2. Fleksibilitas (flexibility)
Fleksibilitas pada atribut surveilans dinilai melalui kemampuan sistem surveilans untuk mengakomodasi perubahan informasi atau menyesuaikan diri dengan sedikit kebutuhan biaya, tenaga dan waktu (Isep et. al, 2017). Berdasarkan analisis jurnal yang dilakukan diketahui bahwa surveilans malaria di Benue, Nigeria dinilai fleksibel. Hal tersebut disebabkan oleh sistem surveilans malaria yang dapat menyesuaikan diri baik terhadap pedoman baru dan modifikasi alat pengambilan data. Pedoman baru diagnosis malaria yang digunakan merupakan pedoman tahun 2015, dimana pedoman awal yang digunakan pada tahun 2011 adalah diagnosis klinik dan monoterapi dan pedoman baru menggunakan RDT (Rapid Diagnostig Test) dan ACT (Artemisinin Based Combination Therapy). Selain itu, sumber daya utama yang digunakan adalah staff RBM yang dilatih dan diawasi untuk melakukan system surveilans yang dapat beradaptasi dengan alat dan pedoman baru.
REFERENSI:
Isep, & Santoso, S. B. (2017). Modul Pelatihan Surveilans EPIDEMIOLOGI BAGI PETUGAS PUSKESMAS. KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN POLTEKNIK KESEHATAN JAMBI.
http://siakpel.bppsdmk.kemkes.go.id:8102/akreditasi_kurikulum/modul_211008102717924 2c88e21b52208b572d503be3c716c.pdf