75 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data
4.1.1 Gambaran Umum SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin
4.1.1.1 Latar Belakang Berdirinya SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Anak berkebutuhan khusu harus mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, salah satu lembaga pendidikan formal yang berdiri adalah SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin. SLB Cahaya Insan adalah nama awal sebelum menjadi SLB Negeri Pelambuan yang berdiri di tahun 1982.
4.1.1.2 Identitas SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin
SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin berstatus negeri, NPSN 30304496 dengan bentuk pendidikan SLB, dimiliki oleh pemerintah daerah, SK pendirian 105/2008-18, tanggal SK pendiri 1984-07-14. SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin terletak di jalan Barito Hulu No.33 Rt.51 RW.3 Kec.
Banjarmasin Barat Kota Banjarmasin dengan tujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian personal hygiene anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin. SLB ini berakreditas A, melayani anak kebutuhan khusus dengan kelas A, B, C, C1, D, D1, E, F, H, I, J, K, O, P, Q, menggunakan kurikulum 2013, dan waktu penyelanggaraan sekolah selama sehari penuh kurang lebih 5 jam.
4.1.1.3 Visi dan Misi SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin a. Visi
Terwujudnya lulusan anak berpendidikan khusus yang bertaqwa, berbudi luhur, dan mandiri.
b. Misi
1. Mengusahakan lulusan dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi baik melalui inklusi maupun pendidikan luar sekolah dengan meningkatkan nilai nem pada uas.
2. Melengkapi pengembangan sarana dan prasarana pendidikan umum dan khusus.
3. Melaksanakan pengembangan kurikulum.
4. Meningkatkan kemampuan profesional tenaga pendidikan dan pendidikan.
5. Melaksanakan pengembangan agama dan prestasi anak.
6. Melaksanakan dan melengkapi administrasi sekolah.
4.1.1.4 Data Sarana dan Prasarana
Tabel 4.1 Jenis Sarana dan Prasarana di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
No Jenis Sarana dan Prasarana 1. Ruang Kelas
2. Ruang Perpustakaan 3. Ruang Laboratorium 4. Ruang Praktik 5. Ruang Pimpinan 6. Ruang Guru 7. Ruang Ibadah 8. Ruang UKS 9. Ruang Toilet 10. Ruang Gudang 11. Ruang Sirkulasi 12. Ruang Sirkulasi
13. Tempat Bermain/Olahraga 14. Ruang TU
15. Ruang Konseling 16. Ruang Osis 17. Ruang Bangunan Sumber: Dapo.kemdikbud.go.id
Tabel 4.1 menunjukkan jenis sarana dan prasarana yang tersedia di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Tabel 4.2 Data Sanitasi di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin
No. Data Sanitasi
1. Sumber air 2. Sumber air minum 3. Ketersediaan air bersih
4. Jamban dengan fasilitas pendukung untuk siswa berkebutuhan khusus
5. Tipe jamban
6. Siswa mengikuti kegiatan cuci tangan selama seminggu berkelompok
7. Jumlah tempat cuci tangan
8. Jumlah tempat cuci tangan yang rusak
9. Sabun dan air mengalir dipastikan mengalir dengan baik 10. Sekolah memiliki saluran pembuangan air limbah dari jamban 11. Sekolah pernah menguras tangki dalam 3-5 tahun terakhir.
Sumber: Dapo.kemdikbud.go.id
Tabel 4.2 menunjukkan data sanitasi yang tersedia di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
4.1.2 Karakteristik Responden
4.1.2.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Orang Tua
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Orang Tua Anak
Sumber: Hasil Penelitian (2023)
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pendidikan SMA adalah pendidikan terakhir yang paling banyak pada orang tua siswa retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin, frekuensi orang tua dengan pendidikan terakhir SMA adalah sebanyak 23 responden atau 76,7%.
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Tidak Sekolah 1 3,3
SMP 2 6,7
SMA 23 76,7
Sarjana 3 10
Diploma 1 3,3
Total 30 100
4.1.2.2 Distribusi Karakteristik Responden Orang Tua Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.4 Karakteristik Responden Orang Tua Berdasarkan Pekerjaan
Sumber: Hasil Penelitian (2023)
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pekerjaan dari orang tua yang paling banyak adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu 20 responden atau 68%.
4.1.2.3 Distribusi Karakteristik Responden Orang Tua Berdasarkan Usia
Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi (f) Presentase (%)
32 1 3.3
40 3 10
41 1 3.3
42 1 3.3
43 3 10
44 1 3.3
45 3 10
47 3 10
48 3 10
49 2 6.7
50 2 6.7
54 2 6.7
58 1 3.3
60 3 10
61 1 3.3
Total 30 100
Sumber: Hasil Penelitian (2023)
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa usia responden orang tua terbanyak adalah di usia 40, 43, 45,47,48, dan 60 tahun masing- masing sebanyak 3 (10%) responden.
Pekerjaan Frekuensi Presentase (%)
IRT 20 68
Wiraswasta 3 12
Pedagang 1 4
Tidak Bekerja 1 4
Buruh 1 4
Karyawan 4 8
Total 30 100.0
4.2 Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada 12-26 Juni 2023 dan dilakukan pada 30 orang tua dengan anak retardasi mental ringan di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin. Sejalan dengan tujuan penelitian, hasil dari penelitian ini terdiri dari hasil analisa univariat dan bivariat sebagai berikut:
4.2.1 Analisis Univariat
4.2.1.1 Dukungan Keluarga
Hasil penelitian yang menggambarkan dukungan keluarga yang diberikan oleh orang tua kepada anak dengan retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi dukungan keluarga pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan
Banjarmasin
Dukungan Keluarga Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Mendukung 27 90
2. Tidak mendukung 3 10
Total 30 100
Sumber: Penelitian (2023)
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa adanya dukungan keluarga sebanyak 27 orang tua yang mendukung atau sebanyak 90%
dan yang tidak mendukung sebanyak 3 orang atau 10% dari total responden sebanyak 30 orang. Adapun item kuesioner penelitian dengan skor paling tinggi adalah item nomor 3 dengan skor 24 dan item kuesioner terendah adalah item nomor 12 dengan skor 9.
4.2.1.2 Kemandirian personal hygiene
Hasil penelitian menggambarkan kemandirian pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan sebagai berikut:
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi kemandirian personal hygiene anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan
Banjarmasin
Kemandirian Frekuensi (f) Presentase (%)
Mandiri 22 73,3
Ketergantungan 8 26,7
Total 30 100
Sumber: Hasil Penelitian (2023)
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa adanya kemandirian personal hygiene dari siswa retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan sebanyak 22 responden atau sebanyak 73,3% dari 30 responden dan ketergantungan sebanyak 8 (26,7%) responden. Adapun item kuesioner penelitian dengan skor paling tinggi adalah item nomor 12 dengan skor 82 dan item kuesioner terendah adalah item nomor 15 dengan skor 57.
4.2.2 Analisis Bivariat
4.2.2.1 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kemandirian Personal Hygiene Anak Retardasi Mental SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Keterkaitan hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin bisa dilihat dari tabel berikut:
Tabel 4.8 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kemandirian Personal Hygiene
Dukungan Keluarga
Kemandirian Personal Hygiene Total Mandiri Ketergantungan
N % N % N %
Mendukung 22 81,5 5 18,5 27 100
Tidak Mendukung
0 0 3 100 3 100
Total 22 73,3 8 26,7 30 100
Hasil Uji Korelasi Spearman Rank Sig (2-Tailed) =0,000 < α 0.05 Koefisien korelasi=0,703
Sumber: Hasil Penelitian (2023)
Dari tabel 4.8 dukungan keluarga yang mendukung dan mandiri sebanyak 22 (81,5%) responden, dukungan keluarga
yang mendukung dan ketergantungan sebanyak 5 (18,5%).
Keluarga yang tidak memberikan dukungan dan mandiri sebanyak 0 (0%) responden, keluarga yang tidak mendukung dan ketergantungan sebanyak 3 (100%) responden. Hasil analisis statistik yang didapatakan dari uji Spearman Rank sebesar p=0,000 (<0,05) mengartikan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan. Jadi H1 diterima dan H0
ditolak, dapat disimpulkan ada hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Berdasarkan tingkat dan arah kekuatan hubungan berdasarkan uji Spearman Rank diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,703 yang diartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene anak retardasi mental adalah kuat dengan arah hubungan searah karena nilai korelasi positif.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Dukungan Keluarga yang diterima anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Pada penelitian, diketahui bahwa 27 (90%) keluarga dari 30 keluarga yang memberikan dukungan, sedangkan 3 (10%) keluarga tidak memberikan dukungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas keluarga memberikan dukungan kepada anak retardasi mental.
Sebanyak 23 (76,7%) responden orang tua yang berpendidikan terakhir SMA, sedangkan orang tua yang tidak memberikan dukungan berpendidikan terakhir SMP 2 (6,7%) responden dan tidak bersekolah 1 (3,3%) responden.
Orang tua dengan pendidikan SMP dan tidak bersekolah masuk dalam kategori mendukung sebanyak 3 (10%). Dukungan keluarga yang
diberikan orang tua salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, hasil yang didapatkan sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Deswita (2023) bahwa faktor yang memengaruhi dukungan keluarga salah satunya adalah tingkat pendidikan. Orang tua yang memiliki pendidikan dasar dan menengah tidak mampu melatih anaknya dalam melakukan keterampilan perawatan diri dengan lebih baik daripada orang tua yang memiliki latar pendidikan tinggi (Ling disitasi oleh, Yayu et al., 2020). Hal tersebut relevan dengan penelitian Saodah (2017) dengan judul “Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Personal Hygiene Anak Retardasi Mental di SLB N 1 Bantul Yogyakarta” bahwa pendidikan orang tua akan memengaruhi pengetahuan orang tua dalam memberikan perawatan kepada anak retardasi mental yang nantinya juga akan memengaruhi orang tua dalam perannya. Dukungan keluarga yang diberikan mampu membuat anggota keluarga berfungsi dengan akal serta kepandaiannya, sehingga mampu meningkatkan adaptasi keluarga dan kesehatan (Friedman disitasi oleh, Yayu et al., 2020).
Skor item tertinggi pada kuesioner dukungan keluarga adalah item nomor 3 dengan jumlah 28, artinya keluarga banyak memilih ya pada pertanyaan ini. Adapun item kuesionernya, yaitu keluarga tetap mencintai dan memperhatikan anak bagaimanapun kondisi anak, item ini masuk dalam aspek dukungan emosional dan penghargaan yang mengartikan bahwa sebanyak 28 keluarga sudah mampu memberikan dukungan emosional dan penghargaan pada anak retardasi mental.
Dukungan ini mampu memberikan rasa nyaman pada anak dan penerimaan pada dirinya bahwa ia diterima dalam keluarga, anak juga akan merasa dicintai dan diperhatikan dimana hal tersebut mampu menambah penghargaan diri saat anak mengalami tekanan. Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan Friedman (disitasi oleh Triyani & Warsito, 2019) bahwa keluarga berperan untuk
memberikan feedback dan sebagai validator identitas bagi anggota keluarganya dengan memberikan penghargaan, dukungan, dan perhatian.
Selanjutnya item dengan skor terendah adalah item nomor 12 dengan jumlah skor 14. Adapun item kuesionernya, yaitu keluarga jarang mengingatkan waktu untuk anak melakukan kebersihan diri, item ini masuk dalam aspek dukungan informasi. Dalam aspek ini keluarga sebenarnya berperan dalam mengumpulkan dan memberikan informasi kepada anak, tetapi dalam aspek ini memang dibutuhkan pengetahuan dan kesadaran yang baik. Jika keluarga kurang dalam memberikan dukungan informasi, anak juga akan kurang dalam kesadarannya untuk mengingat kapan saja waktu ia untuk melakukan kebersihan diri, sehingga kemampuan dalam kebersihan diri pun akan semakin berkurang mengingat kemandirian personal hygiene tidak muncul secara tiba-tiba melainkan dengan pembiasaan. Hal tersebut relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Faizah (2017) mengenai peran keluarga dalam merawat anak retardasi mental, yaitu untuk melakukan intervensi bagi anak retardasi mental memerlukan adanya perawatan yang baik, dan konsisten, komunikasi secara verbal dan stimulasi taktil, memberikan instruksi berulang dan sederhana, mendorong kemandirian, memanajemen perilaku yang sulit, dan menciptakan lingkungan yang aman serta aman bagi anak.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan dan pengetahuan orang tua dapat meningkatkan kualitas dukungan keluarga yang diberikan. Orang tua yang berpendidikan, memiliki wawasan yang luas, dan memiliki kesadaran akan cenderung memberikan kualitas dukungan keluarga yang lebih baik.
4.3.2 Kemandirian Personal Hygiene Anak Retardasi Mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Berdasarkan tabel 4.7 bahwa pada 30 responden dengan retardasi mental dalam kategori mandiri sebanyak 22 (73,3%) dan 8 (26,7%) anak dalam kategori ketergantungan. Mayoritas urutan posisi anak pada penelitian ini, yaitu anak dengan urutan posisi pertama sebanyak 12 orang dan sisanya merupakan anak dengan urutan kedua. Usia responden terbanyak adalah 10 tahun sebanyak 6 (20%) anak.
Kemandirian personal hygiene yang paling banyak dilakukan oleh anak menurut orang tua berdasarkan jawaban kuesioner terbanyak adalah anak mampu menirukan dengan baik tata cara mandi yang baik dan benar sesuai dengan yang diajarkan orang tua. Sebanyak 22 (73,3%) anak yang mandiri juga mampu melakukan kebersihan diri lainnya seperti menyisir rambut sendiri dan menggosok gigi sendiri.
Hasil yang didapatkan juga relevan dengan penelitian dari Hartiningsih et al. (2021) dengan judul “Dukungan Orang Tua Berhubungan dengan Tingkat Kemampuan Perawatan Diri Anak Tunagrahita” bahwa sebanyak 64 orang (78%) mampu mandiri, seperti memakai baju sendiri dan makan sendiri tanpa disuapi.
Hasil penelitian didapatkan bahwa usia pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin juga memberikan pengaruh terhadap kemandirian personal hygiene yang dimiliki. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa 4 orang anak yang ketergantungan memiliki usia 10 tahun kebawah. Lalu, 4 orang lainnya dipengaruhi oleh kebiasaan dan disiplin pada anak dengan selalu mendapatkan bantuan dari orang tua dalam melakukan perawatan kebersihan diri dan kurangnya rasa percaya orang tua kepada anak, sehingga anak tidak mampu melakukan perawatan kebersihan diri dengan mandiri. Ketidakmandirian anak sejalan dengan teori tentang faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian,
bahwa usia, kebiasaan, dan disiplin pada anak retardasi mental dapat memberikan pengaruh pada kemandirian yang mereka miliki (Dimyati disitasi oleh Musbiki, 2021; Spock disitasi oleh Musbikin, 2021).
Kemandirian adalah suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berfikir dan bertindak sendiri dengan kemandiriannya (Hartiningsih et al., 2021).
Skor tertinggi dalam kuesioner kemandirian personal hygiene adalah item nomor 12 dengan total skor 82, yaitu anak mampu menirukan dengan baik tata cara mandi yang baik dan benar sesuai dengan yang diajarkan orang tua pada aspek perawatan kulit, artinya anak sudah mampu membersihkan dan memandikan tubuh menggunakan air bersih dan sabun yang berguna untuk menjaga kebersihan kulit dan mempertahankan fungsinya.
Sementara itu, kuesioner dengan total skor terendah adalah item nomor 15 dengan total skor 57, yaitu anak selalu membutuhkan bantuan orang tua untuk menyiapkan peralatan mandi pada aspek perawatan kulit. Artinya meskipun umumnya anak sudah mampu mandi dengan tata cara yang baik dan benar, anak masih ketergantungan untuk menyiapkan peralatan mandi, dimana orang tua harus selalu menyediakan peralatan mandi agar anak bisa mandi sendiri. Orang tua bisa mencontohkan dan mengedukasi tata cara dalam menyiapkan alat sebelum mandi agar anak bisa mengingat dan mengetahui apa saja yang perlu disiapkan sebelum melakukan kebersihan diri mandi, seperti menyiapkan handuk, ember, air hangat, gayung, dan lain-lain. Oleh sebab itu, orang tua harus berani
memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan personal hygiene secara mandiri sejak dini agar kemampuannya bisa terus berkembang sampai anak tersebut benar-benar bisa mandiri.
4.3.3 Hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin.
Berdasarkan tabel 4.8 dukungan keluarga yang mendukung dan mandiri sebanyak 22 (81,5%) responden, dukungan keluarga yang mendukung dan ketergantungan sebanyak 5 (18,5%). Keluarga yang tidak memberikan dukungan dan mandiri sebanyak 0 (0%) responden, keluaraga yang tidak mendukung dan ketergantungan sebanyak 3 (100%) responden.
Didapatkan kesimpulan dari hasil Spearman Rank bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan dan arah yang positif antara dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin dengan nilai p-value= 0,000 (<0,05). Mengacu pada kesimpulan tersebut dapat dikatakan bahwa H1 yang diajukan dapat diterima dan H0 ditolak.
Berdasarkan tingkat dan arah kekuatan hubungan berdasarkan uji Spearman Rank diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,703 yang diartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian personal hygiene anak retardasi mental adalah kuat dengan arah hubungan searah karena nilai korelasi positif.
Hasil tersebut relevan dengan penelitian yang telah dilakukan Syahda dan Mazdarianti (2018) bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan arah yang postif antara dukungan keluarga dengan kemandirian anak retardasi mental. Hal tersebut mengartikan bahwa jika dukungan yang diberikan oleh keluarga meningkat, maka kemandirian personal hygiene yang terdapat pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin juga akan meningkat.
Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, sebanyak 22 orang anak mendapat dukungan keluarga terbukti memiliki kemampuan untuk mandiri dalam melakukan personal hygiene. Stimulus yang dilakukan oleh orang tua, yaitu dengan menjelaskan serta memperagakan tata cara mandi, gosok gigi, keramas, dan menyisir.
Keluarga adalah seseorang yang selalu ada di sisi anak retardasi mental untuk mendukung dan mendampingi perkembangan serta tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, keluarga berperan nomor satu untuk memberikan dukungan keluarga, dalam penelitian ini orang tua umumnya memiliki total skor tertinggi pada item nomor 3, aspek dukungan emosional dan penghargaan dimana dengan dukungan tersebut keluarga sudah mampu memberikan dukungan dengan baik.
Namun, masih ada 5 orang anak yang mengalami ketergantungan meskipun keluarga sudah memberikan dukungan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ke-5 orang tua tersebut hanya mendapatkan skor 8-9 pada kuesioner dukungan keluarga, dimana semua orang tua kurang dalam dukungan informasi dengan jawaban yang diberikan mendapatkan skor 0. Pada penelitian ini juga mendapatkan bahwa total skor kuesioner pada aspek dukungan informasi adalah aspek dengan total skor terendah, yaitu total skor 14 pada item nomor 12. Untuk memaksimalkan dukungan yang diberikan, keluarga perlu menguatkan dukungan informasi agar pengetahuan orang tua bisa meningkat, sehingga mampu membantu anak dalam mengembangkan kemandiriannya, sejalan dengan Puspita (disitasi oleh Parulian et al., 2020) bahwa dalam meningkatkan kemandirian anak dibutuhkan peran orang tua, karena orang tua bisa memberikan pelatihan atau bimbingan dukungan keluarga kepada anak retardasi mental agar mampu melakukan kemandirian personal hygiene.
Kemandirian personal hygiene tidak muncul dengan sendirinya, melainkan perlu adanya pembiasaan dan kedisiplinan, untuk mewujudkan hal tersebut keluarga berperan dalam memberikan dukungan, dalam penelitian ini didapatkan item nomor 12 sebagai item kuesioner dengan total skor tertinggi 82, yaitu anak mampu menirukan dengan baik tata cara mandi yang baik dan benar sesuai dengan yang diajarkan orang tua pada aspek perawatan kulit.
Selanjutnya, kuesioner dengan total skor terendah nomor 15 dengan total skor 57, yaitu anak selalu membutuhkan bantuan orang tua untuk menyiapkan peralatan mandi pada aspek perawatan kulit. Orang tua yang memberikan kepercayaan pada anaknya untuk melakukan personal hygiene membuat anak percaya diri dan berani untuk belajar melakukan personal hygiene sendiri, hal tersebutlah yang mampu meningkatkan kemampuan personal hygiene anak. Pada penelitian ini didapatkan 3 orang yang ketergantungan tidak mendapatkan dukungan keluarga dimana semuanya mendapatkan skor 7 dalam kuesioner dukungan keluarga, diantaranya terdapat kurangnya dukungan keluarga dalam aspek emosional dan penghargaan, dukungan fasilitas, dan kurang dalam semua aspek. Hal tersebut menyebabkan anak kurang dalam kemandirian perawatan kulit, kuku kaki dan tangan, dan perawatan rambut berdasarkan dari hasil kuesioner yang didapatkan. Jika keluarga memberikan afeksi seperti pujian, penghargaan, dan ungkapan kasih sayang kepada anak, hal tersebut akan membuat anak percaya bahwa apa yang ia lakukan sudah benar, sehingga memotivasi anak untuk mengeksplorasi kegiatan personal hygiene lainnya. Keluarga juga perlu menyediakan fasilitas yang menarik dan aman, contohnya seperti menyediakan ember dengan warna atau gambar yang menarik, menyediakan sabun pump agar anak lebih mudah menggunakannya, serta karpet anti slip di kamar mandi, sesuai dengan kemampuan keluarga dan kebutuhan anak. Selanjutnya jika anak masih belum mampu memotong kuku
tangan dan kaki sendiri keluarga perlu selalu mendampingi dan mencontohkan bagaimana tata cara untuk memotong kuku yang baik dan benar. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan informasi agar keluarga bisa memberikan nasehat dan sugesti bahwa melakukan kemandirian personal hygiene akan berdampak baik untuk kesehatan anak, sehingga anak akan terhindar dari bakteri penyakit yang akan membuat anak sakit atau merasa tidak nyaman. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Mandasari et al. (2020) yang menjelaskan bahwa stimulus serta dukungan yang diterima oleh anak mampu meningkatkan kemampuannya untuk mandiri, khususnya dalam personal hygiene.
Analisis peneliti mendapatkan bahwa hubungan anak retardasi mental dengan orang tua sangat penting, sehingga orang tua harus bisa menerima dan membantu anak agar mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi yang ia alami termasuk menghindari tujuan yang terlalu tinggi untuk dicapai dan kesadaran orang tua terhadap hal-hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak agar dapat memenuhi kebutuhannya.
4.4 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah beberapa responden orang tua tidak dapat mengisi kuesioner secara mandiri, karena adanya keterbatasan terkait kemampuan responden dalam menulis dan membaca. Solusi yang diberikan untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah peneliti membantu responden untuk mengisi dan membacakan serta menjelaskan pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Selain itu, beberapa responden orang tua yang memiliki kemampuan untuk mengisi kuesioner secara mandiri cenderung meminta untuk membawa pulang kuesioner yang diberikan, sehingga peneliti harus senantiasa mendampingi responden agar pengisian dapat berjalan dengan efektif dan selesai pada hari yang sama.
4.5 Implikasi
Implikasi praktis dalam penelitian ini adalah penelitian ini mampu meningkatkan dukungan orang tua kepada anaknya agar dapat mandiri dalam personal hygiene. Keluarga senantiasa mengupayakan fasilitas- fasilitas penunjang agar anak dapat mengembangkan kemandiriannya.
Orang tua mampu menanamkan beberapa hal kepada anak agar pola kemandirian anak retardasi mental terbentuk, diantaranya yaitu: rasa percaya diri, kebiasaan, dan kedisiplinan.
Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah mampu meningkatkan kesadaran orang tua dan pihak sekolah terkait pentingnya dukungan keluarga untuk meningkatkan kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental, sehingga orang tua dan pihak sekolah senantiasa mendukung perkembangan anak agar bisa lebih mandiri dalam personal hygiene.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin, disimpulkan:
5.1.1 Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan.
5.1.2 Dukungan keluarga yang diberikan kepada anak retardasi mental dalam kategori mendukung adalah sebanyak 27 (90%) responden.
5.1.3 Kemandirian personal hygiene dalam kategori ketergantungan adalah 8 (26,7%) responden.
5.1.4 Hasil uji analisis spearman rank didapatkan p=0,000 (p < 0,05) yang mengartikan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan. Maka H1
diterima dan H0 ditolak, serta nilai koefisien korelasi kuat sebesar 0,703 bernilai positif dengan arah hubungan searah dapat disimpulkan ada hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian perawatan diri pada anak retardasi mental di SLB Negeri Pelambuan.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi orang tua
Diharapkan orang tua bisa lebih sabar dalam membimbing, mendampingi, dan mengajari anak seperti menyiapkan peralatan mandi di rumah agar anak bisa belajar secara perlahan, serta orang tua harus berani untuk mengizinkan anak untuk melakukan kegiatan personal hygiene secara mandiri seperti mandi sendiri, sikat gigi sendiri, dan potong kuku sendiri agar anak bisa berkembang dan lebih mandiri.
5.2.2 Bagi guru SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin
Diharapkan dapat memaksimalkan pemberian edukasi melalui media informasi yang informatif di sekolah seperti mading dan sosial media
agar orang tua dan anak retardasi mental lebih mudah memahaminya, sehingga kemandirian personal hygiene anak mampu berkembang dan anak mampu mandiri sepenuhnya.
5.2.3 Bagi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Menambah wawasan serta mengembangkan ilmu pengetahuan tentang riset keperawatan di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.
5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang pola asuh yang dibutuhkan oleh anak dengan retardasi mental atau faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian personal hygiene pada anak retardasi mental