• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. NUR SOLIKIN, S.Ag, MH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "H. NUR SOLIKIN, S.Ag, MH"

Copied!
236
0
0

Teks penuh

Buku ini memuat peran negara dalam perlindungan warga negara yang bekerja di luar negeri. Selain itu, tekanan untuk mencari pekerjaan di luar negeri semakin diperkuat oleh fakta bahwa surplus tenaga kerja tidak terampil semakin meningkat.

DAFTAR ISI

Tindakan hukum yang dilakukan oleh negara penerima apabila terjadi pelanggaran hukum oleh warga negara asing74. Konvensi Internasional tahun 1990 tentang Perlindungan Hak Semua Migran dan Anggota Keluarga.

FENOMENA PEKERJA ANTAR NEGARA

Imigran Gelap, Pencari Suaka Dan Pengungsi Penyebab dan latar belakang migrasi manusia secara ilegal

Sehingga perlu berpikir bersama dan bekerja sama untuk menyelesaikan sumber permasalahan pengungsi atau pencari suaka. Untuk menyelesaikan masalah migrasi ilegal, khususnya penyelundupan dan perdagangan manusia, yang dilakukan secara terorganisir, kami juga memahami bahwa tidak mungkin menyelesaikannya secara liberal.

Migran Indonesia Dan Permasalahan Utama

Pekerja migran untuk pekerjaan kasar dan jasa rumah tangga umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Mungkin halaman ini tidak memiliki cukup ruang untuk menggambarkan bentuk-bentuk pelecehan dan ketidakadilan.

Masalah Migrasi Pekerja Di Malaysia a. Sabah pusat migrasi ilegal di Malaysia

Oleh karena itu, para migran di Malaysia ini disebut migran ilegal atau migran ilegal. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan pekerja migran di Malaysia.

Konsumsi Politik

Dalam arus migrasi ini muncul fenomena lain yaitu feminisasi migrasi yang diusung oleh anak perempuan dan perempuan. Seringkali anak perempuan dan perempuan ditempatkan di rumah tangga karena tingginya permintaan akan pekerja rumah tangga.

Migrasi, Penyakit Seksual

Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi pelacur (WTS) karena tidak punya pilihan lain; misalnya, ribuan remaja putri bermigrasi dari daerah perbukitan di Nepal ke kota-kota di India. Selain penyebaran HIV melalui kegiatan pariwisata, perdagangan dan perjalanan bisnis, pengemudi truk jarak jauh juga diidentifikasi sebagai kelompok berisiko tinggi.

Migrasi Dan Perempuan

Kurangnya sistem perlindungan yang efektif terhadap pekerja migran perempuan juga menimbulkan permasalahan lain, yaitu kerentanan pekerja migran perempuan terhadap praktik perdagangan manusia. Semua itu menunjukkan bahwa lemahnya posisi buruh migran Indonesia berkaitan langsung dengan sistem patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, sebagai objek penindasan dan marginalisasi yang sistematis.

KERANGKA PEMIKIRAN SEBUAH PIJAKAN

Ini melindungi kepentingan negara pengirim di negara penerima dalam batas yang diizinkan oleh hukum internasional. Memberikan laporan kepada negara pengirim mengenai keadaan di negara penerima dengan cara yang dapat dibenarkan oleh hukum; Fungsi perwakilan diplomatik, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 3(1)(a) Konvensi Wina 1961, adalah "mewakili negara pengirim di negara penerima".

Perwakilan konsulat juga tidak membuat pernyataan apa pun tentang keadaan dan perkembangan politik di negara penerima.

BAGIAN KETIGA

DASAR-DASAR HUKUM

PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI

Deklarasi Universal PBB Tentang Hak Asasi Manusia

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ini merupakan standar umum penerapan yang harus diikuti dan dididik oleh seluruh bangsa dan negara di dunia guna meningkatkan penghormatan terhadap hak dan kebebasan dengan mengambil tindakan progresif baik secara nasional maupun internasional. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia juga menjadi barometer bagi setiap orang atau badan manapun dalam masyarakat mengenai unsur-unsur perlindungan hak dan martabat. Perlindungan terhadap warga negara asing khususnya pekerja migran dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dapat dimaknai dari ketentuan-ketentuan yang terkandung di dalamnya.

Hak dan kebebasan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia berlaku tanpa kecuali, seperti bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, asal kebangsaan, harta benda, kelahiran atau kedudukan, dan lainnya (Pasal 2).

International Convenat on Civil and Politic Rights (ICCPR)

Hak-hak tersebut juga mencakup hak-hak politik dan sipil yang mencakup hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Ketentuan terkait perlindungan warga negara asing, termasuk pekerja migran, tercantum dalam Pasal 2 ICCPR yang menyatakan bahwa setiap negara yang menjadi pihak dalam kovenan ini harus menghormati dan menjamin hak-hak setiap individu yang berada di wilayahnya. Apabila peraturan perundang-undangan negara tersebut belum mengatur pihak-pihak yang mengadakan pakta, maka negara tersebut harus mengambil langkah-langkah berdasarkan konstitusi yang berlaku di negaranya untuk melaksanakan hak-hak yang dialami dalam pakta tersebut (Pasal 2 ayat (2)).

Selain itu, Pasal 2(3) menjelaskan sanksi hukum yang timbul jika terjadi pelanggaran terhadap hak-hak tersebut, meskipun dilakukan oleh orang yang menduduki jabatan resmi.

International Covenant on Economic, Social and Culture Rights (ICESCR)

Pasal 6 ICESCR menyatakan bahwa setiap Negara mempunyai kewajiban untuk mengakui dan mengambil tindakan yang diperlukan, seperti program pengembangan dan pelatihan teknis dan kejuruan untuk menjamin hak-hak buruh dan program pelatihan untuk menjamin hak-hak buruh, termasuk hak setiap masyarakat mempunyai kesempatan. untuk bertahan hidup sesuai dengan pekerjaan yang mereka inginkan. Ketentuan mengenai perlindungan ketenagakerjaan, termasuk bagi pekerja migran, dalam Konvensi ini dapat dicapai melalui jaminan sosial atau asuransi ketenagakerjaan, dan setiap Negara Pihak pada Kovenan harus mengakui hak-hak ini. Selain itu, Pasal 12 Kovenan mewajibkan setiap Negara Pihak untuk mengakui hak setiap orang untuk menikmati semua aktivitas, baik fisik maupun mental, pada tingkat yang ingin dan ingin dicapainya.

Kovanen juga melindungi hak setiap orang atas pendidikan, yang dianggap ditujukan untuk pengembangan kepribadian seseorang secara menyeluruh dan kesadaran akan nilai dirinya.

Deklarasi PBB Tentang Perlindungan dari Penyiksa- an Tahun 1975

Terlepas dari alasan penyiksaan tersebut, jelas bahwa Deklarasi Perlindungan terhadap Penyiksaan tahun 1975 menganggap segala bentuk penyiksaan yang dilakukan merupakan pelanggaran terhadap 3 (tiga) aspek, yaitu: martabat manusia, menghalangi tujuan penyiksaan tersebut. PBB, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Larangan penyiksaan berdasarkan Deklarasi Perlindungan terhadap Penyiksaan tahun 1975 ditujukan untuk membebaskan diri dari praktik-praktik negara. Masih berdasarkan deklarasi perlindungan terhadap penyiksaan ini, jika terbukti adanya tindakan penyiksaan, maka pelaku penyiksaan harus dimasukkan dalam laporan kejahatan, disiplin atau yang sesuai.

Inilah perlindungan pekerja asing yang bekerja di suatu negara dari segala bentuk penyiksaan sesuai dengan Deklarasi Perlindungan dari Penyiksaan.

The 1990 International Convention on the Protec- tion of the Right of All Migran and members and

Selain itu, Konvensi ini juga melindungi hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya dari perbudakan atau penghambaan dan kerja paksa (Pasal 11). Pekerja migran dan anggota keluarganya berhak atas kebebasan berekspresi tanpa campur tangan pihak manapun. Terkait dengan deportasi, dijelaskan dalam Pasal 22 Konvensi bahwa pekerja migran dan anggota keluarganya tidak dapat dideportasi secara bersama-sama.

Pekerja migran dan anggota keluarganya mempunyai hak untuk memindahkan penghasilannya dari negara tempat ia bekerja ke negara asalnya atau ke negara lain (Pasal 47).

Perlindungan TKI pra penempatan

Namun demikian, pekerja migran dan anggota keluarganya tetap wajib menghormati hukum dan peraturan negara tempat mereka bekerja (Pasal 34). Bagi calon TKI yang belum memiliki sertifikasi dan kompetensi kerja, penyelenggara penempatan TKI swasta wajib menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Penyedia TKI penempatan swasta wajib mengikutsertakan TKI yang dikirim ke luar negeri dalam program asuransi.

TKI yang dikirim ke luar negeri pada persiapan akhir pemberangkatan harus dilibatkan dalam pelaksanaan praktik swasta TKI.

Perlindungan TKI selama penempatan

Calon pekerja migran harus memahami dan memahami isi kontrak kerja yang ditandatangani sebelum pekerja migran berangkat ke luar negeri dengan disaksikan oleh pegawai agen yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. TKI di luar negeri dengan menunjuk atase kerja perwakilan Republik Indonesia di luar negeri; Dalam memberikan perlindungan selama penempatan TKI di luar negeri, perwakilan Republik Indonesia melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perwakilan penempatan TKI swasta dan TKI yang ditempatkan di luar negeri;

Perlindungan terhadap pekerja migran selama penempatan di luar negeri dilakukan dengan memberikan bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di negara tujuan, serta hukum dan adat istiadat internasional;

Perlindungan Purna Penempatan

Pembelaan atas pemenuhan hak sesuai perjanjian kerja dan/atau peraturan perundang-undangan negara dimana pekerja migran ditempatkan. koneksi;. Apabila terjadi peperangan, bencana alam, wabah penyakit dan deportasi sebagaimana disebutkan di atas, maka Perwakilan Republik Indonesia, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Pemerintah dan pemerintah daerah bekerjasama untuk mengatur pemulangan TKI tersebut. sampai ke daerah asal TKI; Pemulangan TKI dari negara tujuan sampai tiba di daerah asal menjadi tanggung jawab Pelaksana Penempatan TKI;

Pengaturan kepulangan TKI sebagaimana tersebut di atas antara lain memberikan kenyamanan atau kemudahan bagi TKI untuk kembali ke kampung halamannya, menyediakan fasilitas kesehatan bagi TKI yang sakit sekembalinya kepulangannya, memberikan upaya perlindungan TKI terhadap kemungkinan tindakan pihak lain yang tidak bertanggung jawab dan TKI sekembalinya mereka. .

BAGIAN KEEMPAT

BENTUK-BENTUK PERLINDUNGAN YANG HARUS DIBERIKAN PERWAKILAN

DIPLOMATIK DAN KONSULER KEPADA TKI DI MALAYSIA

Menurut Undang-Undang No. 37 tahun 1999

Dalam menyelenggarakan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri, Indonesia terikat pada ketentuan hukum dan adat istiadat internasional yang menjadi dasar interaksi dan hubungan antar negara. 37 Tahun 1999 mengatur segala aspek penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri, termasuk cara dan mekanisme pelaksanaannya, perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, dan aparatur hubungan luar negeri. Apabila terjadi perselisihan, warga negara Indonesia dan badan hukum Indonesia yang bersangkutan akan terlebih dahulu menghubungi Kementerian Luar Negeri untuk mendapatkan perlindungan.

Dalam hal ini Kementerian Luar Negeri wajib memberikan konseling atau nasehat hukum kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia yang bersangkutan, khususnya yang berkaitan dengan aspek hukum dan adat istiadat internasional (Pasal 18).

Menurut Undang-Undang No. 39 tahun 2004

Biaya adalah biaya yang dibebankan kepada calon TKI dan pengguna dalam rangka penempatan TKI bekerja di luar negeri. 37 Tahun 1999, persoalan jaminan perlindungan TKI di luar negeri diatur secara khusus dalam UU No. Mereka dilengkapi dengan surat keimigrasian dan dokumen yang diperlukan untuk bekerja di luar negeri.

39 tentang penempatan dan perlindungan pekerja migran di luar negeri, disebutkan bahwa pelaku penempatan pekerja migran di luar negeri adalah pemerintah dan swasta (PJTKI).

BAGIAN KELIMA CATATAN PENUTUP

Oleh karena itu, penciptaan lapangan kerja yang produktif dan remuneratif di kantong-kantong pekerja migran harus dikembangkan untuk membendung arus pekerja migran ke luar negeri. Kualitas tenaga kerja migran (TKI di luar negeri) harus ditingkatkan agar mampu bersaing dan menghasilkan uang. kurangnya akses terhadap peluang kerja yang ada, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Peningkatan kualitas pekerja migran dapat dicapai melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi.

Peningkatan perlindungan dan pengawasan terhadap pekerja migran. Mayoritas pekerja migran di luar negeri merupakan pekerja migran yang mempunyai daya tawar yang kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA

Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri. Hubungan luar negeri dan politik luar negeri berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan kontur politik negara. Penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri melibatkan berbagai lembaga negara dan lembaga pemerintah serta perangkatnya.

Ketentuan ini sesuai dengan fungsi Menteri sebagai pembantu Presiden yang bertanggungjawab dalam bidang menjaga hubungan luar negeri dan melaksanakan kebijakan luar negeri.

Referensi

Dokumen terkait