Tugas
Pengembangan Ternak Prospektif
Rizky Amrullah Chaniago D1601222011
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2022
Kecoa Madagaskar Pendahuluan
Kecoa Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) merupakan kecoa asli dari pulau Madagaskar, kecoa ini merupakan jenis kecoa peliharaan paling populer di dunia. Beberapa nama lain yang mereka miliki antara lain Hissers, Hissing Cockroach, dan Hisser, nama ini sendiri didapatkan dari suara berdesis yang mereka hasilkan dari spirakel (saluran pernafasan pada bagian sisi tubuh) di bagian perut mereka. Dengan memaksa udara untuk melalui spirakel, kecoa dapat menghasilkan suara mendesis ketika mereka kawin, berkelahi, ataupun saat mereka terganggu. Baik kecoa jantan jantan maupun betina betina dapat mengeluarkan suara berdesis tersebut dari spirakel mereka. Kecoa Madagaskar merupakan satu dari beberapa jenis kecoa yang tidak mempunya sayap, selain itu kecoa ini memiliki bantalan khusus pada kaki mereka yang menjadikan kecoa Madagaskar sebagai pemanjat ulung yang dapat memanjat berbagai permukaan benda, termasuk plastik dan kaca.
Berbeda dengan kecoa rumah yang dapat ditemukan di sekitar kita (Periplaneta Americana), kecoa Madagaskar tidak mengeluarkan bau menyengat yang sering dikeluarkan oleh kecoa rumah saat merasa terancam. Keunikan kecoa ini dari ukuran mereka yang besar, kemudahan dalam pembudidayaan serta pemeliharaan dan suara mendesis yang mereka hasilkan membuat kecoa ini menjadi kecoa peliharaan paling populer di dunia.
Klasifikasi dan Morfologi Kecoa Madagaskar
Menurut Randall (2001), kecoa (Blattodea) memiliki lima famili yaitu Blattida, Blattellidae, Blaberidae, Cryptocercidae dan Polyphagidae. Pengklasifikasian kecoa Madagaskar menurut Centralpets.com (2003) adalah:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Dictyoptera Famili : Blaberidae Genus : Gromphadorhina
Species : Gromphadorhina portentosa.
Kecoa Madagaskar memiliki kepala, protoraks dan kaki yang berwarna hitam. Kecoa Madagaskar jantan memiliki sepasang antena yang berbulu dan terdapat tonjolan prenatal pada toraksnya yang terlihat seperti tanduk, sedangkan betina memiliki sepasang antena dan toraks yang lebih halus dengan tonjolan yang kecil atau tidak ada sama sekali (Darmo dan Ludwig, 1995).
Kecoa Madagaskar memiliki warna coklat yang bersinar, kepala, prothorax dan kaki yang berwarna hitam. Selain itu hewan ini juga memiliki sepasang antena, badan yang tipis dan lebar, memiliki prothoax yang menonjol pada jantan dan memiliki sepasang cerci pada ujung abdomen (Zooregon.org, 2002). Menurut Breen (2000), kecoa Madagaskar memiliki tiga bagian tubuh utama, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada kepala terdapat sepasang antena, sepasang rahang untuk mengunyah makanan, sepasang mata majemuk dan bagian penting lainnya. Toraks terbagi atas tiga bagian yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Setiap segmen dari toraks tersebut memiliki sepasang kaki. Kecoa Madagaskar tidak memiliki sayap pada fase dewasanya. Abdomennya terdiri atas sebelas atau lebih segmen, walaupun yang terlihat hanya delapan atau sembilan segmen. Menurut Bullington (2002), kecoa Madagaskar dewasa mirip dengan kumbang yang besar. Kecoa Madagaskar tidak memiliki sayap atau bahkan lapisan sayap pada setiap fase dalam siklus hidupnya. Kecoa Madagaskar dewasa dapat mencapai panjang tubuh 10 cm dengan berat sampai 24 gram, berwarna coklat gelap dengan warna oranye gelap pada daerah abdomen.
Prilaku Kecoa Madagaskar
Seperti kecoa lainnya, kecoa Madagaskar merupakan hewan nocturnal yang menghindari cahaya dan aktif pada kondisi gelap. Ketika hidup dalam koloni, spesies ini menampilkan suatu hirarki sosial yang jelas. Kecoa Jantan akan menetap dan mempertahankan wilayah teritorinya di batu ataupun struktur serupa lainnya selama beberapa bulan. Kecoa jantan hanya akan meninggalkan wilayah teritorinya dalam jangka waktu yang singkat untuk mendapatkan makanan dan air. Kecoa Madagaskar betina hidup berkelompok dan diketahui tidak berkelahi antar mereka ataupun dengan kecoa jantan. Dalam satu area yang dijaga oleh kecoa jantan dapat ditemui beberapa ekor kecoa betina dan nimfa dalam berbagai ukuran, namun hanya akan ada satu pejantan dalam area tersebut. Kecoa betina dan nimfa diperbolehkan untuk tinggal di dalam area yang dijaga oleh kecoa jantan. Namun ketika ada seekor kecoa jantan yang masuk ke dalam teritori pejantan lainnya, maka pertarungan antar kecoa jantan akan terjadi, dimana salah satu kecoa jantan akan memaksa jantan lainnya keluar dari teritori miliknya. Selama pertarungan tersebut berlangsung, akan terjadi banyak pergerakan maupun desisan-desisan yang muncul; walaupun begitu perkelahian yang terjadi tidak membahayakan pihak yang kalah. Pertarungan dari kecoa jantan ini terjadi dengan cara satu kecoa jantan menanduk kecoa jantan lainnya dalam suatu gerakan yang cepat. Perilaku perkawinan dari kecoa Madagascar kompleks dan melibatkan berbagai variasi postur dan desisan yang dilakukan oleh kecoa jantan untuk menarik perhatian kecoa betina. Seperti kebanyakan serangga lainnya, kecoa kawin dengan posisi membelakangi satu sama lain dengan alat kelamin mereka saling terhubung satu sama lain, dan proses kopulasi dapat berlangsung lama.
Siklus Hidup Kecoa Madagaskar
Serangga pada umumnya mengalami proses metamorfosis, yang dapat dibedakan menjadi dua yaitu metamorfosis tidak sempurna dan metamorphosis sempurna. Pada metamorfosis tidak sempurna sayap-sayap berkembang diluar selama tahapan pra-dewasa dan biasanya tidak ada tahapan tenang (pupa) sebelum pergantian kulit terakhir. Pada metamorfosis sempurna, sayap-sayap berkembang di bagian dalam selama tahapan pra-dewasa dan terdapat tahapan tenang atau pupa selama pergantian kulit terakhir. Serangga-serangga muda pada tipe metamorphosis sempurna disebut dengan nimfa dan bentuk tubuhnya mirip dengan yang dewasa, hanya berukuran lebih kecil (Borror et al., 1992). Menururt Clark dan Shanklin (1995) kecoa Madagaskar termasuk kedalam metamorfosis yang tidak sempurna yaitu dari telur (ootheca), nimfa dan fase dewasa.
Siklus hidup dari Kecoak Madagaskar lebih panjang dan berbeda dari kebanyakan beberapa Kecoak lainnya. Kecoak betina sebagai induk Kecoak bersifat ovoviparous, yaitu, mereka melahirkan Kecoak muda. Tapi dengan mengeram telur-telur dalam ootheca di dalam tubuh mereka. Serangga ini memiliki siklus hidup lengkap: telur, anakan dan dewasa.
Berikut ringkasnya siklus hidup Kecoak Madagaskar:
1. Telur (Ootheca): terkandung dalam tempat yang disebut ootheca yang masih tersimpan dalam tubuh indukan selama sekitar tiga bulan.
2. Anakan (Nimfa): dari lahir berwarna putih lalu menjalani proses pergantian kulit sebanyak enam kali dalam 5-10 bulan sebelum menjadi Kecoak dewasa secara seksual (dewasa).
3. Dewasa: Kecoak Madagaskar dewasa memiliki umur sekitar 1-3 tahun (kadang-kadang sampai 5 tahun) dengan pangjang bisa mencapai 4-7 cm.
4. Seekor Kecoak Madagaskar dewasa umumnya melahirkan dua sampai tiga kali dalam setahun.
Kecoa Madagaskar merupakan spesies kecoa ovovivipar yang berarti kecoa betina memproduksi telur yang nanti nya menetas dalam tubuh kecoa betina. Hal ini membuat kesan seakan-akan kecoa betina melahirkan anakan kecoa. Setelah dibuahi oleh kecoa jantan maka telur akan diinkubasi dalam kantung eram khusus di dalam tubuh kecoa betina. Telur kecoa disebut juga sebagai "ootheca" /egg sack (kantung telur), sebelum diinkubasi internal dalam tubuh kecoa betina, kecoa betina akan mengeluarkan separuh bagian dari ootheca ini keluar dari tubuh mereka untuk jangka waktu antara 30 hingga 60 menit sebelum ootheca tersebut ditarik masuk ke dalam tubuh kecoa betina untuk dierami. Masa kehamilan kecoa betina kurang lebih berlangsung selama 60 hari. Kecoa betina akan mengeluarkan nimfa (anak-anak kecoa) keluar dari tubuhnya setelah mereka menetas. Jumlah nimfa yang dikeluarkan oleh kecoa betina berkisar antara 20-40 ekor nimfa setiap kali beranak. Saat nimfa (anak kecoa) menetas mereka keluar dalam kondisi badan yang masih lunak dan berwarna putih seiring dengan waktu kulit nimfa yang masih lunak dan berwarna putih akan mulai mengeras dan berubah menjadi warna coklat Kecoa Madagaskar akan menunjukkan metamorfosa bertahap (perkembangan sebagai telur, nimfa, dan kecoa dewasa), dimana nimfa yang belum dewasa menyerupai kecoa dewasa namun berukuran lebih kecil. Nimfa akan melalui enam kali pergantian kulit (six nymphal instars) untuk menjadi kecoa dewasa. Waktu yang dibutuhkan seekor kecoa Madagaskar untuk menjadi kecoa dewasa kurang lebih adalah 5 bulan.
Perbedaan Jantan dan Betina Kecoa Madagaskar
Kecoa Madagaskar umumnya mempunyai umur harapan hidup rata-rata antara 2 hingga 3 tahun, walaupun terkadang ada beberapa individu yang dapat mencapai umur 5 tahun. Kecoa Madagaskar dewasa mempunyai panjang badan antara 1.5 hingga 3 inci dan berat antara 7 hingga 24 gram. Kecoa Madagaskar jantan memiliki dua tonjolan yang terletak di bagian atas kepalanya, sementara pada kecoa betina tonjolan di kepala tidak terlalu jelas terlihat dan cenderung terlihat rata. Perbedaan kelamin dari bentuk morfologi kecoa ini terutama terlihat jelas saat kecoa dibandingkan secara langsung.
Habitat dan Pakan
Kecoa merupakan makhluk yang hidup pada malam hari serta dapat ditemui di reruntuhan daun atau dibawah kulit kayu, atau dibalik kayu gelondongan yang jatuh.
Kebanyakan jenis kecoa merupakan hama rumah tangga dan bersarang di tempat yang gelap dan tersembunyi. Di alam, kecoa Madagaskar ditemukan di lantai hutan dan hanya terdapat di daerah Madagaskar. Seperti kecoa pada umumnya, kecoa ini aktif hanya pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari dibalik bangkai- bangkai pohon (Bullington, 2002). Kecoa Madagaskar hidup di daerah tropis, hewan ini hidup dengan baik pada suhu ruang (22,22- 24,44° C), pada suhu yang lebih tinggi (24,44° C) lebih aktif dan dapat berkembang biak.
Sebaliknya, pada suhu yang lebih rendah (18,89° C) hewan ini akan diam dan mungkin tidak dapat berkembangbiak (Darmo dan Ludwig, 1995). Kelembaban yang dibutuhkan kecoa Madagaskar adalah 75%-80% dan dapat hidup pada tempat yang bervolume 17500-28500 cm³, tergantung banyaknya kecoa yang dipelihara (Fouskaris, 2000).
Menurut Breen (2000), kecoa Madagaskar di alam mengkonsumsi material organik yang telah membusuk. Hal ini berarti bahan makanan apapun dapat diberikan termasuk buah- buahan, sayuran dan produk-produk daging. Kebutuhan nutrisinya biasanya dipenuhi melalui pemberian makanan ayam atau makanan anjing yang telah dihaluskan. Ditambahkan Maple (2007), bahwa kecoa lebih memilih makanan yang mengandung bahan makanan yang berasal dari tanaman daripada makanan yang berbahan dari hewan. Semua spesies kecoa adalah omnivora, meskipun ditempatkan dalam kurungan, akan tetapi hewan ini lebih menyukai campuran biji-bijian dan buah atau sayuran segar daripada produk-produk daging. Walaupun tidak memerlukan makanan segar tiap hari, kita tetap harus memperhatikan makanannya, sebab bila pakannya tidak cukup mereka akan memakan sesamanya (kanibal) (Vršanský, 2017).
Pernafasan Kecoa Madagaskar
Kecoak tidak memiliki tekanan darah seperti manusia. Mereka juga tidak punya jaringan pembuluh darah untuk dilalui darah. Mereka punya sistem peredaran darah terbuka dimana distribusi darah ke seluruh tubuh tidak selalu melewati pembuluh darah. Darah bisa secara langsung menuju ke jaringan tubuh tanpa melalui pembuluh. Meski tanpa kepala, kecoak tetap bisa bernafas melalui spirakel, lubang ventilasi kecil di bagian-bagian tubuhnya.
Sistem pernafasan kecoak tidak dikontrol oleh otak dan oksigen tak diangkut oleh darah.
Lubang spirakel itu langsung menuju ke jaringan tubuh melalui serangkaian tabung yang disebut trakea. Kecoa merupakan hewan poikiloterm atau berdarah dingin, menambah satu keuntungan lagi bagi kecoak. Mereka membutuhkan jauh lebih sedikit makanan dibanding manusia. Seekor kecoak bisa bertahan hidup tanpa makanan selama berminggu-minggu sampai cadangan makanan dalam tubuhnya habis.
Reproduksi
Kecoak Madagaskar tergolong kedalam hewan dimorfisme seksual, artinya bahwa Kecoak jantan dan betina memiliki dan terlihat dalam bentuk dan atau berprilaku yang berbeda pada saat musim kawin tiba. Dimorfisme seksual umumnya terjadi pada hewan di mana jantan dan betina memiliki peran yang berbeda pada saat kawin dan pacaran (misalnya, dalam hal merayu atau menarik perhatian si betina, rusa jantan akan berperilaku dengan tanduknya, merak jantan dengan bulu berwarna-warninya, dan jangkrik jantan berceletuk/bersuara dengan keras).
Dimorfisme seksual adalah perbedaan sistematik luar antar individu yang berbeda jenis kelamin dalam spesies yang sama. Contohnya mencakup ukuran, warna, dan keberadaan atau ketidakberadaan bagian tubuh yang digunakan dalam tampilan perkenalan atau perkelahian, seperti perhiasan bulu, tanduk, sungut atau taring.Perkawinan antar Kecoak Madagaskar dapat terjadi sepanjang tahun ketika kematangan seksual telah dicapai pada usia lebih kurang 7 bulan. Ketika Kecoak betina siap untuk kawin ia bisa mengeluarkan aroma khusus untuk menarik perhatian Kecoak jantan. Kecoak betina akan lebih memilih kawin dengan Kecoak jantan yang dominan.Perkawinan Kecoak hampir sama spektakulernya seperti pertempuran antar para jantan. Ketika si jantan pertama kali bertemu dengan betina, keduanya mulai mengadu antenanya masing-masing, tapi tentunya tidak dengan kekerasan. Kecoak betina mulai menyentuh ringan antena sang jantan dengan antenanya. Hal ini mendorong Kecoak jantan untuk mulai mondar-mandir di sekitar Kecoak betina, dan mengeluarkan suara mendesis, lalu Kecoak jantan juga membalas menyentuh ringan antene Kecoak betina dengan antenanya. Tak lama setelah itu, Kecoak jantan mulai menurunkan perutnya, mencoba meraih betina dari belakang. Lalu proses selanjutnya adalah Kecoak betina mengalami hal yang disebut mengandung. Kecoak Madagaskar memulai hidupnya dengan cara yang tidak biasa.
Kecoak betina membuat sebuah kokon seperti cangkang telur yang disebut juga dengan ootheca. Ootheca adalah sejenis telur massa (segumpalan telur) yang terdapat di berbagai spesies (biasanya serangga). Kecoak betina memproduksi ootheca ini dengan panjang 1 inci (2,5 cm) dengan warna cangkang putih hingga kekuningan. Mereka menyimpan ootheca ini di dalam perut atau tubuh mereka hingga masa penetasan tiba.
Budidaya dan Pemeliharaan Kecoa Madagaskar
Budidaya kecoa Madagaskar sebagai jenis pakan baru bagi hewan peliharaan didukung oleh cara pemeliharaan dan pembudidayaan mereka yang mudah dan praktis, selain didukung pula oleh kondisi iklim Indonesia yang tropis. Untuk dapat memelihara kecoa Madagaskar dengan baik, maka kecoa harus dipelihara di lingkungan yang gelap, lembab, dan terpencil, jauh dari keramaian. Mengenai masalah kelembaban dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar, beberapa orang terkadang salah menyimpulkan bahwa lembab adalah kondisi becek dan penuh air menggenang di area pemeliharaan, padahal yang dimaksud dengan kelembaban adalah kelembaban ruangan biasa untuk sebagian besar wilayah Indonesia pada umumnya. Indonesia, sebagai negara tropis dengan curah hujan yang tinggi telah mempunyai kondisi kelembaban yang memadai dan dibutuhkan dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar. Kondisi kelembaban yang normal dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar berada pada kisaran kelembaban 75%, kondisi kelembaban dalam lingkungan pemeliharaan dapat ditingkatkan dengan penyediaan wadah air minum atau misting/men-spray air dalam kandang kecoa Madagaskar. Pastikan kandang tempat pemeliharaan kecoa memiliki ventilasi yang baik dan jangan biarkan tempat pemeliharaan berada dalam kondisi yang terlalu kering. Pada saat kecoa berganti kulit maka mereka membutuhkan kondisi kendang yang lembab untuk memudahkan proses ganti kulit mereka, kondisi lingkungan pemeliharaan yang terlalu kering dapat menyebabkan kecoa gagal berganti kulit, jika ada kecoa Madagaskar yang mati pada ketika sedang berganti kulit maka kelembaban dalam lingkungan pemeliharaan harus ditingkatkan. Kondisi kandang pun
sebaiknya jangan sampai terlalu lembab karena akan mendorong pertumbuhan bakteri, jamur, larva lalat, kutu dan organisme lainnya. Suhu yang dibutuhkan dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar berada pada kisaran 24° - 29° Celsius. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan metabolisme dan aktifitas kecoa serta mendorong mereka untuk berkembang biak lebih cepat.
Kecoa Madagascar hidup nyaman dalam kondisi lingkungan yang hangat, walaupun begitu jangan tempatkan kecoa Madagaskar pada tempat dengan kondisi suhu yang sangat panas karena akan membunuh mereka. Kondisi lingkungan yang dingin akan menurunkan metabolism dan aktifitas kecoa, juga menurunkan kegiatan perkembang biakan mereka.
Temperatur yang rendah, di kisaran 21° Celsius ke bawah akan membuat kecoa menjadi lamban dan tidak aktif, jangan pernah memelihara kecoa Madagascar pada suhu yang lebih rendah dari 18° Celsius.
Elemen kritis dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar adalah luas lantai dalam area pemeliharaan, yang dimaksud dengan luas lantai disini adalah luas area pijakan kecoa di dalam kandang, yang semata-mata tidak hanya ditentukan oleh besaran panjang dan lebar kandang, akan tetapi dipengaruhi juga oleh media yang diletakkan dalam kandang dan berfungsi untuk memperluas area pijakan kecoa. Luas lantai menjadi penting dikarenakan luas lantai dalam kandang menentukan berapa banyak teritori yang terdapat dalam koloni kecoa di dalam kandang, dan oleh sebab itu membatasi jumlah kecoa jantan yang dapat tinggal di dalam satu kandang. Media yang dapat digunakan untuk memperluas luas lantai kecoa dalam kandang antara lain adalah egg tray/karton telur/tatakan telur, pot tanaman, batang kayu, batu, maupun media lain yang menyerupai. Di antara media-media yang telah disebutkan sebelumnya, egg tray merupakan media yang paling umum dipakai sebagai untuk memperluas luas area pijakan kecoa dalam kandang. Semakin banyak egg tray yang ditempatkan dalam kandang kecoa maka semakin besar luas lantai dalam kandang, dan semakin banyak populasi kecoa yang dapat dipelihara dalam satu kandang. Kecoa nantinya akan berkembang dan memenuhi seluruh luas lantai di dalam kandang, salah satu indikator bahwa populasi kecoa dalam suatu kandang sudah terlalu banyak dan mencapai batas ruang dan teritori yang tersedia dalam kandang adalah ketika mulai ditemukan kecoa madagaskar jantan, ataupun kadang kecoa betina dengan sungut/antena yang terpotong pendek.
Substrate/bedding yang dapat digunakan sebagai media alas kendang dalam pemeliharaan kecoa Madagaskar sangat beeragam, media seperti coco peat, coco chip, pakis kering, sobekan kertas koran, dan dedaunan umum digunakan sebagai bedding pemeliharaan kecoa Madagaskar. Untuk kebutuhan penggunaan kecoa Madagaskar sebagai display/pajangan dalam sebuah vivarium, penggunaan media yang bersifat natural dapat mempercantik vivarium kecoa Madagaskar sebagai pajangan, terlebih apabila dalam vivarium tersebut ditambah dengan komponen lain seperti gelondongan kayu, batu, tanaman asli maupun tanaman plastik.
Walaupun begitu dalam budidaya kecoa Madagaskar untuk kebutuhan budidaya kecoa sebagai pakan hewan lainnya, penggunaan substrate/bedding yang telah dicantumkan menimbulkan masalah, antara lain: nimfa kecoa yang bersembunyi atau menyelip masuk ke dalam substrate/bedding sehingga tidak dapat dipisahkan ataupun diambil, tingkat kesusahan dalam membersihkan kandang dimana frass (serbuk kotoran kecoa) lengket dan menempel pada media alas kandang sehingga sukar dibersihkan, dan berbagai hal lainnya. Sehingga dalam pemeliharaan kecoa Madagascar untuk kebutuhan diternakkan saya menyarankan pemeliharaan tanpa menggunakan substrate/bedding untuk mempermudah proses pembersihan kandang dan mengurangi tenaga yang harus dikeluarkan dan kerepotan yang ditimbulkan dari penggunaan substrate/bedding. Dikarenakan kemampuan dari kecoa Madagascar untuk memanjat, kandang pemeliharaan kecoa harus dapat ditutup secara memadai sehingga tidak memungkinkan kecoa untuk kabur dari kandang. Penggunaan tutup dengan model tutup kasa ataupun jenis penutup lain yang menyerupai dapat digunakan sebagai tutup kendang.
Pemberian pakan
Dalam lingkungan pemeliharaan kecoa Madagaskar mempunyai jenis pakan yang bervariasi. Dengan status kecoa Madagascar sebagai pemakan yang oportunis, maka makanan kering seperti dog food, cat food, koi food, pellet ikan, voor ayam, voor babi serta buah-buahan dan sayur dapat diberikan kepada mereka. Buah dan sayur seperti potongan jeruk, wortel,pisang yang telah dikupas kulitnya,sawi, apel, anggur, kentang, dan aneka sayur dan buah lainnya. Dikarenakan jenis pakannya yang sangat beragam, maka kecoa Madagascar sangat mudah di gut load (gut load merupakan proses dimana hewan pakan di besarkan dan diberi makanan bernutrisi dengan tujuan meneruskan nutrisi tersebut kepada hewan pemangsa dari hewan pakan tersebut) dengan jenis pakan yang bergizi tinggi dan memiliki kandungan zat yang esensial dan dibutuhkan oleh hewan peliharaan hobbyist baik untuk pertumbuhan maupun ketahanan tubuh hewan. Kemudahan dalam meng-gut load merupakan salah satu kelebihan dalam penggunaan kecoa Madagaskar sebagai hewan pakan di luar meat to shell ratio dan kandungan proteinnya yang tinggi. Kebanyakan hewan pakan yang tersedia dan dijual di penjual pakan (tukang burung, toko ikan, dan semacamnya) tidak terlalu mengandung nutrisi yang baik dikarenakan peternak ataupun penjual pakan pada umumnya hanya menggunakan satu atau dua jenis pakan saja dengan harga pakan yang cenderung ekonomis untuk hewan pakan yang mereka jual dengan tujuan menekan biaya produksi.
Oleh karena itu untuk tujuan memberikan nutrisi yang baik bagi hewan peliharaan, hewan-hewan pakan ini sebaiknya dipelihara dulu dan diberi pakan yang baik/gut loading sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 1 x 24 jam sebelum hewan pakan diberikan sebagai pakan pada hewan yang dipelihara. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meng-gut load kecoa Madagascar anda adalah dengan membuat sendiri "Roach Chow" (pakan kecoa) yang tepat dengan memix jenis pakan dengan zat dan nutrisi yang dibutuhkan oleh hewan peliharaan anda. Roach chow sendiri dapat dibuat dengan menumbuk atau memblender beraneka ragam jenis pakan kering menjadi satu.
Manfaat Kecoa Madagaskar
Walau dipandang merugikan, namun sebenarnya kecoak memiliki peranan penting untuk bumi. Mengutip dari Indiana Public Media, kecoak berperan sebagai pendaur ulang yang profesional untuk bumi kita. Mereka bisa memakan apa saja, seperti tumbuhan dan hewan yang telah mati ataupun kotoran hewan. Sistem pencernaan yang dimiliki kecoak mengandung bakteri dan protozoa, sehingga mereka bisa mendaur ulang atau mengubah limbah di lingkungan masyarakat menjadi nutrisi yang mudah diserap alam. Tidak hanya itu, limbah kecoak juga memberi nutrisi untuk tanaman yang sedang tumbuh. Dilansir dari Live Science, seorang profesor Universitas Texas, Srini Kambhampati, mengatakan jika membunuh lima ribu
sampai sepuluh ribu kecoak di permukaan bumi, bisa menyebabkan lingkungan sekitar rumah menjadi lebih kotor. Karena membunuh banyak kecoak sama saja dengan menghilangkan sumber makanan penting bagi beberapa burung dan mamalia kecil, seperti tikus. Akibatnya hewan ini lebih banyak berada di sekitar manusia untuk mencari sumber makanan penggantinya. Selain menghilangkan sumber makanan, membunuh kecoak sama saja dengan mengacaukan siklus nitrogen di alam. Serangga ini sangat suka memakan bahan organik busuk yang mengandung banyak nitrogen. Setelah makan, kecoak akan mengeluarkan kotoran yang memiliki nitrogen. Kotoran kecoak inilah yang bermanfaat untuk lingkungan, khususnya tanaman, kesehatan hutan serta keberlangsungan hidup untuk beberapa spesies hewan. Selain berperan penting untuk bumi, kecoak juga memiliki manfaat penting dalam ranah penelitian medis atau kesehatan. Serangga ini menghasilkan antibiotik alami yang digunakannya untuk bertahan hidup di tempat paling kotor. Para peneliti menjelaskan jika serangga menjijikkan ini juga memiliki sistem untuk menangkal bakteri yang resisten terhadap antibiotik, seperti staph aureus (bakteri patogen). Bahkan saat inipun banyak ilmuwan yang sedang mempelajari efisiensi kaki kecoak yang dapat membantu manusia dalam membangun robot, anggota tubuh mekanis serta bagian tubuh buatan untuk kepentingan medis yang lebih baik. Adapun manfaat dari kecoa adalah sebagai berikut:
1. Kecoa bermanfaat Bagai Kesehatan
Diluar dugaan, hewan yang dianggap menjijikkan ini sangat bagus untuk kesehatan dan kecantikan. Wan Fuming seorang yang membudidaya ternak kecoa madagaskar kerap menjadi pemasok kecoa ke berbagai perusahaan farmasi. Manfaatnya ternyata juga luar biasa. Kecoa dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit jantung sampai liver. Bahkan, serangga ini kerap dijadikan lotion luka bakar. Dalam dunia kecantikan, keampuhannya menyembuhkan kebotakan dan meningkatkan kesehatan kulit juga diakui.
Bahkan perusahaan besar kecantikan di Asia juga menggunakan ini untuk kosmetik.
2. Sebagai pakan ternak
Selain jangkrik, ternyata kecoa sangat bisa dijadikan pakan burung, salah satunya burung wallet, burung hias dan hewan peliharaan lainnya. Kalau di Indonesia sendiri, usaha budidaya ternak kecoa bisa diterapkan mengingat permintaan pasar yang cukup menjanjikan. Jadi kemungkinan bisa menjadi prospek besar. Jika tidak, bisa memilih alternatif ekspor karena nyatanya kecoa dibutuhkan untuk pengobatan dan kosmetik.
3. Menjadi nilai ekonomis
Kecoa Madagaskar bukanlah hewan asli Indonesia, namun bisa dibudidayakan di tanah air karena kecoa asal Amerika ini mudah untuk dibiakkan dan bisa beradaptasi. Kandang kecoa dibuat dari terrariu, yaitu akuarium khusus untuk reptil, atau bisa juga menggunakan kontainer plastik yang dibuat menyerupai habitat aslinya di hutan. Usahakan untuk menjaga kelebaban ruangan, dan jangan sampai kandang kecoa tersebut berjamur. Untuk pakan Kecoa Madagaskar, kita cukup memberikan buah, sayuran, atau pelet dengan porsi semangkuk per minggu. Menurut Mifta, ia hanya mengeluarkan biaya pakan untuk kecoa-nya sebesar Rp20.000 – Rp50.000 per bulan. Kecoa Madagaskar biasanya mulai produktif sejak berusia delapan bulan, dan sekali beranak akan menghasilkan 20 – 60 ekor anak kecoa. Harga kecoa Madagaskar ini dibanderol seharga Rp50.000 hingga Rp75.000 per pasang. Biasanya kecoa ini dijadikan pakan untuk hewan peliharaan lainnya, misalnya ikan, burung, reptil, dan lain-lain.
Kecoa Madagaskar disebut mengandung protein yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan jangkrik. Jadi, target market yang paling potensial saat ini adalah para pecinta hewan peliharaan seperti burung, khususnya burung kicau.
Daftrar Pustaka
Borror, DJ., CA. Triplehorn dan NI. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi ke- 6. Terjemahan drh. Soetiyono Prtosoedjono, M.Sc. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Breen, RG. 2000. The beatle tanks of the cockroach world: Hissing cockroach.
http://members.Aol.com/ MMcart 3475/ hroch.htm? mtbrand = AOL US [13 Maret 2023].
Bullington, SW. 2002. The Hissing Cockroach, Gromphadorhina portentosa (Schaum).
http://www.key-net.net/users/swb/pet_arthropod/hiss.htm [13 Maret 2023]
Central pets.com. 2003. Full taxonomi. http:/ www.central pets.com.phpscripts /full tex.php?animalnumber=2559 [12 Maret 2023].
Clark, D dan D. Shanklin. 1995. Madagaskar hissing roaches. University of Kentucky Collage of Agriculture.
Darmo, L. and Ludwig, F., 1995. Madagascan giant hissing roaches. Carolina Tips, 58(2), pp.5-6.
Fouskaris, J. 2000. Madagaskar hissing cockroach. (Gromphadorhina portentosa).
http://www.petsbug.com/caresheet/g-portentosa. [12 Maret 2023].
Maple, A.L., 2007. Nine-week insect unit: [an honors thesis] (HONRS 499).
Randall, J., 2011. Endemic infection in the German cockroach, Blattella germanica (Doctoral dissertation, Cardiff University).
Vršanský, P., Oružinský, R., Aristov, D., Wei, D.D., Vidlička, Ľ. and Ren, D., 2017.
Temporary deleterious mass mutations relate to originations of cockroach families. Biologia, 72(8), pp.886-912.
Zooregon org. 2003. Madagaskar hissing cockroach. http:// www.zooregon.org/ cards/ insect/
mad.cockroach.html [13 Maret 2023].