HUBUNGAN TINGKAT NYERI TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS PADA PASIEN CA MAMMAE DI RUMAH SAKIT
CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA TAHUN 2019
Oleh:
MIARLI HARTA MULYANAH NIM: 011721054
UNIVERSITAS BINAWAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JAKARTA
2019
i
HUBUNGAN TINGKAT NYERI TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS PADA PASIEN CA MAMMAE DI RUMAH SAKIT
CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA TAHUN 2019
Oleh:
MIARLI HARTA MULYANAH NIM: 011721054
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN UNIVERSITAS BINAWAN
JAKARTA 2019
ii
TUGAS AKHIR INI ADALAH HASIL KARYA SENDIRI, DAN SEMUA SUMBER BAIK DIKUTIP MAUPUN DIRUJUK TELAH DINYATAKAN
BENAR.
MIARLI HARTA MULYANAH NIM: 011721054
Jakarta, Juli 2019 Peneliti
MIARLI HARTA MULYANAH
v
Sebagai sivitas akademis Universitas BINAWAN Jakarta, saya yang bertanda tangan dibawah ini:
NAMA : MIARLI HARTA MULYANAH
NIM : 011721054
Program Studi : Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Tugas Akhir Riset
Demi mengembangkan ilmi pengetahahuan, menyetujui memberikan hak kepada Universitas BINAWAN Jakarta Hak Bebas Royalti Non Eksekutif (Non Excekutive Royalty Free) untuk mempublikasikan skrispi saya dengan Judul:
“HUBUNGAN TINGKAT NYERI TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS PADA PASIEN CA MAMMAE DI RUMAH SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA TAHUN 2019”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan) dengan Hak Bebas Royalti Noneksekutif (Non Excekutive Royalty Free) Univeristas BINAWAN Jakarta berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dengan Hak Cipta.
Demikianlah pernyatan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta Pada taanggal : Juli 2019 Yang menyatakan :
(MIARLI HARTA MULYANAH)
vi
Nama : MIARLI HARTA MULYANAH
Tempat Dan Tanggal Lahir : Kuningan, 03 Maret 1968 Pekerjaan Terakhir : Perawat RSCM
Alamat :
- Villa Mutiara Blok N84 No. 3 RT/RW 02/14 Wanajaya Cibitung, Bekasi
Alamat Institusi : Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta Riwayat Pendidikan :
- SPK Cipto Mangunkusumo Tahun 1986 - DIII Akademi Keperawatan Politeknik
Jakarta III, Tahun 2001
- S1 Ilmu Keperawatan UNIVERSITAS BINAWAN
Riwayat Pekerjaan :
Dari tahun 1986 s/d sekarang di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo
vii
Puji tuhan yang maha kuasa atas berkat Allah SWT yang maha kuasa atas segalah Nikmat-NYA serta junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW karena dengan berkat dan berkah dari beliaulah sehingga penulis dapat menyelesaikan Hasil Penelitian ini yang berjudul ”Hubungan Tingkat Nyeri Terhadap Kemampuan Aktifitas Pada Pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2019” Hasil penelitian ini susun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas akhir dan penyelesaian mata ajaran Riset Keperawatan. Selama proses penyusunan penelitian ini, peneliti selalu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Drs.M. Sofyan Hawadi sebagai Rektor Universitas Binawan Jakarta yang telah membantu dan memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian.
2. Bapak Dr. .Aan Sutandi,S.Kep.Ns,.MN. Ketua prodi S1 Keperawatan Universitas Binawan Jakarta
3. Ibu Ns. Handayani.S.Kep., M. Kep., Sp. Mat selaku Koordinator Mata Ajar Nursing Inquiry. program Studi S1 Keperawatan Universitas Binawan Jakarta 4. Ibu Ns. Ulfah Nuraini Karim,S.Kep.,M.Kep Pembimbing pertama yang telah
membantu menuntun dan memberikan saran demi kelancaran dan juga tercapainya pembuatan laporan penelitian ini dengan sebaik baiknya
5. Ibu Dr Aliana Dewi,S.Kp.,MN selaku dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan arahan dan dukungan selama penyusunan laporan penelitian ini
6. Ns.Zuriyati ,S.Kep.,M.Kep ,selaku penguji yang telah memberikan masukan dan bimbingan selama ujian.
7. Seluruh staf dosen pengajar di prodi Ilmu Keperawatan Universitas Binawan Program B RSCM angkatan 2017 yang sama sama berjuang menyelesaikan proses perkuliahan
8. Keluarga saya tercinta suami dan anak-anak yang selalu mendukung saya dalam melakukan penyusunan hasil penelitian ini
9. Teman–teman angkatan program Sarjana Keperawatan yang telah membantu semua kegiatan baik belajar mengajar selama Studi di S1 Universitas Binawan Jakarta.
viii
Penulis
ix UNIVERSITAS BINAWAN
Laporan Penelitian Juli, 2019
Mulyanah, Miarli Harta
Hubungan Tingkat Nyeri Terhadap Kemampuan Aktifitas Pada Pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2019
xviii+ 7 BAB + 72 Halaman + 10 tabel + 10 Lampiran ABSTRAK
Kanker merupakan suatu ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat, karena insiden dan angka kematiannya terus meningkat. Kanker payudara mengakibatkan para penderitanya mengalami kecemasan terhadap proses pengobatan yang akan dijalaninya, tingkat nyeri pada pasien kanker berpengaruh terhadap kemampuan aktifitas (Nuracmah, 2015). Kemampuan aktifitas ada pada pasien kanker payudara sangat diperlukan, karena hal tersbut dapat meningkatkan produktifitas dan pengobatan selama menjalani perawatan di rumah sakit (Mulyadi, 2015). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat nyeri terhadap kemampuan aktifitas pada pasien Ca Mammae di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2019.
Jenis penelitian deskriptif koralasi, dengan metode pendekatan Cross-Sectional.
Jumlah sampel 42 responden dengan uji koefisiensi korelasi menggunakan Spearman’s Rho. Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat nyeri ringan sebanyak 54,8% dan ketergantungan ringan 51,4%. Ada hubungan bermakna antara tingkat nyeri terhadap kemampuan aktifitas pada pasien Ca Mammae dengan nilai p value:
0,010 berarti p<α dimana nilai α:0,05. Disimpulkan bahwa tingkat nyeri dapat mempengaruhi kemampuan aktifitas, semakin tinggi tingkat nyeri maka semakin tinggi tingkat ketergantungan, diharapkan rumah sakit mampu memberikan edukasi pelayanan untuk menurunkan tingkat nyeri pada pasien Ca Mammae.
Kata Kunci: Carsinoma Mammae, Tingkat Nyeri, Kemampuan Aktifitas
x UNIVERCITY OF BINAWAN
Research Report June, 2019
Mulyanah, Miarli Harta
The Correlations Of Pain Level To Activity Ability In Ca Mammae Patients At Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta In 2019
xviii + 7 CHAPTER + 72 Pages + 10 tables + 10 Attachments
ABSTRACT
Cancer is a serious threat to public health, because the incidence and mortality rates continue to creep up (LeMone & Burke, 2015). Breast cancer has made sufferers experience anxiety about the treatment process that will be carried out, the level of pain in cancer patients affect the ability of activities (Nuracmah, 2015). The purpose of this study was to determine the relationship of the level of pain to the ability of activity in Ca Mammae patients at Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta in 2019.
This type of descriptive study was a correlation, with a Cross-Sectional approach.
Total sample of 42 respondents. Test results for Spearmans Rho. The results showed that the level of mild pain was 54.8% and mild dependence was 51.4%. there is a relationship between the level of pain to the ability of activity in patients with Mammae Ca with a value of p value: 0.010 means p <α where the value of α: 0.05. It was concluded that the level of pain can affect the ability of the activity, the higher the level of pain, the higher the level of dependence, the hospital is expected to be able to provide service education to reduce pain levels in Ca Mammae patients.
Keywords: Mamma Carsinoma, Pain Level, Activity Ability
xi
HALAMAN
HALAMAN PERNYATAN ORISNALITAS ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LAPORAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK... ... vii
ABSTRACT ENGLISH ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DFATAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR BAGAN ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Konsep Nyeri ... 7
2.1.1 Definisi ... 7
2.1.2 Klasifikasi Nyeri ... 8
2.1.3 Skala Pengukuran Nyeri ... 9
2.1.4 Format Instrumen Nyeri ... 13
2.1.5 Patofisiologi dan Pathway Nyeri ... 15
2.2 Konsep Kemampuan Aktivitas ... 18
2.2.1 Definisi Aktivitas ... 18
2.2.2 Jenis Kemampuan Aktivitas ... 18
2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Aktivitas ... 19
2.2.4 Skala Pengukuran Kemampuan Aktifitas ... 2.3 Fakor Yang Mempengaruhi Nyeri Dan Kemampuan Aktifitas ... 25
2.4 Kerangka Teori ... 30
xii
3.2 Definisi Operasional ... 32
3.3 Hipotesis ... 33
BAB IV METODE PENELITIAN ... 34
4.1 Desain penelitian ... 34
4.2 Populasi dan sampel ... 34
4.3 Tempat penelitian ... 36
4.4 Waktu penelitian ... 37
4.5 Etika penelitian ... 37
4.6 Prosedur Pengumpulan data ... 39
4.7 Pengumpulan data... 40
4.8 Alat Pengumpulan data ... 41
4.9 Pengelolaan data Dan Analisis data ... 43
BAB V HASIL PENELITIAN ... 58
5.1 Analisa Univariat ... 58
5.2 Analisa Bivariat ... 60
BAB VI PEMBAHASAN ... 62
6. 1 Analisa Univariat ... 62
6. 2 Analisa Bivariat ... 67
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 70
7.1 Kesimpulan ... 70
7.2 Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiii
Tabel 2.1 Format Instrumen Nyeri ... 13
Tabel 2.2 Instrument Pengkajian Dengan Indeks Barthel. ... 21
Tabel 2.3 Penilaian Indeks Katz... 23
Tabel 2.4 Modifikasi Indeks Kemandirian Katz ... 24
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 33
Tabel 4.1 Tingkat Reabilitas Dengan Pengukuran Alpha ... 51
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik ... 58
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Skala Nyeri ... 58
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kemampuan Aktivitas ... 59
Tabel 5.4 Hubungan Tingkat Nyeri Terhadap Kemampuan Aktifitas ... 60
xiv
Gambar 2.1 Penilaian Skala Nyeri Visual Comparative Pain Scale ... 10 Gambar 2.2 Skala Nyeri Wong-Baker FACES Pain Rating Scale ... 15
xv
Bagan 2.2 Kerangka Teori ... 30 Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 32
xvi
Lampiran 1: Lembar Permohonan Menjadi Responden Lampiran 2: Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3: Lembar Petunjuk Pengisian Kuesioner Lampiran 4: Kuesioner
Lampiran 5: Laporan Pembimbing Materi Penelitian Lampiran 6: Surat Izin Penelitian RSCM
Lampiran 7: Jadwal Kegiatan Penelitian
Lampiran 8: Surat Balasan Persetujuan Penelitia Lampiran 9: Lembar Hasil Uji Univariat dan Bivariat
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Kanker merupakan suatu ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat, yang menyebabkan insiden kematian meningkat. Menurut American Cancer Society (ACS) tahun 2015 menyatakan sekitar 1.399.790 kasus baru kanker didiagnosis pada 2006 di Amerika (LeMone & Burke, 2015). Menurut LeMone & Burke, (2015) mengungkapkan bahwa satu dari empat kematian disebabkan oleh kanker dan lebih dari 1500 orang meninggal akibat penyakit kanker setiap harinya.
Menurut Anne (2011) menyebutkan angka kematian terbesar dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, kanker menduduki urutan ke 2 setelah penyakit jantung dan stroke. Di Indonesia lebih kurang 6% atau 13,2 juta jiwa penduduk Indonesia menderita penyakit kanker dan memerlukan pengobatan sejak dini. Angka tersebut hampir sama dengan beberapa negara berkembang lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Depkes RI tahun 2014 bahwa kanker merupakan penyebab kematian ke-5 di Indonesia setelah penyakit jantung, stroke, penyakit saluran pernafasan dan diare (Depkes RI, 2014).
Penyakit Kanker Mammae merupakan kanker terbanyak pada wanita dimana setiap jenis pengobatan terhadap penyakit ini dapat menimbulkan masalah fisiologis, psikologis dan social. Perubahan citra tubuh akibat perubahan fisik yang disertai pengobatan menjadi respon psikologis yang amat menekan bagi penderita Ca Mammae. Ca Mammae telah membuat para
1
penderitanya mengalami kecemasan terhadap proses pengobatan yang akan dijalaninya, sehingga mempengaruhi konsep diri yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hubungan interpersonal pasien, termasuk pada pasangan hidupnya (Depkes, 2011).
Berdasarkan estimasi Globocan dalam International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, Ca Mammae adalah kanker dengan persentase kasus baru tertinggi (43,3%) dan persentase kematian tertinggi (12,9%) pada perempuan di dunia (AJCC, 2016). Di Indonesia, lebih kurang 6% atau 13,2 juta jiwa penduduk Indonesia menderita penyakit kanker dan memerlukan pengobatan sejak dini dimana angka tersebut hampir sama dengan beberapa negara berkembang lainnya
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi Ca Mammae di Indonesia mencapai 0,5 per 1000 perempuan, sedangkan di provinsi Jawa Tengah telah mencapai 0,7 per 1000 perempuan (Kemenkes RI, 2015). Sedangkan prevalensi Ca Mammae di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yaitu pada bulan bulan Januari 90 kasus (76,8%), Februari 82 kasus (66,4%), Maret 103 kasus (58,9%), April 78 kasus (76,0%), Mei 63 kasus (84,9%) Juni 54 kasus (77,6%) Juli 92 kasus (69,9%) dengan rata-rata perbulan kasus Ca Mammae sebanyak 76,9% lebih tinggi dibandingkan dengan kasus Ca Thyroid dan Ca Colon (Data RM RSCM Lantai IV Januari- Juli 2018).
Nyeri merupakan keluhan yang paling umum dikeluhkan seorang pasien untuk mencari perawatan kesehatan dibandingkan dengan keluhan lainnya dan nyeri juga sebagai pengalaman sensori dibawa oleh stimulus
sebagai akibat adanya ancaman dan kerusakan aktual dan potensial (Prasetyo, 2010).
Menurut Anne dan Brams (2012) melaporkan nyeri pasien Ca Mammae ditemukan pada 30-70% pasien dengan derajat sedang sampai berat.
Penelitian lain menunjukkan bahwa meskipun insidensi nyeri Ca Mammae telah berkurang 2% tiap tahun selama 30 tahun terakhir, namun 30% pasien masih merasakan nyeri sedang dan 11% pasien lainnya mengeluhkan nyeri berat (Holdcroft, 2015). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurhafizah & Erniyati (2012) di RSUP H. Adam Malik Medan, menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Ca Mammae merasakan intensitas nyeri sedang (57,4%), diikuti dengan intensitas nyeri ringan (22,2%), dan sisanya pasien dengan intensitas nyeri berat (20,4%).
Pengukuran tingkat dan respon nyeri yang paling sering digunakan dalam melakukan pengukuran nyeri adalah Skala Visual analog scale (VAS) yakni psikometri skala respon yang dapat digunakan dalam kuesioner untuk mengukur karakteristik subjektif atau sikap yang tidak dapat diukur secara langsung (Black, at al, 2014)
Kemampuan aktifitas pada pasien Ca mammae sangat perlu dilakukan, kemampuan Aktivitas Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk berjalan bangkit berdiri dan kembali ke tempat tidur, kursi, kloset duduk, dan sebagianya disamping kemampuan mengerakkan ekstermitas (Anne, 2014).
Kemampuan aktifitas seseorang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni tingkat nyeri yang dialami, adanya penekanan pada luka, pasien lansia, adanya sebuah dorongan dan dukungan dari keluarga. Jika semua hal tersebut
minimal maka semua itu dianggap mampu meningkat aktifitas terjadinya Ca mammae.
Penelitian yang dilakukan oleh Lancet (2015) menjelaskan bahwa tingkat nyeri sangat mempengaruhi kemampuan aktifitas seseorang, semakin minimal nyeri yang terjadi pada pasien Ca Mammae maka semakin baik aktifitas yang dilakukan pasien Ca Mammae. Nyeri yang terjadi pasien Ca Mammae bisa diminimalkan selain dengan analgetik juga dengan mobilisasi secara bertahap.
Berdasarkan data yang telah dipaparkan diatas, tingginya angka pasien Ca mammae khususnya di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangukusumo Jakarta Pusat yang dijadikan lokasi/tempat penelitian. Maka dengan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat nyeri dengan kemampuan aktifitas pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018.
1.2 Rumusan Masalah
Nyeri pada pasien Ca Mammae merupakan suatu kewajaran akan tetapi jika nyeri tidak ditangani dengan baik maka akan mempengaruhi aktifitas pada pasien Ca Mammae, maka dengan demikian peneliti tertarik untuk melihat “Hubungan Tingkat Nyeri Terhadap Kemampuan Aktifitas Pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018? “.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Diketahui Hubungan Tingkat Nyeri Terhadap Kemampuan Aktifitas pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahui gambaran karakteristik demografi responden (Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Ras Dan Status Pernikahan) di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018.
1.3.2.2 Diketahui distribusi frekuensi tingkat nyeri pada pasien Ca Mammae di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018.
1.3.2.3 Diketahui distribusi frekuensi kemampuan aktifitas pada pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018.
1.3.2.4 Diketahui hubungan tingkat nyeri terhadap kemampuan aktifitas pada pasien Ca Mammae Di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2018
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil yang diharapkan dalam penelian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Bagi Pasien
Hasil Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan pasien terhadap kebutuhan aktivitas dan penurunan skala nyeri, sehingga pasien dapat melakukan penanganan rasa nyeri dan meningkatkan kebutuhan aktivitas lainnya selama dalam perawatan medis dapat dilakukan dengan maksimal.
1.4.2 Bagi Rumah Sakit.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menurunkan nyeri untuk meningkatkan kemampuan aktivitas pada pasien Ca mammae.
Mengetahui metode teknologi dan manajemen nyeri pada pasien Ca Mammae untuk meningkatkan kemampuan aktivitas selama perawatan medis di rumah sakit.
1.4.3 Bagi Profesi keperawatan
Penelitian ini dapat menjadikan salah satu pedoman dalam penurunan nyeri untuk meningkatkan aktifitas pasien Ca mammae serta diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian terkait dengan hal yang sama yakni tentang perawatan pasien Ca mammae dengan metode yang lebih mendalam baik di Rumah Sakit, Balai pengobatan, puskemas rawat inap dan sebagainya.
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu pedoman atau referensi oleh Mahasiswa Keperawatan Universitas Binawan untuk melakukan penelitian dalam bidang metodologi penanganan nyeri Ca mammae untuk meningkatkan aktifitas pasien dengan Ca mammae akan tetapi lebih dalam sampai pada eksperimen yang kuat sehingga penelitian selanjutnya dapat berkembang secara maksimal serta memperbanyak referensi di Perpustakaan Universitas Binawan sebagai pendukung pembelajaran Mahasiswa di Universitas Binawan.
1.4.5 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil dari peneltian ini maka diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi nyeri dan kemapuan aktivitas pada pasien Ca Mammae kemudian melakukan penelitian tentang teknologi penatalaksanaan nyeri pada pasien Ca Mammae dan penyebab lain dari kurangnya kemampuan aktivitas ada pasien Ca Mammae untuk meningkatkan perawatan dan tindakan selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 KONSEP CA MAMAE 2.1.1 Definisi
Ca mamae adalah kanker yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara(Luwia,2003). Menurut Cahyani cit Pramadhiani (2000) kanker payudara adalah benjolan pada payudarayang tumbuh secara abnormal terus menerus dan tidak terkendali.
2.1.2 Etiologi
Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat faktor faktor ;
a. Genetik.
b. Hormonal : Hormon steroid yang dihasilkan oleh ovarium mempunyai peran penting dalam kanker payudara.
c. Lingkungan : yaitu keadaan lingkungandengan paparan sinar radioaktif,sinar x dan pencemaran bahan bahan kimia.
d. Berat badan : bisa mempengaruhi terjadinya kanker payudara karena simpanan lemak adalah sumber produksi hormon estrogen.
8
2.1.3 Fatopisiologi
Kanker payudara terbanyak menyerang sebelah kiri daripada sebelah kanan, dan lebih sering pada bagian sebelah atas. Kanker payudara tersebar melalui sistem limpa dan aliran darah melalui bagian kanan jantung ke paru paru dan sampai kembali ke payudara sebelahnya, dinding dada tulang dan otak.
Stadium 1 : Tumor 2 Cm
Stadium II : Tumor 2-5 cm, metastase ke kelenjar getah bening Ketiak
Stadium III : Tumor > 5cm metastase ke kelenjar getah bening ketiak dan menyebar ke kulit / dinding dada
Stadium IV : Tumor metastase kas.
2.1.4 Penatalaksanaan
a. Mastektomi atau lumpektomi , dengan diseksi kelenjar getah bening aksila.
b. Radiasi atau antiestrogen untuk tumor yang + reseptor estrogenya.
c. Rekonstruksi payudara.
d. emberian konseling dan dukungan nya.
e. Pembedahan atau biopsi.
f. Terapi radiasi.
g. Kemoterapi.
2.1.5 Komplikasi
Dapat metastasi luas. Tempat metastase adalah; otak, paru tulang,hati dan ovarium. Angka bertahan hidup bergantung pada stadium. 7 klasifikasi TNM kanker payudara(AJCC):
T ( Tumor Primer )
1. TX : Tumor primer tidak dapat ditemukan.
2. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer.
3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor.
4. T1 : Tumor < 2cm.
T1a : Tumor < 0,5cm.
T1b : Tumor 0,5-1cm T1c : Tumor 1-2cm 5. T2 : Tumor 2-5cm 6. T3 : Tumor diatas 5cm
7. T4 ; Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorak atau kulit.
T4a : Melekat pada dinding dada.
T4b : Edema kulit ,ulkus, peau d’orange, satelit T4c : T4a dan T4b
T4d : Mastitis karsinomatosis Nodul limfe regional (N)
1. NX : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan 2. NO : Tidak teraba kelenjar axilla
3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat
4. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axilla homolateral yang melekat satu sam lain atau melekat pada jaringan sekitarnya.
N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral.
Metastase jauh (M)
1. MX : Metastase jauh tidak dapat ditemukan.
2. M0 : Tidak ada metastase jauh
3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula.
2.2 KONSEP NYERI 2.2.1 Definisi
Nyeri adalah sensasi subjektif rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Ketika suatu jaringan mengalami cedera atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin dan prostagladin yang akan mengakibatkan respon nyeri. Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri (Potter & Perry, 2009).
International Association for the Study of Pain, (2011) mendefinisikan nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan. Rasa nyeri selalu merupakan sesuatu
yang bersifat subjektif, setiap individu mempelajari nyeri melalui pengalaman yang berhubungan langsung dengan luka (injury) yang terjadi pada masa awal kehidupannya. Secara klinis nyeri adalah apapun yang di ungkapkan oleh pasien mengenai sesuatu yang dirasakannya sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan atau mengganggu (kozier & Erb, 2014).
Nyeri adalah suatu sensasi yang bersifat subjektif akibat adanya kondisi yang tidak nyaman yang di sebabkan oleh kerusakan jaringan pada pembedahan. Nyeri yang paling sering perawat di observasi oleh perawat terdiri dari tiga tipe yaitu nyeri akut, nyeri kronik maligna, dan nyeri non- maligna kronik (Wilhelma, 2015).
2.2.2 Klasifikasi Nyeri
Potter & Perry (2008) mengklasifikasikan nyeri berdasarkan sumbernya meliputi:
a) Nyeri kulit
yaitu nyeri yang di rasakan dikulit atau subkutis, misalnya nyeri ketika tertusuk jarum atau lutut lecet. Lokalisasi nyeri jelas suatu dermatum
b) Nyeri somatik
yaitu nyeri dalam yang berasal dari tulang dan sendi, tendon, otot rangka, pembuluh darah, dan tekanan syaraf dalam, sifat nyeri lambat.
c) Nyeri Viseral
yaitu dirongga abdomen atau thorak terlokalisasi jelas disuatu titik tapi bisa di rujuk kebagian-bagian tubuh dan biasanya agak parah
d) Nyeri Psikogenik
yaitu nyeri yang timbul dari pikiran pasien tanpa di ketahui adanya temuan pada fisik.
e) Nyeri phantom limb pain
yaitu nyeri yang dirasakan oleh individu pada salah satu ekstremitas yang telah di amputasi.
f) Nyeri superfisial
biasanya timbul akibat stimulasi terhadap kulit seperti pada laserasi, luka bakar, luka pembedahan, nyeri jenis ini memiliki durasi yang pendek, terlokalisir dan memiliki yang tajam.
g) Nyeri sebar (radiasi)
adalah sensasi nyeri yang meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar, nyeri jenis ini biasanya dirasakan oleh klien seperti berjalan/bergerak dari daerah asal nyeri ke sekitar atau sepanjang bagian tubuh tertentu, nyeri dapat bersifat intermitent atau konstan.
h) Nyeri alih (referred pain)
adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang menjalar ke organ lain ,sehingga di rasakan nyeri pada beberapa tempat atau lokasi. Nyeri jenis ini dapat timbul karena masuknya neuron sensori dari organ yang mengalami nyeri ke dalam medula spinalis dan
mengalami sinapsis dengan serabut saraf yang berada pada bagian tubuh lainnya. Nyeri yang timbul biasanya pada beberapa tempat yang kadang jauh dari lokasi asal nyeri.
2.2.3 Skala Pengukuran Nyeri
Untuk menentukan tingkat rasa nyeri tersebut, para praktisi kesehatan menggunakan berbagai skala atau charta yang disebut Comperative Pain Scale. Ada lebih dari 30 jenis pengukuran skala nyeri yang diciptakan dan dikembangkan oleh berbagai ahli medis dan lembaga kesehatan.
Kebanyakan memakai tingkat skala 0-10.
2.2.3.1 Visual Analogue Scale (VAS)
Visual analog scale (VAS) adalah psikometri skala respon yang dapat digunakan dalam kuesioner untuk mengukur karakteristik subjektif atau sikap yang tidak dapat diukur secara langsung. Ketika menanggapi item VAS, responden menentukan tingkat persetujuannya untuk pernyataan yang menunjukkan posisi di sepanjang garis kontinyu antara dua titik akhir. VAS merupakan skala nyeri paling umum untuk mengukur tingkat kunatifikasi endometriosis nyeri. Dengan mengunakan visual analog scale atau grafik ekspresi wajah, keparahan nyeri dapat dicartakan dan digunakan.
Kemungkinan penyebab kesakitan dan akhirnya pilihan pengobatan untuk mengurangi rasa sakit dapat dipastikan.
Gambar 2.1
Penilaian Skala Nyeri Visual Comparative Pain Scale Sumber, SKala Nyeri Visual Analogue Scale (VAS), 2015
a) Pada Skala 0 (No Pain)
Tidak ada rasa sakit. Merasa normal.
b) Pada Skala 1 (Sangat Ringan / Very Mild)
Rasa nyeri hampir tak terasa. Sangat ringan, seperti gigitan nyamuk. Sebagian besar waktu Anda tidak pernah berpikir tentang rasa sakit.
c) Pada Skala 2 (Tidak Nyaman / Discomforting)
Nyeri ringan, seperti cubitan ringan pada kulit. Mengganggu dan mungkin memiliki kedutan kuat sesekali. Reaksi ini berbeda-beda untuk setiap orang.
d) Pada Skala 3 (Bisa Ditoleransi / Tolerable)
Rasa nyeri sangat terasa, seperti pukulan ke hidung menyebabkan hidung berdarah, atau suntikan oleh dokter. Nyeri terlihat dan mengganggu, namun Anda masih bisa bereaksi untuk beradaptasi.
e) Pada Skala 4 (Menyedihkan / Distressing)
Kuat, nyeri yang dalam, seperti sakit gigi atau rasa sakit dari sengatan lebah. Jika Anda sedang melakukan suatu kegiatan, rasa itu masih dapat diabaikan untuk jangka waktu tertentu, tapi masih mengganggu. Misalnya, saat anda sakit gigi, jika dipaksakan, anda masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tapi itu cukup mengganggu.
f) Pada Skala 5 (Sangat Menyedihkan / Very Distressing)
Rasa nyeri yang Kuat, dalam, nyeri yang menusuk, seperti pergelangan kaki terkilir. Rasa sakit nyerinya tidak dapat diabaikan selama lebih dari beberapa menit, tetapi dengan usaha Anda masih dapat mengatur untuk bekerja atau berpartisipasi dalam beberapa kegiatan sosial.
g) Pada Skala 6 (Intens)
Rasa nyeri yang kuat, dalam, nyeri yang menusuk begitu kuat sehingga tampaknya cenderung mempengaruhi sebagian indra Anda, menyebabkan tidak fokus, komunikasi terganggu. Nyeri cukup kuat yang mengganggu aktivitas normal sehari-hari.
Kesulitan berkonsentrasi.
h) Pada Skala 7 (Sangat Intens)
Sama seperti nomor 6, kecuali bahwa rasa sakit benar-benar mendominasi indra Anda menyebabkan tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan tak mampu melakukan perawatan diri. Nyeri berat yang mendominasi indra Anda dan
secara signifikan membatasi kemampuan Anda untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari atau mempertahankan hubungan sosial. Bahkan mengganggu tidur.
i) Pada Skala 8 (Sungguh Mengerikan / Excruciating)
Nyeri begitu kuat sehingga Anda tidak lagi dapat berpikir jernih, dan sering mengalami perubahan kepribadian yang parah jika sakit datang dan berlangsung lama. Aktivitas fisik sangat terbatas.
Dan penyembuhan membutuhkan usaha yang besar.
j) Pada Skala 9 (Menyiksa Tak Tertahankan / Unbearable) Nyeri begitu kuat sehingga Anda tidak bisa mentolerirnya dan sampai-sampai menuntut untuk segera menghilangkan rasa sakit apapun caranya, tidak peduli apa efek samping atau risikonya.
Sakit luar biasa. Tidak dapat berkomunikasi. Menangis dan atau mengerang tak terkendali.
k) Pada Skala 10 (Sakit tak terbayangkan tak dapat diungkapkan)
Sakit yang tak tergambarkan (Unimaginable/Unspeakable) merupakan nyeri begitu kuat tak sadarkan diri. Terbaring di tempat tidur dan mungkin mengigau. Kebanyakan orang tidak pernah mengalami sakala rasa sakit ini. Karena sudah keburu pingsan seperti mengalami kecelakaan parah, tangan hancur, dan kesadaran akan hilang sebagai akibat dari rasa sakit yang luar biasa parah.
2.2.3.2 Format Instrumen Nyeri
Tabel 2.1
Format Instrumen Nyeri Skor
VAS
Item Penilaian Respon Klien Skor Klien 0 Tidak ada rasa sakit. Merasa normal
1 Rasa nyeri hampir tak terasa. Sangat ringan, seperti gigitan nyamuk. Sebagian besar waktu Anda tidak pernah berpikir tentang rasa sakit
2 Nyeri ringan, seperti cubitan ringan pada kulit. Mengganggu dan mungkin memiliki kedutan kuat sesekali. Reaksi ini berbeda-beda untuk setiap orang
3 Kuat, nyeri yang dalam, seperti sakit gigi atau rasa sakit dari sengatan lebah. Jika Anda sedang melakukan suatu kegiatan, rasa itu masih dapat diabaikan untuk jangka waktu tertentu, tapi masih mengganggu. Misalnya, saat anda sakit gigi, jika dipaksakan, anda masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tapi itu cukup meng
4 Rasa nyeri yang Kuat, dalam, nyeri yang menusuk, seperti pergelangan kaki terkilir. Rasa sakit nyerinya tidak dapat diabaikan selama lebih dari beberapa menit, tetapi dengan usaha Anda masih dapat mengatur untuk bekerja atau berpartisipasi dalam beberapa kegiatan sosial.
5 Kuat, nyeri yang dalam, seperti sakit gigi atau rasa sakit dari sengatan lebah. Jika Anda sedang melakukan suatu kegiatan, rasa itu masih dapat diabaikan untuk jangka waktu tertentu, tapi masih mengganggu. Misalnya, saat anda sakit gigi, jika dipaksakan, anda masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tapi itu cukup mengganggu.
6 Rasa nyeri yang kuat, dalam, nyeri yang menusuk begitu kuat sehingga tampaknya cenderung mempengaruhi sebagian indra Anda, menyebabkan tidak fokus, komunikasi terganggu.
Nyeri cukup kuat yang mengganggu aktivitas normal sehari- hari. Kesulitan berkonsentrasi.
7 Sama seperti nomor 6, kecuali bahwa rasa sakit benar-benar mendominasi indra Anda menyebabkan tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan tak mampu melakukan perawatan diri. Nyeri berat yang mendominasi indra Anda dan secara signifikan membatasi kemampuan Anda untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari atau mempertahankan hubungan sosial. Bahkan mengganggu tidur.
8 Nyeri begitu kuat sehingga Anda tidak lagi dapat berpikir jernih, dan sering mengalami perubahan kepribadian yang parah jika sakit datang dan berlangsung lama. Aktivitas fisik sangat terbatas. Dan penyembuhan membutuhkan usaha yang besar.
9 Sakit yang tak tergambarkan (Unimaginable/Unspeakable) merupakan nyeri begitu kuat tak sadarkan diri. Terbaring di tempat tidur dan mungkin mengigau.
10 Kebanyakan orang tidak pernah mengalami skala rasa sakit ini. Karena sudah keburu pingsan seperti mengalami
Kecelakaan parah, tangan hancur, dan kesadaran akan hilang sebagai akibat dari rasa sakit yang luar biasa parah.
Total
(Sumber :Aplikasi VAS, 2015; Black at al, 2014)
Berdasarkan Pengelompokan Skala Nyeri dengan VAS maka dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pada skala nyeri 1-3 dikategorikan sebagai Nyeri Ringan (masih bisa ditahan, aktifitas terganggu)
2. Pada skala nyeri 4-6 dikategorikan sebagai Nyeri Sedang (menganggu aktivitas fisik)
3. Pada skala nyeri 7-10 dikategorikan sebagai Nyeri Berat (tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri)
2.2.3.3 Wong-Baker FACES Pain Rating Scale
Wong-Baker FACES Pain Rating Scale Skala nyeri yang satu ini tergolong mudah untuk dilakukan karena hanya dengan melihat ekspresi wajah pasien pada saat bertatap muka tanpa kita menanyakan keluhannya, biasanya skala nyeri ini digunakan untuk menilai skala nyeri pada anak. (Black, 2014).
Berikut skala nyeri yang kita nilai berdasarkan ekspresi wajah: skala nyeri
Skala nyeri berdasarkan ekspresi wajah. Penilaian Skala nyeri dari kiri ke kanan:
Gambar 2.2
Skala Nyeri Wong-Baker FACES Pain Rating Scale
Keterangan:
Wajah Pertama :Sangat senang karena ia tidak merasa sakit sama sekali.
Wajah Kedua : Sakit hanya sedikit.
Wajah ketiga : Sedikit lebih sakit.
Wajah Keempat : Jauh lebih sakit.
Wajah Kelima : Jauh lebih sakit banget.
Wajah Keenam : Sangat sakit luar biasa sampai-sampai menangis.
2.2.4 Patofisiologi dan Pathway Nyeri
Pada saat sel saraf rusak akibat trauma jaringan, maka terbentuklah zat-zat kimia seperti Bradikinin, serotonin dan enzim proteotik. Kemudian zat-zat tersebut merangsang dan merusak ujung saraf reseptor nyeri dan rangsangan tersebut akan dihantarkan ke hypothalamus melalui saraf asenden.
Sedangkan di korteks nyeri akan di persiapkan sehingga individu mengalami nyeri. Selain d ihantarkan ke hypotalamus nyeri dapat menurunkan stimulasi terhadap reseptor mekanin sensitive pada
termosensitif sehingga dapat juga menyebabkan atau mengalami nyeri (Mubarak, 2012).
Pathway Nyeri
Trauma Jaringan Infeksi Kerusakan Sel
Pelepasan Mediator Nyeri
(Histamin, Bradikinin Prostagadini, Serotonin, Oin Kaliun dll)
Merangsang Nosiseptor (Reseptor Nyeri)
Dihantarkan ke Serabut Tipe A Dan Serabut Tipe C
Modula Spinalis
Sistem Aktvitas Retikular Sistem Aktvitas Retikular sistem Area Pareasiacreduktus
Talamus Hipotalamus dan Sistem Limbik Talamus
OTAK
Korteks Somasensorik
Persepsi NYERI
Penelitian yang dilakukan oleh Amit Sood, (2016) menjelaskan bahwa terdapat beberapa hormon yang memicu kecemasan dan dapat meningkatkan persepsi nyeri yaitu:
2.2.4.1 Hormon Adrenalin
Hormon ini diproduksi oleh kelenjar Adrenal sebagai reaksi awal ketika stress muncul. Bisa dikatakan hormon ini adalah reaksi pertama secara kimiawi yang muncul dari tekanan. Sood, (2013) dari Mayoclinic menjelaskan fungsi adrenalin sebagai reaksi cepat tubuh ketika sebuah tekanan datang mendadak. Adrenalin akan bekerja untuk menstimulasi detak jantung menjadi beberapa kali lebih cepat, memberi rangsangan sistem saraf pusat untuk menjadi tegang sehingga menyebabkan Anda meningkatkan kewaspadaan dan fokus. Adrenalin juga bisa menyebabkan aliran darah menjadi lebih kuat dan mendorong ketegangan otot (Sood, 2013).
2.2.4.2 Hormon Norepinephrine
Hormon satu ini kerap kali bekerja bersama adrenalin mempengaruhi reaksi tubuh terhadao stress. Hormon ini juga diproduksi oleh kelenjar adrenal, tetapi dengan fungsi yang berbeda dari adrenal. Hormone ini akan mengarahkan untuk menjadi terlalu fokus, cemas, khawatir, panik, mengalami ketegangan otot dan beberapa gejala cemas lain seperti berkeringat, sulit tidur, selalu memikirkan masalah, gelisah dan lain sebagainya. Kondisi kecemasan atau kekhawatiran ini sebenarnya merupakan efek dari stimulasi berlebihan yang dilakukan oleh hormon Norepinephrine terhadap otak dengan mendorong aliran darah lebih kuat
menuju otak dan mendorong stimulasi terhadap sistem saraf pusat yang lebih kuat. Stimulasi ini menyebabkan otak bekerja lebih keras dan terfokus terhadap masalah yang memicu stress (Anne, 2011).
2.2.4.3 Hormon Kortisol
Hormon kortisol sendiri juga diproduksi oleh kelenjar Adrenal dan lagi-lagi menjadi pemicu beberapa reaksi fisik berbeda dari dua jenis hormon stress lain. Hormon ini memberikan beberapa reaksi tubuh dengan proses kerja yang lebih lambat dari jenis hormon stress lain. Bila adrenalin dan Norepinephrine bekerja untuk menyebabkan tubuh bereaksi fisik dengan ketegangan, kewaspadaan dan kepanikan, maka kortisol akan bekerja dengan mestimulasi sistem fluida tubuh atau kondisi cairan dalam tubuh dan mempengaruhi tekanan darah. Namun kortisol juga akan memicu Anda merasa sangat lapar, kehilangan konsentrasi pada apa yang di depan Anda karena terus berpikir pada masalah pemicu stress dan menyebabkan tubuh menjadi terasa malas (Black, at al, 2014)
2.3 KONSEP KEMAMPUAN AKTIVITAS 2.3.1 Definisi Aktivitas
Kemampuan Aktivitas merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (Black, 2014).
2.3.2 Jenis Kemampuan Aktivitas
a. Kemampuan Aktivitas Penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
b. Kemampuan Aktivitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapt mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis yaitu :
I. Kemampuan Aktivitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
II. Kemampuan Aktivitas sebagian permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomielitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik.
2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Aktivitas
Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan diantaranya:
2.3.3.1 Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi kemampuan mobilitas seseorang karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
2.3.3.2 Proses Penyakit/Cedera
Proses penyakit dapat memengaruhi kemampuan mobilitas karena dapat memengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstrimitas bagian bawah.
2.3.3.3 Kebudayaan
Kemampuan melakukan mobilitas dapat juga dipengaruhi kebudayaan.
Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh memiliki kemampuan mobilitas yang kuat; sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas.
2.3.3.4 Tingkat Energi
Energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas. Agar seseorang dapat melakukan mobilitas dengan baik, dibutuhkan energi yang cukup.
2.3.3.5 Usia dan Status Perkembangan
Terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat usia yang berbeda.
Hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak sejalan perkembangan usia.
2.3.4 Skala Pengukuran Kemampuan Aktifitas 2.3.4.1 Indeks Barthel (IB)
Indeks Barthel merupakan suatu instrument pengkajian yang berfungsi mengukur kemandirian fungsional dalam hal perawatan diri dan mobilitas serta dapat juga digunakan sebagai kriteria dalam menilai kemampuan fungsional bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan keseimbangan. Menggunakan 10 indikator, yaitu :
Tabel 2.2
Instrument Pengkajian Dengan Indeks Barthel.
No. Item yang dinilai Skor Nilai
1. Makan (Feeding) 0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan memotong, mengoles mentega dll.
2 = Mandiri
2. Mandi (Bathing) 0 = Tergantung orang lain 1 = Mandiri
3. Perawatan diri (Grooming)
0 = Membutuhkan bantuan orang lain 1 = Mandiri dalam perawatan muka,
rambut, gigi, dan bercukur 4. Berpakaian (Dressing) 0 = Tergantung orang lain
1 = Sebagian dibantu (misal mengancing baju) 2 = Mandiri
5. Buang air kecil (Bowel)
0 = Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak terkontrol
1 = Kadang Inkontinensia (maks, 1x24 jam)
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)
6. Buang air besar (Bladder)
0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema)
1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)
7. Penggunaan toilet 0 = Tergantung bantuan orang lain 1 = Membutuhkan bantuan, tapi dapat
melakukan beberapa hal sendiri 2 = Mandiri
8. Transfer 0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2 = Bantuan kecil (1 orang) 3 = Mandiri
Sumber : Sugiarto, 2012.
Interpretasi Hasil:
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan Ringan 9-11 : Ketergantungan Sedang 5-8 : Ketergantungan Berat 0-4 : Ketergantungan Total 2.3.4.2 Indeks Kats
Indeks Katz adalah suatu instrument pengkajian dengan sistem penilaian yang didasarkan pada kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Penentuan kemandirian fungsional dapat mengidentifikasikan kemampuan dan keterbatasan klien sehingga memudahkan pemilihan intervensi yang tepat (Maryam, R. Siti, dkk, 2011).
Pengkajian ini menggunakan indeks kemandirian Katz untuk aktivitas kehidupan sehari-hari yang berdasarkan pada evaluasi fungsi mandiri atau bergantung dari klien dalam hal 1) makan, 2) kontinen (BAB atau BAK), 3) berpindah, 4) ke kamar kecil, 5) mandi dan berpakaian (Maryam, R. Siti, dkk, 2011).
9. Mobilitas 0 = Immobile (tidak mampu) 1 = Menggunakan kursi roda 2 = Berjalan dengan bantuan satu
orang
3 = Mandiri (meskipun menggunakan alat bantu seperti, tongkat)
10. Naik turun tangga 0 = Tidak mampu
1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu) 2 = Mandiri
Tabel 2.3
Penilaian Indeks Katz
Skore Kriteria
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen (BAB atau BAK), berpindah, ke kamar kecil mandi dan berpakaian.
B Kemandirian dalam semua hal kecuali satu dari fungsi tersebut.
C Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.
D Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan.
E Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan.
F Kemandirian dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan.
G Ketergantungan pada ke enam fungsi tersebut.
Lain – Lain Tergantung pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai C, D, E atau F
Maryam, R. Siti, dkk, 2011.
Keterangan:
Kemandirian berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun sebenarnya mampu.
1. Mandi
Mandiri: bantuan hanya pada satu bagian mandi (seperti punggung atau ekstermitas yang tidak mampu) atau mandi sendiri sepenuhnya.
Bergantung: bantuan mandi lebih dari satu bagian tubuh, bantuan masuk dan keluar dari bak mandsi, serta tidak mandi sendiri.
2. Berpakaian
Mandiri: mengambil baju dari lemari, memakai pakaian, melepaskan pakaian, mengancingi atau mengikat pakaian.
Tergantung: tidak dapat memakai baju sendiri atau baju hanya sebagian.
3. Ke Kamar Kecil
Mandiri: masuk dan keluar dari kamar kecil kemudian membersihkan genitalia sendiri.
Tergantung: menerima bantuan untuk masuk ke kamar kecil dan menggunakan pispot.
4. Berpindah
Mandiri: berpindah ke dan dari tempat tidur untuk duduk, bangkit dari kursi sendiri.
Tergantung: bantuan dalam naik atau turun dari tempat tidur atau kursi, tidak melakukan satu, atau lebih berpindah.
5. Kontinen
Mandiri: BAK dan BAB seluruh dikontrol sendiri.
Tergantung: Inkontinensia parsial atau lokal; penggunaan kateter pispot, enema, dan pembalut (pampres).
6. Makan
Mandiri: mengambil makanan dari piring dan menyuapinya sendiri.
Bergantung: bantuan dalam hal mengambil makanan dari piring dan menyuapinya, tidak makan sama sekali, dan makan parenteral (NGT).
2.3.4.3 Modifikasi Indeks Kemandirian Katz Tabel 2.4
Modifikasi Indeks Kemandirian Katz
Sumber: Maryam, R. Siti, dkk, 2011.
Analisi hasil:
Point : 13 – 17: Mandiri
Point : 0 – 12 : Ketergantungan
No. Aktivitas Mandiri
Nilai (1)
Tergantung (Nilai 0) 1 Mandi di kamar mandi (menggosok,
membersihkan, dan mengeringkan badan).
2 Menyiapkan pakaian, membuka, dan menggunakannya.
3 Memakan makanan yang telah disiapkan.
4 Memelihara kebersihan diri untuk penampilan diri (menyisir rambut, mencuci rambut, mengosok gigi, mencukur kumis).
5 Buang air besar di WC (membersihkan dan mengeringkn daerah bokong).
6 Dapat mengontrol pengeluaran feses (tinja).
7 Buang air kecil di kamar mandi (membersihkan dan mengeringkan daerah kemaluan).
8 Dapat mengontrol pengeluaran air kemih.
9 Berjalan di lingkungan tempat tinggal atau ke luar ruangan tanpa alat bantu, seperti tongkat.
10 Menjalankan agama sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.
11 Melakukan pekerjaan rumah, seperti: merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan ruangan.
12 Berbelanja untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan keluarga.
13 Mengelola keuangan (menyimpan dan menggunakan uang sendiri).
14 Mengguanakan sarana transfortasi umum untuk berpergian.
15 Menyiapkan obat dan minum obat sesuai dengan aturan (takaran obat dan waktu minum obat tepat).
16 Merencanakan dan mengambil keputusan untuk kepentingan keluarga dalam hal penggunakan uang, aktivitas sosial yang dilakukan dan kebutuhan akan pelayanan kesehatan.
17 Melakukan aktivitas di waktu luang (kegiatan keagamaan, sosial, rekreasi, olah raga dan menyalurkan hobi.
JUMLAH POIN MANDIRI
2.3.5 Fakor Yang Mempengaruhi Nyeri Dan Kemampuan Aktifitas.
2.3.5.1 Fakor Yang Mempengaruhi Nyeri
Faktor yang mempengaruhi nyeri menurut Prihardjo (2011) dibedakan menjadi dua, yaitu faktor Internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi rasa nyeri adalah sebagai berikut:
1. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2. Jenis kelamin
Gill (2012) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (Misal: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (2012), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang
meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
4. Anxietas (Kecemasan)
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
5. Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
6. Pengetahuan Nyeri
Nyeri dirasakan dan disadari otak, tetapi berlum tentu penderita akan tergangggu misalnya karrna ia punya pengetahuan tentang nyeri sehingga ia menerimanya secara wajar.
7. Kelelahan
Kelelahan dapat meningkatkan nyeri karena banyak orang merasa lebih nyaman waktu istirahat.
b. Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri adalah sebagai berikut:
1. Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri
2. Support keluarga dan social
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan.
3. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4. Lingkungan
Nyeri dapat diperberat dengan adanya rangsanggan dari lingkungan seperti kebisingan, cahaya yang sangat terang.
5. Pengobatan
Pengobatan analgesik yang diberikan sesuai dosis yang mermakai akan mempercepat penurunan nyeri
2.3.5.2 Fakor Yang Mempengaruhi Kemampuan Aktifitas.
Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa 2 faktor, diantaranya:
a. Faktor Internal
1. Usia dan Status Perkembangan
Usia dan Status Perkembangan. Terdapat kemampuan mobilitas pada tingkat usia yang berbeda
2. Proses Terjadinya Cidera
Proses terjadinya cidera mempengaruhi tingkat kemapuan aktifitas pada pasien, semakin para cidera yang dialami maka semakin berat ketergantungan pasien terhadap kebutuhan aktifitas. Hal dapat mempengaruhi mobilitas karena dapat berpengaruh pada fungsi sistem tubuh. Seperti, orang yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstremitas bagian bawah. Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh memiliki kemampuan mobiltas yang kuat. Begitu juga sebagliknya, ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat dan budaya yang dilarang untuk beraktivitas.
b. Faktor Ekternal 1. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi mobilitas seseorang karena berdampak pada kebiasaan atau perilaku sehiari-hari.
2. Tingkat Energi
Tingkat energi untuk melakukan mobilitas diperlukan energy yang cukup.
3. Kultur dan Lingkungan
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap kemampuan aktifitas yang dialami misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa kemapuan aktifitas serta diperberat dengan adanya rangsanggan dari lingkungan seperti kebisingan, cahaya yang sangat terang.
2.4 KERANGKA TEORI
Keterangan:
: Diteliti
: Tidak diteliti : Hubungan
Bagan 2.1 Kerangka Teori Penelitian
Sumber: Smelter & Bare (2010); Darmawan (2011); Anne (2012)
Kemampuan Aktivitas 1. Ketergantungan
Total: Skor 0-4 2. Ketergantungan
Berat: Skor 5-8 3. Ketergantungan
Sedang: Skor 9-11 4. Ketergantungan
Ringan: Skor 12-19 5. Mandiri: Skor 20 Skala Nyeri
1. (Tidak Nyeri): 0
2. (Nyeri Ringan): Skor 1-3 3. (Nyeri Sedang): Skor 4-6 4. (Nyeri Berat): Skor 7-10 Fakor Internal:
1. Usia
2. Jenis kelamin 3. Perhatian 4. Anxietas
(Kecemasan) 5. Pengalaman
masa lalu 6. Pengetahuan
Nyeri 7. Kelelahan Faktor Eksternal:
1. Pola koping
2. Support keluarga dan sosial
3. Kultur
4. Lingkungan
5. Pengobatan
Fakor Internal:
1. Proses Cidera 2. Usia dan Status
Perkembangan
Faktor Eksternal:
1. Gaya Hidup 2. Suku dan Budaya 3. Tingkat Energi
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFENISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu pengertian dasar dari sesuatu yang akan diteliti. Konsep adalah kaidah umum (Abstraksi) mengenai himpunan benda- benda atau hal-hal yang biasanya dibedakan dari penglihatan atau perasaan (Supardi S. & Rustika, 2013).
Menurut Sugiyono, (2012) teori konsep adalah proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematis melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Kerangka konsep merupakan uraian tentang hubungan antar variabel–
variabel yang terkait dengan masalah penelitian dan di bangun berdasarkan kerangka teori/kerangka pikir atau hasil studi sebelumnya sebagai pedoman penelitian.
Menurut Susilo (2013), Variabel Independent (bebas) merupakan variabel yang menentukan variabel lain. Suatu kegiatan stimulus yang dimanipulasikan oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak pada variabel dependen. Variabel Dependent (terikat/tergantung) adalah variabel yang ditentukan oleh variabel lain. Variabel respon atau ouput akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel independent. Variabel yang di ukur pada penelitian ini adalah:
36
1. Variabel Bebas (Variabel Dependen)
Variabel Bebas pada penelitian ini adalah Skala Nyeri Pasien Ca Mammae
2. Variabel Terikat (Variabel Independen)
Variabel Terikat pada penelitian ini adalah Kemampuan Aktivitas Pasien Ca Mammae di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2019.
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Variabel Independen Variabel Dependen
Bagan 3.1 Kerangka Konsep 3.2 Hipotesis Penelitian.
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data . Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian(
Kemampuan Aktivitas 1) Ketergantungan Total : 0-4 2) Ketergantungan Berat : 5-8 3) Ketergantungan Sedang: 9-11 4) Ketergantungan Ringan: 12-19
5) Mandiri: 20 SKALA NYERI
1) Tidak Nyeri: Skor 0 2) Nyeri Ringan: Skor 1-3 3) Nyeri Sedang: Skor 4-6 4) Nyeri Berat: Skor 7-10
Sugiono,2016 ). Berdasarkan permasalahan yang disampaikan pada latar belakang dengan didukung oleh tinjauan teori dan batasan kerangka konseptual, maka tergambarkan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dirumuskan dalam hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha : Ada hubungan antara tingkat nyeri dengan kemampuan aktivitas pada pasien ca mammae di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2018.
3.3 Definisi Operasional
N o
Varia bel
Definisi Konseptual Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur Skala ukur 1 Nyeri Nyeri adalah suatu sensasi yang
bersifat subjektif akibat adanya kondisi yang tidak nyaman yang di sebabkan oleh kerusakan jaringan pada pembedahan.
Nyeri yang paling sering perawat di observasi oleh perawat terdiri dari tiga tipe yaitu nyeri akut, nyeri kronik maligna, dan nyeri non-maligna kronik
Skala Nyeri pada pasien Ca Mammae yang diukur
bedasarkan Skor Visual Analogue Scale (VAS) dalam bentuk kuesioner
Kuesi oner
Skala VAS
1. Tidak Nyeri : 0 2. Nyeri Ringan :
Skor 1-3 3. Nyeri Sedang:
Skor 4-6 4. Nyeri Berat:
Skor 7-10
Ordinal
2 Kema
mpua n Aktiv itas
Kemamuan Aktifitas merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas
guna mempertahankan
kesehatannya.
Kemampuan pasien Ca Mammae dalam melakukan aktivitas dasar selama perawatan
Kuesi oner
Skala Indek s Barth el
1. Ketergantungan Total : 0-4 2. Ketergantungan
Berat: 5-8 3. Ketergantungan
Sedang: 9-11 4. :Ketergantungan
Ringan: 12-19 5. Mandiri: 20
Ordinal
BAB IV
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Pemilihan metode ditentukan oleh beberapa hal, yaitu objek penelitian, sumber data, waktu, dana yang tersedia dan tehnik yang akan digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kuantitatif. Pada bab ini peneliti akan menjelaskan desain penelitian, populasi dan sampel, tempat penelitian, waktu penelitian, etika penelitian, alat pengumpulan data dan tehnik analisis data.
4.1 Desain Penelitian
Desain dari penelitian ini adalah merupakan penelitian deskriptif analitik korelasional dengan rancangan cross sectional. Keseluruhan dari perencanaan yang menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi kesulitan yang dapat terjadi dalam penelitian yang akan dilakukan dalan suatu kurun waktu tertentu (Sugiyono, 2017). Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif frekuensi. Metode pendekatan yang digunakan adalah cross sectional yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari suatu dinamika korelasi antara faktor–faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan yang telah tentukan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada saat yang bersamaan (Sugiyono, 2017).