fauzan Almanshur,ST., MM
Oleh:
KHILMI ZUHRONI NIM. 200504320014
PROGRAM DOKTOR EKONOMI SYARIAH
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2022
FENOMENA INDUSTRI HALAL DAN PERKEMBANGAN EKONOMI
Khilmi Zuhroni
Program Doktor Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: [email protected]
Abstract
Berdasarkan The Global Islamic Economy Report tahun 2020-2021 perkembangan industri halal tidak hanya terbatas pada sektor makanan, melainkan telah meluas pada sektor kosmetik, fashion, travel (wisata halal), obat-obatan, perlengkapan mandi dan alat kesehatan serta komponen sektor jasa seperti logistik, pemasaran, media cetak dan elektronik, pengemasan, branding, dan pembiayaan dan sebagainya.
Konsep 'halal' yang tidak lagi terbatas pada makanan saja, telah membuat industri halal sektor baru yang potensial tumbuh dalam perekonomian global. Industri ini tumbuh sebesar 20 persen per tahun dengan estimasi nilai US$560 miliar dan total estimasi nilai US$2,3 triliun. Nilai ini tidak termasuk Keuangan Syariah yang juga berkembang pesat. Industri dengan cepat melebarkan sayapnya dalam perekonomian secara global. Tidak lebih terbatas hanya 1,8 miliar Muslim saja, melainkan juga pasar bagi non-Muslim.
Ada beberapa faktor yang mendorong pesatnya pertumbuhan industri halal secara global. Faktor- faktor tersebut antara lain mungkin termasuk populasi Muslim di seluruh dunia, pertumbuhan PDB negara-negara Muslim, munculnya pasar halal, penawaran gaya hidup Muslim, dan pertumbuhan ekosistem halal. Hal ini merupakan kekuatan pendorong, bagaimanapun, juga menunjukkan peluang yang mendasari industri halal di ekonomi global. Bagian berikut mengidentifikasi faktor- faktor yang disebutkan sebagai kekuatan pendorong dan menunjukkan peluang industri halal global. Adapun tantangan terbesar bagi industri Halal adalah membangun sertifikasi produk halal yang diakui berdasarkan standar internasional dan sertifikasi halal, khususnya di bidang pangan.
Kata kunci: industri halal, pertumhuban ekonomi
PENDAHULUAN
Industri Halal secara global mengalami perkembangan yang sangat pesat. Secara keseluruhan diperkirakan bernilai sekitar USD2,3 triliun setahun. Industri halal saat ini menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat. Secara bersamaan, pertumbuhan pasar global diperkirakan mencapai tingkat tahunan 20 persen per tahun. Industri halal tidak lagi terbatas pada makanan dan produk yang berhubungan dengan makanan (Azam & Abdullah, 2020).
Berdasarkan The Global Islamic Economy Report tahun 2020-2021 perkembangan industri halal tidak hanya terbatas pada sektor makanan, melainkan telah meluas pada sektor kosmetik,
fashion, travel (wisata halal), obat-obatan, perlengkapan mandi dan alat kesehatan serta komponen sektor jasa seperti logistik, pemasaran, media cetak dan elektronik, pengemasan, branding, dan pembiayaan dan sebagainya. (Report Team, 2020)
Konsep 'halal' juga mengaitkan konsep 'Toyyib' artinya baik. Jadi, yang dimaksud dengan
‘halal’ adalah segala sesuatu yang dibolehkan dalam Islam dan kebaikan bagi manusia. Integrasi nilai-nilai etika dengan nilai-nilai agama membuka batas industri halal dari 2,8 miliar konsumen Muslim ke non-Muslim konsumen juga di seluruh dunia. Itu diterima dengan baik oleh konsumen non-Muslim sebagai kehidupan pilihan gaya karena nilai-nilai yang dipromosikan oleh industri halal seperti kesejahteraan hewan, sosial tanggung jawab, ramah lingkungan, kepedulian terhadap bumi, keadilan ekonomi dan sosial, dan investasi etis (Bashir, 2019).
Populasi Muslim saat ini adalah 2,18 miliar yaitu 28,26% dari total populasi meningkat sebesar 1,84% per tahun (Report Team, 2020). Karena ukuran konsumen meningkat, ukuran pasar industri halal juga meningkat di tingkat tahunan 20% dengan nilai US$560 miliar per tahun.
Peluang perkembangan insustri halal yang pesat tersebut tampaknya membuat negara-negara non- Muslim menyadari peluang dan potensi pertumbuhan pasar halal dan menempatkan upaya untuk memimpin di sektor ekonomi dunia ini. Misalnya, Brasil, Australia, dan Singapura masuk dalam daftar sepuluh besar negara dengan skor tertinggi yang masuk dalam Global Islamic Economy Indicator di pasar makanan halal pada 2020-2021, meskipun mereka adalah negara non-Muslim (Report Team, 2020).
Fenomena industry halal adalah fenomena baru yang menarik bukan saja karena pentingnya halal bagi pemeluk islam sebagai manifestasi ketaatan dalam menjalankan ajaran agama, populasi muslim dunia yang terus mengalami peningkatan ikut berkontribusi dalam mendorong adanya jaminan halal dari dunia industri yang menjual produk dan jasa kepada penduduk muslim. Fenomena ini juga menarik bagi para pelaku pasar global untuk ikut mengambil bagian dari ceruk potensi industry halal yang cukup besar, pengaruh geopolitik dalam perdagangan internasional yang menuntut adanya kestabilan hubungan antara Negara muslim dan non-muslim menjadikan fenomena industry halal menjadi sebuah keniscayaan apapun faktor dan motivasinya.
Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengambangkan industri halal. Sekalipun belum tergarap sepenuhnya, perkembangan industri halal di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Data di lapangan menunjukkan bahwa output industri halal yang ada di Indonesia
masih berpeluang untuk terus meningkat sekalipun belum secara maksimal. Berdasarkan penilaian yang tercantum pada State of The Global Islamic Report (2019), Indonesia menempati peringkat ke-5 dalam kategori Top 15 Global Islamic Economy Indicator dengan skor sebesar 49. Sementara itu, bila dilihat dari berbagai sektor industri halal, Indonesia menempati peringkat ke-5 dalam Top 10 Islamic Finance, peringkat ke-4 dalam Top 10 Muslim-Friendly Travel, dan peringkat ke-3 dalam Top 10 Modest Fashion. Sementara itu, untuk sektor Halal Food, Media and Recreation dan Pharma and Cosmetics, Indonesia tidak masuk ke dalam peringkat 10 besar (State of Global Islamic Economy Report 2019.
Makalah ini mencoba untuk mengkaji realitas industri halal global saat ini dengan mengamati faktor-faktor yang menentukan peningkatan permintaan untuk industri Halal di samping peluang yang ditawarkan dari perkembangan global terkini di pasar. Untuk mencapai tujuan penelitian, metodologi menganalisis data sekunder dari sumber yang berbeda diadopsi dalam makalah ini. Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk menyadari situasi dan prospek halal global saat ini industri. Ini juga menyelidiki faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan pesat pasar halal secara global. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk mengatasi beberapa masalah dan tantangan di pasar halal global dan memberikan rekomendasi yang sesuai. Temuan penelitian bisa digunakan untuk membuat kesadaran tentang realitas dan peluang pasar halal global.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan data sekunder yang didapatkan melalui artikel ilmiah maupun dokumen lainnya yang relevan. Data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisis dengan menghasilkan penjelasan deskriptif berupa kata-kata, gambar maupun simbol yang dihubungkan dengan objek penelitian ini. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu reduksi data, kategorisasi data, dan verifikasi data. Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyeleksi semua data melalui pemotongan dan penyederhanaan data yang ada sesuai dengan topik penelitian. Selanjutnya dilakukan kategorisasi data yang sudah direduksi sesuai dengan topik penelitian yaitu fenomena instri halal dan perkembangan ekonomi dalam Perekonomian Indonesia. Tahapan terakhir adalah verifikasi data untuk menarik konklusi yang merupakan interpretasi peneliti terhadap data. Verifikasi dilakukan
dengan teknik triangulasi, yaitu mengkomparasikan antara satu sumber data dengan sumber data lainnya. (Miles et al., 2014)
PEMBAHASAN
Istilah halal berasal dari bahasa Arab yaitu halla, yahillu, hillan, wahalalan yang berarti diperbolehkan atau diperbolehkan oleh hukum Syariah. Menurut hukum Syariah, setiap Muslim harus memastikan apapun yang mereka konsumsi berasal dari sumber yang halal. Konfirmasi ini seharusnya tidak hanya terbatas pada bahan tetapi juga seluruh proses produksi dan layanan (Yazid et al., 2020).
Studi lain oleh Idris et al., (2020), menyatakan beberapa prinsip halal dan produk haram.
Studi ini mendefinisikan halal sebagai halal, bermanfaat, dan bukan ancaman atau bahaya yang serius untuk manusia. Haram, di sisi lain, dianggap sebagai kebalikan dan derajat keberadaan menguntungkan atau merugikan menentukan peringkat urutan syirik berdasarkan berdasarkan subjek pada waktu, tempat, dan kebutuhan tertentu.
Kata halal digunakan untuk objek atau kegiatan yang diperbolehkan untuk digunakan atau untuk dilaksanakan menurut ajaran Islam. Halal dan haram dalam pandangan Islam adalah konsep yang sederhana dan jelas, ia adalah bagian dari amanah besar yang menjadi tanggung jawab setiap muslim dengan balasan pahala dan dosa. halal dan haram dalam Islam bagi setiap muslim bukan pilihan tapi tanggung jawab dan uji ketaatan dari satu sisi, namun dari sisi lain konsep halal dan haram secara umum berputar dalam poros syariat Islam yang bertujuan untuk memberikan kebaikan dan kemaslahatan, menghilangkan kesulitan dan memberikan kemudahan bagi manusia.
Bagi konsumen Muslim Makanan halal adalah bagian penting dari kehidupan. Ini jelas dari fakta bahwa kata dalam bahasa Arab menunjukkan diperbolehkan dan bahwa kebalikannya Haram berkonotasi ketidakbolehan (Ur Raheema, 2018). Dengan adanya sertifikasi untuk industri halal secara global maka minat terhadap produk-produk halal mengalami peningkatan yang sangat pesat. Karena pertumbuhan dan perkembangan yang cepat sektor makanan Halal, harapan untuk kualitas kepercayaan Halal dan persepsinya tampaknya mengalami pergeseran, yaitu, meluas hingga mencakup prinsip Tayyib. Hal ini tercermin dari karya akademis baru-baru ini terutama pada integritas Halal dan laporan ekonomi Islam yang menyarankan Tayyib menjadi tren baru dan faktor nilai tambah dalam pemasaran produk halal.
Produk halal adalah produk-produk yang dinyatakan halal sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Industri produk halal merupakan bagian dari ekonomi syariah yang dikembangkan pemerintah sejak sekitar tiga dasawarsa terakhir. Di dalam perkembangannya, ekonomi syariah terlebih dulu menyentuh sektor jasa, yakni jasa keuangan. Perbankan syariah mulai menggeliat sejak 1990-an. Tepatnya pada 1992, industri ini memasuki babak awal perjalanan ditandai berdirinya bank umum syariah pertama di Indonesia, yakni Bank Muamalat. Sampai dengan Januari 2019, jasa keuangan syariah bisa meraup pangsa 6,8 persen. Angka ini mungkin tampak kecil, tetapi sebetulnya terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pemerintah juga mendirikan otoritas khusus salah satunya Badan Penyelenggara Penjaminan Produk Halal.
Kehadiran BPJPH bertujuan mengakomodasi potensi pasar produk halal domestik yang terbilang besar, sejalan dengan menguatnya kecenderungan beragama penduduk Indonesia. Potensi perkembangan ekonomi syariah terutama didukung kesadaran masyarakat muslim Indonesia terhadap konsumsi barang dan jasa halal. Halal Economy and Strategy Roadmap 2018 menyebutkan, total konsumsi barang dan jasa halal Indonesia pada 2017 sekitar US$ 218,8 miliar.
Jumlah ini diperkirakan terus tumbuh rata-rata sebesar 5,3 persen dan mencapai US$ 330,5 miliar pada 2025 mendatang.
Sejarah pasar Halal di Barat. Sejak Imigran muslim mulai membanjiri Barat terutama Prancis pada tahun 1960-an, maka sejak saat itu mulai terjadi peningkatan akan kebutuhan daging yang halal sesuai dengan syariat Islam. Sampai pada tahun 1990-an mulai timbul kesadaran religious muslim imigran di Barat tentang kehalalan makanan yang mereka konsumsi, hukum teori ekonomi supply and demand pun berlaku dimana karena besarnya permintaan akan kebutuhan daging halal maka banyak yang menjual dan menawarkan daging halal, awalnya aktifitas ekonomi ini berkembang secara local namum kemudian terderifikasi rangkaian produknya secara global bahkan meluas pada sector agri-food (Rodet, 2016).
Pada 1990-an dunia di landa krisis kesehatan dengan munculmya penyakit sapi gila maka mulai muncul desakan yang minta ada pemberian jaminan produk halal termasuk proses penyembelihannya yang harus seuai dengan ajaran agama dalam hal ini Islam, di buat rumah potong hewan yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung untuk menghasilkan daging halal, dan seiring dengan meningkatnya kegiatan ekspor impor antara Negara mayoritas muslim dengan Negara mayoritas non-muslim sehingga mulai ada kebutuhan untuk membuat atau merumuskan sertifikasi standar halal internasional(The History of the Halal Market in the West, 2022).
Malaysia selaku Negara penyelenggara World Halal Forum menjadi leading sektor yang meminta organisasi pangan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) untuk memasukkan istilah halal dalam codex alimentarius sebagai bentuk proteksi dari penggunaan yang tidak tepat.
Tahun 2013, dalam Word Islamic Economic Forum (WIEF) yang ke sembilan di London adalah pertama kalinya konsep ekonomi Islam secara resmi di akui, PM David Cameron adalah yang pertama secara resmi mengumumkan produk Sukuk (Islamic Bound), dan shari"ah compliant student loans. Sejak saat itu istilah halal mulai dikenal luas dan menjadi label untuk standar produk-produk halal global, Thomson Reuters and Dinar Standard dalam Islamic Economic Report menyatakan bahwa industry halal diprediksi akan tembus sampai pada angka transaksi sebesar 2,3 milyar dolar AS, industry halal global masuk di era industry baru, tidak eksklusif tapi inklusif, tidak parsial tapi universal, industry halal tidak hanya terbatas pada sektor makanan halal dan keuangan syariah saja “meat and money" akan tetapi menjadi lintas sektor, termasuk fashion, mode, logistic, marketing, pariwisata halal, kosmetik dan alat kecantikan, obat-obatan bahkan rumah sakit.
Industri Halal Global
Konsep 'halal' yang tidak lagi terbatas pada makanan saja, telah membuat industri halal sektor baru yang potensial tumbuh dalam perekonomian global. Industri ini tumbuh sebesar 20 persen per tahun dengan estimasi nilai US$560 miliar dan total estimasi nilai US$2,3 triliun. Nilai ini tidak termasuk Keuangan Syariah yang juga berkembang pesat. Industri dengan cepat melebarkan sayapnya dalam perekonomian secara global. Tidak lebih terbatas hanya 1,8 miliar Muslim saja, melainkan juga pasar bagi non-Muslim.
Selain negara-negara muslim seperti Malaysia, dan Indonesia, negara lain seperti China, Thailand, Singapura, Korea, Filipina, dan Australia sudah mengambangkan produk-produk halal di pasar. Banyak negara mayoritas non-Muslim telah menyadari potensi dari industri halal.
Bahkan, beberapa negara seperti Brasil, Australia, Selandia Baru, Italia, India, Jerman menempati posisi sepuluh besar dalam skor GIEI di berbagai sektor halal.
Menurut studi Azzam (2020), Industri halal tidak hanya memperluas produknya sektor seperti farmasi, produk kesehatan, perlengkapan mandi, dan kosmetik, tetapi juga dalam layanan sektor seperti pemasaran, rantai pasokan, logistik, pengemasan, manufaktur, branding, dan pembiayaan. penelitian ini juga menyiratkan bahwa penawaran gaya hidup seperti perjalanan &
pariwisata, perhotelan manajemen, dan industri fashion kini juga menjadi sektor utama industri halal yang diperluas.
Ada beberapa faktor yang mendorong pesatnya pertumbuhan industri halal secara global.
Faktor-faktor tersebut antara lain mungkin termasuk populasi Muslim di seluruh dunia, pertumbuhan PDB negara-negara Muslim, munculnya pasar halal, penawaran gaya hidup Muslim, dan pertumbuhan ekosistem halal (Azam & Abdullah, 2020). Hal ini merupakan kekuatan pendorong, bagaimanapun, juga menunjukkan peluang yang mendasari industri halal di ekonomi global. Bagian berikut mengidentifikasi faktor-faktor yang disebutkan sebagai kekuatan pendorong dan menunjukkan peluang industri halal global.
Pertumbuhan Penduduk Muslim
Pesatnya pertumbuhan penduduk muslim di seluruh dunia menjadi faktor pendorong perluasan pasar halal global yang paling. Populasi global akan mencapai 8,3 miliar dan pada saat populasi Muslim diproyeksikan menjadi 2,1 miliar (Latif, 2017). Namun, baru-baru ini data menunjukkan populasi Muslim sudah mewakili 28,26 persen dari populasi dunia yaitu 2,18 miliar (“Populasi Muslim di Dunia,” n.d.).
Generasi Milenial yang juga dikenal sebagai Generasi Y yang juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi sebagai industri halal global. Merekalah yang menjawab kebutuhan kaum milenial Muslim dan mengatur merek dengan membawa perubahan di seluruh ekonomi ritel. Mereka adalah kekuatan pendorong dalam hal kewirausahaan, inovasi, melek teknologi, dan potensi kekuatan. Pada tahun 2027, generasi Milenial ditetapkan menjadi 2,8 miliar populasi dunia sebagai kekuatan konsumen inti. Pada saat yang sama, Generasi Y di antara negara-
negara OKI akan mencapai 0,7 miliar dengan peningkatan usia rata-rata 28,2 yang kurang dari usia populasi muda global (Latif, 2017).
Sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat dalam hal populasi, Islam diproyeksikan menjadi yang paling populer agama pada tahun 2070, yang merupakan tanda signifikan lainnya dari pertumbuhan industri halal (LIPKA, 2017).
Pertumbuhan PDB di Negara-negara Muslim
Produk Domestik Bruto dengan paritas daya beli atau PDB (Produk Domestik Broto) adalah pendorong lain dari pertumbuhan industri halal global dan merupakan salah satu alat ekonomi untuk mengukur potensi kekuatan suatu perekonomian. Definisi PDB yang diberikan oleh bank dunia adalah "jumlah" unit mata uang suatu negara yang diperlukan untuk membeli jumlah barang dan jasa yang sama di pasar domestik" dibandingkan dengan pasar Amerika Serikat;
berdasarkan dolar AS.
Sebagai ukuran pertumbuhan penduduk, pendapatan rata-rata per kapita (PDB) Muslim telah meningkat dari USD$1763 hingga USD$10,728 dari 1993 hingga 2015 dan 57 negara OKI memiliki gabungan PDB USD27,9 triliun (“Ekonomi OKI,” Wikipedia, 2020).
Daya beli umat Islam serta konsumen di seluruh dunia juga semakin meningkat dengan pertumbuhan PDB masing-masing negara. Tabel berikut menunjukkan PDB (PPP) dari 15 besar negara dan penduduk Muslimnya
PDB global akan mencapai $168 triliun dengan tingkat pertumbuhan 5,8 persen di antara 2016 dan 2022. Namun, China sudah melampaui PDB AS pada 2014. Negara OKI, di sisi lain, mewakili $18,3 triliun dalam hal PDB yang merupakan 15,3 persen ekonomi global pada tahun 2016. 57 negara OKI yang mayoritas Muslim akan tumbuh sebesar 6,2 persen antara 2016 dan 2022 (Thomson Reuters Global Islamic Economy Report 2017/2018).
Laporan tersebut juga menunjukkan China sebagai pemain pengubah permainan dalam Islam perdagangan ekonomi. Inisiatif “Satu Sabuk Satu Perdagangan” China melibatkan 28 negara OKI dan berdiri untuk mendapatkan keuntungan dari $3 triliun dalam investasi terkait infrastruktur. Ekspor juga merupakan komponen penyumbang utama PDB suatu negara. Ekspor halal adalah diproyeksikan akan melampaui $1 miliar pada tahun 2030 dari total $50 juta pada tahun 2016.
Ekosistem Ekspor industri halal terdiri dari empat komponen. Inventaris berkelanjutan, yang dikembangkan melalui impor dan pembiakan hewan, dikirim 0,5 ton per tahun. Kemudian, lanjut pemrosesan dipimpin oleh perusahaan multinasional, mempekerjakan lebih dari 5000.
Komponen ketiga adalah sertifikasi yang memimpin sertifikasi dan akreditasi Halal kelas dunia.
Akhirnya, keuangan yang membuat dana yang tersedia untuk UKM (Thomson Reuters Global Islamic Economy Report 2017/2018).
Munculnya Pasar dan Pemain Halal
Di banyak negara di dunia para pelaku industri memiliki banyak kampanye yang menciptakan kesadaran tidak langsung pada produk dan layanan halal yang menghasilkan kekuatan pasar Halal. Konsumen di seluruh dunia menjadi sadar akan pentingnya Halal, tidak hanya dalam hal makanan konsumsi, tetapi juga nilai-nilai etika yang terintegrasi dengannya, mis.
pariwisata ramah Muslim (Muslim Frendly Travel), fashion sederhana, logistik, obat-obatan dan banyak lainnya. Bisnis triliun dolar di industri halal adalah hasil dari kebutuhan konsumen yang muncul ini. Terbukti bahwa negara-negara mayoritas Muslim seperti Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan dan negara non-Muslim lainnya juga memimpin dalam skor indikator GIE.
Namun, pasar negara berkembang di negara lain seperti Thailand, Filipina, Cina, dan Singapura menunjukkan potensi pertumbuhan industri halal. Pasar negara berkembang dari semua ini negara melihat halal sebagai sarana untuk merangsang ekonomi melalui ekspor, pariwisata, nilai tambah, perdagangan, penelitian, sertifikasi keahlian, program pelatihan, simposium ilmu halal, mentah pemasok material dan beberapa aspek lainnya (Konsultan imarat, n.d.).
Beberapa contoh dari pemain baru yang muncul termasuk supermarket Singapura MyOutlets, Jepang Nippon Express dalam layanan logistik, perusahaan daging Banvit Turki, Willobrook Farm yang berbasis di Inggris, Halal Exotic Meats, Asada's, HonestChop of U.S.A dan masih banyak lagi.
Fleishman Hillard Majlis, 2011 dalam bukunya, “The New Silk Road”, memperkenalkan Cina sebagai potensi pasar halal yang sedang berkembang. Kota, Yiwu, adalah salah satu contoh yang disebutkan dalam buku di mana lebih dari 200.000 kunjungan nasional Arab setiap tahun karena ini adalah grosir terbesar pasar barang konsumsi di Cina. Menyadari ruang lingkup industri halal, beberapa inisiatif telah telah diambil di zona perdagangan mis. ketersediaan produk yang menarik bagi konsumen muslim, perdagangan yang nyaman, ruang sholat untuk hampir 10.000 Muslim untuk berdoa, dan akses mudah ke halal makanan (Billah et al., 2020).
A.S. adalah pasar berkembang potensial lainnya dalam industri halal. Data, baru-baru ini dilaporkan oleh Konsultan imarat, n.d. menunjukkan bahwa 16% konsumen untuk pasar Kosher AS adalah Muslim. Untuk setiap 1 produk halal di rak supermarket ada 86 produk halal. Juga
menyatakan bahwa, Muslim AS menghabiskan lebih dari $16 miliar per tahun untuk produk Kosher karena produk halal tidak tersedia disana. Skenario serupa dapat diamati di Inggrismpasar halal yang tumbuh 15% dengan rata-rata nasional 1% per tahun. Apalagi negara-negara di dunia bermunculan sebagai pelaku pasar yang saling bersaing dalam industri halal.
Laporan terbaru oleh HDC, dipresentasikan di Bio Malaysia & ASEAN Konferensi Bioekonomi, 2015, menyatakan beberapa pasar negara berkembang seperti itu secara global.
Sebagai contoh, Visi UEA untuk menjadi pusat ekonomi Islam, ekonomi halal domestik di Cina adalah meningkat 10% per tahun, Thailand sebagai produsen makanan olahan halal terbesar visioning menjadi dapur dunia, Jepang melihat Halal sebagai sumber utama penyumbang ekonominya pada tahun 2020, Korea Selatan bercita-cita menjadi tujuan utama pariwisata halal, dan Brunei memiliki visi untuk menjadi Google untuk Halal (HDC, Bio Malaysia & Konferensi Bioekonomi Asean, 2015)
Gaya Hidup Muslim
Karena populasi Muslim semakin berkembang di seluruh dunia, industri halal telah memperluas jangkauannya penawaran ke bidang gaya hidup yang mencakup makan halal (memastikan makanan halal), ramah Muslimjasa pariwisata dan perhotelan, farmasi dan kosmetik halal serta fashion industri dan hiburan. Pilihan makanan Halal yang juga berkualitas dan sehat adalah salah satu gaya hidup terbaik penawaran oleh industri halal untuk Muslim serta konsumen non-Muslim. Permintaan makanan halal meningkat karena konsumen menjadi sadar akan integritas halal dalam persyaratan sertifikasi halal, standar halal, dan bahan baku halal.
Makanan dan minumannya Sektor food and baverage (F&B) juga merupakan sektor terbesar di industri yang menempati sekitar 56% dari global Muslim menghabiskan di seluruh sektor gaya hidup. Total pembelanjaan Muslim di F&B adalah $1,24 Triliun dalam 2016 yang diproyeksikan mencapai $1,94 Triliun pada tahun 2022 dengan tingkat pertumbuhan 6,2 persen dari tahun sebelumnya. Ada peluang yang signifikan untuk investasi dan penciptaan global makanan halal sebagai sektor yang tumbuh hampir dua kali lipat dari pertumbuhan global (Latif, 2017). Permintaan pangan diperkirakan akan meningkat lebih dari 70% pada tahun 2050 yang menunjukkan permintaan makanan halal di masa depan (Personal, Archive, Puah, Voon, &
Entebang, 2009).
Wisata halal dan wisata ramah Muslim merupakan segmen baru dalam industri jasa halal mendapatkan momennya di bawah sinar matahari. Permintaan ada dalam hal makanan halal di penerbangan dan hotel, maskapai penerbangan halal, hotel dan pantai ramah Muslim dan sebagainya. Menurut laporan GIE 2018 oleh Thomson Reuters, wisatawan (pelancong) halal diperkirakan menghabiskan 12 persen atau US $ 169 miliar pasar global pada tahun 2016 dengan tingkat pertumbuhan 11,8 persen dari tahun sebelumnya. nilainya diperkirakan mencapai US$283 miliar pada tahun 2022. Studi serupa dipresentasikan oleh Global
Laporan Muslim Travel Index (GMTI) 2017 menunjukkan pengeluaran wisatawan halal pada 2017 adalah US$155 miliar dan perkiraan nilai pada tahun 2020 telah disebutkan sebesar US$300 miliar. Sebagian besar umat Islam sangat memperhatikan makanan halal dalam penerbangan saat bepergian untuk lama. Layanan penerbangan timur tengah cukup sadar dalam konteks ini untuk menyajikan makanan halal onboard berangkat dari semua bandara utama di dunia yang menyimpang dari global kecenderungan.
Hal ini terus dilaporkan oleh Center for Aviation (CAPA) yang menyaksikan tingkat pertumbuhan dan ekspansi industri halal yang tidak terlihat di pasar global lainnya Resor pantai adalah pasar yang sedang berkembang dan peluang potensial dalam perjalanan halal. Pribadi dkk.
2009 mengulas laporan “Salaam Gateway Januari 2016” dan menekankan pentingnya pasar ini.
Menurut laporan itu, pasar diperkirakan mencapai $250 miliar dengan pengeluaran Muslim sebesar $28 miliar pada tahun 2014.
Resor pantai ini menargetkan Muslim wisatawan dengan menawarkan makanan halal, menginap tanpa alkohol, musala khusus, kolam renang terpisah dan pusat kebugaran dan layanan ramah Muslim lainnya yang ditujukan untuk Muslim kebutuhan gaya hidup. Laporan tersebut menyebutkan 32 resor pantai di berbagai negara seperti Turki, Thailand, Maladewa, Mesir, Yordania, Kuwait, dan UEA yang menawarkan berbagai tingkat harga, dari anggaran hingga kemewahan.
Salah satu pengeluaran yang jelas terlihat oleh para musafir Muslim adalah untuk haji atau umrah yang merupakan kewajiban suci dilakukan oleh jutaan umat Islam setiap tahun. Peluang potensial berlaku di pasar haji dan umroh. Misalnya, peluncuran maskapai berbiaya rendah oleh Malaysia Airlines pada 2018, solusi digital untuk melakukan Umrah al badal, pengenalan gelang hi-tech dalam keselamatan haji didorong oleh Arab Saudi, dan banyak pelaku pasar lainnya.
Integritas seluruh rantai pasokan Halal merupakan komponen yang sangat penting bagi industri halal untuk menjaga kontrol efektif rantai pasokan halal lebih kompleks daripada logistik tradisionaloperasi. Pasar Muslim tertentu di seluruh dunia membutuhkan rasa, kemasan, distribusi, dan sertifikasi. Jadi, mengadopsi persyaratan agama dalam semua aspek ini rantai pasok ekosistem halal menjadi lebih menguntungkan. Misalnya, Daging & Livestock Australia (MLA) telah meluncurkan merek halal untuk daging Australia di Timur Tengah dan Asia.
Beberapa Middle East Airlines dan perusahaan ekspedisi lokal sedang mempertimbangkan memperkenalkan layanan logistik ekspor Halal khusus dengan penanganan dan penyimpanan terpisah fasilitas. Nippon Express Jepang menawarkan layanan logistik makanan halal untuk memenuhi pertumbuhan permintaan Asia. Lebih banyak bukti tentang prospek potensial logistik halal termasuk halal Thailand program logistik. Kosol Surinandha (kepala Logistik dan Pariwisata Halal di Chulaongkorn Universitas) memimpin program logistik, Inkubasi Bisnis Produk Halal (Bihap), yang mencakup R&D ke dalam teknik manufaktur baru dan prosedur logistik untuk memenuhi Halal persyaratan ekspor (Catto-Smith, n.d.).
Karena permintaan global produk halal meningkat secara eksponensial, badan sertifikasi adalah memperluas cakupan mereka termasuk pengujian, inspeksi, dan layanan sertifikasi.
Malaysia JAKIM telah memperpanjang sertifikasi Halal untuk obat resep pada tahun 2017. Lebih dari 100 perusahaan yang didorong ekspor disertifikasi pada tahun 2017 secara global. Secara global ada lebih dari 350 pembuat sertifikasi dengan pengawasan terbatas dan ada 27.000 operasi organik bersertifikat secara global di 2015. Forum Akreditasi Halal Internasional (IHAF) UEA, Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC), Otoritas Emirates untuk Standardisasi dan Metrologi (ESMA), dan Standards and Metrology Institute for Islamic Countries (SMIIC) adalah beberapa di antaranya badan internasional untuk sertifikasi dan pengembangan standar (Thomson Reuters Global Laporan Ekonomi Islam 2017/2018).
Tantangan Industri Halal Global
Sementara di satu sisi, konsumen Muslim di seluruh dunia merupakan peluang besar untuk industri halal, di sisi lain juga merupakan tantangan besar untuk menghadapi keragaman populasi yang sama. Meskipun keyakinan agama umat Islam adalah sama di seluruh dunia, mereka
memiliki budaya, corak regional atau lokal, preferensi, dan praktik mereka sendiri. Hal ini karena Muslim tinggal di setiap negara di dunia yang mewakili sebagian besar ras dan berasal dari setiap strata sosial dan ekonomi(Ab. Manan et al., 2017).
Pertumbuhan populasi Muslim dan pertumbuhan industri halal dapat terancam oleh juga penduduk non muslim. Produsen non-Muslim, terutama di bidang makanan dan industri minuman.
Tindakan tidak ramah dan memfitnah memasukkan unsur-unsur non-halal ke dalam makanan, pakaian, dan jasa lainnya yang diklaim halal oleh pelaku industri non-Muslim merupakan tantangan besar bagi pertumbuhan industri halal secara global. Itu bisa berubah menjadi destruktif ancaman karena niat perbuatan jahat oleh non-Muslim ini akan menurunkan integritas halal dari produk dan jasa serta mengikis kepercayaan konsumen(Ab. Manan et al., 2017).
Salah satu tantangan terbesar bagi industri Halal adalah membangun yang diakui secara internasional standar dan sertifikasi halal, khususnya di bidang pangan. Tindakan baru-baru ini melarang Halal dan penyembelihan halal di Denmark bersama dengan berita negatif tentang makanan halal di media merupakan peringatan bagi industri halal global. Hal ini untuk merenungkan tentang sikap negatif yang lazim di Eropa dan Amerika Serikat menuju Halal dan mengambil tantangan untuk menghilangkan persepsi seperti itu penting untuk kesuksesan masa depan sektor makanan halal (Thomson Reuters dan Dinar Standard, 2016).
Tantangan untuk menetapkan standar dan akreditasi Halal juga penting untuk dihilangkan kebingungan seputar standar halal baik di tingkat konsumen maupun produsen. Tidak ada skema internasional untuk mengakreditasi Badan Sertifikasi Halal (HCBs) di masing-masing negara.
Selain itu, standar sedang diproduksi oleh organisasi terkait pemerintah yang berbeda, lembaga swasta dan HCB, badan nasional, badan regional, dan juga internasional badan-badan seperti SMIIC (Lembaga Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam) atau. Terlalu banyak badan pengembangan standar membuat kebingungan untuk memutuskan yang mana akan memberikan akses pasar, dan dalam banyak kasus diperlukan beberapa sertifikat untuk eksportir (Thomas et al., 2017).
Fashion, sebagai segmen pasar berkembang di industri halal, dengan banyak peluang juga menghadapi tantangan. Peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah tertentu lembaga-lembaga yang menentang pakaian keagamaan memberikan tantangan besar bagi industri untuk menjangkau non-Muslim negara. tantangan lain di sektor ini termasuk kurangnya kecanggihan pemasaran,
kurangnya inovasi produk, dan keengganan investor untuk membiayai karena keberhasilan global yang terbatas cerita.
Media dan rekreasi halal, segmen pasar berkembang lainnya di industri ini, yang dapat mengalami pertumbuhan substansial melalui ekspansi multi-saluran, juga menahan risiko dan tantangan sekaligus untuk diatasi. Tidak seperti sektor lain, mendapatkan pembiayaan dan dukungan pemerintah merupakan tantangan yang lebih menjanjikan untuk sektor ini.
Pertumbuhannya juga bisa terhambat karena buruknya hak kekayaan intelektual (HAKI) yang membatasi inovasi serta sektor untuk pertunjukan keagamaan saja. Diversifikasi dalam pertunjukan bertema budaya dan agama dan menjawab kebutuhan generasi muda juga menambah tantangan di sektor ini (Laporan Thomson Reuters 2017/18).
Ketika umat Islam menjadi semakin peduli tentang apa yang mereka konsumsi, sejumlah perusahaan menawarkan produk farmasi dan kosmetik yang bebas dari hewan bahan-bahan yang bersumber. Namun, segmen tersebut juga tidak lepas dari tantangan. Kurang halalnya ketersediaan bahan, calon investor, standarisasi terbatas, dan ketakutan menjadi terbatas pada konsumen Muslim saja adalah beberapa tantangan yang harus dihadapi pasar untuk memastikannya pertumbuhannya secara global (Bashir, 2019).
Konsep halal sebagai konsep yang terkait dengan 'toyyib', artinya baik, dan berlaku untuk semua aktivitas kehidupan manusia, telah diamati dari literatur dan data dari berbagai sumber bahwa Industri halal menyebar di setiap aspek bisnis dan menjadi potensi pertumbuhan sektor secara global. Menurut Expo Halal ke-6 2018, baru-baru ini diadakan di Turki, Halal global pasar memiliki volume saat ini sebesar $ 4 triliun (termasuk keuangan Islam) dan diharapkan untuk mencapai $7 triliun dalam tiga tahun. Pertumbuhan industri halal didorong oleh kekuatan-kekuatan tertentu yang adalah pertumbuhan ukuran populasi Muslim, pertumbuhan PDB negara-negara Muslim, muncul halal pasar dan pemain, penawaran gaya hidup Muslim, dan ekosistem Halal.
Sambil meningkatkan ekspansi industri halal secara global, faktor-faktor ini juga menciptakan peluang di setiap segmen pasar ekonomi.
Sektor makanan halal telah menunjukkan pencapaian yang signifikan dan pengeluaran Muslim terus meningkat meningkat dengan pertumbuhan 6 persen dari tahun 2015. Potensi peluang makanan halal dan sektor minuman bahkan ditangani oleh negara-negara non OKI.
Perusahaan makanan halal bisa jadi multi-miliar dolar, perusahaan publik melalui pembiayaan perdagangan, modal kerja dan ekspansi modal. Perusahaan makanan halal juga bisa menjadi
konglomerat gaya hidup halal melalui pengembangan kategori dan lini produk, dan munculnya zona bebas halal khusus. Investasi penting oleh berbagai perusahaan di seluruh dunia seperti Nestle, Janan Halal Meat, Kingsley, dll. menyiratkan bahwa Halal menjadi area fokus bagi perusahaan ekuitas swasta.
Secara umum, industri menghadapi tantangan dalam hal standar yang diakui dan diadopsi global, penelitian dan pengembangan, inovasi, bahan alternatif, dan pengawetan Integritas halal di seluruh manajemen rantai pasokan dari peternakan ke garpu. Yang didukung oleh laporan yang diterbitkan oleh Bio Malaysia & Asean Bioeconomy Conference, 2015. Masalah yang dihadapi oleh industri halal sejak awal adalah tidak adanya skema internasional yang layak untuk mengakreditasi badan sertifikasi Halal (HCB). Ini adalah negara-negara non-Muslim yang memproduksi sebagian besar makanan halal secara global. Untuk memperkuat akreditasi HCB independen di negara-negara ini, inisiatif sedang dikembangkan oleh SMIIC (Lembaga Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam), GSO (G.C.C.Standardization Organization), dan ESMA (Emirates Standards and Metrology Authority).
PENUTUP
Temuan dalam makalah ini menunjukkan bahwa ada tiga faktor utama yang mendorong pesatnya pertumbuhan pasar halal global. Pertama, Muslim yang cukup besar dan berkembang populasi sebesar 1,8 persen per tahun, Kedua, pertumbuhan ekonomi yang berkembang dan dengan demikian meningkatkan pembelian kekuasaan di kalangan umat Islam. Terakhir adalah munculnya potensi pasar halal di negara non muslim dan halal pemain industri. Sebagai langkah ke depan, para pelaku industri perlu memperdalam pengetahuan dan pemahaman tentang Pasar Muslim (pola dan perilaku), memperbarui data secara teratur, dan memanfaatkan ceruk pasar yang belum dimanfaatkan serta penjualan dan promosi produk. Temuan dan rekomendasi dari pekerjaan ini akan menjadi sumber yang bagus untuk masa depan peneliti dan cendekiawan di bidang yang relevan serta pembuat kebijakan untuk membuat keputusan strategis mereka di lapangan Industri Halal.
DAFTAR PUSTAKA
Ab. Manan, S. K., Abd Rahman, F., & Sahri, M. (Eds.). (2017). Contemporary Issues and Development in the Global Halal Industry. Springer Singapore.
https://doi.org/10.1007/978-981-10-1452-9
Azam, M. S. E., & Abdullah, M. A. (2020). GLOBAL HALAL INDUSTRY: REALITIES AND OPPORTUNITIES. International Journal of Islamic Business Ethics, 5(1), 47.
https://doi.org/10.30659/ijibe.5.1.47-59
Bashir, A. M. (2019). Applying the Institutional Theory at the Level of Halal Consumers: The Case of Cape Town in South Africa. Journal of Food Products Marketing, 25(5), 527–548.
https://doi.org/10.1080/10454446.2019.1607645
Billah, A., Rahman, M. A., & Hossain, M. T. B. (2020). Factors influencing Muslim and non- Muslim consumers’ consumption behavior: A case study on halal food. Journal of
Foodservice Business Research, 23(4), 324–349.
https://doi.org/10.1080/15378020.2020.1768040
Idris, S. H., Abdul Majeed, A. B., & Chang, L. W. (2020). Beyond Halal: Maqasid al-Shari’ah to Assess Bioethical Issues Arising from Genetically Modified Crops. Science and Engineering Ethics, 26(3), 1463–1476. https://doi.org/10.1007/s11948-020-00177-6 Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods
sourcebook (Third edition). SAGE Publications, Inc.
Report Team. (2020). State of The Global Islamic Economy Report 2020/2021 (Global Islamic Economy Report). Dinar Standart. salaamGateway.com
Rodet, D. (2016). La question halal. Sociologie d’une consommation controversée, C. Rodier:
Presses universitaires de France, Paris (2014). 210 p. Sociologie Du Travail, 58(1), 109–
111. https://doi.org/10.4000/sdt.380
The history of the halal market in the West. (2022).
https://www.alimentarium.org/en/knowledge/history-halal-market-west
Thomas, A. M., White, G. R. T., Plant, E., & Zhou, P. (2017). Challenges and practices in Halal meat preparation: A case study investigation of a UK slaughterhouse. Total Quality Management & Business Excellence, 28(1–2), 12–31.
https://doi.org/10.1080/14783363.2015.1044892
Ur Raheema, S. F. (2018). Assuring Tayyib from a food safety perspective in Halal food sector: A conceptual framework. MOJ Food Processing & Technology, 6(2).
https://doi.org/10.15406/mojfpt.2018.06.00161
Yazid, F., Kamello, T., Nasution, Y., & Ikhsan, E. (2020). Strengthening Sharia Economy Through Halal Industry Development in Indonesia. Proceedings of the International Conference on Law, Governance and Islamic Society (ICOLGIS 2019). International Conference on Law,
Governance and Islamic Society (ICOLGIS 2019), Banda Aceh, Indonesia.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.200306.187