Dari tabel 4.4 diatas terlihat sebagian besar sebanyak 23 orang (71,87%) menjawab frekuensi kegiatan yang dilakukan seperlunya, sisanya sebanyak 7 orang masing-masing (21,88%) menjawab satu semester sekali, dan sebagian kecil sebanyak 2 orang ( 6,25%) menjawab setiap 3 bulan. Dari tabel 4.5 mentor/tutor dalam melanjutkan pengembangan keprofesian guru SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan Dinas Pendidikan Kota Manna Bengkulu Selatan ditetapkan sebesar 100% oleh seluruh responden. Dari tabel 4.7 diatas terlihat bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 24 orang (75%) menjawab ada evaluasi terhadap kegiatan pengembangan guru yang sedang berlangsung, sedangkan sisanya 8 orang (25%) menjawab tidak ada evaluasi. . kegiatan pengembangan guru yang sedang berlangsung.
Pada tabel 4.10 terlihat bahwa fokus pada aspek yang paling sering diberikan dalam pengembangan guru berkelanjutan dijawab oleh responden. Dari tabel 4.13 diatas terlihat mayoritas responden sebanyak 22 orang (68,75%) menjawab ketersediaan waktu yang menjadi faktor pembatas untuk mengikuti kegiatan pembinaan yang sedang berlangsung, sedangkan sisanya 10 orang (31,25%) menjawab keluarga memiliki permasalahan yang menjadi kendala dalam berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan guru yang sedang berlangsung.
Hasil Wawancara
Berdasarkan data tanggapan responden di atas, menurut penulis hal ini menunjukkan bahwa guru ingin dapat memenuhi kriteria menjadi guru yang profesional berdasarkan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Berdasarkan hasil pernyataan yang disampaikan oleh salah satu responden, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan ini dipahami oleh para guru di SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk melengkapi SKS untuk kenaikan pangkat dan memenuhi program SKS. sertifikasi. Alhamdulillah saya merasa bersyukur atas kegiatan pelatihan ini, khususnya bagi sekolah dan guru.
Banyak manfaat yang kita rasakan, diantaranya menjaga silaturahmi para guru, dan tidak ada batasan senioritas bagi guru dengan guru yang masih muda, namun rasa hormat tetap ada, maka kita mendapatkan akreditasi A yang tentunya merupakan hasil kerja keras kita semua. , jadi yang paling penting adalah , guru-guru terbantu dalam proses pemenuhan penilaian kredit dan untuk sertifikasi guru, walaupun masih ada hal-hal yang belum kami penuhi dalam hal pemenuhan standar kenaikan pangkat, kami berusaha untuk memenuhinya, seperti seperti membuat artikel ilmiah. Hal ini disebabkan oleh intensitas guru yang waktunya telah tersita oleh aktivitas tugas guru mengajar di sekolah selama 6 jam. Dari tanggapan tersebut, faktor yang menjadi kendala dalam pengembangan guru berbasis profesionalisme guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan adalah tersedianya waktu bagi guru untuk mengikuti program ini.
Pasalnya, para guru sehari-harinya menghabiskan waktu mengajar di sekolah selama 6 jam, belum lagi melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler kepada siswanya. Untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul tadi, kami mengadakan diskusi dengan mengadakan pertemuan pada awal semester, dimana kami berkonsultasi dengan para guru untuk menentukan waktu yang disepakati bersama. Biasanya kami melakukan kegiatan program pembinaan ketika mendekati ujian akhir dimana para guru dapat memberikan waktu sekaligus mempersiapkan persiapan ujian di sekolah.
Dari hasil jawaban responden, pihak sekolah dalam mengatasi faktor ketersediaan waktu yang menjadi kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan guru berbasis profesionalisme guru ditangani dengan musyawarah pada awal semester agar tetap berdasarkan waktu. di tentukan kesepakatan bersama, dan guru serta pihak sekolah sepakat untuk menentukan kegiatan pertemuan atau pembinaan sesaat sebelum ujian akhir sekolah.
Pembahasan Hasil Penelitian
Proses Pembinaan Profesionalitas Berkelanjutan Berbasis Penilaian Kinerja Guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu
Proses pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan evaluasi kinerja guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan dilaksanakan sesuai kebutuhan dan jadwalnya belum teratur yaitu dilaksanakan pada saat dihadapkan pada sesuatu untuk persiapan dan waktu luang. . Pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan evaluasi kinerja guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan mengundang mentor/tutor dari Dinas Pendidikan Kota Bengkulu Selatan Manna. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil jawaban responden mengenai asal usul pendamping/tutor dalam kegiatan pengembangan guru berkelanjutan di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan pada Tabel 4.5.
Hal ini tersaji pada Tabel 4.8, sebanyak 26 orang (81,25%) menjawab bermanfaat untuk pemenuhan jenjang karir/kemajuan serta pengembangan keilmuan dan wawasan guru. Dari pemikiran dan temuan di atas dalam proses pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan evaluasi kinerja guru pada Seluruh guru ikut serta dalam kegiatan pengembangan keprofesian yang berkesinambungan berdasarkan penilaian terhadap hasil kerja guru, karena guru menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting bagi guru terutama untuk terwujudnya jenjang karir dan sertifikasi guru.
Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan berbasis penilaian kinerja guru memberikan dampak yang signifikan terhadap guru, khususnya terhadap pengembangan keilmuan, wawasan dan orientasi profesi guru. Proses pengembangan keprofesian berkelanjutan berbasis penilaian kinerja guru harus diawasi secara ketat agar kualitas guru dapat tercapai. Peningkatan kualitas guru sangatlah penting, untuk itu pengembangan keprofesian guru perlu disikapi secara sungguh-sungguh guna menghasilkan guru yang berkualitas sehingga dapat melahirkan peserta didik yang unggul dan berdampak.
Oleh karena itu, proses pengembangan profesionalisme guru harus diprogram secara matang sesuai dengan pedoman profesi guru yang berkelanjutan. Untuk itu diperlukan semua faktor, baik guru itu sendiri, sekolah, atau desain program yang baik.
Aspek yang Menjadi Fokus Pembinaan Profesionalitas Berkelanjutan Berbasis Penilaian Kinerja Guru di SMA Negeri
Sehubungan dengan itu, aspek-aspek yang ditonjolkan dalam proses pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan penilaian kinerja guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan secara umum sudah sejalan dengan pedoman profesionalisme berkelanjutan. Hal ini terlihat dari jawaban sebanyak 39 orang (88,64%) yang menjawab komponen aspek yang ditekankan adalah pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya ilmiah atau implementasi karya inovatif. Dari ketiga aspek tersebut di atas, dalam proses pengembangan guru yang sedang berjalan di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan lebih menitikberatkan pada pengembangan diri, seperti kompetensi penyusunan RPP, program kerja pedagogi, penguasaan materi dan kurikulum, evaluasi siswa. dan penguasaan teknologi informasi dan komputer, hal ini disampaikan oleh 24 responden (75%).
Dari ketiga komponen yang paling disukai guru dalam pelatihannya adalah aspek publikasi ilmiah, pembuatan karya tulis baik berupa buku, jurnal ilmiah maupun modul pengajaran, hal ini dari hasil survey pernyataan responden sebanyak 17 orang. (38,64%). Hal ini dibuktikan dengan jawaban responden yang disajikan pada tabel 4.12, sebanyak 23 orang (71,88%) menyatakan sulit untuk memenuhi pelaksanaan karya ilmiah. Hal ini berdampak pada penetapan jadwal yang kurang teratur, pada akhirnya kegiatan dilakukan hanya seperlunya saja.
Pendamping atau tutor yang terlibat langsung dalam proses pengembangan guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan kurang beragam, hal ini disebabkan ketersediaan waktu dan jadwal yang kurang teratur, kemudian referensi sumber daya mentor/tutor. sebagai faktor pendanaan apabila mengundang pembimbing atau tutor dari dinas pendidikan daerah atau pusat serta orang-orang yang ahli di bidang pengembangan guru. Dari keterbatasan yang disebutkan di atas, hal ini berdampak pada kurang berkembangnya guru pada komponen penciptaan karya tulis seperti buku atau jurnal ilmiah, dan komponen penciptaan karya inovatif seperti invensi atau penciptaan karya seni dalam pengembangan. Solusi mengatasi faktor penghambat pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan evaluasi kinerja guru di SMA Negeri 9 Kabupaten Bengkulu Selatan.
Hal ini sejalan dengan harapan Pemerintah yang tercantum dalam panduan pengelolaan pengembangan profesi berkelanjutan (kata Kemendikbud.
Keterbatasan Penelitian
Selain itu, Sukamto dkk (2009) melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Profesi Guru Berkelanjutan sebagai Strategi Nasional Penunjang Sertifikasi Guru, penelitian menggunakan R.
Simpulan
Selain itu, sumber tenaga pembimbing atau tutor yang kurang bervariasi menyebabkan kurangnya penambahan wawasan dan kemampuan guru dalam memenuhi publikasi ilmiah dan menciptakan karya inovatif. Solusi pihak sekolah untuk mengatasi kendala yang dihadapi yaitu dengan memberikan alternatif waktu pelaksanaan dengan memanfaatkan waktu pelaksanaan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan guru. Selain itu, sekolah memberikan motivasi kepada guru untuk terus mampu memenuhi komponen publikasi ilmiah dan menghasilkan karya ilmiah atau inovatif.
Implikasi
Proses pengembangan guru profesional yang berkelanjutan hendaknya tidak hanya berorientasi pada tujuan pencapaian sertifikasi saja, namun pada pengembangan dan peningkatan kualitas guru, baik keterampilan maupun pengetahuannya. Hal ini sering terjadi pada guru yang sudah memiliki program sertifikasi dan berhenti menciptakan suatu karya. Selain itu, program pengembangan guru dalam rangka pengembangan keterampilan mengajar ditujukan untuk tiga kebutuhan, walaupun jelas terdapat variasi, namun terdapat banyak persamaan.
Diantaranya, pertama, kebutuhan sosial untuk meningkatkan kemampuan sistem pendidikan yang efisien dan manusiawi serta menyesuaikan dengan rumusan kebutuhan sosial; kedua, yaitu mencari cara untuk membantu tenaga kependidikan agar dapat mengembangkan kepribadiannya secara luas dan ketiga, perlunya mengembangkan dan mendorong keinginan guru untuk menikmati kehidupan pribadinya, yaitu dengan meningkatkan pendapatan dari promosi dan sertifikasi guru.
Saran-saran
Dalam hal ini, Dinas Pendidikan baik Kota maupun Daerah hendaknya memberikan bantuan berupa penyediaan mentor atau tutor yang kompeten dan berpengetahuan luas di bidang pengembangan profesi guru kepada sekolah yang menyelenggarakan pelatihan guru secara berkelanjutan. Pengembangan model peningkatan berkelanjutan profesionalisme guru pasca sertifikasi melalui pendekatan pengayaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi di provinsi Bali. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Pusat Penjaminan Mutu Pengembangan Profesi Pendidik.
Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Pembinaan Keprofesian Berkelanjutan Berbasis Pembinaan Profesionalitas Guru SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan dan partisipasi Anda dalam mengisi dan mengembalikan kuesioner ini. Silakan beri tanda silang (X) pada kolom yang menurut Anda sesuai dengan jawaban Anda. Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda silang (X) sesuai jawaban yang anda inginkan.
Apakah semua guru di sekolah ini wajib berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan profesional kepala sekolah yang berkelanjutan. Dari mana datangnya para pembimbing/pengawas yang sering mengisi pengembangan profesi berkelanjutan guru di sekolah Anda? Aspek komponen manakah yang ditekankan dalam pengembangan profesional berkelanjutan guru di sekolah Anda?
Aspek komponen manakah yang paling sering diberikan dalam pengembangan profesional berkelanjutan yang Anda terima? Pengembangan diri, seperti kompetensi penyusunan RPP, program kerja pendidikan, penguasaan materi dan kurikulum, penilaian peserta didik, penguasaan teknologi informasi dan komputer. Pengembangan diri, seperti kompetensi penyusunan RPP, program kerja pendidikan, penguasaan materi dan kurikulum, penilaian peserta didik, penguasaan teknologi informasi dan komputer.