• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filantropi Islam dan Sektor Swasta di Indonesia

N/A
N/A
PAKSU SUKA

Academic year: 2024

Membagikan " Filantropi Islam dan Sektor Swasta di Indonesia"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

175

Filantropi Islam dan sektor swasta di Indonesia

Hilman Latief

Universitas Muhammad iyah

Yogyakarta E-mail: [email protected]

Abstrak

Makalah ini menyelidiki inisiatif yang berkembang di sektor swasta untuk mengorganisir kegiatan kesejahteraan sosial, dan menganalisis cara zakat dipraktikkan di kalangan pengusaha Muslim. Pendirian badan zakat di perusahaan swasta telah menandai tren terbaru dalam praktik filantropi di Indonesia. Pengumpul zakat berbasis korporasi telah menjadi pemain baru dalam pertumbuhan pesat sektor zakat di Indonesia dalam dua dekade terakhir. Makalah ini mengkaji isu-isu berikut: apa saja kekuatan utama yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk mendirikan lembaga pengumpul zakat; apa saja gagasan keagamaan yang diterapkan untuk memobilisasi amal dari para pekerja Muslim, dan bagaimana konsep-konsep tersebut ditafsirkan dan dipraktikkan di perusahaan-perusahaan swasta? Makalah ini berargumen bahwa lahirnya konsep baru dalam praktik zakat, seperti zakat kekayaan perusahaan, telah mengindikasikan proses dinamika Islamisasi sektor swasta di Indonesia.

Tulisan ini meneliti inisiatif yang tumbuh di sektor swasta untuk mengatur kegiatan kesejahteraan sosial, dan menganalisa cara-cara di mana zakat (sedekah) dipraktekkan di kalangan pengusaha Muslim. Pembentukan lembaga-lembaga zakat di perusahaan swasta telah menandai tren terbaru dari praktik filantropi di Indonesia. Perusahaan berbasis kolektor zakat telah menjadi pemain baru dalam pertumbuhan yang cepat dari sektor zakat Visit www.DeepL.com/pro for more information.

(2)
(3)

177 perusahaan untuk mendirikan kolektor zakat, apa saja ide-ide keagamaan yang diterapkan untuk memobilisasi amal dari para pekerja Muslim, dan bagaimana konsep-konsep tersebut ditafsirkan dan dipraktekkan di perusahaan- perusahaan swasta? Makalah ini berpendapat bahwa lahirnya konsep baru dalam praktik zakat, seperti zakat atas kekayaan perusahaan, telah menunjukkan proses dinamika Islamisasi sektor swasta di Indonesia.

Kata kunci: Kata kunci: Filantropi; Tanggung jawab sosial perusahaan; Zakat; Sektor swasta

Pendahuluan

Sektor swasta dan sektor sukarela sering kali diposisikan secara diametral dalam teori organisasi, karena kedua sektor tersebut memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda. Sektor swasta terdiri dari perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada laba, seperti perusahaan nasional dan multi-nasional; sedangkan sektor sukarela terdiri dari organisasi-organisasi nirlaba. Belakangan ini, ada indikasi yang menunjukkan bahwa perusahaan yang berpusat pada keuntungan dan LSM dapat menjalin kemitraan. LSM dapat berperan sebagai

"mitra penting perusahaan" sejalan dengan meningkatnya intervensi dari apa yang disebut sebagai CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) dalam proses pembangunan sosial yang "menciptakan kembali dan merekayasa ulang".1 Dalam hal ini, dunia Muslim juga telah menyaksikan pertemuan yang semakin meningkat antara sektor swasta dan sektor sukarela. Studi yang dilakukan di Timur Tengah, seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, menunjukkan adanya tumpang tindih antara kegiatan filantropi yang dimotivasi oleh agama dengan gagasan tanggung jawab sosial perusahaan, dan tumpang tindih ini mengarah pada munculnya yayasan-yayasan amal Islam yang bercorak agama dan ekonomi.2

1Manuel E Contreras, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Promosi Pembangunan Sosial,

Washington, DC: Inter-American Development Bank, 2004.

(4)

Barbara Lethem Ibrahim dan Dina H. Sherif, Dari Amal Menuju Perubahan Sosial: Trends in Arab Philanthropy, Kairo dan New York: American University in Cairo Press, 2008.

(5)

177 Tampaknya, interaksi antara asosiasi sukarela dan perusahaan yang berpusat pada laba telah terjadi di Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia.3 Dalam dua dekade terakhir, telah terjadi peningkatan yang cukup besar dalam jumlah organisasi amal yang didirikan oleh para profesional Muslim yang bekerja di perusahaan- perusahaan nasional dan multinasional. Para profesional dan pengusaha Muslim berperan penting dalam memperkenalkan inovasi dalam praktik zakat saat ini, dalam mendefinisikan kembali konsep amal Islam di sektor swasta, serta dalam menemukan pengorganisasian zakat yang baru untuk menangani dana amal dan CSR. Di antara para ahli Muslim, gagasan tentang zakat atas kekayaan perusahaan (zakat al-muassasa) juga dirumuskan.

Gagasan tentang zakat atas kekayaan perusahaan, seperti yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya dari makalah ini, telah menjadi isu utama dalam diskusi filantropi di Indonesia. Pada tahun 2008, sebuah seminar tentang 'zakat kekayaan perusahaan' diselenggarakan di Jakarta. Seminar ini dihadiri oleh sejumlah cendekiawan Muslim, profesional, dan aktivis sosial. Seminar ini bertujuan untuk mengeksplorasi fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang zakat kekayaan perusahaan. MUI tampaknya enggan mengeluarkan fatwa tentang zakat kekayaan perusahaan. Pada saat itu, MUI berkeyakinan bahwa zakat hanya berlaku untuk individu Muslim. Ma'ruf Amien, Ketua Komisi Fatwa MUI, berpendapat bahwa pembayaran zakat merupakan pengabdian keagamaan pribadi, dan zakat harus dibayarkan atas nama individu Muslim, bukan institusi.4

rd Namun demikian, pada bulan Januari 2009, MUI menyelenggarakan Forum Ijtima Ulama III di Padang-Sumatera Barat.

3Mohamed Ariff, Sektor Swasta Muslim di Asia Tenggara, Singapura: ISEAS, 1991; Mohamed Ariff (ed.), Sektor Sukarela Muslim di Asia Tenggara, Singapura: ISEAS, 1991.

4Republika, 3 April 2008.

(6)

Dalam forum ini, banyak cendekiawan Muslim dari berbagai asosiasi Islam diundang untuk berbagi kepedulian dan pendapat mereka tentang masalah-masalah hukum Islam tertentu. Salah satu isu yang dibahas adalah zakat kekayaan perusahaan.5 Hasil dari pertemuan ini menunjukkan bahwa zakat kekayaan perusahaan adalah wajib, dan semua perusahaan telah memenuhi kewajibannya dengan membayar zakat. Gagasan zakat kekayaan perusahaan terutama disandingkan dengan zakat perdagangan (tija>rah). Ini berarti bahwa perusahaan yang menghasilkan keuntungan harus mengeluarkan 2,5% dari pendapatan mereka untuk tujuan keagamaan, yaitu zakat.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa para pengumpul zakat di Indonesia tidak menolak pendapat hukum MUI tentang zakat atas kekayaan perusahaan. Hal ini mungkin karena fatwa tersebut pasti akan meningkatkan pengumpulan zakat dari perusahaan-perusahaan swasta.

Fatwa yang baru saja dikeluarkan tentang zakat kekayaan perusahaan memiliki konsekuensi yang luas terhadap praktik zakat di Indonesia secara keseluruhan, terutama di kalangan organisasi sektor swasta (perusahaan). Sebagai contoh, partisipasi perusahaan dalam membiayai kegiatan sosial, pelayanan sosial, dan kegiatan dakwah Islam meningkat secara signifikan. Jumlah perusahaan yang mendirikan lembaga zakat juga meningkat. Namun, fatwa tersebut tidak didukung oleh argumen yang kuat, dan oleh karena itu, implementasi fatwa tersebut secara praktis masih bersifat probabilistik.6 Menurut Didin Hafifuddin, direktur BAZNAS, terdapat enam kategori perusahaan yang berhak membayar zakat: 1) perusahaan

5Menurut pertemuan ini, zakat dapat dipungut dari perusahaan dalam kondisi tertentu:

1) ada aturan (hukum) yang mengharuskan zakat dipungut dari perusahaan; 2) anggaran dasar perusahaan menyebutkan sesuatu tentang zakat atas kekayaan perusahaan; 3) pemegang saham perusahaan telah membuat kebijakan khusus tentang zakat perusahaan; 4) pemegang saham perusahaan setuju untuk mengalihkan zakat atas saham mereka kepada

(7)

179

dewan direksi perusahaan. Selain itu, dalam mempromosikan zakat perusahaan, BAZNAS dan lembaga zakat lainnya mengacu pada First International Meeting on Zakat yang diselenggarakan di Kuwait pada tahun 1984.

6Institut Manajemen Zakat, Panduan Zakat Praktis, Jakarta: IMZ, 2007; Didin Hafifuddin, Anda Bertanya tentang Zakat, Infaq dan Shadaqah: Kami Menjawab, Jakarta: BAZNAS, 2006, 24.

(8)

dimiliki oleh umat Islam; 2) perusahaan menjalankan bisnis yang dapat diterima menurut prinsip-prinsip Islam; 3) nilai perusahaan dapat dihitung; 4) bisnis perusahaan dapat berkembang; 5) aset perusahaan sama dengan atau lebih dari 85 gram emas; 6) kegiatan perusahaan terkait dengan perdagangan.

Dalam pandangan beberapa pengamat, ada beberapa argumen yang dapat digunakan untuk mengutuk fatwa tersebut. Pertama, dari sudut pandang ortodoksi Islam, pemberlakuan aturan zakat di sektor swasta (perusahaan) dapat mengundang perdebatan besar di kalangan ulama, karena zakat atas kekayaan perusahaan tidak pernah dibahas secara jelas dalam teks-teks klasik Islam. Kedua, dari perspektif perusahaan, fatwa MUI ini d a p a t d i l i h a t sebagai pendekatan yang 'ambigu' dan 'pragmatis'. Tujuan dari fatwa ini hanyalah untuk memobilisasi dana sosial. Masalah yang muncul bagi para pengumpul zakat adalah bagaimana membujuk perusahaan- perusahaan, yang secara spiritual dan agama tidak berafiliasi dengan

agama manapun, untuk membayar zakat; dan perusahaan mana yang wajib (dan tidak wajib) membayar zakat. Ketiga, seseorang dapat berargumen bahwa perusahaan komersial adalah badan hukum yang tunduk pada undang-undang lain (yaitu UU tentang Perusahaan dan UU tentang Penanaman Modal), dan pada s a a t y a n g sama, perusahaan tersebut tidak dapat diasosiasikan dengan agama tertentu. Dengan kata lain, perusahaan 'bebas nilai'. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kisah sukses yang berkaitan dengan mobilisasi zakat atas kekayaan perusahaan sangat jarang terjadi, meskipun faktanya di beberapa daerah di Indonesia, seperti Nanggro Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi, zakat atas kekayaan perusahaan juga termasuk dalam syariat Islam melalui Undang-Undang yang diberlakukan di tingkat provinsi dan kabupaten. Dengan memperhatikan p e r k e m b a n g a n sektor zakat di Indonesia di atas, makalah ini akan mengeksplorasi

(9)

181 perkembangan kelembagaan pengorganisasian zakat di perusahaan- perusahaan di Indonesia. Ada dua lembaga pengelola zakat berbasis

perusahaan yang akan dibahas: pertama, BAMUIS Founda

(10)

Kedua adalah Baituzzakah Pertamina, sebuah lembaga pengelola zakat yang didirikan oleh Bank Nasional Indonesia (BNI); dan yang kedua adalah Baituzzakah Pertamina, sebuah komite zakat yang didirikan oleh PT Pertamina (Persero). Saya akan membuat perbandingan singkat antara pelaksanaan zakat di kedua perusahaan di atas dengan praktik CSR di bank syariah.

Kepedulian sosial Muslim di sektor bisnis

Untuk memahami perkembangan hubungan antara korporasi dan filantropi saat ini, ada baiknya untuk menjelaskan jenis-jenis sektor swasta dalam lanskap sosial dan politik Indonesia. Pada masa kolonial, ekonomi Indonesia terutama dikendalikan oleh perusahaan- perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan Belanda terutama bergerak di sektor perkebunan, pertambangan, perdagangan internasional, perbankan, perkapalan, manufaktur, dan konstruksi.

Sektor bisnis skala menengah dikelola oleh pengusaha Tionghoa.

Pada era kolonial, pengusaha Tionghoa "menjadi perantara dalam perekonomian" karena mereka mampu menghubungkan "ekonomi modern yang dikendalikan Belanda dengan sektor tradisional."

Sementara itu, pengusaha pribumi Indonesia dan pengusaha Muslim menjalankan bisnis skala kecil di bidang pertanian, perdagangan kecil, transportasi lokal, batik, dan kerajinan tangan.7

Setelah Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Indonesia mulai menggalakkan gagasan 'nasionalisme ekonomi' atau 'nasionalisasi' yang sebagian diwujudkan dalam proses 'dekolonisasi ekonomi Indonesia'.8 Gagasan tentang keadilan dan kedaulatan nasional di

7Bahauddin Darus, "Modal Ventura: Pengalaman Indonesia", dalam Mohammad Arif, Sektor Swasta Muslim, 162-163. Robert W. Hefner, "Pasar dan Keadilan bagi Masyarakat Muslim Indonesia", dalam Robert W. Hefner (ed.), Market Cultures: Masyarakat dan Nilai-Nilai dalam Kapitalisme Asia Baru, Singapura: ISEAS, 1998, 224-250.

8Lihat Thee Kian Wee, "Indonesianisasi Aspek Ekonomi dari Penjajahan Indonesia pada

(11)

183

tahun 1950-an," dalam J. Thomas Lindblad dan Peter Post (eds.), Dekolonisasi Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Regional dan Internasional, Leiden: KITLV, 2009, 19-38.

(12)

berlandaskan pada gagasan nasionalisme ekonomi. Pada tingkat yang lebih rendah, sensitivitas rasial dan etnis telah menjadi ciri khas nasionalisme ekonomi, dan para pengusaha Tionghoa, khususnya, menjadi sasaran kebijakan 'diskriminasi'. Namun, kegiatan ekonomi di kalangan pengusaha Tionghoa tidak sepenuhnya melemah.

Hubungan yang sangat erat antara elit-elit puncak rezim Orde Baru dengan pengusaha Tionghoa memungkinkan pengusaha Tionghoa menjadi pemain ekonomi utama di era Orde Baru.9 Bersama-sama dengan para perwira militer, para pengusaha Tionghoa mengembangkan unit-unit usaha mereka dengan menguasai sektor perbankan, perkebunan, dan manufaktur. Ekspansi bisnis di sektor- sektor tersebut di atas di kalangan pengusaha Tionghoa menjadi alasan utama mengapa mereka digolongkan sebagai pemain ekonomi 'kategori kuat' di Indonesia.10 Beberapa perusahaan besar, pada kenyataannya, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan BUMN, bisnis militer Indonesia, dan pengusaha Tionghoa.

Setelah booming minyak di tahun 1960-1970an, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat; sektor swasta juga mulai berkembang pesat. Hal ini bertepatan dengan masuknya investasi asing di berbagai sektor bisnis; pertambangan, minyak, gas, perbankan, telekomunikasi, farmasi, dll. Pengusaha Tionghoa, khususnya, masih menjadi pemain ekonomi yang kuat di sektor pertanian, pabrik rokok, minyak kelapa sawit, mobil, produksi tepung dan lain-lain. Di era Soeharto, sejumlah pengusaha Tionghoa mampu mengendalikan konglomerasi industri dan keuangan.11 Di luar kisah- kisah sukses pengusaha Tionghoa, kesenjangan ekonomi dan sosial antara Tionghoa dan pribumi semakin terlihat. Kesenjangan ini, pada gilirannya, menyebabkan munculnya kesadaran baru

9Bahauddin Darus, "Modal Ventura: Pengalaman Indonesia"..., 164.

10Bambang Purwanto, "Dekolonisasi ekonomi dan kebangkitan bisnis militer Indonesia", dalam J. Thomas Lindblad dan Peter Post (eds.)..., 39-58.

11Rajeswary Ampalavanar Brown, Korporasi Indonesia, Kronisme, dan Korupsi," dalam

(13)

185

Bangkitnya Ekonomi Korporasi di Asia Tenggara, London: Routledge, 2006, 80-108.

(14)

nesia di kalangan pribumi tentang ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Mengenai perkembangan ekonomi di Indonesia dan kesenjangan ekonomi di kalangan masyarakat Indonesia, Robert W. Hefner mencatat, "meskipun pandangan terhadap pasar dan kapitalisme telah banyak berubah, masih ada satu masalah yang menghambat dalam persepsi publik tentang kapitalisme baru: keyakinan yang dianut secara luas bahwa umat Islam tidak mendapatkan bagian yang adil dalam perekonomian Indonesia." Hefner menambahkan, "Meskipun pertumbuhan ekonomi baru-baru ini telah meningkatkan jumlah kelas menengah Muslim, namun sebagian besar komunitas Muslim masih miskin."12

Berbagai upaya dilakukan oleh para intelektual dan profesional Muslim untuk mengatasi kesulitan ekonomi di kalangan pribumi.

Pada tahun 1970-an, para intelektual Muslim dan aktivis sosial mengambil inisiatif untuk memberdayakan masyarakat, meringankan kesulitan di antara masyarakat Indonesia, dan untuk mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin dengan mengembangkan usaha-usaha kecil dan menengah. Menjamurnya LSM yang bergerak di bidang pembangunan di tahun 1970-an dan 1980-an menjadi contoh bagaimana kepedulian sosial umat Islam berkembang sebagai respon terhadap kebijakan politik yang tidak adil. Oleh karena itu, gagasan-gagasan tentang keadilan, kesejahteraan, dan ekonomi Islam mulai disebarluaskan oleh para intelektual Muslim dan aktivis LSM. Perlu dicatat bahwa pada masa Orde Baru, pengaruh Islam terhadap kebijakan pemerintah tidak sekuat pada masa reformasi.

Namun demikian, pada tahun-tahun terakhir rezim Orde Baru, Soeharto memberikan ruang yang layak bagi para profesional dan akademisi Muslim untuk memasukkan beberapa gagasan kunci Islam ke dalam sektor bisnis. Sebagai contoh, gagasan ekonomi Islam dapat diterjemahkan secara konkret, sebagian diwakili oleh pendirian lembaga-lembaga keuangan Islam, seperti koperasi simpan pinjam

(15)

187 Islam (BMT-Baitul Mal wa Tamwil)

12Robert W. Hefner, "Pasar dan Keadilan bagi Muslim Indonesia"..., 228.

(16)

dan perbankan syariah. Sejak saat itu, bank-bank yang disponsori oleh pemerintah maupun swasta dalam mendukung operasional bank syariah telah tumbuh secara signifikan.

Inisiatif untuk mengembangkan teori etika Islam di bidang sosial dan ekonomi menjadi semakin populer di kalangan kelas menengah dan profesional. Jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, dan munculnya era Reformasi di bawah Presiden B.J. Habibie memberikan kesempatan yang lebih luas bagi umat Islam untuk mengimplementasikan pandangan-pandangan Islam di sektor bisnis.

Sebagai hasilnya, jumlah Bank Syariah tumbuh dengan pesat. Pada era Orde Baru, hanya ada satu bank syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI), dan setelah jatuhnya Soeharto, baik bank-bank milik negara maupun bank-bank swasta mulai membuka bank syariah. (Lihat Tabel 1)

Tabel 1

Bank Syariah di Indonesia

(17)

189 Sumber: Direktori Syariah Republika, Juli 2010, Indonesia Syari'ah Economic Outlook (ISEO) 2011, dan laporan-laporan lainnya.

CSR: regulasi dan islamisasi

Keterlibatan organisasi bisnis dalam pelayanan sosial dan proyek pembangunan berkelanjutan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peraturan pemerintah yang mengatur peran korporasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.13 Peraturan pemerintah mengenai korporasi sangat menarik minat sektor swasta untuk dekat dengan wirausaha sosial.14 Ada beberapa undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mendorong korporasi agar menyusun rencana pembangunan berkelanjutan, seperti Undang- Undang Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997, Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara pada tahun 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

13Untuk mendukung kegiatan sosial mereka, sektor-sektor ini (publik, swasta, dan sukarela) terutama mengandalkan budaya memberi yang telah berakar di masyarakat selama berabad- abad. Seperti yang dikatakan oleh seorang pengamat, "Perpaduan nilai-nilai bisnis, pemerintah, dan masyarakat menjadi dasar bagi hubungan yang etis dan pemberian kepada masyarakat, tidak hanya antara individu dan masyarakat, dan antara warga negara dan pemerintah, tetapi juga antara pembeli dan pedagang." Joaquin L. Gonzalez III, Kolaborasi Korporasi-Komunitas untuk Pembangunan Sosial: Tinjauan Tren, Tantangan, dan Pelajaran dari Asia," dalam Manuel E Contreras, 4.

14Adi Sasongko, Kolaborasi LSM dan Sektor Swasta dalam Meningkatkan Kesehatan Anak Sekolah Dasar di Jakarta, Indonesia (1987-2004): Mengelola Keberlanjutan melalui Program

(18)

Kemitraan, Manuel E Contreras, 38.

(19)

191 konservasi mental. Selain itu, menurut UU Perseroan Terbatas No.

40 Tahun 2007 dan UU Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007, perusahaan-perusahaan swasta harus menunjukkan komitmen sosial mereka dengan menjalankan semacam proyek pembangunan berkelanjutan.15 Peraturan-peraturan tersebut di atas telah memberikan pembenaran bagi sektor swasta untuk meningkatkan partisipasi mereka, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dalam membina kepentingan umum. Sebagai contoh, sejumlah perusahaan besar mulai mensponsori yayasan mereka sendiri, yang bertindak sebagai organisasi nirlaba, seperti Putra Sampoerna Foundation (PSF) (2001) dan Bakrie Center Foundation (BCF-2010). Demikian pula, perusahaan asing dan perusahaan milik negara mulai membangun kemitraan dengan LSM dalam negeri dan membuat proyek bersama di bidang sosial, budaya, lingkungan, dan penelitian untuk rencana pembangunan berkelanjutan. Dukungan sektor swasta terhadap pembangunan sosial sebagian diwujudkan dalam bentuk bantuan untuk usaha kecil dan menengah serta ekonomi informal.16

Di beberapa provinsi, pemerintah daerah juga mengeluarkan peraturan tentang zakat, termasuk praktik zakat atas kekayaan perusahaan. Sebagai contoh, di Aceh, pemerintah menganggap bahwa zakat merupakan bagian dari

15Menurut Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, ada b e b e r a p a jenis kekayaan yang tunduk pada hukum zakat (bab IV, pasal 11, nomor 2), yaitu zakat atas: a) emas, perak, dan uang; b) aset-aset komersial dan perusahaan; c) pertanian dan perikanan; d) pertambangan; e) peternakan; f) gaji dan pendapatan jasa; dan g) harta karun.

Karena undang-undang ini berkonsentrasi pada administrasi zakat dan berusaha menjelaskan siapa saja yang berhak mengelola zakat di Indonesia, pembuktian lebih lanjut, setidaknya dalam konteks Indonesia, tentang siapa saja yang berhak membayar zakat tampaknya tidak diperhatikan. Demikian pula, undang-undang ini juga gagal untuk menjelaskan bagaimana mendamaikan pengertian zakat dan pajak konvensional, terutama yang berkaitan dengan 'zakat perusahaan'. 16Kerja sama antara perusahaan swasta dan masyarakat lokal dapat dilihat dari pengalaman PT Bogasari Flour Mills yang berfokus pada transformasi usaha kecil menjadi usaha menengah, Citibank dengan proyek-proyek pendidikan dan kredit mikro, dan PT Hero Supermarket Tbk dengan kemitraannya d e n g a n p a r a petani lokal. TUGI (The Urban Governance Initia- tives) dan URDI (Urban and Regional Development Institute), Peran

(20)

Masyarakat Sipil dalam Ekonomi Informal, Jakarta: UNDP, TUGI dan URDI, 2004), 45-60.

(21)

193 dalam sistem fiskal. Hal ini berarti bahwa dana zakat menjadi sumber

'pendapatan asli daerah' (PAD). Gagasan zakat atas kekayaan perusahaan telah dimasukkan dalam Qanun No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal. Menurut pasal 10 Qanun tersebut, Baitul Mal diberi wewenang untuk mengelola dana zakat yang dikumpulkan dari perusahaan-perusahaan yang disponsori oleh pemerintah pusat (BUMN), perusahaan-perusahaan yang disponsori oleh pemerintah daerah (BUMD), dan juga perusahaan-perusahaan besar swasta.17 Meskipun demikian, pada kenyataannya, tidak ada petunjuk atau

bukti yang meyakinkan yang menunjukkan bahwa perusahaan- perusahaan swasta di Aceh telah membayar zakat melalui Baitul Mal.

Hal ini mengindikasikan bahwa zakat atas kekayaan perusahaan belum diimplementasikan secara memadai. Ada masalah lain yang berkaitan dengan mobilisasi zakat kekayaan perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya diskusi tentang bagaimana menyelaraskan antara CSR dan zakat. Sebagai contoh, UU Zakat 2011 tidak menyebutkan apapun tentang CSR, dan juga tidak menjelaskan hubungan antara zakat dan CSR. Tren baru di kalangan perusahaan Indonesia yang relevan dengan diskusi kita tentang CSR dan zakat adalah meningkatnya partisipasi perusahaan swasta dalam kegiatan amal, seperti bantuan kemanusiaan dan pelayanan masyarakat.

Dalam banyak kasus, proyek-proyek yang berorientasi pada bantuan dan pembangunan untuk keluarga berpenghasilan rendah yang dijalankan oleh perusahaan dibenarkan oleh gagasan CSR. Yang menarik adalah, belakangan ini, inovasi telah dilakukan oleh para profesional Muslim. Mereka telah merumuskan konsep Tanggung Jawab Sosial Islam (Islamic Social Responsibility). Contoh bagaimana zakat atas kekayaan perusahaan dipraktekkan dapat dilihat pada pengalaman Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Sebagai perusahaan keuangan swasta pertama yang mencoba menerapkan konsep zakat perusahaan.

(22)

Wawancara dengan Sayyed Muhammad Husein, Kepala Divisi Penggalangan Dana Baitul Mal, Banda Aceh, Oktober 2010. Lihat juga Pedoman Pemungutan Zakat Penghasilan/Profesi dan Arah Penggunaan Zakat, Baitul Mal Aceh, April 2009.

(23)

195 erbeda dengan zakat kekayaan perusahaan, BMI sejak tahun 1993 telah menerapkan kebijakan untuk mengalokasikan 2,5% dari pendapatan perusahaan untuk zakat, dan memungut 2,5% dari pendapatan bersih karyawan untuk infak, bukan untuk zakat.18 Hal ini menarik untuk didiskusikan karena menurut tradisi Islam, kadar zakat perdagangan adalah 2,5% dari aset bersih, bukan dari pendapatan. Namun tentu saja, memungut 2,5% dari total aset tidak dapat diterapkan pada organisasi yang berorientasi pada keuntungan. Selain itu, tidak ada kesepakatan di antara para ulama Islam tentang bagaimana menyelaraskan zakat dan pajak di sektor swasta. Demikian pula, di Malaysia, penafsiran yang berbeda telah membentuk 'metode penilaian' yang berbeda bagi organisasi sektor swasta untuk menghitung zakat atas kekayaan perusahaan: "aset bersih (atau modal kerja), ekuitas bersih (model pertumbuhan), laba bersih setelah pajak, metode gabungan, dan metode dividen."19

Para pendukung CSR Islam percaya bahwa Islam telah memberikan dasar etika yang kuat yang mendukung perusahaan- perusahaan di negara-negara Muslim untuk memperluas proyek- proyek tanggung jawab sosial mereka. Ekonom Malaysia, Asraf Wajdi Dusuki, telah menunjukkan bahwa, dalam konsepsi Barat, CSR dapat didasarkan pada beberapa teori, seperti 'teori kontrak sosial', 'teori instrumental', 'teori legitimasi', dan 'teori pemangku kepentingan'. Oleh karena itu, CSR sering dilihat sebagai "sarana untuk menarik simpati kapitalisme dengan publik yang curiga."20 Berbagai pandangan tentang konsep CSR

18H Zainul Arifin, "Pemanfaatan Dana Zakat Perusahaan untuk Pemberdayaan Masyarakat sebagai Wujud Corporate Social Responsibility," dalam Forum Zakat, Hasil Rumusan Musyawarah Kerja Nasional I Lembaga Pengelola ZIS, Jakarta 07-09 Januari 1999/ 19-21 Ramadhan 1419 H, 38-9.

19Nur BarizaH Abu Bakar, "A Zakat Accounting Standard (ZAS) for Malaysian Companies,"

American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 24, No. 4 (2007), 77; lihat juga Norita Mohd Nasir dan Salleh Hassan, "Zakat on Business in Malaysia: Isu-isu dan Perlakuan Saat Ini,"

dalam Bala Shanmugam dkk. (eds.), Isu-isu dalam Akuntansi Islam, Serdang, Malaysia: UPM

(24)

Press, 2005, 165-78.

20Asraf Wajdi Dusuki, "Apa Kata Islam tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan?", Review of Islamic Economics, Vol. 12, No. 1 (2008), 12.

(25)

197 dan tidak adanya "prinsip absolut tentang perilaku etis dan moral" di masyarakat Barat juga menimbulkan "dilema" bagi sektor swasta dalam merumuskan kembali tanggung jawab sosial mereka. Dusuki percaya bahwa gagasan 'petunjuk Ilahi' (syariah dan taqwa), dapat memberikan pendekatan yang komprehensif terhadap CSR, terutama dalam masyarakat Muslim. Dengan menggunakan gagasan syariah dan taqwa, Dusuki berpendapat bahwa umat Islam dapat menggunakan konsep-konsep yang sah dalam Al-Quran mengenai martabat manusia, kehendak bebas, kesetaraan dan hak-hak, serta kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjalankan CSR. Oleh karena itu, bagi umat Islam, CSR seharusnya merupakan "inisiatif moral dan religius yang didasarkan pada keyakinan bahwa bisnis harus 'baik' terlepas dari konsekuensi keuangannya, baik itu positif maupun negatif."21

Ada faktor penting lain yang mendorong perusahaan swasta untuk menjadi pemain baru di sektor filantropi Indonesia. Proses Islamisasi yang terus berkembang selama dan pasca Orde Baru telah memberikan ruang yang lebih luas bagi para pekerja Muslim untuk memasukkan prinsip-prinsip Islam tentang kebajikan dan keadilan ke dalam sektor bisnis, antara lain dengan mendirikan badan-badan amil zakat. Di tingkat akar rumput, bentuk-bentuk berderma secara Islami telah banyak dipraktikkan, termasuk di kalangan profesional Muslim yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta. Penggalangan zakat telah menjadi kegiatan tahunan mereka, terutama pada bulan Ramadhan. Di banyak perusahaan, serikat pekerja Muslim berperan penting dalam pembentukan komite zakat.

(26)

21Asraf Wajdi Dusuki, "Apa Kata Islam tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan?", 18.

(27)

199 Tabel 2

Komite Zakat di lingkungan Pemerintah dan Perusahaan Swasta

Tabel 3

Komite Zakat yang disponsori oleh Bank

*NB: Bank membangun kemitraan dengan lembaga zakat yang sudah mapan untuk menjalankan layanan sosial.

Yayasan BAMUIS (Bank Negara Indonesia)

BAMUIS, yang merupakan singkatan dari Baitul Mal Umat Islam ("Rumah Harta Umat Islam") adalah sebuah yayasan Islam yang didirikan oleh BNI (Bank Negara Indonesia). Yayasan BAMUIS didirikan

(28)

pada tanggal 5 Oktober 1967 oleh sejumlah karyawan Bank BNI.

Nama Bank BNI sebelumnya adalah "BNI 1946" karena didirikan pada tahun 1946. Sejalan dengan peningkatan modal, BNI berubah menjadi bank umum pada tahun 1955, dan kemudian menjadi bank

"go public" sejak tahun 1996. Saat ini, BNI telah mengelola 914 kantor cabang di Indonesia dan 5 kantor di luar negeri. Sejalan dengan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap sistem ekonomi syariah, BNI meluncurkan Divisi Syariah pertama pada tanggal 29 April 2000 di lima kota: Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin. Dalam beberapa tahun, BNI telah mengembangkan bank syariahnya. Pesatnya pertumbuhan bank syariah di Indonesia menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari masyarakat untuk menggunakan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

BAMUIS didirikan pada tahun 1967, di mana pada saat itu masalah zakat masih menjadi subjek yang marjinal secara politik dan ekonomi. Hal ini menyiratkan bahwa peran karyawan Muslim sangat penting dalam pendirian BAMUIS. Misi BAMUIS, sebagaimana dinyatakan dalam anggaran dasarnya adalah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan kembali dana zakat dan sedekah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan, proyek-proyek yang dapat meningkatkan pendapatan, dan pembangunan kembali infrastruktur pendidikan. Diskusi yang intensif di antara para anggota Serikat Pekerja BNI, khususnya Badan Pembina Kerohanian Islam Serikat Pekerja BNI (BAPEKIS SP BNI), memainkan peran penting dalam mengorganisir kegiatan-kegiatan amal Islami. Pada tahun 1992, Serikat Pekerja BNI yang diketuai langsung oleh Winarto Sumarto, S.H., Presiden Direktur BNI, membuat keputusan untuk memungut 2,5% dari gaji setiap bulannya dari seluruh karyawan muslim yang gajinya telah melewati nisab.22

(29)

201

22Kebijakan pemungutan zakat sebesar 2,5% dari gaji oleh BNI dilegitimasi oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 1991 dan No. 47 Tahun 1991.

(30)

Donatur utama BAMUIS adalah para karyawan, pensiunan dan nasabah BNI. BAMUIS, sebagai pengumpul zakat, menggunakan jaringan kerja BNI untuk mendistribusikan dan menyalurkan dana zakat kepada kelompok masyarakat yang kurang mampu (fakir miskin, yatim piatu, jompo) di berbagai daerah, membantu pendirian masjid, panti asuhan, dan madrasah, serta meringankan beban kaum dhuafa. Seperti halnya lembaga pengumpul zakat berbasis korporasi lainnya, BAMUIS biasanya memprioritaskan karyawan BNI yang berpenghasilan rendah. Dalam menjalankan usaha sosialnya, BAMUIS menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, antara lain dengan serikat pekerja BNI, asosiasi pensiunan BNI, kantor-kantor cabang BNI yang beragama Islam, lembaga-lembaga dakwah, organisasi-organisasi sosial Islam, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Bentuk lain dari kegiatan ke-Islaman BNI adalah melalui proyek-proyek CSR BNI. CSR BNI meliputi 6 bidang utama, yaitu pendidikan, kesehatan, infrastruktur, keagamaan, bantuan bencana, dan pelestarian lingkungan.

Tabel 4

Pengumpulan Zakat BAMUIS 2008- 2010 (dalam Rupiah)

BAZMA (Baituzzakah Pertamina)

PT Pertamina (Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Nasional) adalah

(31)

203 salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tertua di Indonesia.

Pada tanggal 10 Desember 1957, perusahaan

(32)

Republik Indonesia mendirikan Permina (nama lama Pertamina) sebagai hasil dari proyek 'nasionalisasi' aset minyak bumi milik Belanda setelah kemerdekaan Indonesia.23 Permina pertama kali dikepalai oleh Letnan Jenderal Ibnu Soetowo. Sejak awal berdirinya, Pertamina memonopoli distribusi minyak dan gas di seluruh Indonesia. Pada era Orde Baru, Pertamina telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kenaikan harga minyak pada tahun 1970-an mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat. Sebagai salah satu BUMN terbesar, Pertamina telah mempekerjakan ribuan tenaga kerja dan profesional, dan seperti perusahaan minyak, gas, dan pertambangan lainnya yang beroperasi di Indonesia, seperti Caltex, ExxonMobil, KUFPEC (Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company), CNOOC (China National Offshore Oil Corporation), Pertamina telah diasosiasikan sebagai perusahaan yang memiliki dana yang besar, kesibukan yang besar, dan investasi yang besar.

Singkatnya, perusahaan minyak nasional ini telah menjadi tempat bagi para pekerja dan profesional bergaji tinggi (insinyur, pengacara, akuntan, ahli teknologi, programmer, penjual, dan lain-lain) untuk bekerja.

Program-program pembangunan berkelanjutan (CSR) Pertamina dapat dilihat dalam berbagai proyek. Seperti telah disebutkan sebelumnya, terdapat sejumlah kebijakan pemerintah, baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Keputusan Menteri, yang mengatur CSR, antara lain dengan menjalin kemitraan dengan usaha kecil dan menengah serta program-program bina lingkungan dalam rangka mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). CSR Pertamina terbagi dalam empat inisiatif strategis, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan dan infrastruktur.

Proyek-proyek CSR Pertamina bertujuan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia dengan mendukung proyek-

(33)

205 proyek yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs). Sebagai contoh, program-program Pertamina di bidang pendidikan telah diwujudkan dalam bentuk

23Untuk sejarah perusahaan minyak di Pertamina dan perusahaan minyak lainnya di Indonesia, lihat, Pertamina, Sedjarah Industri Minjak Indonesia, Jakarta: Pertamina, 1969.

(34)

dalam bentuk beasiswa untuk siswa di berbagai tingkat pendidikan.

(Lihat tabel 5)

Tabel 5

CSR Pertamina di Bidang Pendidikan (2004-2009)

Badan Amil Zakat Pertamina, yaitu BAZMA, pertama kali didirikan pada tahun 1992, beberapa tahun sebelum diberlakukannya UU Zakat tahun 1999. Direktur Pertamina pada saat itu, Faisal Abda'ou, berperan penting dalam memfasilitasi seminar tentang zakat yang diselenggarakan oleh Serikat Pekerja Pertamina. Seminar ini menekankan perlunya memobilisasi zakat di kalangan pekerja Muslim. Niat Pertamina untuk mendirikan lembaga zakat bukan tanpa hambatan. Pada tahun 2001, Pertamina menerima surat dari Departemen Agama (Depag) untuk membentuk 'unit pengumpul zakat' (UPZ) dan menyalurkan dana yang terkumpul ke badan zakat pemerintah (BAZNAS).24 Hal ini mengimplikasikan bahwa pemerintah yang diwakili oleh BAZNAS meminta lembaga zakat Pertamina (BAZMA) untuk mengumpulkan dana zakat namun tidak memberikan kewenangan kepada BAZMA untuk mendistribusikan dana yang terkumpul.

Menanggapi surat BAZNAS, Pertamina (BAZMA) menolak untuk memenuhi permintaan BAZNAS. Dewan pengawas BAZMA khawatir bahwa

(35)

207

24Wawancara dengan Amru, Direktur Eksekutif BAZMA Pertamina, 16 November 2011.

(36)

Mereka akan menghadapi banyak kesulitan untuk melakukan kegiatan sosial dalam konteks lokal setelah seluruh dana zakat disalurkan ke BAZNAS. Bagi Pertamina, penyaluran zakat berfungsi sebagai cara untuk memperkuat kohesi sosial di antara para pekerja Muslim, dan sebagai mekanisme untuk menjalin hubungan dengan masyarakat setempat. Tercatat ada sekitar 19.673 pekerja Muslim yang menjadi pembayar zakat potensial di perusahaan Pertamina.

Tiga tahun setelah pengesahan BAZMA oleh Kemenag, pada tahun 2006, 10 pengumpul zakat yang berada di bawah naungan Pertamina mampu mengumpulkan Rp. 7.410.775.742,- dari 5.345 pembayar zakat. Hingga saat ini, BAZMA Pertamina telah menerima zakat dan sedekah rutin dari para pekerja Muslim. (Lihat tabel 6).

Tabel 6

BAZMA Pertamina Pusat

Pengumpulan Zakat/Sedekah (dalam Rupiah)

Filantropi perusahaan (Islam) dan pembangunan berkelanjutan Implementasi zakat di Indonesia ditandai dengan fleksibilitas untuk melakukan inovasi hukum. Ide zakat atas kekayaan perusahaan, misalnya, dapat mengaburkan batas antara zakat gaji dan zakat atas kekayaan perusahaan, dan batas antara konsep zakat perusahaan dan CSR. Panduan yang tepat tentang bagaimana mengimplementasikan zakat atas kekayaan perusahaan masih kurang. Tidak adanya payung hukum untuk menerapkan

(37)

209 zakat atas kekayaan perusahaan membuat praktik zakat di perusahaan sangat bergantung pada kemauan politik Dewan Direksi di perusahaan. Artinya, perusahaan swasta tidak memiliki kewajiban untuk menerapkan zakat atas kekayaan perusahaan, tetapi mereka dapat melakukannya jika dewan direksi sepakat untuk mengeluarkan kebijakan tentang filantropi. Pengalaman BAZMA Pertamina menunjukkan bahwa BAZMA secara rutin menerima zakat dan sedekah dari karyawan Muslim yang bekerja di Pertamina, tetapi tidak pernah menerima zakat perusahaan.

Selain itu, perlu juga melihat pengalaman bank-bank syariah sebagai bahan perbandingan. Pelaksanaan CSR telah menjadi perhatian bank-bank syariah yang pada kenyataannya memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan gagasan zakat atas kekayaan perusahaan. Beberapa bank syariah telah mengalokasikan sejumlah dana untuk membiayai kegiatan sosial. Mereka menggabungkan konsep CSR dan zakat atas kekayaan perusahaan untuk menjustifikasi usaha sosial dan proyek-proyek pembangunan berkelanjutan mereka. Sebagai contoh, pada tahun 2010, Bank Syariah Mandiri (BSM) telah menyalurkan Rp.

15,89 miliar dari zakatnya melalui badan amil zakat (BPZIS Bank Mandiri). Dana zakat tersebut dialokasikan untuk tiga jenis program:

pengembangan ekonomi, pendidikan, dan sosial untuk membantu 21.524 penerima manfaat.25 Sementara itu, jumlah zakat Bank Mega Syariah (BMS) pada tahun 2010 dan 2009 adalah sekitar lebih dari Rp. 2 miliar dari pendapatan 85 miliar untuk masing-masing tahun.26 Dana zakat yang dihimpun Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 2009 mencapai Rp. 34,1 miliar, dan BMI melalui Yayasan Baitul Mal Muamalat (BMM) memberikan "modal usaha" kepada 4.697 keluarga prasejahtera.27

(38)

Laporan Tahunan 2010, Bank Syari'ah Mandiri..., 19.

26Laporan Tahunan 2010, Bank Mega Syariah..., 49.

27Laporan Tahunan 2009, Bank Muamalat Indonesia..., 86-87.

(39)

211 Dana sosial yang ditawarkan oleh perusahaan dapat diambil dari berbagai sumber: dari sumbangan karyawan, dari pendapatan perusahaan, dan juga dari sumber-sumber 'tidak halal'. Faktanya, selain zakat dan sedekah, jenis dana lain yang disediakan oleh bank- bank Islam untuk membiayai proyek-proyek sosial disebut 'dana kebajikan' (qard} al-h}asan). Dalam industri perbankan, qard al-hasan berarti "pinjaman yang diberikan kepada nasabah oleh Bank untuk tujuan darurat" untuk jangka waktu tertentu dan pembayarannya dapat dilakukan secara cicilan atau sekaligus "tanpa margin keuntungan". Dana kebajikan dapat dikumpulkan dari pendapatan halal atau 'non-halal' (bunga bank). Sebagai contoh, sumber dana kebajikan yang diperoleh Bank Syariah Mandiri (BSM) berasal dari denda, pendapatan non-halal, dan dana sosial yang dialokasikan oleh bank. BSM menerima Rp 1,81 miliar pada Desember 2010, dan Rp 1,86 miliar pada 2009. Dalam dua tahun, BSM telah menyalurkan Rp 3,20 milyar untuk membiayai berbagai kegiatan.28 Meskipun konsep dana kebajikan pada umumnya diterjemahkan sebagai 'pinjaman tanpa bunga' untuk membiayai proyek-proyek yang menghasilkan pendapatan, namun secara praktis dana kebajikan sering digunakan untuk mendukung pelayanan sosial, seperti renovasi tempat ibadah dan sekolah, bantuan bencana, penyediaan kesehatan bagi masyarakat miskin, dan lain-lain. Penggunaan pinjaman kebajikan untuk kegiatan usaha kecil yang produktif tidak selalu berhasil, dan dalam banyak kasus, pembayaran kembali tidak dapat dipenuhi oleh peminjam.29

Dengan mengingat penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bank-bank Islam dan lembaga-lembaga zakat mereka telah berusaha untuk menerjemahkan berbagai jenis skema keuangan Islam (zakat, sedekah, dan qard}ul

28Laporan Tahunan 2010, Bank Syari'ah Mandiri..., 139.

(40)

Lihat misalnya Muhammad Akhyar Adnan dan Firdaus Furywardhana, "Evaluasi Non Performing Loan (NPL): Pinjaman Qardhul Hasan (Studi Kasus di BNI Syariah cabang Yogyakarta),"

Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia (JAAI), Vol. 10 No. 2, (Desember 2006), 155 - 171.

(41)

213 h>}asan) dengan cara yang fleksibel.30 Bank-bank Islam, khususnya, telah menyediakan skema pembiayaan yang berbeda yang menguntungkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Namun perlu dicatat bahwa, dalam hal profesionalisme, peran bank- bank Islam dalam mendukung dan membantu nasabah mereka di sektor ekonomi formal dan informal berbeda dengan dukungan mereka terhadap nasabah yang menggunakan 'pinjaman kebajikan'.

Hal ini dibuktikan dengan gagalnya banyak proyek yang skema pembiayaannya berasal dari pinjaman kebajikan. Kegagalan ini dapat terjadi antara lain karena penggunaan 'pinjaman tanpa bunga' atau 'pinjaman semi altruistik' tidak didampingi dan dikontrol dengan baik.

Kata penutup

Studi tentang filantropi Islam di Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya menjadi sangat penting karena partisipasi sektor bisnis dalam kegiatan sosial semakin meluas. Hubungan antara perusahaan dan organisasi-organisasi sukarela Muslim juga telah menjadi tren baru dalam Islam Indonesia. Beberapa faktor telah mendorong sektor swasta untuk menjalankan kegiatan sosial dengan menggunakan jargon dan simbol-simbol keagamaan. Pertama, serikat pekerja Muslim telah berperan penting dalam penyebaran filantropi Islam perusahaan. Peran yang dimainkan oleh para pekerja Muslim dalam memulai pengumpulan zakat di perusahaan dapat menjadi bukti yang meyakinkan bahwa proses bottom-up telah menjadi ciri khas munculnya filantropi Islam di sektor swasta.

Lingkungan hukum merupakan faktor utama lain yang penting dalam penyebaran organisasi amal Islam di Indonesia, yang membuka jalan bagi transformasi gagasan Muslim tentang barang publik menjadi yayasan filantropi hibrida agama, sosial, dan ekonomi. Di negara non-Islam seperti Indonesia, upaya para aktivis sosial Muslim

(42)

Laporan Tahunan 2009, Bank Muamalat Indonesia..., 13.

(43)

215 dan karyawan telah membentuk sifat filantropi Islam dalam bisnis swasta. Organisasi masyarakat sipil dan pekerja Muslim berperan penting dalam mengkompromikan payung hukum CSR dan gagasan tentang tindakan kebajikan Islam. Para pemimpin, pekerja, dan aktivis sosial Muslim telah berusaha untuk merekonsiliasi undang- undang pemerintah tentang korporasi (CSR) dan undang-undang tentang zakat sebagai sarana untuk mendorong praktik filantropi di sektor bisnis. Oleh karena itu, Indonesia telah menyaksikan peningkatan yang cukup besar dalam pelembagaan praktik filantropi yang didukung oleh perusahaan-perusahaan swasta. Seperti halnya di negara-negara Islam lainnya, para pekerja Muslim di Indonesia menyadari bahwa pembangunan sosial juga dapat dipelopori oleh sektor swasta dan komunitas bisnis yang dinamis (31 ) dan kerja sama antara sektor swasta dan sektor sukarela masih diperlukan sebagai sarana untuk mendorong kebaikan umum di lingkungan sosial dan ekonomi Indonesia.

Daftar Pustaka

Abu Bakar, Nur Bariza H., "Standar Akuntansi Zakat (ZAS) untuk Perusahaan Malaysia," American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 24, No. 4 (2007): 74-92.

Adnan, Muhammad Akhyar dan Firdaus Furywardhana, "Evaluasi Non Performing Loan (NPL): Pinjaman Qardhul Hasan (Studi Kasus di BNI Syariah cabang Yogyakarta)," Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia (JAAI), Vol. 10 No. 2 (2006): 155-171.

Ariff, Mohamed (ed.). Sektor Swasta Muslim di Asia Tenggara.

Singapura: ISEAS, 1991.

Ariff, Mohamed (ed.). Sektor Sukarela Muslim di Asia Tenggara.

Singapura: ISEAS, 1991.

31Barbara Lethem Ibrahim dan Dina H. Sherif, Dari Amal untuk Perubahan Sosial..., 190.

(44)

Arifin, H. Zainul, "Pemanfaatan Dana Zakat Perusahaan untuk Pemberdayaan Masyarakat sebagai Wujud Corporate Social Responsibility," dalam Forum Zakat, Hasil Rumusan Musyawarah Kerja Nasional I Lembaga Pengelola ZIS, Jakarta 07-09 Januari 1999/ 19-21 Ramadhan 1419 H.

Baitul Mal Aceh. Pedoman Pemungutan Zakat Penghasilan/Profesi dan Arah Penggunaan Zakat, Baitul Mal Aceh, April 2009.

Brown, Rajeswary Ampalavanar, "Korporasi Indonesia, Kroniisme, dan Korupsi," dalam Bangkitnya Ekonomi Korporasi di Asia Tenggara. London: Routledge, 2006: 80-108.

Brown, Rajeswary Ampalavanar, "Wakaf Islam dan Ekonomi Tanah di Singapura: Lahirnya Kapitalisme yang Beretika, 1830 - 2007", South East Asia Research, 16, 3 (2009): 343-403.

Contreras, Manuel E. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Memajukan Pembangunan Sosial. Washington, DC: Inter- American Develop- ment Bank, 2004.

Darus, Bahauddin, "Modal Ventura: Pengalaman Indonesia", dalam Mohammad Ariff, Sektor Swasta Muslim, Singapura: ISEAS, 1991: 152-187.

Dusuki, Asraf Wajdi. "Apa yang dikatakan Islam tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan?" Tinjauan Ekonomi Islam, Vol. 12, No. 1 (2008): 5-28.

Gan, Ailian. "Dampak Pengawasan Publik terhadap Filantropi Perusahaan",

Jurnal Etika Bisnis, No. 69 (2006): 217-236.

Gonzalez III, Joaquin L., "Kolaborasi Korporasi-Komunitas untuk Pembangunan Sosial: Tinjauan Umum tentang Tren, Tantangan, dan Pelajaran

(45)

217 sons from Asia," dalam Manuel E Contreras, Corporate Social Responbility in the Promotion of Social Development.

Washington, DC: Inter-American Development Bank, 2006: 1-36.

Hafifuddin, Didin. Anda Bertanya tentang Zakat, Infaq dan Shadaqah: Kami Menjawab. Jakarta: BAZNAS, 2006.

Hefner, Robert W. "Pasar dan Keadilan bagi Masyarakat Muslim Indonesia," dalam Robert W. Hefner (ed.), Market Cultures:

Masyarakat dan Nilai-Nilai dalam Kapitalisme Asia Baru.

Singapura: ISEAS, 1998: 224-250.

Ibrahim, Barbara Lethem dan Dina H. Sherif. Dari Amal ke Perubahan Sosial: Tren dalam Filantropi Arab. Kairo dan New York: American University in Cairo Press, 2008.

Institut Manajemen Zakat. Panduan Zakat Praktis. Jakarta: IMZ, 2007.

Latief, Hilman. "Penyediaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin:

Bantuan Islam dan Bangkitnya Klinik Amal di Indonesia,"

Southeast Asia Research, Vol. 18, No. 3 (2010): 503-553.

Nasir. Norita Mohd dan Salleh Hassan, "Zakat Bisnis di Malaysia: Isu- isu dan Perlakuan Saat Ini," dalam Bala Shanmugam dkk. (eds.), Isu-isu dalam Akuntansi Islam. Serdang, Malaysia: UPM Press, 2005: 165-178.

Pertamina. Sedjarah Industri Minjak Indonesia. Jakarta: Pertamina, 1969.

Purwanto, Bambang. "Dekolonisasi ekonomi dan kebangkitan bisnis militer Indonesia", dalam J. Thomas Lindblad dan Peter Post (eds.), Indonesian Economic Decolonization and in Regional and Interna- tional Perspective. Leiden: KITLV, hal. 39-58.

Sasongko, Adi, "Kolaborasi LSM dan Sektor Swasta dalam Meningkatkan Kesehatan Anak Sekolah Dasar di Jakarta, Indonesia (1987-2004): Mengelola Keberlanjutan melalui Program Kemitraan," dalam

(46)

Manuel E Contreras, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Promosi Pembangunan Sosial. Washington, DC: Inter- American Development Bank, 2004: 37-52.

TUGI (The Urban Governance Initiatives) dan URDI (Urban and Regional Development Institute). Peran Masyarakat Sipil dalam Ekonomi Informal. Jakarta: UNDP, TUGI dan URDI, 2004.

Wee, Thee Kian, "Aspek Ekonomi Indonesianisasi dari Penjajahan Indonesia di tahun 1950-an," dalam J. Thomas Lindblad dan Peter Post (eds.), Dekolonisasi Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Regional dan Internasional. Leiden: KITLV, 2009:

19-38

Laporan, dokumen, berita harian

Laporan Tahunan 2010, Bank Syari'ah Mandiri.

Laporan Tahunan 2010, Bank Mega Syariah.

Laporan Tahunan 2009, Bank Muamalat Indonesia. Laporan Tahunan 2010, Bank Syari'ah Mandiri.

Laporan Tahunan 2009, Bank Muamalat Indonesia.

Republika, 3 April 2008.

Referensi

Dokumen terkait