• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh motivasi, kesejahteraan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh motivasi, kesejahteraan"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

Tesis ini disusun sebagai tesis akhir dan syarat untuk memperoleh gelar magister pada Program Studi Magister Manajemen PPS STIE Nobel Indonesia dengan judul : “Pengaruh Motivasi, Kesejahteraan Dan Semangat Kerja Terhadap Kinerja Personil Pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus” Polda Sulawesi Selatan". Selatan (3) merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja personel di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

BAB I PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Apakah motivasi, kesejahteraan dan semangat kerja secara parsial berpengaruh terhadap kinerja personel di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan. Variabel manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja personel di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

Tujuan Penelitian

Apakah motivasi, kesejahteraan dan semangat kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan dan gaya komunikasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai, yang selanjutnya akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja sekretariat. Secara tidak langsung gaya kepemimpinan dan gaya komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja sekretariat melalui kinerja staf.

Pengertian Motivasi Kerja

Motivasi merupakan suatu kondisi yang mendorong personel untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Kebutuhan fisiologis, yaitu pada tingkat hierarki yang ada dan pada titik tolak teori motivasi terdapat kebutuhan fisiologis. Jika kebutuhan fisiologis terpuaskan secara cukup (belum tentu seluruhnya), maka kebutuhan pada tingkat berikutnya yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan rasa aman, mulai mendominasi perilaku manusia.

Ketika kebutuhan fisiologis seseorang dan kebutuhan akan rasa aman relatif terpuaskan, maka kebutuhan sosial menjadi kebutuhan. Dalam hierarki Maslow, tingkat berikutnya akan terlihat sebagai kebutuhan akan harga diri atau kebutuhan egoistik akan harga diri atau rasa hormat dari orang lain. Kelompok kedua, kebutuhan harga diri, mencakup kebutuhan yang berkaitan dengan reputasi individu, atau rasa hormat dari orang lain; kebutuhan akan status, pengakuan, harga diri dan rasa hormat dari orang lain.

Kebutuhan tersebut berupa kebutuhan individu untuk mewujudkan potensi yang ada dalam dirinya guna mencapai pengembangan diri dan kreativitas yang berkelanjutan dalam arti kata pribadi yang seluas-luasnya. Kesejahteraan adalah keadaan dimana kebutuhan relatif terpuaskan dan terdapat rasa aman dalam menikmatinya. Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya untuk sah mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan.

BAB III

Definisi Operasional Variabel

1. Motivasi kerja (X1) merupakan rangsangan yang datang baik dari dalam diri pegawai maupun dari luar, agar mereka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta mempunyai peluang yang besar untuk mencapai tujuan organisasi. 2. Kesejahteraan (X2) adalah terpenuhinya kebutuhan individu personel, baik berupa imbalan dan insentif yang diterima, hubungan kerja yang harmonis dengan imbalan dan insentif yang diterima, hubungan kerja yang harmonis dalam organisasi serta lingkungan kerja yang aman dan sehat . 3. Etos kerja (X3) merupakan perwujudan semangat kerja yang tinggi berupa pelaksanaan tugas tepat waktu, keaktifan dalam pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas tepat waktu, keaktifan dalam pelaksanaan tugas serta tanggung jawab pribadi dan organisasi.

Kinerja staf diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai staf dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, termasuk pencapaian tujuan kerja, kemampuannya dalam melaksanakan pekerjaannya, dan terpenuhinya dukungan yang diterimanya dalam lingkungan organisasi.

BAB IV

Tempat dan Waktu Penelitian

Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh personel mengenai kinerja personel Reserse Khusus Polda Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode total sampling yaitu dengan menentukan jumlah sampel sebanyak 156 personel polisi.

Jenis dan Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen Penelitian Uji validitas dan reabilitas Uji validitas dan reabilitas

Nasution (2010), menjelaskan suatu alat ukur dikatakan reliabel apabila pada saat mengukur suatu fenomena pada waktu yang berbeda, alat tersebut selalu menunjukkan hasil yang sama. Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan linier atau tidak signifikan. Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan terhadap asumsi klasik autokorelasi yaitu hubungan yang terjadi antara residu suatu observasi dengan observasi lain dalam model regresi.

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan dari asumsi heteroskedastisitas klasik yaitu ketidaksamaan varians dari residual seluruh observasi pada model regresi. Uji multikonlinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikonlinearitas yaitu adanya hubungan linier antar variabel independen dalam model regresi. Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah residu yang dihasilkan dari regresi berdistribusi normal atau tidak.

Skala Pengukuran Variabel

Teknik Analisis Data

Kemudian untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja (X1), kesejahteraan (X2) dan semangat kerja (X3) terhadap variabel yang bersangkutan yaitu kinerja pegawai (Y) maka dilakukan uji T secara parsial. tingkat signifikan a = 5% dan dengan satu derajat kebebasan (k) dan (n- k- l) dimana n adalah jumlah observasi dan k adalah variabel bebas. F < 5% maka Ho ditolak dan Hi diterima, yaitu secara simultan variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

F > 5% maka Ho diterima dan H1 ditolak yaitu secara simultan variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Pengujian hipotesis ini digunakan untuk menguji variabel independen yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap variabel dependen. Jika diantara variabel independen nilai koefisien regresi (R) lebih besar dibandingkan dengan variabel lainnya.

Karakteristik Responden

Dari data tersebut terlihat jumlah personel laki-laki dan perempuan hampir berimbang, artinya tidak ada sebaran personel yang dominan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel. Usia pegawai Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan tugas pokok dan juga terhadap peningkatan kinerja, lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.2 dibawah ini. Dengan demikian, pegawai Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel mayoritas berada pada usia produktif yaitu antara 31 – 50 tahun.Semakin bertambahnya usia pegawai maka kemampuan bekerja sama akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya pengalaman kerja.

Tingkat pendidikan responden merupakan tingkat pendidikan yang diselesaikan oleh personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

Masa Kerja

  • Uji Kualitas Data a. Uji Validitas
  • Pengujian Hipotesis 1. Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan perhitungan hasil uji reliabilitas setiap variabel dengan menggunakan program SPSS Versi 22 menunjukkan bahwa seluruh variabel reliabel, karena nilai alphacrombacht melebihi 0,60. Salah satu cara yang paling mudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat plot histogram yang membandingkan data observasi dengan sebaran yang mendekati distribusi normal (Ghozali, 2006) Uji normalitas data dapat dilihat pada Gambar 5.1. Untuk mengetahui apakah terdapat multikolinearitas pada model regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance dan kebalikannya Variance Inflation Factor (VIF), Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 5.11 di bawah ini.

Hasil uji heteroskedastisitas auditor dengan menggunakan uji Glejser ditunjukkan pada Gambar 5.2 di bawah ini. Karena nilai Sig > 0,05 maka dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas dan hasil pengujian dapat dilanjutkan. Rumusan regresi linier berganda di atas memperoleh nilai konstanta sebesar -1,166 yang artinya jika skor tersebut mencakup motivasi kerja, kesejahteraan dan semangat kerja maka nilainya konstan, begitu pula dengan kinerja pegawai Direktorat Reserse Kriminal Khusus Selatan. Polda Sulawesi. nilai -1,166.

Nilai koefisien regresi motivasi (yang berjumlah 0,411 poin. Nilai koefisien regresi kesejahteraan (X2) sebesar 1,267 artinya terdapat pengaruh positif kesejahteraan terhadap kinerja Personil Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel sebesar 1,267 , sehingga jika skor kesejahteraan meningkat sebesar 1 poin, maka akan diikuti dengan peningkatan skor terhadap kinerja Personil Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan sebesar 1,267 poin.Nilai koefisien regresi terhadap semangat kerja adalah 502 yang berarti terdapat pengaruh positif terhadap kinerja personel di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel yaitu sebesar 502 sehingga jika diperoleh skor semangat kerja meningkat sebesar 1 poin.

Tabel  5.10  Hasil Uji Reliablitas  No.
Tabel 5.10 Hasil Uji Reliablitas No.

Uji Statistik

Pengujian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen (Motivasi, Kesejahteraan dan Etos Kerja) yang berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Personil di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan pada tingkat signifikan α =5 . persen secara terpisah atau sebagian.

Tabel 5.14  Hasil Uji Parsial
Tabel 5.14 Hasil Uji Parsial

Koefisien Determinasi (R 2 )

  • Pembahasan Hasil Penelitian
  • Simpulan
  • Saran

Kesejahteraan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Personil di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan. pada tabel diatas diperoleh nilai signifikan sebesar 0,000<0,05 sehingga dapat disimpulkan H1 diterima. yang artinya etos kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja personel di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan. . Berdasarkan hasil analisis statistik terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi (X1), kesejahteraan (X2) dan semangat kerja (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja (Y) pada Direktorat Khusus. Investigasi Kriminal. Polda Sulawesi Selatan. Uji statistik ini membuktikan bahwa variabel motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja personel di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

Artinya motivasi yang ada di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel sudah mampu menunjang peningkatan kinerja personel di Badan Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja dan menjadikan variabel ini mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja itu sendiri. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arie Julianta (2014) Pengaruh semangat kerja pegawai, motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Deli Serdang.

Hasil uji koefisien regresi yang diperoleh menunjukkan bahwa kesejahteraan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan. Penelitian ini dibuktikan dengan jawaban responden yang mengatakan bahwa semangat kerja mempunyai pengaruh yang kuat dalam meningkatkan kinerja personel di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel. Secara parsial motivasi (sig 0,433< 0,05), kesejahteraan (sig 0,016< 0,05) dan semangat kerja (sig 0,000< 0,05) berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai Direktorat Reserse Kriminal Khusus Sulawesi Selatan. Kepolisian Daerah.

Artinya semakin baik motivasi, kesejahteraan dan semangat kerja pegawai maka kinerja pegawai di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel akan semakin meningkat. Variabel motivasi mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kinerja pegawai, hal ini menunjukkan bahwa semakin baik indikator semangat kerja maka secara langsung akan mempengaruhi kinerja pegawai di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan.

Gambar

Tabel  5.10  Hasil Uji Reliablitas  No.
Gambar 5.1  Uji Normalitas Data
Tabel  5.12  Hasil Regresi Berganda
Tabel 13  Hasil Uji F
+2

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini bertujuan untuk menggambarkan kegiatan komunikasi persuasif anggota kepolisian direktorat reserse kriminal Polda Banten dalam menginterogasi para saksi yaitu

Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan akan melaksanakan pelelangan jasa konsultansi dengan

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung Komisaris Besar Rudy Setiawan di dampingi Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Dra Sulistyaningsih mengatakan, Ali menghina Kapolri

KEPOLISIAN DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT RESERSE KRIMINAL KHUSUS.. DATA ANGGOTA YANG MENGIKUTI

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT RESERSE

terhadap para responden yang telah dilakukan oleh penulis di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu di Subdit II Harda Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda

Tidak ada penyedia yang meminta penjelasan terhadap dokumen pengadaan paket pekerjaan Pengadaan Makan Tahanan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali Tahun

Hambatan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana pengangkutan minyak illegal, antara lain: dari