• Tidak ada hasil yang ditemukan

HkPerd 5 Hukum Perkawinan

N/A
N/A
Andinii Pirli

Academic year: 2025

Membagikan "HkPerd 5 Hukum Perkawinan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM PERKAWINAN Mochammad Agus Rachmatulloh

A. Perkawinan Secara Umum

1. Dasar Hukum Perkawinan di Indonesia

 Buku 1 dari KUH Perdata, yaitu Bab IV sampai Bab XI.

 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

 UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

 PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

 PP No. 45 Tahun 1990 tentang Perubahan dan Tambahan PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS.

 Inpres No. 1 Tahun 1990 tentang KHI, yaitu Pasal 1 sampai 170.

2. Pengertian Perkawinan

Menurut UUP, perkawinan adalah ikatan lahir batin antar seorang pria dan seorang Wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut KHI, perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiishan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

3. Bentuk Perkawinan

a. Jumlah suami atau istri

 Perkawinan monogami

 Perkawinan poligami: Poligini dan Poliandri b. Asal suami istri

 Perkawinan eksogami

 Perkawinan endogami

 Perkawinan homogami

 Perkawinan heterogami c. Lain-lain

 Perkawinan cross cousin

 Perkawinan parallel cousin

 Perkawinan eleutherogami

B. Perkawinan Menurut KUH Perdata dan UU Perkawinan 1. Asas Monogami dalam Perkawinan dan Poligami

KUHPerdata

Hukum perkawinan yang diatur dalam KUHPerdata berasaskan monogami dan berlaku mutlak. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 27 KUHPerdata, menyatakan bahwa seorang laki-laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai istrinya, begitu sebaliknya, seorang perempuan henya boleh mempunyai satu orang laki-laki sebagai suaminya.

UUP

Dalam UUP berlaku juga asas monogami dalam perkawinan, sebagaimana pasal 3 ayat (1) menyatakan bahwa seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Akan tetapi, dalam pasal 3 ayat (2) UUP dinyatakan bahwa pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Ketentuan lebih lanjut terkait

(2)

poligami diatur dalam pasal 4 (pengajuan permohonan dan alasan permohonan) dan pasal 5 (syarat permohonan) UUP.

2. Syarat Sah Perkawinan KUHPerdata

Menurut KUHPerdata syarat sah perkawinan adalah:

 Berlaku asas monogami (pasal 27).

 Harus ada kebebasan kata sepakat antara antara kedua calon (pasal 28).

 Minimal umur pria adalah 18 tahun, sedangkan wanita 15 tahun (pasal 29).

 Ada masa tunggu bagi wanita yang bercerai, 300 hari sejak perkawinan terakhir bubar (pasal 34).

 Anak yang belum dewasa harus memperoleh izin kawin dari orang tuanya (pasal 35).

 Tidak terkena larangan kawin (pasal 30-33).

UUP

Menurut pasal 2 UUP, perkawinan sah jika dilakukan menurut hukum masing- masing agama dan kepercayaannya. Setiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lebih lanjut syarat perkawinan menurut pasal 6 UUP adalah:

 Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

 Untuk melangsungkan perkawinan bagi yang belum berumur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin cukup diperoleh dari yang masih hidup atau mampu menyatakan kehendaknya. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah selama masih hidup dan dapat menyatakan kehendaknya. Dalam hal perbedaan pendapat antara orang tua, wali dan keluarga atau salah seorang/lebih tidak tidak menyatakan pendapatnya, maka pengadilan atas permintaan dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar keterangan orang-orang tersebut.

 Ketentuan pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agama dan kepercayaannya dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

Selanjutnya menurut pasal 7 UU No 16 Tahun 2019 tentang perubahan UU No 1 Tahun 1974, bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Dalam hal adanya penyimpangan, dapat meminta dispensasi kepada pengadilan.

3. Larangan Perkawinan KUHPerdata

Dalam KUHPerdata ditegaskan bahwa perkawinan dilarang antara:

 Bertalian keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah atau dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara saudara laki-laki dan saudara perempuan (pasal 30).

 Ipar laki-laki dan ipar Perempuan, paman atau paman orang tua dan anak Perempuan saudara atau cucu Perempuan saudara, atau antara bibi atau bibi orang tua dan anak laki-laki saudara atau cucu laki-laki saudara (pasal 31).

 Kawan berzina setelah dinyatakan salah karena berzina oleh putusan hakim (pasal 32).

 Mereka yang memperbarui perkawinan setelah pembubaran perkawinan terakhir jika belum lewat 1 tahun (pasal 33).

UUP

Menurut pasal 8 UUP, perkawinan dilarang antara dua orang yang:

 Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas.

(3)

 Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antar seorang dengan saudara neneknya.

 Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri.

 Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, saudara susuan, dan bibi/paman susuan.

 Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.

 Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

Lebih lanjut dalam pasal 9 UUP, seorang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal:

 Mendapat izin dari pengadilan, diatur dalam pasal 3 ayat (2).

 Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, istri tidak dapat melahirkan keturunan, diatur dalam pasal 4 ayat (2).

Selanjutnya, dalam UUP juga disebutkan bahwa apabila suami dan istri telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum masing- masing agamanya dan kepercayaannya itui dari yang bersangkutan tidak menentukan lain (pasal 10).

4. Perjanjian Perkawinan KUHPerdata

Menurut KUHPerdata bahwa setiap perjanjian kawin harus dibuat dengan akta notaris sebelum perkawinan berlangsung dan perjanjian mulai berlaku semenjak saat perkawinan dilangsungkan (pasal 147). Perjanjian berlaku bagi pihak ketiga sejak hari pendaftaran di Kepaniteraan Pengadilan setempat, di mana perkawinan tersebut telah dilangsungkan (pasal 152). Setelah perkawinan berlangsung, perjanjian kawin dengan cara bagaimana pun tidak boleh diubah (pasal 149).

Dalam ketentuan pasal 139-142 KUHPerdata diatur mengenai hal-hal yang tidak dapat dimuat dalam perjanjian kawin, yaitu:

 Tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan.

 Tidak boleh melanggar kekuasaan suami sebagai kepala di dalam perkawinan.

 Tidak boleh melanggar hak kekuasaan orang tua.

 Tidak boleh melanggar hak yang diberikan UU kepad asuami atau istri yang hidup terlama.

 Tidak boleh melanggar hak suami di dalam statusnya sebagai kepala persatuan suami istri.

 Tidak boleh melepaskan haknya atas legitieme portie (hak mutlak) atas warisan dari keturunannya dan mengatur pembagian warisan dan keturunannya.

 Tidak boleh diperjanjikan bahwa sesuatu pihak harus membayar sebagian utang yang lebih besar dari pada bagian keuntungannya.

 Tidak boleh diperjanjikan dengan kata-kata umum, bahwa ikatan perkawinan mereka akan diatur oleh UU luar negheri, adat kebiasaan, atau peraturan daerah.

UUP

Menurut UUP, perjanjian perkawinan diatur dalam pasal 29 sebagai berikut:

 Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan Bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh PPN, begitu juga bilamana isinya berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga terlibat.

 Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.

 Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

(4)

 Selama perkawinan berlangsung, perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga (bila ada).

Dengan demikian, perjanjian perkawinan bisa dibuat dengan akta autentik dan bisa juga dibuat dengan akta di bawah tangan.

5. Pemberitahuan, Pencatatan, dan Pengumuman Perkawinan KUHPerdata

Menurut KUHPerdata, semua orang yang hendak kawin harus memberitahukan kehendaknya kepada pegawai catatan sipil tempat tinggal salah satu dari kedua belah pihak (pasal 50). Pemberitahuan ini harus dilakukan baik sendiri maupun dengan surat-surat yang dengan cukup kepastian memperlihatkan kehendak kedua calon suami istri, dan tentang pemberitahuan itu oleh pegawai catatan sipil harus dibuat sebuah akta (pasal 51).

Selanjutnya, pasal 52 KUHPerdata menyatakan bahwa sebelum perkawinan dilangsungkan, pegawai catatan sipil harus menyelenggarakan pengumuman dengan jalan menempelkan sepucuk surat pengumuman pada pintu utama dari pada gedung di mana register-register catatan sipil diselenggarakan. Pengumuman tersebut harus tetap tertempel selama 10 hari, serta tidak boleh dilangsungkan pada hari Minggu atau hari besar.

Lebih lanjut menurut KUHPerdata, jika kedua calon suami istri tidak mempunyai tempat tinggal yang sama, maka pengumuman harus dilakaukan oleh pegawai catatan sipil tempat tinggal masing-masing pihak (pasal 53 KUHPerdata). Pengumuman hanya berlaku 1 bulan, dan apabila dalam waktu itu tidak segera dilangsungkan perkawinan, maka perkawinan tidak boleh dilangsungkan lagi, dan untuk itu pengumuman harus diulang lagi (pasal 57). Pada asasnya suatu perkawinan dapat dibuktikan dnegan adanya akta perkawinan (pasal 100).

UUP

Pencatatan dan pengumunan perkawinan diatur dalam PP No. 9 tahun 1975 meliputi tahapan:

 Pegawai pencatat perkawinan, pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama dan kepercayaannya itu, selain agama Islam dilakukan pegawai pencatat perkawinan pada kantor catatan sipil (pasal 2).

 Pemberitahuan perkawinan, setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya kepad apegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan, sekurang-kurangnya 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan (pasal 3, 4, 5).

 Penelitian oleh pegawai pencatat, menurut pasal 6 bahwa pegawai pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan terlebih dahulu meneliti beberapa hal, mulai dari terpenuhinya syarat perkawinan sampai surat- surat dari pengadilan/pejabat yang berwenang (pasal 7).

 Setelah dipenuhi tata cara dan syarat pemberitahuan serta tiada suatu halangan perkawinan, pegawai menyelenggarakan pengumuman tentang pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan, dengan cara menempelkan surat pengumuman menurut formular yang ditetapkan pada kantor pencatatan perkawinanpada suatu tempat yang telah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum (pasal 8, 9).

6. Pelaksanaan Perkawinan KUHPerdata

Menurut pasal 71 KUHPerdata, sebelum melangsungkan perkawinan, pegawai catatan sipil harus meminta supaya diperlihatkan:

 Akta kelahiran masing-masing calon suami istri.

(5)

 Akta yang dibuat oleh pegawai catatan sipil dan didaftarkan dalam daftar izin kawin, atau akta otentik lain yang berisi izin bapak, ibu, kakek, nenek, wali atau wali pengawas, ataupun izin yang diperoleh dan Hakim, dalam hal-hal di mana izin itu diperlukan, izin itu juga dapat diberikan pada akta perkawinan sendiri.

 Dalam hal perkawinan kedua atau perkawinan berikutnya akta perkawinan suami istri yang dulu, atau akta perceraian, atau salinan surat izin dari Hakim yang diberikan dalam hal pihak lain dan suami atau istri tidak ada.

 Akta yang menunjukkan adanya perantaraan Pengadilan Negeri;

 Akta kematian dan mereka yang seharusnya memberikan izin kawin;

 Bukti, bahwa pengumuman perkawinan itu telah berlangsung tanpa pencegahan di tempat yang disyaratkan menurut Pasal 52 dan berikutnya, ataupun bukti bahwa pencegahan yang dilakukan telah dihentikan;

 Dispensasi yang telah diberikan;

 Izin untuk para perwira dan tentara bawahan yang menjadi syarat untuk melakukan perkawinan.

Lebih lanjut menurut KUHPerdata, pegawai catatan sipil berhak menolak untuk melangsungkan perkawinan berdasar atas kurang lengkapnya surat-surat yang diperlukan. Pihak-pihak yang berkepentingan dapat memajukan permohonan kepada hakim untuk menyatakan bahwa surat-surat itu sudah mencukupi (pasal 74).

Perkawinan tidak boleh dilangsungkan sebelum hari kesepuluh setelah hari pengumumannya (pasal 75).

Perkawinan harus dilangsungkan di muka umum, di hadapan pegawai catatan sipil tempat tinggal salah satu dari kedua belah pihak, dna dengan dihadiri oleh 2 orang saksi, baik keluarga maupun bukan keluarga, telah mencapai umur 21 tahun dan berdiam di Indonesia (pasal 76). Untuk melangsungkan perkawinan, kedua calon suami istri menghadap sendiri di muka pegawai catatan sipil (pasal 78).

UUP

Selain dalam UUP, juga diatur dalam PP No. 9 tahun 1975, perkawinan dilangsungkan hari kesepuluh sejak pengumuman kehendak perkawinan oleh pegawai pencatat. Tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Perkawinan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh 2 orang saksi (pasal 10).

Sesaat setelah dilangsungkannya perkawinan, kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Akta perkawinan yang telah ditandatangani kedua mempelai, selanjutnya ditandatangani pula oleh kedua orang saksi dan pegawai pencatat nikah yang menghadiri perkawinan, dan bagi perkawinan menurut agama Islam, ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang mewakilinya. Dengan selesai proses penandatanganan maka perkawinan telah tercatat secara resmi (pasal 11). Akta perkawinan dibuat dalam rangkap 2, dan kepada suami istri masing-masing dib erikan kutipan akta perkawinan (pasal 13).

7. Pencegahan Perkawinan KUHPerdata

Alasan-alasan pencegahan perkawinan menurut pasal 61, yaitu:

 Tidak mengindahkan izin kawin dari orang tuanya.

 Belum mencapai usia 30 tahun.

 Salah satu pihak ditaruh di bawah pengampuan karena ketidaksempurnaan akal budinya.

 Salah satu pihak tidak memenuhi syarat untuk kawin.

 Pengumuman kawin tidka telah berlangsung.

 Salah satu oihak ditaruh di bawah pengampuan karena tabiatnya yang boros perkawinan mereka tampaknya akan membawa ketidakbahagiaan.

(6)

Pencegahan perkawinan diadili di pengadilan negeri, sesuai daerah hukum pegawai catatan sipil yang harus melangsungkan perkawinan mempunyai tempat kedudukan (pasal 66). Menurut ketentuan pasal 61-65 para pihak yang berhak mencegah berlangsungnya suatu perkawinan adalah:

 Bapak atau ibu.

 Kakek atau nenek.

 Paman dan bibi.

 Wali atau wali pengawas.

 Pengampu atau pengampu pengawas.

 Saudara laki-laki atau saudara Perempuan.

 Suami yang sudah cerai dapat mencehag perkawinan bekas istrinya sebelum 300 hari lewat, setelah pembubaran perkawinan.

 Jawatan kejaksaan.

UUP

Perkawinan dapat dicegah apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan (pasal 12). Para pihak yang dapat mencegah terjadinya perkawinan menurut pasla 14 ayat (1) adalah sebagai berikut:

Para keluarga dalam garis lurus ke atas dan ke bawah dari salah seorang mempelai.

 Saudara dari salah seorang mempelai.

 Wali nikah dari salah seorang mempelai.

 Wali dari salah seorang mempelai.

 Pengampu dari salah seorang mempelai.

 Pihak-pihak yang berkepentingan.

Selanjutnya menurut pasal 15, barang siapa karena perkawinan dirinya masih terikat dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkawinan, dapat mencegah perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 3 ayat (2), yang intinya tidak dapat mencegah apabila perkawinan tersebut mendapat izin dari pengadilan.

Menurut pasal 16 ayat (1), pejabat yang dapat ditunjuk berkewajiban mencegah berlangsungnya perkawinan apabila:

 Usia pria dan Wanita belum terpenuhi (pasal 7 ayat (1).

 Terkena larangan perkaiwnan (pasal 8).

 Seseorang masih terikat perkawinan dengan orang lain (pasal 9).

 Suami istri bercerai untuk kedua kalinya (pasal 10).

 Tidak memenuhi tata cara pelaksanaan perkawinan (pasal 12).

8. Pembatalan Perkawinan KUHPerdata

Menurut pasal 85, pembatalan suatu perkawinan hanya dapat dinyatakan oleh hakim. Selanjutnya pada pasal 86, pembatalan suatu perkawinan dapat diajukan oleh:

 Orang yang karena perkawinan lebih dahulu telah terikat dengan salah satu dari suami istri.

 Suami atau istri itu sendiri.

 Para keluarga dalam garis lurus ke atas.

 Jawatan kejaksaan.

 Setiap orang yang berkepentingan atas pembatalan tersebut.

Sedangkan pasal 92 menyebutkan bahwa pembatalan suatu perkawinan yang dilangsungkan tidak di depan pegawai catatan sipil yang berwenang, atau dilangsungkan tanpa dihadiri oleh sejumlah saksi sebagaimana mestinya, maka diajukan pembatalan oleh:

 Suami atau istri itu sendiri.

 Para keluarga sedarah dalam garis ke atas.

(7)

 Wali atau wali pengawas.

 Jawatan kejaksaan.

 Setiap orang yang berkepentingan.

Pasal 93 mengatur larangan terhadap pihak-pihak tertentu untuk melakukan pembatalan, yaitu:

 Anggota keluarga sedarah dalam garis ke samping.

 Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan lain.

 Orang lain yang bukan keluarga selama suami istri masih hidup.

Suatu perkawinan walaupun telah dibatalkan, tetap mempunyai segala akibat hukum perdata, baik terhadap suami istri maupun terhadap anak-anak mereka, asalkan perkawinan tersebut telah dilakukan dengan iktikad baik (pasal 95).

UUP

Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan (pasal 22). Yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan menurut pasal 23 adalah:

 Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau istri.

 Suami atau istri.

 Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputus.

 Pejabat yang ditunjuk dalam pasal 16 dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan putus.

Ditegaskan dalam pasal 24, bahwa barang siapa karena perkawinan masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adnaya perkawinan dapat mengajukan permbatalan perkawinan yang baru.

Menurut pasal 27 ditegaskan bahwa seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila:

 Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum.

 Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau istri.

Menurut pasal 28, batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak berlangsungnya perkawinan. Putusan tidak berlaku surut terhadap:

 Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut.

 Suami istri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta Bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan adanya perkawinan lain yang lebih dahulu.

 Orang ketiga lainnya, sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan iktikad baik sebelum putusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap.

Dengan demikian, batalnya suatu eprkawinan hanya dapat diputuskan oleh pengadilan (pasal 37).

9. Hak dan Kewajiban Suami Istri KUHPerdata

Hak dan kewajiban suami istri menurut KUHPerdata antara lain:

 Suami istri harus setia dan tolong-menolong (pasal 103).

 Suami istri wajib memelihara dan mendidik anak mereka (pasal 104).

 Setiap suami adalah kepala dalam persatuan suami istri (pasal 105 ayat (1)).

 Suami wajib memberi bantuan kepada istrinya (pasal 105 ayat (2)).

 Setiap suami harus mengurus harta milik pribadi istrinya (pasal 105 ayat (3)).

 Setiap suami berhak mengurus harta kekayaan Bersama (pasal 105 ayat (4)).

 Suami tidak diperbolehkan memindahtangankan atau membebani harta kekayaan tidak bergerak milik istrinya tanpa persetujuannya (pasal 105 ayat (5)).

 Setiap istri harus tunduk dan patuh pada suaminya (pasal 106 ayat (1)).

 Setiap istri wajib tinggal bersama suaminya (pasal 106 ayat (2)).

(8)

 Setiap suami wajib membantu istrinya di muka hakim (pasal 110).

 Setiap istri berhak membuat surat wasiat tanpa izin suaminya (pasal 118).

Menurut pasal 111, bantuan suami kepada istrinya tidak diperlukan apabila:

 Istri dituntut di muka hakim karena perkara pidana.

 Istri mengajukan tuntutan kepada suaminya untuk perceraian, pemisahan meja dan tempat tidur, atau pemisahan harta kekayaan.

UUP

Hak dan kewajiban dari suami istri dalam UUP diatur dalam pasal 30 sampai 34, yaitu:

 Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan Masyarakat.

 Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan sumai dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup Bersama dalam Masyarakat.

 Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbutana hukum.

 Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga.

 Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap dan rumah tempat kediaman ini ditentukan secara bersama-sama.

 Suami istri wajib saling cinta-mencintai, hormat-menghormati, setia dna memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

 Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

 Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

 Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan ke pengadilan.

10. Harta Benda dalam Perkawinan KUHPerdata

Persatuan harta kekayaan

Percampuran kekayaan adalah mengenai seluruh aktiva dan pasiva, baik yang dibawa oleh masing-masing pihak ke dalam perkawinan maupun yang akan diperoleh kemudian hari selama perkawinan. Menurut pasal 119, prinsip harta benda perkawinan yaitu harta persatuan bulat antara suami istri. Yang berwenang bertindak atas harta perkawinan adalah suami, baik untuk harta pribadi istri (pasal 105, suami sebagai kepala perkawinan) maupun harta persatuan (pasal 124 ayat (1), suami sebagai kepala harta persatuan).

Pada pasal 124 ayat (2), suami diperbolehkan menjual, memindahtangankan dan membebani harta kekayaan persatuan, tanpa campur tangan istri, kecuali dalam hal:

 Tidak diperbolehkan menghibahkan barang tidak bergerak dan semua barang bergerak dari harta persatuan, kecuali untuk memberi kedudukan kepada anak- anaknya (pasal 124 ayat (3)).

 Tidak diperbolehkan menghibahkan suatu barang bergerak tertentu, meskipun diperjanjikan tetap menikmati hasil atas barang tersebut (pasal 124 ayat (4)).

 Dalam suatu perjanjian kawin dapat ditentukan, bahwa barang tidak bergerak dan piutang atas nama istri yang jatuh dalam persatuan tanpa persetujuan istri tidak dapat dipindahtangankan atau dibebani (pasal 140 ayat (3).

Jika suami tidak hadir atau tidak mampu menyatakan kehendaknya, dan dibutuhkan Tindakan dengan segera, maka istri dapat minta izin pengadilan untuk memindahtangankan atau membebabi (pasal 125).

Menurut pasal 126, harta kekayaan persatuan demi hukum menjadi bubar karena:

 Kematian salah satu pihak.

 Berlangsungnya perkawinan baru istri atas izin hakim, setelah adanya keadaan tidak hadir suami.

 Perceraian.

(9)

 Perpisahan meja dan tempat tidur.

 Perpisahan harta kekayaan.

Setelah bubarnya harta persatuan, maka harta dibagi menjadi 2 antar suami dan istri, atau antara para ahli waris mereka masing-masing, tanpa mempersoalkan dari pihak yang mana barang-barang tersebut diperoleh (pasal 128 ayat (1)).

Pemisahan harta kekayaan

Menurut pasal 186 ayat (1), selama perkawinan setiap istri berhak mengajukan tuntutan kepada hakim akan pemisahan harta kekayaan, dalam hal-hal sebagai berikut:

 Suami karena kelakuannya yang nyata dan tidak baik, telah memboroskan harta kekayaan persatuan, dan membahayakan keselamatan keluarga.

 Suami karena tidak adanya ketertiban dan cara yang baik dalam mengurus harta kekayaannya sendiri, sehingga jaminan akan terpelihara harta istri menjadi berkurang.

 Suami tidak baik caranya dalam mengurus harta kekayaan istri, sehingga kekayaannnya terancam bahaya.

Menurut pasal 186 ayat (2), pemisahan harta kekayaan atas pemufakatan sendiri adalah terlarang. Selanjutnya, pasal 187 menyebutkan bahwa tuntutan akan pemisahan harta kekayaan harus diumumkan dengan terang-terangan.

Menurut pasal 189, kekuatan putusan pengadilan berlaku surut sampai hari tuntutan diajukan. Sebagai akibatnya, timbul beberapa hal berikut:

 Istri wajib memberikan sumbangan guna membiayai rumah tangga dan pendiikan anak-anak (pasal 193).

 Istri memperoleh kebebasan untuk mengurusi sendiri harta kekayaannya dan boleh menggunakan barang bergeraknya sesukanya atas izin dari pengadilan (pasal 194).

Persatuan setelah dibubarkan karena pemisahan harta kekayaan boleh dipulihkan Kembali dengan persetujuan suami istri. Persetujuan dibuat dalam sebuah akta autentik (pasal 196). Suami istri wajib mengumumkan pemulihan Kembali akan persatuan harta kekayaan dengan terang-terangan (pasal 198).

UUP

Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta Bersama. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri serta harta benda yang diperoleh masing- masing sebagai hadiahatau warisan adalah di bawah pengawasan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain (pasal 35).

Yang berwenang bertindak atas harta benda perkawinan menurut pasal 36 yaitu:

 Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

 Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Selanjutnya dalam pasal 37, apabila perkawinan putus karena perceraian, maka harta Bersama diatur menurut hukum agamanya masing-masing.

11. Putusnya Perkawinan KUHPerdata

Menurut pasal 199, perkawinan putus atau buar dikarenakan:

 Kematian.

 Kepergian suami atau istri selama 10 tahun dan diikuti dengan perkawinan baru dengan orang lain.

 Putusan hakim setelah adanya perpisahan meja makan dan tempat tidur selama 5 tahun.

 Perceraian.

Perpisahan meja dan tempat tidur adalah perpisahan antara suami dan istri yang tidak mengakhiri pernikahan. Akibatnya adalah meniadakan kewajiban bagi suami istri

(10)

untuk tinggal bersama, meskipun di bidang hukum harta benda adalah sama dengan perceraian. Akibat dari perpisahan meja dan tempat tidur, antara lain:

 Suami istri dapat meminta pengakhiran pernikahan di muka pengadilan, apabila perpisahan tersebut telah berjalan 5 tahun dengan tanpa adanya perdamaian (pasal 200).

 Pembebasan dari kewajiban bertempat tinggal Bersama (pasal 243).

 Berakhirnya persatuan harta kekayaan (pasal 243).

 Berakhirnya kewenangan suami untuk mengurus harta kekayaan istri (pasal 244).

Perceraian adalah pengakhiran suatu perkawinan sebab Keputusan hakim atas tuntutan dari salah satu pihak atau kedua belah pihak dalam perkawinan. Menurut pasal 208, perceraian atas persetujuan suami istri tidak diperkenankan. Alasan-alasan yang dapat mengakibatkan perceraian menurut pasal 209, yaitu:

 Zina.

 Meninggalkan tempat tinggal Bersama dengan iktikad jahat selama 5 tahun.

 Mendapat hukuman penjara 5 tahun atau lebih karena dipersalahkan melakukan suatu kejahatan.

 Penganiayaan berat yang dilakukan suami terhadap isytri atau sebaliknya, sehingga membahayakan jiwa pihak yang dilukai/dianiaya.

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah:

 Kewajiban suami atau istri memberikan tunjangan nafkah kepada suami atau istri yang menang dalam tuntutan perceraian (pasal 222). Kewajiban tersebut berakhir dengan meninggalnya suami atau istri (pasal 227).

 Pengadilan menetapkan siapa dari kedua orang tua yang akan melakukan perwalian terhadap anak mereka (pasal 229).

 Apabila suami dan istri yang telah bercerai hendak melakukan kawin ulang, maka demi hukum akibat perkawinan pertama hidup Kembali, seolah-olah tidak ada perceraian (pasal 232).

UUP

Putusnya perkawinan diatur dalam pasal 38 sampai 41. Menurut pasal 38, perkawinan dapat putus karena: kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan.

Menurut pasla 11 ayat (1), bagi seorang Wanita yang putus pekawinannya berlaku jangka waktu tunggu. [asal 39 PA No. 9 Tahun 1975 menyebutkan, bahwa masa tunggu (iddah) bagi seorang janda adalah:

 Putus karena perkawinan ditetapkan 130 hari.

 Putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih dating bulan ditetapkan 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, sedangkan bagi yang Sudha tidak dating bulan ditetapkan 90 hari.

 Perkawinan putus bagi Perempuan (janda) dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

12. Perkawinan di Luar Indonesia dan Perkawinan Campuran KUHPerdata

Menurut pasal 83, perkawinan yang dilangsungkan di luar Indonesia, baika antara WNI satu sama lain, maupun antara WNI dan WNA adalah sah, apabila selama perkawinan tersebut dilangsungkan menjurut cara yang lazim dalam negeri, di mana perkawinan dilangsungkan, dan suami istri WNI tidak melanggar ketentuan dalam KUHPerdata. Selanjutnya pasal 84, dalam waktu 1 tahun setelah suami istri kembali ke wilayah Indonesia, maka perkawinan tersbeut harus didaftarkan dalam daftar pencatatan perkawinan sesuai dnegan tempat tinggal mereka.

UUP

Disebutkan dalam pasal 56 ayat (1), di mana perkawinan yang dilangsungkan di luar Indonesia antara 2 orang WNI atau seorang WNI dengan WNA adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan itu dilangsungkan dan bagi WNI tidak melanggar ketentuan UUP. Selanjutnya dalam

(11)

pasal 56 ayat (2), dalam waktu 1 tahun setelah kembali di Indonesia, harus didaftarkan di kantor pencatatan perkawinan tempat tinggal mereka.

Perkawinan campuran adalah perkawinan antara 2 orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan asing dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia (pasal 57).

- Terimakasih -

“Semoga Manfaat dan Barokah”

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya perkawinan akan menimbulkan akibat baik terhadap suami istri, harta kekayaan maupun anak yang dilahirkan dalam perkawinana. Akibat Perkawinan Terhadap

3) pendapat yang lain mengatakan khiṭāb untuk kedua pasangan suami istri, jadi yang mengutus ḥakam adalah kedua suami istri tersebut. Ibnu al-Sudi berkata: kalimat khiftum

dengan akad nikah lagi. Talak raj’i ini dijatuhkan suami kepada istrinya untuk pertama kalinya atau kedua kalinya dan suami boleh rujuk kepada istri yang telah ditalaknya

Hukum Islam menganggap bahwa kekayaan suami dan istri masing-masing adalah terpisah satu dari yang lain. Harta suami istri adalah terpisah, masing-masing pihak suami istri mempunyai

Ibu salbiah, istri yang bercerai dari suaminya dengan melakukan perceraian di luar pengadilan dengan alasan tidak memiliki biaya untuk proses cerai di Pengadilan Agama,

kawin cerai. Ketika ayat ini turun, tradisi kawin cerai dan ruju‘ kembali pada saat istri masih dalam masa ‗ iddah sangat biasa. Suami bebas ruju‘ kepada istrinya sekalipun

Menurut Pasal 10 diatur larangan kawin bagi suami isteri yang telah bercerai sebanyak 2 (dua) kali. Perkawinan yang mempunyai maksud agar suami isteri dapat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode ijtihad yang digunakan hakim dalam memutus perkara gugat cerai istri yang telah ditalak suami di luar