Pokja Pengkajian dan Evaluasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengarusutamaan Gender melaksanakan tugas berdasarkan Surat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia Nomor B. Pengkajian dan Evaluasi dilaksanakan terhadap Perda Timur. Provinsi Jawa Nomor 09 Tahun 2019 tentang Pengarusutamaan Gender apakah sudah sesuai dengan butir-butir Pancasila. Dengan ini saya menyatakan bahwa laporan penelitian saya berjudul: HASIL KAJIAN DAN ANALISIS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2019 TERKAIT SIKAP GENDER.
Permasalahan
Amanat Pemerintah Kabupaten/Kota mengenai ketentraman dan ketertiban masyarakat antara lain meliputi: penanggulangan gangguan ketentraman dan ketertiban umum dalam 1 (satu) Wilayah Kabupaten/Kota; penegakan peraturan daerah kabupaten/kota dan peraturan bupati/walikota; Pembinaan PPNS Kabupaten/Kota. Pengkajian dan pengkajian nilai-nilai Pancasila ini dimaksudkan untuk memberikan justifikasi perlunya peraturan daerah menggunakan pendekatan akademis, teoritis, dan hukum sebagai pedoman dalam penyusunan norma peraturan dalam peraturan daerah yang spesifikasinya berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Memahami permasalahan yang dihadapi dalam mengintegrasikan kesetaraan gender dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat serta memikirkan cara untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui kajian dasar nilai-nilai Pancasila.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan untuk melakukan kajian dan analisis terhadap Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No. 9 Tahun 2019, adalah. Bahan hukum yang digunakan untuk melakukan pengkajian dan analisis terhadap Peraturan Daerah ini antara lain: Dalam hal ini akan digunakan untuk mengetahui apakah suatu peraturan daerah yang dibuat sudah sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Konsep Dasar Gender
Untuk mengurangi kesenjangan gender yang terjadi di berbagai sektor kehidupan, kebijakan dan program pembangunan yang dikembangkan saat ini dan di masa depan harus mengintegrasikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, dalam seluruh pembangunan nasional. . kebijakan dan program. Pengarusutamaan Gender (PUG), atau dalam bahasa Inggris: Gender Mainstraiming, merupakan strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Kebutuhan gender praktis merupakan kebutuhan jangka pendek dan berkaitan dengan perbaikan kondisi perempuan dan/atau laki-laki guna memenuhi peran sosialnya masing-masing, seperti: peningkatan standar hidup.
Teori Konstitusi
Memahami pengertian konstitusi dalam dua konsep, yaitu pertama sebagai kerangka alamiah negara. Konstitusi dalam arti sosial-politik yang dilihat sebagai kenyataan dianggap dilaksanakan dalam kenyataan. Konstitusi suatu negara adalah norma sistem politik dan hukum yang dibentuk oleh pemerintahan suatu negara, biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis.
Teori Pembentukan Perundang-Undangan
Merupakan perwujudan negara hukum yang bercirikan persamaan di depan hukum, non-diskriminasi dan keadilan hukum serta keadilan sosial dan moral.33 Konsep hukum dapat ditelusuri dari konsep nat dalam bahasa Belanda34. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah “peraturan tertulis tentang norma hukum yang bersifat mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui tata cara yang ditentukan dalam Peraturan Perundang-undangan. . -undangan". Dalam literatur hukum perundang-undangan, istilah peraturan perundang-undangan sering dikaitkan dengan pengertian hukum, baik dalam arti materiil maupun dalam arti formil (hukum dalam wujud materiil dan wujud formal).
Pengertian hukum dalam arti materiil yang dimaksud di sini adalah segala peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh negara dan ditinjau dari segi materiil atau substantifnya, yang terhimpun dalam pengertian hukum dalam arti luas (tidak termasuk produk hukum perundang-undangan). Sedangkan hukum dalam arti formal yang dimaksud di sini adalah segala produk hukum yang dihasilkan oleh negara dilihat dari proses pembentukannya. Hamid S Attamimi, menyatakan bahwa undang-undang dalam arti substantif (wöde i materiel zijn) adalah segala bentuk peraturan perundang-undangan, sedangkan undang-undang dalam arti formal adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dengan persetujuan DPR37 (setelah amandemen pertama tahun 1945- UUD 1999 lebih tepat disebut “dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama antara DPR dan Presiden”.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka yang disebut hukum formil adalah undang-undang yang dibentuk berdasarkan ketentuan atribusi UUD, sedangkan hukum substantif adalah peraturan yang memuat muatan atau materi tertentu yang pembentukannya melalui tata cara tertentu38. Sedangkan moralitas umum yang dibentuk melalui pengertian fungsional basah atau adat istiadat, berada satu tingkat tepat di bawah konstitusi dalam tatanan hukum40.
Teori Hak Manusia
Konflik Antara Teori Universalisme dan Teori Relativisme Budaya Konflik antara teori universalisme dan teori relativisme budaya dalam memandang hak asasi manusia sebenarnya sudah dimulai sejak munculnya pemikiran hak asasi manusia yang kodrati. Perlu kita ketahui bersama bahwa pandangan relativisme budaya muncul sebagai respon terhadap “pembebanan” hak asasi manusia yang bersifat universal. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) yang ditandatangani oleh 48 negara di Paris, Perancis pada tanggal 10 Desember 1948, menjadi tonggak sejarah bagi universalisme hak asasi manusia.
Pandangan menyimpang terhadap teori relativisme budaya ini sering kali diamini oleh para aktivis hak asasi manusia universal. Faktanya, keunggulan relativisme budaya terletak pada penerapan hak asasi manusia universal yang berkelanjutan. Gagasan bahwa hak asasi manusia dikaitkan dengan konteks budaya umumnya dipromosikan oleh negara-negara berkembang dan negara-negara Islam.
Kewajiban-kewajiban tersebut tentunya tidak muncul dalam Teori Hak Kodrati, karena Hak Asasi Manusia secara kodrati dimiliki oleh setiap manusia. Jika kita berbicara tentang hak asasi manusia yang universal, tentu kita tidak bisa tidak berbicara tentang UDHR. Dengan adanya UDHR, Hak Asasi Manusia menjadi terkotak-kotak dan hanya dibatasi pada 30 pasal yang terkandung di dalamnya.
Mengapa kita mempunyai hak asasi manusia yang universal jika hak-hak ini pada akhirnya berada di bawah kepentingan elit.
Teori Keadilan
Hal ini sejalan dengan analisis Douzinas yang berpendapat bahwa UDHR mengatasnamakan kemanusiaan universal, memadukan martabat manusia dengan hak istimewa elit. Beliau juga menyampaikan bahwa dirinyalah perwujudan nilai-nilai yang sesungguhnya mempunyai makna, bahwa kehadirannya demi perlindungan dan pemajuan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.50. Teori keadilan melahirkan teori kemanfaatan, yaitu teori kemanfaatan hukum yang bermula dari Jeremy Bentham yang menerapkan salah satu asas utilitarianisme pada lingkungan hukum, yaitu: orang akan bertindak sedemikian rupa untuk mencapai tujuan. kebahagiaan terbesar dan meminimalkan penderitaan.
Dengan berpegang pada prinsip-prinsip tersebut di atas, maka peraturan perundang-undangan harusnya mampu memberikan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar (the Greatest Happiness for The Greatest Number).51 Jadi yang menjadi prioritas dalam teori Jeremy Bentham adalah menciptakan keberuntungan terbesar. John Rawls melihat pentingnya keadilan sebagai jaminan stabilitas kehidupan manusia; dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan bersama.52. John Rawls berpendapat bahwa struktur masyarakat yang ideal dan adil adalah struktur dasar asli masyarakat yang di dalamnya terpenuhi hak-hak dasar, kebebasan, kekuasaan, wewenang, peluang, pendapatan, dan kesejahteraan; dimana kategori struktur sosial ideal ini digunakan untuk menilai apakah institusi sosial yang ada sudah adil, atau gagal memperbaiki ketidakadilan sosial.53.
52 John Rawls, Theory of Justice (terjemahan, A. Theory Of Justice) Diterjemahkan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetya, Pstaka Pelejar. Asumsi pertama yang digunakan adalah keinginan kodrat masyarakat untuk mencapai kepentingannya terlebih dahulu, kemudian kepentingan umum, dimana keinginan tersebut adalah untuk mencapai kebahagiaan, yang juga menjadi tolak ukur tercapainya keadilan, sehingga harus ada kebebasan untuk memenuhi kepentingan tersebut. Jika terdapat kesetaraan, maka setiap orang seharusnya mempunyai kesempatan yang sama untuk mewujudkan kepentingannya, meskipun kemudian timbul perbedaan, hal ini tidak menjadi masalah jika dicapai atas dasar kesepakatan dan titik tolak yang sama.
56http://www.bartleby.com., Ilham, John Rawls's Theory of Justice, Simple Understanding of Books dan A Theory of Justice, tanggal 16 September 2020.
Tolok Ukur Dari Pancasila Untuk Menilai Pasal Pasal dalam Peraturan Daerah
Pembuatan peraturan perundang-undangan juga harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Gender hendaknya lebih pada peran dan fungsi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, Keadilan Sosial. Pancasila yang terkandung dalam Peraturan Daerah ini akan segera diimplementasikan dalam praktik dan nilai-nilai Pancasila akan tercermin dalam pengarusutamaan gender.
Pemprov membutuhkan sistem informasi yang canggih agar sejalan dengan nilai-nilai Pancasila khususnya sila 2 yaitu memperbaiki diri. Ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 dimaksudkan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila khususnya pada PUG yang sesuai dengan sila kedua Pancasila dan sila kelima Pancasila. Kerjasama masyarakat sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yaitu non-diskriminasi dalam perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan.
Penyelenggaraan PUG tidak hanya menjadi tugas pemerintah saja, namun juga memerlukan peran serta masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kerja sama masyarakat sesuai dengan sila ke-4 nilai Pancasila, tanpa diskriminasi perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Norma Pasal 13 sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga Pancasila tidak berhenti pada aspek filosofis saja.
Substantif isi peraturan gubernur harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sila kemanusiaan yang kedua, yaitu adil dan beradab.
Rekomendasi Norma
Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan, program, dan kegiatan responsif gender sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Gubernur. Penyusunan rencana kebijakan, program, dan kegiatan PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui analisis gender. Penyusunan analisis gender sebagaimana dimaksud pada ayat 3 dilakukan oleh Dinas berkoordinasi dengan Unit Wilayah terkait.
Tata cara penyusunan rencana kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut dalam peraturan gubernur. 3. Guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Dinas menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan teknis. Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan membentuk Pokja PUG, Tim Penggerak PUG dan simpul-simpul.
Sumber pendanaan dan infrastruktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disediakan untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan PUG. 2. Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat data yang beragam antara perempuan dan laki-laki. 3. Data terpilah antara perempuan dan laki-laki sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib disediakan oleh masing-masing Perangkat Daerah.
Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan, program, dan kegiatan responsif gender sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Gubernur. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara berkala setiap 6 (enam) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.