BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Dalam karya ilmiah ini taruna akan mendeskripsikan tentang gambaran umum lokasi penelitian sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “PENERAPAN BAHASA INGGRIS MARITIM DI ATAS KAPAL MV. STRAIT MAS.” tkhususnya di kapal tempat taruna melaksanakan praktek di kapal MV.Starit Mas. Dengan adanya deskripsi gambaran umum lokasi penelitian ini pembaca dapat memahami dan mampu merasakan tentang hal yang terjadi pada saat taruna melakukan penelitian di atas kapal MV. Strait Mas.
MV. Strait Masadalah sebuah kapal kargo kontainer yang dikelola oleh PT. Pelayaran Tempuran Emas Line, Tbk yang berkantor di Jl.
Yosudarso Kav.33, Jakarta Utara, DKI Jakarta Kapal MV. Strait Mas memiliki nama panggilan (Call Sign) Papa Oscar Quebec Tango (POQT) Port Of Registry Jakarta IMO No. 9104134, dan memiliki Dead Weight Tonnage (DWT) 18.711 MT. Ukuran-ukuran pokok kapal diantaranya : panjang kapal Length Over All (LOA) 163.66 meter dan lebar kapal 26.00 meter, serta memiliki Tropical draft 9.100 meter.
Gambar 4.1 Kapal MV. Strait Mas
Sumber : Dokumentasi oleh penulis 4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Penyajian Data
a. Data Observasi
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, berikut fakta atau peristiwa yang terjadi di kapal sehubungan dengan penerapan Bahasa Inggris maritim di atas kapal KM. Strait Mas.Beberapa fakta atau peristiwa tersebut di uraikan sebagai berikut:
1. Pada tanggal 21 Mei 2019 saat kapal berlabuh di Jakarta, diadakan drill pemadaman kebakaran di atas kapal, pada saat itu mualim III memerintahkan kepada juru mudi untuk mengambilkan hose di gudang bosun. Namun, juru mudi tersebut baru saja bekerja di atas kapal dan tidak mengerti apa yang dimaksud dari perintah mualim III, mualim III memerintahkan cadet A untuk membantu Juru Mudi mengambil hose di store bosun sekaligus memberikan familiarisasi
terhadap alat keselamatan dalam mencegah kebakaran di atas kapal.
2. Pada tanggal 11 Juli 2019 saat kapal berlayar di Laut Jawa untuk melaksanakan pelayaran dengan tujuan akhir Surabaya, kapal berpapasan dengan kapal asing, yaitu MV. OOCL Hongkong.
Cadet A diperintahkan oleh mualim I untuk melaksanakan dinas jaga laut saat mualim I melaksanakan ibadah solat magrib di anjungan, cadet A yang belum mahir berkomunikasi bahasa inggris dan tidak mengerti maksud dari kapal asing tersebut, sehingga cadet A kebingungan mengambil tindakan saat kapal berpapasan dengan MV. OOCL Hongkong. Namun, tidak lama kemudian mualim I selesai melaksanakan ibadahnya dan segera mengambil tindakan untuk berkomunikasi dengan MV. OOCL Hongkong, sehingga papasan yang terjadi bisa dikendalikan sesuai dengan tindakan yang tepat.
3. Pada pukul 15.20 WIB tanggal 10 September 2019 saat kapal berlayar di laut Jawa, penulis mengamati mualim dua yang pada saat itu melaksanakan dinas jaga laut di anjungan melakukan komunikasi dikarenakan berpapasan dengan kapal asing berbendera hongkong bernama MV. Cosco Surabaya, pada saat berpapasan mualim dua menerapkannya sesuai dengan peraturan Colreg’s dengan berkomunikasi menggunakan bahasa inggris maritim sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases).
b. Data Wawancara
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis, berikut informasi yang didapat dari para informan di atas kapal sehubungan dengan penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal KM. Strait Mas. Beberapa informasinya di uraikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bernama Yulchaidir yang bekerja di atas kapal sebagai Nahkoda saat melakukan sidak di anjungan diperoleh hasil informasi bahwa,
“Dalam hal penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal pelaksanaanya sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases). Namun, penerapan tersebut hanya digunakan dalam keadaan berpapasan atau bersilangan dengan kapal lain yang berasal dari perusahaan luar negeri, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula saat berkomunikasi didalam ruang lingkup crew di atas kapal itu sendiri.” (NAH.10-08-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru di Indonesia masih kurang dikarenakan penggunaanya hanya dilakukan saat berkomunikasi dengan kapal asing saja.
2. Penulis mewawancarai informan bernama Baso Sahrir yang bekerja di atas kapal sebagai mualim I saat melaksanakan dinas jaga di anjungan diperoleh hasil informasi bahwa,
“Para awak kapal di atas kapal pelaksanaanya belum sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh IMO yang diwajibkan dalam berkomunikasi wajib menggunakan bahasa Inggris. Namun, penerapan tersebut hanya digunakan dalam keadaan tertentu saja berpapasan atau bersilangan dengan kapal lain yang berasal dari perusahaan asing, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri
komunikasi menggunakan bahasa Indonesia bahkan ada yang menggunakan bahasa daerah setempat.” (MU_I.06-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru di Indonesia masih kurang dikarenakan penggunaanya hanya dilakukan saat berkomunikasi dengan kapal asing saja, sedangkan bila berkomunikasi dengan kapal domestic penggunaanya menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa daerah setempat.
3. Penulis mewawancarai informan bernama Supi’I yang bekerja di atas kapal sebagai masinis I saat melaksanakan dinas jaga di kamar mesin diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa Inggris bagi kru bagian mesin yang bekerja di atas kapal berbendera Indonesia kurang diterapkan dalam pelaksanaanya dikarenakan semua kru berasal dari Indonesia, sehingga bahasa Indonesia cukup digunakan dalam berkomunikasi di atas kapal bagi kru bagian mesin.” (MA_1.06-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru bagian mesin tidak diperlukan dikarenakan kru berasal dari Indonesia semua.
4. Penulis mewawancarai informan bernama Supriyanto yang bekerja di atas kapal sebagai KKM saat melakukan sidak di kamar mesin diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa inggris maritim pada dasarnya wajib digunakan seluruh awak kapal yang bekerja di atas kapal tanpa terkecuali dari mana kewanegaraannya dikarenakan bahasa inggris merupakan bahasa komunikasi yang sudah diatur oleh IMO, sebelum saya bergabung dengan perusahaan Indonesia, saya bekerja di perusahaan asing Eropa
yang menerapkan bahasa inggris sebagai bahasa komunikasi yang digunakan setiap hari diatas kapal.” (KKM.10-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru kapal wajib diterapkan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh IMO sebagaimana yang sudah diterapkan oleh perusahaan asing Eropa.
5. Penulis mewawancarai informan bernama Usman yang bekerja di atas kapal sebagai bosun saat makan siang di mess room diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa inggris maritim pada dasarnya wajib digunakan seluruh awak kapal yang bekerja di atas kapal tanpa terkecuali dari mana kewanegaraannya dikarenakan bahasa inggris merupakan bahasa komunikasi yang sudah diatur oleh IMO, tetapi saya sama sekali tidak bisa berbahasa inggris dikarenakan susah untuk menerapkannya.”
(BOS.10-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru kapal masih susah diterapkan karena keterbatasan dalam kemampuan berkomunikasi bahasa inggris dengan baik dan benar.
6. Penulis mewawancarai informan bernama fajar yang bekerja di atas kapal sebagai juru mudi saat makan siang di mess room diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa inggris maritim pada dasarnya wajib digunakan hanya untuk perwiranya saja dikarenakan yang memegang komunikasi dengan kapal asing hanya perwiranya, bagi Juru Mudi yang bekerja di atas kapal berbendera Indonesia tidak perlu memahami bahasa inggris tersebut.”
(JUM.10-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru kapal hanya wajib diterapkan bagi perwiranya saja sedangkan untuk ratingnya tidak perlu.
7. Penulis mewawancarai informan bernama Zacky yang bekerja di atas kapal sebagai pelayan saat makan siang di mess room diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa inggris maritim tidak diperlukan bagi kapal yang berlayar dengan berbendera Indonesia, jadi kru kapal tidak perlu memahami bahasa inggris tersebut.” (PEL.10-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru kapal yang bekerja di atas kapal berbendera Indonesia tidak diperlukan.
8. Penulis mewawancarai informan bernama Hanafi yang bekerja di atas kapal sebagai mandor saat makan mslsm di mess room diperoleh hasil informasi bahwa,
“Bahasa inggris maritim pada dasarnya wajib digunakan seluruh awak kapal yang bekerja di atas kapal tanpa terkecuali dari mana asalnya.
Namun, di Indonesia sendiri masih belum bisa diterapkan bahkan ada beberapa kru kapal yang menggunakan bahasa daerahnya sendiri.”
(MAN.12-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman tentang penerapan bahasa Inggris maritim di atas kapal bagi awak kru kapal masih belum bisa diterapkan karena beberapa dari kru kapal berkomunikasi dengan bahasa Indonesia bahkan bahasa daerahnya sendiri.
9. Penulis mewawancarai informan bernama Yunda yang bekerja sebagai manning agency perusahaan PT. Temas Line, Tbk. saat penulis kembali ke kantor diperoleh hasil informasi bahwa,
“Penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal milik perusahaan PT.
Temas Line, Tbk. tidak optimal diterapkan dikarenakan perusahaan hanya merekrut kru yang berasal dari Indonesia saja, bahasa yang digunakan di atas kapal adalah bahasa Indonesia. Namun, perusahaan mempunyai tes sendiri melalui program Seagull Test untuk memberikan nilai standar bagi para calon kru yang akan bergabung di atas kapal, akan tetapi tes tersebut tidak bisa dibuat patokan bagi kru kapal untuk sementara dikarenakan banyak para pelamar mempunyai nilai dibawah 70% sedangkan perusahaan membutuhkan kru untuk bekerja di atas kapal sehingga tes tersebut hanya dilaksanakan untuk formalitas saja.”(MAY.30-10-2019)
Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa dibuktikan dengan hasil Seagull Test yang dilaksanakan di perusahaan pelayaran, yaitu PT. Temas Line, Tbk. Para calon kru sebelum bekerja di atas kapal diwajibkan mengikuti ujian tersebut, beberapa dari mereka memperoleh nilai dibawah persentase 70%. Namun, nilai tersebut tidak dijadikan sebagai patokan untuk perusahaan merekrut calon pelamar dikarenakan perusahaan kekurangan kru di atas kapal, sehingga ujian tersebut dilaksanakan untuk formalitas saja.
c. Data Dokumentasi
Berikut ini adalah gambar dari media alat komunikasi di atas kapal taruna dalam melaksanakan penilitian dimana radio VHF digunakan dalam berkomunikasi dengan kapal lain dan pelabuhan, sedangkan radio HT digunakan dalam ruang lingkup crew di atas kapal.
Gambar 4.2 Radio VHF. Gambar 4.3 Radio HT.
Sumber : Dokumentasi oleh penulis Sumber : Dokumentasi oleh penulis 4.2.2 Analisis Data
Berikut yang berkaitan dengan kondisi penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal MV. Strait Mas yang akan dianalisis oleh penulis dengan aturan yang berlaku, berikut disajikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Kasus Penerapan Bahasa Inggris Maritim Di Atas Kapal No. Kondisi DI Atas Kapal Aturan Yang Berlaku Keterangan
.1. Mualim III
memerintahkan kepada juru mudi untuk mengambilkan hose di gudang bosun. Namun, juru mudi tersebut baru saja bekerja di atas kapal dan tidak mengerti apa yang dimaksud dari
STCW/II- Specification of minimum standards of competence of rating as able seafarer deck:
“Ability to understand orders and to communicate with the officer of the watch on matters relevant to
Penerapan di atas kapal belum sesuai dengan aturan SCTW/II yang menstandarisasikan bahwa kelas rating diwajibkan untuk
mengerti dan
memahami perintah maupun berkomunikasi
perintah mualim III mengenai hose tersebut.
watchkeeping duties.” dengan bahasa inggris maritim dikarenakan juru mudi pada saat diperintah untuk mengambil hose yang berarti selang tidak memahami perintah dari mualim III tersebut.
2. Cadet A belum siap mengambil tindakan saat kapal berpapasan dengan MV. OOCL Hongkong, cadet A yang belum mahir berkomunikasi bahasa Inggris tidak mengerti maksud dari kapal asing tersebut.
STCW/II- Navigation at the operation level:
“…..to communicate with other ships, coast stations and VTS centres and to perform the officer’s duties also with a multilingual crew, including the ability to use and understand the IMO Standard Marine Communication
Phrases (IMO SMCP).”
Penerapan di atas kapal belum sesuai dengan aturan SCTW/II yang menstandarisasikan
bahwa dalam
berkomunikasi dengan
kapal asing
menggunakan bahasa inggris maritim sesuai dengan Standard Marine Communication Phrases (SMCP) yang telah diadopsi oleh IMO.
3. Saat dinas jaga laut STCW/II- Navigation at Penerapan di atas kapal
mualim dua berpapasan dengan kapal asing dan mengambil tindakan sesuai dengan peraturan Colreg’s dengan berkomunikasi
menggunakan bahasa inggris maritim sesuai dengan peraturan-
peraturan yang
dikeluarkan oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication
Phrases).
the operation level:
“…..to communicate with other ships, coast stations and VTS centres and to perform the officer’s duties also with a multilingual crew, including the ability to use and understand the IMO Standard Marine Communication
Phrases (IMO SMCP).”
sesuai dengan aturan
SCTW/II yang
menstandarisasikan bahwa perwira di atas
kapal dalam
berkomunikasi dengan
kapal asing
penggunaannya
menggunakan bahasa inggris maritim sesuai dengan Standard Marine Communication Phrases (SMCP) yang telah diadopsi oleh IMO.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis melalui tabel di atas, penerapan bahasa inggris maritim di atas KM. Strait Mas belum dilaksanakan secara optimal, hal ini dibuktikan dari beberapa crew terutama yang berasal dari diklat rating yang baru saja bekerja di atas kapal masih belum menguasai pemahaman bahasa inggris maritim dengan baik dan benar, hal tersebut dibuktikan dalam hal penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal pelaksanaanya belum sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan
oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases). Namun, penerapan tersebut hanya digunakan dalam keadaan berpapasan atau bersilangan dengan kapal lain yang berasal dari perusahaan luar negeri, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula saat berkomunikasi didalam ruang lingkup crew di atas kapal itu sendiri.
Berdasarkan wawancara yang dilaksanakan oleh penulis terhadap informan, ada banyak hal yang harus diwaspadai yang berkaitan dengan keadaan bahaya yang bisa disebabkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi khususnya dalam penggunaan bahasa inggris maritim, sehingga diperlukannya kemampuan untuk menggunakkan bahasa inggris maritim dengan baik dan benar. Penulis melaksanakan wawancara terhadap mualim satu sebagai perwakilan dari kelas perwira dan juru mudi sebagai perwakilan dari kelas rating, dari hasil wawancara tersebut penulis menemukan salah satu penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal, bahwa pada kelas perwira tersebut diwajibkan untuk memahami bahasa inggris di atas kapal dikarenakan sebagai seorang perwira mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan kelas rating pada saat bekerja di atas kapal baik dari perusahaan kapal dalam negeri maupun kapal dari perusahaan luar negeri, sedangkan pada kelas rating tidak semuanya ingin belajar bahasa inggris maritim dikarenakan hanya berlayar pada perusahaan kapal dalam negeri, mereka akan belajar memahami bahasa inggris maritim apabila ingin berlayar dengan kapal dari perusahaan luar negeri, hal ini yang
menyebabkan salah satu kurangnya penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal bahwa dalam pemikiran kru pada kelas rating mereka tidak ada niat untuk menerapkan bahasa inggris maritim bahkan untuk mempelajarinya mereka menunggu apabila ada lowongan untuk bekerja di atas kapal asing yang mewajibkan para krunya menggunakan bahasa inggris maritim sesuai dengan peraturan IMO. Penulis juga mendapatkan hasil wawancara lain terhadap informan yang bekerja di PT. Temas Line, Tbk.
sebagai manning agency yang bertugas untuk merekrut para kru yang akan bekerja di atas kapal perusahaan tersebut. Dari wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa hasil Seagull Test yang dilaksanakan di perusahaan pelayaran tersebut oleh calon kru sebelum bekerja di atas kapal beberapa dari mereka memperoleh nilai dibawah persentase 70%. Namun, nilai tersebut tidak dijadikan sebagai patokan untuk perusahaan merekrut calon pelamar, dikarenakan perusahaan kekurangan kru di atas kapal, sehingga ujian tersebut dilaksanakan untuk formalitas saja. Hal ini cukup disayangkan apabila ujian tersebut dilaksanakan hanya untuk formalitas saja, diharapkan perusahaan dapat memberikan seminar atau mata kuliah terhadap pentingnya pemahaman bahasa inggris maritim di atas kapal dan memberikan bekal ilmu pengetahuan tentang bahasa inggris maritim sebelum para kru tersebut bekerja di atas kapal.
Berdasarkan dokumentasi yang dilakukan oleh penulis, penulis hanya mengambil gambar dari alat komunikasi yang digunakan di atas kapal, yaitu radio VHF yang digunakan dalam berkomunikasi dengan kapal lain dan pelabuhan, sedangkan radio HT yang digunakan dalam ruang
lingkup crew di atas kapal. Alat komunikasi ini mempunyai peranan penting bagi pelaksanaan komunikasi saat berada di atas kapal, dimana saat kita ingin berkomunikasi dengan kapal disekitar kita, pelabuhan, maupun didalam ruang lingkup di atas kapal itu sendiri.
4.2.3 Pembahasan
Sesuai dengan apa yang telah alami penulis selama menjalani praktek laut di atas KM. Strait Mas, pelaksanaan pada awak kapal yang berkaitan dengan penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal belum dilaksanakan secara optimal, hal ini dibuktikan dari beberapa crew terutama yang berasal dari diklat rating yang baru saja bekerja di atas kapal masih belum menguasai pemahaman bahasa inggris maritim yang diatur dalam SMCP dengan baik dan benar. Penerapannya hanya digunakan saat berkomunikasi dengan radio VHF dalam keadaan berpapasan atau bersilangan dengan kapal asing, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula saat berkomunikasi didalam ruang lingkup crew di atas kapal itu sendiri. Diharapkan oleh penulis kepada para mualim untuk memberikan ilmu maupun informasi saat melaksanakan drill maupun safety meeting yang berkaitan dengan peralatan, perlengkapan, bagian-bagian kapal, tugas dan tanggungjawab, dan lain sebagainya dalam penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal sesuai dengan SMCP yang telah dibuat oleh IMO.
Dari analisis data wawancara yang didapat oleh penulis yang berasal dari informan di perusahaan pelayaran penulis yang bekerja sebagai manning agency pelaksanaan untuk merekrut kru baru yang akan bekerja di
atas kapal dilaksanakan dengan mengerjakan soal-soal bahasa inggris dari Seagull Test. Namun, pelaksanaannya hanya dilakukan formalitas saja dikarenakan perusahaan kekurangan kru yang akan bekerja di atas kapal perusahaan penulis. Diharapkan untuk perusahaan pelayaran memberikan tambahan ilmu dan informasi bagi pelaut atau kru kapal yang baru saja bergabung atau bekerja di atas kapal yang akan memberi manfaat bagi mereka untuk bekal bekerja di atas kapal agar tidak terjadi kesalahpahaman saat menerima atau melaksanakan perintah dari atasan.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan apa yang telah dialami oleh taruna, maka dapat kita simpulkan bahwa pentingnya penerapan bahasa inggris maritim di atas kapal guna kelancaran operasional pelayaran, berikut simpulan yang didapat oleh penulis, diantaranya sebagai berikut:
A. Dalam hal penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal pelaksanaanya sesuai dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh IMO yang diatur dalam SMCP (Standard Marine Communication Phrases). Namun, penerapan tersebut hanya digunakan dalam keadaan berpapasan atau bersilangan dengan kapal lain yang berasal dari perusahaan luar negeri, sedangkan saat bertemu dengan kapal perusahaan dalam negeri komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula saat berkomunikasi didalam ruang lingkup crew di atas kapal itu sendiri.
B. Penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak di atas kapal adalah kurangnya bekal ilmu bahasa inggris maritim dari tempat diklat awak kapal sebelumnya sehingga tidak adanya kemampuan awak kapal dalam berkomunikasi bahasa inggris maritim yang baik dan benar di atas kapal. Awak kapal merasa acuh menganggap bahwa bahasa inggris tidak terlalu penting dikarenakan dalam beberapa perusahaan pelayaran di Indonesia sendiri tidak adanya persyaratan khusus untuk tes bahasa inggris khususnya bahasa
inggris maritim bagi awak kapal yang akan bekerja di perusahaan tesebut. Hal ini menimbulkan tidak adanya motivasi bagi kru yang akan bekerja di atas kapal untuk belajar berkomunikasi menggunakan bahasa inggris.
5.2 Saran
Penulis mengajukan beberapa saran sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan pelaut dalam penerapan komunikasi berbahasa inggris maritim bagi kru yang bekerja di atas kapal untuk fasih dalam pengucapan serta memahami bahasa inggris maritim dengan baik dan benar, diantaranya sebagai berikut :
A. Dalam hal penerapan komunikasi bahasa inggris maritim yang digunakan para awak kapal di atas kapal yang perlu ditingkatkan adalah pada tempat diklat perlu adanya pembelajaran yang di tekankan pada pelajaran bahasa inggris maritim, saat sudah berada di atas kapal, perlu adanya tempat khusus english area yang dimana diwajibkan menggunakkan bahasa inggris seperti di deck department yaitu di anjungan maupun akomodasi, sehingga siapa yang berada di anjungan dan akomodasi diwajibkan berbahasa inggris. Pada penyampaian berita diwajibkan untuk menggunakan bahasa inggris saat menyampaikan berita pengumuman tersebut. Adanya sanksi jika seandainya ada yang melanggar di area khusus berbahasa inggris dan tidak menggunakkan bahasa inggris seperti diwajibkan untuk menghafal sepuluh kosakata baru dalam bahasa inggris yang nantinya disampaikan ke seluruh kru yang bekerja di atas kapal.
B. Penyebab kurangnya penerapan bahasa inggris maritim bagi awak kapal di atas kapal dapat diatasi dengan berlatih sesering mungkin untuk berkomunikasi dalam bahasa inggris dan dibekali dengan meningkatkan motivasi diri sendiri untuk belajar bahasa inggris sehingga memacu untuk mempelajarinya dengan giat. Percaya diri dalam pelaksanaan berkomunikasi bahasa inggris di atas kapal juga sangat diperlukan saat berlatih berkomunikasi bahasa inggris, sehubungan dengan hal ini perbanyak mendengarkan lagu dan film yang berbahasa inggris, pelajari apa yang diucapkan dan berusaha memahami arti dari lirik lagu ataupun memahami apa yang diucapkan dalam sebuah film dapat memperbanyak kosakata sehingga dalam penerapannya dapat melaksanakannya dengan baik.