PENGARUH KINERJA KEUNGAN DAN KEADAAN MAKROEKONOMI TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
(Studi pada Perusahaan Consumer Goods Industry yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2019)
Rizki Hendraningrat
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
[email protected] Dosen Pembimbing:
Dr. Siti Aisjah, SE., Ms., CSRS., CFP ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh secara simultan maupun parsial pada kinerja keuangan dan kondisi makroekonomi terhadap nilai perusahaan perusahaan Consumer Goods Industry yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Variabel-variabel yang diteliti pada penelitian ini antara lain : Profitabilitas yang diproksi oleh Return on Equity (ROE), Likuiditas yang diproksi oleh Current Ratio (CR), Leverage yang diproksi oleh Debt to Equity (DER), Inflasi, dan Suku Bunga.
Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu menerapkan kriteria-kriteria tertentu yang mengeleminisasi populasi sesuai dengan kerpeluan penelitian. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, dan uji hipotesis. Hasil dari analisis data menunjukan secara parsial bahwa profitabilitas, likuiditas, leverage dan suku bunga memiliki pengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan, inflasi tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Kemudian, secara simultan menunjukkan bahwa profitabilitas, likuiditas, leverage, inflasi dan suku bunga memiliki pengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
Kata Kunci : Nilai Perusahaan, Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Inflasi, dan Suku Bunga
acc 14/12/2020
THE EFFECT OF FINANCIAL PERFORMANCE AND MACROECONOMIC CONDITION ON CORPORATE VALUE
(Study on Consumer Goods Companies listed the Indonesian Exchange in the Period 2015-2019)
Rizki Hendraningrat
Management Major, Faculty of Economy and Business University of Brawijaya
[email protected] Supervisor :
Dr. Siti Aisjah, SE., Ms., CSRS., CFP Abstract
The research objective was to determine the effect simultaneously or partially on financial performance and macroeconomic conditions on the value of the Consumer Goods Industry companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). The variables examined in this study include: Profitability proxied by Return on Equity (ROE), Liquidity proxied by Current Ratio (CR), Leverage proxied by Debt to Equity (DER), Inflation, and Interest Rates.
The sampling method used in this research is purposive sampling, which is to apply certain criteria that eliminate the population according to the research requirements. Data analysis methods used in this study include: classical assumption test, multiple linear regression analysis, and hypothesis testing. The results of the data analysis show partially that profitability, liquidity, leverage and interest rates have a significant effect on firm value.
Meanwhile, inflation does not have a significant effect on firm value. Then, simultaneously it shows that profitability, liquidity, leverage, inflation and interest rates have a significant effect on firm value.
Keywords : Firm Value, Profitability, Liquidity, Leverage, Inflation, and Interest Rate
PENDAHULUAN
Tingginya distribusi sub-sektor Consumer Goods Industry terhadap PDB tersebut juga tidak terlepas dari peningkatan nilai perusahaan pada sektor tersebut. Pada dasarnya, suatu perusahaan didirikan untuk menghasilkan laba dan menciptakan nilai perusahaan pemilik sahamnya (Safitri, 2016).
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham dan profitabilitas, Munawaroh (2014). Semakin tinggi harga saham perusahaan maka semakin baik nilai perusahaan tersebut, Wijaya dan Panji (2015).
Pengukuran nilai perusahaan dapat dilihat dari rasio - rasio nilai perusahaan.
Rasio tersebut adalah Price Book Value (PBV), Price earning ratio (PER), dan Tobin’s Q, Brigham dan Daves, (2014).
Pada penelitian ini, rasio yang nilai perusahaan yang digunakan sebagai variabel
terikat adalah Price Book Value (PBV).
Peneliti menggunakan rasio Price Book Value (PBV) dikarenakan rasio PBV dapat memberikan informasi mengenai tingkat kewajaran harga suatu saham pada saat membeli baik dikatakan overvalued ataupun undervalued jika dibandingkan dengan perusahaan sejenisya, Latief (2018). Di samping itu, rasio PBV merupakan rasio pasar (market ratio) yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya.
Peningkatan nilai perusahaan dipengaruhi oleh naiknya kinerja keuangan suatu perusahaan. Hal itu dikarenakan bahwa nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar atau investor percaya bahwa kinerja perusahaan saat tersebut mempunyai prospek dimasa depan yang baik, Pertiwi, dkk (2016).
Kinerja keuangan adalah hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya mengelola aset perusahaan secara efektif
selama periode tertentu dan untuk memprediksi kepastian perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang dimiliki, Rudianto (2013:189).
Pengukuran kinerja keuangan dalam penelitian ini menggunakan beberapa rasio, antara lain : rasio profitabilitas yang diproksikan oleh return on equity (ROE), likuiditas yang diproksikan oleh current ratio (CR), dan leverage yang diproksikan oleh debt to equity ratio (DER).
Di sisi lain, kondisi makro mempunyai peran yang penting dalam sebuah bisnis. Hal tersebut karena dalam menganalisis sebuah perusahaan, diperlukan pemahaman mengenai variabel eksternal perusahaan, seperti kebijakan pemerintah suatu negara yang bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi, pencapaian keseimbangan, dan stabilitas harga yang dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu perusahaan, Ardiansyah (2019).
Kondisi makro pada penelitian ini diukur melalui variabel inflasi yang diproksi melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) dan suku bunga yang diproksi melalui Suku Bunga Indonesia (SBI).
TINJAUAN PUSTAKA
Pengukuran Nilai Perusahaan Menurut (Brigham & Daves, 2014:54) dalam rasio penilaian perusahaan terdiri dari : 1. Price Earning Ratio (PER) atau Rasio
Harga Laba
Price earning ratio (PER) menunjukkan berapa banyak jumlah uang yang rela dikeluarkan oleh para investor untuk membayar setiap laba yang dilaporkan.
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pemegang saham. Kegunaannya adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh earning per share. Price earning
ratio menunjukkan hubungan antara pasar saham biasa dengan earning per share. Bagi para investor semakin tinggi price earning ratio maka pertumbuhan laba yang diharapkan juga mengalami kenaikan.
2. Price Book Value (PBV)
PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. PBV juga menunjukkan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. PBV juga dapat berarti rasio yang menunjukkan apakah harga saham yang diperdagangkan overvalued (di atas) atau undervalued (di bawah) nilai buku saham tersebut.
3. Tobin’s Q
Tobin's Q adalah gambaran statistik yang berfungsi sebagai proksi dari nilai perusahaan menurut dari sisi investor.
Tobin's Q meruapakan rasio dari nilai pasar asset perusahaan yang diukur oleh nilai pasar dari jumlah saham yang bererdar dan hutang terhadap replacement cost dari aktiva perusahaan.
Untuk menentukan berapa nilai suatu aset tertentu perusahaan seperti nilai persediaan tertentu bisa dilakukan dengan cara melakukan perbandingan dengan salah satu dari banyak pemasok berbeda di pasar. Namun, dalam banyak kasus, nilai penggantian aset terbukti jauh lebih sulit dipahami. Misalnya pada aset yang sangat terspesialisasi dan memungkinkan tidak ada alternatif sebanding yang tersedia. Hal tersebut juga muncul pada berbagai konteks bisnis, dari mesin industri yang kompleks hingga aset tidak berwujud seperti goodwill.
Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan (Kasmir, 2016).
Menurut Subramanyam (2017), ada empat kelompok rasio keuangan yaitu:
1. Rasio profitabilitas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari berbagai kebijakan dan keputusan yang telah diambil.
2. Rasio likuiditas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan membiayai operasi dan memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
3. Rasio solvabilitas atau leverage adalah rasio untuk mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
4. Rasio nilai pasar adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan dalam memaksimalkan nilai perusahaan.
Rasio Profitabilitas
Menurut Fatmawati (2017) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.
Menurut Kasmir (2016) rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.
Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat profitabilitas suatu perusahaan menurut Kasmir (2016) adalah sebagai berikut:
1. Profit Margin (profit margin on sales)
2. Return on Asset (ROA) atau Return On Investment (ROI)
3. Return on Equity (ROE) 4. Earning Per Share (EPS) Return on Equity (ROE)
Menurut Kasmis (2016), Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Semakin tinggi return on equity maka semakin baik, artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat.
Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2016), Likuiditas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk jangka waktu pendek baik yang akan jatuh tempo dan yang sudah jatuh tempo melalui aset likuid atau yang dapat dikonversi dengan cepat menjadi kas pada harga pasar yang berlaku.
Menurut Kasmir (2014), terdapat beberapa pengukuran rasio likduitas adalah sebagai berikut:
1. Rasio lancar (current ratio) 2. Rasio cepat (quick ratio) 3. Rasio kas (cash Ratio)
4. Rasio Perputaran Kas (cash turn over) 5. Inventory to Net Working Capital Current Ratio (CR)
Rasio lancar atau (current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan (Kasmir, 2014).
Rasio Leverage
Menurut Fahmi (2014), menyatakan bahwa rasio leverage merupakan rasio yang menunjukkan bagaimana perusahaan mampu untuk mengelola hutangnya dalam rangka memperoleh keuntungan dan juga mampu untuk melunasi kembali hutangnya.
Menurut Kasmir (2016), terdapat jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio leverage antara lain:
1. Debt to asset ratio 2. Debt to equity ratio 3. Times interest earned Debt to Equity Ratio (DER)
Menurut Fahmi (2015), Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio untuk mengetahui seberapa besar perusahaan dibiyai oleh utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrim) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban
utang tersebut dan akan memiliki kecendrungan untuk dilikuidasi. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit atau perusahaan lebih condong menggunakan hutangnya guna untuk membiayai kebutuhannya.
Rasio Nilai Pasar
Rasio nilai pasar penting sekali karena hubungannnya dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. Rasio nilai pasar yaitu rasio yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar (Fahmi, 2013).
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2013) terdapat beberpa pengukuran rasio nilai pasar, antara lain:
1. Rasio pembagian dividen (Dividen payout ratio)
2. Rasio hasil dividen (Dividen yield) 3. Rasio nilai harga buku (Price book value) Inflasi
Menurut Badan Pusat Statistik (2014), inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa
secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat atau turunnya daya jual mata uang suatu Negara.
Menurut Natsir (2014), inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara terus menerus. Selain terjadi secara terus menerus, kenaikan harga bisa disebut dengan inflasi apabila kenaikan harga tersebut mencakup keseluruhan jenis barang.
Menurut Indriyani (2016), inflasi dapat dikategorikan berdsarkan penyebabnya, antara lain:
1. Demand pull inflation
Demand pull inflation, atau sering disebut sebagai (demand-side inflation) atau goncangan permintaan (demand shock inflation), yaitu inflasi yang disebabkan karena adanya daya tarik dari permintaan masyarakat akan berbagai barang yang terlalu kuat dari pada kapasitasnya.
2. Cost push inflation
Cost push inflation, atau (supply-side inflation) atau sering disebut juga sebagai goncangan penawaran (supply-shock inflation), yaitu inflasi yang disebabkan karena adanya goncagan atau dorongan kenaikan biaya faktor-faktor produksi secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu.
Sedangkan menurut Kresnoadi (2017), inflasi dapat dikategorikan berdasarkan tingkatanya, sebagai berikut : 1. Inflasi ringan (Creeping inflation)
Inflasi ini ditandai dengan peningkatan laju inflasi yang rendah. Biasanya, kurang dari 10% setahun. Ciri dari inflasi ini adalah kenaikan harga yang relatif lambat dan dalam jangka waktu yang relatif lama.
2. Inflasi sedang (Galloping inflation) Inflasi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi ringan dimana lajunya berkisar antara 10-30% per tahun. Jenis inflasi ini ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar dalam waktu yang singkat.
3. Inflasi berat (High inflation)
inflasi ini adalah inflasi yang tergolong berat.
Mencakup laju mulai dari 30-100% setahun.
Pada kondisi demikian, perekonomian mulai lesu terutama pada sektor-sektor industri.
4. Inflasi sangat berat (Hyperinflation) Jenis inflasi ini sangat dirasakan karena terjadi secara besar-besaran dan mencapai lebih dari 100% setahun. Dalam keadaan ini, keadaan perekonomian
menjadi kacau balau dan perekonomian menjadi lesu.
Menurut Bank Indonesia (2018), pengukuran inflasi dapat dilakukan melalui indikator :
1. Indeks harga konsumen (IHK)
suatu indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dalam suatu periode, dari suatu kumpulan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk/rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan
tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang dan jasa.
Sedangkan menurut International Best Practice (2014), pengukuran inflasi dapat dilakukan melalui beberapa indikator : 1. Angka deflator produk nasional bruto Angka deflator PDB Menggambarkan pengukuran harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi negara. Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
2. Indeks harga perdagangan besar (IHPB).
Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
3. Indeks harga produsen (IHP)
Indikator ini mengukur perubahan rata-rata harga yang diterima produsen domestik untuk barang yang mereka hasilkan
4. Indeks harga aset
Indeks ini mengukur pergerakan harga aset antara lain properti dan saham yang dapat dijadikan indikator adanya tekanan terhadap harga secara keseluruhan.
Suku Bunga
Menurut Sunariyah (2013), Suku bunga adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Menurut Mankiw (2013)
menyebutkan bahwa terdapat dua macam bunga antara lain :
1. Suku bunga nominal
Tingkat suku bunga nominal adalah tingkat bunga yang dapat diamati dipasar yakni tingkat bunga yang
dibayar oleh bank dengan tidak memperhiyungkan inflasi.
2. Suku bunga rill
Suku bunga rill adalah konsep yang mengukur tingkat suku bunga dengan mengukur tingkat pengembalian yang telah dikurangi inflasi yang menunjukan kenaikan daya beli masyarakat yang didalamnya sudah memperhitungkan inflasi.
Menurut Bank Indonesia (2016), Pengukuran tingkat suku bunga di dasarkan pada Bank Indonesia (BI) rate.
Menurut Bank Indonesia menyebutkan BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik
HIPOTESIS
1. H1a : Return on Equity (ROE) berpengaruh secara signifikan terhadap Price Book Value (PBV)
2. H1b : Current Ratio (CR) berpengaruh
signifikan secara terhadap Price Book Value (PBV)
3. H1c : Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh secara signifikan terhadap Price Book Value (PBV)
4. H1d : Inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap Price Book Value (PBV)
5. H1e : Suku bunga berpengaruh secara signifikan terhadap Price Book Value (PBV)
METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian
Jenis yang digunakan oleh peneliti adalah jenis explanatory research. Menurut Sugiyono (2014), metode explanatory research merupakan metode penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel- variabel yang diteliti serta pengaruh antara satu variabel dengan variabel yang lain.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif.
Menurut Sugiyono (2015), Data kuantitatif
adalah data yang menunjukkan nilai angka terhadap besaran atas variabel yang diwakilinya dan analisis penelitianya melalui statistik sehingga pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Menurut Sugiyono (2017), data sekunder adalah data yang bersumber secara tidak langsung yang diberikan kepada pengumpul data.
Lokasi dan Periode Penelitian
Penelitian dilakukan terhadap perusahaan Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam pelaksanaannya penelitian ini, data yang dipakai berasalah dari website resmi BEI yaitu www.idx.co.id.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui teknik dokumentasi.
Menurut Sugiyono (2013), teknik
dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dan melalukan analisa terhadap data yang ingin diteliti.
Populasi dan Sampel Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian dimana semua elemen yang ada di dalam wilayah penelitianya merupakan subjek penelitian tersebut, Arikunto (2013).
Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan Consumer Goods Industry yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2015-2019. Berdasarkan data BEI, jumlah perusahaan Consumer Goods Industry yang terdata sebanyak 58 perusahaan.
Adapun kriteria populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Seluruh perusahaan yang terdapat pada sektor barang komsumsi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019.
Sampel
Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel adalah perwakilan populasi yang diteliti dan harus dapat representatif atau mewakili sebuah populasi tersebut yang berguna untuk menghadapi keterbatasan peniliti dalam bentuk dana, tenaga dan waktu, Sugiyono (2017).
Adapun kriteria yang ditentukan sebagai berikut :
1. Perusahaan Consumer Goods Industry yang telah menerbitkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2019.
2. Perusahaan Consumer Goods Industry yang memiliki seluruh data laporan keuangan yang diperlukan untuk penelitian selama periode 2015-2019.
3. Perusahaan Consumer Goods Industry yang mengalami laba positif selama tahun 2015-2019.
Berdasarkan kriteria diatas, berikut adalah tabel proses seleksi sampel dengan teknik sensus:
Proses Seleksi Sampel dengan Teknik Sensus
No Kriterian Penelitian Jumlah 1 Perusahaan manufaktur
sub-sektor Consumer Goods Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015- 2019
58
2 Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan yang lengkap dan tidak tersedia data laporan yang diperlukan untuk penelitian selama periode 2015-2019
18
3 Perusahaan yang
mengalami kerugian selama periode 2015-2019
11
Perusahaan yang diambil menjadi sampel
29
Definisi Operasional Variabel
Menurut Sugiyono (2015), definisi operasional variabel adalah suatu atribut atau
sifat atau nilai dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel Bebas
Variabel bebas atau dapat disebut sebagai variabel stimulus karena dapat mempengaruhi variabel dependen (Sugiyono, 2016).
Dalam penelitian ini, terdapat beberapa variabel yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Kinerja Keuangan : a. Profitabilitas
ROE = 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 x 100%
(Brigham & Daves, 2014) b. Likuiditas
CR = aktiva lancar
utang lancar x 100%
(Brigham & Daves, 2014) c. Leverage
𝐷𝐸𝑅 = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 (Brigham & Daves, 2014)
2. Kondisi Makroekonomi a. Inflasi
Inflasi pada penelitian ini diproksi oleh tingkat inflasi aktual tahunan yang diterbitkan dari Bank Indonesia dalam www.bi.go.id.
b. Suku Bunga
Suku bunga pada penelitian ini diproksi melalui BI Rate yang diterbikan oleh Bank Indonesia dalam www.bi.go.id.
Variabel Terikat
Variabel terikat atau dapat disebut sebagai variabel konsekuen karena dipengaruhi oleh variabel independen (Sugiyono, 2016). Pada penelitian ini, variabel dependen yang digunakan adalah price book value (PBV).
a. Price book value (PBV)
Price book value (PBV) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku perusahaan, (Fahmi, 2015). Semakin kecil nilai price
to book value maka harga dari suatu saham dianggap semakin murah. Rasio tersebut dapat dihitung melalui :
𝑃𝐵𝑉 = ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
(Brigham & Daves, 2014) METODE ANALISIS DATA
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis keuangan, kemudian uji asumsi klasik (normalitas, uji multikolinearitas, autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas), analisis Regresi Linear Berganda, Uji Hipotesis (uji f, t dan uji R2).
HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas 1. Analisis Grafik
Grafik Normal P-Plot Uji Normalitas
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan grafik Normal P-Plot uji normalitas pada Gambar tersebut, menunjukkan bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa residual data model berdistribusi normal (asumsi normalitas terpenuhi).
2. Analisis Statistik
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 145
Normal
Parameters(a,b)
Mean
.0000000
Std. Deviation .72415081
Most Extreme Differences
Absolute
.046
Positive .032
Negative -.046
Kolmogorov-Smirnov Z .553
Asymp. Sig. (2-tailed) .919
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Dari hasil perhitungan tabel tersebut yang dilakukan menggunakan one-sample kolmogorov-smirnov diperoleh nilai sig. lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,919 sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas terpenuhi.
Uji Heterokedastisitas
Hasil Diagram Scatterplot
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Pada gambar tersebut, dapat dilihat bahwa hasil diagram scatterplot menunjukkan hasil yang menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heterokedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil diagram scatterplot
mempunyai variance yang berbeda atau dengan kata lain tidak terdapat gejala
Hasil Uji Gletser
Sumber : Data SPSS diolah, 2020 Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa nilai sig. seluruh variabel adalah >
α (α = 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.
Uji Multikolinieritas
Hasil Uji Multikolinieritas
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan tabel tersebut, Hasil Uji Multikolonieritas, hasil pengujian masing- masing variabel bebas memiliki nilai tolerance > 0,1 dan keseluruhan nilai VIF <
10 sehingga dapat dikatakan tidak terjadi multikolonieritas antar variabel bebas, maka dapat disimpulkan bahwa uji asumsi tidak adanya multikolonieritas dapat dipenuhi.
Uji Autokorelasi
Hasil Uji Durbin-Watson
Sumber : Data SPSS diolah, 2020 Berdasarakan Tabel 4.10 didapatkan nilai Durbin-watson sebesar 1,894, sedangkan nilai dU pada penelitian ini sebesar 1,78559. Hasil nilai Durbin-watson tersebut berada diantara dU < d < 4- dU, sehingga tidak terjadi autokorelasi atau dengan Coefficientsa
Model
Unstandardize d Coefficients
Stand ardiz
ed Coeffi cients
t Sig.
B
Std.
Error Beta
1 (Constant) -.476 .558 -.852 .396 ROE .041 .041 .094 .983 .327 CR .122 .064 .183 1.894 .060 DER -.003 .045 -.005 -.059 .953 Inflasi -.100 .176 -.061 -.567 .571 Suku
Bunga
.244 .277 .094 .882 .379
a. Dependent Variable: ABS
Collinearity Statistics Tolerance VIF
ROE 0.737 1.357
CR 0.716 1.397
DER 0.803 1.246
Inflasi 0.589 1.697
Suku Bunga 0.597 1.675
Model Summaryb
Model R R Squ
are Adjus ted R Squar
e
Std.
Error of the Estima te
Durbi n- Wats
on 1 .793a .629 .616 .73706 1.894 a. Predictors: (Constant), Suku Bunga, ROE, DER, CR, Inflasi
b. Dependent Variable: PBV
kata lain asumsi autokorelasi sudah terpenuhi.
Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan tabel tersebut, didapatkan persamaan regresi sebagai berikut:
Y = b0 + b1 X1 + b2 X2 +b3 X3 + b4 X4 + b5 X5
Y = 0,384X1 + 0,126 X2 – 0,447 X3 + 0,011 X4 – 0,210 X5
Dari persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Koefisien b1 sebesar 0,384, artinya PBV akan meningkat sebesar 0,384 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X1
(ROE). Jadi apabila ROE mengalami
peningkatan 1 satuan, maka PBV akan meningkat sebesar 0,384 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
2. Koefisien b2 sebesar 0,126, artinya PBV akan meningkat sebesar 0,126 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X2
(CR). Jadi apabila CR mengalami peningkatan 1 satuan, maka PBV akan meningkat sebesar 0,126 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
3. Koefisien b3 sebesar -0,447, artinya PBV akan menurun sebesar -0,447 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X3 (DER). Jadi apabila DER mengalami peningkatan 1 satuan, maka PBV akan menurun sebesar -0,447 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
4. Koefisien b4 sebesar 0,011, artinya PBV akan meningkat sebesar 0,011 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X4
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std.
Error Beta
(Constant) 3.410 0.951 3.586 0.000 ROE 0.450 0.071 0.384 6.373 0.000 CR 0.226 0.110 0.126 2.060 0.041 DER -0.598 0.077 -0.447 -7.759 0.000 Inflasi 0.048 0.300 0.011 0.160 0.873
Suku
Bunga -1.479 0.471 -0.210 -3.139 0.002
(Inflasi). Jadi apabila inflasi mengalami peningkatan 1 satuan, maka PBV akan meningkat sebesar 0,011 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
5. Koefisien b5 sebesar -0,210, artinya PBV akan menurun sebesar -0,210 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X5 (Suku Bunga). Jadi apabila Suku Bunga mengalami peningkatan 1 satuan, maka PBV akan menurun sebesar -0,210 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.
Uji f
Hasil Uji f
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan Tabel 4.12 nilai F hitung sebesar 47,122. Sedangkan F tabel (α = 0.05
; db regresi = 5 : db residual = 139) adalah sebesar 2,28. Karena F hitung > F tabel yaitu 47,122 > 2,28 atau nilai Sig. F (0,000) < α =
0.05. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang didapatkan sudah layak.
Uji t
Hasil Uji t
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan Tabel tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :
1. t test antara X1 (ROE) dengan Y (PBV) menunjukkan t hitung = 6,373.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual Sum of
Squares df Mean
Square F Sig.
Regression 127.998 5 25.600 47.122 0.000 Residual 75.513 139 0.543
Total 203.510 144
T Hitung
Sig.
Keterangan
(Constant) 3.586 0.000
ROE 6.373 0.000
Berpengaruh signifikan
CR 2.060 0.041
Berpengaruh signifikan
DER -7.759 0.000
Berpengaruh signifikan
Inflasi 0.160 0.873
Tidak Berpengaruh
Signifikan
Suku Bunga -3.139 0.002
Berpengaruh signifikan
=139) adalah sebesar 1,977. Karena t hitung > t tabel yaitu 6,373 > 1,977 atau sig. t (0,000) < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa PBV dapat dipengaruhi oleh ROE.
2. t test antara X2 (CR) dengan Y (PBV) menunjukkan t hitung = 2,060.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual
=139) adalah sebesar 1,977. Karena t hitung > t tabel yaitu 2,060 > 1,977 atau sig. t (0,041) < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa PBV dapat dipengaruhi oleh CR.
3. t test antara X3 (DER) dengan Y (PBV) menunjukkan t hitung = 7,759.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual
=139) adalah sebesar 1,977. Karena t hitung > t tabel yaitu 7,759 > 1,977 atau sig. t (0,000) < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat
disimpulkan bahwa PBV dapat dipengaruhi oleh DER.
4. t test antara X4 (Inflasi) dengan Y (PBV) menunjukkan t hitung = 0,160.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual
=139) adalah sebesar 1,977. Karena t hitung < t tabel yaitu 0,160 < 1,977 atau sig. t (0,873) > α = 0.05 maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa PBV tidak dapat dipengaruhi oleh Inflasi.
5. t test antara X5 (Suku Bunga) dengan Y (PBV) menunjukkan t hitung = 3,139.
Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual
=139) adalah sebesar 1,977. Karena t hitung > t tabel yaitu 3,139 > 1,977 atau sig. t (0,002) < α = 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa PBV dapat dipengaruhi oleh Suku Bunga.
Uji R2
Hasil Uji R2
R R Square Adjusted R Square
0.793 0.629 0.616
Sumber : Data SPSS diolah, 2020
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil adjusted R2(koefisien determinasi) sebesar 0,616. Artinya bahwa 61,6%
variabel Nilai Perusahaan akan dipengaruhi oleh variabel bebasnya, yaitu Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Inflasi, dan Suku Bunga. Sedangkan sisanya 38,4% akan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan pada penghitungan analisis regresi linier berganda, sehingga dapat diketahui :
1. Variabel Return on Equity (ROE) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Price Book Value (PBV). Hal ini berarti investor dan calon investor perlu memperhatikan Return on Equity (ROE) sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya.
2. Variabel Current Ratio (CR) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Price Book Value (PBV). Hal ini berarti investor dan calon investor perlu memperhatikan Current Ratio (CR) sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya.
3. Variabel Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Price Book Value (PBV). Hal ini berarti investor dan calon investor perlu memperhatikan Debt to Equity Ratio (DER) sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya.
4. Variabel Inflasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Price Book Value (PBV). Hal ini berarti investor dan calon investor perlu memperhatikan Inflasi sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya.
5. Variabel Suku Bunga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Price
Book Value (PBV). Hal ini berarti investor dan calon investor perlu memperhatikan Suku Bunga sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasinya.
Saran
1. Bagi Perusahaan dharapkan untuk dapat mengontrol dan menjaga kestabilan pada rasio Return on Equity (ROE), Current Ratio (CR), dan terutama pada Debt to Equity Ratio (DER). Hal tersebut dikarenakan Debt to Equity Ratio (DER) pengaruh yang paling signifikan dalam mempengaruhi nilai perusahaan. Oleh karena itu perusahaan diharapkan untuk selalu memprioritaskan penggunaan dana internal perusahaan dibandingkan dengan dana eksternal seperti utang dan penerbitan saham sehingga menunjukkan sinyal positif terhadap investor dan meningkatkan nilai perusahaan.
2. Bagi Investor, disarankan menggunakan Price Book Value (PBV) untuk mengetahui tingkat kewajaran harga suatu saham. Di samping itu, Investor disarankan untuk menggunakan variabel yang digunakan pada penelitian ini, antara lain : Return on Equity (ROE), Current Ratio (CR), dan Debt to Equity Ratio (DER) sebagai faktor yang mendorong pergeraakanya nilai perusahaan tersebut.
3. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambahkan variabel lain sebagai variabel independen, baik berasal dari variabel kinerja keuangan maupun pada variabel kondisi makroekonomi yang tidak diangkat pada penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham, E. F., and Daves, P. R. 2014.
Intermediate Financial Management. 12th edition. Cengage Learning, Canada.
Brigham, E. F., and Ehrhardt, M. C. 2015.
Financial Management: Theory and Practice. 3th edition. Cengage Learning, Canada.
Brigham, E. F., dan Houston, J. F. 2014.
Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi Kesebelas. Buku Satu. Salemba Empat, Jakarta.
Ghozali, I. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete dengan program IBM SPSS 23.
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. 2019. Analisis perkembangan industri edisi IV 2018. Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertahanan biasa.
Jakarta.
N. Kalbuana., Khumairoh., H. Mulyati.,
"Pengaruh Leverage, Profitabilitas, dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai
Perusahaan", Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Alfilail., "Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, Kebijakan Dividen, Inflasi, dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Nilai Perusahaan".
Fakultas Ekonomi dan Binis, Universitas Multimedia Nusantara.
Sudiarto., "Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, Kebijakan Deviden dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Nilai Perusahaan".
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Chabachib, et al., "Analysis of Company Characteristics of Firm Values:
Profitability as Intervening Variables". Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro Semarang