• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

N/A
N/A
SALSABILA ZHAHIRAH K

Academic year: 2023

Membagikan "GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Disampaikan Oleh :

Dr. Sumule Tumbo, SE., MM

Plt. Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah

GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL BINA KEUANGAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(2)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

UU 17/2003 UU 1/2004 UU 15/2004

UU 25/2004 UU 33/2004

PP PP PP

UU 23/2014 ttg Pemerintahan Daerah

PERMENDAGRI 13/06

misal: SAP, dstnya

PP 58/2005 (Omnibus Regulation)

PERMENDAGRI 59/07 PP 18/016

PP 38/07

PERMENDAGRI 21/11

PERMENDAGRI 32/11 , 39/12, 14/16, 13/2018

PERMENDAGRI 64/13 PP 71/10

PP 24/05

PP 2/12

LANDASAN KEBIJAKAN

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

UU 32/2004

PP

(3)

KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA MERUPAKAN BAGIAN DARI KEKUASAAN PEMERINTAHAN

BUPATI/WALI KOTA GUBERNUR

OTORITAS DAN TANGGUNGJAWAB ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

MENYERAHKAN

MEMILIKI

PRESIDEN selaku KP memegang KPKN

(Pasal 6 ayat (1) UU 17/2003

• sbg implikasi desentralisasi

Pasal 6 ayat (2) huruf c UU 17/2003

3

(4)

U R U S A N P E M E R I N TA H A N

(Berdasarkan Pasal 9, 10, 11, 12, 13 dan 25 UU No. 23 Tahun 2014 )

ABSOLUT

1. POLITIK LUAR NEGERI

2. PERTAHANAN 3. KEAMANAN 4. YUSTISI

5. MONETER & FISKAL NASIONAL

6. AGAMA

(Pasal 9)

PILIHAN (Pasal 12 Ayat 3)

WAJIB

Dibagi

berdasarkan kriteria

Eksternalitas, Akuntabilitas dan Efisiensi

NON YAN DASAR (Pasal 12

Ayat 2)

S P M

1. Dilaksanakan sendiri 2. Dilimpahkan Wew. Kpd

Ins Vert di Drh Atau Gub sbg Wkl Pem Pus Berd Asas

Dekon

DESENTRALISASI

KONKUREN PEMERINTAHAN UMUM (Pasal 25)

YAN DASAR (Pasal 12 Ayat

1 )

4

(5)

9. perhubungan;

10.komunikasi dan informatika;

11.koperasi, usaha kecil, dan

menengah;

12.penanaman modal;

13.kepemudaan dan olah raga;

14.statistik;

15.persandian;

16.kebudayaan;

17.perpustakaan; dan 18.kearsipan.

U R U S A N P E M E R I N T A H A N K O N K U R E N

PILIHAN

1. kelautan dan perikanan;

2. pariwisata;

3. pertanian;

4. kehutanan;

5. energi dan sumberdaya mineral;

6. perdagangan;

7. perindustrian;

dan

8. transmigrasi 1. pendidikan;

2. kesehatan;

3. pekerjaan umum &

penataan ruang;

4. perumahan rakyat &

kawasan pemukiman;

5. ketentraman &

ketertiban umum serta perlindungan masyarakat;

6. sosial.

WAJIB

Tidak berkaitan dengan pelayanan dasar

Berkaitan dengan pelayanan dasar

1. tenaga kerja;

2. pemberdayaan

perempuan dan pelindungan anak;

3. pangan;

4. pertanahan;

5. lingkungan hidup;

6. administrasi

kependudukan dan pencatatan sipil;

7. pemberdayaan

masyarakat dan desa;

8. pengendalian

penduduk dan

keluarga berencana

;

5

(6)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

6

PENDANAAN PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH

(Pasal 282 UU 23/2014)

(1) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah didanai dari dan atas beban APBD.

(2) Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi

kewenangan Pemerintah Pusat di Daerah didanai dari dan atas beban APBN.

(3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi

kewenangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada

ayat (2).

(7)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7

PEMEGANG KEKUASAAN

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

(Pasal 283 UU 23/2014)

(1) Pengelolaan keuangan Daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah sebagai akibat dari penyerahan Urusan Pemerintahan.

(2) Pengelolaan keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dilakukan secara tertib, taat pada ketentuan peraturan

perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan,

dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan,

kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

(8)

KEUANGAN DAEARAH

semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat

dinilai dengan uang

AZAZ UMUM APBD

1. Disusun sesuai kebutuhan dan penyelenggaraan pemerintah daerah

2. Berpedoman pada RKPD dalam rangka Mewujudkan Pelayanan Kepada Masyarakat

3. Mempunyai fungsi Otorisasi, perencanaan, pengawasan,

alokasi, distribusi, dan stabilisasi 4. Ditetapkan dengan PERDA

APBD

(Rencana Keuangan

Tahunan Daerah yang

Ditetapkan dengan Perda)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(9)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

SIKLUS

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

SIKLUS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH MERUPAKAN

SUATU RANGKAIAN PROSES PENGELOLAAN KEUANGAN

DAERAH YANG DIMULAI DARI PENGANGGARAN YANG

DITANDAI DENGAN DITETAPKANNYA APBD,

PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN ATAS APBD, SERTA

PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD.

(10)

RPJMD RKPD

KUA PPAS

Nota Kesepakatan

Pedoman Penyusunan RKA-SKPD o/ KDH

RKA-SKPD RAPBD

Evaluasi Raperda APBD oleh Gubernur/

Mendagri

Perda APBD

PEDUM APBD o/ MDN

PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Penatausahaan Belanja

Penerbitan SPM-UP, SPM- GU, SPM-TU dan SPM-LS oleh Kepala SKPD

Penerbitan SP2D oleh PPKD Penatausahaan

Pendapatan

Kekayaan dan Kewajiban daerah

Kas Umum

Piutang

Investasi

Barang

Dana Cadangan

Utang

Akuntansi Keuangan Daerah

Bendahara penerimaan wajib menyetor penerimaannya ke rekening kas umum daerah selambat-lambatnya 1 hari kerja

Penatausahaan Pembiayaan

Dilakukan oleh PPKD

Laporan Keuangan diperiksa oleh BPK Rancangan

DPA-SKPD

DPA-SKPD Verifikasi

Laporan Realisasi Semester Pertama

R P-APBD Pelaksanaan APBD

Pendapatan Belanja Pembiayaan

Evaluasi R P-APBD

Oleh Gbrnr/MDN

Perda P-APBD

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

LRA

LAP PERUBAHAN SAL

Neraca

Lap. Arus Kas

LAP OPERASIONAL

LAP PERUBAHAN EKUITAS

CaLK

Raperda PJ Pel APBD

Disusun dan disajikan Sesuai SAP

Persetujuan Bersama (KDH +

DPRD)

Evaluasi o/

Gubernur/MDN 15 hari

7 hari penyesuaian o/ Pemda

Perda PJ Pel APBD setelah 3 hari

Perencanaan Pelaksanaan Penatausahaan Pertgjwban Pemeriksaan

DPRD

melakukan pengawasan bukan

pemeriksaan

(11)

PERENCANAAN PENGANGGARAN

RPJMD RKPD KUA &

PPAS APBD

SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN

Pasal 310

11

(12)

RPJMD Renstra

SKPD Renja

SKPD RKPD

KUA PPAS

PEDOMAN PENYUSUNAN

RKA-SKPD

RAPERDA APBD

TAPD

RKA-SKPD

Dibahas bersama

DPRD 5 tahun

5 tahun

1 tahun 1 tahun

RKP RPJMN

NOTA KESEPAKATAN PIMPINAN DPRD DGN KDH

1 tahun 1 tahun

5 tahun

RPJPD RPJPN

20 tahun 20 tahun

Renstra K/L Renja

K/L

5 tahun

1 tahun

KUA = Kebijakan Umum APBD

PPAS = Prioritas & Plafon Anggaran Sementara TAPD = Tim Anggaran Pemda

pedoman

dijabarkan

pedoman

diacu

pedoman pedoman

pedoman

dijabarkan

diacu

pedoman Diserasikan dg

Musrenbang Diacu

Diperhatikan

RKA-SKPD= Rencana kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

PERDA APBD

dievaluasi Dibahas dan

disetujui oleh DPRD

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

PROSES PERENCANAAN DAN PENGANGGGARAN

(13)

Sesuai Dengan Kebutuhan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Berdasarkan Urusan Dan Kewenangannya

Tertib, taat pada ketentuan peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat

Tepat Waktu Transparan Partisipatif

Tidak Bertentangan Dengan Kepentingan Umum, Peraturan Yang Lebih Tinggi Dan Peraturan Daerah Lainnya

PRINSIP PENYUSUNAN APBD

13

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(14)

Semua penerimaan baik dalam bentuk uang, maupun barang dan/atau jasa dianggarkan dalam APBD;

Seluruh pendapatan, belanja dan pembiayaan dianggarkan secara bruto;

Jumlah pendapatan merupakan perkiraan terukur dan dpt dicapai serta berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah cukup dan harus didukung dengan dasar hukum yang melandasinya.

P R I N S I P P E N G A N G G A R A N

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(15)

▪ Menerapkan Prinsip Efisiensi, Efektifitas, Transparansi, Akuntabilitas, dan Partisipasi;

▪ Keterpaduan dan Sinkronisasi Antar Kegiatan;

▪ Disesuaikan dengan TUPOKSI SKPD dan Urusan yang menjadi Kewenangan Daerah;

▪ Taati Jadwal sesuai dengan Tahapan Penyusunan APBD.

STRATEGI PENYUSUNAN APBD

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(16)

TAHAPAN DAN JADWAL PROSES PENYUSUNAN APBD

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

No URAIAN WAKTU LAMA

1. Penyampaian Rancangan KUA dan Rancangan PPAS oleh Ketua TAPD kepada Kepala Daerah

Paling lambat minggu I bulan Juli

1 (satu) minggu 2. Penyampaian Rancangan KUA dan Rancangan PPAS oleh Kepala Daerah

kepada DPRD

Paling lambat minggu II

bulan Juli 4 (empat) minggu

3. Kesepakatan antara Kepala Daerah dan DPRD atas Rancangan KUA dan Rancangan PPAS

Paling lambat minggu I bulan Agustus

4. Penerbitan Surat Edaran Kepala Daerah perihal Pedoman Penyusunan

RKA-SKPD dan RKA-PPKD Paling lambat minggu II

bulan Agustus 5. Penyusunan dan Pembahasan RKA-SKPD dan RKA-PPKD serta

Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD

6. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD kepada DPRD 60 (enam puluh) hari kerja sebelum pengambilan persetujuan bersama DPRD dan Kepala Daerah

Paling lambat minggu I bulan September bagi daerah yang menerapkan 5 (lima) hari kerja per minggu dan paling lambat minggu III bulan September bagi

daerah yang

menerapkan 6 (enam) hari kerja per minggu

(17)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7. Persetujuan bersama DPRD dan Kepala Daerah Paling lambat 1 (satu) bulan sebelum dimulainya tahun anggaran berkenan 8. Menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan

Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur untuk dievaluasi

3 (tiga) hari kerja setelah persetujuan bersama

9. Hasil evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD

Paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD diterima oleh Menteri Dalam Negeri/Gubernur

10. Penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD sesuai hasil evaluasi yang ditetapkan dengan Keputusan Pimpinan DPRD tentang Penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD

Paling lambat 7 (tujuh) hari kerja (sejak diterima keputusan hasil evaluasi) 11. Penyampaian Keputusan Pimpinan DPRD tentang Penyempurnaan

Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur

3 (tiga) hari kerja setelah Keputusan Pimpinan DPRD ditetapkan

12. Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD sesuai dengan hasil evaluasi

Paling lambat akhir Desember (31 Desember)

13. Penyampaian Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur

Paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan.

(18)

Pasal 311 UU 23/214:

➢ Kepala daerah wajib mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk memperoleh persetujuan bersama.

Kepala daerah yang tidak mengajukan rancangan Perda tentang APBD dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangannya yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 6 (enam) bulan.

Rancangan Perda dibahas kepala daerah bersama DPRD dengan berpedoman pada RKPD, KUA, dan PPAS untuk mendapat persetujuan bersama.

➢ Atas dasar persetujuan bersama DPRD dan kepala daerah, kepala daerah menyiapkan rancangan Perkada tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran.

SANKSI ADMINISTRATIF

(PASAL 311 s/d 312 UU 23/2014)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(19)

Pasal 312 UU 23/214:

➢ Ayat (1) Kepala daerah dan DPRD wajib menyetujui bersama rancangan Perda tentang APBD paling lambat 1 (satu) bulan sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun.

➢ Ayat (2) DPRD dan kepala daerah yang tidak menyetujui bersama rancangan Perda tentang APBD sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun sebagaimana dimaksud ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan selama 6 (enam) bulan.

➢ Ayat (3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dikenakan kepada anggota DPRD apabila keterlambatan penetapan APBD disebabkan oleh kepala daerah terlambat menyampaikan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD dari jadwal yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Lanjutan….

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(20)

Psl 313 ayat (1) & ayat (2):

➢ Apabila KDH dan DPRD tidak mengambil persetujuan bersama dalam waktu 60 (enam puluh) Hari sejak disampaikan Ranperda tentang APBD oleh KDH kepada DPRD, KDH menyusun dan menetapkan Perkada tentang APBD paling tinggi sebesar angka APBD Tahun Anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan.

➢ Ranperda dapat ditetapkan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri bagi Daerah provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat bagi Daerah kabupaten/kota.

Lanjutan….

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(21)

A P B D

PENDAPATAN BELANJA PEMBIAYAAN

STRUKTUR APBD

PAD

➢ Pajak Daerah

➢ Retribusi Daerah

➢ Hsl Pengelolaan Keyaan yg Dipisahkan

➢ Lain –lain PAD yg Sah DANA PERIMBANGAN

➢ DBH

➢ DAU

➢ DAK

LAIN 2 PD YG SAH

➢ Hibah

➢ Bantuan Keuangan

➢ Dana Darurat

➢ Dana Penyesuain

Belanja Tdk Langsung

➢ B. Pegawai

➢ B. Bunga

➢ B. Subsidi

➢ B. Hibah

➢ B. Bantuan Sosial

➢ B. Bagi Hasil

➢ B. Bantuan Keuangan

➢ B. Tidak Terduga Belanja Langsung

➢ B. Pegawai

➢ B. Barang & Jasa

➢ B. Modal

Penerimaan Pembiayaan

➢SiLPA

➢ Pencairan d. cadangan

➢ Penj yang dipisahkan

➢ Penerimaan pinjaman

➢ Penerimaan kembali pemberian pinjaman

➢ Penerimaan piutang Penerimaan Pembiayaan

➢ Pembentukan dana cadangan

➢ Penyertaan modal

➢ Pembayaran hutang

➢ Pemberian pinjaman

(22)

BELANJA DAERAH

(Pasal 26 ayat (1), Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2) PP 58 Tahun 2005

▪ Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kab/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang- undangan.

▪ Belanja Daerah diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan (disesuaikan dg urusan), serta jenis belanja.

▪ Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintah daerah.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(23)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

23

 BELANJA YG DIARAHKAN (EARMARK)

 BELANJA YG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB

 BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU

 BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM

KEKEBIJAKAN PENGANGGARAN TERKAIT

ANATOMI BELANJA DLM APBD

(24)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

24

 DAK

 DBH - DR

 DBH CUKAI HASIL TEMBAKAU

 DANA OTSUS (Untuk Program)

 DANA BOS

 DANA INSENTIF DAERAH (DID)

 DANA PENYESUAIAN (Tunj.

Fungsional, Tambahan

Penghasilan Guru PNS, Sertifikasi Guru)

 BANTUAN KEUANGAN YG BERSIFAT KHUSUS

BELANJA YANG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB :

BELANJA PEGAWAI

BELANJA BUNGA

KEGIATAN DPA - L

DUKUNGAN PROGRAM PRIORITAS NASIONAL (A.L. DANA

PENDAMPING DAK)

BELANJA PROGRAM/KEGIATAN YG BERSIFAT RUTIN SEPERTI

KEPERLUAN KANTOR SEHARI- HARI

BELANJA YG DIARAHKAN

(EARMARK)

(25)

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

25

BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU:

 BELANJA FUNGSI PENDIDIKAN 20% DARI TOTAL BELANJA

 BELANJA URUSAN KESEHATAN SEKURANG-KURANGNYA 10% DARI TOTAL BELANJA DILUAR GAJI

=> PSL 171 AYAT (2) UU 36 TH 2009 TTG KESEHATAN

 ALOKASI DANA DESA (ADD) 10% DARI DANA PERIMBANGAN

 BAGI HASIL KAB/KOTA KEPADA DESA MIN 10%

 DBH PAJAK KEPADA KAB/KOTA

 BANTUAN PARPOL

 INSENTIF PEMUNGUTAN PAJAK

BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM

 BELANJA URUSAN WAJIB BERKAITAN DENGAN PELAYANAN DASAR 1. pendidikan;

2. kesehatan;

3. pekerjaan umum & penataan ruang;

4. perumahan rakyat & kawasan pemukiman;

5. ketentraman & ketertiban umum serta perlindungan masyarakat;

6. sosial.

(26)

DISKRESI PENAMBAHAN PROGRAM DAN KEGIATAN

▪ Pasal 77 ayat (12) Permendagri Nomor 59 Tahun 2007

❑ Lampiran kode rekening merupakan daftar nama rekening dan kode rekening yang tidak merupakan acuan baku dalam penyusunan kode rekening yang pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan objektif dan nyata sesuai karakteristik daerah.

 Daerah diberikan diskresi untuk menambah/membuat program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan daerah.

 Jika nomenklatur program dan kegiatan belum terdapat

dalam Lampiran A.VII Permendagri Nomor 13 Tahun 2006

(Lampiran kode Program dan Kegiatan) daerah boleh

menambah sesuai dengan kebutuhan.

(27)

▪ Menteri Dalam Negeri dan Gubernur melakukan Pembinaan dan Pengawasan di Bidang Pengelolaan Keuangan Daerah;

Sasaran Perbaikan Perencanaan Anggaran Tahun Berkenaan;

▪ Menekankan pada Aspek Pembinaan Manajerial dan Saran Perbaikan kedepan.

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ASPEK PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

(28)

Terima Kasih

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Referensi

Dokumen terkait

Selain menindaklanjuti ketentuan perundang-undangan tersebut, PP ini sekaligus merupakan sinkronisasi dari berbagai ketentuan perundang-undangan yang berkaitan dengan

Dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, penyelenggaraan pemerintahan negara dan pemerintahan daerah sangat membutuhkan sumber daya yang terkelola dengan baik dan efisien,

h. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan umum dibebankan pada APBN dan pelaksanaan tugas lain

melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem

Menimbang : bahwa untuk menjamin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berjalan secara efektif dan efesien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

NSPK berupa ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai pedoman dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren yang

3) Hubungan keuangan dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang ditugaskan kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan pendanaan sesuai dengan

Peraturan Pemerintah nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan daerah yang antara lain menyebutkan bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib , taat pada