• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah proses merancang struktur formal, membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas- tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.6

Pengorganisasian dalam program pencegahan dan penanganan rabies (GHPR) oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman terdiri dari satu orang penanggungjawab yaitu Ibu Syaffitri Syamsul, S.Kep yang memiliki anggota 1 orang yaitu Zulfikar Aulia, S.Tr.Kes. di bawah wewenang Ibu Deby Afrina, SKM., M.KM selaku sub koordiantor pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Pengorganisasian pencegahan penanganan rabies (GHPR) oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman sudah cukup baik dengan pembagian tugas yang jelas pada setiap tenaga yang terlibat. Pihak puskesmas akan melaporkan kepada dinas kesehatan dan bekerja sama dengan lintas sektor yakninya dinas peternakan dan kesehatan hewan apabila ditemui kasus gigitan oleh hewan rabies. Penanggulangan rabies yang menyangkut hewan menjadi tugas dan tanggung jawab dinas peternakan dan kesehatan hewan, sedangkan pencegahan dan pengendalian rabies pada manusia menjadi tugas dan tanggung jawab dinas kesehatan.

66 4.2 Sistem dan Manajemen Organisasi

Sumber: Modul Pelatihan Pengendalian Rabies Terpadu, 2018

Gambar 4. 1 Skema Alur Pelaporan Rabies (GHPR)

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, sistem dan manajemen pengorganisasian program pencegahan pengendalian rabies (GHPR) di dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman dilakukan berdasarkan modul pelatihan pengendalian rabies terpadu tahun 2018 dimana setiap penanggung jawab memiliki tugas dan fungsinya masing- masing berdasarkan tingkatan baik dari pengelola program Rabies (GHPR) dinas kesehatan, pengelola program rabies masing-masing puskesmas, hingga ke bidan desa.

Pada sistem dan manajemen organisasi pencegahan dan penanganan rabies (GHPR) di dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman, terdapat satu orang penanggungjawab yaitu Ibu Syaffitri Syamsul, S.Kep. yang memiliki 1 orang anggota yaitu Zulfikar Aulia, S.Tr.Kes. Untuk sistem manajemen organisasi pencegahan dan penanganan rabies (GHPR) sudah baik, karena adanya kerjasama antar lintas sektor. Dimulai dari masyarakat mengadukan kasus rabies ke puskesmas kemudian, dilaporkan kepada dinas peternakan dan kesehatan hewan, setelah dilaporkan dan ditindaklanjuti maka dinas peternakan dan kesehatan hewan akan mengeluarkan surat rekomendasi yang nantinya digunakan oleh puskesmas untuk dikirimkan ke dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman. Adapun kegunaan surat

67 rekomendasi tersebut adalah pihak dinas peternakan dan kesehatan hewan dapat menindaklanjuti hewan penderita rabies tersebut.

4.3 Perencanaan

Menurut Sutarno NS (dalam Syamsul Arifin, 2020), perencanaan diartikan sebagai perhitungan dan penentuan tentang hal yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, dimana menyangkut tempat, oleh siapa pelaku itu atau pelaksana dan sebagaimana tata cara mencapai itu. Terdapat beberapa indikator perencanaan, sebagai berikut:

4.3.1 Sumber Daya Manusia (Man)

Sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam program penanganan pencegahan dan pengendalian kasus rabies (GHPR) di dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman sudah sesuai dengan perencanaannya, dimana dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman memiliki tim supervisor meliputi kepala dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman, kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, sub koordinator seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular (P2M), dan pengelola program rabies (GHPR).

4.3.2 Dana (Money)

Berdasarkan hasil wawancara, dana yang didapati dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman dari pemerintah daerah setempat tergolong kecil, sehingga berdampak kurang maksimal kepada kegiatan dalam perencanaan yang akan dilakukan. Walaupun demikian, pihak dinas kesehatan sudah mengupayakan dengan baik bagaimana strategi untuk pengendalian masalah ini dengan cara mengusulkan agar puskesmas bisa menganggarkan dana kegiatan program rabies dari dana BLUD (Badan Layanan Umum Daerah Pusat Kesehatan Masyarakat) dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) puskesmas.

Namun, untuk kedepannya disarankan kepada dinas kesehatan agar dapat melakukan peninjauan mendalam terhadap anggaran untuk mengidentifikasi area yang dapat dioptimalkan. Kemudian, juga bisa menjalin kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta, organisasi non-

68 pemerintah (NGO), atau lembaga lain yang dapat memberikan dukungan finansial.

4.3.3 Metode (Method)

Dari semua kegiatan yang dilakukan dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman untuk mencegah dan menangani kasus rabies (GHPR) pada dasarnya sudah baik, namun memiliki sedikit kendala dalam hal koordinasi ke dinas peternakan dan kesehatan hewan. Ketika ditemukan kasus gigitan hewan penderita rabies, yang seharusnya dinas peternakan ini tanggap dalam melakukan pencarian hewan tersebut, guna untuk menentukan kelompok apakah hewan tersebut. Apakah termasuk ke dalam kelompok hewan lari/hilang, tidak dapat ditangkap, mati, dan dibunuh atau hewan termasuk ke dalam kelompok hewan dapat ditangkap dan diobservasi (10-14 hari). Pengelompokan hewan ini berguna untuk tindak lanjut pemberian vaksin apakah korban termasuk luka resiko tinggi atau rendah.

Disarankan untuk kedepannya, dinas kesehatan lebih meningkatan lagi bentuk koordinasinya dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan dengan cara menyusun kesepakatan bersama atau MoU (Memorandum of Understanding) yang memperjelas kerangka kerja dan komitmen bersama antara dinas kesehatan dan instansi terkait. Bila perlu berikan juga sistem punishment kepada siapa saja yang tidak melaksanakan kesepakatan tersebut.

4.3.4 Mesin (Machine)

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, mesin atau perangkat yang dibutuhkan dalam pelaksanan kegiatan upaya pencegahan dan pengendalian kasus rabies (GHPR) sudah tersedia sebagai penunjang pelaksanaan. Mulai dari computer atau laptop, kendaraan operasional, telepon, dan logistik lain yang diperlukan.2 4.3.5 Material

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, material dalam setiap kegiatan pencegahan dan pengendalian rabies di Dinas Kesehatan

69 Kabupaten Padang Pariaman sudah tersedia dengan lengkap sehingga bisa mendukung untuk pelaksanaan tiap-tiap kegiatan.

4.4 Strategi Pencapaian

Berdasarkan hasil wawancara penulis, untuk pencapaian program rabies (GHPR) Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman memiliki beberapa indikator. Adapun masing-masing indikator sudah tercapai semuanya. Berikut indikatornya:

1. Penanganan Kasus, dengan target 100% capaian 100%

2. Case Fatality Rate, dengan target 0 capaian 0

Jika didapati seseorang meninggal karena rabies, maka akan terjadi KLB. 6 tahun belakangan sudah tidak pernah terjadi KLB di Kabupaten Padang Pariaman.

3. Rantai dingin penyimpanan VAR/SAR terjamin (tempat penyimpanan vaksin terkalibrasi dan ada catatan pemantauan suhu) 80%

4. Frekuensi pertemuan koordinasi/terpadu pengendalian rabies minimal 2 kali setahun

Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman melaksanakan koordinasi dalam bentuk pembinaan sebanyak 2 kali dalam setahun.

4.5 Pelaksanaan

Berdasarkan hasil wawancara penulis, didapati bahwasanya terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dinas kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengendalian rabies (GHPR), sebagai berikut:

1. Melakukan Pembinaan Terhadap Pemegang Program Kasus Rabies (GHPR) di masing-masing puskesmas yang berada di Kabupaten Padang Pariaman.

2. Mefasilitasi serta memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR)

3. Pembentukan Rabies Center

4. Penyelidikan epidemiologi (PE) rabies (GHPR) secara terintegrasi 5. Koordinasi dengan sektor peternakan dan kesehatan hewan

70 Pelaksanaan kegiatan ini sudah sesuai dengan Instruksi Presiden No.

4 Tahun 2019 yang didalamnya terdapat pendekatan strategis untuk mengatasi zoonosis, kemudian terkait pengendalian, penanggulangan, dan tatalaksana rabies (GHPR) sudah sesuai dengan rancangan peraturan daerah provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 dan buku petunjuk teknis yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2019.

Namun, dari kegiatan yang ada terdapat metode yang harus ditingkatkan lagi. Sebagai mana penjelasan perencanaan yang dibagian metode di atas.

Didapati bahwasanya dinas kesehatan lebih harus meningkatan lagi bentuk koordinasi dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan dengan cara menyusun kesepakatan bersama atau MoU (Memorandum of Understanding) yang memperjelas kerangka kerja dan komitmen bersama antara Dinas Kesehatan dan instansi terkait. Bila perlu berikan juga sistem punishment kepada siapa saja yang tidak melaksanakan kesepakatan tersebut.

4.6 Pengelolaan dan Pengendalian Masalah

Berdasarkan hasil wawancara penulis, permasalahan yang ditemukan adalah terkait pendanaan. Dalam hal ini, dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman telah melakukan upaya dengan mengusulkan agar puskesmas bisa menganggarkan dana kegiatan program rabies dari dana BLUD (Badan Layanan Umum Daerah Pusat Kesehatan Masyarakat) dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) puskesmas.

Walaupun demikian, untuk kedepannya disarankan kepada dinas kesehatan agar dapat melakukan peninjauan mendalam terhadap anggaran untuk mengidentifikasi area yang dapat dioptimalkan atau dikurangi tanpa mengorbankan kegiatan inti. Kemudian, juga bisa menjalin kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta, organisasi non-pemerintah (NGO), atau lembaga lain yang dapat memberikan dukungan finansial atau sumber daya lainnya.

71 4.7 Monitoring

Kegiatan monitoring yang dilakukan oleh dinas kesehatan adalah dalam bentuk pencatatan dan pelaporan rutin oleh masing-masing puskesmas tiap bulannya. Masing-masing puskesmas mengirimkan ke dinas kesehatan sebelum tanggal 10 ditiap bulannya.

Kegiatan ini sudah sesuai dengan alur SP2TP (Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas) yang mana berdasarkan pencatatan dan pelaporan rutin tersebut dinas kesehatan bisa melihat apakah program yang dibuat itu berjalan dengan baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Asep, yang menyatakan bahwa monitoring merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah program yang dibuat itu berjalan dengan baik sebagaiman mestinya sesuai dengan yang direncanakan, adakah hambatan yang terjadi dan bagaiman para pelaksana program itu mengatasi hambatan tersebut.

4.8 Evaluasi

Sama halnya dengan monitoring, sistem evaluasi yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman sudah sesuai dengan alur SP2TP (Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas). Sistem pencatatan dan pelaporan puskesmas yang dikirim ke dinas kesehatan akan diolah kembali laporan puskesmas tersebut dan dinas kesehatan akan mengirimkan umpan baliknya ke dinas kesehatan provinsi dan departemen kesehatan pusat. Feed back terhadap laporan puskesmas harus dikirimkan kembali secara rutin ke puskesmas untuk dapat dijadikan evaluasi keberhasilan program. Jenis dan periode laporan yaitu bulanan, triwulan, dan tahunan.

4.9 Sistem Pelaporan

Berdasarkan hasil wawancara penulis, sistem pelaporan penanganan rabies yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman telah sesuai dengan petunjuk teknis yang diluncurkan oleh kementerian kesehatan direktorat jenderal pencegahan dan pengendalian penyakit tahun 2017. Adapun alur pelaporannya, sebagai berikut:

72 1. Pelaporan kasus gigitan HPR dan kasus rabies secara rutin disampaikan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman dengan menggunakan sistem pelaporan terpadu yang berlaku.

2. Seluruh laporan yang diterima dari puskesmas dicatat dan dianalisis serta pemetaan wilayan endemis rabies per kecamatan/kelurahan.

3. Hasil analisis laporan oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman disampaikan kepada dinas kesehatan provinsi kemudian diteruskan kepada Ditjen P2P Kemenkes setelah direkapitulasi dan disertai lampiran situasi bahan operasional termasuk vaksin dan serum, dengan menggunakan format terlampir.

4. Dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman menyampaikan data situasi gigitan secara rutin kepada dinas yang membidangi kesehatan hewan kabupaten/kota dan provinsi, dengan menggunakan format terlampir.

5. Umpan balik laporan situasi kasus gigitan dan rabies dari kabupaten/kota disampaikan kembali ke seluruh puskesmas dan rabies center, untuk mendapat tindak lanjut pengamatan lapangan.

4.10 Komunikasi dan Pengawasan

Berdasarkan hasil wawancara penulis, komunikasi dan bentuk pengawasan yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman telah berjalan dengan baik. Adapun komunikasi dan pengawasan dilakukan oleh petugas melalui telepon dan whatsapp. Tidak hanya itu, petugas dinas kesehatan kabupatan Padang Pariaman akan melakukan pengawasan secara langsung ke setiap layanan dengan turun langsung mengunjungi setiap layanan minimal 2 kali dalam setahun. Komunikasi dan pengawasan tetap dilakukan setiap ditemukannya kasus rabies (GHPR) yang baru.

73

Dokumen terkait