HEGEMONI BUDAYA DAN PERLAWANAN DALAM NOVEL
“CINTA DI DALAM GELAS” KARYA ANDREA HIRATA
Hilya Karima1, Ervina Soviani Nursiam2
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
ABSTRAK
Tradisi memiliki peran penting dalam masyarakat. Hegemoni budaya dapat tercermin dalam bagaimana tradisi-tradisi tertentu dipromosikan, dijaga, atau bahkan dipaksakan kepada seluruh anggota masyarakat. Novel “Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata memiliki unsur-unsur hegemoni budaya. Dari sisi pengarang, Andrea Hirata dapat menggunakan narasi dan karakter untuk menyampaikan pesan atau kritik terhadap hegemoni yang terdapat dalam novel. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis hegemoni budaya dalam novel “Cinta di Dalam Gelas dan (2) mendeskripsikan perlawanan pengarang terhadap hegemoni budaya dalam novel “Cinta di Dalam Gelas”. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Objek yang digunakan berupa novel karya Andrea Hirata yang berjudul “Cinta di Dalam Gelas” dalam bentuk digital. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kajian literatur dengan metode simak yang bersumber dari buku atau jurnal.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra yang digagas oleh Antonio Gramsci sebagai kerangka dasar. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa (1) hegemoni budaya yang ada di dalam novel adalah aspek agama, organisasi, kemasyarakatan, pengetahuan alam, kesenian, mata pencaharian, serta teknologi masyarakat. (2) perlawanan hegemoni budaya dapat dilihat dari tokoh Maryamah. Dia menentang budaya patriarki yang ada dengan menunjukkan keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan dan ketidakadilan gender. Novel ini juga menampilkan eksistensi wanita dan gerakan feminisme sebagai bentuk solidaritas dan perjuangan untuk emansipasi wanita.
PENDAHULUAN
Pertentangan dan dinamika antara hegemoni budaya dan upaya perlawanan terhadapnya seringkali menjadi sorotan utama dalam konteks masyarakat Indonesia. Hegemoni budaya merujuk pada dominasi kelompok yang lebih kuat dalam menentukan norma-norma, nilai- nilai, dan pola pikir yang diterima secara luas dalam masyarakat, yang kemudian menjadi sebuah stigma. Hegemoni ini dapat menciptakan suatu ketimpangan, marginalisasi, dan penindasan terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau kurang dominasi. Permasalahan ini juga mencerminkan keberagaman dan kompleksitas dalam masyarakat Indonesia yang berfokus pada keadilan dan identitas kultural. Nilai-nilai, norma-norma, dan pola pikir hegemoni di Indonesia seperti halnya stereotip gender, kelas sosial, atau budaya yang mungkin menjadi cerminan dari hegemoni budaya. Di Indonesia, stereotip gender seringkali menempatkan perempuan dalam posisi yang kurang dominan dibandingkan dengan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam dunia kerja, pendidikan, dan rumah tangga.
Masyarakat menciptakan sikap dan perilaku berdasarkan jenis kelamin, termasuk menentukan apa yang seharusnya membedakan perempuan dan laki-laki. Keyakinan tersebut diwariskan secara turun temurun melalui proses sosialisasi baik dalam keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan agama (Marhumah, 2011). Di dalam keluarga, peran gender seringkali terlihat dalam pembagian tugas rumah tangga. Ibu umunya bertanggung jawab atas pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak. Sementara ayah berperan sebagai pencari nafkah dan pelindung keluarga. Peran gender memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan perempuan dan laki-laki. Perempuan seringkali terbebani dengan tanggung jawab pekerjaan domestik dan publik. Sementara laki-laki dihadapkan Konstruksi sosial ini dapat membatasi pilihan dan peluang perempuan dan laki- laki dalam mencapai potensi diri mereka. Perempuan terhambat untuk berkarya di luar rumah, dan laki-laki terhalang untuk mengekspresikan emosi dan kelembutan mereka.
Hegemoni budaya dan perlawanan dalam novel “Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata menarik untuk dibahas. Novel ini menceritakan kisah pemuda yang kembali ke tanah kelahirannya, Belitung, setelah menyelesaikan studinya di luar negeri. Di sana, ia bertemu kembali dengan sahabat kecilnya yang telah bercerai dari suaminya akibat kekerasan yang dilakukan oleh suaminya. Si pemuda merasa kasihan dengan sahabatnya dan ingin membantunya. Ia kemudian berniat untuk membantu sahabatnya dalam pertandingan catur melawan mantan suaminya yang merupakan pakar catur. Ia melatih sahabatnya dengan tekun
hingga akhirnya dapat mengalahkan mantan suaminya. Dalam novel tersebut, Andrea Hirata ingin menyampaikan bahwa kemenangan pertandingan catur bukan hanya tentang catur, melainkan tentang perlawanan terhadap dominasi laki-laki dan budaya patriarki di Belitung.
Ia menegaskan bahwa perempuan bisa bersaing dengan laki-laki dalam berbagai aspek.
Permasalahan hegemoni budaya dan perlawanan menjadi topik yang banyak diteliti, seperti penelitian yang dilakukan oleh Retno Putri Utami dkk, yang berjudul “Hegemoni Patriarki Publik Terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel “Hanauzumi” Karya Junichi Watanabe”. Penelitian ini membahas bentuk hegemoni patriarki publik pada tokoh perempuan yang berupa pemisahan posisi kerja, pembedaan upah, ketidakhadiran perempuan dalam posisi penting di negara, terbatasnya hak perempuan dalam bidang hukum dan politik, kasus kekerasan fisik dan mental oleh laki-laki, terbatasnya perempuan dalam pendidikan dan tertindasnya kaum perempuan dalam media massa (Retno Putri Utami dkk, 2018). Topik lain yang serupa adalah penelitian yang dilakukan oleh Ely Rusliawati dan Ida Purnama Sari yang berjudul “Hegemoni dan Perlawanan: Interpretasi Gramscian terhadap Novel Di Kaki Bukit Cibalak” yang membahas praktik hegemoni melalui kebudayaan dalam novel tersebut melalui relasi kuasa, perlawanan hegemoni, praktik hegemoni melalui ideologi, dan praktik hegemoni melalui intelektual (Ely Rusliawati dan Ida Purnama Sari, 2023). Perbedaan kedua penelitian tersebut terletak pada bentuk hegemoni yang terdapat dalam kedua novel tersebut.
Penelitian pertama fokus pada hegemoni patriarki pada tokoh perempuan, sedangkan penelitian kedua fokus pada hegemoni budaya, ideologi, intelektual, dan perlawanan terhadap hegemoni. Pentingnya penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat baik dari segi agama, adat istiadat, kebiasaan, dan terutama yang menonjol di dalam novel adalah perlakuan yang diterima oleh tokoh Maryamah.
METODE PENELITIAN
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan objek yang berupa novel karya Andera Hirata berjudul “Cinta di Dalam Gelas”. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan melakukan kajian literatur bersumber dari buku atau jurnal baik dalam bentuk digital ataupun fisik. Analisis data menggunakan metode simak yang mana dilakukan dengan memperhatikan seksama serta mencatat aspek-aspek penting terkait penelitian yang dilakukan.