• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya dan Aliran dalam Cerpen Rama dan Sinta

N/A
N/A
Pita Rizqi Dwi Cahyaningtyas

Academic year: 2023

Membagikan "Gaya dan Aliran dalam Cerpen Rama dan Sinta"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Gaya dan Aliran dalam Cerpen Rama dan Sinta

Dalam sejarah sastra modern dunia dan juga sastra modern Indonesia, setidaknya dikenal tiga aliran besar——di samping beberapa aliran lain——yang menawarkan gaya yang berbeda dalam menstrukturkan pengalaman melalui bahasa sastra, yaitu aliran realisme, modernisme, dan pascamodernisme. Dalam konteks kajian gaya cerita, tiga aliran tersebut dapat dipahami sebagai perspektif yang berbeda dalam melihat dan mengungkapkan pengalaman melalui cerita. Gaya realisme memandang bahwa pengalaman itu dapat diungkapkan secara apa adanya apabila campur tangan kepentingan si pencerita (narator) dapat dikurangi sehingga pengalaman itu hadir secara obyektif.

Namun, gaya modernism menolak posisi tersebut dengan mengambil sikap bahwa pengalaman tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang si pencerita sehingga cerita yang diungkapkan pada dasarnya hanyalah hasil tangkapan atau kesan subyektif dari si pencerita itu sendiri terhadap pengalaman. Adapun gaya pascamodernisme berupaya keluar dari dikotomi obyektif-subyektif tersebut dengan menawarkan proses refleksi, permainan, dan parodi yang terus-menerus terhadap dikotomi itu.

Dalam mengkaji salah satu dari ketiga gaya tersebut, saya akan mengambil contoh pada cerpen roman berjudul “Rama dan Sinta” karya Ivana The. Cerpen ini menggunakan aliran realisme. Cerita ini dibuka dengan tujuan langsung dari si Rama yang ingin menembak Sinta dan tidak boleh gagal. Jadi di sini sudah ada gambaran tentang peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ternyata proses penembakkan Rama ini tidak berjalan mulus karena lagi- lagi Sinta membawa seorang cowok. Setelah kejadian ini, Rama diingatkan kembali oleh kenangan masa lalunya. Sama halnya seperti cerita dalam cerpen “Pertemuan” yang sudah dibahas dalam kuliah saya yang dalam segi waktu menggunakan teknik prolepsis, hal ini juga berlaku hal yang sama. Kemudian, dalam cerita ini juga memakai teknik analepsis yang menunjukkan kilas balik dari si tokoh Rama seperti penjelasan sebelumnya, di mana Rama mengingat tentang kejadian masa lalunya yang mengingatkan dia tentang mantan pacar dari Sinta, yang membuat dia terus saja menimbun perasaannya itu. Kilasan itu terjadi beberapa kali dalam cerita ini. 1) Cowok bernama Patrick yang dibawa oleh Sinta saat ketemuan dengan Rama.

2) Saat kuliah, Sinta membawa cowok bernama Toni saat ketemuan dengan Rama. Begitu seterusnya. Sehingga hal tersebut membuat Rama tidak jadi dan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya itu.

Oleh: Pita Rizqi Dwi Cahyaningtyas (1210621029)

Referensi

Dokumen terkait