Perkembangan Gerakan Politik Islam; Masa Nabi, al-Khulafa ar-
Rasyidun dan Akar-akar
kemunculan Golongan (Partai) Politik dalam Islam
DOSEN PENGAMPU:
Dr. M KHOLIDUL ADIB, S.H.I., M.S.I.
Tatanan Politik dalam Islam
Islam secara spesifik tidak menganjurkan pemeluknya untuk membentuk negara, tetapi Islam mengajarkan bagaimana
membentuk masyarakat (civil society atau ummah) dalam merumuskan tatanan
masyarakat yang ideal dan beradab.
Bentuk pemerintahan dan sistem
politik Islam merupakan konsekuensi sekunder dari civil society atau ummah.
Kebanyakan pemikir politik Islam mengacu kehidupan civil society atau ummah yang kemudian diidentifikasi sebagai kehidupan bernegara dalam Islam secara otentik
dengan menelusuri masa-masa awal Islam ketika Nabi Muhammad SAW berhasil
membentuk masyarakat Madinah sebagai
negara kota (city state).
Nabi dan Piagam Madinah
Nabi Muhammad SAW di Madinah membangun kesepakatan dengan penduduk Madinah yang plural/heterogen terdiri atas umat Islam, bangsa Yahudi dan penduduk Arab non-muslim, dikenal dengan sebutan al-Mitsaq al-Madinah (Piagam
Madinah) ada 47 poin.
Inti Piagam Madinah bahwa seluruh penduduk Madinah hidup rukun, damai, saling menghormati, saling melindungi dari
serangan pihak luar. Jika ada masalah maka Nabi SAW sebagai penengah dan juru damai.
Terwujud tatanan masyarakat berdasarkan konsep “ummah”
(bahasa yang dipakai dalam Piagam Madinah) yang bukan dibatasi oleh batas-batas ras, suku dan agama yang
terbentang hingga batas yang dapat dicapai oleh akidahnya.
Karakter negara Islam ini memungkinkan untuk menjadi
negara dunia yang mencakup berbagai ras, suku dan bangsa.
Dalam perkembangannya Islam di Madinah menjadi
mayoritas. Orang2 Yahudi yang hianati Piagam Madinah pada
hengkang.
Kepemimpinan Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW mempraktekan musyawarah.
Musyawarah atau as-syura (consultation) menjadi anjuran Islam sebagaimana dalam surat Ali Imron [3] ayat 159:
“...Dan musyawarahkanlah kamu dengan mereka dalam permasalahan dunia” dan surat al-Syura [42] ayat 38:
“Hendaklah urusan mereka tentang permasalahan dunia diputuskan dengan bermusyawarah di antara mereka”.
Sebagai pemimpin ummah, Nabi Muhammad SAW
mempunyai kemampuan manajerial/leadhership yang
mampu mengelola potensi yang ada di kalangan sahabat, baik dalam angkatan perang, intelijen, administrasi hingga logistik.
Sebagai pemimpin ummah, Nabi Muhammad SAW tidak
menggunakan gelar raja atau gelar apapun karena memang
tidak menginginkan kepemimpinan kerajaan, kepemilikan
harta benda, atau kegiatan perdagangan, karena apa yang
Nabi Muhammad SAW harapkan adalah manusia bersedia
menerima Islam, meningkatkan keimanan bagi mereka yang
menerimanya dan memberi jaminan aman bagi pemeluknya.
Nabi; Pemimpin Agama dan Politik
Dalam tatanan “Ummah” di Madinah pemimpinnya disebut
“imam”, kalau “khilafah” pemimpinnya disebut “khalifah”
bukan malik (raja).
Kepemimpinan Nabi SAW di Madinah walau tidak
menggunakan simbol gelar penguasa (raja, malik) namun telah menerapkan fungsi Khalifah dan Imam yang menjadi representasi pembicaraan otoritas dan kekuasaan politik dalam Islam. Dua istilah tersebut bersifat interchangable namun dalam pemahaman selanjutnya terjadi perbedaan fungsional.
Khalifah lebih merepresentasikan kepemimpinan
Muhammad SAW dalam kapasitasnya sebagai pemimpin umat yang bersifat temporal, sedangkan Imam lebih
merepresentasikan kepemimpinan Muhammad SAW dalam kapasitasnya sebagai kepala agama.
Ketika Muhammad SAW masih hidup, dua fungsi
kepemimpinan tersebut melekat pada diri Muhammad SAW yang secara teoretis mengandung orientasi pemisahan
Islam dari politik atau agama dari kekuasaan. Walau
demikian diskursus kepemimpinan dan politik dalam Islam
memunculkan banyak tafsir yan bersifat ijtihadi.
Siyasah Syar’iyyah pada Masa Al-Khulafa ar-
Rosyidun
Struktur politik kekuasaan yang terbentuk pada masa Nabi Muhammad SAW kemudian diperluas oleh para khalifah yang awal (Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) dan memberikan landasan organisasional bagi sebuah imperium dunia.
Islam benar-benar menjadi kekuatan baru yang mengancam geo-politik dunia yang sebelumnya lebih didominasi kekuatan Romawi dan Persia.
Pada masa ini wilayah taklukkan Islam semakin meluas hingga ke Mesir,
Palestina, Persia/Irak-Iran. Dari Mesir Islam masuk ke Afrika Utara hingga kelak membuka pintu masuk ke Spanyol (Andalusia). Dari Persia Islam bisa masuk ke Asia Tengah (Afghanistan, hingga Rusia) dan ke Turki di Asia Kecil hingga kelak membuka pintu menguasai Kontstantinopel (Romawi Timur, skrg Istanbul Turki).
Pada masa al-Khulafa ar-Rasyidun pula Islam mulai masuk ke Asia Tenggara.
Dalam perdagangan ke Cina, umat Islam era Khalifah Usman bin Affan pernah singgah di Barus Sumatera Barat.
Mekanisme Pengangkatan Khalifah pada Era Al-
Khulafa ar-Rosyidun
Pengangkatan khalifah pasca Rasulullah SAW yang dikenal sebagai al-
Khulafa ar-Rasyidun berjumlah 4 khalifah antara satu khalifah dengankhalifah yang lain berbeda-beda cara, yaitu:
Pemilihan melalui musyawarah perwakilan (demokrasi keterwakilan) yang berhasil memilih Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq;
Pemilihan melalui penunjukan langsung oleh khalifah sebelumnya yang berhasil memilih Khalifah Umar Ibn Al-Khattthab;
Pemilihan melalui majlis ahlu al-hal wal-aqdi (tim formatur AHWA berjumlah 6 orang yaitu Ali, Ustman, Zubair, Thalhah, Saad bin Abi Waqqash, Abd Rahman bin Auf) yang berhasil memilih Khalifah Utsman Ibn Affan; dan
Pemilihan melalui pembaitan atau ikrar seperti pada saat terpilihnya Khalifah Ali Ibn Abi Thalib yang dibaiat Pamannya, Abbas bin Abdul Mutholib, yang didukung para pendukungnya, walau sebagian lagi belum membaiatnya.
Oleh karena itu, mekanisme memilih pemimpin (rekrutmen politik) dalam Islam tidak ditentukan bentuknya sehingga bersifat ijtihadi, sesuai
dengan kondisinya.
Akar-akar Munculnya Partai Politik dalam Islam
Akar-akar munculnya Partai Politik dalam sejarah Islam tidak lepas dari dampak tahkim antara Khalifah Ali bin Abi Tholib versus Muawiyah bin Abu Shofwan yang didukung Amr bin Ash di Daumatu Jandal pasca Perang Shiffin,
menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam yaitu Syi’ah, Khawarij dan kubu Muawiyah.
Perpecahan politik itu berdampak ke pemahaman agama (teologi dan fiqh). Selain itu juga memunculkan kelompok lain di bidang teologi seperti Murjiah, Jabariyah, Qodariyah, Muktazilah dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Akar-akar
ideologi partai politik dalam Islam diisi oleh perbedaan
pandangan tentang kepemimpinan umat Islam menurut
kelompok aliran tersebut.
Ideologi Politik Syi’ah
Aliran Syi’ah berkembang dari gejolak politik antara para Sahabat Nabi dan ahlu Bait mengenai jabatan Khalifah setelah pasca wafatnya Rasulullah SAW yang telah dikobarkan oleh Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang mengaku Islam). Di
antara 2 propoganda tersebut adalah (1) Mengangkat teologi tashayyu’ (mencintai ahlu al-bait berlebihan), (2). Pendiskualifikasian jumlah besar sahabat Nabi di
pengikut keturunannya.
Adapun pandangan-pandangan mereka yang khas ialah:
Imamah merupakan salah satu rukun diantara rukun-rukun agama. Adalah kewajiban Nabi SAW untuk menunjuk dan menetapkan seorang imam dengan ketetapan yang jelas sebagai ganti membiarkan sebagai objek pemilihan oleh umat.
Bahwasanya Ali bin Abi Thalib adalah imam yang telah ditetapkan oleh Nabi SAW.
Seorang imam harus seorang ma’shum, yakni seorang yang suci, terjaga dan terpelihara dari perbuatan dosa besar dan kecil.
Kelompok-kelompok Syi’ah bersepakat bahwa imamah adalah hak milik anak cucu Ali saja. Para iman yang diyakini Syi’ah ada 12 Imam, yaitu: (1) Ali bin abi Thalib, (2) Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Abu Muhammad Ali bin Husein (Zainal Abidin), (5) Abu Ja’far Muhammad bin Ali (al-Baqir), (6) Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad (as-Shadiq), (7) Abu Ibrahim Musa bin Muhammad (al- Kaadim), (8) Abu Husein Ali bin Musa (ar-Ridaa), (9) Abu Ja’far Muhammad bin Ali (al-Jawad), (10) Abu Hasan Ali bin Muhammad (al-Hadi), (11) Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-Asykari), (12) Abu al-Qosim Muhammad bin Hasan (al-Mahdi).
Ideologi Politik Khawarij
Khawarij berasal dari kata Kharaja berarti keluar, karena golongan ini telah keluar dari kelompok Ali bin bAbi Thalib karena kecewa dengan hasil
perundingan damai Daumatul Jandal pasca Perang Shiffin, melawan kubu
Muawiyah. Mereka juga menamakan dirinya “Haruriyyah”. Istilah ini berasal dari kata “Harura”, yaitu suatu nama tempat dekat Kufah. Di Harura ini merupakan tempat penyesalan mereka, karena Ali mau berdamai dengan Mu’awiyah.
Intisari pandangan-pandangan politik mereka adalah:
Mereka mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Adapun Utsman, menurut pendapat mereka telah menyimpang pada akhir masa khilafahnya dari keadilan dan kebenaran, karena itu ia selayaknya dibunuh atau dimakzulkan. Dan bahwasannya Sayyidina Ali juga telah melakukan dosa besar dengan mentahkimkan selain Allah dalam hal berdamai dengan Muawiyah.
Dosa, dalam pandangan mereka, sama dengan kekufuran. Mereka mengkafirkan setiap pelaku dosa besar apabila ia tidak bertobat.
Khilafah tidak sah kecuali dengan adanya pemilihan bebas antara kaum muslimin dan tidak dengan cara apapun selain itu.
Mereka sama sekali tidak menyetujui pendapat yang menyatakan bahwa seorang khalifah haruslah dari suku Quraisy. Mereka mengatakan bahwa setiap orang laki-laki yang saleh, dipilih oleh kaum muslimin, dapat menjadi seorang khalifah yang sah bagi mereka, terlepas dari kenyataan apakah dia seorang dari suku Quraisy atau bukan.
Ketaatan kepada khalifah adalah sesuatu yang wajib hukumnya selama ia masih berada di jalan keadilan dan kebaikan.
Ideologi Politik Mu’tazilah
Mu’tazilah lahir pada akhir masa kekuasaan Bani Umayyah, ketika Hasan Basri, ditanya untuk memberikan pendapat tentang suatu masalah yang menjadi pertentangan antara Khawarij dan Mur’jiah, mengenai dosa besar yang dilakukan oleh seorang mukmin.
Murid Hasan Basri asal Persia, Wasil Ibn Atha al-Gazal, menjawab bahwa orang yang semacam ini tidak termasuk orang kafir, tetapi akan berada di derajat antara keduanya (manzilah baina al-manzilatain). Wasil menolak pendapat Hasan Basri bahwa orang tersebut adalah seorang munafik. Karena ketidaksetujuannya dengan Hasan Basri, ia kemudian menghindarkan (diri) di saah satu ujung masjid dan mulai menerangkan tentang pendapatnya kepada kelompok teman-temannya yang berkumpul di
sekelilingnya. Ketika mendengar tentang hal ini Hasan Basri berkata, “Wasil sudah melarikan diri dari kita (I’tazala ‘anna).” Sejak saat itu, pengikut-pengikut Wasil dinamakan Mu’tazilah atau separatis.
Adapun intisari pandangan-pandangan politis mereka ialah:
Menunjuk dan menetapkan seorang imam (menegakkan suatu negara) adalah wajib menurut syari’at. Tapi ada sebagian dari mereka menganggap bahwa secara mutlak tidak harus ada seorang imam, sehingga apabila umat sendiri dapat menegakkan dasar-dasar keadilan, maka penunjukan seorang imam adalah perbuatan yang sia- sia dan tidak perlu.
Pemilihan umum diserahkan kepada umat, dan imamah tidak sah kecuali dengan pemilihan umat.
Umat dapat memilih seseorang dari kalangan kaum muslimin yang dianggap paling baik dan paling memiliki keahlian tanpa terikat dengan persyaratan apakah ia
seorang Quraisy atau bukan, atau apakah ia seorang Arab atau seorang Ajam.
Tidak dibolehkan bershalat di belakang seorang imam yang fajir (yang melakukan dosa keji terutama zina)
Amr bil-ma’ruf dan nahi ‘anil munkar termasuk diantara prinsip-prinsip asasi mereka juga.
Ideologi Politik Ahlussunnah Wal Jama’ah
Secara teologis Ahl al-Sunnah wal Jama’ah berkembang sebagai kritik atas teologi Mu’taziah, setelah Abu Hasan al-Asyari berbeda dengan pandangan gurunya yang Mu’taziah bernama Ali Juba’i mengenai sifat-sifat Alloh.
Fondasi pemikiran politik Ahl al-Sunnah wal Jama’ah dibentuk selama periode akhir pemerintah Umayyah hingga periode awal Abbasiyyah. Teori politik
Sunni atau doktrin kekhalifahannya berkaitan dengan legitimasi Abbasiyyah sebagai pemimpin umat Islam.
Pandangan Ahlisunah mengenai khalifah dikembangkan oleh Abu Hasan Ali Al- Mawardi, menurutnya lembaga negara dan pemerintah diadakan sebagai
fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia (Nasbul Imam Wajibun Li Riasati Din Wa Siyasati Dunya).
Menurut Al-Mawardi kepemimpinan negara adalah wajib kifayah. Jika ada orang yang menjalankannya dari kalangan orang yang berkompeten maka kewajiban itu gugur atas orang lain, dan jika tidak ada yang menjabatnya maka kewajiban ini dibebankan kepada dua kelompok manusia, yaitu orang- orang yang mempunyai wewenang memilih kepala negara dan orang-orang yang mempunyai kompetensi untuk memimpin negara sehingga mereka ditunjuk dari mereka untuk memangku jabatan.
Untuk menjadi imam, seseorang tidak perlu terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan, yang terpenting ia memiliki pandangan yang tegas
tentang perang dan mampu menengahi perselisihan. Tidak ada prosedur baku untuk memecat khalifah.
Cara mengangat khalifah, bisa melalui penunjukan khalifah sebelumnya dan pemilihan oleh Ahlu Hal wal Aqdi (Ahli mengurai dan menyimpul) disertai perjanjian (baiat).
Penutup dan Catatan Peralihan
Demikian paparan singkat mengenai sejarah perkembangan siyasah syar’iyyah dalam abad klasik dan pertengahan. Secara normatif akan didalami dalam materi Siyasah Dusturiyah, Siyasah Dauliyah, Siyasah Maliyah, Siyasah Idariyah, Siyasah Qodoiyah.
Pada abad modern, seiring dengan berkembangnya ideologi nation state dan dimulainya tatanan dunia baru setelah Kesultanan Turki Ustmani
runtuh tahun 1924, terjadilah perubahan-perubahan mendasar dalam tata kenegaraan. Diskursus ini semakin hangat seiring dengan kuatnya penetrasi Barat di kalangan dunia Islam. Di dalam dunia Islam terjadi konflik antara mereka yang hendak mempertahankan tatanan lama
versus mereka yang berusaha menerapkan tatanan baru, antarakelompok Islamisme versus sekularisme, khilafah vs nasionalisme, negara Islam vs negara sekular, dll. Di Afghanistan, Irak dan Syuria bahkan terjadi perang saudara yang berkepanjangan.
Isu-isu politik di era modern pun semakin ramai berkelindan dengan isu hubungan antara negara dan rakyat, antara sipil dan militer, isu
kebebasan, HAM, Demokrasi, Gender, dan kelompok minoritas, dll. Di
situlah kita harus bisa mencari solusi atau pemecahan agar Islam bisa
tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Lebih jelasnya kita bahas di
akhir kuliah kita.