• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gina Zahra Novitri

N/A
N/A
Muh. Alief Aminullah

Academic year: 2025

Membagikan "Gina Zahra Novitri"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BEGADANG SEBAGAI BAD HABITS PADA REMAJA DALAM TEORI BEHAVIORAL IVAN PAVLOV

Gina Zahra Novitri – 1236000214

PENDAHULUAN

Begadang, sebuah kebiasaan yang telah mengakar sejak zaman dahulu, memperlihatkan perbedaan signifikan antara era sekarang dan masa lampau.

Perbedaannya tak hanya terletak pada kegiatan yang dilakukan tetapi juga pada pola makan yang berbeda. Pada masa lampau, masyarakat cenderung lebih aktif secara fisik dan mengonsumsi makanan yang lebih sehat yang mereka olah sendiri.

Namun, pergeseran zaman membawa perubahan drastis. Banyak orang sekarang cenderung kurang beraktivitas, disebabkan oleh berbagai alasan seperti kesibukan bekerja, pengaruh media sosial, dan kurangnya motivasi untuk berolahraga.

Selain itu, pola makan juga telah berubah secara signifikan. Masyarakat modern cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan cepat saji, yang jika dikonsumsi secara berlebihan, akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kesehatan tubuh dan persiapan yang diperlukan untuk mengurangi dampak buruk begadang tampaknya telah menurun.

Begadang adalah suatu tindakan atau tanggapan memilih untuk tidak tertidur dimalam hari, baik itu begadang yang dikarenakan rapat, diskusi, membahas hal-hal penting dikalangan mahasiswa maupun mengambil jatah tidur hanya untuk nongkrong, bermain handphone dan game belaka. Begadang seolah menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa, terlebih kebiasaan begadang bisa menggangu efektivitas proses akademik mahasiswa itu sendiri.

Teori behavioral Ivan Pavlov menekankan pada hubungan antara stimulus eksternal dan respon yang dihasilkan oleh individu. Begadang dapat dianggap sebagai respon terhadap berbagai stimulus negatif seperti tekanan pekerjaan, pengaruh sosial media, dan kurangnya motivasi untuk hidup sehat. Oleh karena itu, memahami bagaimana stimulus-stimulus ini mempengaruhi perilaku begadang dapat memberikan wawasan yang berharga untuk mengatasi kebiasaan buruk ini

(2)

PEMBAHASAN

Begadang sebagai Bad Habits

Begadang, sebuah kegiatan yang melibatkan terjaganya seseorang di luar jam tidur normal, bisa menjadi contoh konkret dari pembentukan kebiasaan berdasarkan teori yang diusulkan oleh Duhigg dan Siauw.

Pertama, mari kita terapkan konsep Duhigg tentang tiga elemen utama dalam pembentukan kebiasaan: tanda atau sinyal, rutinitas, dan penghargaan. Tanda atau sinyal begadang bisa saja berasal dari tekanan pekerjaan yang belum terselesaikan, kebiasaan menggunakan ponsel atau komputer di malam hari, atau bahkan sekadar keinginan untuk bersenang-senang tanpa batas waktu. Rutinitasnya mungkin termasuk menyelesaikan pekerjaan, menonton acara televisi atau film, atau berselancar di media sosial. Penghargaan yang diharapkan bisa berupa rasa lega karena tugas-tugas telah selesai, hiburan dari menonton atau membaca, atau bahkan hanya sensasi menyenangkan dari melakukan sesuatu yang dilarang.

Selanjutnya, kita bisa melihat bagaimana konsep Spiral Of Habits yang dijelaskan oleh Siauw terkait dengan pembentukan kebiasaan begadang.

Pembelajaran dari pengalaman begadang sebelumnya, baik itu hasil dari tekanan pekerjaan atau keinginan untuk bersenang-senang, didukung oleh komitmen untuk melanjutkan kebiasaan ini atau mungkin untuk mencoba mengubahnya. Praktik begadang, yang mungkin terjadi malam demi malam, dan pengulangan dari rutinitas ini, memperkuat kebiasaan begadang itu sendiri.

Begadang bukan hanya sekadar aktivitas yang dilakukan karena kebutuhan, tetapi juga sebuah kebiasaan yang terbentuk melalui sebuah proses. Meskipun menyadari dampak negatifnya, seperti kurangnya tidur dan penurunan kinerja kognitif, orang sering kali tetap melanjutkan kebiasaan ini karena telah menjadi bagian yang sulit diubah dari rutinitas sehari-hari mereka.

(3)

Teori Behavioral Ivan Pavlov

Teori Pavlov, yang juga dikenal sebagai pengondisian klasik, adalah salah satu konsep fundamental dalam psikologi yang mempelajari bagaimana hubungan antara stimulus dan respons dapat membentuk perilaku seseorang. Ivan Pavlov, seorang ilmuwan besar asal Rusia, merupakan tokoh utama di balik pengembangan teori ini.

Pavlov awalnya tertarik untuk mempelajari sistem pencernaan anjing, namun dalam eksperimennya, ia menemukan sebuah fenomena yang mengarah pada pengembangan teori pengondisian klasik. Setiap kali asistennya masuk ke ruangan, anjing yang sedang diamati oleh Pavlov mengeluarkan air liur, meskipun tidak ada makanan yang diberikan kepada anjing tersebut. Pavlov menyadari bahwa respons ini bukanlah hasil dari proses fisiologis semata, melainkan merupakan sebuah refleks yang terkondisi.

Dari sinilah, Pavlov melakukan serangkaian eksperimen dengan menggunakan stimulus netral, seperti bunyi lonceng, yang kemudian diikuti oleh pemberian makanan kepada anjing. Setelah beberapa kali pengulangan, anjing mulai mengeluarkan air liur ketika hanya mendengar bunyi lonceng, tanpa adanya makanan yang disajikan. Hal ini menunjukkan bahwa anjing telah mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan, sehingga menghasilkan respons yang sama.

Aplikasi dari teori Pavlov dalam konteks pembelajaran memiliki beberapa prinsip utama. Pertama, pengaruh lingkungan sangat penting dalam membentuk perilaku siswa. Kedua, proses pembelajaran harus memperhatikan bagian-bagian tertentu dan peranan reaksi terhadap stimulus. Ketiga, mekanisme terbentuknya hasil belajar harus diutamakan melalui prosedur stimulus-respons yang terkondisikan. Keempat, peran kemampuan yang sudah ada sebelumnya juga harus diperhatikan dalam pembelajaran. Kelima, pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan merupakan komponen penting dalam pembelajaran efektif. Hasil belajar yang diharapkan adalah munculnya perilaku yang diinginkan dari siswa sebagai respons terhadap stimulus pembelajaran yang diberikan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, pendidik dapat menciptakan lingkungan

(4)

pembelajaran yang kondusif untuk pengembangan potensi siswa secara optimal (Lestari, 2020).

Analisis Begadang Sebagai Bad Habits Pada Remaja Dalam Teori Behavioral Ivan Pavlov

Pavlov menunjukkan bahwa respons fisik, seperti pengeluaran air liur oleh anjing dalam eksperimennya, dapat diasosiasikan dengan stimulus yang sebelumnya netral, seperti bunyi lonceng. Dengan pengulangan stimulus bersamaan dengan respons yang diinginkan, hubungan antara keduanya semakin kuat, hingga akhirnya stimulus tersebut saja sudah cukup untuk memunculkan respons yang sama.

Analoginya dalam konteks begadang, stimulus seperti tekanan akademik yang tinggi, kebiasaan menggunakan ponsel di malam hari, atau adanya gangguan dalam pola tidur dapat menjadi pemicu untuk merespons dengan begadang.

Dalam pandangan Ivan Pavlov, begadang di kalangan remaja merupakan hasil dari interaksi kompleks antara stimulus eksternal dari lingkungan sekitar dan respons yang dipelajari oleh individu. Remaja yang terpapar secara konsisten pada berbagai stimulus, seperti tekanan akademik yang tinggi, gangguan pola tidur, atau kebiasaan menggunakan ponsel di malam hari, cenderung merespons dengan begadang sebagai bentuk respons yang telah dipelajari.

Proses pembentukan kebiasaan begadang ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui pengulangan stimulus yang sama dan respons yang dihasilkan. Setiap kali remaja terpapar pada stimulus begadang, respons tersebut menjadi semakin kuat dan terkondisikan. Begadang bukan hanya sekadar pilihan sadar, melainkan hasil dari proses pembelajaran yang sistematis dan berulang.

Lebih lanjut, proses pembiasaan ini akan diperkuat melalui pengulangan.

Begadang menjadi sebuah rutinitas yang sulit untuk diubah karena setiap kali stimulus yang sama muncul, respons begadang yang telah terkondisikan pun ikut terjadi. Dengan kata lain, begadang bukan hanya merupakan kebiasaan yang terbentuk secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang berlangsung secara berulang dan terus-menerus.

(5)

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis fenomena begadang dikalangan remaja menggunakan pandangan Ivan Pavlov, dapat disimpulkan bahwa begadang bukanlah semata-mata pilihan sadar, melainkan hasil dari proses pembentukan hubungan antara stimulus eksternal yang dipresentasikan oleh lingkungan sekitar dengan respons begadang.

Remaja yang terpapar secara konsisten pada stimulus-stimulus ini cenderung merespons dengan begadang sebagai bentuk respons yang telah dipelajari.

Proses pembentukan kebiasaan begadang tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengulangan stimulus yang sama dan respons yang dihasilkan.

Begadang menjadi sebuah rutinitas yang sulit untuk diubah karena setiap kali stimulus yang sama muncul, respons begadang yang telah terkondisikan ikut terjadi. Dengan demikian, begadang bukan hanya merupakan kebiasaan yang terbentuk secara kebetulan, melainkan hasil dari proses pembelajaran yang sistematis dan berulang.

DAFTAR PUSTAKA

Duhigg, C. (2019). The Power Of Habits. Jakarta: Gramedia.

Siauw, F. (2018). How To Master Your Habits. Jakarta: Alfatih Press.

Lestari, K. (2020). Teori Pavlov: Bisakah Mengubah Kebiasaan Buruk Seseorang?

Diakses dari https://www.sehatq.com/artikel/teori-pavlov-bisakah- mengubah-kebiasaanburuk-seseorang/amp.

Referensi

Dokumen terkait