Pengaruh Konsentrasi HCl terhadap Vigor Benih Tomat (Solanum lycopersicum) Varietas Permata
Mahasiswa 1 (NIM), Mahasiswa 2 (NIM), Mahasiswa 3 (NIM), Mahasiswa 4 (NIM), Dst.
Asisten : Nama (NIM)
Dosen : Eri Mustari dan Yeyet Setiawati
Program Studi Rekayasa Pertanian, Sekolah Ilmu Dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Jatinangor
ABSTRAK
Biji tomat yang biasa digunakan sebagai benih tomat mengandung lendir yang dapat menghambat perkecambahan tanaman tomat. Lendir tersebut menyelimuti biji dan menyumbat lubang perkecambahan pada biji tomat. Hal ini dapat disebut dormansi fisik. Dormansi fisik yang disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang mengandung lendir sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam benih tanaman.
Besarnya daya berkecambah benih dan benih yang dihasilkan pada keadaan yang suboptimum menunjukkan vigor benih. Penggunaan HCl pada ekstraksi benih mampu mematahkan dormansi benih karena asam yang digunakan selain membersihkan lendir yang menempel pada benih juga meningkatkan permeabilitas kulit benih. Namun, penggunaan HCl yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan benih atau menurunnya vigor benih. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode UKDdp dimana benih tomat akan ditanam dalam substat kertas merang dan diberikan HCl dengan konsentrasi yang berbeda serta diamati pada hari ke 4 dan 7 hari setalah tanam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan vigor benih tomat (Solanum licopersicum) terhadap larutan HCl dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%
melalui uji kertas digulung dengan plastik (UKDdp). Kesimpulan yang diperoleh adalah benih tomat yang diujikan tidak memiliki vigor terhadap larutan HCl dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% melalui uji UKDdp.
Kata kunci : benih tomat, inhibitor, larutan HCl, vigor ABSTRACT
Tomato seeds contain mucus that can inhibit germination of tomato plants. The mucus envelopes the seeds and clogs the germicides of the tomato seeds. This is called physical dormancy. Physical dormancy is caused by structural reinforcement, such as the skin that becomes the main mechanism of entry of air or gases into plant seeds. The amount of germination of seeds and seeds produced in the suboptimum area shows the vigor of the seed. The use of HCl in seed extraction is capable of breaking seed dormancy due to the acid used to clean the seeds. However, the use of HCl may damage seed or decrease the vigor of the seed. This study was conducted using UKDdp method where tomato seeds would be planted in a paper substrate and given HCl with different
concentrations and could be used on days 4 and 7 days after planting. This study aims to determine the vigor of tomato seeds (Solanum licopersicum) on the HCl price with concentrations of 1%, 2%, 3%, 4%, and 5% of the plastic rolled paper test (UKDdp).
The conclusions obtained were that the tested tomato seeds did not have a vigor against HCl solution with concentrations of 1%, 2%, 3%, 4%, and 5% through the UKDdp test.
Keywords : HCl solution, inhibitor, tomato seeds, vigor
PENDAHULUAN
Tomat memiliki nama latin Solanum lycopersicum merupakan salah satu tanaman hortikultura yang digemari oleh banyak orang karena merupakan sumber vitamin. Tomat merupakan komoditas hortikultura yang masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasil dan kualitas buahnya (Prasetya et al. 2017). Pengoptimalan pertumbuhan tomat dipengaruhi oleh benih yang ditanam. Semakin baik benih yang ditanam maka semakin bagus pula hasil yang diperoleh. Salah satu penentu benih yang baik adalah vigor benih.
Lendir pada buah tomat merupakan zat inhibitor bagi benih tomat. Lendir yang menempel pada
benih akan menghambat
perkecambahan. Zoran dan S. Ljubomir (2014) menyebutkan bahwa distribusi likopen dalam buah tomat tidak seragam, meskipun kandungan likopen tidak sebanyak pada kulit buah tomat, lendir dan cairan buah tomat juga mengandung likopen. Lendir tersebut menyelimuti biji dan menyumbat lubang perkecambahan pada biji tomat.
Hal ini dapat disebut dormansi fisik.
Dormansi fisik yang disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang mengandung lendir sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam benih tanaman (Sutopo, 2012).
Penggunaan HCl pada ekstraksi benih dilaporkan memberikan hasil terbaik, karena asam yang digunakan selain membersihkan lendir yang menempel pada benih juga meningkatkan permeabilitas kulit benih (Sadjad, 1980).
Delouche (1971) menyatakan bahwa tingkat vigor awal benih tidak dapat dipertahankan, dan benih yang disimpan selalu mengalami proses kemunduran mutunya secara kronologis selama penyimpanan.
Vigor adalah kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapangan yang optimum maupun suboptimum (Sadjad, 1994). Sifat kemunduran ini tidak dapat dicegah dan tidak dapat balik atau diperbaiki secara sempurna. Laju kemunduran mutu benih hanya dapat diperkecil dengan
melakukan pengolahan dan
penyimpanan secara baik. Berapa lama benih dapat disimpan sangat bergantung pada kondisi benih terutama kadar air benih dan lingkungan tempatnya menyimpan.
Sifat kimia tanah juga berpe- ngaruh terhadap pertumbuhan tanam- an. Sifat kimia tersebut merupakan derajat keasaman tanah (pH). Tanaman tomat akan tumbuh baik bila ditanam pada tanah yang memiliki pH 5,5 – 6,8.
Namun, tanaaman tomat masih toleran pada pH di bawah 5,5 hingga 5. Tanah
yang memiliki nilai pH rendah tidak cocok untuk tanaman tomat. Oleh karena itu, pengujian vigor tomat terhadap tingkat derajat keasaman perlu untuk dilakukan (Cahyono, 2008).
Berdasarkan paparan tersebut, perlu dilakukan penelitian kecil tentang pemberian HCl terhadap vigor benih.
Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan vigor benih tomat (Solanum licopersicum) terhadap larutan HCl dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% melalui uji kertas digulung dengan plastik (UKDdp).
ALAT DAN BAHAN CARA KERJA
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
0% 1% 2% 3% 4% 5%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
Persentase Potensi Berkecambah Benih Tomat Pengu- langan I
FDC LDC
Konsentrasi HCl
Potensi Berkecambah
Grafik 1. Persentase Potensi Berkecambah Benih Tomat Pengulangan I
0% 1% 2% 3% 4% 5%
0%
20%
40%
60%
100%80%
Persentase Daya Berkecambah Benih Tomat Pengulangan I
FDC LDC
Konsentrasi HCl
Daya Berkecambah
Grafik 2. Persentase Daya Berkecambah Benih Tomat Pengulangan I dst
Berdasarkan data Grafik 1 dan 2 bahwa kecambah hidup dan normal pada pengulangan 1 tertinggi terdapat pada perlakuan HCl 0 % dan tidak berbeda jauh pada pengulangan 2 perlakuan HCl 0 % yang terdapat pada Grafik 3 dan 4. Hal ini diduga karena cekaman terhadap benih oleh HCl, sehingga benih tomat tetap mempertahankan diri dalam kondisi dorman. Hal ini tidak sesuai dengan hasil percobaan Raganatha, et al (2014) yang mengatakan benih hasil teknik ekstraksi benih perendaman dengan HCl 2%
mampu mempertahankan viabilitas daya kecambah benih di atas 80% sampai masa simpan 12 minggu dengan vigor kecepatan berkecambah cukup tinggi.
Berdasarkan data pengamatan, terdapat benih yang dorman bahkan mati akibat terjadinya penurunan viabilitas dan vigor benih. Meknanisme yang terjadi pada kondisi penyimpanan benih terhadap asam kuat yaitu larutan dari asam kuat memfasilitasi lignin pada benih sehingga benih memiliki celah. Celah yang terbentuk mengakibatkan air maupun zat kimia lainnya dapat dengan mudah masuk sehingga menyebabkan benih menjadi rusak.
Kerusakan pada kulit benih yang disebabkan oleh asam kuat menyebabkan zat asam tersebut masuk ke dalam benih dan merusak embrio (Sutopo, 2012).
Selama pengujian vigor, benih disimpan dengan menggunakan metode UKDdp. Uji Kertas Digulung dalam plastik (UKDdp) dilakukan untuk memperkuat kertas substrat agar tidak tembus oleh akar yang dapat mengakibatkan kertas substrat menjadi
rusak sehingga pengamatan menjadi sulit dilakukan. Media kertas digulung akan mempermudah mengontrol suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kondisi air dari media untuk pertumbuhan benih yang optimal (Suwarno dan Hapsari 2008).
Metode ini pula, HCl menjadi tersimpan lebih lama dalam benih. HCl merupakan
bahan kimia yang sering digunakan dalam perlakuan pematahan dormansi. Perlakuan asam kuat mampu menguji vigor benih melalui kecepatan tumbuhnya. Benih yang mempunyai kecepatan perkecambahan yang tinggi menunjukkan bahwa benih tersebut memiliki vigor tumbuh dan daya simpan yang tinggi dan akan menghasilkan tanaman yang tahan terhadap keadaan lingkungan (Kartasapoetra, 2003).
Penyimpanan benih menghasil-kan kecepatan berkecambah yang semakin menurun dengan semakin lama periode penyimpanan. Penurunan nilai rata-rata kecepatan berkecambah menunjukkan bahwa benih mengalami penurunan daya kecambah selama proses penyimpanan dengan diikuti peningkatan persentase kadar air. Hal ini merupakan gejala biologis yang dialami oleh benih selama penyim-panan. Proses biologis yang dialami oleh benih selama penyimpanan salah satunya adalah proses metabolis-me, terutama proses respirasi yang terkait dengan proses kemunduran mutu benih. Kemunduran mutu benih selama penyimpanan dapat terjadi apabila cadangan makanan untuk pertumbuhan embrio berkurang atau habis akibat proses metabolisme respirasi (Damanik, 2010) KESIMPULAN
Benih tomat yang diujikan tidak memiliki vigor terhadap larutan HCl konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% melalui uji UKDdp.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, Bambang. 2008. Tomat, Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen.
Yogyakarta: Kanisius Menggunakan apa style 7th
5