• Tidak ada hasil yang ditemukan

FIKS dari BISMILLAH UAS KEPEMIMPINAN A

N/A
N/A
CINDY SISKA SARI

Academic year: 2025

Membagikan "FIKS dari BISMILLAH UAS KEPEMIMPINAN A"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN TANGERANG SELATAN

LEMBAR JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER Oleh:

Nama : Cindy Siska

NIM : 4121210016

Kelas/No. Urut : 7 Treasuri/03

Program Studi : DIV Manajemen Keuangan Negara Mata Kuliah : Kepemimpinan Sektor Publik Nama Dosen : Bapak Kamil Sjoeib

Tahun Akademik 2024/2025

(2)

Strategi Kepemimpinan Digital dalam Menghadapi Tantangan VUCA, Krisis Reputasi, dan Perubahan Organisasi

A. Pendahuluan

Di era society 5.0 seperti sekarang ini, hampir semua aktivitas dan kegiatan berbasis teknologi. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intellegent (AI), Blockchain, Big data dan robot sudah menjadi sahabat dekat manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sinergi antara dunia fisik dan digital ini menuntut organisasi untuk tangguh dan adaptif. Menurut Prof. Dr. Harries Madiistriyatno, S.Hum, M.Si. era Society 5.0 merupakan part selanjurnya dari Industri 4.0 yang terdapat integrasi erat antara dunia digital dan dunia fisik melalui kecanggihan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), big data, Internet of Things (IoT), dan robotik. “Era society 5.0 menuntut sumber daya manusia (SDM) dan kepemimpinan yang tangguh dan adaptif untuk menghadapi tantangan serta memanfaatkan peluang yang ada. (Universitas Mitra Bangsa, 2024)

Terlepas dari gemerlapnya suguhan teknologi, era society 5.0 ini juga membawa berbagai kesempatan dan tantangan di berbagai bidang, tak terkecuali di bidang ekonomi. Dalam segi ekonomi, integrasi teknologi memberi peluang untuk peningkatan efisiensi operasional, pembentukan industri baru serta inovasi produk dan layanan.

Adanya teknologi membuka luas konektivitas untuk memaksimalkan rantai pasok dan menunjang interaksi dengan pelanggan melalui personalisasi dan pengalaman yang optimal. Meskipun demikian, seiring dengan adanya peluang, ada pula tantangan yang perlu dimitigasi. Migrasi ke ekonomi berbasis teknologi menimbulkan perubahan besar-besaran dalam tuntutan keterampilan para pekerja. Tidak hanya itu individu juga memerlukan adaptasi cepat. Selain individu, organisasi juga perlu beradaptasi untuk menghindari partisipasi ekonomi yang tidak setara. Lebih dari itu, privasi dan perlindungan data menjadi isu utama dalam era dimana pertukaran informasi yang semakin canggih. Secara keseluruhan, sambil memanfaatkan potensi luar biasa yang ditawarkan oleh Society 5.0, penting bagi masyarakat untuk bersiap menghadapi tantangan yang muncul dan untuk secara aktif berpartisipasi dalam membentuk arah

(3)

perkembangan teknologi demi keberlanjutan dan inklusivitas (Nuraeningsih et al., 2021).

Masa depan penuh dengan kondisi-kondisi yang penuh ketidakpastian dan tidak terduga. Kemudahan dan efisiensi yang disuguhkan teknologi ternyata juga menghadirkan berbagai tantangan bagi unit organisasi terutama dalam menghadapi dinamika VUCA (VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), potensi krisis reputasi, dan kebutuhan untuk restrukturisasi. Perubahan-perubahan seiring perkembangan zaman menuntut setiap pemimpin suatu organisasi bersikap responsif dan mampu beradaptasi dengan setiap perkembangan yang sangat cepat itu. Akan tetapi perubahan kondisi lingkungan yang cepat terkadang sulit dikendalikan karena adanya disrupsi, atau kita kenal dengan istilah VUCA. Di era VUCA, seorang pemimpin dapat dikatakan adaptif jika memiliki kemampuan mendiagnosa tantangan adaptif dan merangkul berbagai pihak dalam pusaran konflik sebagai panduan perubahan ke arah baru untuk menghadapi situasinya. (Bowles et al., 2017).

Untuk itu penulis akan menjawab setiap tantangan yang dihadapi organisasi dengan melakukan analisis VUCAdan pengaruhnya terhadap organisasi. Selanjutnya akan dilakukan manajemen krisis dan manajemen perubahan serta memunculkan kepemimpinan yang adaptif dengan menyajikan strategi memimpin dalam ketidakpastian. Terakhir akan dilakukan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam situasi ketidakpastian.

B. Pembahasan

1. Analisis VUCA dan Pengaruhnya terhadap Organisasi

Era VUCA (Volatilitas, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) merupakan era yang penuh tantangan dan peluang yang menggambarkan era dengan tingkat perubahan yang tinggi, ketidakpastian yang kompleks, dan kurangnya kejelasan dalam menghadapi situasi dan tantangan. Untuk menghadapinya perlu memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas dan berpikir kritis agar dapat berhasil atau bahkan memanfaatkan peluang yang ada di era VUCA. Volatilitas menggambarkan perubahan yang serba cepat dan tak terduga dalam dunia bisnis dan sosial. Situasi yang berubah dengan cepat dan sulit diprediksi menuntut pemimpin dan organisasi untuk memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Ketidakpastian menggambarkan kurangnya informasi dan ketidakpastian

(4)

pasar membuat perencanaan jangka panjang menjadi sulit sehingga pemimpin dituntut mampu membuat keputusan yang tepat meskipun informasi yang tersedia terbatas.

Kompleksitas menjelaskan siituasi yang sulit dan saling terkait membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir secara strategis dan memahami hubungan antara berbagai faktor. Pemimpin harus mampu mengelola kompleksitas dan membuat keputusan yang mempertimbangkan berbagai aspek. Ambiguitas menggambarkan Informasi yang tidak jelas atau memiliki banyak interpretasi dapat mengakibatkan kebingungan dalam mengambil keputusan. Pemimpin harus bisa mengatasi kebingungan dan bertindak sesuai dengan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tersebut.(Widayanti, W.K.P & Kusman, A., 2023).

Faktor VUCA Dampak

Volatility (Volatilitas)

● Membutuhkan fleksibilitas dan responsibilitas yang cepat.

● Mengharuskan perencanaan jangka pendek yang lebih sering.

● Menyebabkan risiko keputusan yang salah jika tidak dikelola dengan baik.

Uncertainty (Ketidakpastian)

● Membutuhkan analisis risiko yang lebih dalam dan pemahaman yang lebih baik.

● Mengharuskan perencanaan alternatif dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

● Menyebabkan keputusan yang berisiko dan kebingungan dalam menghadapi perubahan.

Complexity (Kompleksitas)

● Membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara elemen-elemen kompleks.

● Mengharuskan pemodelan dan analisis yang lebih rumit.

● Menyebabkan kesulitan dalam merencanakan dan mengelola proses yang kompleks.

Ambiguity (Ambiguitas)

● Membutuhkan kemampuan untuk mengumpulkan informasi yang lebih baik.

(5)

● Mengharuskan kemampuan untuk mengidentifikasi sumber ambiguitas dan mengatasi ketidakpastian.

● Menyebabkan kesalahan interpretasi dan pengambilan keputusan yang salah.

Tabel Dampak VUCA terhadap organisasi Sumber: Yuhertiana, I., dkk., 2024 2. Restrukturisasi.

Lindawati, N. P., & Susila, B. P. E. (2022) dalam penelitiannya menjelaskan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman restruktrasi organisasi dalam upaya meningkatkan efektifitas kerja karyawan AK.MAPINDO sebagai berikut:

Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman

Meningkatkan pendidikan

Tanggung jawab yang lebih banyak

Pengawasan Beban kerja

Usia produktif Pendelegasian tugas dan tanggung jawab kepada pejabat baru

Evaluasi kerja Stress kerja

Pengalam kerja Penyesuaian

terhadap tugas yang baru

Peningkatan

efesiensi sumber daya manajemen

Motivasi

Pengalaman berorganisasi

Adanya jabatan baru dalam struktur organisasi

Inovasi kerja Lingkungan kerja

Semangat kerja yang tinggi

Penyesuain jalur birokrasi

Kemudahan dalam mencapai tujuan

(6)

Tabel Kelebihan dan Kekurangan Restrukturasi Organisasi Lindawati, N. P., & Susila, B. P. E. (2022)

3. Manajemen Krisis: Strategi Mengatasi Krisis Reputasi akibat Kebocoran Data

Identifikasi dan dampak kebocoran data

Reputasi memiliki dua sisi, reputasi yang baik akan memberikan penyangga terhadap serangan atas serangan terhadap karakter, sedangkan reputasi buruk membuat seseorang memiliki karakter yang rentan terhadap serangan. Reputasi menjadi sangat rentan saat krisis terjadi karena penanganannya berdampak pada keberlangsungan organisasi atau perusahaan.(Kahardja, I..W. 2022)

Manajemen krisis adalah proses penting bagi organisasi untuk menghadapi dan mengatasi situasi tak terduga yang dapat mengancam stabilitas dan merugikan organisasi serta pihak terkait. Krisis dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis: krisis victim (korban) dengan tanggung jawab dan ancaman rendah, krisis accident (kecelakaan) dengan tanggung jawab dan ancaman minimal, serta krisis intentional (kesengajaan) dengan tanggung jawab dan ancaman yang kuat. (Puspaningtyaset al., 2024). Berdasarkan pengelompokkan ini, krisis reputasi akibat pembajakan data sensitif pelanggan ini dibajak oleh pihak yang tidak bertanggungjawab termasuk dalam kategori krisis victim.

Strategi Tindakan Konkret: Studi banding manajemen krisis PT.Z dalam membangun reputasi perusahaan di bidang otomotif

Belajar dari manajemen krisis yang dilakukan oleh PT.Z dalam membangun reputasi perusahaan di bidang otomotif maka untuk penanganan kasus reputasi akibat pebajakan data adalah sebagai berikut:

1) Respon Cepat dan Transparan

● Mengumumkan: ketika terjadi kebocoran data maka segera mengumumkan kejadian. PT. Z merespons dengan cepat kasus rangka Q. Hal yang sama pentingnya dengan kasus pembajakan data. Untuk itu perlu keputusan segara dengan mengumumkan secara terbuka dan jujur

(7)

bahwa telah terjadi pembajakan data. Jangan mencoba menyembunyikan atau meremehkan masalah ini.

● Aktif berkomunikasi: Menunjuk atau menetapkan juru bicara yang kompeten untuk memberikan informasi terkini secara berkala kepada publik, media, dan pihak terkait lainnya.

● Fokus pada korban: Menunjukkan empati dan kepedulian terhadap pelanggan yang datanya dibajak. Sampaikan permohonan maaf yang tulus dan akui tanggung jawab atas kejadian ini.

2) Investigasi dan Evaluasi:

● Melakukan investigasi menyeluruh: PT. Z melibatkan kementerian terkait dalam kasus rangka Q. Dalam kasus pembajakan data, organisasi harus segera melakukan investigasi internal yang melibatkan ahli keamanan siber untuk mengetahui penyebab, sejauh mana data yang dibajak, dan potensi dampaknya.

● Evaluasi sistem keamanan: Setelah investigasi selesai, maka langkah selanjutnya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan data. Identifikasi kerentanan dan segera melakukan perbaikan yang diperlukan.

3) Tindakan Korektif dan Kompensasi:

● Memberikan kompensasi: PT. Z memberikan perpanjangan garansi dan layanan gratis dalam kasus rangka Q. Pertimbangkan untuk memberikan kompensasi yang sesuai kepada pelanggan yang datanya dibajak, misalnya layanan pemantauan kredit gratis atau ganti rugi finansial.

● Meniingkatkan keamanan data: Implementasikan langkah-langkah keamanan yang lebih kuat untuk melindungi data pelanggan dari serangan di masa depan. Ini mungkin melibatkan enkripsi data, audit keamanan berkala, dan otentikasi multi-faktor.

4) Membangun Kembali Kepercayaan:

● Melibatkan pihak ketiga: PT. Z melibatkan kementerian terkait untuk menunjukkan transparansi dan akuntabilitas. Anda juga dapat mempertimbangkan untuk melibatkan pihak ketiga yang independen untuk melakukan audit keamanan dan memberikan rekomendasi perbaikan.

(8)

● Komunikasi berkelanjutan: Organisasi terus berkomitmen untuk memberikan informasi terbaru kepada publik tentang langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi krisis dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

● Menunjukkan perubahan nyata: Tidak hanya sebatas berjanji, tetapi menunjukkan tindakan nyata dalam meningkatkan keamanan data dan melindungi privasi pelanggan.

5) Klarifikasi dan Edukasi:

● Membuat video klarifikasi: Seperti yang dilakukan PT. Z, video klarifikasi dapat membantu menjelaskan situasi secara lebih personal dan meyakinkan. Gunakan video untuk menyampaikan pesan yang jelas, ringkas, dan mudah dipahami oleh publik.

● Edukasi pelanggan: Memberikan edukasi kepada pelanggan tentang pentingnya keamanan data dan cara melindungi diri dari potensi risiko.

4. Manajemen Perubahan: Restrukturisasi Organisasi untuk Efisiensi dan Adaptasi Pasar

Kotter’s 8 Steps Model Sebagai Strategi Membimbing Tim Melaui Restrukturasi Berdasarkan peluang dan ancaamn restrukturasi yang dijelaskan di atas, maka Kerangka kerja ini sangat ideal untuk memandu perubahan besar dalam sebuah organisasi, mulai dari menumbuhkan kesadaran akan perlunya perubahan hingga menjadikannya bagian tak terpisahkan dari budaya perusahaan. Tujuannya adalah untuk memberikan panduan bagi para pemimpin dalam mengelola transformasi secara strategis dan terukur.

Langkah- Langkah

Tujuan Cara

Menciptakan Urgensi

Membangun

kesadaran di

seluruh organisasi bahwa perubahan itu penting dan

Menjelaskan mengapa perubahan diperlukan, apa risiko jika tidak berubah, dan apa peluang yang bisa diraih dengan perubahan.

(9)

mendesak.

Membangun Koalisi Pemandu

Membentuk tim yang solid dan memiliki pengaruh untuk memimpin dan mendukung perubahan.

Mengumpulkan orang-orang dari berbagai tingkatan dan departemen yang memiliki visi yang sama tentang perubahan dan bersedia bekerja sama.

Menciptakan

Visi untuk

Perubahan

Merumuskan tujuan yang jelas dan inspiratif tentang apa yang ingin dicapai dengan perubahan.

Menggambarkan kondisi ideal yang ingin diwujudkan setelah perubahan terjadi, serta manfaatnya bagi organisasi dan anggota tim.

Mengkomunikas ikan Visi

Memastikan bahwa

semua orang

memahami dan mendukung visi perubahan.

Menyampaikan visi secara berulang-ulang melalui berbagai saluran komunikasi, serta memberikan contoh konkret tentang bagaimana perubahan akan berdampak pada pekerjaan sehari-hari.

Memungkinkan Tindakan

Menghilangkan hambatan yang dapat menghalangi pelaksanaan

perubahan.

Mengidentifikasi dan mengatasi masalah birokrasi, kurangnya sumber daya, atau resistensi dari individu atau kelompok tertentu.

Mencapai Kemenangan Jangka Pendek

Meraih hasil yang cepat dan terlihat untuk menjaga

semangat dan

motivasi tim.

Merencanakan proyek-proyek kecil yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat dan memberikan dampak positif yang jelas.

Mempertahanka n Akselerasi

Memastikan bahwa momentum

Terus mengkomunikasikan kemajuan yang telah dicapai, memberikan dukungan dan

(10)

perubahan tidak hilang dan terus berlanjut.

pelatihan kepada tim, serta merayakan keberhasilan.

Menginstitusion alisasi

Perubahan

Menjadikan

perubahan sebagai bagian dari budaya dan nilai-nilai organisasi.

Mengintegrasikan perubahan ke dalam sistem, prosedur, dan praktik kerja sehari- hari, serta memastikan bahwa para pemimpin dan anggota tim memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung perubahan.

Sumber: PPM SoM (2024)

Adapun untuk melakukan manajemen perubahan perlu melewati tahapan-tahapan agar hasilnya maksimal.

1. Prepare for Change (Mempersiapkan Perubahan)

2. Manage Change (Mengelola Perubahan)

3. Sustain Outcomes (Mempertahankan Hasil)

● Menganalisis kebutuhan perubahan

● Membangun koalisi

● Membuat rencana awal

● Kounikasi yang jelas

● Pelatihan dan dukungan

● Pemantauan dan evaluasi

● Reinforcement

● Evaluasi keberlanjutan

● Menjaga budaya baru

Strategi Partifipatif Sebagai Jawaban Restrukturasi

Strategi ini melibatkan semua orang dalam prosesnya. Melibatkan karyawan dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan perubahan akan menimbulkan rasa memiliki sehingga resistensi bisa diminimalisir. Selain itu penting untuk mengutamakan komunikasi yang dua arah dan mengadakan sesi diskusi terbuka untuk mendapatkan masukan dan peran serta dari karyawan. Strategi ini cocok digunakan ketika perubahan

(11)

embutuhkan dukungan besar dari semua pihak dan manajemen mengharapkan keterlibatan yang tinggi.

5. Kepemimpinan Adaptif: Strategi Memimpin dalam Ketidakpastian

Pemimpin digital wujud kepemimpinan adaptif

Kepemimpinan digital adalah kemampuan untuk mengelola tim atau organisasi dengan memaksimalkan penggunaan teknologi digital dan inovasi. Di era digital yang semakin berkembang, kepemimpinan digital tidak sebatas tentang penggunaan teknologi, melainkan juga memahami bagaimana teknologi dapat membentuk budaya organisasi, menciptakan lingkungan kerja yang inovatif dan mempercepat transformasi digital.

Pemimpin digital juga dituntut berketerampilan interpersonal dan memiliki kepemimpinan yang kuat dengan tingkat pemahaman yang matang tentang tren teknologi, memimpin perubahan yang efektif, serta memberikan dukungan tim agar beradaptasi dengan cekatan dalam dunia yang penuh dinamika. Dengan mengintergrasikan teknologi dalam strategi kepeipinannya pemimpin digital akan mudah mengarahkan organisasi menuju masa depan yang responsif, adaptif dan berorientasi pada inovasi di era digital. (Yuhertiana, I., dkk., 2024)

Kolaborasi digital untuk merespons perubahan dengan fleksibilitas

Kolaborasi digital merupakan kerjasama dan interaksi antar individu atau tim dengan didukung oleh teknologi digital yaitu dengan pemanfaatan platform kolaboratif online, perangkat lunak berbasis awan, dan alat komunikasi digital sehingga memungkinkan kerja sama yang efisien tanpa ada batasan lokasi fisiki sehingga mampu merespons setiap perubahan dengan fleksibel. Adapun pentingnya kolaborasi digital ini antara lain:

a. Semakin terasa dalam lingkungan kerja yang kekinian, fast dan terkoneksi global.

b. Memungkinkan tim bekerja bersama dalam waktu nyata.

c. Berbagi dokumen dan berkomunikasi efektif tanpa batasan geografis.

d. Memungkinkan umpan balik instan, memfasilitasi inovasi, dan meningkatkan produktivitas tim.

Adapun lingkup kolaborasi digital ini tidak terhenti pada lingkup organisasi saja melainkan melibatkan kerja sama lintas perusahaan bahkan lintas sektor Kolaborasi

(12)

digital ini akan menghubungkan individu dan organisasi kemitraan, pelanggan serta pihak lain guna mewujudkan tujuan bersama. (Yuhertiana, I., dkk., 2024)

6. Proses Pengambilan Keputusan Cepat dan Tepat dalam Kondisi Ketidakpastian Menurut Biro umum, Sekretariat Jenderal, Kemenkes (2024) pendekatan pengambilan keputusan dalam situasi kompleks dapat dilakukan dengan enam tahapan. Selanjutnya langkah-langkah pengambilan keputusan optimal dapat dilakukan dengan mengikuti kelima langkah berikut. Terakhir terdapat tujuh mekanisme untuk memastikan keputusan yang diambil tepat waktu dan efektif.

Pendekatan pengambilan keputusan dalam situasi kompleks

Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan optimal

Mekanisme untuk memastikan keputusan tetap tepat waktu dan efektif

- Mengidentifikasi - Menganalisis alternatif

penyelesaian masalah - Mengevaluasi

- Memilih opsi terbaik - Mengimplementasikan

keputusan

- Mengevaluasi hasil

- Membangun budaya

organisasi yang kuat

- Menggunakan alat analisis yang tepat (SWOT, pohon

keputusan) - Memanfaatkan

teknologi (big data, kecerdasan buatan)

- Mengembangkan keterampilan berpikir kritis - Membentuk tim

yang beragam

- Beradaptasi cepat sebagai kunci

- Sistem pengambilan keputusan yang fleksibel

- Pemanfaatan teknologi dan analitik data - Strategi untuk

mencapai kecepatan (desentralisasi otoritas, penggunaan teknologi, pengembangan

(13)

budaya inovasi) - Pendekatan

adaptif (Iterasi cepat, Tim lintas fungsi)

- Saluran komunikasi yang terbuka - Keterlibatan

pemangku kepentingan

C. Kesimpulan

Pengambilan keputusan yang efektif melibatkan proses yang sistematis, pemahaman faktor-faktor internal dan eksternal, serta kemampuan mengatasi tantangan seperti ketidakpastian dan konflik kepentingan. Selain itu, interpersonal yang bagus menjadi landasan dalam setiap keputusan untuk menjaga reputasi dan kepercayaan. Dalam konteks perubahan yang cepat, organisasi perlu memiliki sistem yang fleksibel, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan budaya inovasi. Restrukturisasi organisasi dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi dan adaptasi, namun perlu dilakukan dengan strategi yang matang dan melibatkan seluruh pihak terkait. Kepemimpinan digital yang adaptif dan kolaborasi digital juga menjadi kunci untuk merespons perubahan dengan cepat dan efektif. Dengan demikian, organisasi yang mampu menguasai seni pengambilan keputusan, beradaptasi dengan perubahan, dan menerapkan strategi yang tepat akan mampu meraih kesuksesan di era VUCA yang dinamis dan kompleks.

(14)

D. Referensi

Biro umum, Sekretariat Jenderal, Kemenkes(2024). Menguasai Seni Pengambilan Keputusan: Kunci Sukses Organisasi. Diakses dari

https://setjen.kemkes.go.id/berita/detail/menguasai-seni-pengambilan-keputusan- kunci-sukses-organisasi/

Bowles, S. V., Feely, M. S. A., Weis, E. J., DiBella, A., Bartone, P. T., &

Kimmel, K. (2017). Adaptive Leadership in Military and Government Settings. In S. V. Bowles & P. T. Bartone (Eds.), Handbook of Military Psychology (pp.

301–329). Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-319- 66192-6_19

Indrawati Yuhertiana, Erna Hernawati, Aulia Rahmawati, Wilma Cordelia Izaak, &

Diarany Sucahyati. (2024). Kinerja Kreatif di Era VUCA: Kunci Sukses Melewati Masa Krisis. PT. Literasi Nusantara Abadi Grup.

Jackson, S. A. (2024). Strategi Manajemen Krisis PT. Z dalam Membangun Reputasi Perusahaan di Bidang Otomotif (Studi Kasus Rangka Q) [Tesis, Universitas Tarumanagara].

Kahardja, I. W. (2022). Strategi Komunikasi Mempertahankan Reputasi Organisasi dalam Manajemen Krisis dengan Menggunakan Teori Komunikasi Krisis Situasional.

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(1), 530. https://doi.org/10.36418/syntax- literate.v7i1.5738

Lindawati, N. P., & Susila, B. P. E. (2022). Restrukturisasi Organisasi Sebagai Upaya Peningkatan Efektifitas Kerja Karyawan. JAMAS: Journal of Applied Management and

Accounting Science, 4(1), 46–59.

http://jamas.triatmamulya.ac.id/index.php/Jamas/article/view/109

Nuraeningsih, N., Indaryani, M., & Rusiana, R. (2021). Peluang dan Tantangan Berwirausaha Bagi Mahasiswa Universitas Muria Kudus di Masa Pandemi. E-Dimas:

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 12(3), 520–526. https://doi.org/10.26877/e- dimas.v12i3.7017

(15)

PPM School of Management. (2024). Manajemen Perubahan: Pengertian, Jenis,

Strategi dan Contoh. PPM School of Management.

https://ppmschool.ac.id/manajemen-perubahan/

Puspaningtyas, R. R. N., Sumarni, L., Meitana, N. P., Sulistia, I., Lisnawati, T., &

Libriyanti, S. (2024). Strategi Public Relations PT Pertamina Dalam Pengelolaan Krisis Komunikasi Pada Kasus Depo Pertamina, Plumpang. HUMANUS: Jurnal Sosiohumaniora Nusantara, 1(2), 218–225. https://doi.org/10.62180/gmvg5y70

Universitas Mitra Bangsa. (2024.). Kepemimpinan Tangguh dan Adaptif Strategi Hadapi Era Society 5.0. Diakses dari https://umiba.ac.id/berita/kepemimpinan- tangguh-dan-adaptif-strategi-hadapi-era-society-5-0/

Referensi

Dokumen terkait