GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM PENCEGAHAN PENGENDALIAN RABIES (GHPR) DI DINAS KESEHATAN
KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2023
LAPORAN MAGANG
Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
Bidang Ilmu Epidemiologi dan Biostatistik Program Studi S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Oleh :
MAISYATIL KHAIRATIH NIM. 2011213006
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS
2023
i KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat sertazhidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang dengan judul “Gambaran Pelaksanaan Program Pencegahan Pengendalian Rabies (GHPR) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2023”.
Dalam penyusunan laporan magang ini, penulis mendapatkan bimbingan, arahan dan masukan, sumbangan gagasan pemikiran serta dorongan dari berbagai pihak.
Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan nasehat sehingga penulis bisa melewati dan menjalankan setiap proses ini dengan mudah, terimakasih banyak.
2. Bapak Defriman Djafri, SKM., MKM., P.hD selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang.
3. Ibu Fitriyani, SKM., MKKK selaku koordinator magang Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
4. Bapak Ratno Widoyo, SKM, MKM, Ph.D sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, saran, serta nasihatnya kepada penulis.
5. Ibu Elsi Novnariza, SKM., MKM sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun dalam kesempurnaan laporan magang penulis
6. Bapak dr.H. Aspinuddin selaku kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman yang telah memberi izin melaksanakan magang di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman.
7. Ibu Deby Afrina, SKM., M.KM selaku Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular sekaligus pembimbing lapangan yang telah memberikan banyak ilmu baik secara akademik maupun non akademik serta meluangkan waktunya dalam membimbing penulis selama berada di lokasi magang.
ii 8. Ibu Syaffitri Syamsul, S.Kep selaku penanggung jawab program rabies yang telah mengizinkan penulis ikut andil dalam kegiatan, telah bersedia diwawancara dan memberikan arahan serta ilmunya kepada penulis
9. Bapak/Ibu seluruh staf Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman yang telah menerima dan banyak membantu penulis selama berada di lokasi magang.
10. Sahabat-sahabat seperjuangan yang magang di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman (Uul, Nisa, Ayu, dan Kiki) yang saling mendukung dan menguatkan sehingga kita bisa sama-sama melewati lika-liku permagangan ini
11. Semua pihak yang telah terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyelesaian laporan magang ini penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam tulisan maupun dalam penyajiannya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai bahan masukan untuk penulis di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga laporan magang ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.
Aamiin.
Padang Pariaman, Desember 2023 Penulis
Maisyatil Khairatih NIM. 2011213006
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB 1: PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 3
1.2.1 Tujuan Umum ... 3
1.2.2 Tujuan Khusus... 3
1.3 Ruang Lingkup ... 4
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Rabies ... 6
2.1.1 Pengertian Rabies (GHPR) ... 6
2.1.2 Epidemiologi Rabies ... 6
2.1.3 Etiologi Rabies ... 8
2.1.4 Cara Penularan Dan Masa Inkubasi ... 8
2.1.5 Patogenesis ... 10
2.1.6 Gejala Klinis... 10
2.1.7 Pencegahan Rabies Pada Manusia ... 12
2.1.8 Penanganan Penderita Rabies ... 15
2.1.9 Surveilans Rabies ... 15
2.2 Fungsi Manajemen ... 16
2.2.1 Pengorganisasian ... 16
2.2.2 Sistem dan Manajemen Organisasi ... 17
2.2.3 Perencanaan... 17
2.2.4 Strategi Pencapaian ... 18
2.2.5 Pelaksanaan ... 19
2.2.6 Pengelolaan dan Pengendalian Masalah ... 19
2.2.7 Monitoring ... 21
2.2.8 Evaluasi ... 22
2.2.9 Sistem Pelaporan ... 23
iv
2.2.10 Komunikasi dan Pengawasan ... 23
BAB 3: HASIL KEGIATAN ... 25
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Padang Pariaman ... 25
3.1.1 Geografis ... 25
3.1.2 Demografi ... 26
3.1.3 Visi, Misi, dan Motto Kabupaten Padang Pariaman ... 27
3.1.4 Pendidikan ... 29
3.1.5 Ekonomi ... 29
3.2 Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman ... 30
3.2.1 Visi, Misi dan Motto Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman 30 3.2.2 Jumlah Tenaga Kesehatan ... 31
3.2.3 Sarana Kesehatan ... 33
3.2.4 Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman . 33 3.2.5 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman 35 3.2.6 Struktur Organisasi Bidang P2P (Seksi P2PM) ... 38
3.3 Program-program Kerja dan Kegiatan Rabies ... 39
3.4 Kegiatan Magang ... 42
3.5 Gambaran (Permasalahan / Program Fokus Magang) ... 54
3.5.1 Pengorganisasian ... 54
3.5.2 Sistem dan Manajemen Organisasi ... 54
3.5.3 Perencanaan... 55
3.5.4 Strategi Pencapaian ... 59
3.5.5 Pelaksanaan ... 60
3.5.6 Pengelolaan dan Pengendalian Masalah ... 62
3.5.7 Monitoring ... 63
3.5.8 Evaluasi ... 63
3.5.9 Sistem Pelaporan ... 63
3.5.10 Komunikasi dan Pengawasan ... 64
BAB 4: PEMBAHASAN ... 65
4.1 Pengorganisasian ... 65
4.2 Sistem dan Manajemen Organisasi ... 66
4.3 Perencanaan ... 67
4.3.1 Sumber Daya Manusia (Man) ... 67
v
4.3.2 Dana (Money) ... 67
4.3.3 Metode (Method) ... 68
4.3.4 Mesin (Machine) ... 68
4.3.5 Material ... 68
4.4 Strategi Pencapaian ... 69
4.5 Pelaksanaan ... 69
4.6 Pengelolaan dan Pengendalian Masalah ... 70
4.7 Monitoring ... 71
4.8 Evaluasi ... 71
4.9 Sistem Pelaporan ... 71
4.10 Komunikasi dan Pengawasan ... 72
BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
5. 1 Kesimpulan ... 73
5. 2 Saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA... 76
LAMPIRAN ... 78
vi DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 26
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Flowchart Pemberian VAR dan SAR ... 14
Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Padang Pariaman ... 25
Gambar 3. 2 Piramida Penduduk Tahun 2023... 27
Gambar 3. 3 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pangkat/Golongan ... 31
Gambar 3. 4 Komposisi Pegawai Berdasarkan Eselonering ... 32
Gambar 3. 5 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pendidikan ... 32
Gambar 3. 6 Perkenalan/Orientasi dengan Pembimbing Lapangan... 43
Gambar 3. 7 Merekapitulasi Puskesmas yang Telah Melakukan Pemberian Obat Kecacingan ... 43
Gambar 3. 8 Pengarahan oleh Masing-Masing Kasie Bidang P2P ... 44
Gambar 3. 9 Mengelompokkan Poster Dan Brosur Imunisasi Untuk Puskesmas 44 Gambar 3. 10 Senam di Kantor Bupati Kabupaten Padang Pariaman ... 45
Gambar 3. 11 Berdiskusi Terkait Seksi Surveilans dan Immunisasi ... 45
Gambar 3. 12 Membuat Pemetaan Penyebaran Kasus Campak Rubella Di Kabupaten Padang Pariaman... 46
Gambar 3. 13 Mengikuti Upacara Hari Pahlawan ... 46
Gambar 3. 14 Mengikuti Apel Pagi... 47
Gambar 3. 15 Mengikuti Kegiatan Immunisasi BIAS Bersama Puskesmas Sikabu ... 47
Gambar 3. 16 Turun Lapangan ke Puskesmas Ulakan ... 48
Gambar 3. 17 Mengelompokkan Surat STPD Berdasarkan Nama-Nama Puskesmas ... 48
Gambar 3. 18 Merekap Hasil Pemberian Obat Kecacingan Puskesmas ... 48
Gambar 3. 19 Diskusi Tentang Program Rabies ... 49
Gambar 3. 20 Upacara Hari Kesehatan Nasional yang ke-59 ... 49
Gambar 3. 21 Kegiatan Jalan Sehat ... 50
Gambar 3. 22 Membantu Bidang Konsumsi ... 50
Gambar 3. 23 Mengikuti Permainan “KIM” ... 50
Gambar 3. 24 Membantu Dinkes di bagian Registrasi ... 51
Gambar 3. 25 Meminta Stemple dan Tanda Tangan ke RM Lintas Raya ... 51
Gambar 3. 26 Merekap Laporan Bulanan Puskesmas ... 52
Gambar 3. 27 Mengelompokkan Nota dan Surat Terima... 52
Gambar 3. 28 Merekap Laporan Capaian PTM ... 52
Gambar 3. 29 Membuat PPT Seksi PTM ... 53
Gambar 3. 30 Merekap Surat terima, Tanda terima barang, Pendistribusian barang ... 53
Gambar 3. 31 Memberi Kenang-Kenangan ... 54
Gambar 4. 1 Skema Alur Pelaporan Rabies (GHPR) ... 66
viii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Balasan Penerimaan Magang ... 78 Lampiran 2 Daftar Hadir Mahasiswa Magang ... 79 Lampiran 3 Laporan Rincian Kegiatan Magang ... 81
1 BAB 1: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dinas Kesehatan kabupaten Padang Pariaman terletak di korong Padang Baru nagari Parit Malintang kecamatan Enam Lingkung kabupaten Padang Pariaman. Berdasarkan peraturan Bupati Padang Pariaman nomor 50 tahun 2016, Dinas Kesehatan kabupaten Padang Pariaman merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah di bidang kesehatan dan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati. Kepala Daerah Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan kewenangan otonomi daerah dibidang kesehatan masyarakat meliputi usaha preventif, kuratif, promotif, rehabilitatif, dan melaksanakan ketata usahaan dinas secara horizontal dan vertikal.
Dinas Kesehatan kabupaten Padang Pariaman dikepalai oleh kepala dinas dibantu oleh seorang sekretaris yang membawahi 3 subbagian yaitu, program informasi dan hubungan masyarakat; subbagian keuangan dan pengelolaan aset; dan subbagian hukum, kepegawaian dan umum. Dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman mempunyai beberapa bidang, diantaranya : bidang kesehatan masyarakat (terdiri dari seksi kesehatan keluarga dan gizi; seksi promosi dan pemberdayaan masyarakat; seksi kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan olahraga), bidang pencegahan dan pengendalian penyakit (terdiri dari seksi surveilans dan immunisasi;
seksi P2PM; seksi P2PTM dan kesehatan jiwa), bidang pelayanan kesehatan (terdiri dari seksi pelayanan kesehatan primer; seksi pelayanan kesehatan rujukan; dan seksi pelayanan kesehatan tradisional), bidang sumber daya kesehatan (terdiri dari seksi kefarmasian; seksi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT); dan seksi sumber daya kesehatan), unit pelaksana teknis dinas; dan kelompok jabatan fungsional.
Secara umum, dinas kesehatan mempunyai fungsi, diantaranya perumusan kebijakan teknis dibidang kesehatan; penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang kesehatan; pembinaan dan pelaksanaan
2 urusan dibidang kesehatan; pembinaan unit pelaksana teknis dinas; dan pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan.
Seksi P2PM (pencegahan dan pengendalian penyakit menular) merupakan bagian dari bidang pencegahan dan pengendalian penyakit.
Seksi ini mempunyai tugas melakukan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Untuk menyelenggarakan tugasnya, seksi P2PM mempunyai beberapa fungsi, diantaranya : penyiapan bahan penyusunan perencanaan program dan kegiatan seksi pencegahan dan pengendalian penyakit; perumusan kebijakan teknis dibidang seksi pencegahan dan pengendalian penyakit; pembinaan, pengawasan dan koordinasi pelaksanaan seksi pencegahan dan pengendalian penyakit; pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja terkait; penyiapan bahan pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dibidang seksi pencegahan dan pengendalian penyakit; pelaporan pelaksanaan kegiatan seksi pencegahan dan pengendalian penyakit; pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diperintahkan atasan sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
Salah satu program yang dikendalikan oleh seksi P2PM adalah penanganan kasus rabies (GHPR). Sampai saat ini penyakit rabies masih marak terjadi di kabupaten Padang Pariaman. Hal ini terbukti dalam laporan bulanan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) dinas kabupaten Padang Pariaman tahun 2023 bulan Januari-Oktober, yang mana pada bulan Agustus terjadi penurunan kasus dari bulan sebelumnya, akan tetapi di bulan September-Oktober kembali mengalami kenaikan jumlah kasus yakninya sebanyak 54 kasus. Walaupun kasus rabies (GHPR) masih sering terjadi di kabupaten Padang Pariaman, dalam 6 tahun terakhir tidak ada angka kematian yang diakibatkan oleh kasus rabies (GHPR) ini. Hal tersebut dikarenakan, cara penanggulangan penyakit rabies (GHPR) di dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman bisa dikatakan sudah cukup baik, kemudian, upaya tenaga kesehatan dengan memberikan/memfasilitasi vaksin anti rabies ketika ada masyarakat yang tergigit hewan rabies (GHPR)
3 juga sudah cukup tanggap. Lalu, untuk mencegah kasus rabies meluas, pihak dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman juga mengadakan pembinaan kepada tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun di rumah sakit.
Namun untuk benar-benar bisa mengeliminasi kasus rabies, diperlukannya kerjasama dari berbagai sektor. Dimulai dari masyarakatnya sendiri untuk berhati-hati terhadap gigitan hewan penular rabies (GHPR), kemudian peran dinas peternakan dan kesehatan hewan juga dibutuhkan terkait upaya pencegahan dan penanggulangan untuk hewan, hingga peran tenaga kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengendalian untuk penularan rabies ke manusianya. Mengingat akan bahaya rabies terhadap kesehatan dan ketentraman masyarakat karena dampak buruknya selalu diakhiri kematian, maka usaha pengendalian penyakit berupa pencegahan dan pemberantasan perlu dilaksanakan seintensif mungkin.
Keadaan kasus rabies yang marak terjadi di kabupaten Padang Pariaman, membuat penulis ingin mengetahui lebih dalam bagaimana penanganan permasalahan ini dari aspek program penanggulangan yang dimiliki oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman. Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk membahas terkait “Gambaran Pelaksanaan Program Pencegahan Pengendalian Rabies (GHPR) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2023”
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan laporan magang ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran pelaksanaan program pencegahan pengendalian rabies (GHPR) di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman tahun 2023.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui gambaran umum Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman, Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit
4 (P2P), dan Seksi P2PM di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman serta tugas dan fungsinya
2. Untuk mengetahui gambaran pengorganisasian program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
3. Untuk mengetahui gambaran sistem dan manajemen organisasi program rabies Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman 4. Untuk mengetahui gambaran perencanaan program rabies di Dinas
Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
5. Untuk mengetahui gambaran strategi pencapaian program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
6. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
7. Untuk mengetahui gambaran pengelolaan dan pengendalian masalah program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman 8. Untuk mengetahui gambaran monitoring program rabies di Dinas
Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
9. Untuk mengetahui gambaran evaluasi program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
10. Untuk mengetahui gambaran sistem pelaporan program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
11. Untuk mengetahui gambaran komunikasi dan pengawasan program rabies di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan dibahas dalam laporan ini adalah gambaran pelaksanaan program pencegahan pengendalian rabies (GHPR) di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2023 oleh Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yaitu seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular yang akan dianalisis dari aspek pengorganisasian, sistem dan manajemen organisasi, perencanaan, strategi pencapaian, pelaksanaan, pengelolaan dan pengendalian masalah, monitoring, evaluasi, sistem pelaporan, dan komunikasi dan pengawasan
5 yang diamati dan dipelajari selama proses magang pada tanggal 06 November sampai dengan 08 Desember 2023.
6 BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rabies
2.1.1 Pengertian Rabies (GHPR)
Rabies (GHPR) adalah penyakit zoonosis yang menyerang manusia dan hewan dengan darah hangat. Rabies juga menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti di dunia karena efeknya yang mematikan bagi kesehatan dan dapat membunuh orang yang bersentuhan dengannya.
Rabies yang juga dikenal sebagai penyakit anjing gila ini disebabkan oleh virus rabies lyssavirus.
Virus rabies menyebar melalui air liur atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi, virus akan masuk ke dalam tubuh melalui luka (seperti goresan) atau kontak langsung dengan permukaan mukosa air liur hewan yang terinfeksi (seperti gigitan). Virus rabies tidak dapat menembus kulit tanpa cedera (tanpa menimbulkan luka). Virus rabies memiliki kemampuan untuk bereplikasi begitu mencapai otak, sehingga menimbulkan gejala klinis pada pasien. Apabila pasien telah menunjukkan gejala-gejala klinis rabies, kebanyakan akan diakhiri dengan kematian.1
2.1.2 Epidemiologi Rabies
Penyakit rabies merupakan penyakit endemik yang terjadi hampir di seluruh benua, kecuali benua Antartika. Menurut World Health Organization (WHO, 2018) 95% fenomena penyakit rabies mayoritas terjadi di benua Asia dan Afrika. Penyakit rabies ini terjadi di 92 negara dan sudah menjadi endemik di 72 negara. Kematian manusia global dari rabies endemik yang ditularkan oleh anjing diperkirakan tertinggi di benua Asia, dengan India dan Afrika memiliki insiden dan kematian tertinggi. Data dari World Health Organization (WHO) turut menunjukkan bahwa penyakit rabies telah menyebabkan sebanyak kurang lebih 55.000 orang meninggal dunia setiap tahunnya di mana lebih dari 99% kasus penyakit rabies yang terjadi pada manusia adalah disebabkan oleh gigitan dari hewan jenis anjing yang sebelumnya telah
7 terinfeksi virus rabies. Mayoritas penyebaran virus rabies oleh anjing ini terjadi pada anak-anak dari masyarakat perdesaan dengan golongan ekonomi rendah. Terbukti bahwasanya sebesar 80% kematian manusia akibat rabies terjadi di daerah perdesaan hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran dan keterbatasan akses terhadap prolaksis paska pajanan.2
Di Indonesia, penyakit rabies (GHPR) merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang dipandang serius karena beberapa kasus menunjukkan gejala klinis dan memiliki tingkat kematian 100%. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2020) menyatakan bahwa angka kasus kematian akibat rabies masih tergolong tinggi dengan jumlah kasus sekitar 100 hingga 156 kematian per tahun. Ditinjau dari segi statistik, penularan penyakit rabies akibat gigitan anjing mencapai 98% sedangkan 2% lainnya ditularkan oleh kera dan kucing.2
Dari semua wilayah provinsi di Indonesia, terdapat 26 provinsi yang menjadi endemis rabies dan hanya 11 provinsi yang bebas rabies yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Kasus infeksi dan kematian akibat gigitan anjing gila atau rabies di Indonesia pada periode Januari hingga Juni 2023 terus meningkat. Kasus ini bahkan sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) rabies di sejumlah daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).3
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam tiga tahun terakhir tercatat dari tahun 2020 hingga April 2023 rata-rata kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) mencapai 82.634 dengan kematian 68 orang per tahun. Kasus tertinggi dilaporkan pada 2022, yakni sebanyak 104.299 dengan 102 kematian. Hingga April 2023 sudah terdapat 31.113 kasus rabies (GHPR), 23.211 kasus rabies
8 (GHPR) yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR), dan 11 kasus kematian di Indonesia.3
2.1.3 Etiologi Rabies
Agen penyebab rabies adalah virus dari genus lyssa virus dan termasuk ke dalam family Rhabdoviridae. Virus ini bersifat neurotropic, berbentuk menyerupai peluru dengan panjang 130 – 300 nm dan diameter 70 nm. Virus ini terdiri dari inti RNA (Ribo Nucleic Acid) rantai tunggal diselubungi lipoprotein. Pada selubung luar terdapat tonjolan yang terdiri dari glikoprotein G yang berperan penting dalam timbulnya imunitas oleh induksi vaksin dan penting dalam identifikasi serologi dari virus rabies.4
Virus rabies dapat bertahan lama dalam pemanasan. Pada pemanasan suhu 56ºC, virus dapat bertahan selama 30 menit dan pada suhu 100ºC dapat bertahan selama 2-3 menit. Di dalam air liur dengan suhu udara panas dapat bertahan selama satu hari. Dalam keadaan kering beku dengan penyimpanan pada suhu 4ºC virus dapat bertahan selama bertahun-tahun, hal inilah yang menjadi dasar kenapa vaksin anti rabies harus disimpan pada suhu 4ºC–8ºC. Pada dasarnya semakin rendah suhunya semakin lama virus dapat bertahan.4
Virus rabies mudah mati oleh sinar matahari dan sinar ultraviolet, pengaruh keadaan asam dan basa, zat pelarut lemak, misalnya ether dan kloroform, Na deoksikolat, dan air sabun (Akoso,2007). Oleh karena itu sangat penting melakukan pencucian luka dengan menggunakan sabun selama 15 menit sesegera mungkin setelah gigitan untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.4
2.1.4 Cara Penularan Dan Masa Inkubasi
Cara penularan rabies melalui gigitan dan non gigitan (goresan cakaran atau jilatan pada kulit terbuka/mukosa) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies. Virus rabies akan masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terbuka atau mukosa namun tidak dapat masuk melalui kulit yang utuh.5
9 Di dunia sebanyak 99% kematian akibat rabies disebabkan oleh gigitan anjing. Di sebagian besar negara berkembang, anjing merupakan reservoir utama bagi rabies sedangkan hewan liar yang menjadi reservoir utama rabies adalah rubah, musang, dan anjing liar. Di Indonesia, hewan yang dapat menularkan rabies pada manusia adalah anjing, kucing, dan kera, tetapi sumber penularan utama adalah anjing. Sekitar 98%
penderita rabies tertular melalui gigitan anjing.5
Masa inkubasi penyakit rabies sangat bervariasi yaitu antara 2 minggu sampai 2 tahun, tetapi pada umumnya 3 - 8 minggu. Menurut WHO (2007) disebutkan bahwa masa inkubasinya rata-rata 30 - 90 hari.
Perbedaan masa inkubasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a) Jenis/strain virus rabies b) Jumlah virus yang masuk
c) Kedalaman luka gigitan, semakin dalam luka gigitan kemungkinan virus rabies mencapai sistem syaraf semakin besar.
d) Lokasi luka gigitan, semakin dekat luka gigitan ke otak, maka gejala klinis akan lebih cepat muncul. Oleh karena itu luka gigitan di daerah bahu ke atas merupakan luka resiko tinggi.
e) Banyaknya persyarafan di wilayah luka f) Imunitas dari penderita
Gejala klinis rabies akan timbul setelah virus mencapai susunan syaraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus dan batang otak. Virus rabies bersifat neurotrofik, yang berarti predileksinya pada sistem saraf. Virus ini berjalan melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah. Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa mendiagnosis dini sebelum muncul gejala klinis rabies.5
10 2.1.5 Patogenesis
Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan/cakaran, virus akan menetap selama 2 minggu di sekitar luka gigitan dan melakukan replikasi di jaringan otot sekitar luka gigitan. Kemudian virus akan berjalan menuju susunan saraf pusat melalui saraf perifer tanpa ada gejala klinis. Setelah mencapai otak, virus akan melakukan replikasi secara cepat dan menyebar luas ke seluruh sel-sel saraf otak/neuron terutama sel-sel sistem limbik, hipotalamus dan batang otak.4
Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron otak, virus berjalan ke arah perifer melalui serabut saraf eferen baik sistem saraf volunter maupun otonom. Dengan demikian virus ini menyerang hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh, dan virus akan berkembang biak dalam jaringan-jaringan seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya.4 2.1.6 Gejala Klinis
a) Pada Manusia
Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi 4 tahap, diantaranya sebagai berikut:4
1) Tahap Prodromal
Pada tahap awal gejala yang timbul adalah demam, lemas, lesu, tidak nafsu makan/anorexia, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan dan sering ditemukan nyeri.
2) Tahap Sensoris
Pada tahap ini sering ditemukan rasa kesemutan atau rasa panas (parestesi) di lokasi gigitan, cemas dan reaksi berlebih terhadap rangsang sensorik.
3) Eksitasi
Pada tahap ini penderita mengalami berbagai macam gangguan neurologik, penderita tampak bingung, gelisah, mengalami halusinasi, tampak ketakutan disertai perubahan perilaku menjadi agresif, serta adanya bermacam-macam phobia yaitu hidrofobia, aerofobia, fotofobia. Hidrofobi merupakan gejala khas penyakit rabies karena tidak
11 ditemukan pada penderita penyakit enchepalitis lainnya.
Gejala lainnya yaitu spasme otot, hiperlakrimasi, hipersalivasi, hiperhidrosis dan dilatasi pupil. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena henti jantung dan pernafasan. Dari seluruh penderita rabies sebanyak 80%
akan mengalami tahap eksitasi dan lamanya sakit untuk tahap ini adalah 7 hari dengan rata-rata 5 hari.
4) Tahap Paralisis
Bentuk lainnya adalah rabies paralitik, bentuk ini mencapai 30 % dari seluruh kasus rabies dan masa sakit lebih lama dibandingkan dengan bentuk furious. Bentuk ini ditandai dengan paralisis otot secara bertahap dimulai dari bagian bekas luka gigitan/cakaran. Penurunan kesadaran berkembang perlahan dan akhirnya mati karena paralitik otot pernafasan dan jantung. Pada pasien dengan gejala paralitik ini sering terjadi salah diagnosa dan tidak terlaporkan.
Lamanya sakit untuk rabies tipe paralitik adalah 13 hari, lebih lama bila dibandingkan dengan tipe furious.
b) Pada Hewan
Gejala klinis pada anjing sesuai dengan manifestasinya dibagi dalam 3 tahap yaitu tahap prodromal, tahap eksitasi, dan tahap paralitik.4
1) Tahap Prodromal
Tahap ini merupakan tahap awal dari gejala klinis yang berlangsung selama 2–3 hari. Terdapat perubahan perilaku hewan yaitu hewan tidak mengenal tuannya, sering menghindar dan tidak mengacuhkan perintah tuannya.
Mudah terkejut dan cepat berontak bila ada provokasi.
Terjadi kenaikan suhu tubuh, dilatasi pupil dan reflex kornea menurun terhadap rangsangan.
2) Tahap Eksitasi
Tahap eksitasi berlangsung selama 3 – 7 hari, mulai mengalami fotofobi sehingga hewan akan bersembunyi di
12 kolong tempat tidur, dibawah meja atau kursi. Anjing terlihat gelisah, adanya gerakan halusinasi dimana anjing bersikap seolah–olah akan mencaplok serangga yang terbang di udara. Sering mengunyah benda di sekitarnya seperti lidi, kawat, kerikil, jeruji kandang, dan benda lainnya yang tidak sewajarnya atau yang dikenal dengan istilah pika. Bila dikandangkan anjing akan berjalan mondar-mandir sambil menggeram. Perilaku anjing akan berkembang semakin sensitif, beringas dan akan menyerang semua obyek yang bergerak. Seringkali mulutnya berdarah akibat giginya tanggal atau akibat mengunyah benda keras dan tajam.
Pada tahap ini mulai terjadi paralisis otot laring dan faring yang menyebabkan perubahan suara menyalak anjing, suaranya akan berubah menjadi parau. Juga terjadi kekejangan otot menelan sehingga akan terjadi hipersalivasi, frekuensi nafas berubah cepat, air liur berbuih kadang disertai darah dari luka di gusi atau mulutnya.
3) Tahap Paralisis
Tahap ini berlangsung sangat singkat sehingga gejalanya tidak diketahui, terjadi kelumpuhan otot pengunyah sehingga rahang tampak menggantung. Suaranya sering seperti tersedak akibat kelumpuhan otot tenggorokan.
Terjadi paralisis kaki belakang sehingga saat jalan kaki belakang diseret.
2.1.7 Pencegahan Rabies Pada Manusia
Pencegahan rabies pada manusia adalah dengan memberikan tatalaksana luka gigitan hewan penular rabies, sebagai berikut:4
1) Pencucian Luka
Pencucian luka dengan menggunakan sabun merupakan hal yang sangat penting dan harus segera dilakukan setelah terjadi pajanan (jilatan, cakaran atau gigitan) terhadap HPR untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan. Seperti
13 telah dipaparkan dalam sifat virus rabies dimana virus dapat diinaktivasi dengan sabun karena selubung luar yang terdiri dari lipid akan larut oleh sabun. Pencucian luka dilakukan sesegera mungkin dengan sabun di bawah air mengalir selama kurang lebih 15 menit.
Pencucian luka tidak menggunakan peralatan karena dikhawatirkan dapat menimbulkan luka baru dimana virus akan semakin masuk ke dalam. Pencucian luka dapat dilakukan oleh penderita atau keluarga penderita kemudian diberikan antiseptik.
Setelah itu penderita luka gigitan HPR segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit yang menjadi Rabies Center untuk mendapatkan tatalaksana selanjutnya.
2) Pemberian Antiseptik
Setelah dilakukan pencucian luka sebaiknya diberikan antiseptik untuk membunuh virus rabies yang masih tersisa di sekitar luka gigitan. Antiseptik yang dapat diberikan diantaranya povidon iodine, alkohol 70%, dan zat antiseptik lainnya.
3) Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) Dan Serum Anti Rabies (SAR) Tujuan pemberian vaksin anti rabies adalah untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan diharapkan antibody yang terbentuk akan menetralisasi virus rabies. Namun bila virus rabies telah mencapai susunan saraf pusat pemberian vaksin anti rabies ini tidak akan memberikan manfaat lagi. Pemberian vaksin anti rabies dan serum anti rabies perlu dipertimbangkan kondisi hewan pada saat pajanan terjadi, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium spesimen otak hewan, serta kondisi luka yang ditimbulkan. seperti terlihat dalam flowchart berikut:
14 Gambar 2. 1 Flowchart Pemberian VAR dan SAR
Untuk Kasus Rabies
Keterangan Flowchart:
a) Luka Risiko Tinggi
Yang dimaksud dengan luka resiko tinggi adalah jilatan/luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (leher, muka dan kepala), luka pada jari tangan dan jari kaki, luka di area genitalia, luka yang lebar/dalam, atau luka multiple (multiple wound).
b) Luka Risiko Rendah
Yang dimaksud luka resiko rendah adalah jilatan pada kulit terbuka atau cakaran/gigitan yang menimbulkan luka lecet (ekskoriasi) di area badan, tangan dan kaki.
c) Observasi Hewan
Kandangkan atau ikat hewan yang melakukan gigitan dan lakukan pengamatan selama 14 hari.
d) Hentikan Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) Bila : - Hasil observasi hewan menunjukkan hewan sehat,
- Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap specimen otak hewan menunjukkan hasil negatif.
15 2.1.8 Penanganan Penderita Rabies
Apabila ditemui kasus rabies (GHPR), ada beberapa tatalaksana penanganan yang harus dilakukan, diantaranya:4
1. Penderita tersangka rabies segera dirujuk ke rumah sakit.
2. Sebelum dirujuk, penderita diinfus dengan cairan Ringer laktat atau NaCl 0,9%. Kalau perlu berikan antikonvulsan dan sebaiknya penderita difiksasi selama di perjalanan. Waspadai tindak-tanduk penderita yang tidak rasional dan kadang-kadang maniakal disertai saat-saat respons.
3. Di rumah sakit penderita dirawat di ruang isolasi.
4. Tindakan medik dan pemberian obat-obatan simptomatis dan suportif termasuk antibiotika bila diperlukan.
5. Untuk menghindari adanya kemungkinan penularan dari penderita, maka sewaktu menangani penderita rabies handaknya dokter dan paramedik memakai sarung tangan, kacamata (goggle) dan masker serta malakukan fiksasi penderita di tempat tidurnya.
6. Jika petugas medis atau paramedis yang merawat penderita rabies, belum pernah mendapatkan vaksin anti rabies dan tidak memakai alat pelindung diri kemudian terkena muntahan atau saliva dari penderita pada kulit terbuka atau mukosa mulut/mata maka disarankan untuk mendapatkan tatalaksana pencegahan rabies.
2.1.9 Surveilans Rabies
Surveilans rabies adalah kegiatan analisis secara sistematis melalui pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi kepada pengambil keputusan untuk melakukan tindakan penanggulangan berdasarkan bukti (evidence base).4
Kegiatan surveilans rabies dilakukan secara terpadu antara sektor kesehatan manusia dengan kesehatan hewan. Setiap kasus pajanan/gigitan hewan yang berobat ke fasilitas kesehatan akan dikoordinasikan dengan petugas dinas untuk melakukan penilaian terhadap hewannya apakah terindikasi rabies atau tidak. Hasilnya harus
16 diinformasikan kembali ke petugas kesehatan untuk menentukan tatalaksana pasien selanjutnya. Selain itu bila hewan terindikasi rabies maka harus segera dilakukan pencarian kasus gigitan lainnya untuk segera mendapatkan penanganan.4
Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan surveilans rabies di suatu wilayah adalah:4
1. Mengetahui besaran masalah dan beban penyakit di suatu wilayah 2. Monitor trend/kecenderungan rabies di suatu wilayah, termasuk
mendeteksi secara cepat adanya KLB.
3. Memonitor penggunaan vaksin anti rabies (VAR) mengingat tingginya biaya post exposure prophylaxis (PEP)
4. Menentukan status wilayah dan identifikasi wilayah risiko tinggi terhadap rabies
5. Sebagai dasar dalam perencanaan dan evaluasi efektivitas program pengendalian rabies di suatu wilayah
6. Menyediakan data dasar untuk penelitian epidemiologi lebih lanjut.
2.2 Fungsi Manajemen 2.2.1 Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah proses membagi kerja ke dalam tugas- tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.6
Adapun menurut Rimawati E, 2015 Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggung jawab atau wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui fungsi pengorganisasian dapat diketahui:7
1. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok.
17 2. Hubungan organisatoris antar orang di dalam organisasi tersebut
melalui kegiatan yang dilakukannya.
3. Pendelegasian wewenang.
4. Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik.
2.2.2 Sistem dan Manajemen Organisasi
Di dalam sebuah organisasi manajemen sangat di butuhkan untuk menunjang dan mendukung kemajuan organisasi, karena dengan memahami sebuah teori akan memberikan kontribusi dan manfaat yang penting dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Manajemen dan organisasi adalah dua hal yang saling berhubungan erat, artinya tidak ada sebuah organisasi tanpa sebuah manajemen. Sehingga organisasi tersebut bisa di katakan sebagai tempat di mana manajemen akan berperan aktif karena organisasi membutuhkan sebuah pengelolaan, pengendalian, pengarahan, penyusunan dan pengawasan. Semua itu di lakukan untuk mendapat suatu kesatuan yang menjadi tujuan utama dari sebuah organisasi itu sendiri.8
Menurut George R. Terry (dalam Sukmanegara) Manajemen organisasi adalah kegiatan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), mobilisasi (actuating), dan pengawasan (controlling), di mana semua kegiatan ini bertujuan untuk mencapai target organisasi.
Adapun menurut Luther M. Gulick (dalam Sukmanegara) Manajemen organisasi adalah semua hal yang berkaitan dengan perencanaan (planning), mengorganisir (organizing), pelengkapan Tenaga Kerja (staffing), mengarahkan (directing), menyelaraskan/ mengkoordinir (coordinating), melaporkan (reporting) dan penyusunan anggaran (budgeting).9
2.2.3 Perencanaan
Menurut Handoko (dalam Syamsul Arifin, 2020) pada dasarnya yang dimaksud dengan perencanaan yaitu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan apa (what), siapa (who), kapan (when), dimana (where), mengapa (why) dan bagaimana (how). Jadi, perencanaan yaitu
18 fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan dari sekumpulan kegiatan-kegiatan dan pemutusan tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan serta program-program yang dilakukan.7
Adapun menurut Sutarno NS (dalam Syamsul Arifin, 2020), perencanaan diartikan sebagai perhitungan dan penentuan tentang hal yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, dimana menyangkut tempat, oleh siapa pelaku itu atau pelaksana dan sebagaimana tata cara mencapai itu. perencanaan juga mempunyai manfaat bagi perusahaan sebagai berikut: 7
1. Dengan adanya perencanaan, maka pelaksanaan kegiatan dapat diusahakan dengan efektif dan efisien.
2. Dapat mengatakan bahwa tujuan yang telah ditetapkan tersebut, dapat dicapai dan dapat dilakukan koreksi atas penyimpangan- penyimpangan yang timbul seawal mungkin.
3. Dapat mengidentifikasi hambatan-hambatan yang timbul dengan mengatasi hambatan dan ancaman.
4. Dapat menghindari adanya kegiatan pertumbuhan dan perubahan yang tidak terarah dan terkontrol.
2.2.4 Strategi Pencapaian
Strategi adalah suatu alat yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Strategi dapat dikatakan sebagai suatu tindakan penyesuaian untuk mengadakan reaksi terhadap situasi lingkungan tertentu yang dapat dianggap penting, dimana tindakan penyesuaian tersebut dilakukan secara sadar berdasarkan pertimbangan yang wajar. Strategi dirumuskan sedemikian rupa sehingga jelas apa yang sedang dan akan dilaksanakan perusahaan demi mencapai tujuan yang ingin dicapai.10
Manajemen strategi menurut Fred R. David (2009:5) adalah “seni dan pengetahuan dalam merumuskan, menginplementasikan, serta mengevaluasi keputusan - keputusan lintas - fungsional yang memampukan sebuah organisasi mencapai tujuannya. Manajemen Strategi adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan
19 yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara pelaksanakannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan dimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organiasasi, untuk mencapai tujuannya.10
2.2.5 Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap. Secara sederhana pelaksanaan bisa diartikan penerapan. Menurut Nawawi (2000) pelaksanaan atau penggerakan (actuating) yang dilakukan setelah organisasi memiliki perencanaan dan melakukan pengorganisasian dengan memiliki struktur organisasi termasuk tersedianya personil sebagai pelaksana sesuai dengan kebutuhan unit atau satuan kerja yang dibentuk. Di antara kegiatan pelaksanaan adalah melakukan pengarahan, bimbingan dan komunikasi termasuk koordinasi.11
Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata pelaksanaan bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa pelaksanaan bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.
2.2.6 Pengelolaan dan Pengendalian Masalah
Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. Secara umum pengelolaan merupakan kegiatan merubah sesuatu hingga menjadi baik berat memiliki nilai-nilai yang tinggi dari semula. Pengelolaan dapat juga diartikan sebagai untuk melakukan sesuatu agar lebih sesuai serta cocok dengan kebutuhan sehingga lebih bermanfaat. Pengelolaan yang baik merupakan pondasi bagi pengembangan setiap organisasi, baik organisasi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja dan organisasi lainnya. Dengan pengelolaan
20 yang baik, hal ini mengindikasikan bahwa organisasi telah memenuhi persyaratan dan memiliki perangkat minimal untuk memastikan kredibilitas, integritas dan otoritas sebuah institusi dalam membangun aturan, membuat keputusan serta mengembangkan program dan kebijakan yang merefleksikan pandangan dan kebutuhan anggota.12
Siswanto mengemukakan pengendalian manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk mendapatkan standar kinerja dengan sasaran perencanaan, mendesain sistem umpan balik informasi, membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditetapkan, menentukan apakah terhadap penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan tersebut, dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan yang sedang digunakan sedapat mungkin secara lebih efektif dan efisien guna mencapai sasaran perusahaan. Menurut Hasibuan, jenis-jenis pengendalian adalah sebagai berikut:13
a. Pengendalian karyawan (Personnel control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan.
b. Pengendalian keuangan (Financial control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut keuangan, tentang pemasukan dan pengelauaran, biaya-biaya perusahaan termasuk pengendalian anggarannya.
c. Pengendalian produksi (Production control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
d. Pengendalian waktu (Time control). Pengendalian ini ditujukan kepada pengguna waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.
e. Pengendalian teknis (Technical control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang berhubungan degan tindakan dan teknis pelaksanaan.
21 f. Pengendalian kebijaksanaan (Policy control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai, apakah kebijaksanaan- kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan,
g. Pengendalian penjualan (Sales control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apalah produksi atau jasa yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang ditetapkan.
h. Pengendalian inventaris (Inventory control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah invenaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
i. Pengendalian pemeliharaan (Maintenance control).
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah semua inventaris perusahaan dan kantor dipelihara dengan baik atau tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat diperbaiki atau tidak.
Pengelolaan dan pengendalian masalah merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan keterlibatan tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Dengan pendekatan ini, organisasi atau proyek dapat lebih efektif dalam menghadapi dan mengatasi masalah yang muncul.
2.2.7 Monitoring
Menurut Asep monitoring merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah program yang dibuat itu berjalan dengan baik sebagaiman mestinya sesuai dengan yang direncanakan, adakah hambatan yang terjadi dan bagaiman para pelaksana program itu mengatasi hambatan tersebut. Monitoring terhadap sebuah hasil perencanaan yang sedang berlangsung menjadi alat pengendalian yang baik dalam seluruh proses implementasi.7
Monitoring lebih menekankan pada pemantauan proses pelaksanaan. Monitoring juga lebih ditekankan untuk tujuan supervisi.
22 Menurut Dunn (dalam Arifin, 2020), monitoring mempunyai empat fungsi, yaitu:7
1. Ketaatan (compliance). Monitoring menentukan apakah tindakan administrator, staf, dan semua yang terlibat mengikuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
2. Pemeriksaan (auditing). Monitoring menetapkan apakah sumber dan layanan yang diperuntukkan bagi pihak tertentu bagi pihak tertentu (target) telah mencapai mereka.
3. Laporan (accounting). Monitoring menghasilkan informasi yang membantu “menghitung” hasil perubahan sosial dan masyarakat sebagai akibat implementasi kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu.
4. Penjelasan (explanation). Monitoring menghasilkan informasi yang membantu menjelaskan bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa antara perencanaan dan pelaksanaannya tidak cocok.
2.2.8 Evaluasi
Penilaian (evaluasi) merupakan tahapan yang berkaitan erat dengan kegiatan monitoring, karena kegiatan evaluasi dapat menggunakan data yang disediakan melalui kegiatan monitoring.
Evaluasi diarahkan untuk mengendalikan dan mengontrol ketercapaian tujuan. Evaluasi berhubungan dengan hasil informasi tentang nilai serta memberikan gambaran tentang manfaat suatu kebijakan. Istilah evaluasi ini berdekatan dengan penafsiran, pemberian angka dan penilaian.
Evaluasi dapat menjawab pertanyaan “Apa pebedaan yang dibuat”.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program itu mencapai sasaran yang diharapkan atau tidak, evaluasi lebih menekankan pada aspek hasil yang dicapai (output). Evaluasi baru bisa dilakukan jika program itu telah berjalan dalam suatu periode, sesuai dengan tahapan rancangan dan jenis program yang dibuat dan dilaksanakan, misalnya disekolah, untuk satu caturwulan atau enam bulan atau satu tahun pelajaran.7
23 2.2.9 Sistem Pelaporan
Menurut Hidayattullah (2013) sistem pelaporan merupakan laporan yang menggambarkan sistem pertanggungjawaban dari bawahan (pimpinan unit anggaran) kepada atasan (kepala bagian anggaran).
Laporan yang baik adalah laporan yang disusun secara jujur, objektif dan transparan. Sistem pelaporan yang baik diperlukan agar dapat memantau dan mengendalikan kinerja manajer dalam mengimplementasikan anggaran yang telah ditetapkan. 14
2.2.10 Komunikasi dan Pengawasan
Menurut Hasibuan (Dalam Arifin, 2020) komunikasi merupakan salah satu hal yang penting dalam penggerakan staf disuatu organisasi.
Selain itu, komunikasi merupakan hal yang terpenting dalam manajemen, karena proses manajemen baru terlaksana, jika komunikasi dilakukan. Tujuan Komunikasi, yaitu untuk memberikan perintah, laporan, informasi, ide, saran, dan menjalin hubungan-hubungan dari seorang komunikator kepada komunikan atau penerimanya. Adapun unsur-unsur komunikasi adalah sebagai berikut:7
1. Komunikator (pemberi = giver), yaitu orang yang menyampaikan pesan komunikasi itu.
2. Pesan, yaitu informasi, perintah, laporan, berita dan lain- lainnya yang disampaikan itu.
3. Saluran (simbolis = channel), yaitu orang yang menerima pesan komunikasi tersebut.
4. Komunikan (penerima = receiver), yaitu orang yang menerima komunikasi tersebut.
5. Feedback (action), yaitu reaksi yang ditimbulkan oleh komunikasi itu.
Pengawasan adalah fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang, dan menjalankan pelaksanaannya
24 perlu dilakukan agar berjalan sesuai dengan tujuan, visi, dan misi perusahaan/organisasi.
25 BAB 3: HASIL KEGIATAN
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Padang Pariaman 3.1.1 Geografis
Sumber: Road Map Reformasi Birokrasi Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2016-2021
Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Padang Pariaman Secara geografis, kabupaten Padang Pariaman memiliki luas wilayah 1.343.09 km2 dengan panjang garis pantai 42,11 km yang membentang hingga wilayah gugusan Bukit Barisan. Luas daratan daerah ini setara dengan 3,2 persen luas daratan wilayah Propinsi Sumatera Barat. Posisi astronomis kabupaten Padang Pariaman terletak antara 0°19’-0°48’ Lintang Selatan dan 99°57’ - 100°27’ Bujur Timur.
Secara administrasi kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan dan 103 nagari. Batas wilayah administratif kabupaten Padang Pariaman adalah sebelah utara dengan kabupaten Agam, sebelah selatan dengan kota Padang, sebelah timur dengan kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar, dan sebelah barat dengan kota Pariaman dan Samudera Hindia.15
26 Dinas Kesehatan kabupaten Padang Pariaman terletak di korong Padang Baru nagari Parit Malintang kecamatan Enam Lingkung kabupaten Padang Pariaman.16
Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan.
Kecamatan yang paling banyak memiliki nagari adalah kecamatan VII Koto Sungai Sarik yaitu sebanyak 12 nagari, adapun kecamatan yang memiliki sedikit nagari yakninya sebanyak 3 nagari adalah terletak pada kecamatan 2x11 Anam Lingkuang dan Batang Gasan. Kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam dengan luas wilayah 188,55 km², sedangkan kecamatan yang paling kecil wilayahnya adalah kecamatan Sintuk Toboh Gadang yang memiliki luas wilayah sebesar 23,01 km².15
3.1.2 Demografi
Menurut data Badan Pusat Statistik kabupaten Padang Pariaman tahun 2022 jumlah penduduk kabupaten Padang Pariaman sebanyak 436.129 orang. Berdasarkan jenis kelamin, tercatat sebanyak 217.933 jiwa penduduk laki-laki dan 218.196 jiwa penduduk perempuan.
Tabel 3. 1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Kecamatan Subdistricts
Jenis Kelamin Gender
Laki-laki Perempuan
Male Female
Jumlah Total
Rasio Jenis Kelamin Sex Ratio
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Batang Anai 27 484 26 925 54 409 102,08
2. Lubuak Aluang 23 996 23 481 47 477 102,19
3. Sintuak Toboh Gadang 9 519 9 945 19 464 95,72
4. Ulakan Tapakih 10 509 10 369 20 878 101,35
5. Nan Sabaris 15 165 15 366 30 531 98,69
6. 2 x 11 Anam Lingkuang 9 174 9 568 18 742 95,88
7. Anam Lingkung 10 411 10 429 20 840 99,83
8. 2 x 11 Kayu Tanam 14 222 14 163 28 385 100,42
9. VII Koto 17 607 18 081 35 688 97,38
10. VII Koto Patamuan 8 850 8 912 17 762 99,30
11. VII Koto Padang Sago 4 314 4 455 8 769 96,84
12. V Koto 12 012 11 763 23 775 102,12
13. V Koto Timur 7 211 7 302 14 513 98,75
14. Sungai Limau 15 074 14 914 29 988 101,07
27
15. Batang Gasan 5 512 5 461 10 973 100,93
16. Sungai Garingging 16 307 16 131 32 438 101,09
17. IV Koto Aua Malintang 10 566 10 931 21 497 96,66
Padang Pariaman 217 933 218 196 436 129 99,88
Sumber: BPS Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2023
Dari data diatas didapati bahwasanya daerah yang paling tinggi kepadatan penduduknya yaitu Batang Anai dengan jumlah penduduk sebesar 54.409 orang dan daerah terendah tingkat penduduknya adalah VII Koto Padang Sago dengan jumlah penduduk sebesar 8.769 orang.
Sumber : BPS Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2023
Gambar 3. 2 Piramida Penduduk Tahun 2023
Berdasarkan piramida penduduk diatas, kabupaten Padang Pariaman memiliki bentuk piramida ekspansif. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar penduduk berusia muda dan penduduk lanjut usia relatif sedikit.
3.1.3 Visi dan Misi Kabupaten Padang Pariaman
Sebagaimana tertuang dalam RPJMD kabupaten Padang Pariaman Tahun 2021-2026, visi pembangunan daerah jangka menengah kabupaten Padang Pariaman tahun 2021-2026, adalah: “PADANG PARIAMAN BERJAYA”. Visi tersebut merupakan cita-cita dan semangat serta tekad kabupaten Padang Pariaman untuk menjadi
28 kabupaten terbaik dalam segala aspek dan ke depan, dimana kata kunci tersebut adalah sebagai berikut:17
1. “Unggul Berkelanjutan” memiliki makna suatu tekad untuk menjadikan kabupaten Padang Pariaman maju selangkah dibandingkan daerah lainnya dalam segala hal yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
2. “Religius” adalah kondisi masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma agama, berpegang teguh pada ajaran agama dan dijadikan agama sebagai pondasi dalam kehidupan sehari-hari.
3. “SeJAhtera” merupakan suatu kondisi masyarakat yang mencapai taraf kehidupan yang layak dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial budaya.
4. “BerbudaYA” merupakan suatu gambaran yang kondisi masyarakatnya mempertahankan adat istiadat sebagai warisan nenek moyang terdahulu.
Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, diperlukan sejumlah misi yang dapat menuju pencapaian visi secara terstruktur, maka dirumuskan
“Misi Pembangunan Kabupaten Padang Pariaman tahun 2021-2026”
adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama berdasarkan falsafah Adat Bersandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah serta memelihara kerukunan, ketentraman dan ketertiban.
2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana publik secara berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan penataan ruang.
3. Membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan msyarakat melalui daya dukung sektor primer dan jasa berbasiskan pemberdayaan masyarakat.
4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang cerdas dan terampil serta berdaya saing melalui peningkatan
29 kualitas pendidikan formal dan menggerakan sektor pendidikan non formal.
5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, bersih, berkeadilan, aspiratif, partisipatif dan transparan.
6. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dasar dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kearifan lokal melalui pemberdayaan masyarakat.
7. Meningkatkan sumber-sumber pendanaan dan ketepatan alokasi investasi melalui penciptaan iklim yang kondusif untuk pengembangan usaha dan penciptaan lapangan kerja.
3.1.4 Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan salah satu elemen penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan.
Derajat kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan karena pendidikan bisa berpengaruh terhadap prilaku kesehatan seseorang.
Perubahan yang terjadi secara terus menerus pada perilaku masyarakat disebabkan oleh semakin meningkatnya tingkat pendidikan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang yang berpendidikan mempengaruhi keputusan untuk berprilaku sehat.
Pada tahun 2022 kabupaten Padang Pariaman memiliki kualitas pendidikan yang sudah tergolong baik. Hal ini salah satunya dapat dinilai dari tersedianya sarana pendidikan mulai dari pendidikan usia dini (PAUD) sampai dengan perguruan tinggi. Dilihat berdasarkan angka partisipasi kasar (APK), nilai APK SMP dan SMA menurun dari tahun sebelumnya yakni sebesar 88,36 dan 92,20. Namun, pada tingkat SD terdapat perbedaan dimana APK SD mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yakni menjadi 110,92 dari sebelumnya 108,92.15
3.1.5 Ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu elemen penting yang mempengaruhi aspek kondisi kesehatan individu/masyarakat. Ekonomi yang kuat dapat memberikan akses yang lebih baik ke layanan kesehatan. Masyarakat yang lebih kaya mungkin memiliki kemampuan finansial untuk
30 mendapatkan perawatan kesehatan yang berkualitas. Sebaliknya, dalam situasi ekonomi yang lemah, akses terhadap layanan kesehatan dapat menjadi terbatas, menyebabkan ketidaksetaraan dalam kesehatan.
Di kabupaten Padang Pariaman, kondisi ekonomi yang buruk sempat mengalami penurunan dari tahun 2017 sampai tahun 2020.
Namun angka ini kembali mengalami peningkatan pada tahun 2021. Hal ini dipicu karena adanya pandemi Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak Maret 2020. Namun pada tahun 2022, kondisi ekonomi di kabupaten Padang Pariaman sudah kembali memulih.15
3.2 Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
3.2.1 Visi, Misi dan Motto Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman memiliki Motto Pelayanan “SIMPATI”
S : Senyum Salam Sapa I : Informatif
M : Melayani P : Profesional A : Akuntable T : Transparan
I : Ikhlas
Adapun visi dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman adalah
“Terwujudnya Pelayanan Prima dan Berkualitas”. Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, diperlukan sejumlah misi yang dapat menuju pencapaian visi secara terstruktur, maka dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan pelayanan publik sesuai standar
2. Melakukan upaya peningkatan mutu layanan melalui pemenuhan dan prasarana serta tertib administrasi
3. Melaksanakan evaluasi sistem dan prosedur pelayanan publik
31 4. Pengembangan kualitas sumber daya manusia dan sistem pelayanan
berbasis informasi dan teknologi 3.2.2 Jumlah Tenaga Kesehatan
Jabatan struktural yang ada pada dinas kesehatan dan UPT terdiri dari, 1 (satu) eselon II, I (satu) eselon IIIa, 4 (empat) eselon IIIb dan 4 (empat) eselon IVa. Pada UPT Eselon IVb 2 (dua) eselon. Jumlah pegawai dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman per 31 Desember 2022 sebanyak 954 orang, dengan komposisi berdasarkan pangkat/golongan yaitu:16
Sumber : Lakip 2022
Gambar 3. 3 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pangkat/Golongan
32 Sumber : Lakip 2022
Gambar 3. 4 Komposisi Pegawai Berdasarkan Eselonering
Sumber : Lakip 2022
Gambar 3. 5 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pendidikan
33 3.2.3 Sarana Kesehatan
Kabupaten Padang Pariaman memiliki jenis sarana kesehatan yang cukup beragam, baik rumah sakit, puskesmas, poliklinik, posyandu, polindes,dan apotek. Jumlah sarana kesehatan di kabupaten Padang Pariaman pada tahun 2022 terdiri dari 1 rumah sakit umum, 1 rumah sakit khusus, 25 puskesmas, 40 puskesmas pembantu, 11 poliklinik, 795 posyandu, dan 78 polindes. Kemudian, untuk kesehatan penduduk kabupaten Padang Pariaman memiliki sejumlah tenaga kesehatan terdiri dari 44 dokter umum, 24 dokter spesialis, 33 dokter gigi, 1 dokter gigi spesialis, 251 perawat, 461 bidan, 29 tenaga teknis kefarmasian, 13 apoteker, 27 ahli gizi, 8 kesehatan masyarakat, dan 29 kesehatan lingkungan.15
3.2.4 Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman Dinas Kesehatan merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah di bidang kesehatan yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Salah satu tugas pokok dan fungsi dari dinas ini adalah melaksanakan kewenangan daerah di bidang kesehatan. Agar dapat secara efektif melaksanakan tugasnya serta untuk mendukung transparansi maka unit kerja ini harus melaksanakan apa yang telah ditetapkan dalam peraturan pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota, dan peraturan pemerintah nomor 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah, serta peraturan daerah kabupaten Padang Pariaman nomor : 50 tahun 2016 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah.
Dinas Kesehatan melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang urusan kesehatan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, dinas kesehatan mempunyai fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis dibidang kesehatan;
34 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum
dibidang kesehatan;
3. Pembinaan dan pelaksanaan urusan dibidang kesehatan;
4. Pembinaan unit pelaksana teknis dinas; dan
5. Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan.
35 3.2.5 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
Sumber: Lakip 2022
36 Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/
MENKES/505/2016 tentang tipelogi dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota, kabupaten Padang Pariaman tergolong tipe A.
Adapun menurut peraturan bupati Padang Pariaman nomor 50 tahun 2016, susunan struktur organisasi dinas kesehatan terdiri dari:
a. Kepala dinas.
b. Sekretaris membawahi 3 (tiga) subbagian, terdiri dari:
1. Subbagian program informasi dan hubungan masyarakat;
2. Subbagian keuangan dan pengelolaan aset; dan 3. Subbagian hukum, kepegawaian dan umum.
c. Bidang kesehatan masyarakat, terdiri dari:
1. Seksi kesehatan keluarga dan gizi;
2. Seksi promosi dan pemberdayaan masyarakat; dan
3. Seksi kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan olahraga d. Bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, terdiri dari:
1. Seksi surveilans dan immunisasi;
2. Seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular; dan 3. Seksi pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular dan
kesehatan jiwa.
e. Bidang pelayanan kesehatan, terdiri dari:
1. Seksi pelayanan kesehatan primer;
2. Seksi pelayanan kesehatan rujukan; dan 3. Seksi pelayanan kesehatan tradisional.
f. Bidang sumber daya kesehatan, terdiri dari:
1. Seksi kefarmasian;
2. Seksi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (pkrt); dan
3. Seksi sumber daya kesehatan.
g. Unit pelaksana teknis dinas; dan h. Kelompok jabatan fungsional
Sekretariat dan bidang, masing- masing dipimpin oleh seorang sekretaris dan kepala bidang yang berkedudukan di bawah dan
37 bertanggung jawab kepada kepala dinas. Subbagian masing-masing dipimpin oleh seorang kepala subbagian yang berkedudukan di bawah dan bertanggung kepada sekretaris. Seksi masing-masing dipimpin oleh seorang kepala seksi yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala bidang.
38 3.2.6 Struktur Organisasi Bidang P2P (Seksi P2PM)
3.3 Program-program Kerja dan Kegiatan Rabies
Seksi P2M memiliki salah satu program untuk dikendalikan yakninya kasus rabies. Terdapat bermacam-macam kegiatan yang dilakukan oleh pihak dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman untuk mencegah dan menanggulangi kasus rabies (GHPR) ini, diantaranya:
1. Melakukan Pembinaan Terhadap Pemegang Program Kasus Rabies (GHPR) Di Masing-Masing Puskesmas.
Tujuan diadakannya pembinaan ini adalah agar tiap-tiap pemegang program kasus rabies (GHPR) di puskesmas dapat meningkatkan pengetahuan atau ilmu terkait tatalaksana dari kasus rabies (GHPR). Pembinaan ini juga ditujukan bagi pemegang program rabies yang baru, karena banyak diantara mereka yang belum mengetahui secara menyeluruh terkait tatalaksana kasus rabies (GHPR) ini. Selain untuk pemegang program kasus rabies (GHPR) kegiatan pembinaan ini bisa dilakukan juga kepada kader kesehatan apabila diminta untuk melakukan pembinaan. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu tahun oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman, dimana hanya pada saat supervisi atau bimtek (Bimbingan Teknis) saja dapat dilakukan.
2. Mefasilitasi Serta Memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR)
Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman akan menunjuk fasilitas kesehatan sebagai rabies center dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Setelah dilakukan pemilihan rabies center, maka dinas kesehatan akan mefasilitasi logistik yang diperlukan, diantaranya berbagai jenis obat dan vaksin.
3. Pembentukan Rabies Center
Rabies Center adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan fungsi tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies dan promosi