7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tentang Remaja
Menurut WHO (2018), remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) tentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Perbedaan definisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kesepakatan universal mengenai batasan kelompok usia remaja. Namun begitu, masa remaja itu diasosiasikan dengan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini merupakan periode persiapan menuju masa dewasa yang akan melewati beberapa tahapan perkembangan penting dalam hidup. Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga mengalami tahapan menuju kemandirian sosial dan ekonomi, membangun identitas, akuisi kemampuan (skill) untuk kehidupan masa dewasa serta kemampuan bernegosiasi (Fk & Andalas, 2018).
Remaja memiliki artian yang sangat luas dari segi fisik, psikologi, dan sosial.
Secara psikologis remaja adalah usia seseorang yang memasuki proses menuju usia dewasa. Masa remaja merupakan masa dimana remaja tidak merasa bahwa dirinya tidak seperti anak-anak lagi dan merasa bahwa dirinya sudah sejajar dengan orang lain di sekitarnya walaupun orang tersebut lebih tua.
Remaja mempunyai kebutuhan nutrisi yang spesial, karena pada saat tersebut terjadi pertumbuhan yang pesat dan terjadi perubahan kematangan fisiologis sehubungan dengan timbulnya pubertas. Perubahan pada masa remaja akan mempengaruhi kebutuhan, absorbsi, serta cara penggunaan zat gizi. Hal ini disertai
8
dengan pembesaran organ dan jaringan tubuh yang cepat.Perubahan hormonal yang menyertai pubertas juga menyebabkan banyak perubahan fisiologis yang memengaruhi kebutuhan gizi pada remaja (Zurrahmi, 2020).
Remaja disebut sebagai periode peralihan pertumbuhan dan perkembangan menuju masa dewasa dari masa anak, perubahan yang terjadi antara usia 10 – 19 tahun secara biologis, kognitif dan sosial. Masa remaja terdiri dari remaja awal (10 - 14 tahun), remaja pertengahan (15 - 16 tahun) dan remaja akhir (17 - 19 tahun) (Studi et al., 2018).
1. Karakteristik Remaja (Studi etal.,2018) menyebutkan karakteristik remaja,diant- aranya:
a. Masa remaja adalah masa peralihan Beralihnya tahapan pertumbuhan dan perkembangan berikutnya secara berlanjut. Masa dimana remaja tidak lagi bisa dianggap seperti anak ataupun dewasa, masa yang paling tepat dalam proses pembentukan keinginan remaja tentang gaya hidup, pola prilaku, nilai-nilai dan sifat- sifat.
b. Masa remaja adalah masa terjadi perubahan Perkembangan yang pesat terjadi pada fisik, prilaku, sikap, emosi, peran, minat, pola prilaku dan sikap. Masa transisi ini banyak terjadi perubahan dari anak yang lebih banyak tergantung pada orang dewasa, remaja sudah mulai hidup mandiri menentukan keinginan secara mandiri dengan pengawasan orang dewasa
c. Masa remaja adalah masa yang banyak masalah Masalah pada remaja terjadi karena masih terbiasa meminta bantuan orang lain yang berdampak pada remaja yang merasa tidak puas dengan cara penyelesaian masalah.
9
d. Masa remaja adalah masa pencarian identitas Pengakuan oleh masyarakat tentang peran diri seorang remaja menjadi dasar remaja mennetukan identitas dirinya. Ketidakpuasan remaja umumnya terjadi jika merasa peran dirinya sama pada masyarakat umumnya, memiliki keinginan berbeda dengan individu lainnya namun tetap mau bersosialisasi dengan kelompok sebaya.
e. Masa remaja adalah awal dewasa Remaja memberikan kesan menyerupai dewasa seperti dalam menggunakan pakaian dan bertindak. Hurlock dalam Sumiati (2012) menyatakan bahwa terjadi perubahahan universal meliputi mudah emosi, perilaku yang berubah karena pola pikir berubah, fisik terjadi banyak perubahan, serta peran dan minat.
2. Tahap perkembangan remaja
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja sangat cepat, baik fisik maupun psikogis. Perkembangan remaja laki-laki biasanya berlangsung pada usia 11 sampai 16 tahun, sedangkan pada remaja perempuan berlangsung pada usia 10 sampai 15 tahun. Perkembangan pada anak perempuan lebih cepat dibandingkan anak laki-laki karena dipengaruhi oleh hormon seksual.Perkembangan berpikir pada remaja juga tidak terlepas dari kehidupan emosionalnya yang labil.
Pematangan secara fisik merupakan salah satu proses pada remaja adanya perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti haid pada perempuan dan mimpi basah atau ejakulasi pada laki-laki. Pematangan remaja bervariasi sesuai dengan perkembangan psikososial pada setiap individu, misalnya bersikap tidak ingin bergantung pada orang tua, ingin mengembangkan keterampilan secara interaktif dengan kelompoknya dan mempunyai tanggung jawab pribadi dan sosial (Maros &
Juniar, 2021).
10
Menurut Sarwono (2012) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa(Erawati, 2020) :
a. Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran- heran akan perubahan- perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan- doronganyan menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap“ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.
b. Remaja Madya (Middle Adolescence) Tahap ini berusia 13-15 tahun.
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang menyukainya. Adakecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat- sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau meterialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.
c. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
11
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
5) Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public)
B. Pengertian Tentang Pola Makan
Pola makan merupakan kesesuaian jumlah, jenis makanan dan frekuensi yang dikonsumsi setiap hari atau setiap kali makan oleh responden yang terdiri dari jenis makanan pokok, lauk pauk (lauk hewani dan nabati serta sayur dan buah (Khairiyah, 2016). Pola makan yang baik beriringan dengan keadaan gizi yang baik, atau apabila konsumsi makannya baik maka akan memunculkan status gizi yang baik pula selama tidak ada faktor-faktor lain yang menyertainya seperti misalnya penyakit infeksi (Suhardjo, 1986 dalam Nuzrina, 2016). Pola makan yang tidak sehat dapat menjadi factor resiko munculnya berbagai penyakit, terutama penyakit kronis (Depkes, 2017).
Pola makan dikatakan seimbang jika terjadi keteraturan jadwal makan dan konsumsi makanan yang berkualitas. Pola makan mempengaruhi status gizi seseorang. Status gizi lebih dapat menimbulkan gangguan psikososial, gangguan pertumbuhan fisik, gangguan pernapasan, gangguan endokrin, obesitas, dan penyakit tidak menular. Sedangkan status gizi kurang dapat meningkatkan resiko penyakit infeksi (Khusniyati, 2015).
12
Gizi seimbang menggambarkan susunan hidangan yang mengandung zat- zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang, poin yang pertama kali menjadi pesan adalah biasakan makan 3 kali sehari dengan aneka ragam pangan, dalam jumlah yang cukup (Buku Penuntun Diet Anak, 2014). Sehingga dapat terlihat yang menjadi perhatian dalam mengatur pola makan adalah frekuensi makan yang tepat, jenis makanan yang beranekaragam, dan jumlah makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi Individu 2013 misalnya kebutuhan energi pada remaja laki-laki berkisar antara 2100-2600 Kkal dan pada remaja perempuan berkisar antara 2000- 2100 kkal.
Membiasakan konsumsi beranekaragam makanan akan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan zat pembangun, zat penghasil energi dan zat pengatur di dalam tubuh. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) adalah pedoman dasar tentang gizi seimbang yang digambarkan dalam logo berbentuk kerucut dan disusun sebagai penuntun pada perilaku konsumsi makanan di masyarakat secara baik dan benar . Untuk mendapat jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh responden digunakan formulir Semi Kuantitatif (FFQ), karena biasanya saat dilakukan recall 24 jam, terkadang responden tidak mengingat bahan makanan yang mereka konsumsi (Hamzar, 2012).
Frekuensi makan berkaitan dengan seberapa sering individu mengonsumsi suatu bahan makanan.Frekuensi ini dikategorikan dalam pemakaian harian, mingguan, bulanan, tahunan, jarang/tiak pernah.Frekuensi yang didapat kemudiandikonversikan dalam penggunaan sehari, dan frekuensi yang berulang- ulang setiap hari dijumahkan menjadi konsumsi per hari (Supariasa, 2016)
13
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan
Secara garis besar hal-hal yang dapat mempengaruhi pola konsumsi seseorang adalah sosial budaya dan lingkungan, pengetahuan, rasa dan pemilihan makanan, citra diri, agama dan kepercayaan (Almatsier, 2011). Keadaan sosial tempat seseorang bekerja ataupun menempuh pendidikan tertentu salah satunya adalah kebiasaan menambahkan lebih banyak gula dan garam meja saat sedang makan di kantin yang menyebabkan terjadi penambahan berat badan (Alakaam, 2015). Demikian juga dari lingkungan sendiri, pola makan yang diajarkan oleh orangtua sejak masa kecil dapat mempengaruhi pemilihan makanan oleh seseorang.
Beberapa faktor yang mempengaru hi perilaku makan individu yaitu, pendapatan keluarga, eman sebaya, dan pengetahuan gizi. Keluarga yang memiliki pendapatan ekonomi terbatas akan kurang memenuhi keanekaragaman bahan makanan yang diperlukan oleh tubuhnya . Hal lain adalah meningkatnya teman sebaya dibanding keluarga mengakibatkan remaja mengalami berbagai macam perubahan gaya hidup, perilaku, dan tidak terkecuali pengalaman dalam menentukan makanan yang dikonsumsi . Di lain pihak menyatakan bahwa kurangnya pengetahuan akan menyebabkan sikap yang salah/negatif dalam memenuhi kebutuhan pangan (Leeming, 2016).
Pengetahuan semakin mudah diakses seiring dengan perkembangan teknologi masa kini. Baik melalui iklan di media massa dan edukasi yang didapat seseorang dapat menetukan pola makan seperti apa yang diinginkan. Iklan makanan cepat saji pada kenyataannya terlihat tidak beriringan dengan berkembangnya iklan makanan sehat di televisi dan internet. Penelitian Kristianti,
14
2009 menemukan bahwa 54,7% remaja sering mengonsumsi fast food atau makanan cepat saji dengan 62,7%dari remaja tersebut memilih mengonsumsinya dengan alasan malas makan di rumah. Dari pengetahuan yang didapat juga seseorang akan cenderung lebih memperhatikan kesehatan dan citra dirinya sehingga akan mempengaruhi pemilihan atau pembatasan frekuensi, jumlah, dan jenis makanan tertentu dalam menu sehari-hari.
Agama dan kepercayaaan yang dianut seseorang akan mempengaruhiterbentuknya pola makan, memilih teguh dalam kepercayaan membuat seseorang akan terus memegang pola makan yang sama terus-menerus.
Seperti halnya pada masyarakat muslim yang menghindari makan daging babi, namun mengistimewakan kambing dan sapi dalam upacara-upacara. Agama Hindu yang mengutamakan makanan nabati dan susu sapi. Dan yang merupakan kepercayaan dalam hal ini adalah kepercayaan umat gereja Advent yang memiliki pantangan-pantangan tertentu dalam pola konsumsi mereka dengan memegang teguh perintah dalam kitab suci.
b. Metode pengukuran pola makan
Sirajuddin, 2014 berikut ini adalah metode yang digunakan dalam survey konsumsi pangan untuk mendapat ukuran jumlah, jenis, dan frekuensi makan yaitu:
a. Food Recall
Metode pengukuran pola konsumsi ini dilakukan berdasarkan prinsip bahwa makanan yang dikonsumsi individu selam 24 jam yang lalu dapat mencerminkan asupan actual individu, kelompok atau masyarakat yang dilakukan dua atau tiga kali pada hari yang tidak berturut-turut dalam
15
seminggu. Hasil akhir penilaian ini merupakan rekomendasipemenuhan asupan gizi menurut Angka Kecukupan Gizi 2013 dan rekomendasi pemenuhan ketersediaan pangan dalam keluarga.Metode ini digunakan pada kelompok umur >8 tahun.
Metode pengukuran pola konsumsi ini dilakukan berdasarkan prinsip bahwa makanan yang dikonsumsi individu selam 24 jam yang lalu dapat mencerminkan asupan actual individu, kelompok atau masyarakat yang dilakukan dua atau tiga kali pada hari yang tidak berturut-turut dalam seminggu. Hasil akhir penilaian ini merupakan rekomendasi pemenuhan asupan gizi menurut Angka Kecukupan Gizi 2013 dan rekomendasi pemenuhan ketersediaan pangan dalam keluarga.
Dalam standar pelaksanaanya, metode ini menggunakan waktu 24 jam terakhir untuk satu kali pengukuran. Dengan food recall dapat diketahui jenis makanan yang dikonsumsi dan rata-rata konsumsi harian individu dengan membandingkannya dengan AKG 2013 dengan melihat asupan energinya sehingga diketahui gambaran jumlah makan individu tersebut sehingga metode ini disebut pengukuran konsumsi makan yang bersifat kuantitatif Pengukuran dilakukan lebih dari 1x24 jam tidak berturut-turut dikarenakan kurang representatif untuk menggambarkan asupan zat gizi yang lebih optimal dan asupan harian individu yang lebih bervariasi.
b. Food Frequency Questionaire
Prinsip dari metode ini adalah mengetahui informasi frekuensi makan makanan tertentu pada individu yang diduga beresiko tinggi menderita defisiensi zat gizi atau kelebihan asupan zat gizi tertentu pada periode waktu
16
yang lalu.FFQ ada dua jenis yakni, FFQ murni yang tidak mencatat kuantitas (porsi) dan semi-FFQ yang mencatat kuantitas (porsi).Penggunaan FFQ akan efektif jika sebelumnya dilakukan survey pendahuluan bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh sasaran pengukuran. Metode FFQ tidak efektif digunakan untuk menilai konsumsi makanan lansia, responden dengan daya ingat rendah serta memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan.
FFQ merupakan salah satu pengukuran konsumsi makanan yang bersifat kualitatif karena digunakan untuk mengetahui frekuensi makan, serta cara- cara memperoleh makanan tersebut. Metode ini menyediakan data kebiasaan makan dari kelompok makanan tertentu atau bahan makanan yang sering dikonsumsi dan kuesionernya memuat daftar bahan makanan yang berkontribusi besar terhadap konsumsi zat gizi spesifik dari suatu populasi atau disesuaikan dengan budaya makan subyek yang diukur dalam beberapa kelompok waktu atau periode seperti yang terlihat dalam kuesioner (Supariasa, 2016).
Kuesioner diisi sendiri oleh responden dan tidak membutuhkan waktu lama saat pengisian, hanya sekitar 20 menit (Supariasa, 2016), tidak seperti metode lain yang membebani responden yakni Dietary History yang harus melakukassn penimbangan porsi saji yang berhubungan dengan diet pasien (Sirajuddin, 2014 dan Supariasa, 2016).
C. Status Gizi Remaja Putri
Remaja merupakan masa peralihan dari kanak–kanak menuju dewasa.
Remaja akan mengalami pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial yang berlangsung sangat cepat. Puncak pertumbuhan akan memengaruhi perubahan
17
komposisi tubuh sehingga memengaruhi kebutuhan gizi remaja2. masa remaja putri seringkali rentan terkena masalah gizi remaja seperti obesitas, gizi lebih, anemia, dan gizi kurang (KEK). Kekurangan Energi Kronik (KEK) terjadi disebabkan kurangnya asupan energi dan protein dalam kurun waktu yang lama. Jika nantinya kelompok remaja putri dengan KEK hamil, berpotensi melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) (Gizi et al., 2019).
Status gizi adalah salah satu unsur penting dalam membentuk status kesehatan. Status gizi (nutritional satus) adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh.
Status gizi sangat dipengaruhi oleh asupan gizi(Ratih, 2020). Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan gizi. Selama ini telah diketahui bahwa wanita dengan status gizi kurang maupun lebih berisiko terjadinya gangguan siklus menstruasi (Sitoayu et al., 2017).
Setiap orang mempunyai status gizi yang berbeda, hal ini tergantung pada asupan gizi dan kebutuhannya. Jika antara asupan gizi dengan kebutuhan tubuhnya seimbang, maka akan menghasilkan status gizi baik, sebaliknya jika antara asupan gizi dengan kebutuhan tubuh tidak seimbang akan menimbulkan masalah status gizi.
Kebutuhan gizi setiap orang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor misalnya usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan (Dwimawati & Gizi, 2020).
Masa remaja merupakan masa terjadinya masalah gizi yang sangat spesifik.
Interaksi hormon kompleks yang diperlukan untuk perkembangan pubertas yang normal, pertumbuhan linier, dan terjadinya perubahan perkembangan saraf tidak dapat terjadi tanpa adanya nutrisi yang adekuat. Remaja sangat rentan terkena
18
penyakit yang disebabkan oleh infeksi, kecelakaan, defisiensi nutrisi, pertumbuhan yang kurang optimal serta kekurangan gizi yang merupakan masalah utama.Pola makan dan aktivitas fisik pada remaja sangat mempengaruhi kesehatan dan kecukupan asupan zat gizinya. Kebutuhan zat gizi berupa energi, protein, zat besi, kalsium dan yang lainnya meningkat pada masa remaja untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Masalah gizi yang sering terjadi pada remaja adalah kurangnya asupan zat gizi yang dapat memicu terjadinya kurang energi kronis (KEK) serta anemia sebagai akibat kekurangan zat besi (Telisa, 2020).
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi remaja putri
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ada dua, yaitu faktor penyebab langsung dan tidak langsung. Faktor penyebab langsung yaitu asupan makan dan penyakit infeksi. Sedangkan faktor penyebab tidak langsung yaitu aktivitas fisik, faktor individu, faktor keluarga, lingkungan sekolah dan teman sebaya, tingkat sosial dan ekonomi, dan media massa.(Remaja et al., 2016) D. Penilaian Status Gizi Remaja
Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaangizi seseorang dengan cara mengump ulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia.(Instek, 2017). Secara umum penilaian status gizi dapat dikelompokan menjadi 2(dua) yaitu penilaian status gizi langsung dan status gizi tidak langsung.(Instek, 2017)
a. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu: biokimia, biofisik, klinis dan antropometri. Antropometri berasal dari kata
19
anthopros (tubuh) dan metros (ukuran).Secara umum antropometri diartikan sebagai ukuran tubuh manusia. Dalam bidang gizi, antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Dalam bidang ilmu gizi, antropometri digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang sering digunakan adalah berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, tinggi duduk, lingkar perut, lingkar pinggul, dan lapisan lemak bawah kulit. Parameter indeks antropometri yang umum digunakan untuk menilai status gizi anak adalah indikator berat badan menurut umur (BB/U). Tinggi badan menurut umur (TB/U), Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U) (Sciences, 2016).
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidak seimbangan asupan protein dan energi. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Pada umumnya indeks antropometri yang digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).(Instek, 2017).
b. Penilaian status gizi secara tidak langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dilakukan dengan survey konsumsi makan, statistik vital dan faktor ekologi. Survei Konsumsi Makanan, yakni dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi untuk memberikan gambaran konsumsi zat gizi untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.Dalam Survei konsumsi juga dapat ditemukan pola konsumsi
20
individu. Survei konsumsi pangan dipandang sebagai upaya pencegahan penyakit degeneratif dan sebagai riset pendahuluan terhadap besarnya resiko kesehatan di masa mendatang karena tidak seimbangnya asupan makanan dalam periode waktu yang lama. Metode atau cara yang digunakan dalam pengukuran konsumsi pangan adalah dengan Food Weighing, Food Record, Food Recall, Food Frekuensi Questionaire, Dietary History, dan Food Account, yang semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan dalam pemakaiannya (Maros & Juniar, 2021)
21 E. Kerangka Teori
Gambar 1.Kerangka teori
Sumber : Modifikasi (Hartono et al., 2017) Status Gizi
Asupan Energi, Protein
Penyakit infeksi Penyebab langsung
Penyebab tidak langsung Keluarga besar
Pengetahuan gizi pendapatan
22 F. Kerangka Konsep
Status Gizi Pola Makan
Remaja Putri