• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET SEJARAH POLITIK PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POTRET SEJARAH POLITIK PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

POTRET SEJARAH POLITIK

PENDIDIKAN ISLAM

Oleh

Fridiyanto

A. PENDAHULUAN

Politik dan pendidikan memiliki hubungan erat dalam sejarah Islam. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya didirikan madrasah di Timur Tengah yang disponsori oleh penguasa politik. Contoh paling terkenal adalah Madrasah Nidzamiyah1 di Baghdad yang didirikan oleh Wazir Dinasti Saljuk, Nizam al-Mulk sekitar tahun 1064. Di Madrasah Nidzamiyah ini Al-Ghazali pernah menjadi guru besar.2 Pada masa Nizam al-Mulk madrasah dibangun berdasarkan wakaf dengan membiayai mudarris, imam, dan mahasiswa yang menerima beasiswa. Hal ini dilakukan untuk kepentingan memperkenalkan ideologi Asy’ariah yang dianut pemerintah, yang masa itu relatif baru.3 Menurut Stanton bahwa wakaf untuk Nidzhamiyah harus untuk kepentingan penganut mazhab Syafi’i.

1 Madrasah Nizhamiyah terletak di Baghdad di dekat sungai Diljah di tengah-tengah Pasar

Salasah. Mulai dibangun pada tahun 457 H/1065M dan selesai pada tahun 459 H. Madrasah Nizhamiyah tetap hidup sampai pertengahan abad ke-14 Masehi. Menurut Mahmud Yunus dalam bukunnya Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1992),hlm.138, motivasi pendirian Madrasah Nizhamiyah adalah untuk mengambil simpati rakyat, mengharap pahala dan ampunan Allah, memelihara kehidupan anak-anak dikemudian hari, dan memperkuat aliran keagamaan (teologi As’ariyah) bagi sultan dan pembesar. Sebagaimana yang ditulis Ahmad Qurtubi, Pertumbuhan Madrasah pada Periode Awal Sebelum Lahirnya Madrasah Nizhamiyah

dalam Abuddin Nata (Ed.), Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Rajawali Pers,2004), hlm.61-63, bahwa Madrasah Nizhamiyah didirikan juga sebagai persiapan melawan ideologi Syi’ah yang pada masa itu dikembangkan di Al-Azhar oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir. Menurut Qurtubi bahwa pembangunan Madrasah Nizhamiyah sering dihubungkan dengan kebijakan birokratis formal dan kebijakan politik pemerintah atau penguasa Dinasti Saljuk.

2 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,hlm.61. 3 Karena pengaruh Al-Ghazali melalui tulisan dan ceramahnya, maka paham Asy’ariyah dengan

(2)

Para penguasa politik pada masa klasik Islam sangat berkepentingan terhadap lembaga-lembaga pendidikan, karena melalui madrasah-madrasah yang didirikan dapat menanamkan paham-paham yang dianut oleh pemerintah.

B. PEMBAHASAN

1. Sejarah Politik Pendidikan dalam Islam

Menurut Harun Nasution terdapat lima periodisasi pendidikan Islam: 1) Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M); 2) Masa hidupnya Khulafaur Rasyidin (632-661 M); 3) Masa hidupnya Daulah Umayyah di Damsyik (661-750 M); 4) Masa hidupnya Daulah Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M); 5) Jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (tahun 1250 M sampai dengan sekarang).4 Mayoritas peneliti Barat bahwa Islam berkontribusi sebagai jembatan antara capaian-capaian Yunani dengan Eropa pada abad menengah.5 Namun kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada periode-periode klasik Islam sangat tergantung atas sikap politik dan kebijakan yang dianut oleh pemimpin masa itu. Dari sekian banyak penguasa politik dan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pernah diambil, dalam pembahasan ini hanya akan dibahas beberapa sistem pemerintahan politik Islam dan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pernah diambil dari setiap fase.

a. Politik Pendidikan Masa Nabi Muhammad Saw

Pada masa Nabi Muhammad Saw pendidikan diselenggarakan rumah Arqam ibn Arqam, kuttab.6 Penulis lain mengatakan masa Nabi pendidikan

4 Harun Nasution, Pembaharuan terhadap Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan

Bintang,1975), hlm. 11.

5 Kontribusi Islam terhadap ilmu ini dibahas oleh H.J.J. Winter, Eastern Science (London: John

Murray, 1952); Donald Campbell, Arabic Medicine (Londone: Kegan; Trench, 1926); Giorgio de Santilla dalam Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (New York: New American Library, 1968).

6 Rumah Arqam ibn Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum Muslim bersama

(3)

diselenggarakan di mesjid7, As-Shuffah8 Model pembelajaran Nabi ini menyebar

ke luar Medinah. Pada masa Nabi Muhammad Saw salah satu kebijakan yang diambil berkenaan dengan pendidikan adalah ketika adanya kebijakan membebaskan tawanan, setelah tawanan tersebut memberikan pengajaran kepada beberapa kaum muslim. Kebijakan yang diambil Nabi Muhammad ini mencerminkan bahwa majunya dunia pendidikan ketika seorang pemimpin memiliki konsep tentang pentingnya pendidikan dan mengimplementasikannya dalam kebijakan dan program untuk pendidikan masyarakat.

b. Politik Pendidikan Masa Khulafaur Rasyidin

Pada masa Khulafaur Rasyidin, as-shuffah sangat diperhatikan, misalnya Umar bin Khatab yang mengangkat para sahabat Nabi yang memiliki ilmu pengetahuan luas menjadi Panglima dan Gubernur.9 Hal ini berdampak pada pembiayaan yang disediakan oleh pemerintah. Kebijakan khalifah ini digambarkan oleh Thomas W.Arnold “..demikianlah dalam hubungan ini, Khalifah Umar mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk setiap negeri. Betapa besarnya perhatian khalifah dalam pendidikan agama ini dapat diketahui dari fakta

kemudian ditingkatkan menjadi pengajaran Al-Qur’an dan pengetahuan agama tingkat dasar. Namun Abdullah Fajar dalam “Peradaban dan Pendidikan Islam (Jakarta: Rajawali Pers,1996),hlm.16, mengatakan bahwa maktab adalah istilah untuk zaman klasik, sedangkan

kuttab adalah istilah untuk zaman modern. Philip K Hitti mengatakan bahwa kurikulum kuttab

berorientasi pengajaran Al-Qur’an dan juga terdapat pelajaran menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa Arab, Sejarah Nabi dan hadits. Sementara Charles Michael Stanton membagi kuttab ke dalam dua jenis: Kuttab sekuler, dan Kuttab dan Kuttab Agama. Kuttab sekuler mengajarkan sastra, menulis, dan aritmatika dan guru yang mengajar mendapat imbalan walau sederhana. Sedangkan Kuttab Agama memberikan pengajaran agama dan gurunya tidak diberikan imbalan. Kedua jenis guru di dua kuttab tersebut mendapat status sosial yang tinggi namun tetap dituntut untuk hidup sedrehana.

7 Menurut Ahmad Shalabi dalam “History of Moslem Education” (Beirut,1954), hlm.16, sejak

zaman Nabi Saw, mesjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum Muslimin. Namun mesjid juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan terutama penyampaian ajaran-ajaran Islam.

8 Mafthuhah,”Pendanaan Pendidikan Islam Masa Klasik” menjelaskan bahwa As-shuffah ketika

Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, Nabi memerintahkan para sahabat untuk membangun mesjid yang salah satu bagian dari mesjid tersebut digunakan untuk mengajar para sahabat sekaligus pemondokan bagi mereka yang sangat miskin. Ruangan ini disebut As-shuffah.dalam Abuddin Natta, Op.cit. Sejarah...,hlm.218.

(4)

bahwa di Kota Kuffah, misalnya orang yang dipercaya menjalankan tugas itu adalah bendaharawan kota itu sendiri.”10

c. Politik Pendidikan Masa Daulah Umayyah

Pada masa Dinasti Umayyah yang kurang lebih berkuasa selama 91 tahun, cukup banyak perkembangan dalam pendidikan dan teknologi. Sistem pendidikan yang berlangsung masih melanjutkan sebagaimana masa Rasulullah dan khlafaur rasyidin, yaitu kuttab yang pusat kegiatanya di mesjid.11 Pemerintah Dinasti Umayyah mendorong kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan penyediaan sarana dan prasarana agar para ilmuwan, seniman dapat melakukan aktifitas dan kaderisasi ilmu.12 Menurut Musyrifah Sunanto pada masa Dinasti Umayyah ilmu yang berkembang adalah:

1. Ilmu agama, seperti: Al-Qur’an, Hadis, dan Fikih: Kodifikasi hadis terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Azis (99-10 H) hingga ilmu hadis berkembang pesat.

2. Ilmu Sejarah dan Geografi, masa ini berkembang ilmu yang membahas perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Salah satu ulama yang terkenal dalam bidang ini adalah Ubaid ibn Syariyah Al-Jurhumi.

3. Ilmu pengetahuan bahasa, masa ini berkembang nahu dan saraf.

4. Filsafat, Ilmu Mantik, Kimia, Astronomi, Ilmu Hitung, Kedokteran juga mengalami perkembangan pada masa ini.13

d. Politik Pendidikan Masa Abbasiyah

Masa Abbasiyah tercatat sebagai kekhalifahan yang mendukung paham Mu’tazilah. Dengan ditterimanya rasionalisme sebagai salah satu menuju kebenaran menjadi dorongan berkembangnya ilmu pengetahuan dan mulai

10 Sebagaimana dikutip Soekarno dan Ahmad Supardi,Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam

(Bandung: Angkasa,1985),hlm.51 dalam Abuddin Natta,Op.cit, Sejarah...,hlm.219.

11 Ali Nupiah, Pola dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Periode Abbasiyah, dalam

Samsul Rizal, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.53.

12Ibid, hlm.59.

13 Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Jakarta:

(5)

beridirinya lembaga-lembaga pendidikan yang mendapat perhatian pemerintah.14 Pada masa khalifah-khalifah Abbasiyah, khususnya al-Manshur, al-Rasyid, dan al-Ma’mun merupakan khalifah yang sangat gandrung akan ilmu, sehingga pada masa ini penterjemahan buku berlangsung dari tahun 750 dan 850.15

Pada masa Dinasti Abbasiyah pembangunan Mesjid Jami’ banyak bermunculan dengan dibiayai oleh pemerintah sepenuhnya. Dalam Mesjid Jami’16 ini terdapat pengajian yang dipimpin oleh seorang syaikh yang diangkat oleh khalifah untuk mengajarkan bidang kajian tertentu.17 Pada masa Abbasiyah sebelum pengrusakan yang dilakukan oleh bangsa Mongol, di Baghdad terdapat 100 toko buku yang memberi andil terhadap perkembangan intelektual.18 Pemerintahan Abbasiyah memandang bahwa ilmu pengetahuan sebagai hal yang sangat penting dan mulia. Maka para khalifah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.19 Maka kebebasan berpikir dianggap sebagai hak asasi manusia sepenuhnya.20 Sehingga pada masa Abbasiyah, dunia Islam melahirkan banyak model ilmuwan multi-disipliner.21

1. Khalifah al-Ma’mun

Puncak kejayaan tertinggi penterjemahan buku terjadi pada masa Khalifah al-Ma’mun.22 Begitu besarnya perhatian al-Ma’mun terhadap penterjemah buku,

14 Charles Michael Stanton,op.cit,hlm.125. 15Ibid,hlm.81.

16 Maafthuhah menjelaskan bahwa Mesjid Jami’ bahwa periode klasik terdapat dua tipe mesjid:

mesjid jami’ dan mesjid lokal. Mesjid Jami’ umumnya adalah bangunan besar yang dihiasi dengan indah dengan menggunakan biaya negara dan difungsikan sebagai tempat informasi masalah kenegaraan dan masalah keagamaan. Sedangkan MesjidLokal dibangun untuk kebutuhan kelompok masyarakat tertentu, hlm. 219.

17Ibid, hlm.219.

18 Stanton mencatat masa Abbasiyah toko-toko buku berkembang di wilayah Timur Tengah,

Afrika Utara, Baghdad, dan Semenanjung Iberia, dan kota-kota seperti: Sharaz, Mosul, Basrah, Kairo, Kordova, Fez, dan Tunis. Toko-toko buku ini juga berperan sebagai lingkaran studi bagi para peminat ilmu.

19 Ali Nupiah, Op.cit., hlm.68. 20Ibid,hlm.68.

21 Charles Michel Stanton, op.cit.,hlm. 89. Stanton menjelaskan bahwa Muslim periode klasik

mengembangkan konsep keilmuan berdasarkan teosofi Al-Qur’an dan Hadis. Sehingga perkembangan ilmu pada masa itu tidaklah dikotomis dengan adanya ilmu agama, filsafat, matematika, atau sains. Dengan dasar Al-Qur’an dan Hadis membuat ilmu pengetahuan merupakan kegiatan kultural dan intelektual.

(6)

hingga ia tidak berkeberatan membayar Hunayn23 dengan emas seberat lembaran-lembaran yang ia terjemahkan ke bahasa Arab.24 Khalifah al-Ma’mun merupakan seorang penganut Mu’tazilah yang sangat gandrung belajar filsafat, sementara pada saat itu di dunia Barat belum mengenal filsafat sebagaimana kata Philip K Hitti.

“Semua ini berlangsung pada saat Eropa hampir tidak mengenal sama sekali pemikiran dan ilmu-ilmu Yunani. Sebab, sementara al-Rasyid dan al-Ma’mun sedang mempelajari filsafat Yunani dan Persia, orang-orang yang sezaman dengan mereka, Charlemagne dan raja-rajanya dilaporkan sedang mencoba-coba belajar meuliskan nama mereka.”25

Menurut Charles Michael Stanton sejak awal periode penterjemahan yang dilakukan al-Ma’mun membuat pendidikan tinggi dalam Islam mengembangkan kurikulum yang beraneka ragam, mencakup seluruh area pengetahuan yang dikenal di dunia Helenistik.26

Pada masa Ma’mun kecerdasan Kindi menarik perhatian Khalifah al-Ma’mun, sehingga al-Kindi menjadi salah seorang yang bekerja dengan sekelompok ilmuwan dan penerjemah yang bekerja di Bayt al-Hikmah.27 Di Bayt

al-Hikmah al-Kindi mendirikan sekolah berbahasa Arab yang mengajarkan filsafat peripatetik yang kemudian dikembangkan oleh al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.28 Di Bayt al-Hikmah jugalah al-Khawarazmi mengembangkan filsafat, teologi, matematika dan penelitiandi laboratorium perbintangan.29

Al-23 Ishaq Ibnu Hunayn (809-873) adalah seorang penganut Nestoris yang fasih bahasa Yunani dan

Syria. Hunay diberikan tempat khusus oleh al-Ma’mun untuk memimpin penterjemahan buku-buku. Di bawah kepemimpinan Hunayn berkembang sistem penterjemahan yang menggunakan pendekatan kontekstual yang lebih mudah dipahami daripada sebelumnya yang literal kata perkata.

24Ibid, hlm. 83.

25 Phillip K.Hitti, History of the Arabs (London: Macmillan, 1956), hlm.313. 26 Charles Michel Stanton, op.cit.,hlm. 84.

27 Menurut Stanton, Bait al-Hikmah awalnya merupakan sebuah lembaga pendidikan pribadi

pertama, yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun. Perkembangannya Bait al-Hikmah menjadi tempat penterjemahan dan penyebaran teologi dan filsafat Mu’tazilah. Lembaga ini mengundang para ilmuwan untuk hadir mempelajari berbagai buku dan berdebat dalam bidang agama, filsafat, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Bait al-Hikmah sangat berkontribusi terhadap perluasan kosa kata bahasa Arab dan memunculkan konsep-konsep ilmiah. Namun pada perkembangannya Bayt al-Hikmah mengalami penurunan ketika adanya pemberangusan paham Mu’tazilah yang dilakukan oleh khalifah-khalifah setelah al-Mutawakkil. Sampai penghancuran yang dilakukan oleh bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu pada tahun 1258.

(7)

Ma’mun sangat berambisi terhadap berbagai jenis ilmu, sehingga kebijakannya sangat menguntungkan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Politik Pendidikan Harun al-Rasyid

Harun al-Rasyid berada pada Dinasti Abbasiyah pada periode awal (750-847).30 Khalifah Al-Rasyid sendiri merupakan ulama dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.31 Masa Khalifah Harun al-Rasyid adalah masa yang paling produktif dalam pemikiran dan karya intelektual, yang sebagian besar karya-karya itu tetap berpengaruh kepada seluruh kaum Muslimin sampai saat ini. Oleh banyak ahli, Harun al-Rasyid merupakan tonggak sejarah perkembangan paham Sunni.32 Harun al-Rasyid sangat peduli dengan dunia pendidikan, hal ini dapat dilihat dalam ungkapannya ketika berbicara dengan guru yang mendidik anaknya, al-Amin, sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Syalaby.

“Aku serahkan kepadamu anakku, buah sulbiku; aku memberimu kekuasaan atasnya dan membuatnya patuh kepadamu. Karenanya kamu harus membuktikan diri sebagai orang yang layak menerima kedudukan ini. Ajarilah dia Al-Qur’an, sejarah, puisi, hadis, dan penghargaan terhadap kefasihan bahasa. Cegah dia dari tertawa, kecuali pada kesempatan yang sesuai. Biasakan dia untuk menghormati para pemuka Bani Hasyim dan untuk memberikan tempat yang sesuai kepada pemimpin-pemimpin militer bila mereka menghadiri majlisnya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa pelajaran yang bermanfaat baginya, tetapi jangan buat ia sedih. Jangan terlalu baik padanya, sebab dengan begitu ia akan menjadi malas. Didiklah ia dengan lemah lembut, tetapi kalau itu tidak cukup, engkau boleh memperlakukannya dengan keras.”33

30 Masa Dinasti Abbasiyah dibagi empat periode: 1. Periode Awal (750-847); 2. Periode Lanjutan

(847-945); 3. Periode Buwaihi (945-1055 ); 4. Periode Saljuk. Dalam Dewan Editor, Ensikilopedi Tematis Dunia Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve,tth), hlm. 83-85. Nurcholish Madjid dalam “Lagi, tentang Kaum Jama’ah”, Op.cit. Pintu-pintu., hlm. 229, menulis Khalifah Harus al-Rasyid menjadi Khalifah pada 167-192 Hijri (789-809 M).

31 Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh Al-Islam Jilid II (Mesir,1980) dalam Ali Nupiah, Op.cit.,hlm.70.

Selanjutnya Hasan Ibrahim Hasan sebagaimana dikutip Ali Nupiah bahwa kebiasaan Khalifah Rasyid ketika menjalankan ibadah haji akan ikut bersamanya 100.000 orang ulama. Pada masa Al-Rasyid lah muncul ulama terkenal diantaranya: Imam Malik bin Anas, Al-Laisy bin Saad (Ahli Fiqih dari Mesir), Abu Yusuf (Penulis Al-Kharraj), Imamm Sibaweih, dan Marwan bin Abi Habsyah.

32 Nurcholish Madjid dalam “Lagi, tentang Kaum Jama’ah”, Op.cit. Pintu-pintu., hlm. 229, 33 Harun al-Rasyid dalam Ahmad Syalaby, History of Muslim Education (Beirut: Dar al-Kashshaf,

(8)

Dari kutipan ucapan Harun al-Rasyid di atas dapat dilihat bagaimana bijaknya Harun al-Rasyid dalam memahami pendidikan dan ingin agar itu diterapkan oleh guru anaknya. Terdapat kompleksitas Harun al-Rasyid dalam mengoperasionalkan dasar-dasar pendidikan, apakah itu kurikulum, metode, dan cara mendidik yang baik. Jika dilihat dengan wacana pendidikan saat ini, bisa dikatakan bahwa konsep Harun al-Rasyid di atas merupakan sebuah konsep kebijakan pendidikan karakter, yang tidak hanya diterapkan bagi anakanya, tetapi pada lembaga pendidikan yang berkembang pada masa pemerintahannya.

Pada masa Harun al-Rasyid dikenal sebagai era keemasan perkembangan ilmu pengetahuan. Harun al-Rasyid memberikan gaji yang tinggi pada ulama dan ilmuwan, membangun gedung pendidikan, gencarnya penterjemahan dan penelitian, dan adanya lembaga pengembangan ilmu pengetahuan.34 Pada masa Harun al-Rasyid, lembaga pendidikan tidak lagi hanya kuttab dan masjid. Tetapi telah berkembang dalam bentuk salon-salon kesusastraan, ribat35, observatorium36,

Dar al-hikmah, Bait al-Hikmah, dan Dar al-Ilmi (Dar al-Kutub).37 Harun al-Rasyid dapat memahsyurkan pendidikan dibanding masa-masa sebelumnya. Hal ini dikarenakan perhatiannya yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan disertai kepemimpinan yang tangguh.38 Menurut Nurcholish Madjid suksesnya Khalifah Harul al-Rasyid dalam membangun peradaban Islam

34 Usman, Institusi Pendidikan Islam pada Masa Harun al-Rasyid. Suwito (ed), Sejarah Sosial

Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2005), hlm.99.

35 Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang beruzlah (mengasingkan diri) agar dapat

konsentrasi beribadah. Selain itu mereka juga beraktifitas keilmuandengan dipimpin oleh seorang Syeikh. Pada masa Dinasti Saljuk banyak madrasah dilengkapi dengan Ribath yang oleh kebijakan penguasa politik yaitu kembali kepada ortodok Sunni.

36 Menurut Stanton Kalifah Ma’mun mendirikan laboratorium perbintangan dan mengangkat

al-Khawarazmi untuk menjadi penelitinya. Setelah abad ke 10 banyak observatori didirikan untuk penjelajahan dunia angkasa lebih jauh. Hal ini dilakukan untuk menentukan hari yang paling menguntungkan dan merugikan untuk penyelenggaran kegiatan politik tertentu. Pada tahun 1023, Ratu al-Daulah di Hamdan Persia juga mendirikan obsevatorium untuk Ibnu Sina. Sedangkan pada pemerintahan Dinasti Saljuk di Baghdad pada tahun 1100 dibangun sebuah observatorium untuk Umar Khayam untuk menyusun penanggalan yang lebih tepat. Dalam Charles Michael Stanton,op.cit. ,hlm.172.

(9)

dikarenakan adanya semangat inklusivisme, yaitu semangat persatuan dan persaudaraan yang meliputi seluruh umat Islam.39

3. Dinamika Politik Pendidikan di Al-Azhar

Universitas Al-Azhar didirikan oleh Jendral Jauhar.40 Awalnya Universitas Al-Azhar merupakan sebuah mesjid yang oleh Khalifah Fatimiyah dijadikan tempat menyebarkan dakwah. Pada masa ini intervensi pemerintah sangat tinggi, seorang guru yang mengajar harus diangkat oleh khalifah.41 Pada era ini Al-Azhar merupakan tempat pengajaran Fiqih aliran Syi’ah.42 Al-Azhar juga merupakan tempat kaderisasi penyebar ideologi Syi’ah43

Pada masa berikutnya aliran Syi’ah yang dijadikan dasar pembelajaran di Al-Azhar dirubah oleh Shalahuddin al-Ayyubi karena Daulat Fatimiyah berhasil ditaklukkanyya pada tahun 567 H (1171 M).44 Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Shalahuddin terhadap Al-Azhar adalah:

1. Pembekuan kegiatan khutbah di al-Azhar selama hampir seratus tahun, yaitu sejak tahun 567 H (1171 M) sampai masa Sultan Mamluki al-Dzahir pada tahun 665 H (1266 M).

2. Melakukan renovasi pembangunan al-Azhar oleh Amir Edmir dan Sultan Berbes atau Sultan al-Dzohir Berbes.

3. Al-Azhar menjadi pusat studi Islam yang amat penting, terutama ketika Kairo menjadi kiblat bagi para ulama, fuqaha, dan mahasiswa.45

39 Nurcholish Madjid, Op.cit.,235.

40 Van Houve dalam “Ensiklopedi Islam” menyebut bahwa Al-Azhar berdiri tahun 359 H/970 M.

Mahmud Yunus dalam buku “Sejarah Pendidikan Islam” menulis tahun 358 H. Syahril dalam “Modernisasi Pendidikan Islam :Al-Azhar dan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia) dalam Abuddin Nata (Ed),Op.cit, Sejarah...,hlm.189, Universitas Al-Azhar didirikan Jendral Jauhar setelah pendirian Kota Kairo tahun 358 H/969 M.

41 Fauzan, Menimbang Sisi Positif Perlunya Pembaruan Pendidikan Islam dalam Suwito , Sejarah

Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2005), hlm.180

42Ibid, hlm.180-181.

43 Abuddin Nata.Op.cit. Sejarah..hlm.189. 44Ibid, hlm.181.

(10)

Pada masa Mamalik, kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap al-Azhar sangat kondusif. Al-Azhar banya menerima wakaf dari para Sultan dan umara untuk keberlanjutan keilmuan di al-Azhar.

Menurut Azyumardi Azra, kemasyhuran al-Azhar mulai menurun pada masa Dinasti Usmani (1517-1798 M). Hingga pada masa Muhammad Ali al-Azhar diintervensi oleh kekuasaan, sehingga independensi al-Azhar sebagai lembaga akademis lenyap.46

C. PENUTUP

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa maju mundurnya dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat tergantung pada sebuah rezim yang sedang berkuasa. Pemimpin politk memiliki kepentingan terhadap lembaga pendidikan yang berkembang dalam wilayah kekuasaannya. Olehkarena itu ketika seorang penguasa yang menyadari tentang betapa pentingnya pendidikan, maka pemimpin tersebut akan segera mengambil peran untuk mengelola sesuai kepentingan dan sesuai visi misi pemerintahannya.

46 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Dari tangki air jernih di loji rawatan air, air terawat dipam melalui sistem saluran yang panjang bagi mengimbangi takungan dengan ketinggian yang mencukupi untuk pengagihan

Lithos filling machine adalah suatu mesin yang digunakan untuk pengisian pelumas ke dalam lithos (botol kemasan plastik ) yang menggunakan

Bapak Faris Ramadhan selaku Manajer Radio Perkasa FM juga menjelaskan tentang kendala yang dihadapi dalam menerapkan strategi komunikasi pemasaran untuk menarik

Mindi 32.00 - Usulan Daerah Irigasi

Pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa. Dengan demikian membutuhkan berbagai macam cara dan metode untuk

Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukan bahwa pemberian ketiga jenis ekstrak pada umpan tidak ada perbedaan terhadap hasil tangkapan; tetapi pemberian ekstrak power bait dan

Hal ini dibuktikan dari tingkat depresi pada subjek 1 dan 2 pada saat baseline kedua lebih rendah daripada tingkat depresi pada saat baseline awal, sehingga membuktikan bahwa

Para karyawan koperasi sudah cukup mahir dalam mengoperasikan komput er, hal ini dapat di lihat dari hasil t abel 3 yang menunjukan 80,5% responden t elah