PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tindak pidana pornografi diatur dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan diatur dalam Undang-undang ITE Nomor 19 Tahun 2006 Pasal 27 ayat 1 apabila kedapatan menyebarkan konten yang bertentangan dengan kesusilaan. Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan pornografi adalah gambar, sketsa, gambar, foto, tulisan, suara, suara, gambar bergerak, animasi, kartun, dan percakapan.
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian ini berfungsi untuk menambah pengetahuan peneliti ilmu forensik mengenai perlindungan hukum terhadap pelaku sebagai korban penyebaran video asusila dan untuk mengetahui apa saja hambatan dalam memberikan perlindungan hukum bagi pelaku korban yang tidak menginginkan penyebaran video asusila.
Hipotesa
Perlindungan hukum terhadap korban penyebaran video asusila di dunia maya banyak menemui kendala dalam penyelesaiannya, karena perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat penegak hukum sulit menemukan identitas pelaku penyebaran video tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Hukum
Dalam hal ini, sistem sanksi dan pertanggungjawaban pidana tidak ditujukan pada perlindungan korban secara langsung dan konkrit, melainkan hanya perlindungan korban secara tidak langsung dan konkrit, melainkan perlindungan korban secara tidak langsung dan abstrak. Asas persamaan di depan hukum merupakan salah satu ciri negara hukum, begitu juga dengan korban yang seharusnya mendapat pelayanan hukum berupa perlindungan hukum. Perlindungan hukum adalah perlindungan terhadap hak asasi manusia yang dilanggar oleh orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat.
Perlindungan hukum adalah serangkaian upaya penegakan hak dan pemberian bantuan untuk menciptakan rasa aman bagi saksi dan/atau korban. Perlindungan hukum terhadap korban kejahatan sebagai bagian dari perlindungan masyarakat dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya saja kompensasi. Menurut Muchsin, perlindungan hukum adalah suatu kegiatan untuk melindungi individu dengan cara menyelaraskan hubungan antara nilai-nilai atau aturan-aturan yang diungkapkan dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan ketertiban dalam interaksi sosial antar sesama manusia. 10Setiono, Supremasi Hukum (Supremacy of Law), Surakarta, Magister Hukum, Program Pascasarjana Universitas Sebelas, Maret 2004, halaman 3. Perlindungan yang diberikan negara dengan tujuan mencegah pelanggaran sebelum terjadi.
Menurut pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 sebagai berikut: “Perlindungan hukum adalah suatu upaya yang dilakukan oleh keluarga, pengacara, lembaga sosial, polisi, jaksa, pengadilan atau pihak lain, yang bertujuan untuk memberikan rasa aman kepada korban. juga diatur dalam Pasal 28 D (1) yang berbunyi: Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, oleh karena itu merupakan perlindungan hukum.
Tinjauan Umum Tentang Pelaku
Van Hamel mengemukakan gagasan bahwa pelaku perbuatan menciptakan suatu definisi yang menjelaskan bahwa “pelaku hanyalah orang yang perbuatan atau perbuatannya memenuhi seluruh unsur kejahatan yang termasuk dalam definisi kejahatan”. pertanyaan, baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak.” dinyatakan secara eksplisit.” Artinya, seseorang yang menyuruh orang lain melakukan tindak pidana, dimana orang yang disuruh melakukan tindak pidana tersebut tidak dapat dimintai pertanggung jawaban. Jadi dalam hal ini orang yang memberi perintah dapat dihukum sedangkan orang yang diberi perintah tidak dapat dihukum. Yang bersangkutan harus dengan sengaja menghasut orang lain, sedangkan penghasutan itu menggunakan cara-cara pembayaran upah, perjanjian, penyalahgunaan kekuasaan atau martabat, dan sebagainya.
Terhadap orang yang disebutkan dalam ayat 2, yang dapat dipertanggungjawabkan hanyalah perbuatan yang dilakukannya dengan sengaja dan akibat perbuatan itu. Yang dimaksud dalam pasal di atas yang melakukan adalah orang yang bertindak seorang diri dalam melakukan tindak pidana atau dapat diartikan bahwa dialah satu-satunya pelaku dalam tindak pidana tersebut. yang dilakukan adalah pasal 55 KUHP. Namun tidak semua orang yang disuruh melakukan hal tersebut dapat dikenai tindak pidana, misalnya orang gila yang disuruh membunuh tidak dapat dihukum karena ia tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Demikian pula orang yang melakukan tindak pidana karena paksaan, bahkan orang yang melakukan tindak pidana karena perintah dari jabatannya, tidak dapat dihukum. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pelakunya bukan hanya orang yang melakukan tindak pidana itu sendiri dan yang pelanggarannya sesuai dengan kata-kata delik itu dalam undang-undang, tetapi juga orang-orang yang memerintahkan dilakukannya, orang-orang yang turut serta di dalamnya, dan orang-orang yang melakukan tindak pidana tersebut. orang. yang dengan bujukan, persetujuan, dan sebagainya memerintahkan dilakukannya tindak pidana.
Tinjauan Umum Tentang Korban
Selain itu, kerugian yang dialami korban bisa sangat besar dan dapat dinilai dalam bentuk uang. intangible yaitu perasaan takut, sedih, syok psikis dan lain sebagainya. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, korban adalah “orang yang menderita kerugian baik fisik, mental, dan harta benda akibat suatu kejahatan.” Selain peluang yang dilihat tersangka untuk melakukan tindak pidana, korban mempunyai peran yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu tindak pidana.
Dalam berbagai peraturan perundang-undangan, baik domestik maupun internasional, pengertian korban seringkali diperluas tidak hanya kepada orang-orang yang mengalami penderitaan secara langsung, namun juga kepada kerabat dekat korban atau orang-orang yang menjadi tanggungan korban, misalnya dalam penjelasan Pasal 36. . 3). UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme No. memperluas konsep korban kepada ahli warisnya, ayah, ibu, istri, suami dan anak. Dalam ilmu viktimologi disebut juga dengan multiple victimization, korban yang mengalami berbagai penderitaan seperti penderitaan mental, fisik, dan sosial terjadi ketika korban mengalami suatu tindak pidana setelah dilakukan penyidikan perkara. polisi dan pengadilan) dan setelah kejahatan dilakukan.
Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan jasmani, rohani, dan/atau kerugian ekonomi akibat suatu tindak pidana.”
Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana
- Pengertian Tindak Pidana
- Unsur-Unsur Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari konsep tindak pidana yang dikenal dalam hukum pidana Belanda. Menurut Ruslan Saleh, kejahatan adalah perbuatan yang bertentangan dengan ketertiban umum sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang. Menurut Mulyatno, kejahatan adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu undang-undang larangan, yang disertai dengan ancaman (akibat) terhadap pelakunya berupa kejahatan tertentu.
Soesilo, kejahatan adalah suatu perbuatan yang dilarang atau diwajibkan oleh undang-undang, ancaman untuk melakukan atau mengabaikannya diancam dengan hukum pidana. Menurut Vos, kejahatan merupakan perbuatan manusia yang dapat diancam dengan undang-undang, oleh karena itu ancaman pidana pada umumnya dilarang. Secara umum yang dimaksud dengan tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang (hukum pidana), yang disertai dengan ancaman (sanksi) berupa kejahatan tertentu terhadap orang yang melanggar aturan tersebut.
Suatu perbuatan dapat dikatakan tindak pidana apabila perbuatan tersebut melanggar sifat-sifat hukum pidana. Menurut pendapat EY.Kanter dan SR Sianturi, rumusan unsur-unsur tindak pidana antara lain meliputi.
Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Asusila
Sedangkan menurut Soesilo yang berjudul: Kejahatan Moral, kedudukan Siantur dalam masalah kesusilaan menggunakan istilah kejahatan asusila. Kejahatan moral adalah suatu peristiwa atau perbuatan/perbuatan dan/atau kejahatan dalam kesusilaan, yaitu bidang tingkah laku yang mengkaji baik buruknya nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan seksual, yang diatur dengan undang-undang dan disertai sanksi. Perbedaan antara Laden Marpaung dan Sianturi dengan Djoko Prakoso adalah selain Pasal 297 tentang penjualan anak di bawah umur dan Pasal 299 tentang aborsi, Laden Marpaung tidak mencakup Meskipun Sentuni dan Djoko Prakosome mengangkat pidana prostitusi, namun perbedaannya didasarkan pada: Laden Marpaung menilai Pasal 297 tentang penjualan anak dan Pasal 299 tentang aborsi tidak termasuk dalam moralitas.
15 Mudzakkir, Analisis Mekanisme Penanganan Hukum Kejahatan Akhlak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Badan Pembinaan Hukum Nasional 2010, diakses pada 21 Februari 2021 di 21.00 WIB. Menurut para ahli, kedudukan Sianturi dan Djoko Prakoso pada hakikatnya sama, persamaannya terletak pada konsep perilaku dari kanan atau weong erp dalam kaitannya dengan soometer. Mereka memandang percabulan sebagai kejahatan/perbuatan yang berkaitan dengan masalah seksual atau perilaku yang dianggap tidak bermoral.
Keinginan dari dalam diri itulah yang mendorong pelaku untuk melakukan adegan asusila, biasanya pelaku sedang atau siap menonton adegan dewasa di film porno, sehingga membuat pelaku ingin meniru apa yang dilihatnya di film tersebut. Kondisi yang memungkinkan, atau kondisi yang sangat aman dan mendukung untuk melakukan perbuatan maksiat, biasanya ditempat yang sepi dan remang-remang, misalnya di wisma.
Tinjauan Umum Tentang Cyber Crime
Menurut Wahid dan Labib, cybercrime adalah setiap penggunaan jaringan komputer untuk tujuan kriminal dan/atau penyalahgunaan kejahatan berteknologi tinggi dengan menyalahgunakan manfaat teknologi digital. Suatu kejahatan yang dilakukan terhadap suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah atau tanpa sepengetahuan pemilik sistem jaringan komputer tersebut. Menggunakan Internet untuk memata-matai orang lain dengan mengakses sistem jaringan komputer adalah kejahatan.
Kejahatan ini dilakukan dengan cara mengganggu, menghancurkan, atau memusnahkan data, program komputer, atau sistem jaringan komputer yang terhubung ke Internet. Badan Kepolisian Nasional (NPA) mendefinisikan terorisme siber sebagai serangan elektronik melalui jaringan komputer terhadap infrastruktur yang mempunyai dampak paling signifikan terhadap masyarakat suatu negara. dan masyarakat sosial. kegiatan ekonomi.. distribusi konten atau materi cabul, termasuk pornografi, konten tidak senonoh dan pornografi anak.. pelecehan seksual melalui email, situs web, atau program obrolan. CyberPornography adalah sebutan untuk pornografi di Internet yang berupa informasi, gambar, foto, video atau konten yang mengandung pornografi.
Beredarnya pornografi di dunia maya atau internet atau cyberporn mempunyai dampak yang sangat negatif yaitu dapat merusak pikiran manusia dalam artian setelah mengakses situs pornografi dapat mengarahkan orang untuk melakukan perbuatan buruk atau tindak pidana untuk menyalurkan hawa nafsunya, seperti pemerkosaan. pelecehan seksual, kekerasan, dll. Beberapa contoh kasus pemerkosaan bermula karena pelaku sebelumnya pernah melihat video porno, baik dalam CD pornografi maupun melalui situs yang menawarkan pornografi.
METODOLOGI PENELITIAN
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
- Metodologi Penelitian
- Jenis Penelitian
- Sifat Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Hasil Penelitian
- Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Penyebaran Video
- Pembahasan
- Kendala-Kendala dalam Memberikan Perlindungan Hukum
- Kesimpulan
- Saran
Penelitian ini dilakukan di POLDASU dengan memperoleh data-data yang diperlukan terkait dengan judul skripsi yaitu “Perlindungan Hukum bagi pelaku sebagai korban yang tidak mau menyebarkan video asusilanya”. Undang-undang Nomor 2008 seharusnya dapat melindungi korban dari peredaran pornografi yang dilakukan oleh pihak swasta, namun undang-undang ini tidak dapat melindungi korban jika korban dengan sengaja menjadikan dirinya sebagai objek pornografi, dan Pasal (1) dan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tidak dapat melindungi korban dari peredaran pornografi yang dilakukan oleh pihak swasta. Polisi juga mempunyai banyak kendala dalam memberikan perlindungan hukum kepada pelaku kejahatan yang menjadi korban penyebaran video pribadinya.
Pemerintah dan legislator harus mengeluarkan peraturan baru yang lebih ketat dan dapat menetapkan aturan siapa yang dapat disebut sebagai korban dan siapa yang dapat disebut sebagai tersangka dalam penyebaran video pribadi. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Frances Esther Vaticana Pitoy, Perlindungan hukum terhadap saksi dalam proses pidana berdasarkan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Jurnal Lex Crimen Vol.
Revel Devsing Hilinder, Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku kejahatan moral berdasarkan KUHP dan UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Universitas. Robbil Iqsal Mahendra, Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Korban Kejahatan Pornografi, Magister Hukum Universitas Diponegoro.