• Tidak ada hasil yang ditemukan

International Convenat on Civil and Politic Rights (ICCPR)

Dalam dokumen H. NUR SOLIKIN, S.Ag, MH (Halaman 95-100)

PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI

2. International Convenat on Civil and Politic Rights (ICCPR)

a. Berhak atas pengakuan sebagai manusia pribadi terhadap undang-undang dimana saja ia berada (Pasal 6);

b. Berhak atas perlindungan hukum yang sama dengan tidak ada perbedaan (Pasal 7);

c. Berhak atas pengadilan yang efektif oleh hakim-hakim na- sional yang berkuasa (Pasal 8);

d. Tidak seorangpun boleh ditahan atau dibuang secara sewe- nang-wenang (Pasal 9);

e. Berhak untuk didengarkan suaranya dimuka umum dan secara adil oleh pengadilan yang indipenden dan tidak ber- pihak dengan tanpa adanya intervensi dari pihak manapun (Pasal 10);

f. Berhak atas asas “praduga tak bersalah” dan asas “nullum delictum, nulla poena, sine propea lege poenali”, yaitu tiada kejahatan/delik, tiada pidana, kecuali jika sudah ada un- dang-undang yang mengancam dengan pidana (Pasal 11);

g. Berhak mendapatkan perlindungan undang-undang ter-ha- dap gangguan-gangguan dalam urusan perseorangan, ke- luarga, rumah tangga, juga pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya (Pasal 12).

2. International Convenat on Civil and Politic Rights

darinya memikul tanggungjawab untuk dengan sebaik mungkin mengusahakan peningkatan dan pengindahan hak-hak yang di- akui dalam kovenan ini. Ada pun hak-hak tersebut meliputi hak- hak politik dan sipil yang meliputi ekonomi, sosial dan budaya.

Ketentuan yang relevan dengan perlindungan warga nega- ra asing termasuk pekerja migran tampak pada Pasal 2 ICCPR, yang menegaskan kepada setiap negara yang menjadi pihak dalam kovenan ini untuk menghormati dan menjamin hak-hak semua individu yang berada di dalam wilayahnya. Penghor- matan dan jaminan terhadap hak-hak itu tanpa pembedaan apa pun, seperti suku, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, asal- usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lain nya. Apabila dalam peraturan perundang-undangan negara pi- hak kovenan belum diatur, maka negara tersebut harus meng- ambil langkah-langkah berdasarkan konstitusi yang berlaku di nega-ranya untuk memberlakukan hak-hak yan dialami dalam kovenan ini (Pasal 2 ayat (2)). Unsur dari “asal usul kebang- saan” memberikan pengertian bahwa perlin dungan warga ne- gara asing termasuk pekerja migran dapat menerapkan keten- tuan Pasal 2 ayat (1) kovenan.

Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (3) dijelaskan sanksi-sanksi hukum yang timbul apabila terjadi pelanggaran terhadap hak- hak tersebut meskipun dilakukan oleh orang-orang yang meme- gang jabatan resmi. Pasal 2 ayat (3) menyatakan “Setiap negara peserta kovenan ini berjanji:

a. Untuk menjamin, bahwa siapapun yang hak atau kebebas- annya sebagaimana diakui dalam kovenan ini di langgar, akan mendapat upaya hukum yang efektif meskipun pelang- garan itu dilakukan oleh orang-orang yang memegang jabat- an resmi;

b. Untuk menjamin, bahwa siapapun yang menuntut upaya hukum demikian, haknya akan ditentukan oleh instansi pe-

radilan, administratif atau legeslatif yang berwenang, atau oleh instansi berwenang lainnya yang diatur menurut sistem hukum negara yang bersangkutan, dan untuk mengembang- kan segala kemungkinan dari upaya hukum itu;

c. Untuk menjamin, bahwa instansi berwenang itu akan mene- gakan upaya demikian, dalam hal pengabulan”.

Setiap individu yang berada di dalam wilayah suatu nega- ra berhak untuk hidup dan hak ini harus dilindungi oleh hukum yang berlaku di negara tersebut (Pasal 6 ayat (1) kovenan).

Terhadap orang-orang yang dijatuhi hukum-an mati, Pasal 6 ayat (2), (4) dan (5) memberikan persya-ratan-persyaratan sebagai berikut:

a. Hukum mati hanya untuk pelaku kejahatan-kejahatan paling berat.

b. Mendapatkan hak untuk memohon pengampunan atau ke- ringan dari hukuman mati.

c. Hukuman mati tidak boleh diberikan pada seseorang yang berumur dibawah dari 18 tahun dan keadaan wanita yang sedang hamil.

Kovenan juga tidak memperkenankan penyiksaan atau perlakuan hukuman yang kejam, tidak berperikemanusiaan atau yang merendahkan martabat seseorang (Pasal 7). Contoh kasus yang terjadi pada TKI bernama Sawiyah binti Kamok yang be- kerja di Kuwait telah menderita pe-nyiksaan fisik oleh majikan- nya dan menyebabkan telinga dan hidung sampai mengeluar- kan darah. Korban bekerja selam 3 (tiga) tahun tidak dibayar upahnya, hingga akhirnya melarikan diri dari rumah majikan.

Karena kabur tanpa dilengkapi dengan surat-surat resmi, korban akhirnya ditangkap oleh polisi setempat dan dipenjara di Sula- bia (sebuah penjara terbesar di Kuwait) selama 1 (satu) bulan.92

Kovenan juga menentang adanya perlakuan perbudakan

92LSM Migran Care, Data Kasus TKI per Oktober 2003

dan perdagangan budak dalam bentuk apapun dan tidak boleh seorangpun dipaksakan untuk memberikan pelayanan (Pasal 9).

Dalam Pasal 9 dijelaskan bahwa setiap orang yang berada di dalam suatu wilayah negara tidak dapat ditahan atau ditawan tanpa alasan-alasan yang jelas sebagaimana diterapkan dengan undang-undang. Pe-nahanan pada seseorang harus secepat mungkin diberita-hukan tentang tuduhan terhadapnya.

Dalam hal perdata, ketidakmampuan untuk memenuhi sua tu kewajiban dalam kontrak tidak dapat dijadikan alasan untuk memenjara seseorang (Pasal 11). Hak-hak keimigrasian juga diatur dalam kovenan ini, yakni dalam Pasal 12 yang menyata- kan:

a. Setiap orang yang secara sah berada dalam wilayah suatu negara akan berhak untuk bergerak dengan bebas dalam wi- layah itu, dan bebas untuk memilih tempat tinggalnya.

b. Setiap orang akan bebas untuk meninggalkan negara mana- pun, termasuk negaranya sendiri.

c. Hak-hak tersebut di atas tidak boleh dikenakan pembatasan kecuali batas-batas yang ditentukan dengan undang-undang yang diperlukan guna menjaga keamanan nasional, keter- tiban umum, kesehatan umum atau kesusilaan atau hak serta kebebasan orang lain, dan yang konsisten dengan hak- hak lainnya yang diakui dalam kovenan ini.

d. Tiada seorangpun yang boleh secara gegabah dicabut hak- nya untuk memasuki negaranya sendiri.

Warga negara asing termasuk pekerja migran yang secara sah berada di wilayah suatu negara dapat dideportasi hanya dengan suatu keputusan yang berdasarkan hukum yang berlaku di negara tersebut. Atas keputusna itu diperkenankan bagi orang tersebut untuk mengajukan peninjauan kembali. Dalam kea- daan yang demikian warga negara asing tersebut dapat diwakili oleh instansi yang berwenang dalam masalah itu (Pasal 13).

Pasal 14 menyatakan bahwa setiap orang mempunyai ke- dudukan yang sama dihadapan pengadilan dan terhadap tudu- han yang dijatuhkan kepadanya, pengadilan wajib mengang- gapnya tidak bersalah sampai terbukti ia bersalah menurut hu- kum. Terhadap warga negara asing yang melakukan pelangga- ran dalam suatu negara, ia berhak mendapatkan perlakuan per- samaan sepenuhnya dihadapan hukum. Jaminan hak-hak ter- sebut diatur dalam Pasal 14 ayat (3), seperti:

a. Untuk secepatnya dan secara terperinci diberitahukan dalam bahasa yang dimengertinya tentang sifat dan alasan menga- pa diajukan tuduhan terhadapnya;

b. Untuk diberi cukup waktu dan kemudian guna memper- siapkan pembelaannya dan menghubungi pembela yang di- pilihnya sendiri;

c. Untuk diperiksa tanpa penundaan yang tidak perlu;

d. Untuk diperiksa keterlibatannya dan membela diri atau me- lalui bantuan hukum yang dipilihnya sendiri, untuk diberita- hukan, bilamana ia tidak mempunyai bantuan hukum, ten- tang haknya ini; dan untuk diberikan bantuan hukum ba- ginya dalam setiap perkara, dimana hal itu diperlukan demi kepentingan keadilan, dan tanpa pembayaran apapun oleh dalam setiap hal demikian jikalau ia tidak mempunyai dana yang cukup untuk membayarnya.

e. Untuk memeriksa atau menyuruh memeriksa para saksi yang memberatkannya dan menerima kehadiran dan peme- riksaan pada saksi yang menguntungkan di bawah persyara- tan yang sama seperti bagi para saksi lawan;

f. Untuk mendapatkan bantuan cuma-cuma dari seseorang penterjemah jikalau ia tidak mengerti atau tidak berbicara dalam bahasa yang digunakan di pengadilan;

g. Untuk tidak dipaksa memberikan kesaksian terhadapnya sendiri atau mengaku bersalah.

Bagi pekerja migran itu sendiri berhak untuk berga-bung

dengan organisasi atau dengan orang-orang lain ter-masuk hak untuk membentuk dan bergabung dengan seri-kat pekerja guna menjaga kepentingan-kepentingannya sendiri (Pasal 22 ayat (1) kovenan). Pemberian perlindu-ngan terhadap pekerja migran ini bisa saja melalui organisasi pekerja tersebut.

3. International Covenant on Economic, Social and

Dalam dokumen H. NUR SOLIKIN, S.Ag, MH (Halaman 95-100)