1. Gedung Merdeka Bandung
Lokasi : Jl. Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40111
Arsitek : Van Galen Last dan CP Wolff Schoemaker pada tahun 1926 Architectural style : Art Deco
Luas : 7.500 m2
A. Sejarah Gedung Merdeka
Gedung Merdeka berlokasi di Jalan Asia Afrika No. 65. Arsitek yang merancang gedung tersebut bernama Van Gallen Last dan C. P. Wolff Schoemaker, sedangkan ruangan yang sekarang dipakai oleh Museum Konferensi Asia Afrika sempat dirombak pada tahun 1940. Arsitek yang merancang ruangan tersebut ialah Ir.
A.F. Aalbers (Hutagalung dan Nugraha, 2008: 34-36)
Bangunan ini pertama kali dibangun pada tahun 1895 dan dinamakan Sociëteit Concordia, dan pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Pada 1895 belum dikenal nama Gedung Merdeka. Pada masa itu, gedung tersebut bernama Gedung Societeit Concordia.
Gedung ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan hiburan orang-orang Belanda.
Kelompok Belanda yang sering berkumpul di gedung ini berasal dari kalangan pengusaha perkebunan, perwira, pembesar, dan kalangan lainnya yang cukup kaya dan mempunyai kedudukan (Ekadjati, 2004; 10).
Pada hari libur terutama malam hari, gedung dipenuhi pengunjung untuk menonton pertunjukkan kesenian maupun makan malam. Di dalam gedung tersedia fasilitas hiburan yang mewah, sehingga tidak sembarang orang dapat masuk gedung tersebut.
Ada tulisan 'Verbodden voor Honden en Indlander' di dalam gedung itu, artinya anjing dan pribumi dilarang masuk. Bahkan, orang kulit putih yang tidak memiliki akses ke komunitas elite Eropa mengalami kesulitan masuk ke gedung Societeit Concordia. Sehingga tidak heran, jika Societeit Concordia disebut sebagai simbol rasisme.
Pada tahun 1942-1945, Gedung Societeit Concordia dikuasai oleh tentara Pendudukan Jepang. Pada masa ini nama gedung diubah menjadi nama yang berasal dari bahasa Jepang yaitu Dai Toa Kaman. Gedung ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan pertemuan. Meskipun demikian, kegiatan yang berhubungan dengan kesenian dan hiburan masih tetap berlagsung di gedung ini (Ekadjati, 2004: 11).
Setelah tahun 1945 gedung Concordia menjadi markas pemuda di Kota Bandung untuk menghadapi tentara pendudukan Jepang. Pada saat itu, tentara Jepang belum bersedia menyerahkan kekuasaannya. Akan tetapi, pada saat tentara Sekutu datang ke Kota Bandung, gedung tersebut dijadikan tempat kegiatan pemerintah Kota Bandung. Setelah adanya ultimatum dari pihak Sekutu, gedung tersebut ditinggalkan dari kegiatan pemerintahan.
Setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946, Gedung Societeit Concordia berfungsi sebagai bangunan seni dan hiburan. Kemudian setelah pemerintah Indonesia (1946-1950) di mulai dengan adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, Recomba Jawa Barat. Gedung Societeit Concordia digunakan sebagai gedung pertemuan umum.
Keputusan Pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Merdeka terpilih menjadi tempat konferensi itu. Pada saat ini, nama gedung berubah menjadi Gedung
Merdeka. Pertimbangannya adalah saat itu Gedung Merdeka merupakan gedung termegah dengan lokasi strategis, dekat Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.
Untuk itu pada awal 1955, gedung dipugar disesuaikan dengan kebutuhan konferensi bertaraf internasional. Pembangunan gedung dilakukan oleh Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa barat. Gedung Merdeka menjadi gedung konstituante setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil pemilihan umum 1955.
Kemudian, Gedung Merdeka menjadi tempat kegiatan Badan Perancang nasional lalu menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang terbentuk pada tahun 1960. Pada tahun 1965, Gedung Merdeka menjadi tempat Konferensi Islam Asia Afrika.
Pada saat tejadi pemberontakan 30 September, Gedung Merdeka dipakai oleh instansi militer. Sebagai ruang gedung tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat tahanan politik gerakan 30 September. Pada tahun 1966 pemeliharaan gedung ini diserahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Oleh Pemerintah daerah Jawa Barat, selanjutnya diserahkan pelaksanaannya kepada pemerintah Kotamadya Bandung. Akan tetapi, pada 6 Juli 1968 pimpinan MPRS merevisi surat keputusan Gedung Merdeka. Dengan adanya surat revisi tersebut, maka bangunan yang berada di belakang gedung tersebut tetap di bawah tanggung jawabnya
B. Pengaruh Politik Terhadap Gedung Merdeka Bandung
1. Konferensi Asia-Afrika 1955 (KAA '55): Gedung Merdeka adalah tempat dari Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada bulan April 1955. Konferensi ini merupakan pertemuan politik penting antara pemimpin negara dan pemerintahan Asia dan Afrika yang sedang berjuang untuk kemerdekaan, perdamaian, dan kerja sama internasional. Gedung Merdeka digunakan sebagai tempat pertemuan utama dan pembicaraan penting di Konferensi Asia-Afrika ini.
2. Deklarasi Bandung: Pada Konferensi Asia-Afrika 1955 di Gedung Merdeka, tercetuslah Deklarasi Bandung yang berisi prinsip-prinsip dasar non-blok, anti- kolonialisme, dan anti-kekaisaran. Deklarasi ini memengaruhi kebijakan luar negeri dan hubungan diplomatik antara negara-negara Asia dan Afrika serta memberikan dorongan penting dalam gerakan non-blok.
3. Pengaruh Kemerdekaan Indonesia: Gedung Merdeka adalah simbol penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Gedung Merdeka digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berperan penting dalam perjuangan melawan penjajah.
4. Penggunaan Selama Zaman Belanda: Sebelum menjadi Gedung Merdeka, bangunan ini dikenal sebagai Gedung Sociëteit Concordia dan berfungsi sebagai gedung pertemuan sosial bagi masyarakat kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Pada masa ini, bangunan ini digunakan untuk pertemuan elit kolonial dan tidak mewakili semangat kemerdekaan.
Pengaruh politik sangat memengaruhi peran Gedung Merdeka dalam sejarah Indonesia dan hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan serta hubungan diplomatik internasional.
Gedung Merdeka tetap menjadi salah satu situs bersejarah yang penting dan pusat kegiatan budaya dan politik di Bandung hingga saat ini.
C. Kasus Politik di Gedung Merdeka Bandung
Tiang-tiang di kompleks Gedung Merdeka yang biasanya mengibarkan bendera negara- negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955 di bulan April, atau bendera merah putih saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, dipenuhi dengan bendera Partai Hanura.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) tahun 1987 tentang Pengelolaan Gedung Merdeka. Disebutkan dalam Pasal 4: “Gedung Merdeka tidak dibenarkan untuk
dipakai kegiatan atau kepentingan yang tujuannya bersifat pribadi, komersial, dan politik praktis”.
Penggunaan Gedung Merdeka diatur di Pasal 3 kesepakatan itu. Gedung ini dapat dipergunakan untuk pertemuan atau konferensi yang bersifat nasional atau internasional yang diselenggarakan oleh instansi pemerintahan, pertemuan ilmiah seperti ceramah, diskusi, seminar, simposium terutama yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian, serta pengkajian masalah Asia Afrika dan negara-negara berkembang dan instansi pemerintah.
Gedung Merdeka juga dapat digunakan untuk upacara resmi, antara lain penyambutan tamu negara, pelantikan dan serah terima jabatan, peringatan peristiwa penting yang bersifat nasional atau internsional, dan pertunjukan kesenian atau pameran kebudayaan yang bersifat nasional atau internasional yang ada kaitannya dengan negara-negara Asia Afrika.
Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Dahlia Dewi menyampaikan, MKAA dan Gedung Merdeka merupakan kompleks bersejarah yang semestinya dilestarikan untuk kepentingan edukasi sejarah serta pelayanan publik. Ketika kompleks yang diniatkan bernuansa sejarah yang jadi destinasi edukasi dan wisata digunakan untuk kepentingan politik, tidak peduli partainya apa, akan ada fungsi yang berbeda dan berdampak kepada masyarakat