• Tidak ada hasil yang ditemukan

GANESHA LAW REVIEW - Ejournal2 Undiksha

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "GANESHA LAW REVIEW - Ejournal2 Undiksha"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

43

IMPLEMENTASI HUKUM INTERNASIONAL TERHADAP

PERSENGKETAAN WILAYAH KASHMIR ANTARA INDIA-PAKISTAN

Saifur Rauf, Komang Febrinayanti Dantes, Si Ngurah Ardhya, M. Jodi Setianto Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha,

E-mail: [email protected] Info Artikel

Abstract

This study aims to determine the view of international law on the dispute over the Kashmir region between India and Pakistan as a form of conflict resolution efforts.

The legal research used is normative legal research or what is commonly referred to as library research with the acquisition of secondary data sourced from the internet.

The results show that the status of the Kashmir region under international law is being contested because both India and Pakistan declare Kashmir as their territory.

The dispute over the Kashmir region arises because of the conflict of political interest between the two countries and the unilaterally declared power of India and Pakistan. Pakistan also states that the Muslim majority, including religious factors, is an integral part of Pakistan, and India also claims that there is a Hindu community in Kashmir integrated with India. Furthermore, in order to resolve the Kashmir dispute between India and Pakistan, it must be carried out through bilateral relations between the two countries. The United Nations can grant rights to India and Pakistan over the Kashmir region according to their territorial location, so that there is no longer any reason for the two countries to fight over each other's territory. And countries that do not follow the decision could face severe penalties set by the United Nations.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan hukum internasional terhadap persengketaan wilayah

GANESHA LAW REVIEW

Volume 4 Issue 2, November 2022 P-ISSN: 2656 – 9744 , E-ISSN: 2684 – 9038

Open Access at : https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/GLR

Masuk: 1 September 2022 Diterima: 1 Oktober 2022 Terbit: 1 November 2022 Keywords:

Kashmir Territorial Dispute

Kata kunci:

Persengketaan Wilayah Kashmir

(2)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

Kashmir antara India-Pakistan sebagai bentuk upaya penyelesaian konflik persengketaan. Adapun penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum normatif atau yang biasa disebut dengan studi kepustakaan dengan perolehan data sekunder yang bersumber dari internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status wilayah Kashmir di bawah hukum internasional sedang diperebutkan karena baik India maupun Pakistan menyatakan Kashmir sebagai wilayah mereka. Persengketaan wilayah Kashmir muncul karena adanya konflik kepentingan politik antara kedua negara dan kekuasaan yang dinyatakan secara sepihak oleh India maupun Pakistan. Pakistan juga menyatakan bahwa mayoritas Muslim, termasuk faktor agama, merupakan bagian integral dari Pakistan, dan India juga mengklaim bahwa ada komunitas Hindu di Kashmir yang terintegrasi dengan India. Lebih lanjut, guna menyelesaikan sengketa wilayah Kashmir antara India dan Pakistan, harus dilakukan melalui hubungan bilateral kedua negara. PBB dapat memberikan hak kepada India dan Pakistan atas wilayah Kashmir sesuai dengan letak teritorialnya, sehingga tidak ada lagi alasan bagi kedua negara untuk memperebutkan seluruh wilayah. Dan negara-negara yang tidak mengikuti keputusan tersebut dapat menghadapi hukuman berat yang telah ditentukan oleh PBB.

@Copyright 2022.

PENDAHULUAN

Pada ketentuan hukum internasional yang berkaitan dengan hak kewajiban dan kepentingan nasional. Secara umum, ketentuan hukum internasional merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh setiap negara. Jika sama, persetujuan dapat membebankan kewajiban yang disepakati dan dilaksanakan oleh negara penandatangan itu sendiri. Kehidupan manusia, orang, negara yang berinteraksi dan perundingan antar negara tidak bisa dihindari dari perselisihan ke pertikaian, dari tingkat kecil hingga serius. Pertikaian antar bangsa adalah konflik yang tidak mempengaruhi kehidupan internasional namun bisa juga berupa konflik yang mengancam perdamaian dan ketertiban Internasional. Sengketa/pertikaian dapat diartikan sebagai perselisihan mengenai masalah fakta Bahkan, hukum atau kebijakan di mana klaim atau pernyataan para pihak diperselisihkan, Dikumpulkan atau ditolak oleh pihak lain. Kontroversi dalam arti luas perselisihan tersebut adalah pemerintah, lembaga, perusahaan atau individu di bagian yang berbeda.

Konflik/sengketa adalah fakta kehidupan, tak terelakkan dan seringkali kreatif.

Jika tujuan perusahaan tidak sesuai, maka timbul perselisihan. Hubungan dari semua bentuk Sosial, ekonomi, orang-orang berkuasa, antarpribadi hingga tingkat kelompok, Organisasi, masyarakat, dan negara sedang mengalami pertumbuhan, perubahan, dan konflik. Konflik muncul karena ketidakseimbangan dalam hubungan ini Ada ketidakseimbangan antara hubungan ini, yaitu Penyebab konflik atas wilayah Kashmir Perseteruan yang terjadi di perbatasan Kashmir sangat berpengaruh dan

Corresponding Author:

Saifur Rauf

(3)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

mengganggu di wilayah tersebut. Konflik pertikaian yang terjadi di Asia Selatan itu melibatkan dua negara besar yaitu India dan Pakistan. Pertikaian dua negara atas wilayah Kashmir ini masih berlangsung dan telah mendapat banyak perhatian dari berbagai negara. Hal ini menghadirkan tantangan serius dalam pembuatan kebijakan untuk menyelesaikan perselisihan antar negara dalam suatu konflik pertikaian yang bersifat kompleks dan heterogen.

Pada tahun 1947, mereka pertama kali terlibat dalam perselisihan tentang masalah ini. Pemimpin Kashmir pada saat itu adalah Mahara Jahari Singh, yang ingin bergabung dengan India. Di satu sisi, Pakistan membujuk Hari untuk bergabung dengan negaranya. Dia bahkan tidak ragu untuk mengirim sekelompok Muslim ke Kashmir, Hari akhirnya meminta bantuan India guna menyetujui perjanjian aksesi, dan menyerahkan Kashmir ke India pada 26 Oktober 1947 dan awal pertikaian pun dimulai.

Pada tahun 1965 Agresi kembali terjadi antara kedua negara di perbatasan Kashmir Hingga kesepakatan gencatan senjata disetujui. Perdana Menteri India saat itu, Lal Bhadur Shastri, dan Presiden Pakistan, M Ayub Khan, meneken Perjanjian Tashkent pada 1 Januari 1966 sebagai upaya mengakhiri pertikaian. Pada tahun 1999 Kelompok militan yang didukung Pakistan melintasi perbatasan Kashmir yang masih disengketakan India. Kelompok-kelompok itu juga merebut sejumlah pos-pos militer India di pegunungan Kargil. Pasukan India memberangus para kelompok-kelompok itu.

Konflik Tersebut berlangsung selama 10 pekan dan menelan sekitar 1.000 korban dari kedua belah pihak. Pada tahun 1965, terjadi invasi baru antara kedua negara di perbatasan Kashmir sampai kesepakatan gencatan senjata tercapai. Perdana Menteri India Lal Bhadur Shastri dan Presiden Pakistan Ayub Khan kemudian menandatangani Tasiken Treaty pada 1 Januari 1966 untuk mengakhiri konflik. Pada tahun 1999, sebuah kelompok militan yang didukung Pakistan memasuki Kashmir melintasi perbatasan India yang disengketakan. Kelompok ini juga menduduki banyak garnisun India di Pegunungan Kargil. Pasukan India membingungkan kelompok itu. Konflik berlangsung selama 10 minggu, menewaskan dan melukai sekitar 1.000 orang di kedua belah pihak.

Pada 2016, India meluncurkan "serangan bedah" ke wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan. Serangan terjadi selama 14 hari setelah sekelompok militan menyerang sebuah pangkalan militer India di wilayah Kashmir yang menewaskan 19 tentara tewas. Pada 14 Februari 2019, terjadi pengeboman bunuh diri yang menyerang iringan para militer India di Kashmir dan menewaskan 40 orang. Atas kejadian itu, India menuduh Pakistan menyerang kelompok radikal dan bersumpah akan membalas dendam kepada pasukan militan Jaish Muhammad (JeM).

PEMBAHASAN

Dasar Persengketaan Wilayah Kashmir

Kashmir adalah wilayah sengketa antara dua negara Asia Selatan: India dan Pakistan. Kedua negara ini selalu berperang dan tidak pernah menyepakati wilayah mereka, terutama kedua negara, wilayah yang disengketakan oleh Kashmir. Terletak di ujung barat Himalaya, Kashmir adalah wilayah lembah yang terkenal dengan tanahnya yang subur dengan sungai-sungai yang mengalir. Kashmir sendiri resmi menjadi wilayah pada tahun 1947, dan pada tahun yang sama India dan Pakistan juga memperoleh kemerdekaan dari Inggris. Awalnya, Kashmir tidak ingin berpartisipasi baik di India maupun Pakistan, sehingga Pakistan mulai menyerang Kashmir. Maharaja Kashmir, penguasa tertinggi di kawasan itu, telah menandatangani nota kesepahaman mengenai aksesi/bergabung India, yang dianggap tidak resmi oleh Pakistan. Maka dengan adanya hal tersebut, perseteruan wilayah Kashmir antara India dan Pakistan di

(4)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

mulai.

Pada tahun 1971-1972 India & Pakistan berperang. Pada akhirnya, perjanjian Simla dibentuk guna membuktikan daerah-daerah yang berada dibawah kekuasaan India juga Pakistan. Namun hal ini tidak menciptakan kedua negara berhenti berseteru tentang perbatasan Kashmir. Tahun 1999, perang terjadi dikarenakan pasukan bersenjata melintasi batas daerah administrasi India. Pada tahun 2003, perdana menteri India & presiden Pakistan mengadakan rapat dengan tujuan diplomatik. Pada tahun 2016, 18 tentara India sang gerombolan agresif pada daerah Kashmir yang dikuasai India. Kemudian beberapa tentara Pakistan terbunuh pada perang melawan pasukan India di wilayah perbatasan. Perseteruan yg terjadi antara India & Pakistan masih berlangsung sampai ketika ini.

Pada tahun 1971-1972 perseteruan bersenjata wilayah Kashmir antara India dan Pakistan berlanjut. Pada akhirnya, perjanjian Simla dibuat untuk menunjukan wilayah wilayah yang berada dibawah kekuasaan India maupun Pakistan, akan tetapi tidak dapat menciptakan kedua negara berhenti berseteru. Pada tahun 1999, kembali terjadi perseteruan bersenjata antara India dan Pakistan yang disebabkan pasukan bersenjata melintasi batas wilayah administrasi India. Pada tahun 2003, perdana menteri India dan presiden Pakistan mengadakan pertemuan dengan tujuan diplomatik. Kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata di wilayah Kashmir. Pada tahun 2016, India dan Pakistan kembali berselisih karena kelompok militan di Kashmir menewaskan 18 tentara India yang kemudian menyebabkan dua tentara Pakistan terbunuh dalam perang dengan pasukan India di wilayah perbatasan.

Kashmir adalah sengketa perbatasan yang tidak pernah berakhir. Masalahnya, kedua negara ingin menjadikan wilayah Kashmir sebagai wilayah mereka. Tentu saja, kedua negara yang dilanda perang itu akan berjuang mati-matian untuk memenangkan wilayah Kashmir. Baik India maupun Pakistan memiliki alasan masing-masing untuk mengambil alih wilayah tersebut sehingga konflik perseteruan ini masih terus terjadi hingga saat ini.

Faktor Penyebab Persengketaan Wilayah Kashmir

Faktor penyebab persengketaan wilayah Kashmir dapat dibagi menjadi dua faktor umum:

a) Faktor Konflik agama dalam konflik Kashmir terjadi antara India dan Pakistan. Pakistan berpendapat bahwa Kashmir yang didominasi Muslim adalah bagian integral dari Pakistan, karena nama Pakistan sendiri adalah kombinasi dari beberapa kelompok. Adapun India, dikatakan juga bahwa Kashmir memiliki komunitas Hindu di mana India terintegrasi.

b) Faktor perbatasan konflik Kashmir diperparah ketika warga Kashmir sendiri mengklarifikasi kepentingannya dalam bentuk nasionalisme Kashmir. Kelompok ini mencoba membuat negara bagian yang terpisah dari kekuasaan India. Memang, Kashmir secara teritorial berada di bawah otoritas India, dan tindakan serta kebijakan pemerintah India yang cenderung menindas, menarik perhatian Pakistan.

Pelanggaran HAM dalam Persengketaan Wilayah Kashmir

Hak asasi manusia adalah konsep hukum dan normatif yang menyatakan bahwa seseorang memiliki hak yang melekat untuk menjadi manusia. Hak asasi manusia bersifat universal karena berlaku untuk semua orang, kapan saja, di mana saja. Banyak

(5)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

dari hak-hak dasar ini diakui oleh konstitusi negara1, termasuk hak untuk hidup, hak untuk berkumpul dalam kelompok untuk tujuan yang tidak merugikan orang lain, hak untuk mengemukakan gagasan yang tidak menyesatkan orang lain, dan hak untuk memeluk agama. Dalam piagam PBB, ketentuan untuk melindungi HAM telah diatur dalam pasal 1 ayat 32. Namun isu-isu hak asasi manusia telah semakin menjadi perhatian global dan mengancam perpecahan antara negara-negara maju dan negara- negara berkembang3 salah satunya adalah pelanggaran HAM sudah semakin tinggi secara dramatis pada Kashmir semenjak akhir tahun 1989. Ribuan rakyat Kashmir ditahan secara percuma dibawah undang-undang khusus yang menaruh kekuatan besar bagi pasukan keamanan guna melakukan penangkapan serta penahanan. Mereka ditahan sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa adanya tuduhan.

Penyiksaan yang diperbuat oleh pasukan keamanan sebagai rutinitas sehari-hari pada Kashmir bahkan tindakan yang sangat brutal sudah menyebabkan tewasnya ratusan orang pada tahanan. Lebih lanjut, beberapa perempuan di Kashmir juga menyatakan bahwa mereka merupakan korban pelecehan seksual dari pasukan keamanan India.

Penyebab dari banyaknya pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan di Kashmir yakni dikarenakan para perempuan di Kashmir dijadikan sebagai senjata perang oleh pasukan keamanan India. Perseteruan berkepanjangan di Kashmir juga mengakibatkan krisis HAM pada daerah tersebut. Tindakan kekerasan yang diperbuat oleh pasukan keamanan India di Kashmir menunjukkan bahwa pasukan keamanan India melakukan kejahatan perang.

Pemerintah pusat India melansir berbagai undang-undang kejam yang bertentangan dengan HAM dan hukum internasional. Pada ruang hukum telah dipersulit dalam penuntutan pelanggaran HAM yang dilakukan pasukan keamanan India. Berdasarkan undang-undang tersebut, pasukan keamanan India dilindungi dari peringatan pelanggaran HAM yang kemudian menciptakan pemikiran bahwa pasukan keamanan India bisa bebas bertindak tanpa harus memikirkan hukuman yang akan didapatkan (impunitas).

Pada 17 Desember 2021, persidangan Russell terhadap Kashmir berlangsung di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Proses Russell di Kashmir diselenggarakan oleh organisasi HAM dan cendekiawan utama di Kashmir, Italia dan Bosnia. Lima belas hakim internasional juga berpartisipasi dalam persidangan ini. Beberapa saksi juga dipanggil dalam sidang itu. Kesaksian dan bukti yang diberikan selama persidangan menunjukkan bagaimana India sebenarnya melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, pemerintahan Narendra Modi di India justru mencoba untuk memadamkan tragedi Kashmir dengan mengabaikan kritik terhadap HAM sebagai pro-Pakistan dan berpura-pura menjadi operasi kontrateroris untuk menutupi kekejaman.

Kedudukan Wilayah Kashmir dalam Hukum Internasional

Sesuai peran utama dalam hubungan internasional adalah negara, maka hak dan kewajiban negara serta kepentingan negara menjadi perhatian utama hukum internasional. Negara sebagai salah satu subjek hukum internasional bahkan telah

1 Dewa Gede Sudika Mangku, “Kasus Pelanggaran HAM Etnis Rohingya: dalan Perspektif ASEAN”, e-journal Jurnal Komunitas Yustisia Universitas Pendidikan Ganesha, 2020, hlm.63

2 Ketut Arianta, Dewa Gede Sudika Mangku, Ni Putu Rai Yuliartini “PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KAUM ETNIS ROHINGYA DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL”, e-journal Jurnal Komunitas Yustisia Universitas Pendidikan Ganesha, 2020, hlm.170

3 Dewa Gede Sudika Mangku, “Kasus Pelanggaran HAM Etnis Rohingya: dalan Perspektif ASEAN”, e-journal Jurnal Komunitas Yustisia Universitas Pendidikan Ganesha, 2020, hlm.64

(6)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

menjadi subjek hukum internasional yang pertama dan terpenting (extraordinary excellence). Negara merupakan subjek hukum internasional yang pertama, karena fakta menunjukkan bahwa negaralah yang pertama kali mengadakan hubungan internasional. Sebuah negara sebagai entitas politik dalam hukum internasional pada dasarnya harus memiliki unsur-unsur tertentu dari hukum internasional. Aturan- aturan hukum internasional yang diberikan oleh masyarakat internasional dapat dituangkan dalam bentuk kode etik yang harus dipatuhi negara-negara dalam membentuk perhimpunan. Kedudukan negara-negara baru ini tidak perlu disertai persetujuan negara lain. Tanpa persetujuan dari negara lain, suatu negara tetap berhak mempertahankan persatuan dan kemerdekaannya untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Sebenarnya kita perlu ketahui bahwa banyak negara yang lahir ke dunia tanpa adanya persetujuan, namun bukan berarti kelahiran negara baru ditolak oleh negara lain. Apalagi mengenai batas-batas wilayah suatu negara tidak lepas dari status hukum wilayah negara itu sendiri. Wilayah negara dalam konteks pembahasan “batas negara” tentunya adalah daratan dan perairan pedalamannya (termasuk udara di atasnya), perairan teritorial, zona ekstra, dan perairan kepulauan. Secara fungsional, perbatasan antar negara berbagai wilayah yang berhubungan dengan kedaulatan, hukum, atau yurisdiksi yang berkelanjutan, berdekatan, atau berbeda.

Upaya PBB Terhadap Persengketaan Wilayah Kashmir

PBB memutuskan perselisihan yang berlarut-larut atas wilayah Kashmir dengan mencoba pendekatan baru mengirim perwakilan PBB ke India dan Pakistan untuk menemukan solusi yang kedua negara sepakati. Wakil Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu dewan keamanan PBB, yang membuat proposal tentang kedua negara agar melakukan demiliterisasi Kashmir sekaligus memastikan proses referendum tidak berpihak pada kedua negara. Tapi proposal ini mendapatkan penolakan dari pihak India.

PBB mengirim Sir Owen Dixon berhadapan kembali dengan pejabat India dan Pakistan untuk mencari solusi. Tn. Owen Dixon juga mengajukan proposal untuk mengadakan referendum hanya di area yang bertikaian (Kashmir) dan area lainnya berhak memilih untuk bergabung atau tidak dengan India atau Pakistan. Namun proposal ini tidak berjalan sesuai rencana, dan tetap mendapat perlawanan dari India dan Pakistan. Lebih lanjut, perwakilan PBB, Frank dikirim kembali agar India dan Pakistan menyetujui proposal yang diajukan oleh PBB dalam kurun waktu 3 bulan. Akan tetapi, tidak ditemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, PBB membentuk tentara keamanan militer untuk mencegah perang di wilayah perbatasan antara India dan Pakistan.

Kegagalan yang dialami tidak membuat PBB menyerah untuk menyelesaikan konflik Kashmir. Sekali lagi, berbagai langkah telah diambil untuk menemukan solusi yang benar-benar dapat disepakati oleh India dan Pakistan. Oleh karena itu, PBB mengirimkan wakilnya, Gunnar Jarring, tetapi gagal. Setelah upaya gagal untuk memaksa India mematuhi resolusi PBB, Pakistan mencoba membawa masalah Kashmir kembali ke PBB. Akibatnya, PBB menolak untuk menyetujui dokumen instrument of accession, tetapi India menolak hasilnya. Resolusi tersebut juga mengulangi resolusi sebelumnya yang menyatakan bahwa masa depan Kashmir harus diputuskan sesuai dengan kehendak rakyat melalui cara-cara demokratis dengan melakukan referendum yang bebas dan tidak memihak di bawah pengawasan PBB. Lebih lanjut, dewan keamanan PBB mencoba untuk menggunakan hak veto tetapi gagal. Upaya PBB untuk menyelesaikan masalah ini tampaknya telah melemah ketika resolusi 1964 bahwa masalah Kashmir harus diselesaikan terlebih dahulu secara bilateral antara India dan

(7)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

Pakistan. Berbagai solusi tidak menyelesaikan masalah Kashmir. Bahkan India dan Pakistan sekali lagi terlibat dalam perang publik pada tahun 1965 dan 1971, yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa, luka-luka dan tawanan.

Penaklukan wilayah Kashmir merupakan akibat dari runtuhnya India yang menyebabkan negara Pakistan. Jika umat Hindu India melakukan diskriminasi dan tidak menerima keberadaan umat Islam di India pada masa lalu, mungkin tidak akan ada keruntuhan India yang berujung pada penaklukan wilayah Kashmir. Namun, dalam hal ini, sejarah dan pendirian Pakistan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Pembentukan negara Pakistan dianggap perlu. Jika tidak, umat Islam India akan merasa terkekang dan tidak akan bisa hidup dengan aman dan nyaman.

Kashmir adalah komunitas Muslim yang telah menjadi bagian integral dari Pakistan. Namun perlu diingat bahwa ada dokumen keanggotaan yang ditandatangani oleh Maharaja Singh yang mencantumkan Kashmir sebagai bagian integral dari India sebagai syarat untuk mencari bantuan militer dari India. Masalah ini terkait dengan PBB. Sebagai organisasi terbaik di dunia, PBB telah berulang kali mengeluarkan resolusi untuk mengadakan referendum. Namun, referendum tidak diadakan sampai akhir 1977. Sejak Perjanjian Simla, perjuangan Kashmir terfokus pada nasionalisme Kashmir, yang menuntut kemerdekaan sebagai negara merdeka, tanpa bekerja sama dengan India atau Pakistan. Salah satu isi Perjanjian Simla adalah bahwa semua masalah antara India dan Pakistan akan diselesaikan secara bilateral.

Pada akhirnya, komitmen, upaya dan peran PBB tampak sia-sia dan tidak dihargai, karena tidak diadakannya referendum yang diputuskan oleh India dan Pakistan. Partisipasi PBB adalah atas permintaan India dan Pakistan sendiri. Perjanjian Simla yang disepakati antara India dan Pakistan secara tidak langsung melemahkan posisi resolusi PBB di mata pemerintah dan rakyat India dan Pakistan. Sebenarnya, resolusi PBB memiliki kekuatan atas perjanjian Shimla, tetapi kekalahan perang yang diterimanya akan membuat Pakistan tidak dapat berbuat apa-apa. Perserikatan Bangsa- Bangsa adalah organisasi internasional tertinggi, dan di bawah Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya mengambil lebih banyak tindakan dan menekan India dan Pakistan untuk mengadakan referendum. PBB dapat melakukan banyak hal. Misalnya sanksi terhadap India dan Pakistan, seperti sanksi dan blokade terhadap India dan Pakistan.

Upaya Hukum Humaniter Dalam Persengketaan Kashmir

Persengketaan kashmir merupakan konkurensi internasional (international dispute). Oleh karenanya pada penyelesaian konferensi atau persengketaan internasional daerah Kashmir memiliki karakteristik dari pengamatan para pakar hukum internasional lantaran terdapat kombinasi penyelesaian persengketaan hukum dan politik (to combined both settlement disputes Judicial and politic). Konkurensi atau sengketa internasional merupakan persengketaan yang melibatkan antara dua negara atau lebih terhadap suatu objek yang dipersengketakan. Objek yang dipersengketakan biasanya bisa berupa kasus kedaulatan negara, kasus disparitas panutan ideologi, dan persaingan pada bidang ekonomi. Tanpa mengindahkan objek konkurensi atau sengketa internasional maka dari rumusan yang sempit ini, subjek konferensi atau sengketa internasional adalah negara. Hanya negara yang bisa mengkategorikan menjadi subjek pada sengketa internasional. Sekalipun demikian beberapa pakar hukum internasional tetap melibatkan badan-badan hukum atau individu lain sebagai subjek pada sengketa internasional.

Berpacu menurut cara penyelesaian guna mengukur jenis sengketa maka kesulitan yang dianggap penting menurut keduanya lantaran cara-cara penyelesaian

(8)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

tak jarang terjerumus dalam tumpang tindih keduanya. Apalagi terkadang terhadap penawaran penyelesaian tidak disepakati secara bersama. India adalah negara yang memiliki sejarah pertarungan relatif panjang terhadap Pakistan. Permasalahan antara kedua negara tersebut berulang terjadi ketika terjadinya uji coba persenjataan nuklir yang dilakukan oleh pihak India, lalu Pakistan menanggapi uji coba senjata nuklir India dengan cara meluncurkan persenjataan nuklirnya. Permasalahan lainnya tentang pembagian daerah Kashmir yang diperebutkan oleh pihak India dan Pakistan. Namun masyarakat Kashmir menginginkan supaya diadakannya referendum tentang pembagian daerah dan pungutan suara atau voting yang diajukan oleh PBB.

Sesungguhnya pihak India menginginkan referendum namun tidak pernah melakukannya. India pula mencari cara guna merampungkan konflik dengan menggunakan diplomasi, begitu juga dengan Pakistan. Persengketaan India dengan Pakistan turut mengundang kontroversi menurut negara internasional. Seperti Amerika serikat yang menginginkan adanya perdamaian di antara keduanya. Amerika serikat menganjurkan supaya pihak India dan pihak Pakistan berhenti meluncurkan senjata nuklirnya guna terjalin negosiasi perdamaian. Dalam rampungkan pertarungan tadi, hal pertama yang seharusnya dicapai yaitu konvensi kedua negara tersebut guna menanamkan tekad untuk merampungkan atau menyelesaikan persengketaan itu melalui negosiasi damai.

Lebih lanjut, PBB kembali mengumumkan resolusi tersebut. Resolusi itu juga menyerukan penarikan pasukan Pakistan dari Kashmir, penguatan hak pasukan India untuk mempertahankan Kashmir, dan segera diadakannya referendum kemerdekaan di Kashmir. Setelah India dan Pakistan mengumumkan gencatan senjata pada tahun 1949 di bawah naungan PBB, PBB mengadakan berbagai konferensi dan kesepakatan melalui UNCIP untuk mengembangkan proses gencatan senjata. Proses ini mencakup antara lain garis gencatan senjata, penarikan pasukan secara bertahap, dan pemantauan proses gencatan senjata.

Kegagalan yang dialami tidak membuat PBB menyerah untuk menyelesaikan konflik Kashmir. Sekali lagi, berbagai langkah telah diambil untuk menemukan solusi yang benar-benar dapat disepakati oleh India dan Pakistan. Oleh karena itu, pada tahun 1957, PBB kembali mengirimkan wakilnya, Gunnar Jarring, namun gagal. Setelah gagal memaksa India untuk mematuhi resolusi PBB, Pakistan mencoba membawa masalah Kashmir kembali ke PBB pada tahun 1957. Akibatnya, PBB menolak untuk meratifikasi dokumen aksesi, tetapi hasilnya ditolak oleh India. Resolusi tersebut juga mengulangi resolusi sebelumnya yang menyatakan bahwa masa depan Kashmir harus diputuskan sesuai dengan kehendak rakyat melalui cara-cara demokratis dengan melakukan referendum yang bebas dan tidak memihak di bawah pengawasan PBB.

Mengikuti konsep liberalisme, dalam mencari solusi konflik Kashmir, PBB mengutamakan cara-cara non-militer dan damai untuk mencapai perdamaian dan keamanan bersama. Seperti dalam kasus Kashmir, PBB menegaskan kembali bahwa mereka akan mengadakan referendum sebagai cara demokratis untuk menentukan status Kashmir. Kepentingan PBB dalam konflik Kashmir hanya untuk menyelesaikan konflik secara damai tanpa kepentingan pihak lain yang mempengaruhi PBB.

Referendum belum juga terjadi. Fakta ini menekankan jalur perdamaian, yang merupakan jalur kurang efektif dalam menyelesaikan masalah Kashmir antara India dan Pakistan, dan peran institusi dalam munculnya kembali dua perang besar.

Keamanan menunjukkan bahwa konsep realisme lebih efektif terhadap masalah Kashmir. Kekacauan yang dibuat oleh India dan Pakistan dilakukan untuk menciptakan keseimbangan kekuasaan. Berdasarkan konsep realisme, konflik Kashmir yang berlarut-larut disebabkan oleh kepentingan nasional, faktor keamanan dan kekuatan yang kuat sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh PBB menggunakan cara-cara

(9)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

damai dan mengutamakan diplomasi. Namun, tampaknya upaya PBB telah gagal untuk memperbaiki keadaan hubungan antara kedua negara, karena baik India maupun Pakistan tidak menerapkan resolusi PBB. Bahkan usulan utusan PBB itu ditolak oleh India dan Pakistan.

Semua kegiatan PBB di bidang perdamaian dan keamanan telah menghasilkan pengembangan prinsip, aturan, dan prosedur bersama. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab khusus dan kontribusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan, menurut ketentuan Piagam, merupakan tanggung jawab badan yang didelegasikan untuk menangani "Prinsip Umum Kerjasama di Bidang Perdamaian dan Konservasi Internasional", "Memperkuat kerjasama internasional di bidang politik" dan

"Pengembangan hukum internasional dan promosi kodifikasinya".

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan inti pembahasan, yaitu sebagai berikut:

1. Kedudukan wilayah Kashmir dalam hukum internasional dipersengketakan karena baik India maupun Pakistan mengklaim Kashmir sebagai wilayah mereka. Namun, penguasa Kashmir pada saat itu yang beragama Hindu lebih memilih bergabung dengan India, sehingga Kashmir kini terbagi menjadi dua bagian: Kashmir Pakistan dan Kashmir India. Perjuangan Kashmir yang selalu menghadapi dilemma kemudian menggunakan cara damai dan pendekatan politik, India mengklaim bahwa Kashmir telah memeluk status quo dan telah menjadi bagian dari India.

2. Persengketaan Kashmir terjadi karena terdapat bentrok kepentingan politik terhadap dua negara & kekuasaan yang diwujudkan melalui klaim secara sepihak dari pihak India juga Pakistan. Termasuk faktor agama, Pakistan menjamin bahwa Kashmir yang lebih banyak didominasi muslim adalah daerah integral Pakistan, sedangkan India juga kerap memberikan jaminan pada Kashmir masih ada komunitas Hindu yang diintegrasikan dengan India. Begitu pun faktor perbatasan, memang secara teritori Kashmir berada pada otorita India. Tetapi konkurensi yang terjadi ini tidak akan bisa dilepaskan dari rezim kolonial yang cenderung menciptakan garis perbatasan baru berdasarkan kepentingan rezim tanpa melihat faktor-faktor alamiah misalnya etnis, serta syarat sosial budaya.

3. Pelanggaran HAM telah terjadi dalam persengketaan wilayah Kashmir sejak akhir tahun 1989. Ribuan rakyat Kashmir ditahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa ada kejelasan hingga menyebabkan tewasnya ratusan orang. Lebih lanjut, tidak sedikit perempuan di Kasmir juga merupakan korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh pasukan keamanan India. Hal ini didasari karena pasukan keamanan India menjadikan perempuan Kashmir sebagai tameng senjata perang mereka. Pemerintah India pusat melansir undang-undang yang bertentangan dengan HAM dan hukum internasional.

Dikatakan demikian karena dalam undang-undang tersebut pasukan keamanan India dilindungi dari berbagai peringatan pelanggaran sehingga menciptakan pemikiran mereka bahwa pasukan keamanan India dapat bebas bertindak tanpa harus memikirkan hukuman yang akan didapatkan nantinya (impunitas). Di samping itu, pemerintahan Narendra Modi di India berupaya untuk memadamkan persengketaan wilayah Kashmir dengan cara mengabaikan kritik yang menyudutkan mereka terhadap hak asasi manusia dan juga kritik tersebut dipandang sebagai tindakan pro-Pakistan.

(10)

Ganesha Law Review, Volume 4 Issue 2, November 2022

4. Upaya hukum internasional dalam penyelesaian persengketaan Kashmir adalah menyerukan PBB guna mencoba pendekatan baru dengan cara mengirimkan perwakilan PBB ke India & Pakistan agar mencari solusi yang bisa disepakati kedua negara tersebut. Perwakilan PBB yang pertama, yaitu dewan keamanan PBB yang menyarankan hendaknya kedua negara melakukan demiliterisasi (pembebasan (suatu daerah) dari kekuasaan atau pendudukan militer) Kashmir guna memastikan proses referendum tidak memihak diantara kedua negara tersebut. Dari banyaknya kegagalan yang dialami, tidak akan menciptakan PBB menyerah dalam memadamkan persengketaan Kashmir. Berbagai cara telah dilakukan agar menemukan solusi yang bisa disepakati oleh pihak India maupun Pakistan.

SARAN

Saran yang bisa penulis sajikan sebagai bentuk perbaikan di masa depan yakni untuk menyelesaikan sengketa wilayah Kashmir antara India dan Pakistan, harus dilakukan melalui hubungan bilateral kedua negara. Seharusnya PBB memberikan hak kepada India dan Pakistan atas wilayah Kashmir sesuai dengan letak teritorialnya, sehingga tidak ada lagi alasan bagi kedua negara untuk memperebutkan seluruh wilayah masing-masing. Dan negara-negara yang tidak mengikuti keputusan tersebut dapat menghadapi hukuman berat yang telah ditentukan oleh PBB.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, S. (2020). Perselisihan Kashmir dan Tantangan terhadap Keamanan Nasional Pakistan: Sebuah Analisis. Electronic Research Journals.

APP. (2020). India menggunakan kekerasan seksual sebagai senjata. Tribun.com.

Bisma. (2021). Keheningan Kolektif tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Bersuara Keras di Lembah Kashmir. THE WIRE.

Icha. (2009). IMPLIKASI KONFLIK KASHMIR TERHADAP REGIONAL SECURITY : KAWASAN ASIA SELATAN. Miss Icha's Blog.

Referensi

Dokumen terkait

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Kovenan tentang Hak Kovenan tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dan Hak Sipil dan Kebijakan yang menggunakan protokol opsional disebut