• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Gambaran Koinfeksi Hepatitis C pada Pasien HIV di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of Gambaran Koinfeksi Hepatitis C pada Pasien HIV di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

35 Gambaran Koinfeksi Hepatitis C pada Pasien HIV di Salah Satu Rumah Sakit di Kota

Bandung

Gina Khairinisa1, Rita Herawati, 2 , Rizky Patimah3

1,3Program Studi D3 Analis Kesehatan, Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi

2RS. Al-Islam Bandung Email: [email protected]

Abstrak: Hepatitis C Virus (HCV) menyebabkan infeksi kronis yang dapat berkembang menjadi fibrosis dan kanker hati HCV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan narkoba jarum suntik, proses pembuatan tato dengan jarum yang terkontaminasi, dan transmisi dari ibu ke anak. HCV juga bisa menyebabkan koinfekis pada pasien Human Immunodeficiency virus (HIV) karena memiliki rute transmisi yang sama. Koinfeksi HCV berkaitan dengan progresivitas penyakit yang cepat menuju sirosis serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan koinfeksi HCV pada pasien terinfeksi HIV di salah satu Rumah Sakit di kota Bandung dengan menggunakan metode Pemeriksaan rapid Immunochromatographic test (ICT) untuk mendeteksi keberadaan antibodi anti-HCV dan untuk pengujian skrining pada penderita HIV. Sampel yang digunakan adalah sampel yang telah dilakukan pemeriksaan laboratorium Anti-HIV positif dengan jumlah 40 sampel kemudian dilakukan pemeriksaan HCV. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 sampel serum terdapat 4 orang (10%) sampel yang dinyatakan positif untuk HCV. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada pasien terinfeksi HIV terdapat koinfeksi HCV.

Kata Kunci : anti-HIV, anti-HCV, Hepatitis, Koinfeksi

PENDAHULUAN

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel T CD4. Virus ini dapat ditransmisikan secara vertikal dari ibu ke anak dan secara horizontal melalui interaksi seksual, transfusi darah, penggunaan narkoba jarum suntik, dan proses pembuatan tato dengan jarum yang terkontaminasi. Secara bertahap sistem kekebalan tubuh akan memburuk, dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinik yang makin berat, pasien masuk tahap Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Selain infeksi oportunistik, orang yang terinfeksi HIV juga dapat mengalami koinfeksi yaitu infeksi simultan oleh dua virus (Riyaniarti, et al., 2015). Salah satu koinfeksi

yang dapat terjadi pada penderita HIV adalah Hepatitis C virus (HCV).

Hepatitis C Virus (HCV) adalah virus RNA untai tunggal dengan genom berantai tunggal berdiameter 30-60 nm, dan panjang sekitar 10kb memiliki antigen berupa protein rekombinan diantaranya daerah inti, NS3, NS4, dan NS5 dan termasuk famili antara flavivirus dan pestivirus. HCV dapat menyerang sel hepar sehingga menyebabkan infeksi akut dan infeksi kronis yang dapat berkembang menjadi fibrosis dan kanker hati. HIV dan HCV memiliki beberapa persamaan karakteristik yaitu keduanya merupakan virus single stranded RNA, merupakan virus dengan derajat replikasi yang tinggi, ditularkan melalui cara yang sama dan keduanya menyebabkan

(2)

36 penyakit infeksi kronis yang persisten

bertahun-tahun (Winnock, et al., 2012).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Sulkowski MS menyatakan untuk pasien HIV dan koinfeksi HCV (HIV / HCV), Tingkat prevalensi berkisar antara delapan sampai tiga puluh persen diantara orang terinfeksi HIV (Sulkowski, et al., 2002).

Koinfeksi merupakan infeksi simultan oleh dua virus. Salah satu kasus koinfeksi adalah infeksi HCV pada orang yang telah terinfeksi HIV. Koinfeksi HCV-HIV dapat berbahaya karena progresivitas fibrosis hati makin cepat dan bisa menyebabkan tingginya kejadian sirosis dibandingkan pada penderita monoinfeksi HCV dan lebih rentan mengalami toksisitas hepar dan steatosis akibat penggunaan HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy), terlebih jika menggunakan NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor) (Singal & Anand, 2013). Infeksi HCV dan HIV memiliki rute penularan yang sama sekitar 40% (Sushmita, et al., 2012). Dari jumlah tersebut 72-95% adalah pengguna jarum suntik, 1-12% adalah pria yang berhubungan seks dengan pria (Men Sex with Men - MSM), dan 9-27% heteroseksual.

Dari kelompok pengguna jarum suntik terdapat lebih dari 30% pasien terinfeksi HIV mengalami koinfeksi dengan HCV terutama di negara-negara berkembang (Klein, et al., 2010) Termasuk kota Bandung yang memiliki jumlah ODHA terbanyak dibandingkan dengan 25 kabupaten atau kota lainnya di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu dari 5 provinsi dengan kasus HIV-AIDS tertinggi di Indonesia (Sugiharti, et al., 2012).

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan pada pemeriksaan HCV menggunakan enzim immunoassay dan uji imunoblot rekombinan atau pengujian asam nukleat HCV untuk RNA yang bertujuan mendiagnosis infeksi hepatitis C, tetapi sebelum dilakukannya pengujian tersebut perlu dilakukan tes diagnostik cepat berbasis antibodi yang bertujuan untuk penyaringan awal atau skrining. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik melakukan peneltian untuk mengetahui keberadaan kasus koinfeksi HCV pada pasien terinfeksi HIV Menggunakan metode immunokromatografi (ICT) untuk uji skrining.

Tujuan Penelitian untuk mengetahui keberadaan kasus koinfeksi HCV pada pasien terinfeksi HIV di salah satu Rumah Sakit di kota Bandung.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan koinfeksi HCV pada penderita HIV. Waktu dan tempat penelitian pada bulan Februari-Maret 2018 di Laboratorium Imunologi Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi. Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang terinfeksi HIV di salah satu Rumah Sakit kota bandung. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 40 sampel pasien HIV yang akan diperiksa HCV, yang sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan laboratorium HIV dengan pemeriksaan 3 strategi.

Pemeriksaan Laboratorium

(3)

37 Penelitian ini akan menggunakan

pemeriksaan laboratorium metode imunokromatografi antibodi HCV. Berikut tahapan pemeriksaan yang akan dilakukan berdasarkan kit insert :

1) Rapid test dikeluarkan dari kantung alumunium, dibiarkan mencapai suhu kamar dan ditempatkan pada permukaan yang bersih dan kering.

2) Spesimen diteteskan sebanyak 2 tetes (sekitar 50 μl) kedalam sumur sampel menggunakan dropper sekali pakai.

3) Dibiarkan selama 10-15 menit untuk interpretasi hasil.

4) Dilihat garis warna yang terbentuk.

Analisis Data

Data didapakan dari data primer yaitu data hasil pemeriksaan laboratorium Anti-HIV yang kemudian dilakukan pemeriksaan HCV.

Data yang terkumpul kemudian dibuat tabel persentase hasil dari uji koinfeksi HCV pada pasien terinfeksi HIV di salah satu Rumah Sakit dikota Bandung.

HASIL

Pada penelitian ini telah diperoleh 40 responden yang terinfeksi HIV di salah satu Rumah Sakit di Kota Bandung. Pemeriksaan Koinfeksi Hepatitis C ini menggunakan metode imunokromatografi (ICT) yang dilakukan sebagai uji skrining. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :

Tabel 1.Hasil Pemeriksaan Koinfeksi Hepatitis C pada Pasien Terinfeksi HIV

Hasil HIV Hasil HCV

Positif 40 4

Negatif 0 36

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa empat responden positif pada pemeriksaan Hepatitis C menggunakan metode imunokromatografi (ICT). Responden tersebut dapat dinyatakan terkena koinfeksi Hepatitis C.

Diagram 1. Hasil Pemeriksaan Hepatitis C menggunakan metode Imunokromatografi

(ICT)

Berdasarkan Diagram diatas diketahui Hasil Pemeriksaan Hepatitis C menggunakan metode Imunokromatografi yang menunjukkan hasil positif sebesar 10 % dan hasil negatif sebesar 90 %.

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini diperoleh hasil terdapat empat responden positif. Yang disebabkan masuknya virus hepatitis C ke dalam tubuh yang selanjutnya akan menginfeksi sel hati sehingga akan mengganggu aktivitas sel normal, virus akan memperbanyak diri dalam sel inang yang

90%

10%

HCV Negatif HCV Positif

(4)

38 kemudian menginfeksi sel lain. Dari hasil

penelitian yang positif didapatkan satu hasil positif dengan garis samar yang kemungkinan disebabkan karena rendahnya kadar antibodi anti-HCV dalam tubuh responden, Menurut karjen (2002) bahwa batas deteksi RNA HCV dengan hasil yang menujukkan positif pada sensitivitas >99% (99% - 100%) adalah 50 IU / mL dan pada batas deteksi RNA HCV dengan hasil yang menujukkan zona abu abu ( tidak tentu ) yaitu 45 IU / ml sampai 32 IU / ml dan dibawah 32 IU / ml menunjukkan hasil negatif.

Hal ini ditentukan menggunakan pengenceran standar HCV menurut World Health Organization dalam 15 kali pengenceran pada konsentrasi dari 1,0 hingga 70 IU / ml dan pada penelitian ini terdapat hasil positif dengan terlihatnya dua garis yang tampak jelas pada alat immunokromatografi test, ini disebabkan karena kemungkinan kadar antibodi anti-HCV dalam tubuh responden terdapat lebih dari 45 IU / ml. Hasil dengan kadar antibodi anti-HCV rendah bisa disebabkan karena kemungkinan masa inkubasi virus hepatitis C belum mencapai masa puncaknya, masa puncak untuk Hepatitis C yaitu antara 6-12 minggu setelah tubuh terinfeksi hepatitis C.

Dari 40 sampel didapatkan 4 orang (10%) positif untuk HCV. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian mengenai koinfeksi HCV. Di Nigeria utara didapatkan untuk hasil positif HCV adalah 11,1%, sementara prevalensi HCV di Brazil mendapatkan hasil 10.3 %. Penelitian yang dilakukan oleh Sidhajadi (2012) di Surakarta angka prevalensi dari 65 pasien HIV dengan koinfeksi HCV berturut-turut adalah 10,8%,

namun lebih rendah dari 8,2% yang dilakuan oleh Inyama (2016). Sementara penelitian yang dilakukan oleh Sulkowski (2002) yang menyatakan bahwa pasien HIV dan koinfeksi HCV tingkat prevalensi berkisar antara 8 - 30% diantara orang terinfeksi HIV. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Hasil pemeriksaan Hepatitis C negatif bisa dipengaruhi oleh beberapa kemungkinan, antara lain Antibodi anti-HCV di dalam serum atau plasma responden terlalu rendah sehingga tidak dapat terdeteksi oleh imunokromatografi tes (ICT). Pada penelitian Olanisun et al (2009) meyatakan bahwa prevalensi koinfeksi hepatitis dengan HIV dapat meningkat karena pengaruh lamanya seseorang menderita infeksi HIV, dan menurut Rawizza et al (2015) secara bertahap pada stadium 3 - 4 dengan CD4 < 200 sel / μl lebih beresiko terkena koinfeksi daripada yang diamati pada stadium 1 - 2 dengan CD4 ≥ 200 sel / μl.

Pada penderita koinfeksi HIV-HCV, kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan replikasi virus pada keadaan imunosupresi. Faktor utama terjadinya akselerasi HCV adalah supresi sistem imun karena berkurangnya sel CD4 oleh HIV. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bartensclager (2000) yang menyatakan bawa respon imun dalam koinfeksi HIV dengan HCV menyebabkan progresi menjadi fibrosis hati yang berhubungan dengan lemahnya respon imun seluler terhadap antigen hepatitis C pada pasien HIV. Infeksi HIV ditandai dengan penurunan jumlah sel CD4 didalam sirkulasi, gangguan fungsi dari sel CD4 dan CD8 serta

(5)

39 down regulation dari ekspresi CD28 yaitu

sebuah molekul yang dibutuhkan untuk aktifasi dari limfosit. Pasien dengan kadar CD4 yang rendah akan mengakibatkan penurunan respon dari sel CD8 terhadap virus hepatitis C. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara supresi imun dengan progresi penyakit hati, karena respon dari sel CD8 diketahui penting dalam respon imun terhadap infeksi virus. Pada penderita koinfeksi HIV-HCV menyebabkan progresivitas fibrosis hepar meningkat, kerusakan sel hepar pada koinfeksi juga terjadi karena kombinasi infeksi kedua virus pada hepatosit. Meurut Klein (2010) pada penderita koinfeksi HIV-HCV, sel kuffer yang terinfeksi HIV beralih pada respon sitokin Th2, kemudian mengaktifkan sel stelata hepar yang berfungsi sebagai mediator utama deposisi kolagen dan fibrogenesis pada hepar. Adanya modulasi fungsi presentasi antigen pada sel kupffer oleh HIV juga menyebabkan kerusakan hepar lebih progresif. Disamping itu, HIV selain menginfeksi sel T juga mengubah fungsi dan fenotipe sel dendritik dan sel NK yang berperan penting dalam imunitas innate dan adaptif. Hal ini berkontribusi dalam berkurangnya respon imun spesifik HCV pada koinfeksi HIV-HCV.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaaan dari 40 sampel pasien terinfeksi HIV terdapat 4 orang (10%) positif pada pemeriksaan HCV menggunakan immunokromatografi.

SARAN

Responden dengan hasil positif menggunakanmetode immunokromatografi tes, disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan enzim immunoassay untuk mengukur kadar antibodi dan uji imunoblot rekombinan.

DAFTAR PUSTAKA

Bartensclager R, Lohmann V., 2000 Replication of Hepatitis C Virus. J Gen Virol; 81(7) (hml.16:31-48)

Klein. MB, Saeed S. Yang, H., 2010. Cohort Profi Le: The Canadian HIV–Hepatitis C Coinfection Cohort Study.

Tatalaksana Koinfeksi Hepatitis C, 40 (2).

Riyaniarti, M. M., Sutarno & Prasetyo, A. A., 2015. Koinfeksi Virus Hepatitis B Terdeteksi Pada pasien HIV di Rumah Sakit Umum dr. Moewardi di Surakarta. Jakarta: Erlangga.

Singal, A. K. & Anand, B. S., 2013.

Management of hepatitis C virus infection in HIV/HCV co-infected patients: Clinical review. 15(30).

(Eds), World J Gastroenterol (hml.13- 24)

Sugiharti, Yuniar Y & Lestary H, 2012.

Gambaran kepatuhan Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dalam Minum Obat ARV di kota Bandung. bandung:

Pusat Reknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat

Sulkowski, M., 2002. Hepatitis C and progression of HIV Disease. J Am Med Ass . (Eds), J Am Med Ass (hml.

288:199-206)

Sushmita., 2012. Accuracy of Rapid and Point- of-Care Screening Tests for Hepatitis C. American: American College of Physicians.

Winnock, M., Ceron DS, Dabis F & Chene G, 2012. Interaction between HI V- 1 and HCV infection. (Eds). JAC (hml. 53:

936- 46).

Referensi

Dokumen terkait

Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah pasien HIV/AIDS rawat jalan maupun rawat inap yang menjalani terapi ARV di sebuah rumah sakit pendidikan di Yogyakarta yang memenuhi

3, September 2019 Printed in Indonesia Pages: 589-600 A QUALITATIVE APPROACH TOWARDS THE UNDERSTANDING OF MANAGERIAL EMPLOYEES IN ISLAMIC ORGANIZATIONS Azwan Abdullah1;