• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frontier Agribisnis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Frontier Agribisnis"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

12 Taufiqurrahman et al. Analisis Finansial Industri Jamur Tiram (Oyster mushroom) (Studi Kasus pada Usaha Banjar Jaya Mushroom Banjarbaru)

Frontier Agribisnis

OPEN ACCESS e-ISSN 0000-0000

Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa (JTAM) https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/fag

ANALISIS PEMASARAN SAPI POTONG DI KECAMATAN TAKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT

Marketing Analysis of Cows

in Takisung Sub-District, Tanah Laut District

Ibnu Husin*, Muzdalifah, Yusuf Aziz

*Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani km.36, Banjarbaru 70714, Kalimantan Selatan

ABSTRAK

Kata Kunci

Analisis pemasaran,sapi potong, farmer’s share,Kecamatan Takisung Korespondensi

Corresponding author

E-mail : [email protected] Diterima: xx Juni 2021,

Disetujui: 21 Juni 2021, Diterbitkan: 1 September 2021

Kecamatan Takisung menjadi salah satu sentra sapi potong di Kabupaten Tanah Laut. Pemilihan saluran pemasaran yang pendek merupakan salah satu sistem pemasaran yang efisien, sehingga akan menguntungkan peternak dan konsumen. Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi bentuk saluran pemasaran sapi potong, mengetahui biaya, keuntungan, dan margin pemasaran, beserta bagian harga (farmer’s share) yang diterima produsen sapi potong.

Selanjutnya untuk mendeteksi efisiensi pemasaran per saluran pemasaran sapi potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut.

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut dengan responden peternak dipilih secara acak terproporsi total sampel 30 dari desa yang dipilih secara sengaja yaitu Desa Sumber Makmur, Desa Takisung dan Desa Gunung Makmur. Untuk memilih pedagang lokal dan pedagang pemotong digunakan metode snowball sampling yaitu teknik pengambilan data dari peternak kemudian menjadi sumber informasi tentang pedagang pengumpul dan pedagang lainnya yang dominan yang dijadikan contoh. Waktu penelitian pada bulan April 2019 hingga Juni 2019. Hasil penelitian ada 4 bentuk saluran pemasaran ternak sapi potong di daerah Kecamatan Takisung, yaitu peternak konsumen, peternak pedagang pemotong, dan peternak pedagang lokal konsumen, serta peternak pedagang lokal pedagang pemotong konsumen. Selanjutnya biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran sertafarmer’s shareper ekor untuk per saluran pemasaran yaitu saluran 1 dengan biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran Rp0 dan farmer’s share memperoleh hasil 100%.

Saluran 2 dengan biaya Rp 570.000, keuntungan Rp 4.950.000 dan marjin Rp 5.520.000 sertafarmer’s share memperoleh hasil 73,74%.

Selanjutnya saluran 3 dengan biaya Rp243.000, keuntungan Rp457.000 dan marjin Rp700.000 serta farmer’s share memperoleh hasil 95,39%. Terakhir saluran 4 dengan biaya Rp1.766.000, keuntungan Rp5.124.000 dan marjin Rp5.920.000 sertafarmer’s share memperoleh hasil 71,84%. 3. Saluran pemasaran 1 relatif paling efesien dibandingkan dengan tiga saluran pemasaran lainnya karena memilikifarmer’s shareterbesar.

(2)

PENDAHULUAN

Kalimantan Selatan memiliki sektor-sektor unggulan yang yang terus dikembangkan. Salah satu sektor tersebut adalah sektor peternakan.

Dengan adanya sektor peternakan diharapkan Kalimantan Selatan mampu menjadi daerah penyedia ternak mandiri. Langkah-langkah tersebut diantaranya dengan meningkatkan populasi ternak dibarengi dengan kontrol dan peningkatan sumberdaya manusia agar mampu menyediakan pakan dan hasil kualitas ternakan yang unggul sehingga diharapkan tercipta peternak mandiri yang memiliki daya saing di pasar domestik hingga tingkat global (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tanah Laut, 2017)

Menurut Data BPS Provinsi Kalimantan Selatan (2017), pada tahun 2013, sapi potong menduduki peringkat pertama dalam kategori populasi ternak besar diikuti kerbau dan kuda di urutan kedua dan ketiga. Hal ini juga berpengaruh terhadap produksi daging sapi pada tahun yang sama yaitu mencapai 10.597.150 kg.

Sehingga tidak mengherankan apabila usaha perdagangan sapi potong merupakan yang terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan untuk kategori ternak besar. Pusat perdagangan sapi terbesar di Kalimantan Selatan itu sendiri terletak di pasar hewan Kabupaten Tanah Laut, lebih tepatnya di Kelurahan Sarang Halang, Kecamatan Pelaihari.

Berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menyebutkan bahwa Tanah Laut merupakan penghasil sapi terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan, jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota lainnya. Perkembangan populasi sapi potong di Kabupaten Tanah Laut per kecamatan antara tahun 2014 sampai 2018 terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut menunjukkan besarnya potensi dimiliki Kabupaten Tanah Laut untuk pengembangan sapi di Kalimantan Selatan. Salah satu sentranya terdapat di Kecamatan Takisung.

Salah satu komoditas ternak strategis yang dapat mendukung stabilitas nasional sebagai penghasil daging adalah sapi potong (Hartati, et al., 2009:64). Belum banyak aturan dari pemerintah yang mengatur terkait dengan saluran pemasaran sapi potong di Indonesia. Jagal, blantik (penjual sapi) hingga pedagang pengumpul yang merupakan contoh lembaga- lembaga pemasaran dengan skala besar yang

banyak lepas dari aturan pemerintah, sehingga mereka begitu mendominasi setiap lini saluran pemasaran sapi potong di Indonesia. Peran dan fungsi masing-masing jalur pemasaran mempunyai perbedaan dalam proses pemasaran.

Kemudahan dalam memindahkan produk dari pabrikan ke konsumen melalui pihak pertama baik secara terang-terangan maupun tidak terang-terangan kepada konsumen disebut saluran pemasaran (Hartati, et all., 2009:64).

Besarnya margin pemasaran diakibatkan oleh jumlah lembaga pemasaran yang terlibat yang berdampak pada panjangnya saluran pemasaran.

Sehingga perlu adanya penciptaan sistem pemasaran yang efisien yang dapat menguntungkan dari peternak sapi potong hingga konsumen dengan pemilihan saluran pemasaran terpendek.

Tujuan dan Kegunaan

Tujuan penelitian ini yang pertama yaitu untuk mengidentifikasi bentuk saluran pemasaran sapi potong. Yang kedua untuk mendeteksi biaya, keuntungan, dan margin pemasaran, serta bagian harga yang diperoleh produsen sapi potong. Yang ketiga yaitu saluran pemasaran sapi potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut dideteksi efisiensi pemasarannya Manfaat penelitian ini sebagai bahan informasi tentang pemasaran sapi potong di Kabupaten Tanah Laut sehingga dapat berguna bagi pemerintah dan kesejahteraan masyarakat.

METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi penelitian ini merupakan tempat populasi sapi potong terbanyak di Kabupaten Tanah Laut setelah Kecamatan Pelaihari. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2019 hingga Juni 2019.

Jenis dan Sumber Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode survei, wawancara kepada responden secara langsung dengan bantuan kuisioner yang telah disiapkan sebelumnya seperti identitas peternak, sistem penjualan dan harga jual ternak ditanyakan

(3)

Ibnu Husin et al. Analisis Pemasaran Sapi Potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut

kepada responden peternak. Untuk identitas pedagang perantara, total pembelian, harga pembelian dan penjualan ternak, biaya pemasaran dan cara pembayaran, ditanyakan kepada responden pedagang perantara, sedangkan identitas pedagang daging harga pembelian ternak dan harga penjualan daging sapi ditanyakan kepada responden konsumen akhir atau pedagang daging yang kemudian ditambahkan dengan pengamatan langsung oleh peneliti terhadap setiap aktivitas yang terkait dengan penelitian ini. Hal-hal tersebut sebagai sumber acuan untuk data primer. Sebaliknya data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik dan Dinas Peternakan Kabupaten Tanah Laut menjadi acuan dalam sumber data sekunder pada penelitian ini. Selain itu, studi pustaka serta literatur-literatur lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

Metode Penarikan Contoh

Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Takisung dipilih secara sengaja (Purposive Sampling) tiga desa yang paling banyak jumlah peternaknya yaitu Desa Takisung, Gunung Makmur, dan Sumber Makmur. Jumlah populasi di 3 desa tersebut adalah 65 orang. Menurut Arikunto (1996) karena jumlah populasi kurang dari 100 maka sampel peternak yang diterima adalah berjumlah 30 orang. Adapun pengambilan sambel peternak ditiap desa dilakukan secara acak terproporsi sebagai berikut:

1. Sumber Makmur 21/65 x 30 = 10 peternak.

2. Takisung 23/65 x 30 = 10 peternak.

3. Gunung Makmur 21/65 x 30 = 10 peternak.

Untuk memilih pedagang lokal dan pedagang pemotong digunakan metode snowball sampling yaitu teknik pengambilan data dari peternak kemudian menjadi sumber informasi tentang pedagang pengumpul dan pedagang lainnya yang dominan yang dijadikan contoh.

Batasan Masalah

Berdasarkan masalah yang ada maka penulis membatasi penulisan agar sesuai dengan tujuan yang ada maka penelitian yang dilakukan oleh penulis terkait saluran pemasaran sapi potong yaitu dari Kecamatan Takisung sampai pasar hewan yang ada di Kecamatan Pelaihari selama periode Bulan April sampai Bulan Juni 2019.

Analisis Data

Untuk mengidentifikasi tujuan pertama yaitu mengetahui saluran dan lembaga-lembaga pemasaran ternak sapi dan daging sapi dilakukan dengan cara menelusuri mata rantai saluran pemasaran yang dilalui di tahap peternak sapi potong sampai dengan konsumen akhir.

Untuk menjawab tujuan kedua yaitu menganalis berapa biaya pemasaran menggunakan rumus (Handayani dan Nurlaila, 2011):

Bp = Bp1 + Bp2 + Bp3 + …. + Bpn (1) dengan:

Bp biaya pemasaran sapi (Rp).

Bp1,…Bpn biaya pemasaran sapi per lembaga pemasaran sapi (Rp) 1,2,3,…n jumlah lembaga.

Menurut Soekartawi (1993), untuk menghitung keuntungan pemasaran sapi.

Kp = Kp1 + Kp2 + Kp3 + …. + Kpn (2) dengan:

Kp keuntungan pemasaran sapi (Rp) Kp1,…Kpn keuntungan pemasaran per

lembaga pemasaran sapi (Rp) Menurut Sudiyono (2002), untuk selisih harga ditahap konsumen dan ditahap produsen (margin pemasaran) menggunakan rumus:

Mp = Pr–Pf (3)

dengan:

Mp margin pemasaran sapi (Rp/ekor) Pr harga sapi ditahap konsumen (Rp/ekor) Pf Harga sapi yang diterima produsen

(Rp/ekor)

Menurut Hanafie (2010), biaya pemasaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang diterima oleh pedagang perantara merupakan margin yang diperoleh pedagang perantara dirumuskan:

Mp = Bp + Kp (4)

dengan:

Mp margin pemasaran sapi (Rp/ekor) Bp Biaya pemasaran sapi (Rp/ekor) Kp Keuntungan pemasaran sapi (Rp/ekor) Selanjutnya Sudiyono (2002), untuk menghitung farmer’s share menggunakan rumus:

F = (Pf/Pr) x 100% (5)

(4)

Keterangan:

F Bagian yang diterima peternak sapi (farmer’s share);

Pf Harga di tahap peternak sapi;

Pr Harga di tahap konsumen.

Tujuan yang ketiga yaitu untuk mendeteksi efisiensi pemasaran per saluran pemasaran sapi potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut menggunakan farmer’s share yang akan di identifikasi. Karena menurut Abadi (2007), bila farmer’s share < 50% berarti pemasaran belum efisien dan pemasaran dikatakan efisien apabilafarmer’s share≥ 50%.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Responden Peternak Sapi. Peternak sebagian besar masih pada usia produktif yakni antara 25- 54 tahun dengan tingkat pendidikan tamatan SLTA sederjat, tanggungan 4 orang dan pengalaman ternak mayoritas 5-10 tahun dengan jumlah ternak minimal 3 ekor.

Karakteristik Pedagang Lokal (blantik) dan Pedagang Potong. Hasil yang didapat di lapangan dari metode snowball sampling dinyatakan ada 6 orang pedagang lokal (blantik) dan pedagang pemotong sebanyak 4 orang.

Setiap kali melakukan pemasaran, skala usaha pedagang lokal kisaran 2-3 ekor. Sedangkan pedagang pemotong melakukan pemotongan sapi 3 – 5 ekor setiap hari. Pengalaman yang dimiliki dari pedagang lokal meiliki pengalaman 10– 15 tahun dan untuk pengalaman pedagang pemotong yaitu 10–20 tahun.

Saluran Pemasaran dan Fungsi Pemasaran

Saluran Pemasaran. Pada umumnya selain pasar, saluran pemasaran juga terbentuk dari proses yang tanpa disengaja atau alami. Dari penelitian ini, hasil yang diperoleh yaitu satu pasar yaitu pasar hewan yang terletak di Kelurahan Sarang Halang tersebut memiliki saluran pemasaran yang bertingkat-tingkat.

Untuk mencapai ke konsumen harus melalui dari peternak sapi potong yang menjual maupun dibeli oleh pedagang lokal kemudian menjualnya kepada pedagang pedagang pemotong. Pedagang pemotong umumnya sudah berlangganan lama kepada pedagang local

tersebut. Selanjutnya, dilakukan pemotongan sapi di RPH hingga dalam bentuk karkas saat di jual ke konsumen.

Dari hasil survei pengamatan langsung dilapangan, ditemukan beberapa tipe saluran pemasaran di Kecamatan Takisung yaitu yang akan disajikan pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Pola saluran pemasaran ternak sapi potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut, 2019

Sumber: Pengolahan data primer, 2019.

Berdasarkan gambar tersebut diketahui terdapat empat tipe saluran pemasaran sapi potong di kecamatan tersebut, yang akan diuraikan sebagai berikui:

Saluran I (Peternak Konsumen).

Kesederhanaan salauran pemasaran akan di temukan pada tipe saluran pertama ini. Namun, tipe ini sangat jarang terjadi karena hanya sewaktu peternak membutuhkan sesuatu atau ada desakan ekonomi lainya untuk kebutuhan hidupnya seperti untuk baiaya berobat, acara, dan biaya anak masuk sekolah maupun kuliah.

Penjualan ini pada tipe ini dengan cara peternak yang mewarkan untuk mejual kepada konsumen, atau konsumen yang akan mendatangi peternak untuk membelinya seperti halnya pada saat orang hendak melakukan perkawinan dan Hari Raya Idul ‘Adha/Qurban.

Sedangkan pada waktu selain itu, peternak kurang mengetahui informasi pasar dikarenakan mereka fokus terhadap usahanya.

Saluran II (Peternak–Pedagang Pemotong– Konsumen). Tipe saluran pemasaran lokal (tingkat kecamatan) ditemukan pada saluran kedua. Saluran kedua adalah tipe saluran pemasaran lokal di tingkat kecamatan, dimana peternak langsung menjual sapinya ke pedagang pemotong, dimana disini peternak sudah saling kenal atau sudah berlangganan.dan kemudian pedagang pemotong membawa ternak tersebut ke Rumah Potong Hewan (RPH), kemudian menjual ke konsumen dalam bentuk karkas.

(5)

Ibnu Husin et al. Analisis Pemasaran Sapi Potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut

Pedagang pemotong dalam tipe saluran pemasaran ini akan mengeluarkan biaya pemasaran.

Saluran III (Peternak-Pedagang Lokal/Blantik Konsumen). Saluran ini merupakan solusi bagi peternak yang tidak ingin mengeluarkan biaya pemasaran, sehingga biaya pemasaran akan ditanggung oleh pedagang lokal (Blantik). Pemblantikan umumnya akan mengambil porsi lebih banyak pada proses pemasaran dari desa hingga pasar hewan, baik dari proses membawa sapi hingga kepasar hewan, yang terdiri dari biaya transportasi, parker dan upah tenaga kerja dalam proses tersebut. Sesampainya di pasar hewan sapi akan sesegara mungkin untuk dijual.

Saluran IV (Peternak Pedagang Lokal/Blantik Pedagang Pemotong Konsumen). Pada saluran pemasaran tipe ini biaya akan di keluarkan hanya oleh pedagang lokal/blantik dan pedagang pemotong. Saluran ini merupakan pasaran lokal dengan saluran terpanjang karena lintas desa, kecamatan hingga ke kabupaten (pasar hewan) sehingga banyak lembaga yang terlibat. Keterlibatan lembaga pemasaran mulai dari pedagang lokal/blantik yang memperoleh sapi potong langsung dari peternaknya, kemudian dijual ke pedagang pemotong dan pedagang pemotong menjual kepada konsumen dalam bentuk karkas yang sebelumnya diperoleh melalui proses pemotongan di RPH.

Fungsi Pemasaran. Dari penelitian ini diketahui bahwa hanya 10% peternak yang menjual sapi potong kepada konsumen.

Selanjutnya 16,7% peternak menjual ternak sapi potongnya ke pedagang pemotong, kemudian dijual lagi kepada konsumen dalam bentuk karkas. 43,3% peternak menjual sapinya ke pedagang lokal (blantik) kemudian dijual lagi ke konsumen dan 30% peternak menjual ternak sapi potongnya kepada peternak lokal (blantik) selanjutnya dijual lagi ke pedagang pemotong dan selanjutnya dipasarkan ke konsumen dalam bentuk karkas. Artinya sebagian besar peternak menjual ternak sapinya ke pedagang lokal agar peternak tidak mengeluarkan biaya besar.

Pedagang lokal (blantik) akan menjual kisaran dua hingga tiga ekor sapi potong yang dibelinya dari peternak ke pasar hewan pada hari pasar.

Pemotongan sapi akan dilakukan di RPH setelah pedagang pemotong membelinya di pasar hewan. Sedangkan besarnya pembelian

pedagang pemotong untuk ternak sapi berjumlah dari tiga hingga lima ekor hewan pada hari pasar dan melakukan pemotongan dari satu hingga tiga ekor setiap harinya. Pedagang pemotong biasanya memilih ternak sapi yang memiliki rata rata berat hidup 275 kg. Sapi yang telah terpotong tersebut akan diangkut menuju pasar mengggunakan kendaraan dan dipasarkan di kios pedagang pemotong tersebut.

Terkait dengan fungsi pemasaran yang berlaku pada keseluruhan saluran pemasaran dan pengambilan fungsi dari masing-masing lembaga pemasaran dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Fungsi-fungsi pemasaran pada tingkat petani/peternak dan pedagang sapi potong

Fungsi-fungsi pemasaran

Petani/

peternak

Pedagang lokal

Pedagang pemotong Pertukaran

1. Penjualan * * *

2. Pembelian * *

Fasilitas

1. Informasi pasar * * *

2. Pembiayaan * *

3. Penanggungan resiko * * *

Fisik

1. Packing * *

2. Pengangkutan * *

3. Penampungan *

Sumber: Pengolahan data primer, 2019

Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa seluruh lembaga pemasaran akan melaksanakan fungsi pertukaran berupa penjualan, fungsi fasilitas berupa informasi pasar dan penanggungan resiko. Sedangkan untuk fungi Fisik berupa penampungan hanya dilakukan oleh pedagang pemotong.

Analisis Biaya dan Marjin Pemasaran

Peningkatkan nilai guna bagi ternak sapi potong seperti guna tempat, guna waktu, guna pemilikan dan guna bentuk akan di usahakan oleh tiap lembaga pemasaran agar mendapatkan keuntungan dari kegiatan usahanya. Namun dalam peningkatan nilai fungsi yang tercantum, tiap lembaga pemasaran akan mengeluarkan biaya-biaya yang rinciannya dapat dilihat dari Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5. Tiap biaya yang dikeluarkan tersebut akan berdampak terhadapap perhitungan margin pemasaran.

Dengan biaya yang besar, marjin pemasaran akan semakin kecil. Oleh sebab itu, tiap

(6)

lembaga pemasaran akan mengusahakan untuk efesiensi dari setiap biaya-biaya tersebut.

Saluran I. Pada saluran I, biaya yang dikeluarkan tidak ada (lihat Tabel 2). Hal ini dikarenakan peternak langsung menjual ternaknya ke konsumen tanpa perantara maka farmer’s share pada saluran ini ialah 100%.

Untuk berat sapi potong pada saluran ini rata- rata memiliki bobot hidup 250 kg. Saluran ini terjadi umumnya pada saat menjelang Hari Raya Qurban dan menjelang hari perkawinan atau hajatan. Oleh sebab itu, dengan membeli sapi kepada peternak secara langsung tentunya konsumen akan lebih diuntungkan

Tabel 2. Biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran serta farmer’s share pada saluran I

No. Uraian biaya Rp/ekor

1. Peternak

a. Harga jual 14.600.000

2. Konsumen

a. Harga beli 14.600.000

3. Margin pemasaran 0

4. Keuntungan pemasaran 0

5. Farmer’s share 100%

Sumber: Pengolahan Data Primer, 2019

Saluran II. Untuk biaya apa saja yang dikeluarkan, seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dan margin pemasaran sertafarmer’s share dapat dilihat dari Tabel 3. Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada saluran II, biaya terkecil yang dikeluarkan oleh pedagang pemotong adalah pada biaya retribusi Rumah Potong Hewan (RPH) dengan rincian biaya sebanyak Rp200.000/ekor. Hasil sapi potong dengan berat kotor sekitar 250 Kg akan didapat bagian karkas terbesar yang dapat dijual yaitu berupa daging dan karkas terkecil yang dapat dijual yaitu berupa ekor. Terkait hasil penjualan karkas memiliki perbedaan harga dari setiap jenisnya.

Harga karkas tertinggi yaitu berupa daging, sedangkan harga karkas terendah yaitu kulit dengan harga satuan daging perkilonya Rp130.000 dan harga satuan kulit perkilonya Rp15.000. Untuk keseluruhan total biaya sebanyak Rp570.000/ekor, keuntungan sebanyak Rp4.950.000/ekor dan memiliki marjin pemasaran Rp5.520.000/ekor serta memperoleh hasilfarmer’s share73,74%.

Tabel 3. Biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran sertafarmer’s sharepada saluran II

No. Uraian biaya Rp/ekor

1. Peternak

Harga jual 15.500.000

2. Pedagang pemotong

Harga beli 15.500.000

Biaya

a. Biaya angkut 150.000

b. Biaya tenaga kerja 100.000

c. Sewa kios 250.000

d. Retribusi RPH 20.000

e. Parkir -

f. Biaya lainnya 50.000

Total biaya 570.000 Harga penjualan dalam bentuk karkas

Uraian karkas Harga per Kg

Jumlah

Kg Total

a. Daging 130.000 113 14.690.000

b. Kulit 15.000 20 300.000

c. Kepala 25.000 8 200.000

d. Ekor 60.000 3 180.000

e. Hati 80.000 5 400.000

f. Jeroan 70.000 15 1.050.000

g. Tulang/Iga 70.000 60 4.200.000

Total 224 21.020.000

3. Konsumen

Harga beli 21.020.000

4. Marjin pemasaran 5.520.000

5. Keuntungan pemasaran 4.950.000

6. Farmer’s share 73,74%

Sumber: Pengolahan data primer, 2019

Saluran III. Untuk mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, keuntungan yang dihasilkan dan marjin serta farmer’s share untuk saluran III ini, dapat melihat sajian pada Tabel 4.

Tabel 4. Biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran serta farmer’s share pada saluran III

No. Uraian biaya Rp/ekor

1. Peternak

Harga jual 14.500.000

2. Pedagang lokal (blantik)

Harga beli 14.500.000

Biaya

a. Biaya angkut 100.000

b. Biaya tenaga kerja 85.000 c. Retribusi pasar hewan 5.000

d. Parkir 3.000

e. Biaya lainnya 50.000

Total biaya 243.000

Harga jual 15.200.000

3. Konsumen

Harga beli 15.200.000

4. Marjin pemasaran 700.000

5. Keuntungan pemasaran 492.000

6. Farmer’s share 95,39%

Sumber: Pengolahan Data Primer, 2019

(7)

Ibnu Husin et al. Analisis Pemasaran Sapi Potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut

Tabel 5. Biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran serta farmer’s share pada saluran IV

No. Uraian biaya Rp/ekor

1. Peternak

Harga jual 15.100.000

2. Pedagang lokal (blantik)

Harga beli 15.100.000

Biaya pemasaran

a. Biaya angkut 100.000

b. Biaya tenaga kerja 85.000

c. Retribusi pasar 5.000

d. Biaya parker 3.000

e. Biaya lainnya 50.000

Total biaya pedagang

lokal 243.000

Harga jual 15.800.000

Marjin pemasaran lokal 700.000 Keuntungan pemasaran pedagang

lokal 457.000

3. Pedagang pemotong

Harga beli 15.800.000

Biaya

a. Biaya angkut 100.000

b. Biaya tenaga kerja 100.000

c. Sewa kios 250.000

d. Retribusi RPH 20.000

e. Parkir 3.000

f. Biaya lainnya 50.000

Total biaya pedagang

pemotong 523.000

Harga penjualan dalam bentuk karkas Uraian karkas Harga

per Kg

Jumlah

Kg Total

a. Daging 130.000 113 14.690.000

b. Kulit 15.000 20 300.000

c. Kepala 25.000 8 200.000

d. Ekor 60.000 3 180.000

e. Hati 80.000 5 400.000

f. Jeroan 70.000 15 1.050.000

g. Tulang/Iga 70.000 60 4.200.000 Total 224 21.020.000 4. Konsumen

Harga beli 21.020.000

5. Marjin pemasaran pedagang

pemotong 5.220.000

6. Keuntungan pemasaran pedagang

pemotong 4.697.000

7. Biaya pemasaran keseluruhan 766.000 8. Keuntungan pemasaran keseluruhan 5.124.000 9. Marjin pemasaran keseluruhan 5.920.000

10. Farmer’s share 71,86%

Sumber: Pengolahan Data Primer, 2019

Dari uraian Tabel 4, harga ternak naik sebesar 4,83% dari pembelian awal. Selanjutnya, biaya terbesar yang dikeluarkan oleh pedagang lokal adalah biaya angkut (41,15%) dan biaya terkecilnya adalah biaya parkir (1,23%) diikuti biaya retribusi pasar hewan di peringkat kedua terkecil (0,21%). Dari hasil perhitungan diketahui bahwa keseluruhan biaya yang

dikeluarkan dalam saluran ini adalah Rp 243.000/ekor dan memperoleh hasil keuntungan sebanyak Rp 457.000/ekor dan memiliki margin sebanyak Rp 700.000/ekor serta memperoleh hasilfarmer’s share95,39%.

Saluran IV. Untuk mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan serta totalnya, dan keuntungan setiap lembaga pemasaran serta bagian yang diterima oleh peternak (farmer’s share) pada saluran pemasaran IV dapat dilihat pada Tabel 5.

Pada saluran IV, diketahui rata-rata bobot hidup sapi potong dikisaran berat rata-ratanya 275 kg/ekor. Rata-rata pedagang local melakukan pembelian sapi dari peternak seharga Rp15.1000.000/ekor dan dijual kembali melalui pasar hewan ke pedagang pemotong rata-rata seharga Rp15.800.000/ekor. Dari Tabel 5 diketahui bahwa pedagang lokal mengeluarkan total biaya sebanyak Rp243.000/ekor dan sedangkan biaya sebanyak Rp523.000/ekor dikeluarkan oleh pedagang pemotong, maka total keseluruhan dari biaya pedagang pemotong dan biaya pedagang lokal sebesar Rp766.000/ekor. Untuk keuntungan pedagang lokal sebanyak. Rp457.000/ekor dan keuntungan sebanyak Rp4.697.000/ekor diperoleh pedagang pemotong, maka total keseluruhan dari ke dua pedagang tersebut adalah Rp5.124.000/ekor. Sedangkan untuk marjin pemasaran dari pedagang lokal (blantik) adalah Rp700.000/ekor dan pedagang pemotong adalah Rp5.220.000/ekor, maka total keseluruhan margin keduanya adalah Rp5.920.000/ekor serta memperoleh hasil farmer’s sharesebanyak 71,86%.

Efesiensi Pemasaran

Hasil penelitian saluran I memperolehfarmer’s share 100%, saluran II memperoleh farmer’s share 73,74%, saluran III memperoleh hasil f farmer’s share 95,39% dan saluran IV memperoleh farmer’s share 71,84%. Sehingga dari hasil penelitian menerangkan bahwa keempat saluran pemasaran yang ada termasuk dalam kategori saluran pemasaran yang efisien.

Hal dikarenakan, seluruhfarmer’s sharesaluran pemsaran tersebut di atas 50%. Akan tetapi kalau dilihat dari hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa saluran I lebih efisien dari tiga saluran lainnya lantaran memperoleh farmer’s share 100%, diiringi dengan saluran III, saluran II dan saluran IV.

(8)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:

1. Ada 4 bentuk saluran pemasaran ternak sapi potong di daerah Kecamatan Takisung, yaitu: Saluran I yaitu (peternak–konsumen), Saluran II yaitu (peternak – pedagang Pemotong)., Saluran III yaitu (peternak – pedagang lokal/blantik – konsumen) dan Saluran IV yaitu (peternak – pedagang lokal/blantik – pedagang pemotong – konsumen).

2. Biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran serta farmer’s share per ekor untuk masing- masing saluran pemasaran yaitu saluran I dengan biaya, keuntungan, dan marjin pemasaran Rp0 dan farmer’s share memperoleh hasil 100%. Saluran II dengan biaya Rp570.000, keuntungan Rp4.950.000 dan marjin Rp5.520.000 sertafarmer’s share memperoleh hasil 73,74%. Selanjutnya saluran III dengan biaya Rp243.000, keuntungan Rp457.000 dan marjin Rp700.000 sertafarmer’s sharememperoleh hasil 95,39%. Terakhir saluran IV dengan biaya Rp1.766.000, keuntungan Rp5.124.000 dan marjin Rp5.920.000 sertafarmer’s share memperoleh hasil 71,84%.

3. Dari keempat saluran pemasaran, saluran pemasaran I relatif paling efesien karena memilikifarmer’s shareterbesar.

Saran

Bagi pedang pengmpul maupun peternak di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut agar meningkatkan dari segi produk, penjualan dan jasa. Peningkatan saran dan prasarana yang berbasis teknologi perlu dilakukan oleh pemerintah serta peminimalisiran baiay retrebusi agar harga sapi semakin rendah sehingga mengefisienkan pemasaran.

Selanjutnya, pola saluran pemasaran I lebih dianjurkan bagi konsumen apabila ingin membeli sapi, hal ini dikarenakan harga yang lebih murah dan terjangkau.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, A. S. 2007. Peningkatan produktivitas industri. Yogyakarta. Adi Satria Abadi.

Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Kabupaten Tanah laut. Badan Pusat Statistik.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tanah Laut. 2017. Data Statistik Ternak Bersar Sapi Dan Kerbau Tahun 2017. Kabupaten Tanah Laut.

Hartati, Sumadi, dan Hartatik, T. 2009.

Identifikasi Karakteristik Genetik Sapi Peranakan Ongole Di Peternakan Rakyat.

Buletin Peternakan Vol. 33(2), 64-73.

Hanafie, R. (2010). Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Handayani, S.M dan I. Nurlaila. 2011. Analisis Pemasaran Susu Segar di Kabupaten Klaten. Jurnal Sains Peternakan Vol.

9(1), 41-52.

Sudiyono. 2002. Pemasaran Pertanian.

Universitas Muhammadiyah Malang.

Kota Malang.

Soekartawi. 1993. Prinsip – prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Rajawali Pers.

Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan lembaga pemasaran yang mengambil keuntungan tertinggi yaitu pedagang pengecer dengan nominal Rp 3.881/kg, hal ini disebabkan biaya-biaya