• Tidak ada hasil yang ditemukan

HGU DALAM UU CIPTA KERJA

N/A
N/A
mome

Academic year: 2024

Membagikan "HGU DALAM UU CIPTA KERJA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM AGRARIA

PERBANDINGAN ATURAN TERKAIT HGU YANG DIATUR DALAM UUPA DAN UUCK

Di Susun oleh :

Nama : APRILIA SANTIKA NIM : B2B024006

MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS BENGKULU

2024

(2)

PENDAHULUAN

Berdasarkan Pasal 28 ayat (1) UUPA, HGU diberi pengertian sebagai suatu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara selama jangka waktu tertentu, guna perusahaan pertanian, perikanan dan peternakan. Dengan demikian, berdasarkan pasal defenitif tersebut, pemberian HGU harus sesuai dengan tujuan penggunaan tanah, yaitu sebatas pada usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Namun, tidak menutup kemungkinan didirikannya bangunan-bangunan di atas tanah HGU selama berkaitan langsung dengan pengusahaan yang bersangkutan.

HGU merupakan suatu hak atas tanah yang dapat diperoleh oleh subjek hukum, dengan demikian, maka subjek hukum pemegang HGU hanya mempunyai kewenangan untuk mengusahakan tanah sebatas dengan wewenang untuk mengusahakan atau mengelola kekayaan alam yang tersedia berdasarkan ketentuan dalam UUPA. Berdasarkan UUPA, HGU merupakan hak atas tanah yang bersifat primer dan memiliki spesifikasi. Spesifikasi HGU tidak bersifat terkuat, terpenuh dan turun-temurun sebagaimana yang dipunyai oleh hak milik. Dalam artian, bahwa HGU hanya terbatas daya berlakunya walaupun dapat beralih dan dialihkan pada pihak lain .

Dalam UU Cipta Kerja dan PP 18/2021 Objek Tanah yang dapat diberi HGU meliputi:

1. Tanah negara

2. Tanah HPL yang berasal dari tanah negara dan tanah ulayat (vide Pasal 137 UU Cipta Kerja jo. Pasal 4 jo. 21 PP 18/2021). (UU Cipta Kerja dan PP 18/2021 tidak menentukan mengenai luas wilayah).

HGU merupakan hak yang berjangka waktu yang diberikan dengan pemberian, perpanjangan dan pembaruan yakni :

1. Diberikan dengan 1 (satu) siklus pemberian yakni: pemberian (pertama kali), perpanjangan dan pembaruan.

2. Pemberian HGU untuk pertama kali, diberikan dengan jangka waktu paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun. Untuk jangka waktu perpanjangan HGU, diberikan dengan jangka waktu paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan untuk pembaruan HGU diberikan jangka waktu paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun.

3. Untuk HGU yang berasal dari tanah negara dapat dilakukan perpanjangan minimal pada waktu usahanya telah efektif dan paling lambat diajukan sebelum berakhirnya jangka waktu HGU pemberian awal. Dalam hal pembaruan HGU, paling lama diajukan 2 (dua) tahun setelah berakhirnya HGU.

4. Untuk HGU di atas tanah HPL, jangka waktu perpanjangan dan pembaruan dapat dilakukan sekaligus dalam waktu minimal setelah usahanya efektif

(3)

PEMBAHASAN

Berhubungan dengan ketentuan mengenai HGU terjadi ketika pemerintah menerbitkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (pada tanggal 2 November 2020. Salah satu materi pengaturan dalam UU Cipta Kerja ialah klaster pengadaan tanah, dimana materi pengaturan dalam klaster tersebut, menuai perdebatan dikarenakan dari sepuluh substansi klaster y ang diatur dalam UU Cipta Kerja, klaster mengenai pengadaan tanah yang diatur dalam Bab VIII UU Cipta Kerja tidak memiliki undang-undang asal yang dirujuk untuk disederhanakan dalam arti dirubah atau bahkan dihapus. Dalam klaster tersebut, Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang menjadi rujukan untuk “disederhanakan” dalam UU Cipta Kerja.

Mengenai perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang menjadi rujukan penyederhanaannya, tanpa merujuk UUPA, substansi pertanahan yang dirumuskan tersebut bukan merupakan penyederhanaan regulasi karena UUPA sebagai undang-undang asalnya tidak dirujuk untuk dirubah atau dihapus

Terkhusus ketentuan mengenai HGU dalam UU Cipta Kerja, ditemukan suatu pengaturan tata kelola pertanahan yang baru mengenai HGU dalam UU Cipta Kerja, yakni, berdasarkan Bagian Keempat Paragraf 2 Pasal 138 ayat (2), HGU masuk dalam materi penguatan hak pengelolaan (selanjutnya disebut HPL), dimana berdasarkan pasal tersebut, kini HGU dapat lahir dari tanah HPL. Selanjutnya, diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak atas Tanah, Satuan Rumah Susun dan Pendaftaran Tanah (selanjutnya disebut PP 18 Tahun 2021) merupakan peraturan pelaksanaan sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 142 UU Cipta Kerja.

UUPA berisi asas hukum yang khusus sedangkan UU Cipta Kerja berkedudukan sebagai hukum yang umum. Konsekuensinya, UU Cipta Kerja tidak boleh mengandung substansi hukum yang bertentangan dengan UUPA dan begitu juga halnya dengan PP 18 Tahun 2021. Artinya, substansi PP 18 Tahun 2021 harus menjabarkan ketentuan baik UUPA maupun UU Cipta Kerja sepanjang ketentuan UU Cipta Kerja tidak bertentangan dengan UUPA; dan Berdasarkan Pasal 4 PP 18 Tahun 2021 dapat diketahui bahwa hak pengelolaan dapat berasal dari tanah negara dan tanah ulayat. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 21 PP 18 Tahun 2021 ditentukan bahwa HGU dapat diberikan di atas tanah negara dan tanah hak pengelolaan.

Jadi, berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa HGU dapat diberikan dari tanah yang berasal dari tanah negara dan tanah hak pengelolaan yang berasal dari tanah ulayat, yang mana merujuk pada rumusan ketentuan tersebut, yakni perolehan HGU yang berasal dari tanah ulayat, tidak diatur atau berbeda rumusan norma dengan ketentuan perolehan tanah HGU sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 28 ayat (1) UUPA, bahwa HGU “hanya” dapat diperoleh dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara (tanah negara).

(4)

Berdasarkan hal tersebut diatas, sejak diterbitkannya UU Cipta Kerja, tampak adanya ketumpang tindihan norma hukum mengenai HGU antara versi UUPA dan versi UU Cipta Kerja yang dapat menyebabkan inkonsistensi dan disharmonisasi pengaturan mengenai HGU, dikarenakan UU Cipta Kerja mengatur mengenai HGU namun tidak menjadikan UUPA sebagai dasar rujukannya. Serta, UU Cipta Kerja tidak pula secara langsung menentukan untuk mengubah serta membatalkan pengaturan HGU pada UUPA, yang mana pada posisi ini, UU Cipta Kerja yang mengatur mengenai HGU tidak menyebut relasinya dengan UUPA sementara substansinya mengubah beberapa norma HGU dalam UUPA.

Pengertian otentik dari HGU sebagai salah satu hak atas tanah dapat ditemukan dalam Pasal 28 ayat (1) UUPA dengan redaksi kalimat dalam ketentuan tersebut sebagai berikut:

“Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu sebagaimana tersebut dalam Pasal 29, guna perusahaan pertanian, perikanan atau peternakan”

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui batasan serta cakupan materi muatan yang akan diatur mengenai HGU dapat diketahui beberapa perubahan dan penambahan pengaturan mengenai HGU pasca diterbitkannya UU Cipta Kerja, yakni:

1) Pengaturan subjek hukum yang dapat memperoleh HGU bertambah dengan penambahan yaitu pihak lain yang akan menggunakan dan memanfaatkan tanah HGU di atas tanah HPL 2) Penambahan pengaturan bahwa subjek hukum pemegang HGU wajib melaksanakan

usahanya paling lama 2 (dua) tahun setelah HGU diperoleh.

3) Pengaturan objek tanah HGU dengan penambahan ketentuan bahwa HGU dapat pula lahir di atas tanah HPL.

4) Pengaturan perolehan atau terjadinya HGU dengan penambahan bahwa HGU tidak semata- mata lahir karena penetapan pemerintah tapi juga HGU dapat lahir setelah pemegang HPL melakukan perjanjian pemanfaatan tanah dan oleh dasar tersebut pemegang tanah HPL memberikan persetujuannya kepada menteri yang untuk selanjutnya menteri akan memberikan keputusan hak kepada pihak lain tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa HGU kini juga masuk dalam kualifikasi hukum perikatan.

5) Pengaturan terkait dengan peralihan HGU yakni HGU dapat mengalami peralihan tidak hanya karena HGU beralih, dialihkan atau dilepaskan tapi juga dapat mengalami peralihan karena haknya diubah.

6) Pengaturan terkait hapusnya HGU bertambah yakni dapat berakhir setelah berakhirnya perjanjian pemanfaatan tanah untuk HGU di atas tanah HPL.

7) Mengenai ketentuan jangka waktu HGU, ada sejumlah perubahan dan penambahan terkait dengan:

a. tahapan penguasaan

b. syarat penambahan waktu penguasaan c. total jangka waktu penguasaan.

Keberadaan UU Cipta Kerja mengatur mengenai materi pengaturan HGU yang terlebih dahulu telah ditentukan oleh UUPA. Kemudian, dalam posisi tersebut dapat diketahui sejumlah

(5)

perbedaan, perubahan dan penambahan prinsip dan materi ketentuan HGU antara UUPA dan UU Cipta Kerja. Namun dengan melihat konsideran “mengingat” serta ketentuan “penutup” dalam UU Cipta Kerja, dapat diketahui bahwa UU Cipta Kerja tidak menjadikan UUPA sebagai dasar rujukan dalam perumusan materi ketentuan HGU-nya serta tidak pula mencabut keberadaan pengaturan HGU dalam UUPA. Berdasarkan hal-hal tersebut, merujuk pada pedoman pencabutan peraturan peraturan perundang-undangan poin huruf “c” sampai dengan “h” tersebut di atas, maka untuk menciptakan suatu kepastian hukum, UU Cipta Kerja seharusnya menyebut UUPA sebagai dasar rujukan dikarenakan UU Cipta Kerja sebagai suatu produk peraturan perundang-undangan yang baru mengatur materi HGU sebagaimana yang terlebih dahulu telah digariskan oleh UUPA.

Kemudian terkait dengan sejumlah pebedaan, perubahan serta penambahan materi ketentuan HGU antara UU Cipta Kerja dan UUPA, dalam konteks pedoman pencabutan peraturan perundang-undangan tersebut di atas, maka sudah seharusnya UU Cipta Kerja menentukan untuk mencabut keberlakuan beberapa pasal dalam UUPA terkait dengan materi ketentuan HGU yang ditentukan berbeda, berubah dan bertambah oleh UU Cipta Kerja. Selanjutnya, dalam konteks pengertian mengenai HGU, dapat diketahui bahwa UUPA-lah yang pertama kali melahirkan istilah dan pengertian mengenai HGU. Berdasarkan istilah dan unsur pengertian mengenai HGU dalam UUPA kemudian lahir pasal-pasal materi muatan pengaturan mengenai HGU yang tidak keluar dalam batasan unsur pengertiannya. Sedangkan, baik dalam UU Cipta Kerja maupun dalam PP 18 Tahun 2021, tidak menyebutkan secara langsung pengertian mengenai HGU, namun UU Cipta Kerja hanya menentukan suatu materi HGU di luar dari batasan pengertian dan materi pengaturan HGU dalam UUPA.

UUPA memberikan pengertian bahwa HGU hanya dapat diperoleh dari tanah yang dikuasai negara, sedangkan UU Cipta Kerja (sebagaimana diketahui bahwa tidak menyebutkan pengertian baru mengenai HGU dan tidak pula membatalkan maupun merujuk pengertian mengenai HGU dalam UUPA) menentukan suatu materi pengaturan HGU diluar dari batasan pengertian yang ditentukan dalam UUPA yakni adanya HGU yang lahir di atas tanah HPL yang bersumber dari tanah hak ulayat. Berdasarkan hal tersebut, merujuk pada pedoman pendefinisian peraturan perundang-undangan huruf “a” dan “b”, dalam konteks pedoman dan posisi ini, seharusnya UU Cipta Kerja membatalkan pengertian HGU sebagaimana yang telah diletakkan oleh UUPA dan merumuskan serta menyebutkan secara langsung suatu pengertian baru mengenai HGU dalam UU Cipta Kerja untuk memberikan suatu kejelasan pengertian, batasan dan perubahan mengenai HGU sebagaimana yang dimaksudkan oleh UU Cipta Kerja.

(6)

KESIMPULAN

Pasca diterbitkannya UU Cipta Kerja, dapat ditemukan sejumlah in konsistensi pengaturan mengenai HGU dari segi bahasa hukum, prinsip dan materi yang disebabkan tiadanya keterangan atau ketentuan yang secara tegas menyatakan relasinya terhadap UUPA, dalam perumusan perundang-undangan tersebut. Hasilnya, ketiadaan pernyataan relasi dalam perumusan pengaturan HGU dalam UU Cipta Kerja menyebabkan persoalan-persoalan yang prinsipil yakni tumpang tindihnya pengaturan HGU, perbedaan orientasi dan prinsip pengaturan HGU serta perbedaan dalam penafsiran, sehingga hal tersebut membuka peluang terjadinya konflik norma pengaturan mengenai HGU. Selayaknya lembaga negara agar mengaktifkan kewenangannya yakni melakukan mekanisme pemantauan dan peninjauan sebagaimana yang dimaksud untuk melakukan evaluasi mengenai keberpihakan materi pengaturan HGU dalam UU Cipta Kerja, korelasi materi HGU dalam UU Cipta Kerja terhadap meretas ketimpangan penguasaan HGU di Indonesia serta juga melakukan evaluasi terhadap relevansi materi serta prinsip pengaturan HGU antara UUPA dan UU Cipta Kerja, sehingga diharapkan hasil kajian tersebut dapat menjadi bahan dalam program legislasi nasional dalam mewujudkan harmonisasi pengaturan mengenai HGU yang dapat mewujudkan kesempatan pemerataan manfaat yang adil dan berpihak bagi rakyat kecil.

Dapat diketahui beberapa perubahan dan penambahan pengaturan mengenai HGU pasca diterbitkannya UU Cipta Kerja, yakni:

1. Pengaturan subjek hukum yang dapat memperoleh HGU bertambah dengan penambahan yaitu pihak lain yang akan menggunakan dan memanfaatkan tanah HGU di atas tanah HPL 2. Penambahan pengaturan bahwa subjek hukum pemegang HGU wajib melaksanakan

usahanya paling lama 2 (dua) tahun setelah HGU diperoleh.

3. Pengaturan objek tanah HGU dengan penambahan ketentuan bahwa HGU dapat pula lahir di atas tanah HPL.

4. Pengaturan perolehan atau terjadinya HGU dengan penambahan bahwa HGU tidak semata- mata lahir karena penetapan pemerintah tapi juga HGU dapat lahir setelah pemegang HPL melakukan perjanjian pemanfaatan tanah dan oleh dasar tersebut pemegang tanah HPL memberikan persetujuannya kepada menteri yang untuk selanjutnya menteri akan memberikan keputusan hak kepada pihak lain tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa HGU kini juga masuk dalam kualifikasi hukum perikatan.

5. Pengaturan terkait dengan peralihan HGU yakni HGU dapat mengalami peralihan tidak hanya karena HGU beralih, dialihkan atau dilepaskan tapi juga dapat mengalami peralihan karena haknya diubah.

6. Pengaturan terkait hapusnya HGU bertambah yakni dapat berakhir setelah berakhirnya perjanjian pemanfaatan tanah untuk HGU di atas tanah HPL.

7. Mengenai ketentuan jangka waktu HGU, ada sejumlah perubahan dan penambahan terkait dengan:

a. tahapan penguasaan

b. syarat penambahan waktu penguasaan c. total jangka waktu penguasaan.

(7)

8. Terkait dengan tahapan penguasaan HGU, UU Cipta Kerja memperkenalkan istilah “siklus pemberian” yang meliputi pemberian (pertama kali), perpanjangan dan pembaruan. Yang mana ketika satu siklus pemberian tersebut berakhir maka pemegang HGU sebelumnya dapat memohon kembali dengan ketentuan secara mutatis mutandis berlaku sebagaimana ketentuan siklus pemberian HGU

9. Sehubungan dengan syarat penambahan waktu penguasaan, untuk HGU yang berasal dari tanah negara mendapat penambahan dan perubahan mengenai syarat perpanjangan dan pembaruan HGU yakni perpanjangan HGU minimal dapat dimohonkan pada saat usahanya telah efektif dan paling lambat sebelum berakhirnya jangka waktu HGU pemberian awal.

Dan untuk pembaharuannya ditentukan paling lambat dapat diajukan setelah berakhirnya HGU. Sementara untuk HGU yang lahir di atas tanah HPL dapat dilakukan perpanjangan dan pembaruan sekaligus dalam waktu minimal setelah setelah usahanya efektif

10. Untuk total waktu penguasaan HGU telah mengalami perubahan dan penambahan yakni baik HGU di atas tanah negara maupun yang lahir di atas tanah HPL dapat dikuasai dengan total satu siklus pemberian selama 95 (sembilan puluh lima) tahun penguasaan.

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian Hak Cipta tersebut diperkuat lagi dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menyatakan bahwa Hak Cipta merupakan

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tingkat ketelitian peta perencanaan umum ruang dan rencana rinci tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam

(4) Bagi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang tugas dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara langsung, selain uang penggantian

Berdasarkan ketentuan Pasal 51 UUPA menyatakan bahwa Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada Hak Milik, Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan sebagaimana diatur

a) Menurut Pasal 28 ayat (1) UUPA menyebutkan bahwa Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu tersebut dalam Pasal

PEMBAHASAN II.1 Permasalahan Substansi Undang-undang Cipta Kerja Dalam Bidang Agraria Tanah sebagai bagian dari bumi disebutkan dalam Pasal 4 ayat 1 UUPA yaitu atas dasar hak

Pasal 23 ayat 1 UUPA menentukan bahwa hak milik demikian pula setiap peralihan, hapusnya dan pembebananya dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan Pasal 19 UUPA dan

Pengertian Hak Cipta Definisi Hak Cipta menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta terdapat Pasal 1 ayat 1 bahwa Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul